Tampilkan postingan dengan label Idealisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Idealisme. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 November 2014

Masa’ Islam Kita Kalah dengan Bali!

Suatu ketika Ustadz Bachtiar Nasir bertanya bertanya kepada suatu jamaah, “Islam manakah yang paling baik?” Menurut Beliau Islam yang paling baik itu bukan Aceh, Sumatera Barat atau Yogyakarta, tetapi Islam terbaik di Indonesia itu adalah Bali.

Bagaimana mungkin? Ternyata hanya di Bali jamaah Shalat Subuh lebih banyak dari pada jamaah Shalat Jumat. Di Masjid Baitul Makmur Denpasar misalnya, jamaah Shalat Subuhnya bisa mencapai 700 orang, bahkan untuk hari Ahad lebih banyak lagi, sehingga tidak muat lagi di dalam masjid.

Bukan shalat-shalat jamaah saja yang semarak, kegiatan-kegiatan seperti taklim dan kajian keislaman tak kalah semangat. Mereka sangat antusias dalam mengkaji tafsir, hadis dan sebagainya, bahkan mendatangkan ustadz-ustadz dari luar. Demikian pula dalam berinfak, tak heran bila amal-amal sosial muslim di Bali lebih terurus dengan baik dibanding dengan yang dikelola umat lain yang mayoritas sekalipun.

Bali selama ini kita persepsikan tak identik dengan Islam. Para pendatang dari luar di Bali kebanyakan memang beragama Islam, tetapi mungkin kita lebih mengasumsikan mereka yang memilih bekerja di sana bukan muslim yang taat. Mungkin kita mengasumsikan muslim yang taat cenderung tidak memilih bekerja di Bali. Tetapi kenyataan yang terjadi, Islam di Bali justru tumbuh menakjubkan.

Lantas bagaimana dengan kita? Dalam kondisi sebagai mayoritas, kita lebih mengenal Islam, lingkungan dan tempat kita bekerja lebih kondusif untuk menjalankannya, lebih tersedia berbagai sarana di sekitar kita yang mempermudah untuk kita menjalankan ibadah. Tetapi ternyata kemalasan membuat amal kita tak sebanding dengan peluang yang semestinya bisa diraih.

Masjid-masjid kita yang sepi, padahal hampir tiap RT ada masjid. Sedikitnya orang yang mau mendatangi majelis-majelis ilmu. Nyaris tak ada lagi rumah-rumah yang membiasakan membaca Alquran di dalamnya. Tak sebanding dengan semaraknya hal-hal yang bersifat hiburan duniawi dan hura-hura di sekitar kita.

Beberapa dekade lalu, suasana di Bali masih seperti di negara-negara Barat, nyaris tanpa simbol-simbol Islam yang menonjol. Untuk mencari tempat shalat saja sulit. Tak dinyana jika di kemudian hari, syiar Islam di sana justru tampak bergairah. Sebaliknya kita, sepertinya malah seperti sudah jenuh dalam beragama. Beragama bagi kita rasanya seperti hanya turun-temurun semata.

Antara kuantitas dan kualitas, kita yang secara jumlah mayoritas tampak seperti hanya minoritas, mungkin seperti buih di lautan. Sebaliknya, mereka dalam kondisi sebagai minoritas, mampu melampauinya, dan benar-benar menampakkan syiar Islamnya.

Begitulah, dalam kondisi minoritas, penuh keterbatasan, tak menjadikannya penghalang, melampaui keterbatasan tersebut. Sedang kita, begitu banyak kesempatan yang terbuka, tetapi kita menyia-nyiakannya. Tidakkah kita malu dengan prestasi yang dicapai saudara-saudara kita di Bali?

Seringkali dengan berbagai nikmat yang diberikan kepada kita, tak membuat kita lebih dekat kepada agama, malah kita lebih banyak lalai, kita seperti tidak butuh dengan Islam. Sementara, saudara-saudara kita yang sedang terkena berbagai musibah, cobaan yang berat, menjadi korban konflik dan peperangan, tetapi dalam kondisi demikian sulit justru membuat mereka mendekat dengan agama.

Jika lebih banyak kesempatan kita sia-siakan, bagaimana jika nikmat-nikmat yang diberikan kepada kita ini dicabut? Apakah kita menunggu mendapat cobaan-cobaan seperti itu, baru mau mendekat kepada-Nya?




Rabu, 11 Juni 2014

Saudaraku, Tak Memilih itu Memang Hak, Tapi...

Bukan tentang Umar umat ini, tetapi tentang Habasyah umat ini, yang menyediakan emperan untuk berteduh saat-saat umat ini teraniaya, terlunta-lunta, terhimpit kezhaliman. Bukan tentang Firaun umat ini, tetapi tentang mereka yang memberi kelonggaran, berbaik hati untuk dakwah ini, serta menjadi penopangnya, meski mereka sendiri belum sempurna dalam menerima seruannya.

Bukan tentang tegaknya panji Islam di puncak kesempurnaan, tapi sekedar batu pijakan kecil, untuk menopang ayunan yang tertatih, sedikit langkah memang tak seberapa, tapi berharga, menghindari runtuhan fatal yang hampir menimpa, agar berkesempatan melanjutkan perjalanan yang mungkin masih jauh.

Saudaraku, aku menghargai jika engkau kukuh pada sebuah prinsip. Perbedaan persepsi yang membuat kita seringkali saling membelakangi, saling menafikkan, di antara ego kita, padahal ia terlahir dari sebuah cita yang sama tentang Islam ini. Apakah tantangan berat ini harus mengorbankan prinsip? Tetapi apakah beratnya tantangan itu masih tak membuat kita saling mengerti? Mengorbankan idealismemu, tapi demi umat ini, meski tak sesederhana itu.

Saudaraku, aku mengerti dan merasakan kerisauanmu jika harus mengorbankan prinsip, meski sekedar untuk meminimalisir mudharat, atau demi mencegah mudharat yang lebih besar, sedikit mewarnai, mendulang manfaat sekecil apapun, di antara idealisme dan realitas, ketika dihadapkan pada pilihan dilematis, yang terburuk di antara yang buruk.

Namun saudaraku, apakah prinsip itu harus menutup segalanya, mendudukkan Firaun umat ini di tempat yang sama persis dengan Najasyi umat ini, menempatkan Romawi umat ini sama persis dengan Persia umat ini, menempatkan Abu Thalib umat ini di tempat yang sama dengan Abu Jahal umat ini, hitam putih, tanpa ada timbangan sama sekali?

Pernahkah terbersit olehmu, apakah dengan dengan sikapmu yang kukuh, engkau bisa nyaman mengambil sikap di antara kegembiraan atas kemenangan bangsa Romawi, atau larut dalam kesedihan atas kekalahan mereka, sedang generasi paling ideal dari umat ini pun mengalaminya, dalam kondisi serba keterbatasan yang mereka alami waktu itu?

“Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.” (QS. Ar Rum: 2-5)

Tak seburuk Romawi, tak sejauh Habasyah, hanya mungkin karena kurang mendapatkan sentuhan dakwah ini, di antara proses dakwah yang belum selesai, di antara tahapan-tahapannya yang belum sempurna.

Berhadapan dengan realitas dan keterbatasan, umat ini membutuhkan solusi jangka pendek yang segera, tanpa bermaksud menafikkan upaya mewujudkan kondisi ideal. Ada hal-hal baik yang bisa diambil umat ini sekecil apapun, untuk menuju sebuah cita yang masih panjang. Ketika umat berada dalam posisi krusial, sedikit partisipasimu mungkin akan menentukan, namun apakah engkau tetap tak bergeming?

Kekhawatiranmu terjatuh bersama kami, dan kekhawatiran kami bila keteguhanmu justru menguntungkan rival dakwah kita, sikapmu justru memberi jalan yang lebih mudah kepada mereka. Mengetuk kepedulianmu agar engkau memberi sedikit partisipasi, untuk menyambung sebuah harapan yang lebih baik bagi umat ini.

Atau apakah engkau malah gembira ketika  umat ini terjatuh, hanya karena terjatuh dalam ketidak sempurnaannya, menyaksikannya kejatuhannya tanpa berbuat sesuatu, hanya karena mereka tak memenuhi suatu kesempurnaan?

Saudaraku, tak memilih itu memang hakmu, tapi aku harap engkau mengerti juga tentang kewajiban dan tanggung jawabmu terhadap umat ini...