Tampilkan postingan dengan label Bangsa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangsa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Oktober 2014

Etnis Cina, Pribumi, Sebuah Balada Superioritas dan Inferioritas


Kemuliaan seorang manusia tidak ditentukan oleh etnis dan bangsanya tapi oleh ketakwaanya. Setiap manusia dinilai bukan oleh asal-usul keturunannya tapi oleh amal perbuatannya. Al-Quran mengajarkan kita agar di antara beragam suku dan bangsa mengembangkan sikap saling bertaaruf (kenal mengenal).

Kita tak pernah meminta dilahirkan dari suatu etnis tertentu. Kebaikan dan kedurhakaan, ia bisa terlahir dari siapapun. Dari keluarga terdekat Firaun sekalipun, bisa terlahir suatu kebajikan yang luar biasa. Sebaliknya, dari keluarga terdekat seorang nabi sekalipun, bisa terlahir sebuah kedurhakaan yang besar.

Tetapi ada sebuah realitas yang sedang kita hadapi, dirasakan dari sebuah potret ketimpangan, salah satu pihak identik dengan superioritas, sedang pihak lain identik dengan inferioritas, untuk tidak terburu-buru mengidentikkan dengan dominasi dan marjinalisasi.

Dari sebuah realitas, segelintir kalangan tertentu menikmati sebagian besar kekayaan negeri, sedang sebagian besar dari penduduknya berada dalam kesulitan hidup. Mereka bersusah payah bekerja membanting tulang, di antara kesuburan dan kekayaan negeri, tetapi hasilnya seperti tak sepadan dengan jerih payahnya. Menyandang status sebagai pribumi, tetapi menerima kenyataan terus terdesak di kampung halamannya sendiri.

Potret kecil dari rahasia pintu rezeki anak manusia yang melakukan hijrah, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah, mereka dijanjikan akan mendapat apa yang diniatkannya, baik untuk tujuan-tujuan duniawi maupun untuk tujuan agama.

Seringkali para pendatang di perantauannya lebih sukses dalam menjalankan usahanya, mereka mampu mengungguli penduduk aslinya. Dalam suasana di perantauan, berhadapan dengan tantangan dan kesulitannya, biasanya mereka lebih memiliki spirit, motivasi hidup dan profesionalitas, bertekun menjalani hidup dalam keprihatinan. Berkebalikan dengan penduduk asli yang merasa nyaman hidup di tanah kelahirannya sendiri, dan cenderung berakibat memiliki mental santai.

Introspeksi ke dalam, menjadi hal pertama dan bijak bagi pribumi. Mengoreksi kekurangan diri, tentang kurangnya semangat, etos kerja dan keuletan. Kelemahan dari sisi menjalankan manajemen dan strategi bisnisnya. Hal tersebut menjadi faktor penghambat kemajuan kemajuan dari dalam.

Di luar itu, ada faktor eksternal yang tak bisa dipungkiri, ada upaya untuk mengkondisikan pribumi agar berada dalam keadaan inferior. Di samping kelemahan dari dalam, mereka harus menghadapi kompetisi yang tidak fair, ketidakadilan sistematis dan pelemahan terstruktur dari suatu kekuatan luar.

Sehingga bukannya tanpa masalah, kesuksesan kaum pendatang sering berimplikasi pada tingginya risiko, kecemburuan yang timbul, bahkan bisa terakumulasi pada kemarahan sosial, apalagi bila disertai sentimen SARA dan politik. Sekalipun kesuksesan tersebut dicapai dengan cara fair, tetap ada potensi beban sosial, apalagi bila ada unsur kompetisi tidak sehat di dalamnya. Di antara ketimpangan yang terjadi, ada hal yang perlu dimengerti, penduduk asli yang memiliki perasaan bahwa mereka lebih dahulu mendiami tempat tersebut.

Di antara dua pilihan untuk membayar beban sosial tersebut, antara meredamnya dengan bersikap yang baik terhadap penduduk asli, menumbuhkan jiwa sosial yang tinggi dan mengulurkan kepedulian. Atau jika tidak, meredamnya dengan mengedepankan angkara dan keserakahan, mengukuhkan dominasi melalui cengkeraman yang membuat pihak lemah dalam kondisi tak berdaya, pelemahan sistematis secara politik, struktur sosial dan berbagai aspek kehidupan lain.

Sebuah harapan di satu sisi, terjalin sebuah hubungan yang positif, pihak yang kuat menolong mereka yang lemah, saling bekerjasama untuk kebaikan bersama. Tetapi juga sebuah kekhawatiran di sisi lain, dikedepankannya nafsu dan angkara, suatu pihak berupaya mendominasi dan menihilkan pihak lain. Bukan hanya melemahkan secara fisik dan mental, bahkan dalam gambaran terburuk, sejarah panjang penaklukkan dan penjajahan bangsa-bangsa, sampai kepada kemungkinan terburuk, upaya yang mengarah pada pemusnahan bangsa lain sebagaimana yang dialami bangsa Indian, Aborigin dan Maori.

Di antara cinta dan kebencian, di antara persahabatan dan permusuhan, dunia ini mungkin bukan tempat meminta belas kasihan, ia lebih banyak memaksa untuk bersaing bahkan bertarung memperebutkan supremasinya.

Silih berganti berbagai bangsa hadir di nusantara ini, disambut dengan tangan terbuka, tetapi adakalanya berbalas lain, cengkeraman kolonialisme dan eksploitasi. Tumbuhnya nafsu serakah atas kekayaan dan kesuburan sebuah negeri. Suatu bangsa yang merasa tanah airnya terlalu sempit, terpikat dengan kesuburan dan kekayaan negeri lain, dan akhirnya berhasrat menguasainya. Setidaknya menjadi suatu kewaspadaan bagi masa depan bangsa ini, bahwa untuk bisa mempertahankan eksistensinya, menuntut suatu perjuangan dan pengorbanan, tidak bisa diniscayakan lagi.

Sebagai muslim kita patut bersyukur, Islam datang ke berbagai penjuru dunia tidak dengan spirit menjajah dan mengeksploitasi, tetapi dengan motivasi dakwah, transfer ilmu pengetahuan dan kemajuan peradaban. Islam datang ke Nusantara ini tanpa kita merasa terjajah oleh Islam. Bukan Islam yang memusnahkan bangsa Indian, Aborigin dan Maori. Bukan Islam yang melakukan perbudakan bangsa kulit hitam secara masif. Islam datang ke Andalusia bukan untuk dieksploitasi, tetapi membebaskannya dari ketidakadilan dan membawanya menjadi sebuah puncak kemajuan peradaban. Islam datang dengan spirit membawa rahmat, keselamatan, berbagi dan taawun (tolong-menolong), bukan menghisap dan merampas.

Di antara dunia yang mengedepankan spirit individualistik dan ego, Islam bisa menjadi sebuah jembatan bagi terwujudnya jalinan kasih sayang dan perdamaian. Keimanan yang sebenarnya, menumbuhkan sebuah orientasi bahwa superioritas bukan didapatkan dengan merampas dan menaklukkan, tetapi dengan memberi dan berbagi.

Namun ada sebuah konsekwensi, Islam menjadi penghalang terbesar tegaknya kebatilan, sehingga Islam harus melewati berbagai stigma buruk di antara pertarungan kebenaran dan kebatilan tersebut, dan ini menjadi ujian bagi kita dalam membawakan Islam pada percaturan dunia.

Realitas di negeri ini, termasuk Islam telah menjadi jembatan antara etnis cina dan pribumi, menjadi sebuah asimilasi yang sebenarnya, tanpa menyisakan sekat. Ia meluruhkan angkara, sekaligus menepis prasangka. Namun sayang, jembatan yang telah terhubung tersebut masih terlalu kecil untuk dua entitas yang teramat besar.

Dengan Islam, kecemburuan akan dunia diredam dengan keyakinan akan akhirat. Bahwasanya kejayaan dan kesenangan duniawi tak ada artinya dibandingkan dengan kebajikan dan amal shalih untuk akhirat (Al Baqarah: 212, Ali Imran: 14-15, Al Kahfi: 45-46). Tetapi kesempurnaan Islam juga menempatkan dunia sebagai sawah ladang akhirat, kekuatan dunia adalah sarana untuk menegakkan keadilan dan membebaskan orang-orang lemah dari kesewenang-wenangan. bahwasanya kemiskinan akan mendekatkan kepada kekufuran. Sebuah motivasi agar umat ini tidak menjadi lemah, tetapi menjadi kekuatan yang sinergis dengan tugasnya sebagai khalifah, tugas untuk memakmurkan dunia.

Bukan untuk mengharap belas kasih, tetapi untuk menghadapi tantangannya. Memang Tuhan memberikan kerajaan kepada yang Dia kehendaki dan mencabut kerajaan dari orang yang Dia kehendaki. Memuliakan orang yang Dia kehendaki dan menghinakan orang yang Dia kehendaki. Dan Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. Tetapi Allah telah telah menegaskan bahwasanya Dia tidak mengubah nasib suatu kaum sampai kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri.
 


Jumat, 27 Juni 2014

Di Ambang Chaos, Gus Dur Datang dan ‘Mengacau’

Ketegangan tahun politik 2014 ini mengingatkan kembali perjalanan bangsa ini yang tak pernah sepi dari berbagai ujian. Beberapa kali negara kita berada pada situasi genting, melewati peralihan kekuasaan dengan berdarah-darah.

Tragedi 1965 meninggalkan luka yang cukup dalam, mewarnai peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Sempat diwarnai beberapa tragedi dan sejumlah kerusuhan masal, reformasi 1998 yang mengakhiri Orde Baru sempat memunculkan kekhawatiran ancaman serupa, disintegrasi bangsa yang bisa mengakhiri riwayat negara ini.

Upaya melewati peralihan kekuasaan secara damai, di antara ketegangan antara mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai kekuatan reformis menghadapi mereka yang diberi stigma sebagai pro ststus quo, seharusnya menjadi pembelajaran kita menghadapi kekhawatiran di 2014 ini.

Pemilu 1999 baru saja usai, gambaran hasilnya sudah bisa terbaca, jika diproyeksikan dengan keadaan bangsa secara keseluruhan, potensi konflik yang bisa terjadi memang mengkhawatirkan. Terbelah antara kubu Mega vis kubu Habibi, membutuhkan terobosan politik untuk meredakan ketegangan tersebut, politik kompromi dan akomodasi yang bisa diterima kedua belah pihak.

Gus Dur menemui ketua umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif mengajukan sebuah argumen. Jika Megawati yang menjadi presiden, akibatnya akan begini-begini. Jika Habibi yang menjadi presiden, akibatnya juga begini-begini. Demikian pula jika Amin Rais yang menjadi presiden, akibatnya juga akan begini-begini. Kemudian Gus Dur menawarkan diri, bagaimana jika dirinya saja yang menjadi presiden. Saat itu masih dianggap ide gila.

Dilanjutkan dengan perbincangan tentang bagi-bagi kekuasaan, mengakomodasi semua komponen yang ada. Terbentuklah kabinet Persatuan Nasional yang menjadi pereda ketegangan bangsa ini, meski hanya efek semu untuk solusi sementara.

Gus Dur memang tak punya niat menjadi presiden. Meski juga bukan untuk main-main saja. Pendukungnya tak perlu sakit hati jika ia dilengserkan.

Begitulah Gus Dur dan reformasi 1998, agar tak mengulangi kecelakaan sejarah 1965. Gempa dahsyat yang mengancam bangsa ini, dipecah menjadi gempa-gempa kecil, meminimalisasi dampak kerusakan yang ditimbulkannya. Gus Dur datang dan mengacaukan keadaan, ketegangan ideologis antara dua kubu yang berhadapan secara frontal, dialihkan kepada masalah-masalah lain. Kita disibukkan oleh korupsi berjamaah, bancakan uang negara dan berebut kekuasaan, melupakan konflik ideologis yang lebih dahsyat.

Di tengah ketegangan, Gus Dur membuat kekacauan. Pihak yang berseteru menjadi kalang kabut, tak sempat melanjutkan perseteruan. Bahkan sesekali harus bahu-membahu dengan lawan, diributkan oleh Gus Dur. Gus Dur memang membuat semua jadi repot.

Gus Dur kini telah pergi, meninggalkan PR bagi bangsa ini, untuk diselesaikan ketika kita beranjak dewasa. Kita harus menyelesaikan tugas ini, mengurai satu per satu permasalahan bangsa yang sangat komplek, bukan meminta orang tua kita yang mengerjakan PR tersebut. Tentunya kita tidak mau dianggap masih seperti anak TK.

Gus Dur kini telah pergi, tak bisa lagi membuat kekacauan di antara kita, di tengah ancaman letusan akumulasi persoalan bangsa yang kian sarat, 2014 ini menjadi ujian berat bagi kita, ujian kedewasaan bangsa ini.

Wallahua’lambishawwab.

Senin, 31 Maret 2014

Bilik-Bilik Izrail

Ruang Merak, awal 2011. Sebuah ikhtiar memperpanjang hidup. Berharap untuk ditambah sebentar saja. Untuk sebuah tanggungan hidup yang masih dimiliki.
Detik demi detik hidup yang mahal, seharga herceptin dan avastin. Hanya untuk separuh hidup, atau mungkin kurang dari itu, karena meski dijalani dengan payah, sakit, berteman MST dan lorazepam.
Mungkin tak mungkin, atau sekedar berharap tertunda, tapi kedatangannya telah pasti, tapi entah kapan. Hanya saja pengharapan kepadaNya yang tak sedikitpun pudar.
Akhirnya berakhir. Jika waktu bisa diputar kembali, rasanya takkan menyiakan kesempatan untuk berbenah. Tapi telah tertutup, menyisakan sesal. Kecuali sebuah harap tentang rahmatNya yang tetap tak pernah tertutup.
Semoga, menjadi ketetapan terbaik di antara hikmah dan pilihanNya. Semoga, apa yang tercecer, dipungutkan. Apa yang tertinggal, diambilkan. Dan apa yang hilang, tergantikan, dengan yang lebih baik.
***
Ruang Geriatri, awal 2013. Merasa hidup telah cukup, berharap segera purna. Sekian lama kami tahu, bahwa beliau ditimpa sesuatu. Tetapi dari lubuk hatinya tak ingin merepotkan siapapun. Hingga saat itu tiba begitu cepat.
Sepanjang hidupnya untuk kami, hingga tak berkesempatan banyak untuk membalasnya. Hampir tak merepotkan hingga saat berakhir, tak sebanding yang diberikannya.
Begitu ikhlas, meski semestinya menyisakan satu hal yang melalaikan, umur yang terbuang, waktu yang tersia-siakan, bekal yang terlewat untuk sebuah cita di hari kelak.
***
Terbaring sakit, seperti tak kan tertolong lagi, tak tahu lagi harus berbuat apa. Semoga masih tetap bisa berharap, (bukan) berharap yang tak mungkin. Berharap segera beranjak untuk berbenah, khawatir makin terlambat, semestinya membuat insyaf, tapi...
Terus menyakiti, menambah goresan luka di tubuh, terus mengumbar nafsu. Kekhawatiran itu mungkin terjadi, tinggal sebuah harapan dalam doa, jalan keluar yang terbaik dari sebuah ketidakberdayaan.
Di antara hawa nafsu yang terus diperturutkan, akal sehat yang terus diabaikan, tak peduli lagi esok akan seperti apa, tetap tersisa setitik keinginan untuk terbebas. Tetapi lagi-lagi terjerumus, terulang dan terulang.
Sebelum terlambat, dan tak bisa diselamatkan, antara harapan dan ancaman,
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong(lagi).
Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, supaya jangan ada orang yang mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah ), atau supaya jangan ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa’. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ‘Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik’.
(Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.” (QS. Az Zumar: 53-59)
Kesempatan terakhir, mungkin. Berharap tidak disia-siakan, untuk sebuah negeri yang sedang meregang. Sekecil apapun yang bisa dilakukan, sebelum benar-benar terlambat,  kemudian tak berguna lagi penyesalan. Datangnya Izrail untuk negeri, berakhir.
Semoga, sekecil apapun cita yang tersisa, tidak tenggelam di telan luasnya bentang khilaf ini, tetapi menjadi benih yang tumbuh menjadi naungan luas, suatu saat nanti. Di antara harapan untuk dimudahkan, dengan rahmatNya.

Rabu, 12 Maret 2014

Usman Harun, di Antara Aku dan Negeriku

Kita semua tahu, begitu banyak yang menzhalimi negeri ini. Namun barangkali tak menyadari bahwa mungkin kita salah satu di antaranya.
***
Sekian lama aku terinjak-injak dan terhinakan, engkau pun leluasa melakukannya. Seiring pedih yang bertubi-tubi menghantam kesabaranku, berupaya memisahkanku dengannya, hanya satu yang membuat aku masih kuat, bertahan di atas titian kesabaran ini, sepedih-pedih kesewenang-wenangan yang aku terima, aku tak bisa membayangkan rasanya andai akulah yang melakukan kesewenang-wenangan itu. Hanya ini, ia setia menjadi pelipur saat aku hampir bergegas meninggalkannya, sepedih-pedihnya aku terzhalimi lebih ringan kujalani, daripada aku yang menebar kezhaliman itu.
Sahabat, aku tak ingin kezhaliman yang kau timpakan menjadi pembenar untuk aku melakukan kezhaliman serupa. Melakukan pembalasan itu indah, tapi semestinya aku tahu diri bahwa aku tak mampu melakukannya, tak kan sebanding dengan apa yang kau timpakan. Aku tak ingin menikmati pelampiasan jika manisnya tak sedikit pun menambah kemuliaanku.
Jujur aku ingin membalas, tapi aku sadar ini takkan seberapa mengobati pedihku. Mungkin hanya ini yang bisa kulakukan, sementara engkau malah menertawakannya, mencaci ketidakberdayaanku. Namun aku bersyukur jika aku masih memiliki keteguhan untuk tak tergiur dengan kedudukanmu, aku tak memiliki cita untuk bisa melakukan apa yang kau perbuat. Sekedar agar engkau mengerti apa yang kurasakan. Meski aku tak tahu bagaimana cara membuka hatimu, kezhaliman yang menimpaku menjadi sandaranku untuk berkeluh kesah kepadaNya, menutup kekuranganku dan menjadi jalan bagi kemuliaanku.
Sahabat, aku tak tahu berapa lama lagi masih mampu untuk mengalah. Saat-saat aku masih bisa menikmati pedih ini, aku ragu apakah kesabaran ini sebenarnya hanyalah egoku semata. Egoku membiarkanmu terjerumus, terus menebar kesewenang-wenangan. Jika aku bersikukuh menikmati kepedihan ini, aku mungkin salah membuatmu terus menikmati kezhaliman yang kau perbuat. Berat bagiku untuk bisa menyisihkan kepedulianku padamu, mengentaskanmu dari kezhaliman yang kau lakukan.
***
Sulit bagiku untuk menerima kenyataan. Sejarah yang terbangun ini, tersusun juga oleh noda dan khilaf. Aku muak dan jijik, aku ingin mengenyahkannya, tapi dari lubuk hatiku aku sadar bahwa itu tak mungkin. Masa tak akan mungkin untuk terulang. Tentang sebuah cita mulia, aku menerima apa adanya, termasuk kekurangannya. Karena aku berkaca pada diriku, pada kekuranganku, aku tak ingin dituntut memberikan kesempurnaan serupa.
Aku tak menuntutnya untuk sempurna, aku tak ingin noda itu memporak-porandakan segalanya. Tetapi aku juga tak ingin memelihara noda itu, mengotori cita ini, apalagi berlindung di baliknya. Kekurangan dan kelebihannya, kebaikan dan keburukannya, biarlah ia menjadi harap dan cemas bersama langkahku, membuatku tak mudah tergelincir meski bebannya memberatkan kakiku melangkah.
Sahabat, bukan hanya aku, engkau pun harus tahu bahwa cita kita pada awalnya sama-sama mulia. Setelah mengalir melalui berbagai ujian pelik, hingga sempat ia berwujud dalam bentuk ucapan bunuh dan ganyang. Cita ini terlalu sayang untuk dikubur bersama hitam putihnya, namun lebih sayang untuk menjadi pembuka luka lama. Aku bisa berkata tidak. Mulutku bisa berdusta, tetapi hatiku tidak. Mulutku bisa menyangkal, tetapi hatiku tetap mengakui.
Engkau pun masih bisa menghinaku. Aku hanya bisa berharap engkau bisa merasakan keindahannya, tanpa harus menunggu menjadi hina, agar keindahan ini bisa kita nikmati bersama.
***
Potret-potret diri menyusun potret negeri. Terlalu mudah untuk berbicara hak dengan fasih, tetapi gagap ketika harus bicara tentang kewajiban. Ketika kemuliaan dicari dengan merendahkan. Lebih mudah untuk menuntut daripada memenuhi, lebih mudah untuk menuduh daripada mengakui. Memulai dari diri memang paling mungkin, namun tak selamanya lebih mudah.
Aku tak ingin merendahkan cita, meski sulit menerimanya bersama hitam putihnya. Hanya saja, kesalahan menerjemahkan cita di antara hamba semestinya makin mengingatkan tentang kesempurnaan Sang Pencipta.


Jumat, 27 Desember 2013

(Tak) Seindah Kanker Bangsa

Bangsa ini dan korupsi, telah menyatu dalam kepedihan. Semua yang telah kita rasakan semestinya membuat kita berbuat sesuatu, sekecil apapun, dari yang kita mampu, mulai dari diri kita sendiri. Bukan sikap acuh, putus asa, hingga tak tahu lagi apa yang harus dilakukan, tetapi dibutuhkan partisipasi kita untuk menyembuhkannya.

“Mengapa ya, di sini perawatnya ramah-ramah, nggak ada yang bentak-bentak seperti di ruangan?”

“Pantes saja, kita ini kan orang-orang yang mau mati.”

Di ruang Radioterapi ini semua pasien berbaur, yang berasal dari ruang VIP hingga ruang kelas III semua menyatu. Di sini seperti tak ada kelas, semua dilayani dengan telaten, ramah, penuh dengan kesabaran. Pasien-pasien saling berbincang akrab, sharing dengan sesama, tampak guyub, semua sudah seperti keluarga sendiri. Di tempat ini sangat terasa berbeda bagi pasien yang berasal dari ruang kelas III, yang berobat dengan bekal jaminan sosial, yang masih sering mengalami perlakuan kurang mengenakkan.

Apakah karena kanker itu mematikan? Mengapa ia mengubah orang-orang yang bersentuhan langsung dengan para pengidapnya menjadi pribadi-pribadi yang berperasaan? Bukankah penyakit lain juga sama-sama bisa mematikan? Apa yang membedakan? Mengapa ia membuat kematian itu menjadi terasa dekat, hingga perpisahan seolah bergegas dipersiapkan?

Hanya orang-orang yang mengidapnya dan orang dekat yang bersentuhan langsung dengan mereka yang mengetahui jawabannya, meski cukup sulit untuk menjelaskannya. Yang membuat para survivor kanker merasa perlu memiliki perhatian lebih terhadap mereka yang senasib, memberi motivasi, membangkitkan semangat mereka, hingga terbentuklah perkumpulan-perkumpulan, untuk bisa saling berbagi dan memberi support atas apa yang sama-sama mereka alami.

Keluarga dekat dan mereka yang pernah bersentuhan langsung dengan kanker menjadi memiliki atensi lebih bila mendengar kata kanker disebut,  menjumpai orang-orang yang bernasib sama, melebihi mereka yang mendengar kanker melalui pelajaran-pelajaran ilmiah, novel, film, atau cerita dari mulut ke mulut.

Dalam sebuah acara talk show di TV, seorang ibu bercerita kepada anaknya, “Dulu ketika mengandung kamu, mama ketahuan mengidap kanker. Kata dokter mama harus sesegera mungkin dioperasi. Tapi mama tak mau mengorbankan kamu, untuk operasi mama nunggu beberapa bulan, nunggu kamu lahir.” Mendapat cerita itu si anak ekspresinya biasa saja, “O, gitu ya.” Hingga ketika ia dewasa, menjadi seorang dokter dan bersentuhan langsung dengan para penderita kanker, baru ia merasakan nilai pengorbanan sang ibu kepadanya, ibu yang mempertaruhkan nyawa untuknya.

Kanker itu hidup bersama kehidupan pengidapnya, mereka merasakannya betul. Kadang untuk menghibur mereka, kita katakan agar mereka bersahabat dengan kanker, entah itu sebenarnya menipu, kita hanya ingin membangkitkan motivasi mereka, hingga mereka memiliki kekuatan jiwa. Agar dengan itu mereka bisa tersenyum, sebagaimana yang biasa dikatakan orang, “Belum ada obat kanker yang bisa menjamin kesembuhannya, obat yang terbaik adalah mendekatkan diri pada Tuhan dan usahakan untuk bisa tersenyum tiap hari.”

Kanker itu hidup, pengobatannya mungkin sepanjang kehidupan para sahabat kanker itu. Pengobatannya membutuhkan waktu yang lama, menata satu demi satu sel-sel dalam tubuhnya agar kembali normal, berpacu dengan sel-sel ganas yang terus menyebar. Tahap demi tahap pengobatannya amat panjang, melelahkan, bahkan menyakitkan. Untuk menghiburnya agar mereka tak putus asa, lantas kita katakan pada sahabat-sahabat kanker itu bahwa mereka sedang berjuang.

Tentang korupsi yang membelit bangsa ini bagai kanker, yang kita semua merasakan kepedihannya, hingga sempat terlontar sebuah ucapan, “korupsi akan hilang dari Indonesia bila semua penduduknya pergi dan digantikan manusia-manusia lain.” Sebuah ungkapan yang menghibur berbingkai keputusasaan, di antara karut marut yang tak kunjung usai.

Meski pedih, kanker tubuh menjadi indah bagi banyak orang, memperindah empati mereka, melembutkan perasaan mereka, menumbuhkan rasa kasih dalam hati-hati mereka. Di antara perjuangan itu terangkai doa-doa yang indah, membuat banyak orang belajar tentang arti kehidupan. Di antara itu lahir orang yang mengerti arti kesetiakawanan dan pengorbanan.

Dapatkah kanker bangsa ini menjadi seindah kanker tubuh?

Teramat sulitkah membebaskan bangsa ini dari kanker yang membelitnya? Ketika berbagai upaya telah ditempuh hingga banyak orang berpikir tak tahu lagi harus berbuat apa. Bagaimanakah mengurai satu per satu sel-sel korupsi yang menggerogoti bangsa ini? Bagaimana berpacu dengan mereka yang kalap, buta dan ganas? Menyerah dan Membiarkan tubuh bangsa ini hancur digerogotinya, dan engkau juga mau ikut bersama kehancurannya?

Tapi tidak, perhatikan baik-baik bahwa sel-sel kanker tubuh dan kanker bangsa berbeda satu sama lain. Sejahat apapun sel-sel kanker bangsa itu, jika kesadaran mereka terbuka dan insyaf, dalam sekejap mereka sudah kembali menjadi sel-sel bangsa yang normal. Tak butuh proses panjang seperti membersihkan kanker tubuh, sekronis apapun organ-organ bangsa yang telah digerogoti olehnya, bisa pulih seperti sedia kala. Setebal apapun catatan-catatan hitam, tak perlu lama untuk menghapusnya, bisa ditukar dengan catatan-catatan putih bersih saat ini juga, oleh sekejap taubat yang sebenarnya.

Sekronis apapun bangsa ini, harapan itu senantiasa ada. Separah apapun kerusakan organ-organ bangsa, tak mesti berpikir tentang amputasi. Ia bisa pulih, kembali menjadi organ sehat yang bermanfaat bagi bangsa ini. Tak ada kata paliatif dalam kamus penyembuhan bangsa ini. “Maaf, sehubungan dengan kondisi pasien yang sedemikian, kami menyarankan keluarga membawa pulang, untuk selanjutnya dipasrahkan saja kepada Tuhan, mungkin ini adalah sebuah pilihan terbaik,” bangsa ini tak membutuhkan kalimat-kalimat seperti ini. Ia membutuhkan optimisme dan perjuangan yang tak kenal menyerah.

Hanya saja jika para koruptor itu lebih takut akan konsekwensi yang menyertai bila mereka insyaf daripada takut akan akibat dosa-dosa bila terus mereka lakukan. Saat mereka tak mengerti bahwa sebesar apapun dosa mereka, senyum dan tangan terbuka akan menyambut jika mereka kembali. Saat mereka tak menyadari jika tak mau insyaf saat ini, suatu saat nanti pasti mereka akan insyaf juga, meski penyesalan saat itu akan menjadi tak berguna sama sekali. Hal ini berarti sebuah kabar gembira bagimu, bahwa uluran tanganmu untuk menyembuhkan bangsa ini masih berarti. Selemah apapun keadaanmu, saat engkau merasa hanyalah orang kecil yang tak berdaya, bukankah engkau yakin akan adanya Kuasa Tuhanmu?

Namun bagaimana engkau berharap Tuhan mengetuk hati sel-sel kanker bangsa untuk insyaf jika engkau sendiri tak mau mengambil keindahan pembelajarannya.

Kanker bangsa ini tak membuat amarahmu indah, bukankah tanganmu sendiri yang memilihnya dalam bilik-bilik suara hingga mereka bisa menempati jabatan tersebut.

Kanker bangsa ini tak membuat penyesalanmu indah, pemberian yang tak seberapa dari mereka kau rasakan teramat berarti, meluluhkan sumpah serapahmu pada para koruptor itu. Pemberian itu nilainya tak seberapa dibanding penghasilan yang kau dapatkan dari hasil jerih payahmu, apalagi dibandingkan dengan harga dirimu. Engkau tak lagi merasa aneh dengan kegembiraanmu saat menerima pemberian itu, padahal engkau tahu, semua yang mereka berikan kepadamu tak sebanding dengan hak-hakmu yang dirampas oleh mereka.

Saat-saat para koruptor itu melakukan pencitraan dan tebar pesona, engkau menyembutnya dengan gempita, menengadahkan tanganmu, merengek-rengek dan mengharap pemberiannya. Engkau puji mereka sebagai dermawan, peduli pada rakyat. Saat-saat orang yang memiliki integritas, yang lebih layak memimpin bangsa ini engkau acuhkan begitu saja.

Kanker ini tak membuat kepedulianmu indah, engkau inginkan bangsa ini terbebas dari cengkeraman para koruptor itu, namun engkau duduk-duduk saja di rumahmu, sibuk dengan urusanmu sendiri, kepentinganmu dan pekerjaanmu. Apakah engkau berandai-andai malaikat penyelamat begitu saja turun dari langit, memperbaiki bangsa ini, dan engkau cukup diam menunggu?

Apakah engkau merasa langkahmu dalam ketidakberdayaan ini sia-sia? Engkau merasa tak ada gunanya melawan sel-sel ganas itu? Lantas engkau enggan berpayah-payah menghadapinya, malah membiarkan dirimu menjadi bagian darinya, engkau menjadi kanker bangsa juga. Bukankah besarnya nilai kepahlawanan sebanding dengan kesulitan yang mesti dipecahkan?

Saat-saat mereka yang berjuang melawan kanker bangsa itu terbelit oleh sel-sel ganas itu, berubah haluan menjadi kanker bangsa juga, mengapa engkau sama sekali tak merasa kehilangan, tanpa berupaya menyelamatkan mereka, engkau biarkan kanker-kanker bangsa itu bersorak menikmati kemenangannya?

Saat-saat mereka yang berhadapan dengan belitan ganasnya sel-sel kanker bangsa itu kelimpungan, berhadapan dengan hukum, kekuasaan dan media yang telah dikuasai para koruptor itu, tertimpa berbagai fitnah, hingga menjadi pesakitan, kemudian para koruptor itu tertawa terbahak-bahak, engkau pun ikut tertawa terbahak-bahak. Ketika para koruptor itu kegirangan, engkau pun ikut kegirangan. Ketika para koruptor itu mencemooh mereka, engkau pun ikut mencemooh mereka.

Di antara ketidakberdayaanmu, masih ada yang bisa engkau lakukan, dari yang engkau mampu, mulai dari dirimu, agar engkau dicatat di sisi Tuhan sebagai orang yang telah berusaha, agar engkau tidak merasa kecilnya pengorbananmu sia-sia saja. Jika engkau tak mau mati bersama kanker ini maukah untuk sekedar mengatakan tidak pada pencitraan, tebar pesona dan money politik.