Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Oktober 2014

Menengok Ruang Bebek, Mereguk Empati

Merangkai pelajaran hidup di sebuah rumah sakit, sebuah tempat yang telah meninggalkan banyak kesan dalam perjalanan hidup yang saya lalui, bahwasanya di antara cobaan yang kita alami, masih banyak mereka yang mendapatkan cobaan serupa, bahkan lebih berat.

Terbaring di salah satu sudutnya, seorang bayi penderita hydrocephalus, dengan kepalanya yang sudah sangat membesar, ia hanya tidur beralaskan kardus bekas. Orang tuanya memberinya sebotol susu, terlihat jelas encer sekali. Airnya pun mungkin tak memadai, ditaruh di botol bekas air mineral.

Keesokannya seorang perawat memberikan sebuah spanduk bekas, sebagai alas tidur bayi itu. Memang kemarin saat ia lewat, merasa iba dan menjanjikan akan membawakan sebuah kasur, tetapi katanya ia kesulitan membawakannya.

Berjubel di antara banyak orang yang menumpang di sebuah ruangan, rumah sakit ini berbaik hati menyediakannya, dan bagi mereka terasa sangat membantu, sebagai tempat penampungan sementara sebelum mereka mendapatkan kamar. Ada tempat MCK seadanya, juga disediakan tempat menjemur pakaian di belakang sana. Banyak pula pasien rawat jalan yang datang dari jauh ikut menumpang, jangankan untuk bolak-balik atau membayar kos-kosan di sekitar rumah sakit, untuk akomodasi selama mereka berobat saja tentunya sudah berat.

Mereka yang terpaksa berobat dengan fasilitas jaminan sosial, sebuah pelayanan kesehatan yang sebenarnya tidak memadai, pelayanan yang diberikan sudah pasti serba minimal. Tetapi masih beruntung, di luar sana lebih banyak lagi yang tidak tercover, mereka yang hanya pasrah tergolek lemah di rumah, tanpa bisa berbuat apa.

Mungkin lebih cocok jika ruangan ini diberi nama Ruang Bebek, maklum kebanyakan nama-nama ruangan di rumah sakit ini diambil dari nama-nama burung. Ada Ruang Merak, kemudian Rajawali, Kutilang, Kepodang, Cendrawasih dan Garuda. Bahkan ruang isolasi saja lebih familiar disebut Ruang Flu Burung.

Anak-anak bebek, mereka yang tersisihkan dari induk kehidupan dunia, menjalani berbagai cobaan hidup dan kesulitannya. Tetapi mereka bisa menjadi sebuah pelajaran tentang syukur, kesabaran dan kepedulian kita.

Mereka yang tertatih di antara kepincangan dunia, berada dalam keterbatasan, tetapi betapa banyak dari mereka yang mampu merangkai karya yang luar biasa.

Kehidupan di dunia ini, suka dukanya, hanya seperti sebuah perumpamaan,

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali Imran: 186)

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. al Kahfi: 45-46)

***

Orang-orang sakit di sekitar kita, banyak di antara mereka yang terabaikan. Tidak semua dari mereka orang mampu, sedang biaya untuk suatu pengobatan yang baik semakin melangit. Berbagai program jaminan sosial sejak dulu, tak selalu memadai.

Tentang menjenguk orang sakit, sebenarnya kita perlu untuk lebih peka. Seringkali hal itu hanya menjadi rutinitas kebiasaan semata. Padahal yang namanya orang sakit, kalau bukan orang yang secara ekonomi sangat mampu, akan merasa menanggung beban yang berat. Di luar biaya pengobatan, mereka tidak bisa bekerja, termasuk mereka yang merawat. Seringkali di antara mereka ada yang masih memiliki tanggungan, apalagi bila menimpa orang tidak mampu.

Sebaiknya kita tidak sekadar memberi ala kadarnya, sebagaimana halnya saat menghadiri resepsi atau melayat. Sedang mereka terkadang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, bisa sampai puluhan juta bahkan ratusan juta, dan tentunya tidak terencanakan.

Masih banyak mereka yang tergolek sakit tak berdaya, penderita gizi buruk, serta anak-anak kurang mampu yang putus sekolah, sedang di luar sana begitu banyak orang yang merayakan lebaran menghabiskan uang jutaan rupiah, mengadakan resepsi pernikahan atau pesta kematian yang menghabiskan uang puluhan juta, akan lebih bermakna dan bermanfaat bila diberikan kepada mereka yang benar-benar membutuhkan.

***

Cobaan yang menimpa seorang hamba, hikmah dan rahasianya, seringkali lebih luas dari yang kita mengerti. Bagi mereka yang tengah mencari penawar atas kesusahan yang menimpa, ada sebuah doa yang agung, sebuah doa pelipur lara.

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ.

“Tidaklah ada kekhawatiran atau kesusahan yang menimpa seorang hamba, lalu dia mengucapkan, “Ya Allah , sesungguhnya aku adalah hamba-Mu , anak hamba-Mu yang laki-laki dan anak hamba-Mu yang wanita. Ubun-ubunku ada di tangan-Mu, hukum-Mu berlaku pada diriku, qadha-Mu adil pada diriku. Aku mohon kepada-Mu dengan setiap nama yang menjadi milik-Mu, yang dengan-Nya Engkau menamakan diri-Mu, atau Engkau menurunkannya di dalam kitab-Mu, atau Engkau mengajarkannya kepada seseorang di antara makhluk-Mu, atau Engkau menahannya dalam ilmu ghaib di sisi-Mu, jadikanlah Al-Quran musim hujan semi di hatiku, cahaya di dadaku, terangnya kesusahanku, hilangnya kekhawatiran dan kesedihanku,” melainkan Allah menghilangkan kekhawatiran dan kesedihannya, dan mengganti tempatnya dengan kegembiraan.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami mempelajarinya?” Beliau menjawab, “Tentu. Siapa yang mendengarnya hendaklah mempelajarinya.” (HR Ahmad 1/391, Ibnu Hibban, Abu Ya’la, al-Hakim, dan yang lainnya, dengan sanad yang shahih menurut pendapat Al-Albani)

Doa ini memang teramat luas untuk dipelajari. Dijabarkan dengan indah dari sebuah buku yang saya dapatkan dari pinjaman seorang saudara. Buku karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah yang berjudul Fawaidul Fawaid, tulisan-tulisan karya beliau memang bisa sangat menyentuh ruhiyah kita. Saat itu saya masih tertatih-tatih mengeja kata demi kata dalam membaca buku tersebut. Maklum juga, saya hanyalah seorang anak putus sekolah yang tidak terbiasa dengan bacaan-bacaan berat.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah, dengan kedalaman dan keindahan bahasanya, mampu menembus sekat-sekat menyentuh hingga ke luar batas-batas manhaj, diakui atau tidak. Sesedikit mungkin menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai polemik, termasuk sengitnya permasalahan salaf dan khalaf. Dan qadarullah, bahkan buku tersebut asalnya dari hadiah dari seorang saudara penganut ‘ahlul bait’.

Seandainya ia menyuguhkan buku yang berasal dari kalangan dari ahli irfan, kemudian mengisi kekosongan jiwa saya, mungkin jalan kehidupan yang saya tempuh akan lain. Apa yang terjadi dalam kehidupan ini tentunya bukan kebetulan semata, terasa betul bila ada yang telah mengatur. Begitu banyak perkara yang kelihatan kecil, tetapi menentukan arah kehidupan. Hikmah dari yang kita alami, menjalani qadha dan qadar Allah, yang saat ini kita belum mengerti, bisa jadi ada artinya bagi kehidupan kita suatu saat nanti, bahkan bagi dunia.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Tentang Makna Sebuah Cita

Tentang sebuah cita, agar menjadi lebih indah, ia masih harus ditempa dengan berbagai aral dan ujian.
Ketergesaan ini, tak seindah penatnya penantian, jika ia mekar sebelum saatnya, kemudian layu dan tanggal begitu saja, menyisakan sesal dan kecewa.
Panjang perjalanan yang ditempuh, lelah penantian yang ditunggu, sedang ia tak kunjung mekar. Tetapi kesabaran ini, keteguhan ini, mesti tetap utuh terjaga sampai tiba saatnya, sampai saat yang tepat untuk mekar, agar ia menjadi buah yang baik.
***
Bukan benalu, tanpa sempat menjalani masa-masa sulit, tak pernah terseok-seok, tak pernah terinjak-injak. Menjulang di ketinggian, bertengger dengan gagah, menebar angkuh. Namun setiap saat ia bisa dipetik oleh pemilik pohon, terbuang hina ke tanah. Atau mungkin ia akan roboh bersama tumbangnya pokok pohon, tanpa mampu mendapatkan sesuatupun.
Bukan peliharaan, tumbuh subur tanpa perlu bersusah payah. Dirawat, disiangi dan disirami, dilindungi dari gulma dan hama yang mengganggu. Namun kemudian ia dipetik oleh pemilik pada saatnya.
Bukan rangkaian bunga, indah tertata, menempati tempat kehormatan. Tapi kemudian layu terbuang, menjadi onggokan sampah tak berharga, tanpa menyisakan kemuliaan.
***
Awalnya hanya seperti sebutir biji kecil yang tak dianggap, terbawa angin tanpa arah. Namun di dalamnya telah tersimpan sebuah cita yang luar biasa. Meski tak tampak, tetapi telah tertulis rapi dalam DNA yang dikandungnya, tentang takdir sebuah benih pohon sejati.
Malang, tersisih, lemah. Bersemai di sela-sela rumput, terinjak, terseok. Berbalut kesulitan, berkubang rintangan, tapi ia terus tumbuh. Sempat patah, tapi selalu menyisakan tunas. Terkadang harus lelah menanti, terkadang harus kukuh menyimpan.
Perlahan ia menggeliat, menyingsingkan keangkuhan rumput, menembus  kesombongannya. Bahkan tak cukup sebatas semak, tak puas menjadi perdu, ia terus menjulang, melampaui, merendahkan semuanya, melambai, menjadi naungan yang kokoh.
Batangnya menjulang, akarnya menghujam, tapi lebih dari itu, sejengkal demi sejengkalnya, semuanya tersusun dari kisah-kisah yang bermakna. Hingga ia mengerti makna sakit dan perih yang selama ini menimpa, yang tak mungkin ia dapatkan andai benih itu jatuh terhanyut ke sungai atau tumbuh dalam sebuah pot kecil menjadi bonsai.
***
Cita ini bukan cita sembarang. Jalan yang dilewati berliku-liku, rintangan yang dihadapi bukan aral biasa. Sedikit yang bisa menempuhnya, menjadikannya berharga. Perjalanan yang harus dilalui mungkin teramat panjang, terkadang ia terhenti, terkadang harus memutar, bahkan terpaksa harus mundur. Namun cita ini harus tetap terjaga, harus berlanjut sampai pada puncaknya, tak tergoda oleh cita-cita rendahan, yang telah nyaman singgah di tempatnya.
Terlalu banyak dikecewakan, terlalu sering menerima kenyataan pahit, saat mendapati kepincangan dunia. Tapi kesabaran harus tetap utuh, keyakinan mesti terjaga, meski harus berkali-kali menembus rintangan, tergores di antara berbagai benturan.
Agar kezhaliman berganti pertolongan, tipu daya berbuah kemenangan, membuat rangkaian cerita yang tersusun semakin indah, dan bila saatnya tiba, ia berwujud dengan sempurna.


Jumat, 18 Juli 2014

Drama Kehidupan yang (tak) Sempurna

Mungkin yang kulakukan sia-sia, kutahu ini hanyalah sebuah permainan, tapi dengannya aku menjadi memiliki kisah, yang tak kudapat di dunia nyata. Apalah arti peran-peran yang kulakukan, tapi hanya dengannya aku bisa mewariskan kisah heroik, yang tak mungkin kulakukan dalam kehidupan nyata.

Dinobatkan di atas singgasana, tampak riuh, gegap gempita dan memukau, namun sebenarnya hanyalah segelintir orang di hadapan kamera. Aku memegang piala, disematkan mahkota atau dinobatkan pada singgasana, sedang kutahu sebenarnya tak mendapatkan suatu apapun. Aku harus tampak seperti merayakan kemenangan besar, sedang kusadari semuanya tak berarti apa-apa.

Aku tampak sedih, menangis tersedu-sedu dan meratapi kekalahan, agar mengalir empati dari berbagai penjuru, dan aku puas melakukan adegan ini dengan baik. Aku harus marah, menampakkan permusuhan, untuk sebuah kolaborasi yang baik. Aku harus ikut tertawa, meski sebenarnya hanyalah sebuah senyuman kecut.

Memerankan keluguan al Sisi atau ketulusan Gamal Abdul Nasser, kemuliaan seorang sahaya dan kebodohan tuannya, menghiasi dunia yang penuh kepalsuan. Semua hanyalah kepura-puraan, agar tak terlalu menaruh harap, agar tak terlalu kecewa di kemudian hari.

Drama ini terlalu indah untuk diakhiri, harus dibuat menegangkan hingga titik akhir permainan, agar penonton tak jua beranjak. Agar mereka berdebar menantikan, padahal ia bukanlah ketidakpastian. Cerita harus ini terus diperpanjang, ia harus berlanjut pada kisah-kisah baru, terus dibuat-buat, meski sebenarnya telah selesai.

Bukan hanya akhir kisahnya, drama ini harus menjadi rangkaian cerita yang tampak sempurna. Tiap-tiap adegannya harus tampak nature, ditata dengan rapi, agar indah dinikmati, dan sempurna mengelabuhi. Apa yang tersembunyi, lebih besar dari yang tampak. Apa yang tak diketahui, lebih banyak dari yang dikira.

Menjalani permainan ini sebaik-baiknya. Bersiap dari satu permainan menuju permainan yang lain. Namun tetaplah jangan melupakan kehidupan nyata, jangan meninggalkannya sama sekali. Ada permainan di balik permainan, tipu daya di atas tipu daya. Hingga semuanya akan kembali kepada sebaik-baik pembuat tipu daya, bukan hanya memanipulasi emosi, tetapi mampu membolak-balikkan hati Tatar atau menanamkan belas kasih pada Firaun.

Itulah drama yang terjadi dalam kehidupan yang tak sempurna, namun ia akan disempurnakan pada kehidupan lain, pasti.

Aku lelah menjalaninya, terlalu berpayah-payah melaluinya, padahal ia hanyalah permainan belaka. Tetapi aku menikmatinya.


Selasa, 17 Juni 2014

Anak Tukang Becak, Anak Bebek, Ketidaksempurnaan Dunia

Bukan sembarang prestasi, terlahir dari keterbatasan. Lulusan terbaik sebuah universitas itu adalah anak tukang becak. Ada lagi, lulusan terbaik universitas ternama diraih seorang anak buruh tani.

Anak-anak bebek, terlahir dalam ketidaksempurnaan, berpayah menggeliat dalam kesendirian. Namun senantiasa tetap terlahir orang-orang terpilih, yang menyiasati keterbatasan, menerobos penghalang, menembus ketidakmungkinan, merajut bilah-bilah kekurangan agar terbentuk menjadi sesuatu yang terbaik.

Dunia tak selalu menghamparkan kesempurnaan. Menorehkan prestasi dari keterbatasan menjadi lebih bernilai, melampaui yang dicapai mereka yang berkecukupan, berlimpah dengan berbagai fasilitas.

Memukau khalayak, takjub, menjadi ibrah, menumbuhkan motivasi dan tekad pada mereka. Mengajarkan mereka untuk bersyukur, berbagi, dan berbuat kebajikan. Dan semua itu menjadi tambahan kebaikan baginya.

***

Dunia tak selalu menyempurnakan pembalasannya. Tak semua kisah berkesan itu menjadi cerita. Tak dikenal dalam senyap, luput dalam pandangan manusia, terseok-seok, terhina, namun ia tetap mulia, tak berkurang sedikit pun nilainya. Masih harus ditempa dengan berbagai ujian kesabaran, agar lebih indah. Tak apa, menjadi simpanan untuk hari nanti, untuk kebahagiaan yang lebih sempurna.

Dunia tak selalu menyempurnakan  pengabarannya. Tak semua yang terlahir berkesan itu sejati. Ketika pengabaran dunia dicuri oleh kepalsuan. Gegap gempita, memukau pandangan manusia, padahal ia hanyalah polesan tipis. Apa yang tersembunyi berbeda dengan yang tampak, sebaik-baik pujian belum tentu sebaik-baik amal. Pencitraan semu, antara kepalsuan dan pura-pura. Mengemas sebuah kepalsuan, memperdaya, mengelabuhi pandangan manusia, memanipulasi empati mereka.

Ketika ketulusan belum mendapatkan tempat, ketika keadilan masih dinanti, masa dimana orang-orang lemah harus terseok-seok, terinjak-injak dalam kerumunan. Masih harus menyempurnakan kesabarannya, berhias dengan keluh kesah. Namun keadilan itu tetap akan terwujud, dan pasti akan terwujud, entah suatu saat nanti. Kebajikan sejati, pada saatnya akan menerjang, tak ada seorang pun mampu menahan lajunya.

***

Hanya sedikit dari biji yang tercipta, yang bisa bersemi dan tumbuh. Dari karunia-Nya yang tak terhingga, hanya sedikit yang berbuah menjadi amal. Begitu sering kesempatan yang terlewat, begitu banyak potensi yang tersia-siakan. Di antara cita dan kesempatan, antara upaya dan takdir pada seorang hamba, membuka sebuah jalan, melewati berbagai ujian yang menghadang.

Kekurangan memperindah kesabaran, ketidaksempurnaan menyempurnakan pengabdian, kelemahan menghias pengharapan, berbuat dalam keterbatasan. Tanpa menunggu berakhirnya ketimpangan dunia.


Sabtu, 26 April 2014

(Bukan) Maju Untuk Kalah, Mundur Untuk Menyerah

Tentang suatu pasukan, tatkala harus mengambil keputusan yang berat, sebuah pilihan yang sangat dilematis. Memaksa untuk maju, bersama bayang-bayang kekalahan dan kehancuran. Atau terpaksa untuk mundur, meski juga tak semata-mata ingin menyerah.

Bukan hanya soal keberanian, tidak pula tentang kalah dan menang semata, tetapi menyangkut kepentingan besar bagi umat, yang benar-benar sedang dipertaruhkan di atasnya, teramat mahal akibat yang akan dibayar.
Apalah artinya keberanian, melaju dalam gempita, jika hanya melangkah menuju lubang jebakan yang telah dipersiapkan oleh lawan, akhirnya hanya menjadi bulan-bulanan, tercatat sebagai keberanian konyol seorang pecundang.
Terkadang, jalan mesti berliku, saat-saat di mana langkah harus memutar, mengambil strategi yang lain. Memang mundur tak selamanya berarti menyerah, tapi tetap saja ada bayang kekhawatiran jika langkah ini akan tercatat sebagai keputusan seorang pengecut.
Hati-hati, bukan sekedar keberanian, tetapi ia buta. Bukan sekedar pengorbanan, tetapi ia sia-sia. Tetapi juga bukan keraguan, yang akhirnya berbuah ketakutan, menafikkan apa yang sebenarnya telah mampu untuk dicapai. Peluang, bahkan mungkin yang terakhir, mungkin tersandera oleh keraguan ini.
Atau bila menempuh pilihan untuk nekat, mengabaikan perhitungan, logika dan realitas, bersandar semata kepada pertolongan-Nya yang tak kurang-kurang, semata-mata berbekal keyakinan atas kekuasaan-Nya yang tak terbatas. Namun jangan-jangan ini hanyalah optimisme semu belaka.
Di antara ketergesaan dan keberlambatan, untuk membuat keputusan dengan tepat, mampu mengukur kekuatan diri dan lawan. Bukan keputusan emosional semata, bukan menuruti ambisi tanpa perhitungan.
Ya Allah, kami hanyalah hamba-hamba yang lemah, tak semestinya kami bersandar pada kemampuan kami semata. Agar kelemahan kami menjadikan kami lebih bersimpuh memohon pertolongan-Mu. Meski kami tak dibebani kewajiban untuk berhasil, tapi yang kami ketahui, ikhtiar yang kami lakukan mesti sebaik-baiknya.
Ya Allah, untuk para pemimpin kami, berikan sebaik-baik bimbingan kepada mereka, pilihkan keputusan yang terbaik bagi kami, agar benar-benar berhitung dengan seksama, ketika tipu daya yang kami hadapi di luar kemampuan kami
Bukannya kesatuan dan tekad tak cukup, tapi ada fase-fase yang harus ditempuh untuk sebuah kemenangan, agar ia layak untuk disematkan, dan mungkin selama ini belum dilakukan. Agar tekad tak berbuah kecerobohan, agar kesatuan tak justru menjadi sandungan.
Berusaha terbaik, berharap pilihan terbaik, sebelum semuanya terlambat, agar tak menjadi penyesalan kelak.


Rabu, 23 April 2014

Mudahkan Ya Allah

Berhadapan dengan gelombang, ketika harus menghadapinya. Atau berjumpa dengan badai, ketika harus melewatinya. Serasa tak kan mampu menghadapinya, mungkin juga serasa tak akan selamat melewatinya.
Jalan buntu, yang hampir memaksa untuk menyerah, tak tahu lagi apa yang mesti dilakukan. Begitu banyak ketidakmungkinan, dari hal-hal kecil dalam keseharian, hingga perkara besar yang menyangkut sebuah negeri.
Kesulitan hidup yang seperti tak kan terpecahkan, sakit yang seolah tak menyisakan harapan untuk sembuh, hingga sebuah negeri yang terbelit dalam cengkeraman kezhaliman, terjajah oleh perilaku nista, seolah tak bisa diperbaiki lagi, tak tahu jalan untuk membebaskan diri. Bahkan ketika harus menghadapi suatu prahara atau revolusi yang berat, seperti menghadapi pertarungan yang berdarah-darah.
Betapapun besarnya aral, ketika ia telah terlampaui, tak sehoror ketika baru akan menghadapinya. Seperti yang dirasakan mereka yang selamat dari sebuah bencana yang dahsyat. Apalagi orang-orang, dirinya sendiri bahkan tak mengerti, merasakan betul suatu keajaiban. Mereka yang pernah melewati kesulitan hidup yang berat, merasakan betul adanya keberuntungan.
Negeri yang pernah merasakan cengkeraman imperialisme dunia, serasa tak berdaya, tapi tak menyurutkan cita untuk meraih kemerdekaan. Cita yang seolah teramat jauh untuk dituju, teramat tinggi untuk digapai. Ternyata yang terjadi, ada jalan tak terduga yang mempermudah kemerdekaan itu tercapai, sesuatu yang tak mungkin kemudian menjadi terwujud. Betapa banyak rezim yang kokoh, seperti tak akan runtuh, namun dalam sekejap segalanya berubah. Kekuasaan begitu mudah untuk berganti, tak terbayangkan situasi begitu mudah berubah.
***
Dunia ini, zaman ini, dalam cengkeraman kezhalimannya, belitan kerusakannya, tak berdaya menghadapinya, seolah tak lagi bisa diperbaiki. Betapapun beratnya, menjaga tekad untuk memperbaikinya agar tetap hidup, agar tak menyurutkan ikhtiar. Dari ikhtiar yang tak seberapa ini, berbuah pertolongan-Nya, agar diberi kemudahan, sebuah jalan keluar yang terbaik.
Apa yang mustahil menjadi mudah, apa yang tak mungkin akhirnya terwujud. Agar dari kelemahan ini, lebih terasa kebutuhan akan pertolongan-Mu, hingga kami lebih merendahkan diri kepada-Mu. Apapun yang kami capai nantinya, tetap dirasa bukan karena kekuatan dan kehebatan kami, melainkan pertolongan dan karunia-Mu semata, sehingga sempurna syukur kami kepada-Mu.
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali ‘Imran: 186)
Semakin beratnya ujian yang dihadapi adalah semakin besar kemuliaan yang di dapat. Tetapi kami merasa terlalu lemah untuk memikulnya, berharap dimudahkan, diringankan, mendapat karunia dari ampunan dan rahmat-Mu.
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqarah:186)

Selasa, 22 April 2014

Menatap Kekalahan

Telah kesekian kalinya, dipaksa untuk menerima kekalahan. Tak ada lagi pilihan, dibuat tak berdaya. Kali ini mungkin juga terulang, hanya bisa termanggu membiarkan mereka melibas dan memporak-porandakan semuanya.
Pada titik terendah kelemahan seorang hamba, yang tak lagi bisa berbuat apa, hingga membuat angan tentang strategi dan optimisme terlalu naif, tetapi bayang tentang kekalahan dan menyerah juga terlalu pahit.
Di antara dahsyatnya intrik dan tipu daya, hingga semua yang dipersiapkan untuk menghadapinya menjadi urung, tanpa tahu apa yang mesti dilakukan, tetapi tidak dengan doa, ia akan senantiasa bisa terucap, bahkan menjadi lebih berarti pada hamba-hamba yang berada dalam keadaan lemah terzhalimi. Bersimpuh dan kepasrahan, dalam ketidakberdayaan menjadi lebih bermakna, berharap membalikkan suatu ketidakmungkinan.
Tak apa kami tumbang dan binasa, tetapi cita ini ya Rabb, mohon untuk diselamatkan, agar ia tetap hidup, dan menyelamatkan kami. Di antara banyaknya kealpaan kami, masih tersisa pengharapan terhadap-Mu. Di antara banyaknya hamba-hamba yang lalai di antara kami, ada jiwa-jiwa yang tsiqah memegang cita tentang umat ini, teguhkan mereka dengan sebaik-baik karunia-Mu, berikan kekuatan agar menjadi penolong kami.
Berharap dari kejatuhan ini, mendapatkan jalan lain yang lebih baik. Dari kekalahan ini, menjumpai kemenangan yang lebih besar esok. Kemenangan sempurna, yang bertolak dari ketidakmungkinan. Agar drama kehidupan ini lebih spektakuler, menjadi rangkaian cerita yang indah. Sebuah prestasi menjadi lebih berharga manakala ia telah melewati kesulitan-kesulitan besar.
Yakinkan kami, Kemenangan-kemenangan musuh itu tak lebih dari tipu daya-Mu, untuk sempurnanya kemenangan kami. Ketika tipu daya telah sempurna, semua hampir tercapai, mata mereka terbelalak dan berkata: “Celaka kami, sesungguhnya kami berada dalam kelengahan tentang ini.” Membuyarkan semua yang telah tersusun, yang tinggal selangkah. Berhadapan dengan sebaik-baik Pembuat tipu daya.
Aral, tak tergambarkan sebelum ia datang, amat berat dirasa tatkala berjumpa, namun setelah berlalu ia menjadi ringan. Seperti tertatih dan payah di kegelapan malam, namun sebentar lagi menyongsong fajar. Tak seperti berada di puncak kemenangan yang megah, namun sebentar lagi malam menjelang, sepahit menatap kekalahan.
Kesabaran untuk menanti sebuah janji yang pasti,
“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Az Zikr (Lauh Mahfuzh), bahwasanya bumi ini akan diwarisi ole hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. Al Anbiyaa’: 105)
Kemenangan untuk hamba-hamba yang terpilih,
“ Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur: 55)

Senin, 31 Maret 2014

Makna Memberi dan Menahan Diri

Sebuah video beredar di Youtube, ‘Video Kisah Inspiratif yang dapat Membuat Anda Menangis’, diangkat dari kisah nyata, tentang keindahan di balik suatu pemberian, bahkan mungkin baru sebagian kecil keindahannya.
Memberikan sesuatu kepada orang lain biasanya diiringi dengan perasaan berat, merasakan suatu kehilangan ketika melepaskannya. Berbeda sekali ketika menerima sesuatu pemberian dari orang lain, meski tak seberapa, biasanya dirasakan sebagai suatu anugerah.
Menerima suatu pemberian bisa membuat luluh sikap acuh, meredam kebencian, hingga menumbuhkan simpati. Sebaliknya, tuntutan memberi sering dianggap sebagai sebuah beban yang ingin dihindari.
Untuk sebuah pemberian yang tak seberapa, banyak orang rela mengantri, berebut, bahkan berdesak-desakan dan terinjak-injak. Banyak orang merasa berhak, memalsukan identitas memiskinkan diri, tanpa memedulikan lagi harga diri dan kehormatan.
Sungguh bahagia dan beruntungkah mereka yang banyak mendapatkan pemberian? Selalu mendapatkan prioritas ketika pembagian bantuan, sering mendapatkan santunan, banyak dikasihani. Setiap ada pembagian zakat, sedekah, hingga BLSM, hampir tak pernah ketinggalan.
Apakah kita ingin menjadi orang seperti mereka? Kecewa dan marah ketika orang lain mendapatkan bantuan sosial, raskin, BLSM, zakat dan sebagainya, sementara kita tidak mendapatkannya padahal merasa lebih berhak, hingga harus melakukan protes dan ribut-ribut.
Untuk  anda atau mungkin untuk anak anda kelak, manakah yang lebih layak menjadi cita-cita, kelak di kehidupannya akan banyak mendapatkan santunan, dikasihani dan diperhatikan banyak orang, tak pernah ketinggalan setiap ada pembagian bantuan, zakat dan sedekah? Atukah anda memiliki cita-cita bahwa kelak tak mendapat prioritas sama sekali ketika ada pembagian bantuan apa pun, tak terpikirkan lagi untuk disantuni, tak perlu diberi apapun oleh orang lain? Jika demikian yang terjadi apakah anda akan merasa rugi?
Mana yang lebih dipilih, menjadi penerima bantuan-bantuan itu ataukah menjadi mereka yang banyak membantu, memberi, menyantuni dan menolong orang lain?
Ternyata hakekatnya memberi itu lebih indah dari diberi. Tak rugi memiliki cita-cita ingin diberi kemampuan untuk senantiasa bisa memberi, berbagi dan bermanfaat bagi orang lain. Dimudahkan untuk bisa memberi sekalipun dalam keadaan mengalami keterbatasan, dikuatkan menahan diri meski dalam kondisi kekurangan.
Dimudahkan menjadi kemaslahatan bagi manusia, bukan beban. Mengutamakan itsar bukan ego. Saling memberi, membalas kebaikan dengan yang lebih baik. Merasakan nikmatnya rahasia ikhlas, melepaskan dengan tidak ada rasa keterpaksaan, terasa nikmat sebagaimana merasakan nikmat ketika mendapat suatu pemberian, bahkan lebih, sekaligus menjadi simpanan dan bekal untuk kehidupan kelak di akhirat.
“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.” (QS. Al Baqarah: 273)
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr:9)


Bilik-Bilik Izrail

Ruang Merak, awal 2011. Sebuah ikhtiar memperpanjang hidup. Berharap untuk ditambah sebentar saja. Untuk sebuah tanggungan hidup yang masih dimiliki.
Detik demi detik hidup yang mahal, seharga herceptin dan avastin. Hanya untuk separuh hidup, atau mungkin kurang dari itu, karena meski dijalani dengan payah, sakit, berteman MST dan lorazepam.
Mungkin tak mungkin, atau sekedar berharap tertunda, tapi kedatangannya telah pasti, tapi entah kapan. Hanya saja pengharapan kepadaNya yang tak sedikitpun pudar.
Akhirnya berakhir. Jika waktu bisa diputar kembali, rasanya takkan menyiakan kesempatan untuk berbenah. Tapi telah tertutup, menyisakan sesal. Kecuali sebuah harap tentang rahmatNya yang tetap tak pernah tertutup.
Semoga, menjadi ketetapan terbaik di antara hikmah dan pilihanNya. Semoga, apa yang tercecer, dipungutkan. Apa yang tertinggal, diambilkan. Dan apa yang hilang, tergantikan, dengan yang lebih baik.
***
Ruang Geriatri, awal 2013. Merasa hidup telah cukup, berharap segera purna. Sekian lama kami tahu, bahwa beliau ditimpa sesuatu. Tetapi dari lubuk hatinya tak ingin merepotkan siapapun. Hingga saat itu tiba begitu cepat.
Sepanjang hidupnya untuk kami, hingga tak berkesempatan banyak untuk membalasnya. Hampir tak merepotkan hingga saat berakhir, tak sebanding yang diberikannya.
Begitu ikhlas, meski semestinya menyisakan satu hal yang melalaikan, umur yang terbuang, waktu yang tersia-siakan, bekal yang terlewat untuk sebuah cita di hari kelak.
***
Terbaring sakit, seperti tak kan tertolong lagi, tak tahu lagi harus berbuat apa. Semoga masih tetap bisa berharap, (bukan) berharap yang tak mungkin. Berharap segera beranjak untuk berbenah, khawatir makin terlambat, semestinya membuat insyaf, tapi...
Terus menyakiti, menambah goresan luka di tubuh, terus mengumbar nafsu. Kekhawatiran itu mungkin terjadi, tinggal sebuah harapan dalam doa, jalan keluar yang terbaik dari sebuah ketidakberdayaan.
Di antara hawa nafsu yang terus diperturutkan, akal sehat yang terus diabaikan, tak peduli lagi esok akan seperti apa, tetap tersisa setitik keinginan untuk terbebas. Tetapi lagi-lagi terjerumus, terulang dan terulang.
Sebelum terlambat, dan tak bisa diselamatkan, antara harapan dan ancaman,
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong(lagi).
Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, supaya jangan ada orang yang mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah ), atau supaya jangan ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa’. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ‘Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik’.
(Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.” (QS. Az Zumar: 53-59)
Kesempatan terakhir, mungkin. Berharap tidak disia-siakan, untuk sebuah negeri yang sedang meregang. Sekecil apapun yang bisa dilakukan, sebelum benar-benar terlambat,  kemudian tak berguna lagi penyesalan. Datangnya Izrail untuk negeri, berakhir.
Semoga, sekecil apapun cita yang tersisa, tidak tenggelam di telan luasnya bentang khilaf ini, tetapi menjadi benih yang tumbuh menjadi naungan luas, suatu saat nanti. Di antara harapan untuk dimudahkan, dengan rahmatNya.

Rabu, 26 Maret 2014

Uhud, Thursina, Mozaik Harapan di Ambang Kehancuran

Saat-saat hanya bisa berharap, pasrah tanpa ada pilihan lain. Berbekal keyakinan semata, janjiNya telah pasti. Agar ketika kelak kesombongan hendak singgah, segera beranjak, menuju pilihan lain, menempuh jalan syukur dan tawadhu’.
Meredup tapi tak padam, memudar tapi tak lenyap, terjatuh tapi menggeliat lagi. Sejenak terhenti, tetapi akan bangun, meneruskan langkah, mengalir sampai ke akhir muaranya. Tetap hidup, takkan pernah ada yang membuatnya berhenti sama sekali.
Lelah dalam penantian panjang. Mengkhawatirkan habisnya kesabaran yang dimiliki, sementara perjalanan mungkin masih jauh. Tetapi kemenangan itu telah menjadi ketetapanNya, agar tekad dan kesabaran tetap utuh.
***
Berbagai karunia Allah kepada Bani Israil berbalas kedurhakaan mereka kepada Nabi Musa. Di ambang azab, tatkala gempa mulai terasa, sebuah bentuk belas kasih Nabi Musa kepada kaumnya, terucap permohonan terakhir untuk sebuah ampunan:
"Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (QS. Al A’raaf: 155)
Pertolongan dan ampunanNya takkan habis, sekalipun di antara hamba-hamba yang menzhalimi dirinya, asal tidak berputus asa.
***
Kami tak sebaik Nabiyullah Musa ‘alaihissalam, tapi juga tak seburuk para pembangkang dari kaumnya. Kami meniti jalan dakwah ini, sekalipun berada di barisan terbelakangnya. Kami menjadi penuntun umat ini, sementara langkah kami sendiri terkadang masih tertatih. Tanggung jawab yang besar terpikul di pundak kami, sementara kami sebenarnya masih membutuhkan penopang saat-saat goyah.
Dengan menyandang predikat sebagai pengusung panji dakwah, tidak lantas secara otomatis membuat kami terbebas dari khilaf, alpa dan kelemahan. Mengenakan atribut dakwah, tidak serta merta menjadikan kami sepenuhnya suci.
Kami tetap manusia biasa, dengan kekuatan dan kelemahan, tetap memiliki kekurangan dan kelebihan. Namun yang membuat berbeda, kami memiliki cita dan tekad tentang dakwah ini. Berada di jalan dakwah ini adalah suatu nikmat, sekaligus tanggungjawab yang besar. Kami khawatir, noda yang ada pada kami membuat panji dakwah ini terjatuh, membuat cita ini retak. Terkadang dakwah itu terpuruk oleh pengusungnya sendiri.
Dengan kekurangan dan kelebihan ini, masing-masing di antara kami saling  membutuhkan dan melengkapi. Namun terkadang ada di antara kami yang menjadi beban, menyulitkan teman seperjuangan.
Hanya saja, dari kebaikan kami yang tak seberapa ini, berharap tercurah ampunan dan rahmatNya yang tiada tara, menanti sebaik-baik pertolongan.
***
Tak ada jaminan kemenangan, tak selalu bertemu dengan kemudahan. Aral melintang menjadi ujian dan seleksi, hingga terlihat siapa yang terbaik amalnya, di antara bergulirnya kejayaan dan kekalahan. Hanya orang-orang terpilih dalam ujian yang mendapatkan prestasi terbaik.
Kemenangan lembah Badar terasa lebih manis, tetapi kejatuhan yang terpahat di bukit Uhud lebih menjadi ibrah, tentang kewaspadaan, kesalahan itu mungkin terulang kembali, dakwah ini terpuruk karenanya, berada pada posisi sulit.
“ Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izinNya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu, dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai (harta rampasan). Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema'afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (QS. Ali Imraan:152)
Kesalahan berbuah luka dan kesedihan. Tergelincir di ambang kekalahan. Tetapi dakwah ini tetap milikNya. Sejatuh apa pun yakinlah bahwa Dia akan senantiasa menjaganya.
“(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu.” (QS. Ali Imraan: 153-154)
Di ambang kehancuran, seburuk apapun, tak ada tempat untuk putus asa. Ketika jalan telah buntu, bukan tempat tuk menyerah, masih tetap akan ada titian doa, menjadi jalan lain. Harapan itu akan tetap ada, tetap akan berlanjut, akan bangkit kembali, takkan putus pertolonganNya.
“ Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” (QS. Ali Imraan: 139-141)
Berharap agar Dia memaklumi posisi sulit kami, memaafkan perbuatan kami yang melampaui batas, menolong apa yang berada di luar kemampuan kami, memberi rahmat atas niat tulus kami, jalan keluar yang terbaik dari kesulitan kami, dengan karuniaNya semata.
Juga agar kelemahan menjadi pelajaran, sehingga kita senantiasa ingat, tak lupa diri menghadapi kemenangan, tak takabur dengan keberhasilan, tak lengah sebelum sampai tujuan.
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imraan: 165-166)
Tantangan itu berbuah kemuliaan, membuat kesabaran itu sangat bernilai. Ketidakberdayaan berbuah kepasrahan, meluluhkan keangkuhan. Tak berhenti di gunung Thursina, tak padam di bukit Uhud.

Jumat, 21 Maret 2014

Detik-Detik Kemenangan


“Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”
Perintah Allah untuk mengerjakan qiyamul lail dalam Surat Al Israa’ ayat 79 ini diikuti perintah dalam ayat berikutnya untuk mengucapkan:
“رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا”

“جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا”
Sebuah doa yang sarat makna, "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”
Doa pada detik-detik terakhir menjelang fajar, pada momen-momen di mana maknanya sangat terasa, menjelang sebuah pertempuran yang menentukan.
Mengharap datangnya sebuah kekuasaan yang menolong, sebuah karunia dari sisiNya, atas ketidakberdayaan seorang hamba dalam pergulatan antara yang haq dan bathil.
Menjalani takdir di jalan perjuangan ini...
Kejayaan din ini adalah janji dan ketetapanNya yang telah pasti. Namun tidak semua kita yang berlaga akan berjumpa dengan kemenangan, adakalanya berakhir dalam kekalahan, bahkan kesyahidan. Di antara kemenangan dan kekalahan ini Allah hendak menguji siapa yang terbaik amalnya di antara kita.
Jika laju perjuangan ini terhenti dalam kekalahan atau syahid, sedikit pun tidak akan mengurangi keagungan kerajaanNya dan  kemuliaan umat ini. Kesyahidan sedikit pun jua tidak akan mengurangi kegembiraan orang-orang yang mendapatkannya. Kemenangan Ashabul Kahfi dan kebinasaan Ashabul Ukhdud adalah sama-sama kemenangan bagi Allah dan kekalahan bagi musuh-musuhNya. Kemenangan dan kekalahan tidak menambah manfaat atau mudharatNya sedikit pun, bahkan Dialah yang sebenarnya kuasa menetapkan sepenuhnya.
Kami yakin, apa yang Engkau tetapkan pada kami, adalah pilihan yang terbaik menurut ilmuMu. Jika Engkau tidak memberikan kemenangan kepada kami, mudah-mudahan pilihan ini adalah yang terbaik bagi kami. Jika Engkau hentikan langkah kami ketika ketawadhuan kami masih utuh, lebih baik daripada Engkau mengijinkan kami terus menapaki kemenangan-kemenangan sementara langkah kami kian berbalut noda. Syahid dalam izzah adalah lebih baik daripada menang sebagai pecundang.
Kami ikhlas jika sekedar menjadi sebuah legenda yang menjadi ibrah generasi-generasi sesudah kami, atau menjadi batu pijakan di jalan panjang menuju puncak kemenangan kelak hingga penerus-penerus kami menjadikannya sebagai tumpuan dalam berjalan, atau pun jika hanya menjadi sebutir debu di jalan perjuangan ini yang tidak dikenali orang sedikit pun. Yang terpenting bagi kami adalah agar Engkau senantiasa menjaga menolong kami dengan sebaik-baik pertolongan, agar kami dikuatkan untuk sebaik-baik amal.
Meski di satu sisi kadang kami memberanikan diri untuk berharap agar Engkau memberikan kemenangan kepada kami. Betapa pun terkadang kami merasa tak pantas menggengam cita tentang pembuka pintu kemenangan, menjadi asatidzul alam, sementara masih banyak kekurangan kami miliki. Dan jika Engkau meletakkan panji kemenangan itu di tangan saudara kami yang lain, bukan kepada kami, jadikan kami ikhlas menerimanya, bisa bersikap husnuzhan bahwa mereka lebih pantas menerimanya, Islam ini akan lebih tegak di tangan mereka.
Namun Jika Engkau memberikan panji kemenangan itu di kepada kami, kami merasa tiada lain hanyalah merupakan anugerah dan karuniaMu sebagai hadiah terbaik bagi kami. Kami hanya mengharapkan kemenangan yang Engkau ridhai.
Ya Allah, semoga tipu daya dan kezhaliman yang menimpa kami menjadi tambahan pertolongan bagi kami, menutup kekurangan kami, dan mendekatkan kami kepada apa yang Engkau janjikan, yang senantiasa menjadi pelipur di antara duka dan kekalahan kami, tegaknya din ini di semua tempat yang ada timur dan baratnya.
Ya Allah, begitu dahsyat yang sekian lama menimpa kami, sedang kami hanya hamba-hamba yang lemah semata. Jika saat ini kami belum binasa, hanyalah karena pertolonganMu semata, bukan kehebatan kami. Jika saat ini kami belum binasa, mudah-mudahan terus berlanjut kepada kemenangan yang sebenarnya. Ya Allah berikan keteguhan kepada orang-orang yang memiliki azzam untuk tegaknya din ini secara kafah.
Kuatkan kami agar agar tidak menyia-nyiakan bekal ini ya Rabb,
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.”

Jumat, 17 Januari 2014

Menaklukkan Hati, Kemenangan Sejati

Dapatkah seorang penakluk disebut sempurna dengan sekedar bisa menancapkan hegemoni kekuasaan dan memaksakan dominasi fisik, namun tanpa mampu memadamkan cita perlawanan yang terus bergemuruh, tak pernah surut melewati rentang generasi, hingga mereka yang tak berdaya itu kelak mampu menempatkan sang penakluk dalam lembaran hitam sejarah, menuliskan mereka sebagai penjajah, tak lebih?

Dapatkah suatu kemenangan dianggap sempurna sebatas membuat musuh takluk hingga ia sama sekali tak berkutik untuk melawan, menghajar habis-habisan hingga ia bersimpuh tunduk tak berdaya, sementara hati mereka tetap tegar untuk mengatakan ‘tidak’?

Betapa banyak rezim yang mampu mengukuhkan dominasi dalam waktu yang panjang, seolah mereka tampak sepenuhnya berlutut, namun jiwa mereka menolak mentah-mentah setiap doktrin yang diberikan. Meski kelihatan seperti tak berdaya, ketegaran jiwa mereka tidak sedikitpun melemah, tidak pula luluh.

Pantaskah seorang pemenang sejati merasa puas sekedar bisa memojokkan lawan hingga ia terhina, membungkam semua argumentasinya dengan telak hingga membuat lawan mati kutu, atau mempermalukannya di depan khalayak?


Di balik rasa puasnya mematahkan argumentasi lawan, sebenarnya ia sedang memupuk sikap antipati yang mengobarkan semangat perlawanan di dada mereka, untuk membalasnya suatu hari nanti. Di balik kepongahannya memenangkan perdebatan, justru menjadi tambahan amunisi bagi musuh yang kelak akan bersama-sama menghujamnya. Sikap semena-mena yang ia nikmati, sebenarnya memperpanjang daftar musuh dan membuat barisannya kian kokoh.

Tindakan menuruti kepuasan sesaat itu, bukankah kelak bisa menjadi penyesalan, menjadi bumerang dan tak sedikit pun menyisakan manfaat? Ketika perputaran kejayaan dan kekalahan terus bergulir, keadaan telah berbalik, sang penakluk menjadi tak berdaya, kebesaran dan kemuliaan sudah tak berbekas, kesombongan dan kekuasaan telah tercampakkan, menuai dendam yang sekian lama tersimpan.

Apalah arti kemenangan yang dulu diperoleh? Apa guna unjuk kekuatan dan pamer kekuasaan yang pernah dilakukan? Di antara pilihan antara yang memuaskan pada saat ini dan apa yang lebih bermanfaat suatu saat kelak, sejauh mana akal sehat tetap terjaga, pilihan pada yang sebenarnya bermanfaat.

Saat-saat bisa berbuat apa saja terhadap musuh, sering terabaikan bahwa kelak mereka akan bisa membalas kepahitan yang pernah menimpa. Jika mereka terlihat tak berdaya, kadang terlupakan tentang doa orang-orang terzhalimi yang masih fasih terucap. Mereka yang telah mengakui kekalahan pun, tak serta merta mau diperlakukan semena-mena. Mereka yang mengakui bersalah sekalipun, tak serta merta mau diperlakukan secara hina.

Saat-saat kejayaan itu dalam genggaman, masihkah kesulitan mereka dirasakan? Saat sedang berkecukupan, dapatkah kekurangan mereka dipahami? Saat-saat mampu menghinakan sesuka hati, adakah yang bisa merasakan jika ia mendapat perlakuan serupa? Saat-saat bisa menghukum, bagaimanakah jika suatu saat ia meminta pengampunan. Di antara sesal atas apa yang pernah dilakukan, pada saat-saat merasa membutuhkan mereka.

Alangkah indahnya bila kemenangan itu disempurnakan dengan menaklukkan hati, yang berbuah kemenangan sejati. Kemenangan yang tidak mengecil karena terbagi, buah dari menahan diri, kesabaran untuk mendapat yang lebih banyak.

Bagaimana membuat musuh merasakan sentuhan ketulusan, menaklukkan bara dengan cinta dan kepedulian, merubah antipati menjadi simpati, permusuhan menjadi persahabatan, memperlakukan mereka secara terhormat serta menyuguhkan kebesaran hati. Menyembunyikan nasihat tanpa melukai kehormatan. Menjadi jalan hidayah bagi mereka.

Meski mirip, menaklukkan hati dan memperdaya sepenuhnya berbeda. Akal licik, mengelabuhi dan memperbodoh dengan lihai mungkin lebih mudah merampas banyak hati, atau menuainya lebih cepat, namun buahnya tak bisa sepenuhnya sama dengan buah ketulusan, takkan abadi.

Takluknya hati sepenuhnya menjadi rahasia Sang Pencipta. Kelicikan tak sepenuhnya menjamin hati akan ditaklukkan, begitu pula kecerdikan dan ketulusan, sama-sama bukan jaminan. Ia semata-mata karunia dariNya.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal: 63)

Apakah pemenang sejati sudah merasa cukup puas dengan mendapatkan kemenangan-kemenangan parsial, kemenangan rendahan, terburu-buru merayakan kemenangan itu, puas dengan apa yang diperolehnya, hingga ia terbuai dan enggan melanjutkannya, menyempurnakan kemenangan itu menuju puncak yang sebenarnya?

Wahai para pemenang dunia, tidakkah engkau tertantang untuk menggapai kemenangan yang hakiki, kemenangan akhirat? Ataukah engkau biarkan kemenangan itu jatuh ke tangan orang-orang lemah yang bisa kau injak-injak semaumu?



Jumat, 29 November 2013

Pelajaran dari Kehidupan Seekor Anak Bebek


Dari individu-individu yang masing-masing merasa memiliki ketidak sempurnaan, terlahir kebutuhan untuk saling melengkapi, membentuk suatu kolaborasi yang menjadikan dakwah ini lebih kokoh dalam amal-amal jama’i. Kelebihan dan kekurangan masing-masing individunya menjadikan kolaborasi ini lebih erat, saling mengkait, saling menopang, berbagi tugas. Terhindar dari perasaan merasa super yang menimbulkan sikap egois dan individual.
Masih kuingat cerita yang kudengar diwaktu kecil, peristiwa yang membuat seorang pemburu monyet tersentuh hatinya, membuatnya insyaf.
Ia telah mengarahkan bidikannya, di hadapannya seekor anak monyet bersama sepasang induknya. Namun induk monyet itu tidak lari. Ia melindungi anaknya dalam dekapan. Ketika peluru telah menembus tubuhnya ia serahkan si kecil itu kepada induk jantan, baru ia menjatuhkan dirinya.
Anak bebek, jika engkau saat itu berada di sana mungkin kamu merasa sangat iri. Kerinduanmu akan kasih sempurna yang tak kau dapatkan.
Saat aku masih kecil, kulihat ibu membeli beberapa telur bebek. Telur-telur itu ditaruh di sarang tempat bertelurnya ayam.
“Bebek tidak mengeram, kalau mau menetaskan telurnya dititipkan sama ayam atau menthok,” kata ibu.
“Kalau begitu bebek bertelur terus, tak pernah istirahat?” tanyaku.
Aku pikir menguntungkan sekali si bebek ini, hanya bertelur dan bertelur tak kenal henti, tak seperti ayam yang setelah bertelur beberapa saat mesti berhenti dan menunjukkan tanda-tanda akan mengeram. Apalagi ketika ia kebingungan kesana kemari mencari telurnya yang telah diambil, kasihan juga. Yang kulihat, mengerami telur itu suatu pekerjaan yang menyiksa baginya, hanya sesekali beranjak untuk makan dan membuang kotoran, tubuhnya menjadi kurus. Tapi aku paham sekali kalau ia ikhlas menjalani kodrat ini.
Yang aku tak mengerti, lantas bagaimana keberlangsungan kehidupan bebek-bebek itu sebelum manusia menitipkan telur-telurnya kepada ayam, atau menetaskannya dalam mesin-mesin penetas.
Saat itu aku terlalu kecil untuk bertanya tentang saat-saat ia melewati masa sulit di zaman es selama ribuan tahun, kemusnahan masal kehidupan di bumi akibat hantaman komet atau letusan Toba yang dahsyat. Hanya takdir Allah yang telah menetapkan spesies ini tetap lestari, memberi manfaat bagi kehidupan manusia.
Bahwasanya Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Ketika di satu sisi ada suatu kelebihan, di sisi lain kita mungkin mendapati kekurangan yang serupa. Hingga bagaimana dalam kebersamaan ini kita bisa saling melengkapi, saling meringankan.
Manusia, bebek dan ayam, dari kelebihan dan kekurangannya masing-masing menghasilkan suatu kolaborasi indah. Andai manusia memiliki kemampuan bertelur, bebek mampu mengeram, atau ayam memiliki akal pikir yang sempurna, niscaya kolaborasi ini tidak lagi diperlukan.
Anak bebek, jangan engkau keluhkan takdir tentang indukmu yang tak mampu mengeramimu, tak punya sayap lebar untuk menaungi anak-anaknya, tapi ingat pula takdir kemandirianmu dari saat engkau baru saja menetas, engkau telah diberi kemampuan untuk mengurus kehidupanmu. Selemah inikah kita manusia, ketika keluh kesah atas kekurangan dan kelemahan masih menghiasi hari-hari kita.
Manusia hanya senang dengan produktifitasmu, mendapatimu bertelur tanpa henti. Namun apakah mereka berpikir bahwa di balik itu ada sebuah ketidak sempurnaan, kepiluan dari telur-telur yang ditelantarkan begitu saja.
Juga tentang kenikmatan Islam, yang saat ini kita nikmati, di balik itu ada jerih payah para perintis dakwah yang mendahului kita. Jika kita terkagum-kagum atas pengorbanan dan keteguhan mereka, sebenarnya di balik itu ada pengorbanan dari keluarga-keluarga yang ditelantarkan, anak-anak yang ditinggalkan, kepentingan pribadi yang dikesampingkan, untuk sebuah kepedulian menyampaikan risalah agar manusia-manusia lain menikmatinya.
Mereka yang telah berbuat meski kondisi mereka sendiri dalam keadaan kekurangan, azam yang mereka miliki membuat mereka mampu menyiasati keterbatasan, dari kesulitan-kesulitan itu apa yang mereka lakukan menjadi lebih bernilai.
Meski buah-buah dari pengorbanan itu terkadang telah datang dari arah yang tak dimengerti, waktu dan materi yang dikorbankan diganti dengan rizki atau pertolongan dalam berbagai bentuknya. keluarga dan anak yang ditelantarkan mendapatkan kemudahan atau anugerah dalam bentuk lain. Sebagian dari pahala yang telah bisa dinikmati sebelum pahala yang sesungguhnya di akhirat kelak.
Menikmati buah dari pohon yang ditanam para pendahulu tentunya menjadi kebahagiaan bagi kita. Namun yang semestinya lebih membahagiakan, manakala kita juga menanam pohon serupa yang buah-buahnya akan dinikmati generasi sesudah kita.
Semestinya kita juga tidak hanya menikmati buah-buah dari apa yang telah diusahakan para pendahulu kita. Tapi bagaimana kita melakukan pengorbanan serupa untuk keberlangsungan dakwah ini di masa datang. Buah-buah pengorbanan itu pada hakekatnya akan kembali kepada kita jua.