Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Mei 2015

Jangan Terburu-buru Mengamalkan Sunnah yang Asing

Pernah suatu ketika, Syaikh Shalih Al Fauzan, ditanya oleh seseorang, “‘Ya Syaikh, saya dapatkan sebuah hadits yang shahih. Dan hadits yang shahih ini adalah sebuah sunnah yang banyak ditinggalkan oleh manusia. Yaa Syaikh, jika sunnah ini saya hidupkan di tengah manusia, apakah saya akan mendapatkan pahala?”

Dijawab oleh Syaikh Al Fauzan, “Tidak. Justru engkau akan mendapatkan dosa karena melakukannya. Kecuali sebelum engkau lakukan sunnah itu, engkau ajarkan dulu sunnah itu kepada manusia.”

Begitulah kedalaman jawaban seorang ulama. Tidak semua sunnah yang telah asing di tengah-tengah manusia langsung tiba-tiba diamalkan. hendaknya dia ajarkan dulu sunnah itu kepada manusia, jangan langsung diamalkan sehingga membikin keributan dan terjadi fitnah yang besar.

Dan ini terjadi di kampung-kampung di pelosok daerah sana. Sebagian Muslimin berpegang kuat dengan madzhab Syafi’i.

Pernah ada kejadian ada da’i yang masuk ke sebuah masjid di daerah yang jauh perjalanan menuju ke sana melalui sungai dan menaiki perahu, ia khutbah Jum’at tanpa membaca shalawat dan berdoa di khutbah kedua. Ia khutbah saja seperti biasa, setelah selesai ia hanya baca doa kafaratul majelis lalu turun. Tidak ada baca doa.

Kemudian berdirilah imam masjid tersebut dan dia tanya kepada jama’ah masjid itu, “Bagaimana ini, apakah sah khutbah jum’at yang seperti ini?”

Jawaban jama’ah masjid serempak, “Tidak sah!”

“Kalau begitu, kita shalat zhuhur saja. Tidak ada shalat Jumat hari ini.”

Perhatikankanlah!

Gara-gara praktik khutbah yang dianggap asing, tidak ada yang shalat Jumat satu kampung itu.

Maka hendaknya seseorang mempertimbangkan akibat dari perbuatannya. Sebagian orang yang -masya Allah- semangat dalam mengamalkan sunnah, ia tidak mempertimbangkan bahwa di balik pengamalannya ada mafsadat-mafsadat lain yang ditimbulkannya, yang bisa membahayakan dakwah Rasulullaah -shalallaahu alaihi wa sallam-

Fimadani

Rabu, 06 Mei 2015

Untuk Dakwah ini, untuk Umat ini

Dengan keterbatasan kita menapaki jalan dakwah ini, menyeru kepada dinul Islam ini, untuk meninggikannya, mengajak umat manusia untuk kemuliaannya. Namun harus berhadapan dengan segala tantangan dan problematikannya. Hingga seperti seseorang yang tak berdaya berhadapan dengan peliknya dunia. Tertimpa berbagai tipu daya dan kedzaliman, menghadapi tantangan yang serasa berada di luar kemampuan, bahkan tak lagi dimengerti. Bahkan juga harus menyaksikan kedzaliman menimpa saudara-saudara kita, tanpa kita bisa berbuat apa-apa.

Kesulitan hidup sebenarnya ada di mana-mana, dari urusan pribadi, keluarga, tak terkecuali juga urusan dakwah ini. Lebih terasa bagi mereka yang pernah merasakannya langsung, pernah mengalami cobaan dan kesulitan yang tak kunjung terselesaikan, mengerti rasanya tatkala harus menempuh kesabaran panjang, hingga mendapatkan kebahagiaan ketika pintu terbuka, menjadi jalan keluar yang mengakhiri kesulitannya.

Mereka yang sakit tak kunjung sembuh, pekerjaan yang tak kunjung didapatkan, jodoh yang tak kunjung tiba, terlilit hutang yang tak mampu terbayarkan dan sebagainya. Dakwah ini juga serasa demikian, saat sedang berada dalam kesulitan, penantiannya dan pengharapannya, berharap terwujudnya tujuan dakwah yang diimpikan.

Banyak di antara kita yang tertimpa cobaan, berbagai doa dan ikhtiar serasa amat melelahkan, telah menempuh berbagai upaya, tetapi selalu berujung pada jalan buntu. Saat-saat seperti hampir putus asa, akhirnya ada jalan keluar, mendapatkan solusi dari arah yang tak disangka-sangka, setelah mereka mempersembahkan sebuah amal teristimewa, seperti sedekah yang amat ikhlas. Sepertinya tak masuk akal, tetapi amal tersebut ternyata manjadi wasilah bagi datangnya pertolongan Allah.

Hajat kita terhadap dakwah ini, kesulitan dan cobaan yang menimpanya, semestinya lebih dari hajat kita yang lain. Kerisauan, kepedulian dan kebutuhan kita akan dakwah ini, semestinya lebih besar dari kerisauan kita terhadap cobaan terberat yang pernah menimpa kehidupan duniawi kita. Buah kebaikan dakwah ini adalah kebaikan untuk kita sendiri, ia lebih langgeng, bahkan juga akan menjadi kebaikan untuk segenap umat ini.
Untuk dakwah ini, kesulitan dan cobaan yang menimpanya, pernahkah kita terpikir untuk mempersembahkan amal terbaik, agar dakwah ini dimudahkan dan dikuatkan. Misalnya kita mempersembahkan sebuah sedekah terbaik untuk mengharap datangnya pertolongan bagi dakwah ini.

Tak terbatas sedekah saja, semua amal kebajikan dari yang kita mampu, seremeh menyingkirkan duri dari jalan, memberi minum anjing yang kehausan, membantu kesulitan orang lain, memberi tempat duduk orang lanjut, menyeberangkan jalan, menyingkirkan sampah, serta kebajikan apa saja. Sekecil apapun kesempatan untuk kita bisa berbuat baik, manfaatkan sebaik-baiknya, lakukan setulusnya. Agar kebajikan tersebut menjadi batu pijakan bagi datangnya rahmat dan pertolongan-Nya yang lebih besar, bagi dakwah ini.

Saudaraku, apapun kebajikan yang Allah mampukan untuk kita, baiklah kita jadikan wasilah bagi kemudahan dakwah ini dari kesulitan yang menimpanya. Amal-amal yang tak seberapa, apalagi yang terlahir dari kekurangan dan keterbatasan, yang terlahir dari lubuk hati yang paling tulus, kita persembahkan untuk mengharap rahmat-Nya yang tiada tara, untuk kemenangan dakwah yang kita nantikan selama ini.

Saudaraku, baik kalian yang dikaruniai kelapangan untuk beramal maupun yang berada dalam keterbatasan, kalian yang sedang tertimpa kedzaliman dan lemah teraniaya, atau yang sedang menjalani kesulitan dan cobaan hidup, yang sedang berada pada tempat dan waktu yang mustajab, jadikan setiap amal terbaik yang mampu dilakukan sebagai wasilah untuk memohon pertolongan bagi dakwah ini.

Mohonkan pertolongan untuk mereka yang berada di garis depan dakwah ini, mengorbankan jiwa raga dan memiliki keteguhan melebihi kita. Untuk mereka yang sedang menjalani penderitaan dan kedzaliman, terusir, tertimpa peperangan dan berada dalam penindasan. Untuk mereka yang memiliki cita dan azam terhadap dien ini. Agar Allah menguatkan mereka, menjadi penolong bagi kita dan umat ini.

Berharap sirnanya kejahiliyahan, cahaya dinul Islam menjadi terang benderang menyinari segenap penjuru dunia, tegaknya sunah, serta sempurnanya kemuliaan bagi para ghuraba, menjadi pelipur lara bagi mereka yang telah menanggung kesabaran, mengganti kesempitan dengan kelapangan, dengan sepenuhnya kepasrahan. Berharap masa yang penuh fitnah ini sirna, agar kita lebih mudah lagi dalam menjalankan dinul Islam ini.

Untuk terwujudnya suatu kondisi yang kondusif, sehingga lebih banyak lagi saudara kita yang terselamatkan, lebih banyak lagi yang mengenal dien ini. Saudara-saudara kita, teman-teman kita, yang belum mengenal dinul Islam ini, sedang mereka banyak berbuat kebaikan pada kita, mereka yang sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi baik, agar bisa terengkuh dalam kebersamaan dalam dien ini, menikmati keindahan Islam ini bersama, membalas kebaikan mereka, menyempurnakan kebaikan yang telah mereka lakukan dengan dinul Islam ini.

Agar dunia yang penuh dengan kedzhaliman, berganti dengan keadilan dan kedamaian. Ditampakkan mutiara Islam, tersibak fitnah yang menghalanginya selama ini. Menepis kekhawatiran atas fitnah yang dahsyat di akhir zaman ini, keadaan dunia yang melampaui batas, dari mereka yang bermaksud memadamkan cahaya dinul Islam ini, menghalangi manusia dari jalan Allah.

‘Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa.’ (Yusuf: 110)

***

Ya Allah, jadikan tipu daya dan kedzaliman yang menimpa kami sebagai tambahan pertolongan bagi kami, mendekatkan kami pada apa yang Engkau janjikan dan senantiasa menjadi pelipur lara di antara duka dan kepedihan kami, tegaknya dinul Islam ini pada semua tempat yang ada timur dan baratnya.

Ya Allah, semoga amal yang tak seberapa ini, menjadi pengundang datangnya karunia dan rahmat-Mu yang tiada tara, untuk menutup kekurangan kami, menepis kekhawatiran kami dan menguatkan kelemahan kami. Jadikan kelemahan kami membuat kami lebih bersandar kepada-Mu, dan lebih mengerti akan kesulitan saudara-saudara kami.

Ya Allah, di antara takdir dan fase yang harus kami lalui di jalan dakwah ini, iradah-Mu, rahasia dan hikmahnya, kemenangan dan kekalahannya, kejayaan dan keterpurukannya, tetapkanlah kami dalam kesabaran di dalamnya. Jika Engkau menetapkan kami dalam kekalahan dan keterpurukan dakwah ini, kami yakin tak sedikit pun akan mengurangi kekuasaan-Mu, juga tak sedikit pun mengurangi kemuliaan dakwah ini, ia tetap menjadi simpanan untuk kami kelak. Namun jika Engkau menganugerahkan kemenangan kepada kami sebagaimana yang Engkau janjikan, niscaya akan menjadi karunia yang amat berarti bagi kami.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Dakwatuna)

Selasa, 21 Oktober 2014

Teman Dakwah, dalam Suka dan Dukanya

Bukan yang menemani saat ia dielu-elukan dan mendapatkan sanjungan, tetapi yang bersabar saat ia mendapatkan cercaan, terhina, dan harus menanggung malu bersamanya.

Bukan yang menemani ketika menjemput kemenangan dan disematkan penganugerahan, tapi yang tak berpaling ketika ia berlepotan dengan kotoran, bahkan tak risih membersihkannya.

Bukan saat-saat bermain-main dalam kegembiraan, tetapi setia pada saat-saat harus berlelah memikul beban. Bukan ketika menikmati buahnya, tetapi yang berpayah merawat dan menyianginya.

Tak meninggalkannya dalam keterpurukan, tak membiarkannya dalam kehinaan. Ketika kepercayaan terhadap dakwah ini terkoyak di depan mata, tapi kukuhnya keyakinan di dalam hati membuatnya tetap bertahan. Di antara ujian, fitnah dan rintangan yang menimpanya, ujian yang mesti dilewati bukan hanya kebaikan, tetapi juga keburukan.

Yang tak berpaling oleh fitnah yang menimpa, keteguhan yang tak goyah oleh prasangka, “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.” Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar.” (QS. An Nur: 12, 16)

Nilai kesabaran yang sesungguhnya, yang telah teruji. Nilai bagi mereka yang telah menempuh masa-masa sulitnya. Bukan sebatas pecundang, “Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: "Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka. Dan jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-oleh belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: "Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula).” (QS. An Nisa: 72-73)

Bukan yang menemaninya dalam gegap gempita, tetapi yang mengawali dari kesendirian, dari keterasingan. Ketika nilai sebuah pengorbanan lebih berarti, “Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hadid: 10)

Ridha menemani dalam menempuh kemudahan dan kesulitannya, manis dan pahitnya. Bukan sebatas mengharap keuntungan, tetapi merelakan pengorbanan, “Kalau yang kamu serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah: “Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu.” Mereka membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta.” (QS. At Taubah: 42)

Ridha baik ketika mendapatkan bagian, tetapi juga ridha ketika harus tersisih, “Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah. Jikalau mereka sungguh-sungguh ridha dengan apa yang diberikan Allah dan RasulNya kepada mereka, dan berkata: “Cukuplah Allah bagi kami, Allah akan memberikan sebagian dari karunia-Nya dan demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah,” (tentulah yang demikian itu lebih baik bagi mereka)”. (QS. At Taubah: 58-59)

Sebelum pengorbanan tak dibutuhkan lagi, dan tak berguna suatu amal, “Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: “Tunggulah olehmu sesungguhnya Kamipun menunggu (pula).” (QS. Al An’am: 158)

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa'at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al Baqarah: 254)

Bagi mereka yang telah menyisihkan dirinya, merelakan kepentingannya, “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (QS Al Baqarah: 207)

Dan Allah juga mempersiapkan balasan yang sebaik-baiknya, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 111)

“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. At Taubah: 120-121)

“Dan berapa banyaknya nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran: 146-148)

Tetapi teman sejati itu hanya sedikit, “Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang daripada (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, kecuali sebahagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa.” (QS. Hud: 116)

Yang mendekat ketika kebanyakan manusia enggan, menyapa di saat orang lain menjauh, dan peduli ketika kebanyakan abai, akan berbuah kesan yang lebih membekas di sisi-Nya, dan kelak akan lebih berhak atas anugerah yang sesungguhnya, dalam kemenangannya.


Jumat, 03 Oktober 2014

Terhentinya Laju Kaderisasi Dakwah (Bagian ke-2)

Dari fase membina dan mempersiapkan diri, beranjak menuju medan pertarungan. Bukan lagi sebuah proses sejengkal demi sejengkal, atau satu demi satu, tetapi dipertaruhkannya sebuah cita dakwah, antara terukir dalam sejarah atau lenyap ditelan di dalamnya.

Bukan lagi hanya persoalan membesar dan memperbanyak kekuatan, tetapi sudah harus menghadapi konfrontasi. Bukan cerita tentang mikroorganisme kecil, yang tiada agenda lain kecuali membelah, tetapi tentang pembawa amanah sebagai khalifah di muka bumi, memiliki tugas untuk mewujudkan karya-karya peradaban, sekalipun secara fisik terus menua.

Eksekutor suatu kemenangan tak mesti ditentukan oleh banyaknya jumlah. Juga tak hanya didasarkan pada kekuatan. Kemampuan untuk membaca dan menentukan strategi lebih menjadi penentu, sekalipun secara kuantitas lebih kecil dan sedikit.

Adalah ketika Thalut membawa pasukannya, tatkala dihadapkan pada ujian, sebagian besar dari pasukannya tertinggal. “Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” (QS. Al Baqarah: 249)

Sekelompok kecil yang tersisa, tapi ia telah teruji dan ditempa. “Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al Baqarah: 249-251)

Mereka lebih layak mendapatkan anugerah kemenangan. Sedang besarnya jumlah tanpa keteguhan seringkali menjadi tak berfaedah, bahkan menjadi beban. “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At Taubah: 25-26)

Stagnan atau berguguran, bisa bermakna seleksi bagi orang-orang yang terpilih, tetapi bisa juga bermakna pupusnya suatu cita. Antara terpilih dari suatu rangkaian ujian, tenggelam di dalamnya, atau masih menunggu. Antara terwujudnya buah-buah kemenangan sempurna atau tumbang dalam kekalahan sempurna, atau jika harus memberikan estafet. Harus terus ada suplai energi untuk menjaga keberlangsungannya, yang mungkin tak selesai dalam satu kurun. Untuk tegaknya sebuah pokok, jikapun tidak, untuk terjaganya sebuah benih, untuk keberlangsungan sebuah regenerasi, ketika masih harus menempuh perjalanan panjang sampai batas zaman.


Rabu, 01 Oktober 2014

Terhentinya Laju Kaderisasi Dakwah (Bagian ke-1)

Seperti menyelesaikan sebuah puzzle, pada sebuah permainan di suatu dauroh, kami dibuat melingkar berkelompok, masing-masing anggota menjulurkan tangannya ke depan. Kemudian kami diperintahkan agar saling memegang tangan dengan anggota kelompok yang lain. Setelah itu diperintahkan untuk membentuk sebuah lingkaran, dengan tanpa melepaskan pegangan yang sudah terjalin. Dengan susah payah, akhirnya lingkaran itu terbentuk juga.

Setelah itu kami diminta untuk membuat lingkaran serupa, tetapi dilakukan sambil memejamkan mata. Bedanya, kali ini dipandu dengan instruksi, tangan anggota kelompok nomor sekian dipasangkan dengan anggota nomor sekian secara urut, tidak lagi acak seperti sebelumnya. Meski dilakukan dalam kondisi mata terpejam, lingkaran bisa terbentuk juga.

Pada permainan ke dua, untuk membentuk lingkaran dalam kondisi mata terpejam, tentunya lebih sulit dilakukan daripada pada permainan pertama. Berada dalam kondisi bisa melihat, meski dilakukan secara spontan, acak dan tanpa keteraturan, tugas tetap bisa diselesaikan. Berbeda ketika harus menyelesaikannya dalam kondisi keterbatasan, mata terpejam, tanpa bisa melihat sekeliling. Tetapi arahan dari instruktur yang memandu membuat tugas bisa diselesaikan.

Tak selalu lapang, kadang dihadapkan pada kondisi sempit penuh keterbatasan. Tak selalu mudah, kadang harus melewati keadaan sulit. Pada kondisi bebas pada permainan pertama, spontanitas tanpa terarah sudah memadai untuk terselesaikannya permainan. Tetapi dalam kondisi ada keterbatasan, tidak memadai lagi jika dikerjakan tanpa terorganisir atau tanpa adanya arahan sistematis.

Demikian pula lingkaran halaqah ini, pada awalnya begitu mudah untuk berkembang, terbentuk halaqah-halaqah baru, mendapatkan teman-teman baru. Sampai kemudian merasakan kondisi menjadi stagnan, jangankan untuk terus menambah dan berkembang, untuk mempertahankan yang sudah ada saja terasa berat, ada saja problematikanya.

Menempuh metode dan cara seperti dulu, sepertinya sudah tumpul tidak memadai. Semakin terasa lelah menempuh perjalanan, beban semakin terasa. Merasakan kondisi yang tak seperti dulu, tantangan yang dihadapi telah berbeda. Sebaliknya, kekuatan tak lagi utuh sebagaimana sedia kala.

Perjalanan kian jauh, saat ada tuntutan untuk berjalan lebih cepat. Sebaliknya, energi kian melemah, kian renta, dan lelah. Saat inilah diperlukannya suatu siasat yang berbeda. Fisik akan menua dan melemah, tetapi jiwa bisa tetap terjaga. Menyiasati keterbatasan, membutuhkan strategi yang lebih. Menyiasati kelelahan dalam berjalan, membutuhkan kendaraan untuk menopang perjalanan.

Perjalanan halaqah ini, makin dewasa, makin besar pula tuntutan dan tanggung jawabnya. Tak bisa lagi hanya berkumpul dan bersenang-senang seperti masa anak-anak sedang bermain. Beranjak dewasa, bersama meningkatnya tuntutan untuk mandiri, bahkan saatnya harus menanggung beban orang lain, menghadapi tingkatan ujian yang lebih tinggi.

Bukan hanya untuk tumbuh dan tumbuh, tibalah waktunya untuk berhadapan dengan dunia dan tantangannya. Bukan hanya untuk melenggang, tetapi mesti jua menyibak tantangannya. Masa persiapan telah berlalu, tiba saatnya menjalani pertarungan.

Mewujudkan agenda-agenda dakwah, pasti akan bersinggungan dengan problematika dunia yang tak sederhana. Tak lagi bisa mengandalkan spontanitas, tak hanya asal-asalan. Dibutuhkan langkah yang terarah, terukur dan profesional. Menghadapi keterbatasan diperlukan siasat, membutuhkan terobosan yang sesuai dengan tantangan dan bahkan ketika harus menyiasati kemustahilan.

Kerasnya dunia dengan semua intrik dan tipu dayanya, menyisihkan orang-orang yang lalai, sekalipun kekuatan mereka besar, hanya menjadi bulan-bulanan tak berdaya, terpedaya, terpecundangi, tanpa bisa berbuat apa.

Sebuah episode yang menuntut adanya usaha untuk merajut suatu upaya yang sebaik-baiknya, dengan upaya untuk meraih pertolongan Allah.


Minggu, 03 Agustus 2014

Semestinya Bukan Semata Kekuasaan

Tak terlena oleh kemudahannya, tak patah semangat oleh kesulitannya. Tak larut oleh keberhasilannya, tak putus asa oleh kegagalannya.

Semestinya bukan semata kekuasaan, bukan untuk tujuan-tujuan rendah sesaat, bukan semata kepentingan pribadi, juga bukan hanya untuk jabatan dan kedudukan. Menjadi kemaslahatan bagi kehidupan, membawa kebaikan bagi segenap umat manusia.

Bukan semata kekuasaan, tidak mengukur keberhasilan dan kegagalannya dengan pencapaian-pencapaian duniawi semata. Bagaimana berbuat sebaik-baiknya, tak berkecil hati oleh rintangannya, tak meratapi keterpurukannya.

Kalau hanya semata kekuasaan, semestinya tak apa untuk mengalah, juga tak mengapa untuk mundur. Tetapi karena berkaitan juga dengan roboh dan tegaknya keadilan, menyangkut kepentingan masyarakat yang luas, bahkan perseteruan antara kebenaran dan kebatilan, agar jangan terbersit keinginan untuk mundur walau sejengkal, agar kuatkan bertahan dalam tantangannya, dan tabah dalam kesulitannya.

Karena bukan semata kekuasaan, harus menghadapi tantangan yang lebih berat, tipu daya yang lebih dahsyat, melebihi persaingan duniawi untuk tujuan-tujuan rendah. Harus rela berpayah, menerima perlakuan pahit, tertimpa berbagai tipu daya dan kezhaliman.

Jika bukan semata kekuasaan, akan selalu ada sandaran atas kelemahannya, penolong atas kesulitannya, dan pelindung atas ketidakberdayaannya. Selalu ada jalan ketika tantangan yang harus dihadapi teramat dahsyat di luar kemampuan seorang hamba, bahkan tantangan bertubi-tubi menimpa tanpa bisa lagi dimengerti, saat-saat tak tahu lagi mesti berbuat apa.

Karena bukan semata kekuasaan, jangan sampai kemenangan terbangun di atas cara yang tidak baik, tak pula tersusun oleh kotoran hina, atau tercemar oleh noda.

Kesulitan dan kemudahannya, hasil yang diperoleh dan pengorbanan yang harus direlakannya, keluhan dan kesabarannya, tak kan sia-sia. Kepayahan yang harus dijalani dan buah-buah yang dipetiknya, agar kesemuanya sempurna menjadi kebaikan.


Selasa, 17 Juni 2014

Ramadhan Sebagai Riyadhah Menghadapi Tantangan Dakwah

Dakwah ini dan tantangan yang mesti dihadapi, seringkali beratnya di luar kemampuan kita. Silih berganti terus menimpa, bahkan tanpa sempat kita mengerti. Tak sepantasnya jika kita mengandalkan kekuatan diri semata.

Dari suatu tatsqif menyambut Ramadhan, saya mendapatkan sebuah pesan untuk menjadikan momen Ramadhan ini sebagai upaya melatih diri (riyadhah), apalagi di saat umat dan upaya dakwah ini sedang dalam kondisi yang berat, tantangan yang dihadapinya sungguh luar biasa.

Dakwah ini, semestinya tidak mengandalkan usaha lahir saja. Tak hanya mengajak dan mencegah, menyampaikan nasehat kepada orang-orang atau menggalang kekuatan semata. Semestinya usaha tersebut dilakukan tanpa mengesampingkan upaya mendekatkan diri kepada-Nya, agar menjadi sarana untuk meraih pertolongan-Nya, menutup kelemahan dan kekurangan yang masih kita miliki.

Cita tentang perbaikan umat, semestinya dibarengi upaya meningkatkan keshalihan diri. Seringkali kita mengusung dakwah kepada manusia, sedang diri kita banyak melalaikannya.

Di bulan yang penuh rahmat, rasanya kita dimudahkan melakukan jamaah, shalat malam, puasa, tilawah, sedekah dan berbagai amal ibadah yang lain. Namun persoalannya adalah agar bagaimana tetap bisa istiqomah di bulan-bulan selanjutnya, menjaga kontinyuitas atas latihan yang telah dilakukan dalam satu bulan tersebut. Menjaga kebiasaan-kebiasaan baik tersebut agar tetap terjaga seusai Ramadhan.

Agar semua itu menjadi riyadhah kita, mendekatkan diri kita kepada-Nya. Menjadi bekal menapaki jalan dakwah ini, agar dikuatkan menghadapi berbagai tantangan yang menghadang.

Dakwah ini, kemudahan dan kesulitannya, kegagalan dan keberhasilannya, tentunya tak begitu saja diberikan oleh Sang Pemilik. Kelalaian kita, kekurangan kita, membuat anugerah itu memang belum layak diberikan, kita memang belum pantas menyandang predikat mulia tersebut.

Namun tantangan yang menghadang juga tak selayaknya membuat kita berkecil hati. Dakwah ini bukan untuk kepentingan pribadi atau duniawi semata, sehingga selayaknya kita menggembalikan semua persoalan kepada-Nya. Kita meyakini semuanya adalah di bawah kehendak dan ketetapan dan kekuasaan-Nya, dan kita hanya berupaya.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. al-Anfal: 63)

Kelemahan ini, semestinya menumbuhkan kerendahan hati dan kepasrahan kepada-Nya. Kesulitan ini, semestinya menumbuhkan kebersamaan. Agar dimudahkan dalam memperbaiki diri  dan menuntun kebaikan bagi umat. Sebuah cita untuk merengkuh kebersamaan dalam naungan-Nya.


Jumat, 06 Juni 2014

Futur di Bawah Futur

“Mereka yang menjadi KPPS atau saksi, banyak meninggalkan jamaah. Sudah menunda-nunda waktunya, shalatnya pasti terburu-buru. Pasti juga banyak melalaikan tilawah dan zikirnya.”

Semestinya kita lebih merasakannya, sebelum kritik itu datang, karena kita sendiri mengalaminya. Atau mungkin perih itu malah sudah tak terasa lagi, ruh ini telah lumpuh, terlalu banyak luka yang tergores.

Jujur dengan sesungguhnya, sebagian besar dari kita menjalani semua ini bukan berorientasi pada materi dan kekuasaan. Jika di antara kita ada yang memiliki niat berbeda, itu persoalan lain. Menjalani kepayahan ini bukan untuk tujuan dunia. Tetapi kian hari makin banyak yang tersita oleh hiruk pikuk aktifitas politik ini, memporak-porandakan amal-amal kita. Bukan hanya ibadah kita yang berantakan, makin banyak rambu-rambu syar’i yang (terpaksa) diabaikan, makin terbiasa melangkah di wilayah abu-abu.

Mungkinkah kita salah jalan? Mungkin lebih baik diri ini pergi. Meninggalkan jalan sulit yang harus berpayah-payah menyusurinya. Melepaskan kesulitan ini untuk mengejar kesalihan pribadi. Uzlah, sepertinya lebih mudah untuk ditempuh. Tak perlu lagi direpotkan mereka, tak usah pedulikan mereka. Agar dapat mengkonsentrasikan diri dengan ibadah sepuasnya, tanpa banyak terganggu, menikmati kesendirian bersama-Nya.

Sulit untuk menepis kekhawatiran jika diri ini akan terjerumus bersama mereka. Tetapi sama besarnya atas kekhawatiran jika urusan umat ini diserahkan kepada mereka yang tak berakhlak, tak memiliki  komitmen terhadap dakwah ini. Jika orang baik-baik tak sudi menempuh kotornya jalan ini, hanyalah mereka yang bermental makelar dan para preman yang mau menempuhnya, leluasa menentukan kebijakan publik. Berharap sedikit saja mewarnainya dengan sentuhan dakwah.

Teguh bertahan di jalan ini betapapun sulitnya, di antara hingar bingar godaan yang menghujam, meski dari keteguhan ini, banyak hal dari kami yang luluh lantak. Tetapi untuk membiarkan umat ini dalam kepayahan, meninggalkan mereka tertatih-tatih, rasanya terlalu berat meski juga dibayangi kekhawatiran jika diri ini akan terjerumus bersama mereka. Cinta kami kepada umat ini, berbuah keinginan untuk mengayomi dan menuntun mereka, meski kami sendiri juga tertatih. Keinginan menolong mereka, memaksa kami rela menjalaninya.

Dan harus menjalaninya. Agama ini hidup dari dakwah dan perjuangan. Jangan harap untuk bersenang-senang dan menikmatinya sendiri, tantangan itu tak kan membiarkan begitu saja. Regenerasi agar ia tetap kokoh terjaga, dan terus bisa dinikmati. Mungkin kita sanggup menjalani agama ini meski harus memakan akar-akar pohon, tetapi terpikir juga mereka yang masih butuh untuk dituntun dan dipapah.

Rasulullah dan para sahabat pernah bangun kesiangan dan kehabisan waktu shalatnya ketika ditimpa kepayahan dalam perang. Tetapi hiruk pikuk politik ini sungguh berbeda, jika ia terus menjadi justifikasi atas kemalasan demi kemalasan ini, mungkin akan menghanyutkan keteguhan ini dari sisi yang lain, tanpa terasa. Bentuk lain dari futur, bukan karena pergi dari jalan ini, tetapi karena bertahan teguh di atasnya. Harus melewati satu tantangan menuju tantangan berikutnya, tergerus di jalan perjuangan.

Malu untuk berharap mendulang izzah dari kubangan kehinaan, tetapi di balik ketidakberdayaan ini ada niat mulia yang terselip, sungguh ia tetap suci. Menjaga iman dalam suasana tidak kondusif. Agar Dia memberi pertolongan, tetapi agar kita juga berusaha. (pksnongsa/dakwatuna)

Rabu, 23 April 2014

Mudahkan Ya Allah

Berhadapan dengan gelombang, ketika harus menghadapinya. Atau berjumpa dengan badai, ketika harus melewatinya. Serasa tak kan mampu menghadapinya, mungkin juga serasa tak akan selamat melewatinya.
Jalan buntu, yang hampir memaksa untuk menyerah, tak tahu lagi apa yang mesti dilakukan. Begitu banyak ketidakmungkinan, dari hal-hal kecil dalam keseharian, hingga perkara besar yang menyangkut sebuah negeri.
Kesulitan hidup yang seperti tak kan terpecahkan, sakit yang seolah tak menyisakan harapan untuk sembuh, hingga sebuah negeri yang terbelit dalam cengkeraman kezhaliman, terjajah oleh perilaku nista, seolah tak bisa diperbaiki lagi, tak tahu jalan untuk membebaskan diri. Bahkan ketika harus menghadapi suatu prahara atau revolusi yang berat, seperti menghadapi pertarungan yang berdarah-darah.
Betapapun besarnya aral, ketika ia telah terlampaui, tak sehoror ketika baru akan menghadapinya. Seperti yang dirasakan mereka yang selamat dari sebuah bencana yang dahsyat. Apalagi orang-orang, dirinya sendiri bahkan tak mengerti, merasakan betul suatu keajaiban. Mereka yang pernah melewati kesulitan hidup yang berat, merasakan betul adanya keberuntungan.
Negeri yang pernah merasakan cengkeraman imperialisme dunia, serasa tak berdaya, tapi tak menyurutkan cita untuk meraih kemerdekaan. Cita yang seolah teramat jauh untuk dituju, teramat tinggi untuk digapai. Ternyata yang terjadi, ada jalan tak terduga yang mempermudah kemerdekaan itu tercapai, sesuatu yang tak mungkin kemudian menjadi terwujud. Betapa banyak rezim yang kokoh, seperti tak akan runtuh, namun dalam sekejap segalanya berubah. Kekuasaan begitu mudah untuk berganti, tak terbayangkan situasi begitu mudah berubah.
***
Dunia ini, zaman ini, dalam cengkeraman kezhalimannya, belitan kerusakannya, tak berdaya menghadapinya, seolah tak lagi bisa diperbaiki. Betapapun beratnya, menjaga tekad untuk memperbaikinya agar tetap hidup, agar tak menyurutkan ikhtiar. Dari ikhtiar yang tak seberapa ini, berbuah pertolongan-Nya, agar diberi kemudahan, sebuah jalan keluar yang terbaik.
Apa yang mustahil menjadi mudah, apa yang tak mungkin akhirnya terwujud. Agar dari kelemahan ini, lebih terasa kebutuhan akan pertolongan-Mu, hingga kami lebih merendahkan diri kepada-Mu. Apapun yang kami capai nantinya, tetap dirasa bukan karena kekuatan dan kehebatan kami, melainkan pertolongan dan karunia-Mu semata, sehingga sempurna syukur kami kepada-Mu.
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali ‘Imran: 186)
Semakin beratnya ujian yang dihadapi adalah semakin besar kemuliaan yang di dapat. Tetapi kami merasa terlalu lemah untuk memikulnya, berharap dimudahkan, diringankan, mendapat karunia dari ampunan dan rahmat-Mu.
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqarah:186)

Selasa, 22 April 2014

Menatap Kekalahan

Telah kesekian kalinya, dipaksa untuk menerima kekalahan. Tak ada lagi pilihan, dibuat tak berdaya. Kali ini mungkin juga terulang, hanya bisa termanggu membiarkan mereka melibas dan memporak-porandakan semuanya.
Pada titik terendah kelemahan seorang hamba, yang tak lagi bisa berbuat apa, hingga membuat angan tentang strategi dan optimisme terlalu naif, tetapi bayang tentang kekalahan dan menyerah juga terlalu pahit.
Di antara dahsyatnya intrik dan tipu daya, hingga semua yang dipersiapkan untuk menghadapinya menjadi urung, tanpa tahu apa yang mesti dilakukan, tetapi tidak dengan doa, ia akan senantiasa bisa terucap, bahkan menjadi lebih berarti pada hamba-hamba yang berada dalam keadaan lemah terzhalimi. Bersimpuh dan kepasrahan, dalam ketidakberdayaan menjadi lebih bermakna, berharap membalikkan suatu ketidakmungkinan.
Tak apa kami tumbang dan binasa, tetapi cita ini ya Rabb, mohon untuk diselamatkan, agar ia tetap hidup, dan menyelamatkan kami. Di antara banyaknya kealpaan kami, masih tersisa pengharapan terhadap-Mu. Di antara banyaknya hamba-hamba yang lalai di antara kami, ada jiwa-jiwa yang tsiqah memegang cita tentang umat ini, teguhkan mereka dengan sebaik-baik karunia-Mu, berikan kekuatan agar menjadi penolong kami.
Berharap dari kejatuhan ini, mendapatkan jalan lain yang lebih baik. Dari kekalahan ini, menjumpai kemenangan yang lebih besar esok. Kemenangan sempurna, yang bertolak dari ketidakmungkinan. Agar drama kehidupan ini lebih spektakuler, menjadi rangkaian cerita yang indah. Sebuah prestasi menjadi lebih berharga manakala ia telah melewati kesulitan-kesulitan besar.
Yakinkan kami, Kemenangan-kemenangan musuh itu tak lebih dari tipu daya-Mu, untuk sempurnanya kemenangan kami. Ketika tipu daya telah sempurna, semua hampir tercapai, mata mereka terbelalak dan berkata: “Celaka kami, sesungguhnya kami berada dalam kelengahan tentang ini.” Membuyarkan semua yang telah tersusun, yang tinggal selangkah. Berhadapan dengan sebaik-baik Pembuat tipu daya.
Aral, tak tergambarkan sebelum ia datang, amat berat dirasa tatkala berjumpa, namun setelah berlalu ia menjadi ringan. Seperti tertatih dan payah di kegelapan malam, namun sebentar lagi menyongsong fajar. Tak seperti berada di puncak kemenangan yang megah, namun sebentar lagi malam menjelang, sepahit menatap kekalahan.
Kesabaran untuk menanti sebuah janji yang pasti,
“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Az Zikr (Lauh Mahfuzh), bahwasanya bumi ini akan diwarisi ole hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. Al Anbiyaa’: 105)
Kemenangan untuk hamba-hamba yang terpilih,
“ Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur: 55)

Rabu, 26 Maret 2014

Uhud, Thursina, Mozaik Harapan di Ambang Kehancuran

Saat-saat hanya bisa berharap, pasrah tanpa ada pilihan lain. Berbekal keyakinan semata, janjiNya telah pasti. Agar ketika kelak kesombongan hendak singgah, segera beranjak, menuju pilihan lain, menempuh jalan syukur dan tawadhu’.
Meredup tapi tak padam, memudar tapi tak lenyap, terjatuh tapi menggeliat lagi. Sejenak terhenti, tetapi akan bangun, meneruskan langkah, mengalir sampai ke akhir muaranya. Tetap hidup, takkan pernah ada yang membuatnya berhenti sama sekali.
Lelah dalam penantian panjang. Mengkhawatirkan habisnya kesabaran yang dimiliki, sementara perjalanan mungkin masih jauh. Tetapi kemenangan itu telah menjadi ketetapanNya, agar tekad dan kesabaran tetap utuh.
***
Berbagai karunia Allah kepada Bani Israil berbalas kedurhakaan mereka kepada Nabi Musa. Di ambang azab, tatkala gempa mulai terasa, sebuah bentuk belas kasih Nabi Musa kepada kaumnya, terucap permohonan terakhir untuk sebuah ampunan:
"Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (QS. Al A’raaf: 155)
Pertolongan dan ampunanNya takkan habis, sekalipun di antara hamba-hamba yang menzhalimi dirinya, asal tidak berputus asa.
***
Kami tak sebaik Nabiyullah Musa ‘alaihissalam, tapi juga tak seburuk para pembangkang dari kaumnya. Kami meniti jalan dakwah ini, sekalipun berada di barisan terbelakangnya. Kami menjadi penuntun umat ini, sementara langkah kami sendiri terkadang masih tertatih. Tanggung jawab yang besar terpikul di pundak kami, sementara kami sebenarnya masih membutuhkan penopang saat-saat goyah.
Dengan menyandang predikat sebagai pengusung panji dakwah, tidak lantas secara otomatis membuat kami terbebas dari khilaf, alpa dan kelemahan. Mengenakan atribut dakwah, tidak serta merta menjadikan kami sepenuhnya suci.
Kami tetap manusia biasa, dengan kekuatan dan kelemahan, tetap memiliki kekurangan dan kelebihan. Namun yang membuat berbeda, kami memiliki cita dan tekad tentang dakwah ini. Berada di jalan dakwah ini adalah suatu nikmat, sekaligus tanggungjawab yang besar. Kami khawatir, noda yang ada pada kami membuat panji dakwah ini terjatuh, membuat cita ini retak. Terkadang dakwah itu terpuruk oleh pengusungnya sendiri.
Dengan kekurangan dan kelebihan ini, masing-masing di antara kami saling  membutuhkan dan melengkapi. Namun terkadang ada di antara kami yang menjadi beban, menyulitkan teman seperjuangan.
Hanya saja, dari kebaikan kami yang tak seberapa ini, berharap tercurah ampunan dan rahmatNya yang tiada tara, menanti sebaik-baik pertolongan.
***
Tak ada jaminan kemenangan, tak selalu bertemu dengan kemudahan. Aral melintang menjadi ujian dan seleksi, hingga terlihat siapa yang terbaik amalnya, di antara bergulirnya kejayaan dan kekalahan. Hanya orang-orang terpilih dalam ujian yang mendapatkan prestasi terbaik.
Kemenangan lembah Badar terasa lebih manis, tetapi kejatuhan yang terpahat di bukit Uhud lebih menjadi ibrah, tentang kewaspadaan, kesalahan itu mungkin terulang kembali, dakwah ini terpuruk karenanya, berada pada posisi sulit.
“ Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izinNya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu, dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai (harta rampasan). Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema'afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (QS. Ali Imraan:152)
Kesalahan berbuah luka dan kesedihan. Tergelincir di ambang kekalahan. Tetapi dakwah ini tetap milikNya. Sejatuh apa pun yakinlah bahwa Dia akan senantiasa menjaganya.
“(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu.” (QS. Ali Imraan: 153-154)
Di ambang kehancuran, seburuk apapun, tak ada tempat untuk putus asa. Ketika jalan telah buntu, bukan tempat tuk menyerah, masih tetap akan ada titian doa, menjadi jalan lain. Harapan itu akan tetap ada, tetap akan berlanjut, akan bangkit kembali, takkan putus pertolonganNya.
“ Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” (QS. Ali Imraan: 139-141)
Berharap agar Dia memaklumi posisi sulit kami, memaafkan perbuatan kami yang melampaui batas, menolong apa yang berada di luar kemampuan kami, memberi rahmat atas niat tulus kami, jalan keluar yang terbaik dari kesulitan kami, dengan karuniaNya semata.
Juga agar kelemahan menjadi pelajaran, sehingga kita senantiasa ingat, tak lupa diri menghadapi kemenangan, tak takabur dengan keberhasilan, tak lengah sebelum sampai tujuan.
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imraan: 165-166)
Tantangan itu berbuah kemuliaan, membuat kesabaran itu sangat bernilai. Ketidakberdayaan berbuah kepasrahan, meluluhkan keangkuhan. Tak berhenti di gunung Thursina, tak padam di bukit Uhud.

Jumat, 21 Maret 2014

Detik-Detik Kemenangan


“Dan pada sebahagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.”
Perintah Allah untuk mengerjakan qiyamul lail dalam Surat Al Israa’ ayat 79 ini diikuti perintah dalam ayat berikutnya untuk mengucapkan:
“رَبِّ Ø£َدْØ®ِÙ„ْÙ†ِÙŠ Ù…ُدْØ®َÙ„َ صِدْÙ‚ٍ ÙˆَØ£َØ®ْرِجْÙ†ِÙŠ Ù…ُØ®ْرَجَ صِدْÙ‚ٍ ÙˆَاجْعَÙ„ْ Ù„ِÙŠ Ù…ِÙ†ْ Ù„َدُÙ†ْÙƒَ سُÙ„ْØ·َانًا Ù†َصِيرًا”

“جَاءَ الْØ­َÙ‚ُّ ÙˆَزَÙ‡َÙ‚َ الْبَاطِÙ„ُ Ø¥ِÙ†َّ الْبَاطِÙ„َ Ùƒَانَ زَÙ‡ُوقًا”
Sebuah doa yang sarat makna, "Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong. Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”
Doa pada detik-detik terakhir menjelang fajar, pada momen-momen di mana maknanya sangat terasa, menjelang sebuah pertempuran yang menentukan.
Mengharap datangnya sebuah kekuasaan yang menolong, sebuah karunia dari sisiNya, atas ketidakberdayaan seorang hamba dalam pergulatan antara yang haq dan bathil.
Menjalani takdir di jalan perjuangan ini...
Kejayaan din ini adalah janji dan ketetapanNya yang telah pasti. Namun tidak semua kita yang berlaga akan berjumpa dengan kemenangan, adakalanya berakhir dalam kekalahan, bahkan kesyahidan. Di antara kemenangan dan kekalahan ini Allah hendak menguji siapa yang terbaik amalnya di antara kita.
Jika laju perjuangan ini terhenti dalam kekalahan atau syahid, sedikit pun tidak akan mengurangi keagungan kerajaanNya dan  kemuliaan umat ini. Kesyahidan sedikit pun jua tidak akan mengurangi kegembiraan orang-orang yang mendapatkannya. Kemenangan Ashabul Kahfi dan kebinasaan Ashabul Ukhdud adalah sama-sama kemenangan bagi Allah dan kekalahan bagi musuh-musuhNya. Kemenangan dan kekalahan tidak menambah manfaat atau mudharatNya sedikit pun, bahkan Dialah yang sebenarnya kuasa menetapkan sepenuhnya.
Kami yakin, apa yang Engkau tetapkan pada kami, adalah pilihan yang terbaik menurut ilmuMu. Jika Engkau tidak memberikan kemenangan kepada kami, mudah-mudahan pilihan ini adalah yang terbaik bagi kami. Jika Engkau hentikan langkah kami ketika ketawadhuan kami masih utuh, lebih baik daripada Engkau mengijinkan kami terus menapaki kemenangan-kemenangan sementara langkah kami kian berbalut noda. Syahid dalam izzah adalah lebih baik daripada menang sebagai pecundang.
Kami ikhlas jika sekedar menjadi sebuah legenda yang menjadi ibrah generasi-generasi sesudah kami, atau menjadi batu pijakan di jalan panjang menuju puncak kemenangan kelak hingga penerus-penerus kami menjadikannya sebagai tumpuan dalam berjalan, atau pun jika hanya menjadi sebutir debu di jalan perjuangan ini yang tidak dikenali orang sedikit pun. Yang terpenting bagi kami adalah agar Engkau senantiasa menjaga menolong kami dengan sebaik-baik pertolongan, agar kami dikuatkan untuk sebaik-baik amal.
Meski di satu sisi kadang kami memberanikan diri untuk berharap agar Engkau memberikan kemenangan kepada kami. Betapa pun terkadang kami merasa tak pantas menggengam cita tentang pembuka pintu kemenangan, menjadi asatidzul alam, sementara masih banyak kekurangan kami miliki. Dan jika Engkau meletakkan panji kemenangan itu di tangan saudara kami yang lain, bukan kepada kami, jadikan kami ikhlas menerimanya, bisa bersikap husnuzhan bahwa mereka lebih pantas menerimanya, Islam ini akan lebih tegak di tangan mereka.
Namun Jika Engkau memberikan panji kemenangan itu di kepada kami, kami merasa tiada lain hanyalah merupakan anugerah dan karuniaMu sebagai hadiah terbaik bagi kami. Kami hanya mengharapkan kemenangan yang Engkau ridhai.
Ya Allah, semoga tipu daya dan kezhaliman yang menimpa kami menjadi tambahan pertolongan bagi kami, menutup kekurangan kami, dan mendekatkan kami kepada apa yang Engkau janjikan, yang senantiasa menjadi pelipur di antara duka dan kekalahan kami, tegaknya din ini di semua tempat yang ada timur dan baratnya.
Ya Allah, begitu dahsyat yang sekian lama menimpa kami, sedang kami hanya hamba-hamba yang lemah semata. Jika saat ini kami belum binasa, hanyalah karena pertolonganMu semata, bukan kehebatan kami. Jika saat ini kami belum binasa, mudah-mudahan terus berlanjut kepada kemenangan yang sebenarnya. Ya Allah berikan keteguhan kepada orang-orang yang memiliki azzam untuk tegaknya din ini secara kafah.
Kuatkan kami agar agar tidak menyia-nyiakan bekal ini ya Rabb,
“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.”

Senin, 10 Februari 2014

Imam Hasan Al Bana, Ustadzul Alam, dalam Cita Petani


Telah sering dikatakan bahwa Rasulullah adalah seorang pengembala yang baik, pedagang yang baik, kepala keluarga yang baik, panglima perang yang baik dan pemimpin negara yang baik. Namun satu hal yang mengganjal bagi para petani ketika disebutkan bahwa Rasulullah bukanlah petani yang baik.

Pandangan demikian bisa jadi berangkat dari sebuah kisah tentang Rasulullah dan penyerbukan kurma. Tetapi dari kejadian tersebut terpetik sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kemaslahatan umat manusia. Dari ungkapan “Engkau lebih mengetahui urusan duniamu,” terlahir kaidah yang menempatkan dengan proporsional kerasulan Beliau Salallahu alaihi wassalam dengan tugas kekhalifahan yang diemban umat manusia dalam upayanya memakmurkan bumi.

Dalam taujihnya beberapa tahun silam, Ustadz Anis Matta memaparkan bahwa cita jamaah ini tentang ustadzul alam, cita untuk menjadi guru bagi dunia, bermula dari Imam Hasan Al Bana dan sekelompok petani.

Petani? Semuliakah itu? Bukankah penyebaran agama Islam ini sejak generasi awal hingga lebih banyak merupakan jasa para pedagang yang mengembara menjelajahi berbagai negeri? Termasuk juru dakwah yang membawa Islam ke Nusantara ini adalah para pedagang, pengembara-pengembara tangguh, bukan petani yang berdiam di ladang-ladang mereka.

Dilihat dari beberapa sisi memang seolah-olah Islam lebih mengutamakan perdagangan, termasuk memberi nilai lebih pada aspek kejujuran para pedagang. Profesi yang memungkinkan lebih banyak menjalin interaksi dan mendapatkan relasi dengan banyak orang. Meski secara keseluruhan  Islam menghargai semua pekerjaan yang bermanfaat, baik berupa pemecah batu, mencari kayu bakar, menggembalakan ternak, bercocok tanam maupun berdagang. Islam menghargai semua upaya untuk mencari penghidupan dengan jerih payah yang diupayakan tangannya sendiri, serta mencela kemalasan dan mental bergantung pada orang lain atau menjadi peminta-minta.

Dari sisi kewajiban zakat bagi petani yang seolah lebih berat, sepertinya di balik itu memang Islam sengaja mengkondisikan umatnya untuk tidak terlalu berkutat pada pertanian. Selain aspek pertanian lebih banyak memanfaatkan nikmat Allah di alam, sebuah hikmah yang tersembunyi di balik keadilan suatu syariat kemudian terkuak. Pasca Rasulullah hasilnya segera terlihat, umat Islam menguasai perdagangan dunia, ke negeri India, Cina dan terutama lalu lintas perdagangan di Laut Tengah, sekaligus mengurung bangsa Eropa pada suatu fase kemunduran peradaban, terkurung di ladang-ladang mereka sebagai petani.
Dengan mendorong umatnya menjadi pedagang, Islam mendapatkan posisi yang lebih kuat secara politik maupun ekonomi. Penguasaan sektor perdagangan pada masa tersebut lebih strategis dibandingkan dengan terpaku pada pertanian.

Era industrialisasi tiba, situasi dunia banyak berubah, pertanian tergilas dan terpinggirkan. Menjadi petani kebanyakan adalah keterpaksaan atau pilihan terakhir ketika tidak mampu mendapatkan profesi lain yang lebih baik. Kondisi alam yang makin tidak ramah dan industrialisasi menjadi pukulan berat bagi petani pada era ini. Petani menempati posisi sebagai profesi dhuafa, bahkan bisa dikatakan sulit untuk eksis tanpa dukungan subsidi dan berbagai kebijakan protektif dari negara.

Sekian lama dikesampingkan, kenyataan lain dihadapi, ketahanan pangan suatu negara adalah variabel penting bagi kedaulatan negara tersebut. Ternyata kemajuan industri tidak membuat pertanian bisa serta merta dikesampingkan.

Perdagangan, Pertanian dan Karakteristik Zaman

Mengutamakan perdagangan adalah sebuah pilihan tepat, dalam perspektif karakteristik zaman pada masa salaful umah tersebut. Ketika Islam berada pada fase perkembangan, Islam membutuhkan karakter pedagang-pedagang tangguh, yang memiliki kemampuan logistik tak terbatas untuk mengembara ke berbagai negeri menyebarluaskan dakwah, bukan para petani yang mobilitasnya terbatas di kampung halamannya.

Dunia memasuki era digital dan teknologi informasi. Interaksi sosial tidak lagi mengenal jarak. Dakwah kemudian tidak terbatas pada pengembaraan fisik.

Karakteristik akhir zaman kelak ketika Islam telah menyebar dengan sempurna akan berbeda. Ketika Islam berada pada fase pemeliharaan, Islam lebih membutuhkan karakter pemelihara. Dan karakter tersebut ada pada petani.

Kebahagiaan Akhir Zaman adalah Kabar Gembira bagi Petani

Dari beberapa atsar tentang kebahagiaan akhir zaman, digambarkan tentang kesuburan seluruh penjuru muka bumi, keberkahan tanaman dan hasil ternaknya. Setelah sebelumnya kekayaan yang keluar dari perut bumi tidak mampu memberi kedamaian, kemegahan dunia tak memberi kebahagiaan penduduknya. Kemudian akan terjadi saat yang diimpikan.

“Langit akan setia menurunkan hujan dan bumi subur dengan tanaman yang menghasilkan dan bermanfaat, meskipun kamu menaburkan benih di atas sebuah batu yang licin. Manusia dengan singa hidup berdampingan tanpa saling membunuh, menginjak ular berbisa sekalipun tidak berbahaya. Tidak akan ada kebencian atau permusuhan.”
“Tumbuhkanlah buah-buhanmu dan keluarkanlah semua barakahmu, sehingga orang-orang cukup makan satu buah delima dan dapat benaung dengan kulitnya, susu juga diberi berkah, sehingga satu unta cukup untuk beberapa kelompok bangsa dan satu lembu cukup untuk beberapa kelompok orang.”

Cita tentang ustadzul alam, menjadi guru bagi dunia, adalah cita yang memiliki makna paling dalam, lebih tinggi dari keinginan menjadi penakluk atau penguasa dunia semata. Sehingga sudah semestinya cita yang berharga ini diikutu kesungguhan untuk menjaga dan mewujudkannya.
Wallahua’lambishawwab.


Jumat, 17 Januari 2014

Menaklukkan Hati, Kemenangan Sejati

Dapatkah seorang penakluk disebut sempurna dengan sekedar bisa menancapkan hegemoni kekuasaan dan memaksakan dominasi fisik, namun tanpa mampu memadamkan cita perlawanan yang terus bergemuruh, tak pernah surut melewati rentang generasi, hingga mereka yang tak berdaya itu kelak mampu menempatkan sang penakluk dalam lembaran hitam sejarah, menuliskan mereka sebagai penjajah, tak lebih?

Dapatkah suatu kemenangan dianggap sempurna sebatas membuat musuh takluk hingga ia sama sekali tak berkutik untuk melawan, menghajar habis-habisan hingga ia bersimpuh tunduk tak berdaya, sementara hati mereka tetap tegar untuk mengatakan ‘tidak’?

Betapa banyak rezim yang mampu mengukuhkan dominasi dalam waktu yang panjang, seolah mereka tampak sepenuhnya berlutut, namun jiwa mereka menolak mentah-mentah setiap doktrin yang diberikan. Meski kelihatan seperti tak berdaya, ketegaran jiwa mereka tidak sedikitpun melemah, tidak pula luluh.

Pantaskah seorang pemenang sejati merasa puas sekedar bisa memojokkan lawan hingga ia terhina, membungkam semua argumentasinya dengan telak hingga membuat lawan mati kutu, atau mempermalukannya di depan khalayak?


Di balik rasa puasnya mematahkan argumentasi lawan, sebenarnya ia sedang memupuk sikap antipati yang mengobarkan semangat perlawanan di dada mereka, untuk membalasnya suatu hari nanti. Di balik kepongahannya memenangkan perdebatan, justru menjadi tambahan amunisi bagi musuh yang kelak akan bersama-sama menghujamnya. Sikap semena-mena yang ia nikmati, sebenarnya memperpanjang daftar musuh dan membuat barisannya kian kokoh.

Tindakan menuruti kepuasan sesaat itu, bukankah kelak bisa menjadi penyesalan, menjadi bumerang dan tak sedikit pun menyisakan manfaat? Ketika perputaran kejayaan dan kekalahan terus bergulir, keadaan telah berbalik, sang penakluk menjadi tak berdaya, kebesaran dan kemuliaan sudah tak berbekas, kesombongan dan kekuasaan telah tercampakkan, menuai dendam yang sekian lama tersimpan.

Apalah arti kemenangan yang dulu diperoleh? Apa guna unjuk kekuatan dan pamer kekuasaan yang pernah dilakukan? Di antara pilihan antara yang memuaskan pada saat ini dan apa yang lebih bermanfaat suatu saat kelak, sejauh mana akal sehat tetap terjaga, pilihan pada yang sebenarnya bermanfaat.

Saat-saat bisa berbuat apa saja terhadap musuh, sering terabaikan bahwa kelak mereka akan bisa membalas kepahitan yang pernah menimpa. Jika mereka terlihat tak berdaya, kadang terlupakan tentang doa orang-orang terzhalimi yang masih fasih terucap. Mereka yang telah mengakui kekalahan pun, tak serta merta mau diperlakukan semena-mena. Mereka yang mengakui bersalah sekalipun, tak serta merta mau diperlakukan secara hina.

Saat-saat kejayaan itu dalam genggaman, masihkah kesulitan mereka dirasakan? Saat sedang berkecukupan, dapatkah kekurangan mereka dipahami? Saat-saat mampu menghinakan sesuka hati, adakah yang bisa merasakan jika ia mendapat perlakuan serupa? Saat-saat bisa menghukum, bagaimanakah jika suatu saat ia meminta pengampunan. Di antara sesal atas apa yang pernah dilakukan, pada saat-saat merasa membutuhkan mereka.

Alangkah indahnya bila kemenangan itu disempurnakan dengan menaklukkan hati, yang berbuah kemenangan sejati. Kemenangan yang tidak mengecil karena terbagi, buah dari menahan diri, kesabaran untuk mendapat yang lebih banyak.

Bagaimana membuat musuh merasakan sentuhan ketulusan, menaklukkan bara dengan cinta dan kepedulian, merubah antipati menjadi simpati, permusuhan menjadi persahabatan, memperlakukan mereka secara terhormat serta menyuguhkan kebesaran hati. Menyembunyikan nasihat tanpa melukai kehormatan. Menjadi jalan hidayah bagi mereka.

Meski mirip, menaklukkan hati dan memperdaya sepenuhnya berbeda. Akal licik, mengelabuhi dan memperbodoh dengan lihai mungkin lebih mudah merampas banyak hati, atau menuainya lebih cepat, namun buahnya tak bisa sepenuhnya sama dengan buah ketulusan, takkan abadi.

Takluknya hati sepenuhnya menjadi rahasia Sang Pencipta. Kelicikan tak sepenuhnya menjamin hati akan ditaklukkan, begitu pula kecerdikan dan ketulusan, sama-sama bukan jaminan. Ia semata-mata karunia dariNya.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal: 63)

Apakah pemenang sejati sudah merasa cukup puas dengan mendapatkan kemenangan-kemenangan parsial, kemenangan rendahan, terburu-buru merayakan kemenangan itu, puas dengan apa yang diperolehnya, hingga ia terbuai dan enggan melanjutkannya, menyempurnakan kemenangan itu menuju puncak yang sebenarnya?

Wahai para pemenang dunia, tidakkah engkau tertantang untuk menggapai kemenangan yang hakiki, kemenangan akhirat? Ataukah engkau biarkan kemenangan itu jatuh ke tangan orang-orang lemah yang bisa kau injak-injak semaumu?