Tampilkan postingan dengan label Toleransi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Toleransi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Mei 2015

Jangan Terburu-buru Mengamalkan Sunnah yang Asing

Pernah suatu ketika, Syaikh Shalih Al Fauzan, ditanya oleh seseorang, “‘Ya Syaikh, saya dapatkan sebuah hadits yang shahih. Dan hadits yang shahih ini adalah sebuah sunnah yang banyak ditinggalkan oleh manusia. Yaa Syaikh, jika sunnah ini saya hidupkan di tengah manusia, apakah saya akan mendapatkan pahala?”

Dijawab oleh Syaikh Al Fauzan, “Tidak. Justru engkau akan mendapatkan dosa karena melakukannya. Kecuali sebelum engkau lakukan sunnah itu, engkau ajarkan dulu sunnah itu kepada manusia.”

Begitulah kedalaman jawaban seorang ulama. Tidak semua sunnah yang telah asing di tengah-tengah manusia langsung tiba-tiba diamalkan. hendaknya dia ajarkan dulu sunnah itu kepada manusia, jangan langsung diamalkan sehingga membikin keributan dan terjadi fitnah yang besar.

Dan ini terjadi di kampung-kampung di pelosok daerah sana. Sebagian Muslimin berpegang kuat dengan madzhab Syafi’i.

Pernah ada kejadian ada da’i yang masuk ke sebuah masjid di daerah yang jauh perjalanan menuju ke sana melalui sungai dan menaiki perahu, ia khutbah Jum’at tanpa membaca shalawat dan berdoa di khutbah kedua. Ia khutbah saja seperti biasa, setelah selesai ia hanya baca doa kafaratul majelis lalu turun. Tidak ada baca doa.

Kemudian berdirilah imam masjid tersebut dan dia tanya kepada jama’ah masjid itu, “Bagaimana ini, apakah sah khutbah jum’at yang seperti ini?”

Jawaban jama’ah masjid serempak, “Tidak sah!”

“Kalau begitu, kita shalat zhuhur saja. Tidak ada shalat Jumat hari ini.”

Perhatikankanlah!

Gara-gara praktik khutbah yang dianggap asing, tidak ada yang shalat Jumat satu kampung itu.

Maka hendaknya seseorang mempertimbangkan akibat dari perbuatannya. Sebagian orang yang -masya Allah- semangat dalam mengamalkan sunnah, ia tidak mempertimbangkan bahwa di balik pengamalannya ada mafsadat-mafsadat lain yang ditimbulkannya, yang bisa membahayakan dakwah Rasulullaah -shalallaahu alaihi wa sallam-

Fimadani

Senin, 10 November 2014

Masa’ Islam Kita Kalah dengan Bali!

Suatu ketika Ustadz Bachtiar Nasir bertanya bertanya kepada suatu jamaah, “Islam manakah yang paling baik?” Menurut Beliau Islam yang paling baik itu bukan Aceh, Sumatera Barat atau Yogyakarta, tetapi Islam terbaik di Indonesia itu adalah Bali.

Bagaimana mungkin? Ternyata hanya di Bali jamaah Shalat Subuh lebih banyak dari pada jamaah Shalat Jumat. Di Masjid Baitul Makmur Denpasar misalnya, jamaah Shalat Subuhnya bisa mencapai 700 orang, bahkan untuk hari Ahad lebih banyak lagi, sehingga tidak muat lagi di dalam masjid.

Bukan shalat-shalat jamaah saja yang semarak, kegiatan-kegiatan seperti taklim dan kajian keislaman tak kalah semangat. Mereka sangat antusias dalam mengkaji tafsir, hadis dan sebagainya, bahkan mendatangkan ustadz-ustadz dari luar. Demikian pula dalam berinfak, tak heran bila amal-amal sosial muslim di Bali lebih terurus dengan baik dibanding dengan yang dikelola umat lain yang mayoritas sekalipun.

Bali selama ini kita persepsikan tak identik dengan Islam. Para pendatang dari luar di Bali kebanyakan memang beragama Islam, tetapi mungkin kita lebih mengasumsikan mereka yang memilih bekerja di sana bukan muslim yang taat. Mungkin kita mengasumsikan muslim yang taat cenderung tidak memilih bekerja di Bali. Tetapi kenyataan yang terjadi, Islam di Bali justru tumbuh menakjubkan.

Lantas bagaimana dengan kita? Dalam kondisi sebagai mayoritas, kita lebih mengenal Islam, lingkungan dan tempat kita bekerja lebih kondusif untuk menjalankannya, lebih tersedia berbagai sarana di sekitar kita yang mempermudah untuk kita menjalankan ibadah. Tetapi ternyata kemalasan membuat amal kita tak sebanding dengan peluang yang semestinya bisa diraih.

Masjid-masjid kita yang sepi, padahal hampir tiap RT ada masjid. Sedikitnya orang yang mau mendatangi majelis-majelis ilmu. Nyaris tak ada lagi rumah-rumah yang membiasakan membaca Alquran di dalamnya. Tak sebanding dengan semaraknya hal-hal yang bersifat hiburan duniawi dan hura-hura di sekitar kita.

Beberapa dekade lalu, suasana di Bali masih seperti di negara-negara Barat, nyaris tanpa simbol-simbol Islam yang menonjol. Untuk mencari tempat shalat saja sulit. Tak dinyana jika di kemudian hari, syiar Islam di sana justru tampak bergairah. Sebaliknya kita, sepertinya malah seperti sudah jenuh dalam beragama. Beragama bagi kita rasanya seperti hanya turun-temurun semata.

Antara kuantitas dan kualitas, kita yang secara jumlah mayoritas tampak seperti hanya minoritas, mungkin seperti buih di lautan. Sebaliknya, mereka dalam kondisi sebagai minoritas, mampu melampauinya, dan benar-benar menampakkan syiar Islamnya.

Begitulah, dalam kondisi minoritas, penuh keterbatasan, tak menjadikannya penghalang, melampaui keterbatasan tersebut. Sedang kita, begitu banyak kesempatan yang terbuka, tetapi kita menyia-nyiakannya. Tidakkah kita malu dengan prestasi yang dicapai saudara-saudara kita di Bali?

Seringkali dengan berbagai nikmat yang diberikan kepada kita, tak membuat kita lebih dekat kepada agama, malah kita lebih banyak lalai, kita seperti tidak butuh dengan Islam. Sementara, saudara-saudara kita yang sedang terkena berbagai musibah, cobaan yang berat, menjadi korban konflik dan peperangan, tetapi dalam kondisi demikian sulit justru membuat mereka mendekat dengan agama.

Jika lebih banyak kesempatan kita sia-siakan, bagaimana jika nikmat-nikmat yang diberikan kepada kita ini dicabut? Apakah kita menunggu mendapat cobaan-cobaan seperti itu, baru mau mendekat kepada-Nya?




Senin, 25 Agustus 2014

Untuk Menanggalkan Jilbab ini Sebentar Saja

Perasaan itu datang setiap saat hendak berangkat ke tempat kerja, ada rasa yang menusuk di dalam dada. Berhadapan dengan sebuah dilema, menanggalkan jilbab ini meski dengan berat hati, atau kehilangan pekerjaan yang menjadi tumpuan hidup. “Memangnya kamu hidup di Arab, apa susahnya menyesuaikan diri dengan budaya kita. Pergi saja dari sini dan tinggal di Arab sana.”

Hanya pada saat bekerja saja jilbab ini harus dilepas, hanya sebentar, tetapi seolah-olah terasa sangat lama. Dan sepulang kerja, kami boleh mengenakannya kembali sesuka hati. Namun yang lebih membuat kami khawatir, jika generasi sesudah kami nantinya akan melepaskan jilbab tanpa ada lagi rasa canggung, terus dikondisikan untuk semakin tak mengenalnya, bahkan agar kelak mencampakkannya sama sekali.

***

Entah, apakah kemuliaan hari Jumat ini masih seperti dulu. Yang pasti kali ini kami menghampirinya dengan perasaan berbeda, ada ganjalan yang berat tertancap di dalam hati. Tentang sebuah peraturan yang harus kami taati, jilbab yang harus kami tanggalkan di hari ini, diganti dengan pakaian model abang none.

“Kalau ingin pakai jilbab, sekolah saja di madrasah. Kalau di sekolah umum, ya harus mengikuti peraturan di sini.” Untuk menanggalkan jilbab ini sehari saja, kami sudah merasa sangat sakit. Namun yang lebih menusuk, bahkan kekhawatiran itu sulit untuk kami ungkapkan lagi, jika ini akan membuat adik-adik di belakang kami nantinya tak menyisakan waktu untuk memakai jilbab barang sehari saja, setidaknya mengganti dengan jilbab yang tak syar’i, jilbab gaul, jilboobs dan semacamnya sebelum jilbab itu benar-benar lenyap dalam kehidupan mereka.

***

Mimpi-mimpi buruk tentang kami, saudara-saudara kami, tentang kebebasan untuk menjalankan agama ini, yang suatu saat mungkin makin tak sebebas lagi bisa kami nikmati. Mimpi yang makin sering menghampiri, makin terasa dekat bersama kekhawatiran jika suatu saat benar-benar terwujud.

Ruang yang tersisa untuk kami bisa menjalankan agama ini makin sempit, makin dipinggirkan, dijauhkan dari urusan masyarakat, dibatasi pada urusan pribadi, sedikit demi sedikit banyak hal dari Islam yang dinihilkan, menuju upaya menghapus sama sekali Islam ini dari muka bumi.

***

Mereka mengajarkan kami tentang kebebasan berkeyakinan dan kebebasan hati nurani, tetapi mereka menanam ganjalan di hati kami. Menyangkut keyakinan kami, kebebasan itu kian dipersempit. Untuk kesekian kalinya kami harus merasakan ketidakadilan dan diskriminasi atas nama penyeragaman.

Mereka mengajarkan kami tentang toleransi, indahnya berdampingan dalam perbedaan, dan agar kami berlapang terhadapnya. Tetapi bagi kami, kepentingan kami, atas nama toleransi dan kebebasan itu seperti tak lagi bermakna.

Mereka mengajarkan kami tentang keragaman, menghargai suatu perbedaan, dan memelihara kearifan lokal. Tetapi menyangkut eksistensi kami, seperti tak tersisa tempat untuk berbeda.

***

Mengenang kata-kata manis tentang kehidupan yang bebas dari diskriminasi, berdampingan dengan indah dalam perbedaan, tapi mungkin benar bila semua ini tak realistis.

Kita memiliki harapan dengan sebenarnya, andai mereka merengkuh kebersamaan dengan kita dalam iman ini, yang kita yakini sepenuhnya merupakan kebenaran sesungguhnya, meski kita sadar jika kita tak bisa memaksa mereka. Jika tidak, hanya untuk sekedar mengharap agar mereka menerima keyakinan berbeda yang kita imani, menghargainya, bukannya menghadirkan mimpi-mimpi buruk.

Tatkala cita kita untuk menggapai kedamaian dalam agama ini harus terganggu oleh mimpi-mimpi buruk itu. Untuk menikmati kebahagiaan dalam Islam harus melewati rintangan dan aral yang menyakitkan. Menyadarkan kita tentang suatu hal dalam kehidupan ini, agama ini didapat tidak  dengan cuma-cuma dan tidak akan dibiarkan cuma-cuma.

Kita bisa mengenal agama Islam ini, leluasa menjalankan berbagai macam ibadah dalam kehidupan, menjalankan shalat, puasa, memakai jilbab dan sebagainya. Tapi kita harus mengerti bahwa semua itu tidak diperoleh begitu saja dengan mudah, melalui usaha dan perjuangan yang berat, dan suatu saat mungkin kebebasan itu bisa lenyap, hingga kita tak bisa lagi menjalankan agama ini dengan cuma-cuma.

Generasi pendahulu kita, sejak masa para nabi dan para penerusnya harus berhadapan dengan berbagai macam rintangan. Sampainya Islam kepada kita dibayar dengan penderitaan, kesabaran dan darah, melalui perjalanan panjang perjuangan bahkan peperangan.

Kita sebenarnya hanya ingin menjalankan ibadah ini dengan tenang, menikmati kedamaian dan keindahan dalam Islam. Namun sebelum semua itu terwujud, jalan ke arah itu harus terlebih dahulu melalui berbagai halangan yang menyakitkan dan rintangan-rintangan yang melelahkan, yang membutuhkan tekad, kesabaran dan pengorbanan. Berhadapan dengan kekuasaan yang zhalim yang mengerahkan segenap kekuatannya untuk menghalangi umat manusia dari jalan ini.

Mungkin kita suatu saat tak lagi leluasa bisa mengerjakan shalat, puasa, tak bisa lagi seenaknya memakai jilbab, mengaji atau mendirikan masjid. Agar mimpi buruk itu tak terjadi, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga, membangun kekuatan agar Islam ini kokoh, memiliki kekuatan menghadapi berbagai halangan yang menghadang, termasuk menggunakan kekuasaan.

“Pokoknya semata-mata hanya untuk Islam, tak usah mengaitkan dengan politik. Fokus beribadah saja, memperbanyak amal shalih, tak perlu ngurusi politik.” Dengan kekuasaan yang dimiliki, mereka akan melakukan segala upaya untuk menghalangi kita dari jalan ini. Kita membutuhkan kekuasaan untuk menopang agama ini, menjadi pelindung kita untuk menjalankannya. Islam tak bisa terpisah dengan semua aspek kehidupan, termasuk politik dan kekuasaan.

“Nyatanya mereka itu hanya menjadikan agama sebagai kedok untuk meraih kekuasaan, menumpuk kekayaan, korupsi, sama saja menjual agama.” Perjalanan untuk meraih cita yang indah, suatu ketika harus berhadapan dengan jalan kekuasaan dan politik yang kotor. Kita tak sebaik para Nabi dan orang-orang yang bersamanya, sedang mereka juga menerima berbagai tuduhan yang menyakitkan, tertimpa berbagai macam fitnah dan stigma yang amat buruk. Kita hanyalah hamba-hamba yang lemah, kita bisa terjerumus, tergoda syahwat kekuasaan, dan ini akan menjadi noda bagi agama ini. Menjadi tanggung jawab kita terhadap agama ini, menjaga kesuciannya, tak mungkin agama ini didirikan di atas pondasi yang bathil dan menghalalkan segala macam cara.

Tetapi dunia tak sesederhana itu. Ada masa-masa yang penuh fitnah dan tipu daya, upaya untuk mengkondisikan agama ini dalam persepsi buruk, memojokkannya, menampilkan Islam wajah yang kotor, korup, haus kekuasaan, terbelakang, kasar, bahkan bengis. Zaman yang terbalik, kebenaran dikondisikan sedemikian rupa sebagai kebatilan, dan sebaliknya. Orang yang amanah dihinakan, sedang orang yang khianat dimuliakan.

Tanggung jawab kita terhadap agama ini, menjaga kesuciannya, terhindar dari kekotoran dan tindakan menghalalkan segala macam cara. Tetapi sekaligus juga ada tanggung jawab kita untuk meneguhkan kewaspadaan, agar keyakinan kita terhadap Islam tak pudar oleh opini yang membangun persepsi buruk tentang Islam, bahkan sesama umat ini sendiri ikut saling menyebarkan persepsi buruk tersebut, tanpa disadari masuk dalam sebuah permainan, di antara berbagai tipu daya yang terus menerus mengecoh opini kita, dan ujung-ujungnya adalah melemahkan umat ini secara keseluruhan.

Bisa jadi kita memiliki andil pada upaya agar umat ini muak, malu, dan membenci Islam. Tantangan yang melelahkan membuat kita apatis, menyerah, bahkan mundur. Padahal tak mungkin mengharap orang lain akan menjaga dan memelihara Islam ini. Hingga ketika kita semakin lemah, pihak lain makin leluasa meneguhkan kekuasaan atas umat ini. Lahirlah berbagai kebijakan yang tak ramah terhadap umat ini. Bukan untuk menanggalkan jilbab ini sebentar saja, tapi selamanya. Bukan untuk meninggalkan Islam ini sebagian saja, tapi seluruhnya.