Tampilkan postingan dengan label Rahmatan lil Alamin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rahmatan lil Alamin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Mei 2015

Islam Nusantara di Ujung Tanduk?

Apakah kita masih berpikiran bahwa eksistensi Islam sebagai agama mayoritas di kawasan Asia Tenggara ini tidak akan berakhir, apalagi dalam waktu dekat? Secara kuantitas ada indikasi ke arah degradasi, secara kualitas pun juga bisa dikatakan demikian. Meski mayoritas, dari sisi politik, ekonomi dan berbagai bidang kehidupan, umat Islam menempati posisi marjinal. Mungkinkah Asia Tenggara akan menjadi Andalusia kedua, de-islamisasi dan kemusnahan tak lagi terjadi dalam proses yang pelan-pelan, tetapi ada momen pamungkas bahwa ia kemudian berlangsung drastis dan singkat?

Meneropong kemungkinan dari akhir entitas Islam di Asia Tenggara, baiklah kita mereview proses Islamisasi di kawasan ini. Ada sebuah artikel yang beredar di dunia maya beberapa waktu lalu terkait masalah ini, ‘Bertemu Walisongo di Candi Prambanan dan Borobudur’. Sebenarnya Prambanan dan Borobudur adalah peradaban yang telah musnah 5 abad sebelum keberadaan Walisongo. Dari sisi ini memang tulisan tersebut bisa dikatakan parsial dan subyektif. Dari sisi konten juga bisa dikatakan demikian, hanya memandang keberhasilan proses Islamisasi dari sisi pendekatan dakwah yang bijak.

Akan tetapi ada sisi yang menarik dan urgen dari substansi tulisan tersebut, yaitu keberhasilan Islamisasi dalam waktu singkat setelah berabad-abad sebelumnya Islam tidak bisa diterima di kawasan ini. Selama 8 abad sebelumnya Islam sudah hadir tetapi tidak diterima, hanya dianut segelintir orang asing, terutama pendatang dari Timur Tengah dan Tiongkok, hampir-hampir penduduk pribumi tidak ada yang memeluk agama ini, padahal saat itu Islam adalah kekuatan Super Power yang sedang menguasai belahan dunia lain. Tetapi kemudian hanya kurang dari 50 tahun Islam telah menjadi mayoritas yang mengakar.

Sebagaimana penyebaran Islam di berbagai belahan dunia lain, kita tidak mengatakan selama 8 abad tersebut Islam tidak didakwahkan secara bijak. Artinya, pendekatan dakwah yang bijak bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan Islamisasi di kawasan Asia Tenggara ini. Pendekatan dakwah yang bijak dan akulturatif adalah bagian dari suatu bahasan yang sangat luas tentang keberhasilan Islamisasi di kawasan ini.

Di luar faktor esoteris, pendekatan yang bijak dan akulturatif, kita juga perlu melihat dari sisi eksoteris, berubahnya iklim politik di kawasan ini yang menyebabkan terbentuknya kondisi yang kondusif bagi proses Islamisasi, pudarnya hegemoni kekuasaan yang menopang eksistensi agama sebelumnya, Hindu dan Budha. Adanya momen runtuhnya pamor politik Kerajaan Majapahit yang sebelumnya mendominasi kawasan.

Di satu sisi, ada sebuah argumentasi bahwa proses Islamisasi berlangsung secara damai dan tanpa konflik. Tetapi di sisi lain ada yang menggugat kesucian proses Islamisasi di kawasan ini, bahwa Islamisasi berlangsung dalan proses yang berdarah-darah dan penuh pengkhianatan. Baiklah kita menempatkan sikap realistis dan obyektifitas, menempatkan sisi esoteris dan eksoteris secara proporsional, tanpa menafikkan gesekan yang terjadi maupun fakta empiris pada peralihan serentak yang tidak mungkin berlangsung kecuali dilakukan secara damai.

Walisongo dalam Konteks Kekinian

De-islamisasi dilihat dalam perspektif Islamisasi di Asia Tenggara, sebuah pertanyaan apakah entitas Islam di kawasan ini akan berakhir sebagaimana ia bermula, dan bagaimana prosesnya. Serta dapatkah proses itu dicegah, dan apa yang harus dilakukan oleh muslim di kawasan ini untuk terus mempertahankan eksistensinya. Mempertahankan kebesaran sebuah peradaban seringkali lebih sulit dari menaklukkan peradaban besar.

Di antara berbagai kepentingan yang beragam, sebagaimana Hindu, Budha dan Islam, yang pernah dan atau sedang eksis di kawasan ini, akan melahirkan sudut pandang dalam perspektif masing-masing. Misalnya apakah agama yang datang belakangan, seperti agama Nasrani yang telah berabad-abad berusaha masuk di kawasan ini, bahkan ditopang kekuasaan kolonialis yang yang sangat dominan, ditopang gerakan misionaris yang profesional, serta didukung kondisi global dan regional, tetapi sejauh ini agama Nasrani tetap merupakan minoritas yang hnya dianut sebagian kecil penduduk kawasan ini, dapatkah ia menciptakan suatu kondisi yang bisa membuat Nasrani menjadi mayoritas dalam waktu singkat? Atau apakah ada kemungkinan agama Hindu dan Budha dapat kembali menjadi mainstream di kawasan ini?

Atau dari dinamika internal umat Islam sendiri, apakah paham seperti Syiah yang selama berabad-abad tidak bisa menjadi mainstream, akan bisa mengambil alih posisi Suni di kawasan ini dalam waktu singkat? Atau apakah dominasi paham keagamaan seperti NU di kawasan ini akan diambil alih oleh paham keagamaan yang selama ini hanya menjadi minoritas, di mana yang kini hanya dianut segelintir orang yang tidak mengakar kemudian keadaan bisa berbalik?

Zaman telah dan terus akan berubah, bahkan seringkali berlangsung begitu cepat tanpa terprediksi. Benturan dan persaingan berbagai ideologi dan pemikiran terus berlangsung, apalagi dalam era globalisasi. Tidak ada tempat yang aman bagi entitas atau peradaban apapun untuk beristirahat dan terhindar dari marabahaya, termasuk bagi entitas Islam di Asia Tenggara ini.

Sebuah pertanyaan kunci bagi suatu ideologi dan peradaban yang ingin menaklukkan kawasan ini, bagaimana mengulang sejarah, menciptakan suatu kondisi kondusif yang memungkinkannya menguasai kawasan, melalui upaya sistematis dan terukur dalam berbagai bidang, terutama secara politik yang seringkali strategis menjadi penentu kejatuhan dan kejayaan suatu ideologi dan peradaban. Upaya apa yang harus ditempuh untuk menyiapkan kondisi tersebut agar bisa terwujud?

Kejayaan, kejatuhan dan ajal suatu peradaban sudah merupakan sunatullah, ia terus dipergilirkan. Tetapi terlepas dari semua itu, ia bukan hanya proses alamiah belaka, ada arsitek-arsitek brilian yang menyuplai ide, merencanakan, mendisain dan mengendalikan aksi secara sistematis untuk menghancurkan suatu peradaban dan membangun peradaban baru.

Islamisasi, De-islamisasi Asia Tenggara, suatu Kesamaan Indikasi

Asia Tenggara dilihat dari sisi geopolitik memang memiliki keunikan. Pengaruh hegemoni kejayaan Islam yang menjadi kekuatan super power dunia sejak masa Umayah maupun Abasiyah tidak bisa menembus kawasan ini. Islam eksis di kawasan ini justru pada masa-masa menjelang akhir kejayaan dunia Islam, saat dimulainya kolonialisme Barat. Ketika Islam di berbagai kawasan lain memudar, Islam di kawasan ini justru baru bisa eksis.

Islam tumbuh di bawah kejaran bayang-bayang kolonialisme. Islam yang baru saja tumbuh, sudah harus berhadapan dengan kolonialisme Barat yang hadir ke kawasan ini. Akan tetapi, kolonialisme yang mencengkeram secara kukuh dan memberikan tekanan hebat dalam rentang masa yang lama, tidak menggoyahkan keberadaan Islam yang terus berproses mengakar, ini menjadi keunikan dari karakter Islam di kawasan ini.

Kemerdekaan Indonesia, meski bisa dikatakan sebuah kemerdekaan yang belum sempurna, terutama baru pada sebagian aspek-aspek fisik, tentunya menghadirkan sebuah fase yang berbeda bagi eksistensi Islam di kawasan ini. Pasca kemerdekaan, ada indikasi eksistensi Islam di negeri ini terus menurun, dari sisi yang jelas bisa diukur seperti prosentase pemeluknya dan pertumbuhan tempat ibadah, maupun dari sisi kualitatif. Di negara ini, umat Islam yang secara kuantitas merupakan mayoritas semakin menempati posisi marjinal dalam berbagai bidang, baik politik, birokrasi, ekonomi dan sebagainya. Jika eksistensi Islam tak tergoyahkan oleh cengkeraman kolonialisme, ia terus bisa mengobarkan perlawanan, apakah eksistensi Islam justru akan runtuh pasca kemerdekaan ini?

Berbagai indikasi memang membutuhkan kewaspadaan segenap umat Islam di negeri ini. Memperhatikan suasana menjelang Islamisasi pada era Walisongo, ada beberapa indikasi yang bisa menjadi warning bahwa kita saat ini sedang menjelang sebuah proses de-islamisasi serupa.

Pada masa tersebut, meskipun pemeluk agama Islam sangat sedikit, tetapi ia merupakan minoritas kreatif. Pemeluk Islam adalah identik dengan elit dan mindset superior. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akses internasional. Secara ekonomi mereka adalah tuan dan majikan, dan secara spirit intelektual juga demikian. Islam adalah sebuah kekuatan baru yang segar, antitesis dari Majapahit yang tua, letih dan jenuh, terbelit berbagai kepentingan dan persoalan. Dan kondisi Indonesia saat ini bagi umat Islam bisa dikatakan sebaliknya, terkepung berbagai persoalan dan kepentingan, mengarah de-islamisasi?

Peradaban Emas Hijau, Konsekwensi dan Tantangan Krusial

Posisi geografis Asia Tenggara sedang berada pada titik kritis menghadapi masa-masa krusial. Dunia kita sedang berada pada era menghabiskan energi fosil yang tak terbarukan, peradaban emas hitam. Dunia sedang berpikir sumber energi alternatif pasca habisnya persediaan energi fosil. Alternatif yang saat ini dipandang realistis adalah sumber energi nabati yang terbarukan.

Asia Tenggara dengan sumber daya iklimnya, iklim tropis yang menghasilkan energi nabati, tentunya sangat menarik minat peradaban-peradaban lain untuk memperebutkan dan menguasainya. Mau tidak mau, kawasan ini seperti berada pada ujung tanduk, harus menghadapi benturan dahsyat di antara kompetisi berbagai peradaban dunia. Sekaligus adanya resiko harus menghadapi nafsu angkara kekuasaan yang berupaya mencengkeram dan menguasai dunia, brada pada pertarungan hidup dan mati.

Kolonialisme dengan nafsu angkaranya telah dan sedang mengeksploitasi dunia, termasuk negeri kita ini. Islam pernah menjaga negeri ini menghadapi para penjajah yang bernafsu menaklukkan dan mengeksploitasinya. Dan mungkin karena spirit perlawanan inilah Islam justru eksis di negeri ini. Islam adalah simbol menghadapi penjajah dan dan kedzaliman yang menindas bangsa ini. Islam mengakar bersama perlawanan dan penderitaan bangsa ini melawan penjajah.

Kolonialisme kemudian datang dalam bentuk yang baru, penjajahan non-fisik pada era ghazwul fikri. Penjajahan fisik resisten membangkitkan perlawanan, sedang penjajahan non-fisik justru sebaliknya, meninabobokan dan melenakan.

Islam datang ke berbagai negeri dan relatif tanpa mendapat predikat sebagai penjajah sebagaimana kolonialisme bangsa Eropa. Islam sempat hadir di Andalusia bukan mengeksploitasi, tetapi membebaskannya dan membangun sebuah kemajuan peradaban. Termasuk Islam datang ke negeri ini tanpa kita merasa terjajah oleh Islam atau Arab. Kita pernah menjadi bagian dari Turki Utsmani tanpa kita merasa terjajah dan tereksploitasi.

Kita bangga dengan keberadaan Laksamana Cheng Ho yang menjelajah dunia dengan spirit persahabatan, bukan spirit menjajah. Kita bersyukur, Islam datang ke Benua Amerika bukan memusnahkan bangsanya tetapi mentransfer dakwah dan ilmu pengetahuan. Islam datang ke Benua Afrika untuk mencerahkannya dengan dakwah bukan memperbudaknya.

Islam memiliki spirit berbagi dan menebar rahmat bukan menaklukkan, spirit mentransfer ilmu pengetahuan, persaudaraan dan dakwah bukan mengeksploitasi. Dalam konteks menghadapi neo-kolonialisme, tugas tersebut dipikulkan di pundak umat ini. Agar umat Islam tetap memiliki spirit perjuangan dengan sebenarnya, sehingga eksistensi Islam ini tetap hidup. Dan jika umat ini memiliki mental inlander, memiliki mindset inferior, bukan tidak mungkin entitas Islam ini akan berakhir, tragis!

http://www.dakwatuna.com/2015/05/09/68380/islam-nusantara-di-ujung-tanduk/

Senin, 20 April 2015

PKS ataupun PDIP, Sebenarnya Kita Tuh Bersaudara!

“Jenuh mungkin, menjalani hari-hari di antara kita dalam perseteruan tiada ujung. Dalam pertemuan di dunia imajinasi ini, baiklah kita sejenak saja untuk menjadi sahabat, saudaraku.”

“Aku pun merasakan hal serupa, seolah-olah di antara kita selama ini, satu sama lain hanya ingin saling menjatuhkan dan menjalin permusuhan. Aku tak menyangka kita akan bertemu dalam dunia lain yang berbeda dengan apa yang biasa kita jalani.”

“Hari-hari yang kita jalani, disibukkan dengan saling menghina, mencaci dan mencari-cari aib di antara kita. Begitu mudahnya kita mengedepankan prasangka negatif. Aku sendiri disibukkan dengan semua itu, bahkan menikmatinya, tanpa terpikir untuk melakukan hal yang lebih berfaedah.”

“Aku juga demikian sahabatku. Bahkan tak hanya itu, aku ngebom basis-basis masamu. Di setiap tempat di mana ada calegmu, aku garap habis-habisan. Aku seenaknya merusak bendera dan atribut yang baru saja engkau pasang. Seringkali aku juga mengeroyokmu dalam duel maut pilkada. Aku sangat puas memblow-up kasus korupsi yang membelitmu, bahkan sampai aku lupa siapa yang lebih korup di antara kita.”

“Status dan komen-komen yang aku tulis, dipenuhi dengan olok-olok dan bully-membully. Setiap ada informasi buruk tentangmu, tanpa pikir panjang aku tergesa-gesa menyebarkannya. Aku sangat bersemangat men-share dan menyebarluaskan kejelekanmu. Tanpa beban, begitu mudahnya aku mengeluarkan komen-komen negatif. Aku merasa semua yang kulakukan itu adalah upaya membela kebenaran, semua itu adalah amal shalih, bagian dari dakwah yang suci dan mulia ini.”

“Padahal semua olok-olokmu terhadapku tidak membuat aku menjadi baik. Jangan berharap olok-olokmu membuat aku insyaf. Setajam apapun lisanmu mengulitiku habis-habisan, justru semakin membuat aku antipati terhadapmu. Juga membuat aku semakin membenci dan menjauh dari dakwah yang kau bawa. Bukan saja aku membuat-buat fitnah dan berbagai stigma negatif tentangmu, tetapi perilakumu juga ikut menjustifikasinya.”

“Maafkan aku saudaraku, sampai-sampai aku hampir terlupa tentang luasnya hakikat dakwah ini, tentang kesabaran, dan tentang kelembutannya. Seharusnya bukan hanya membalas keburukan dengan keburukan, membalas umpatan dengan cacian. Ia membutuhkan kebesaran jiwa, kelapangan hati, sikap yang penuh hikmah, serta sikap bijak menghadapi hal-hal yang menyakitkan sekalipun. Ada saatnya kekerasan ditaklukkan dengan kelembutan, dan sepahit apapun yang menghadang semestinya dihadapi dengan cara yang terbaik dan santun. Ucapan jahil hendaknya berbalas dengan kata-kata yang mengandung keselamatan. Akan tetapi semua itu bagiku sendiri tak semudah yang kukatakan.”

“Engkau tidak menolongku, tidak menyelamatkanku, bahkan seruanmu menjadikan aku kian jauh. Permusuhan di antara kita, bukan saja membuat aku kian jauh dan antipati terhadapmu, tetapi juga kian mendekatkanku pada kalangan sekuleris, liberalis, serta justru malah menarikku lebih dekat kepada aliran-aliran sempalan yang kau anggap sesat itu. Bukankah ini kontraproduktif dengan dakwah yang kau usung? Apakah engkau ingin membuatku semakin terjerumus dengan dakwahmu? Bagaimana engkau mengaku sebagai pembawa rahmat bagi segenap alam?”

“Begitulah saudaraku, memang ada pihak lain yang menghendaki permusuhan di antara kita, menanam dendam di antara kita, menyetting kita dalam situasi tidak bersahabat, dalam suasana hubungan yang panas, menjadi dua front yang berhadap-hadapan, dan kita sama-sama terjebak di dalamnya. Ada-ada saja informasi buruk tentangmu, padahal sebenarnya ia bersumber dari website tidak resmi, yang di belakangnya ada tangan-tangan tak tampak, dengan membawa kepentingan mereka. Mereka memanfaatkan permusuhan di antara kita, mengadu domba kita, agar kita berpecah belah dan lemah, kemudian mereka memanfaatkannya untuk memuluskan agenda-agenda mereka, mengukuhkan kekuasaan dan tiran atas dunia ini. Dakwah yang tulus dan santun bertransformasi menjadi bully-membully.”

“Sikap abaiku terhadap dakwah ini, memang dimanfaatkan betul oleh mereka. Tetapi keteguhan dan komitmenmu terhadap dakwah ini, toh sama juga ditunggangi mereka, menjadi bumerang dan blunder bagi dakwah itu sendiri, dan kau tidak menyadari itu. Hingga makin hari dakwah ini makin terseok-seok dan kian terpojok.”

“Beginilah saudaraku, fitnah akhir zaman ini, bukan saja kedewasaan dan kewaspadaanku tak memadai, tetapi fitnah ini demikian pelik dan penuh tipu daya. Pandanganku tak seluas aral yang kuhadapi, cara berpikirku tak sepanjang tantangan yang menghadang. Aku sebenarnya hanyalah hamba-hamba yang lemah, berbuat sebatas kekurangan dan keterbatasanku.”

“Dan akibatnya para tiran dunia itu sekarang sedang berpesta pora, mereka sedang tertawa terbahak-bahak, puas dengan keberhasilannya, membuat kita sibuk berseteru satu sama lain. Padahal sebenarnya bukan engkau yang semestinya menjadi musuhku, saudaraku. Seharusnya aku menyadari, musuh kita yang sebenarnya adalah para tiran-tiran itu, mereka memperdaya kita, mempermainkan, memecundangi dan menipu kita mentah-mentah, dunia ini terseok-seok dan terinjak-injak dalam cengkeraman kekuasaan mereka.”

“Tak sepenuhnya benar saudaraku, siapapun mereka, atheis, zionis, atau kolonialisme global sekalipun, mereka adalah sama-sama anak cucu dari bapak moyang kita Adam. Menjadi tugas kita untuk mengentaskan mereka dari kezhaliman yang mereka perbuat, serta membebaskan mereka dari Iblis, musuh kita yang sebenar-benarnya.”

“Benar saudaraku, Tak semestinya kita bergembira dengan musibah yang menimpa di antara kita, tak sepantasnya kita menari-nari di atas penderitaan orang lain. Selayaknya kita menolong mereka, bukan membiarkan mereka terjerumus.”

“Seharusnya kita bukan hanya menolong mereka yang terzhalimi, tetapi juga menolong mereka yang berbuat zhalim, mengentaskan mereka dari kezhalimannya. Sepahit apapun kezhaliman yang dihadapi sebenarnya adalah makin luasnya ladang amal yang terbentang. Kesabaran menjadi lebih bernilai karenanya. Kalau hanya olokan dan cacian, sebenarnya ia tak seberapa, bukankah orang yang mengolok-olok belum tentu lebih baik dari yang diolok-olok?”

“Baiklah, selepas pertemuan ini kita bisa menjadi sahabat di dunia yang sebenarnya saudaraku?”

“Belum saudaraku. Kita masih harus terombang-ambing dalam cengkeraman tipu daya dunia. Ia tidak akan membiarkan kita lepas begitu saja. Jalan untuk membebaskan diri kita darinya mungkin masih panjang, masih harus menempuh perjuangan yang melelahkan. Artinya, kita masih akan saling bermusuhan satu sama lain, kita masih akan saling berseteru. Dan para tiran itu terus saja kukuh mencengkeramkan kekuasaannya atas dunia.”

“Sebelum zaman edan ini sirna, orang khianat masih akan dimuliakan, orang amanah masih akan dihinakan, kita masih dikuasai keserakahan dan kesombongan, dunia ini penuh dengan ketimpangan dan ketidakadilan, dan aku menjadi bagian darinya.”

“Menjalani pusaran fitnah zaman akhir, kedustaannya, kebenaran tampak sebagai kebatilan, dan sebaliknya, kebatilan menjadi pujaan. Keadilan sebatas kerinduan, fitnah-fitnah masih akan terus menimpa.”

“Terkadang aku cukup puas mendapatkan duri dan tulang yang tak seberapa dari fitnah dunia ini. Sementara perbendaharaan dunia yang sebenarnya tak seberapa kunikmati.”

“Aku juga cukup gembira menikmati sedikit umpan, sementara aku sebenarnya kehilangan jauh lebih besar dari yang aku dapatkan.”

“Menikmati sedikit upah yang aku dapatkan, tak sebanding dengan sakit yang aku rasakan saat para tiran dunia itu membutuhkan tumbal bagi kekuasaan mereka, saat aku dijadikan kambing hitam yang dikorbankan, aku bisa dicampakkan begitu saja.”

“Seringkali kita hanyalah orang kecil yang diperalat oleh tipu daya dunia, kita tak berdaya menghadapi semua belitan fitnah itu. Kita hanya bisa berbuat sebatas kemampuan kita. Bukankah kita punya Tuhan Yang Maha Kuasa, yang berjanji akan membuka pintu pertolongan-Nya. Pada suatu saat nanti pintu terbuka, terwujud kedamaian yang sebenarnya.”

“Namun sayang sekali, sebelum semua itu terwujud, aku masih akan terus menzhalimimu, menimpakan ketimpangan dan ketidakadilan atasmu, selagi aku mampu melakukannya.”

“Aku juga masih akan terus mengolok-olokmu, mencacimu, dan menghina keburukan yang kau perbuat, selama aku bisa melakukannya. Dengan itu aku mengobati sedikit rasa sakit akibat kedzaliman yang kau timpakan.”

http://www.dakwatuna.com/2015/04/21/67560/pks-ataupun-pdip-sebenarnya-kita-tuh-bersaudara/

Jumat, 24 Oktober 2014

Etnis Cina, Pribumi, Sebuah Balada Superioritas dan Inferioritas


Kemuliaan seorang manusia tidak ditentukan oleh etnis dan bangsanya tapi oleh ketakwaanya. Setiap manusia dinilai bukan oleh asal-usul keturunannya tapi oleh amal perbuatannya. Al-Quran mengajarkan kita agar di antara beragam suku dan bangsa mengembangkan sikap saling bertaaruf (kenal mengenal).

Kita tak pernah meminta dilahirkan dari suatu etnis tertentu. Kebaikan dan kedurhakaan, ia bisa terlahir dari siapapun. Dari keluarga terdekat Firaun sekalipun, bisa terlahir suatu kebajikan yang luar biasa. Sebaliknya, dari keluarga terdekat seorang nabi sekalipun, bisa terlahir sebuah kedurhakaan yang besar.

Tetapi ada sebuah realitas yang sedang kita hadapi, dirasakan dari sebuah potret ketimpangan, salah satu pihak identik dengan superioritas, sedang pihak lain identik dengan inferioritas, untuk tidak terburu-buru mengidentikkan dengan dominasi dan marjinalisasi.

Dari sebuah realitas, segelintir kalangan tertentu menikmati sebagian besar kekayaan negeri, sedang sebagian besar dari penduduknya berada dalam kesulitan hidup. Mereka bersusah payah bekerja membanting tulang, di antara kesuburan dan kekayaan negeri, tetapi hasilnya seperti tak sepadan dengan jerih payahnya. Menyandang status sebagai pribumi, tetapi menerima kenyataan terus terdesak di kampung halamannya sendiri.

Potret kecil dari rahasia pintu rezeki anak manusia yang melakukan hijrah, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah, mereka dijanjikan akan mendapat apa yang diniatkannya, baik untuk tujuan-tujuan duniawi maupun untuk tujuan agama.

Seringkali para pendatang di perantauannya lebih sukses dalam menjalankan usahanya, mereka mampu mengungguli penduduk aslinya. Dalam suasana di perantauan, berhadapan dengan tantangan dan kesulitannya, biasanya mereka lebih memiliki spirit, motivasi hidup dan profesionalitas, bertekun menjalani hidup dalam keprihatinan. Berkebalikan dengan penduduk asli yang merasa nyaman hidup di tanah kelahirannya sendiri, dan cenderung berakibat memiliki mental santai.

Introspeksi ke dalam, menjadi hal pertama dan bijak bagi pribumi. Mengoreksi kekurangan diri, tentang kurangnya semangat, etos kerja dan keuletan. Kelemahan dari sisi menjalankan manajemen dan strategi bisnisnya. Hal tersebut menjadi faktor penghambat kemajuan kemajuan dari dalam.

Di luar itu, ada faktor eksternal yang tak bisa dipungkiri, ada upaya untuk mengkondisikan pribumi agar berada dalam keadaan inferior. Di samping kelemahan dari dalam, mereka harus menghadapi kompetisi yang tidak fair, ketidakadilan sistematis dan pelemahan terstruktur dari suatu kekuatan luar.

Sehingga bukannya tanpa masalah, kesuksesan kaum pendatang sering berimplikasi pada tingginya risiko, kecemburuan yang timbul, bahkan bisa terakumulasi pada kemarahan sosial, apalagi bila disertai sentimen SARA dan politik. Sekalipun kesuksesan tersebut dicapai dengan cara fair, tetap ada potensi beban sosial, apalagi bila ada unsur kompetisi tidak sehat di dalamnya. Di antara ketimpangan yang terjadi, ada hal yang perlu dimengerti, penduduk asli yang memiliki perasaan bahwa mereka lebih dahulu mendiami tempat tersebut.

Di antara dua pilihan untuk membayar beban sosial tersebut, antara meredamnya dengan bersikap yang baik terhadap penduduk asli, menumbuhkan jiwa sosial yang tinggi dan mengulurkan kepedulian. Atau jika tidak, meredamnya dengan mengedepankan angkara dan keserakahan, mengukuhkan dominasi melalui cengkeraman yang membuat pihak lemah dalam kondisi tak berdaya, pelemahan sistematis secara politik, struktur sosial dan berbagai aspek kehidupan lain.

Sebuah harapan di satu sisi, terjalin sebuah hubungan yang positif, pihak yang kuat menolong mereka yang lemah, saling bekerjasama untuk kebaikan bersama. Tetapi juga sebuah kekhawatiran di sisi lain, dikedepankannya nafsu dan angkara, suatu pihak berupaya mendominasi dan menihilkan pihak lain. Bukan hanya melemahkan secara fisik dan mental, bahkan dalam gambaran terburuk, sejarah panjang penaklukkan dan penjajahan bangsa-bangsa, sampai kepada kemungkinan terburuk, upaya yang mengarah pada pemusnahan bangsa lain sebagaimana yang dialami bangsa Indian, Aborigin dan Maori.

Di antara cinta dan kebencian, di antara persahabatan dan permusuhan, dunia ini mungkin bukan tempat meminta belas kasihan, ia lebih banyak memaksa untuk bersaing bahkan bertarung memperebutkan supremasinya.

Silih berganti berbagai bangsa hadir di nusantara ini, disambut dengan tangan terbuka, tetapi adakalanya berbalas lain, cengkeraman kolonialisme dan eksploitasi. Tumbuhnya nafsu serakah atas kekayaan dan kesuburan sebuah negeri. Suatu bangsa yang merasa tanah airnya terlalu sempit, terpikat dengan kesuburan dan kekayaan negeri lain, dan akhirnya berhasrat menguasainya. Setidaknya menjadi suatu kewaspadaan bagi masa depan bangsa ini, bahwa untuk bisa mempertahankan eksistensinya, menuntut suatu perjuangan dan pengorbanan, tidak bisa diniscayakan lagi.

Sebagai muslim kita patut bersyukur, Islam datang ke berbagai penjuru dunia tidak dengan spirit menjajah dan mengeksploitasi, tetapi dengan motivasi dakwah, transfer ilmu pengetahuan dan kemajuan peradaban. Islam datang ke Nusantara ini tanpa kita merasa terjajah oleh Islam. Bukan Islam yang memusnahkan bangsa Indian, Aborigin dan Maori. Bukan Islam yang melakukan perbudakan bangsa kulit hitam secara masif. Islam datang ke Andalusia bukan untuk dieksploitasi, tetapi membebaskannya dari ketidakadilan dan membawanya menjadi sebuah puncak kemajuan peradaban. Islam datang dengan spirit membawa rahmat, keselamatan, berbagi dan taawun (tolong-menolong), bukan menghisap dan merampas.

Di antara dunia yang mengedepankan spirit individualistik dan ego, Islam bisa menjadi sebuah jembatan bagi terwujudnya jalinan kasih sayang dan perdamaian. Keimanan yang sebenarnya, menumbuhkan sebuah orientasi bahwa superioritas bukan didapatkan dengan merampas dan menaklukkan, tetapi dengan memberi dan berbagi.

Namun ada sebuah konsekwensi, Islam menjadi penghalang terbesar tegaknya kebatilan, sehingga Islam harus melewati berbagai stigma buruk di antara pertarungan kebenaran dan kebatilan tersebut, dan ini menjadi ujian bagi kita dalam membawakan Islam pada percaturan dunia.

Realitas di negeri ini, termasuk Islam telah menjadi jembatan antara etnis cina dan pribumi, menjadi sebuah asimilasi yang sebenarnya, tanpa menyisakan sekat. Ia meluruhkan angkara, sekaligus menepis prasangka. Namun sayang, jembatan yang telah terhubung tersebut masih terlalu kecil untuk dua entitas yang teramat besar.

Dengan Islam, kecemburuan akan dunia diredam dengan keyakinan akan akhirat. Bahwasanya kejayaan dan kesenangan duniawi tak ada artinya dibandingkan dengan kebajikan dan amal shalih untuk akhirat (Al Baqarah: 212, Ali Imran: 14-15, Al Kahfi: 45-46). Tetapi kesempurnaan Islam juga menempatkan dunia sebagai sawah ladang akhirat, kekuatan dunia adalah sarana untuk menegakkan keadilan dan membebaskan orang-orang lemah dari kesewenang-wenangan. bahwasanya kemiskinan akan mendekatkan kepada kekufuran. Sebuah motivasi agar umat ini tidak menjadi lemah, tetapi menjadi kekuatan yang sinergis dengan tugasnya sebagai khalifah, tugas untuk memakmurkan dunia.

Bukan untuk mengharap belas kasih, tetapi untuk menghadapi tantangannya. Memang Tuhan memberikan kerajaan kepada yang Dia kehendaki dan mencabut kerajaan dari orang yang Dia kehendaki. Memuliakan orang yang Dia kehendaki dan menghinakan orang yang Dia kehendaki. Dan Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan. Tetapi Allah telah telah menegaskan bahwasanya Dia tidak mengubah nasib suatu kaum sampai kaum tersebut mengubah nasibnya sendiri.
 


Senin, 29 September 2014

Mereka Mengambil Agama Kita di Saat Kita Meninggalkannya

Kisah berikut saya dapatkan dari Facebook Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia.  Sebuah contoh kecil, tapi seharusnya bisa lebih jauh lagi menggugah kesadaran dalam kita sebagai seorang muslim, kepekaan kita, dan mengevaluasi kekurangan kita dalam mengamalkan agama ini.

***

Jerman adalah sebuah negara industri terkemuka. Di negara seperti ini, banyak orang yang mengira warganya hidup berfoya-foya.

Ketika saya tiba di Hamburg, saya bersama rekan-rekan masuk ke restoran. Kami melihat banyak meja kosong. Ada satu meja di mana sepasang anak muda sedang makan. Hanya ada dua piring makanan dan dua kaleng minuman di meja mereka.

Saya bertanya dalam hati, apakah hidangan yang begitu simple itu dapat disebut romantis, dan apakah si gadis akan meninggalkan si pemuda kikir tersebut?

Kemudian ada lagi beberapa wanita tua di meja lainnya. Ketika makanan dihidangkan, pelayan membagi makanan tersebut dan mereka menghabiskan tiap butir makanan yang ada di piring mereka.

Karena kami lapar, rekan kami pesan lebih banyak makanan. Saat selesai, tersisa kira-kira sepertiganya yang tidak dapat kami habiskan di meja. Begitu kami hendak meninggalkan restoran, wanita tua yang dari meja sebelah berbicara pada kami dalam bahasa Inggris, kami dan teman-teman paham bahwa mereka tidak senang kami memubazirkan makanan.

Lalu temanku berkata kepada wanita tua itu: "Kami yang bayar kok, bukan urusan kalian berapa banyak makanan yang tersisa."

Wanita-wanita itu meradang. Salah satunya segera mengeluarkan HP dan menelpon seseorang. Sebentar kemudian seorang lelaki berseragam Sekuritas Sosial pun tiba. Setelah mendengar tentang sumber masalah pertengkaran, ia menerbitkan surat denda Euro 50 (kira-kira 750.000 Rupiah) kepada  kami.

Kami semua terrdiam...

Petugas berseragam tersebut berkata dengan suara yang galak: “Pesan hanya yang sanggup anda makan, uang itu milikmu tapi sumber daya alam ini milik bersama. Ada banyak orang lain di dunia yang kekurangan. Kalian tidak punya alasan untuk mensia-siakan sumber daya alam tersebut.”

Pola pikir dari masyarakat di negara makmur tersebut membuat kami semua malu, sungguh kami harus merenungkan hal ini. Kita ini dari negara yang tidak begitu makmur. Untuk gengsi, kita sering memesan banyak dan sering berlebihan saat menjamu orang.

Pelajaran ini mengajari kita untuk serius mengubah kebiasaan buruk kita.

“Money is yours but resources belong to the society.”

Jadi kawan-kawan, mari mulai mengurangi pemubaziran karena, “Uang memang milikmu, tapi sumber daya alam itu milik bersama.”

Orang non-muslim maju karena meninggalkan agamanya, mengambil norma Islam. Kaum muslimin mundur karena meninggalkan agamanya.

***

Sering kita menjumpai buah-buah kebaikan dalam kehidupan, tentang empati, kepedulian pada sesama dan alam sekitar, tentang kedisiplinan, keteraturan, etos kerja dan semangat hidup, juga tentang kejujuran, tanggung jawab dan amanah, justru terdapat pada mereka yang belum mengenal Islam.

Buah-buah kebaikan yang semestinya kita sebagai umat Islam lebih dulu melaksanakannya, antara keyakinan kita akan kesempurnaan Islam, ketinggian dan kemuliaannya dengan realitas bahwa kita belum mampu mengaplikasikannya secara sempurna dalam kehidupan.

Dengan Islam, dengan kesadaran akan muraqabah dan hari pembalasan, semestinya kita lebih dahulu memiliki kesadaran untuk melakukan hal-hal semacam itu. Kesadaran menjauhi sikap mubazir, menebar kemanfaatan bagi kehidupan, seperti pada perilaku tidak membuang sampah sembarangan, memiliki mental hemat energi, menjaga sungai-sungai di sekitar kita, menjauhi contek-menyontek, atau menghormati hak-hak orang lain, tetapi realitasnya berbeda.

Antara kesempurnaan Islam dan ketidaksempurnaan kita, seringkali ritual yang kita jalani belum membekas ke dalam perilaku kita sehari-hari, keshalihan kita secara ritual belum berdampak pada kesadaran sosial kita, semestinya harus membuat kita mau berbenah. Mengapa dengan Islam perilaku kita yang tidak baik belum terkikis, seperti kita belum menjadi orang yang jujur, memiliki kepedulian dan kepekaan.

Seharusnya menjadi harapan, jika Islam kita menjadi sebagaimana Islamnya Rasulullah dan para sahabat, berubah secara drastis dari kejahiliyahan menjadi manusia-manusia beradab, menjadi pribadi-pribadi yang menakjubkan. Islam menjadi keyakinan yang membekas, kekuatan dahsyat yang menumbuhkan motivasi, menemukan kesadaran baru, memberi corak yang khas, sehingga benar-benar terwujud menjadi umat terbaik.

Bagi kita, setidak-tidaknya berupaya menumbuhkan kepahaman tentang agama ini secara menyeluruh, hal-hal kecilnya yang sepele sampai perkara-perkara yang besar bagi kehidupan. mengikis sedikit demi sedikit kekurangan yang dimiliki, memperbaiki secara berangsur-angsur dari aspek-aspek yang semestinya kita mampu. Agar kita memiliki andil dalam menampilkan Islam ini dalam wajah yang sebaik-baiknya, mewujudkannya sebagai peradaban yang menakjubkan, dan Islam menyapa pada dunia dengan kebaikannya yang elok.

Sehingga bagi mereka yang belum mengenal Islam, menjumpainya dalam kesan yang luar biasa, menemukan hikmah dan kebaikannya sebagaimana menemukan mutiara kebenaran yang hakiki. Agar mereka menerima Islam, menyempurnakan kebaikan mereka baik aspek hablumminallah maupun aspek hablumminannas, menjadi kebaikan sempurna di dunia dan akhirat.


Minggu, 22 Juni 2014

Menjual Agama, Politisasi Kebhinekaan

Seringkali Islam diposisikan sebagai antitesis kebhinekaan. Namun faktanya, di berbagai belahan dunia banyak umat Islam kesulitan menjalankan ibadah yang menjadi keyakinannya, mendapatkan hambatan terkait jilbab, shalat, puasa, mengakses produk halal, dan sebagainya.

Pada banyak aspek, umat Islam terpaksa harus menerima kondisi sebagai minoritas, tahu diri untuk tak menuntut hak-haknya secara penuh. Tapi pada sisi lain umat Islam juga dituntut melepaskan hak-haknya sebagai mayoritas atas nama kebhinekaan.

Islam telah memelopori sejak awal sebuah konsep, ‘Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).’ Artinya seseorang menjadi muslim bukan karena suatu keotomatisan, tetapi karena kesadaran dan pilihannya. Ini menjadi jalan tengah untuk menempatkan absolutisme dan relatifisme dalam posisinya yang tepat. Keyakinan atas kebenaran Islam membuatnya siap untuk berkompetisi.

Bukan toleransi semu dan bukan konsep toleransi yang tanpa arah, dalam arti bukan pemaksaan sepenuhnya dan bukan pembiaran sepenuhnya. Agar terbangun sebuah proses yang edukatif, semua memiliki akses secara terbuka untuk menentukan sebuah pilihan, yang akan dipertanggungjawabkan masing-masing kepada Tuhan Sang Pencipta.

Seorang muslim meyakini Islam akan membawa kebaikan dan keselamatan, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Dari sini, seorang pemeluk agama yang baik semestinya memberikan kontribusi bagi agamanya, mewujudkan nilai-nilai agamanya dalam kehidupan. Namun di sisi lain, ada umat lain yang memiliki klaim kebenaran yang serupa, menurut keyakinan mereka, memposisikan muslim adalah domba-domba tersesat yang perlu diselamatkan. Atau dari sudut pandang atheisme, penganut berbagai agama dipersepsikan sama, sebagai komunitas yang tertipu suatu ilusi tentang Tuhan.

Keyakinan muslim bahwa Islam satu-satunya jalan menuju keselamatan, diikuti tanggungjawab untuk mengupayakan situasi yang kondusif untuk tumbuhnya agama ini, sekaligus tanggungjawab menawarkan Islam kepada mereka yang belum memeluknya. Sebaliknya juga berbuah konsekwensi jika umat lain berbuat serupa kepada kita. Idealnya kemudian terjadi kompetisi secara fair, bukan relasi yang saling curiga dan timpang.

Kenyataannya kemudian, konsep pluralisme lebih banyak menuntut,  ia hengkang ketika seorang muslim kesulitan mendapatkan hak-hak untuk menjalankan keyakinannya secara pribadi. Apalagi ketika seorang muslim menginginkan kondisi lingkungan yang kondusif untuk menjalankan keyakinannya, misalnya ingin mendapatkan perlindungan diri dari pornografi, konsep pluralisme tidak mampu memberi solusi atas nama kebebasan yang diusungnya.

Atas nama kebhinekaan, terus bergulir wacana penghapusan identitas agama di KTP, menghapus pendidikan agama di sekolah, menghapus regulasi-regulasi yang berkaitan dengan agama, wacana menjauhkan agama dari publik, wacana yang menempatkan agama sebagai hama bagi kehidupan masyarakat.

Sebenarnya untuk apa sebuah negara didirikan kalau bukan untuk memfasilitasi kepentingan rakyatnya. Lantas hanya karena terkait agama, negara harus absen pada banyak kepentingan publik pemeluk agama. Negara tidak boleh memfasilitasi regulasi zakat, ekonomi syariah dan jaminan produk halal, karena terkait suatu agama.

Dari argumentasi agar umat Islam melaksanakan ibadah karena Allah bukan karena Perda atau Bupati, muncul wacana melarang perda yang dianggap berbau syariat. Seorang muslim meyakini Islam membawa kebaikan bagi kehidupan, jika regulasi tentang miras, pornografi dan semacamnya harus di-cut hanya karena terkait agama tertentu, dampak buruknya seperti free sex, kriminalitas dan berbagai penyakit masyarakat, akan kembali kepada bangsa secara keseluruhan.

Mempertanyakan konsistensi para pengusung sekularisme dan depolitisasi agama, untuk tidak menjadikan agama sebagai alat politik untuk meraih dukungan, tidak memakai simbol-simbol agama atau memublikasikan keshalihan untuk mendapatkan suara dalam pemilihan.


Jumat, 02 Mei 2014

Saat Muslim Menjadi Rahmat, Perilaku Ramah Air

Islam membentuk umatnya untuk menjadi pribadi yang memiliki nilai lebih, memiliki semangat menebar kemanfaatan bagi lingkungan sekitarnya, memiliki motivasi untuk senantiasa berbuat baik dan berupaya mengadakan perbaikan.

Nilai-nilai Islam melingkupi semua aspek kehidupan secara utuh, membentuk umatnya menjadi pribadi yang ideal. Termasuk mengatur hal-hal kecil yang sepertinya sederhana, tak terpikirkan oleh menusia kebanyakan, tetapi ternyata memiliki hikmah yang besar. Tentang pola hidup yang baik, etika, perilaku hidup sehat, menjaga kebersihan, etos kerja dan efisiensi. Upaya mengefektifkan potensi hidup untuk menjadi amal shalih semaksimal mungkin, bahkan agar yang kita kerjakan bisa memiliki manfaat ganda.

Hal-hal kecil yang sepele begitu diperhatikan oleh Islam, tidak memasuki masjid sesudah mengkonsumsi bawang, tidak meninggikan rumah sehingga menghalangi rumah tetangga, menyingkirkan duri dari jalan, tidak membiarkan makanan terbuang, atau tidak membuat masakan yang baunya sampai kepada tetangga melainkan berbagi kepadanya. Berbuat sebaik-baiknya, memberi dengan baik, menerima dengan baik, atau bertamu dengan baik. Mengutamakan orang lain, mengikis ego, menempatkan dengan baik hak dan kewajiban, serta memupuk kepedulian dan kesetiakawanan.

Sehingga semestinya seorang muslim memiliki kepekaan sosial, mampu merasakan kesulitan yang dihadapi orang lain, mempermudah urusan mereka, bukan mempersulit, serta memiliki keikhlasan untuk berbagi .

Bukan hanya terhadap sesama, binatang dan benda-benda tak bernyawa pun tak lepas dari rahmat yang dibawa Islam. Islam mengajarkan untuk tidak menyakiti binatang, memberi minum binatang yang haus, menajamkan pisau ketika menyembelih agar tidak menyakiti. Islam melarang memubazirkan barang, sekecil apapun agar menjadi sebuah kemanfaatan.

Ikhlas, kunci agar semua amal shalih itu tidak dirasa sebagai beban yang berat, mendapatkan kemudahan untyuk melakukan amal shalih tersebut, menjalani sebuah fitrah yang lurus, menjadi kebahagiaan dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.

Menjadi tantangan bagi kita mewujudkan kesempurnaan Islam ini, untuk menjawab problematika yang sedang dihadapi masyarakat. Dari persoalan sampah, rokok, lingkungan hidup, hingga persoalan kejujuran dan krisis yang dialami dunia.

Ada yang menarik dari pembahasan mengenai Fikih Air pada Munas Tarjih Muhammadiyah beberapa waktu lalu. Bagian dari upaya mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata, menjadi rahmatan lil alamin yang sesungguhnya. Berikut hasil Munas Tarjih yang dikutip dari www.Sangpencerah.com.

Pada level individu dan keluarga perlu pembiasaan untuk membetulkan kran atau sambungan pipa di rumah, kantor, masjid atau pipa irigasi yang bocor. Kemudian tidak membiarkan anak bermain dengan kran atau selang air di halaman atau di kamar mandi dan tidak membiarkan kran air terus mengucur pada saat mencuci mobil atau sepeda motor, serta mematikan air bila tidak diperlukan. Juga membiasakan untuk mematikan kran ketika sedang menggosok gigi, mandi atau mencuci peralatan rumah tangga dengan sabun atau detergen. Mengganti ukuran kran dengan ukuran kecil sehingga tidak terlalu banyak mengeluarkan air. Menggunakan shower untuk kamar mandi. Sedapat mungkin tidak menggunakan kamar mandi yang banyak menggunakan air (semisal bath-up).

Demikian pula dalam berwudlu, hindari penggunaan air yang berlebihan. Menyisakan halaman rumah untuk resapan air hujan, dengan tidak menutup seluruh halaman rumah dengan pengerasan (aspal dan beton,) karena air hujan tidak akan bisa meresap ke dalam tanah untuk menambah cadangan air tanah. Arahkan kucuran air hujan dari atap rumah untuk dapat asuk ke sumur peresapan di halaman rumah, sehingga tidak langsung dibuang ke jalan atau selokan. Memilih tanaman hias, perkebunan atau tanaman pangan yang tidak rakus air. Siramilah tanaman di lahan pada waktu pagi atau sore hari pada waktu suhu udara tidak terlalu panas dan tiupan angin tak terlalu kencang, sehingga bisa mengurangi kehilangan air melalui evaporasi. Gunakan pupuk organik untuk tanaman daripada pupuk buatan. Pupuk organik disamping lebih sehat, lebih menghemat air untuk prosesnya. Sedangkan pupuk buatan (pupuk kimia/non-organik) prosesnya memerlukan air yang lebih banyak per kg berat pupuk, merusak tanah dan menjadi sumber polusi. Bila memungkinkan buatlah lubang-lubang pembuangan sampah organik di halaman rumah. Sampah organik akan bisa memperbaiki struktur tanah sehingga memudahkan air hujan meresap ke dalam tanah serta memperbaiki kesuburan tanah. Apabila di dalam rumah terdapat kolam renang, maka tutuplah kolam renang dengan penutup dari lembaran plastik pada saat tak digunakan, hal ini akan bisa menghambat penguapan air. Gunakan air kolam renang yang kotor untuk keperluan menyiram tanaman atau disalurkan ke kolam atau media lainnya sehingga tidak langsung terbuang.

Demikian pula tampungan air kucuran kran dan bekas air wudlu. Air ini masih bisa digunakan untuk menyiram tanaman atau untuk memelihara ikan di kolam dan keperluan lainnya. Gunakan peralatan dapur yang terbuat dari bahan alamiah (kayu, bambu, daun tanaman dan sebagainya) daripada menggunakan bahan yang terbuat dari plastik. Pilihan ini disamping lebih berwawasan lingkungan juga lebih sehat dan menghemat air. Bahan-bahan peralatan atau perlengkapan dapur dan perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari plastik memerlukan air yang cukup banyak per kg bahan dalam proses pembuatannya. Jika berbelanja ke pasar, supermarket atau ke toko, usahakan membawa keranjang atau tas belanja dari rumah utnuk mengurangi pemakaian tas plastik (tas kresek). Tas plastik dalam proses pembuatannya memerlukan banyak air dan tidak bisa didegradasi sehingga menjadi bahan polusi lingkungan. Pilihlah bahan makanan dan minuman yang proses pembuatannya tidak memerlukan banyak air untuk memprosesnya. Pilihlah untuk membuat jus buah sendiri daripada membeli jus buah siap saji. Cara ini disamping lebih sehat juga bisa menghemat air. Pada waktu mencuci pakaian (pakai tangan atau pakai mesin cuci) atau peralatan dapur, pilihlah detergen yang ringan dan ramah lingkungan, sehingga tidak memerlukan banyak air untuk membilas. Untuk membilas detergen kuat, diperlukan lebih banyak air dibandingkan dengan detergen ringan. Hindari tumpahnya minyak (goreng atau minyak lain) ke dalam tampungan atau sumber air. Hal ini karena untuk memurnikan atau membilasnya memerlukan banyak air.

Pada level masyarakat, kegiatan pengelolaan air berbasis masyarakat dapat dilakukan melalui kegiatan konservasi, pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. Tingginya tingkat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ini, diharapkan menjadikan daerah tangkapan hujan di hulu semakin berfungsi sebagai hutan lindung yang bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat. Wilayah hulu semakin produktif dengan basis jasa lingkungan wilayah hilir dan kawasan perkotaan terbebas dari ancaman daya rusak air, antara lain bencana banjir dan kekeringan. Melakukan sistem pengolahan limbah domestik di kawasan permukiman sehingga dapat menjaga kualitas air. Misalnya, pengolahan limbah domestik cair dan sampah untuk kompos. Juga bisa melalui teknologi tepat guna untuk membuat air berkualitas sesuai baku mutu untuk keperluan air minum penduduk di kawasan lingkungan dengan kualitas air rendah. Melakukan upaya penampungan air hujan (Rainwater Harvesting/RWH) untuk irigasi, mencuci, bilasan toilet, peternakan, dll. Upaya ini bisa melalui penggunaan ember atau lainnya. Melakukan irigasi tetes atau sprinkler atau alur yang lebih hemat air daripada cara irigasi dengan penggenangan (basin). Mewujudkan gerakan “Shadaqah Air” bagi masyarakat yang minus air, secara langsung atau melalui penggalangan dana untuk pembuatan saluran air bersih.

Pada level dunia usaha, perlunya sinergitas pelestarian air antara dunia usaha dan masyarakat melalui CSR (Corporate Social Responsibility). Mewujudkan usaha-usaha produktif yang berbasis pada penghematan air. Menciptakan lingkungan kerja yang ramah air melalui edukasi, ceramah, kampanye pelestarian lingkungan, poster, cek rutin sarana air serta audit lingkungan sekitar perusahaan.

Pada level pemerintah perlunya kontrol pelestarian air dan lingkungan sesuai aturan yang berlaku. Upaya penegakan hukum (law inforcement) terhadap perusahaan atau warga yang tidak ramah air dan lingkungan. Upaya membangun sinergitas pengelolaan sumberdaya air antar sektor dan wilayah pemerintahan setempat. Pengembangan sistem pembiayaan pengelolaan air sesuai prinsip cost recovery maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat yang ada.

Demikianlah sebagian kecil dari luasnya rahmat yang dibawa Islam. Diriwayatkan dari Jabir ia berkata, Rasulullah saw bersabda,”Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah, dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini (yaitu Masjid Madinah) selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani) Hadits ini dihasankan oleh Syeikh al Albani didalam kitab “at Targhib wa at Tarhib” (2623).