Tampilkan postingan dengan label Arab Spring. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arab Spring. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2015

Mewaspadai Upaya Menjebak Saudi di Antara Benturan Sunni-Syiah

Perubahan arah kebijakan Arab Saudi di bawah kendali Raja Salman tentunya dirasa membawa angin segar bagi kalangan Islamis dan terutama bagi Ikhwan. Akan tetapi, belajar dari pergolakan-pergolakan yang terjadi di berbagai belahan dunia, sejak dari Perang Teluk, Reformasi Indonesia, perang melawan terorisme, hingga Arab Spring, perlu sebuah kewaspadaan ekstra bahwasanya kemesraan antara Saudi dan Islamis bisa jadi justru merupakan jebakan yang berujung pada target penghancuran keduanya.

Baik Reformasi di Indonesia maupun Arab Spring, seringkali Islamis berada di garda terdepan. Namun kita jangan menyederhanakan permasalahan, bahwa pergolakan-pergolakan tersebut adalah proses demokratisasi yang akan menjadikan Islamis tampil sebagai leading. Kita sedang berada di pusaran fitnah akhir zaman yang dahsyat, ada tangan-tangan tak tampak yang bermain di belakang peristiwa-peristiwa besar, mendesain, merencanakan secara sistematis dan terstruktur, dengan agenda-agenda yang berkebalikan dengan yang diperkirakan kalangan Islamis.

Hasil dari pergolakan-pergolakan yang terjadi, bukanlah runtuhnya diktator menuju terwujudnya pemerintahan yang demokratis atau islami, tetapi justru makin termarjinalisasinya kalangan Islamis itu sendiri. Membenturkan antara kekuatan reformis dan status quo, antara kalangan sekuler dan Islamis, serta antara kalangan tradisionalis dan kontemporer, berakibat memperlemah kekuatan Sunni secara signifikan, terjebak pada berbagai kepentingan yang saling berbenturan. Akhirnya berujung jatuhnya satu per satu negara-negara Muslim Sunni ke dalam pengaruh Syiah, dimulai dari Iran, Suriah, Libanon, Irak, Afghanistan dan Yaman. Juga menguatnya peran politik Syiah secara global, termasuk di Indonesia.

Terkait dengan benturan antara Sunni dengan Syiah, tidak sesederhana menumpas pemberontakan Syiah Hutsi di Yaman atau berhadapan dengan Iran. Di balik menguatnya pengaruh Syiah, ada kolaborasi yang pelik di antara kekuatan-kekuatan super power dunia, benturan antara Barat dan Timur, dan tentru saja akar permasalahan dunia itu sendiri, Zionisme, serta pertarungan antara al haq dengan al bathil. Apa yang dicapai Syiah saat ini, tidak didapat dengan tiba-tiba, tetapi telah melalui upaya yang sistematis dalam berbagai bidang, tahapan demi tahapan yang sangat terukur, telah dilaksanakan selama beberapa dekade bahkan sejak beberapa abad yang lalu (Baca: Di Ambang Syiah).

Dalam perspektif era Kolonialisme Barat beberapa abad lampau, upaya penaklukkan dunia Islam tentunya amat memperhitungkan kondisi dunia Islam waktu itu, potensi friksi terbesar dan paling signifikan adalah antara Sunni dan Syiah. Rivalitas keduanya silih berganti mendominasi sejarah dunia Islam. Inilah yang melatarbelakangi kolaborasi manis antara Syiah dan berbagai kekuatan luar dalam berhadapan dengan Sunni. Dalam perspektif ini, kondisi umat Islam pada saat ini khususnya kalangan Sunni, bisa dikatakan berada di ujung tanduk, terkepung berbagai kepentingan yang bertarung memperebutkan supremasi dunia.

Ketika benturan antara Sunni dan Syiah terjadi secara terbuka, diperlukan sikap yang hati-hati dan kewaspadaan yang ekstra, terutama bagi kalangan Islamis dan Jihadis. Kita tidak hanya berada pada era kecanggihan teknologi yang kasat mata, tetapi juga era kecanggihan strategi dan tipu daya. Belajar dari peristiwa-peristiwa sebelumnya, memperhatikan kompleknya permasalahan yang dihadapi, jangan sampai keteguhan mereka justru menjadi blunder, terjebak dan menjadi bulan-bulanan, kontraproduktif dengan tujuan yang ingin dicapai, melengkapi kelemahan komitmen kalangan sekuler dalam tubuh Sunni itu sendiri untuk menjaga eksistensi Sunni.

Bisa jadi, kondisi dunia saat ini belum kondusif untuk tujuan akhir yang ingin dicapai, artinya masih membutuhkan kerja keras dan banyak pengorbanan. Terutama juga penting dicermati bagi Ikhwan, diperlukan kebesaran hati untuk tidak tersandera pada kezhaliman yang menimpa mereka selama ini, termasuk kepedihan yang menimpa mereka pasca Kudeta Mesir, demi kepentingan yang lebih besar, ketika umat ini berada di ujung tanduk. Bukan untuk meraih kekuasaan jangka pendek, dan memang tak mungkin akan dicapai di tengah cengkeraman tiran dunia, tetapi ustaziyatul alam yang universal, yang membutuhkan jalan yang lebih panjang.

Ketika umat Islam berada pada kondisi yang sangat lemah, tidak memiliki kemandirian secara teknologi, termasuk sebatas menjadi pemakai dalam bidang persenjataan militer, sekaligus berhadapan dengan pertarungan strategi yang sengit, diperlukan kemampuan yang baik untuk menempatkan diri di antara benturan berbagai peradaban dunia, bukan sebaliknya.

Seolah jalan terbentang, padahal tak ubahnya hanya sebuah jebakan, begitulah dahsyatnya fitnah akhir zaman. Kita perlu mewaspadai jika di balik pergolakan ini ada upaya ‘memursikan’ Saudi sekaligus juga penghancuran bagi Ikhwan. Sulit dibayangkan jika bagunan-bangunan megah yang baru saja dibangun di dua kota suci, hancur lebur menjadi abu.

Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nashir.

Wallahu a’lam bishawwab.


http://www.dakwatuna.com/2015/04/10/67069/mewaspadai-upaya-menjebak-saudi-di-antara-benturan-sunni-syiah/

Selasa, 09 Desember 2014

Menohok Amerika, Beda Jepang, Beda Tiongkok

Serangan Jepang terhadap pangkalan Angkatan Laut AS Pearl Harbor menjadi kemenangan sesaat yang gemilang bagi Jepang. Akan tetapi, dalam jangka panjang ternyata merupakan sebuah kesalahan strategi, menentukan kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Serangan tersebut menjadi blunder, seperti mengusik raksasa yang sedang diam. Menjadi alasan bagi AS untuk ikut serta dalam Perang Dunia II.

Jepang memang dengan mudah menaklukkan seantero Pasifik Barat dan Asia Tenggara, tapi tidak mampu menjangkau jantung kekuatan AS sama sekali. Sedang jantung kekuatan Jepang justru terjangkau oleh musuh. Dengan demikian, AS leluasa mengkonsolidasikan sumber daya, kekuatan, dan teknologi untuk keberlangsungan perang. Sebaliknya bagi Jepang, sumber daya dan kekuatan yang dimiliki semakin melemah.

AS memenangkan Perang Dunia II, untuk selanjutnya memenangkan Perang Dingin. Kemenangan tersebut dipakai untuk mendikte dunia bahwa Komunisme telah gagal dan tidak relevan, sedang Kapitalisme adalah konsep ideal untuk peradaban dunia kita.

Disadari atau tidak oleh AS, superioritas dunia tak pernah langgeng. Sejak runtuhnya Uni Sovyet, AS memang menjadi seperti satu-satunya kekuatan super power dunia. Tetapi hanya kurang dari dua dekade kemudian, RRC sudah tampak berpotensi menyalip posisi tersebut.

Lantas apakah AS membiarkan begitu saja posisinya sebagai super power dunia jatuh ke pihak lain, membiarkan rivalnya mengambil alih posisi tersebut, tanpa melakukan upaya-upaya meredam laju kompetitornya, juga upaya mempertahankan posisinya?

Dunia dan kompetisi memperebutkan supremasinya, adalan pertarungan strategi yang teramat pelik. Seringkali yang terjadi bukan hanya kompetisi yang fair. Sehingga, di balik pencapaian menakjubkan yang dicapai RRC, seharusnya kita bertanya, jika di balik itu ada hal tak tampak, yang tidak diketahui publik pada umumnya?

AS memenangkan Perang Dingin tidak dengan kekuatan senjata atau nuklir sekalipun, tetapi Uni Sovyet dieksekusi dengan pertarungan dalam bentuk lain. Dan ini bisa diambil pelajaran oleh rival-rival AS untuk menundukkan superioritasnya. Bukan hanya kekuatan, tetapi strategi yang jitu, lihai dalam memainkan situasi.

Jika demikian, munculnya RRC ke pentas dunia tentunya juga tidak mungkin dengan tangan kosong belaka, bukan melenggang dengan cuma-cuma. Tetapi sebelum melangkah telah mempersiapkan suatu perencanaan yang sistematis, mengidentifikasi tantangannya, dan mempersiapkan semua sarana untuk mengamankan agenda yang dijalankan. Mewujudkan agenda yang membutuhkan backup dan pengawalan dari berbagai bidang lain, ditunjang secara politik, kekuatan lobi, hingga intelijen.

Reformasi Indonesia beserta benturan kepentingan-kepentingan besar di dalamnya, bisa menjadi gambaran awal untuk melihat pertarungan strategi serta perebutan pengaruh di antara kepentingan-kepentingan tersebut. Asia Tenggara sejak lama menjadi medan perebutan pengaruh antara Barat dan Timur. AS sempat menancapkan hegemnoninya, menyingkirkan pengaruh Uni Sovyet. Tetapi kompetisi terus berlanjut, seiring menguatnya pengaruh RRC, AS harus menghadapi kompetitor baru.

Kepentingan AS untuk untuk mengkhiri kekuasaan penguasa-penguasa lokal yang tak dikehendaki, termasuk menumbangkan kekuasaan Soeharto. Reformasi Indonesia, yang tampak sepertinya memang kepentingan AS yang bekerja, sarana-sarana kepentingan AS yang dipakai.

Tetapi beberapa tahun pasca reformasi berlangsung, justru tampak pengaruh RRC semakin menguat di kawasan ini, lebih signifikan dibanding masa Orde Baru. Sudah bisa dilihat siapa yang lebih banyak memanen reformasi yang bergulir di Indonesia.

Bekerja, mengeluarkan keringat, sementara pihak lain lebih menuai hasilnya. Untuk tidak dikatakan sekadar diperalat, tetapi sebuah pertarungan strategi, tempat di mana penuh pengkhianatan dan intrik, tinggal mana yang lebih piawai membaca dan mengendalikan situasi. Sebuah indikasi adanya penumpang gelap yang ikut bermain.

Sebuah titik lemah bagi AS di Asia Tenggara, mitra utama kepentingan AS di kawasan ini justru ditopang etnis keturunan Tionghoa. AS terlalu plural, berakibat ancaman dekadensi loyalitas.

Secara geografis Asia Tenggara lebih dekat ke RRC. Tetapi bukan semata faktor tersebut, ancaman terhadap hegemoni AS juga menjangkau ke kawasan lain, Afrika, Timur Tengah dan Eropa Timur.

Berkaca dari reformasi Indonesia, kemungkinan berulang di Timur Tengah. AS bersusah payah mengerahkan sumber daya untuk melakukan perang melawan terorisme dan Arab Spring, termasuk indikasi menciptakan semacam ISIS dan bersusah payah menumpasnya sendiri, bisa jadi pihak lain yang akan meraup hasilnya. Rival-rival AS bisa bermain memanfaatkannya, untuk kian mengokohkan pengaruhnya di kawasan tersebut. Ada beragam kepentingan yang sulit dikendalikan, seperti rivalitas antara Suni dengan Syiah, menuntut kejelian dalam memilih mitra yang loyal.

AS boleh merasa jumawa dalam memenangkan Perang Dingin, mampu meluluhlantakkan Blok Timur. Situasi bisa berbalik, ide segar bisa berpindah, Ukraina bisa menjadi contoh awal, AS dan Barat tak berdaya mempertahankan kepentingannya di negara tersebut.

Era Perang Dunia II memang diselesaikan dengan senjata. Sejauh mana Jepang tidak mampu menyentuh jantung kekuatan AS, tetapi AS mampu menjangkau jantung kekuatan Jepang. Kini adalah sebuah era yang berbeda, tak hanya bergantung pada pertarungan fisik, era perpaduan adu strategi.

AS terlalu plural, memungkinkan lobi-lobi dari luar memengaruhi kebijakannya. Membuatnya lebih cepat menjadi jenuh, terlalu banyak kepentingan yang bisa menjadi beban. Sejauh mana lobi rival-rival AS masuk ke jantung pusat pengambil keputusannya, dan sejauh mana lobi AS tidak mampu menembus rivalnya.

Penting diperhatikan oleh rival-rival AS, dalam menentukan mitra kepentingan, tidak semata berorientasi jangka pendek, tetapi memperhatikan juga aspek ideologi dan religi, untuk terjaminnya suatu loyalitas. (dakwatuna)