Senin, 30 Juni 2014

Mengeja Iman, Memaknai Pluralisme

Kawan, kerisauanku padamu lebih terasa perih, bukan oleh sakit yang engkau hujamkan, tapi oleh budi yang engkau tanam padaku.

Kawan, perih bila mengingat kebaikan-kebaikanmu di antara persahabatan kita, sedang di antara kita ada perbedaan keyakinan.

Kepedihan yang ditimpakan Abu Jahal memang sakit, tapi lebih perih lagi kebaikan yang ditanamkan Abu Thalib. Kerisauan tentang orang-orang terkasih, sahabat-sahabat terbaik, yang belum menerima hidayah.

Aku memandangmu seperti berada di tepi jurang neraka, setulusnya aku ingin menyelamatkanmu, agar engkau beranjak kemari bersamaku. Tetapi sama halnya juga, engkau justru melihatku seperti berada di tepi jurang neraka, mengingatkanku, memanggil-manggilku untuk menyelamatkanku.

Aku tahu engkau merisaukanku yang masih menjadi domba yang tersesat, sebagaimana aku juga memandangmu belum beriman kepada-Nya. Engkau mengkhawatirkan aku yang belum memuliakan anak-Nya yang terkasih, sebagaimana aku merisaukanmu yang menduakan Dia yang tidak beranak dan tidak diperanakkan.

Jika aku mengajakmu, bukan karena aku dengki kepadamu, tapi rasa sayangku padamu untuk menyelamatkanmu. Bukankah engkau juga bersikap demikian kepadaku kawan?

Aku ingin memaksamu, tapi tak bisa dan tak mungkin. Tak ada nilai untuk sebuah keterpaksaan. Menjadi bernilai oleh kesadaran yang telah teruji, bukanoleh suatu keotomatisan yang diberikan begitu saja.

Kawan, aku sepenuhnya meyakini telah berada di jalan yang benar, sebagaimana keyakinanmu pada jalan yang engkau tempuh juga demikian. Jika di hari keputusan nanti, aku benar dan engkau salah, aku sudah sulit membayangkannya. Tapi jika di hari itu justru aku yang salah dan engkau benar, aku lebih sulit untuk membayangkannya.

Sepenuhnya bersungguh-sungguh, mempersembahkan pengabdian yang setulusnya, tapi tertolak di hadapan-Nya, keyakinan itu ternyata keliru. Bagaimana jika aku selamat dan engkau celaka, tapi bagaimana juga jika engkau yang selamat dan aku yang celaka.

Kawan, kita bisa menghilangkan sejenak kerisauan ini dengan sebuah konsep yang bernama pluralisme, memang ia menjadi obat yang menghilangkan semua kerisauan di antara persahabatan kita, tapi ia semu, ia menipu, ia menjadi pembiaran. Sampai ketika hari itu telah tiba, segalanya sudah terlambat, tak ada kesempatan tuk kembali.

Akal sehat kita sepakat bahwa di antara berbagai informasi yang saling bertentangan tentang suatu hal, maksimal hanya satu yang benar. Inilah yang membuat kita harus berusaha, mau tidak mau, atau akan terlambat sama sekali, untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya.

Menentukan pedoman hidup yang dipilih, menemukan firman-Nya yang sebenarnya, sebaik-baik usaha, dengan sepenuh akal sehat, tanpa prasangka. Tapi juga mohon petunjuk-Nya, memohon setulusnya, dari kepasrahan seorang hamba yang lemah, untuk ditunjukkan jalan yang benar.

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. az Zumar: 18)


Jumat, 27 Juni 2014

Mencairkan Beban Sejarah Antara Umat Islam dengan (eks) PKI

Terpahat dalam lembaran sejarah, terlanjur terjadi dan tersimpan. Untuk berupaya mencairkannya, agar tak runtuh menimpa bangsa ini, hancur berkeping-keping.

Terlalu berat untuk menutup sebuah luka, tetapi terlalu perih untuk tetap memeliharanya. Tapi ia bisa menjadi pembelajaran bagi generasi sesudahnya. Sebuah kesabaran menghadapi tantangan untuk mewujudkan suatu cita. Mengambil sikap ojo dumeh, meski dalam keadaan leluasa berbuat apapun. Melampiaskan dendam dan angkara, suatu saat bisa menjadi bumerang.

Bangsa ini telah mengalami banyak ujian, dan akan terus menghadapi ujian. Masa lalu semestinya tetap menjadi pelajaran, agar tak mengulangi kesalahan serupa, memperturutkan ego dan ambisi sesaat.

Tak menjadi Salahuddin Al Ayyubi yang baik, menjemput kemenangan dengan duka, meninggalkan luka. Kemenangan itu tak menjadi seindah Fathu Makah, kekerasan berbalas kekerasan, kebencian berbalas kebencian, menyisakan beban sejarah.

Terjebak pada sebuah situasi sulit, antara membunuh dan dibunuh, berada di antara pertarungan global melawan komunisme. Untuk tidak sekedar melihat garis pembatas antara benar dan salah.

Bukan hanya cita tentang Tuhan dan kasih yang bisa bertransformasi menjadi peperangan dan penjajahan, cita indah kaum proletar di Indonesia berujung genosida yang menyakitkan. Tanpa peradilan dan tanpa kesempatan membela diri. Sebuah anomali, ketika di berbagai belahan dunia lain, merekalah yang banyak melakukan tindakan seperti itu. Di Uni Sovyet, RRC, Eropa Timur, Kamboja dan banyak negara, seabad ideologi komunisme membawa korban ratusan juta nyawa manusia.

Sekian lama keluarga dan anak-anak mereka mengalami diskriminasi yang menyakitkan. Penderitaan janda dan anak-anak yatim korban tragedi 1965, menjalani keprihatinan hidup, menjalani hidup dalam keadaan serba kekurangan. Menghadapi diskriminasi dalam berbagai bidang, politik, pemerintahan, sosial hingga budaya. Mendapat stigma buruk, seperti menanggung dosa warisan. Sebuah anomali, ketika di berbagai belahan dunia lain, umat Islam yang lebih banyak mendapatkan perlakuan buruk seperti itu, menjalani hidup dalam tekanan rezim yang otoriter.

Tipu daya dunia ini terlalu luas, tetapi perspektif yang diambil seringkali terlalu pendek, sebatas memainkan luapan emosi sesaat. Perang global melawan komunisme menjadi murah dan mudah, tak semahal yang dihadapi di Prancis, juga tak sebanyak nyawa yang dikorbankan di Vietnam. Memang tak sepenuhnya bisa dikatakan diperalat. Yang tergambar hanya sebatas ketika mereka orang-orang PKI itu sekian lama telah melakukan berbagai intimidasi dan teror, menginjak-injak agama dan melecehkannya, berada pada suatu interaksi yang penuh konflik dan ketegangan.

Wajah-wajah yang garang berbalik menjadi lunglai tanpa daya. Ketakutan yang dirasakan umat Islam telah sirna, berubah menjadi derap langkah gagah sebagai penunjuk jalan, menjemput mereka yang harus diciduk, tetangga-tetangga mereka, bahkan kerabat sendiri. Di antara mereka yang memakai baju loreng itu hanya satu dua yang benar-benar tentara, selebihnya hanyalah sukarelawan Banser yang sebelumnya dilatih dan dipersiapkan untuk menghadapi konflik dengan Malaysia.

Jawa Tengah dan Jawa Timur, wilayah yang sama-sama menjadi basis utama NU dan PKI, sekian lama diliputi ketegangan, kemudian berhadap-hadapan. Nyatanya, euforia kemenangan yang dirasakan NU hanya sesaat, dalam waktu tak lama kemudian disingkirkan, didepak dari kekuasaan secara menyakitkan. Menyadarkan bahwa mereka diperalat oleh kekuatan global melawan komunisme.

Tragedi 1965 menumbuhkan secara spontan rasa trauma para korban kepada Islam, khususnya Banser. Banyak di antara mereka yang kemudian beralih menjadi non-muslim, atau setidak-tidaknya mengikuti Muhammadiyah. Realitanya, sebagian besar dari mereka terserap pada kultur NU beberapa dekade kemudian. Bahkan banyak pula yang tumbuh dalam berbagai harakah. Hanya bisa berharap bahwa semua ini tulus, karena kita tak memiliki kewenangan membolak-balikkan hati.

Pendekatan dan permintaan maaf yang dilakukan NU, menjadi sebuah upaya untuk menyembuhkan luka. Namun sejauh mana ia bisa menyembuhkan luka?

Yang bisa dilakukan hanyalah apa yang bisa diperbuat oleh diri kita sendiri, mengambil pembelajaran dari sejarah masa lalu. Di antara ketegangan yang terjadi antara NU dengan MTA, di antara isu transnasional dan Wahabi, semestinya NU dapat membuktikan dirinya untuk bisa menyelesaikan semua persoalan yang dihadapi secara moderat. Jika pada tataran pemimpin umat masih mengedepankan emosi, akar rumput akan lebih mudah diprovokasi, dimanfaatkan pihak ketiga. Apa yang dikhawatirkan sangat mungkin terjadi, sejarah terulang dalam bentuknya yang lain.

Orang-orang tertindas, tak berdaya menerima kezhaliman. Namun di balik ketidakberdayaan mereka tumbuh sesuatu yang dahsyat, meski tak tampak dan tak diungkapkan. Untuk mengetahuinya cukup dengan merasakan apa yang dialami umat Islam ketika berada pada puncak-puncak kezhaliman dunia. Teraniaya, lemah, tanpa kuasa membalas semua penaniayaan, tapi di balik itu memendam cita yang tak pudar. Cita yang teruji dalam keprihatinan hidup, menumbuhkan spirit yang menyala-nyala, sebuah pengharapan, menunggu pada saat yang dinantikan tiba.

Terlalu naif jika kehilangan nyawa orang-orang yang dikasihi hanya ditebus dengan kata maaf. Meski hanya itu yang bisa dilakukan, masa lalu tetap tak bisa kembali. Sekedar ikhtiar yang tak seberapa untuk menyembuhkan luka keluarga korban tragedi 1965, agar umat Islam memperbanyak upaya membantu mereka yang ditimpa kesulitan, menyantuni, memberi mereka sedekah yang tulus, berharap mengurangi sakit yang pernah mereka alami, berharap Tuhan Yang Maha Kuasa membuka hati mereka.

Kalah jadi abu menang jadi arang. Sayang jika bangsa ini terus terbelenggu masa lalu, melewatkan masa depan yang menanti untuk diukir. Mengelola konflik dengan bijak, tak mengulangi kecelakaan sejarah. Menunjukkan jalan, berharap membuka mata hati mereka tentang Tuhan Yang Maha Pengasih, meraih surga yang keindahannya tak bisa dibandingkan dengan negeri utopia yang diimpikan. Kebahagiaan yang sebenarnya, yang realistis, bukan hanya yang ada dalam mimpi indah.


Di Ambang Chaos, Gus Dur Datang dan ‘Mengacau’

Ketegangan tahun politik 2014 ini mengingatkan kembali perjalanan bangsa ini yang tak pernah sepi dari berbagai ujian. Beberapa kali negara kita berada pada situasi genting, melewati peralihan kekuasaan dengan berdarah-darah.

Tragedi 1965 meninggalkan luka yang cukup dalam, mewarnai peralihan kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Sempat diwarnai beberapa tragedi dan sejumlah kerusuhan masal, reformasi 1998 yang mengakhiri Orde Baru sempat memunculkan kekhawatiran ancaman serupa, disintegrasi bangsa yang bisa mengakhiri riwayat negara ini.

Upaya melewati peralihan kekuasaan secara damai, di antara ketegangan antara mereka yang mengidentifikasikan diri sebagai kekuatan reformis menghadapi mereka yang diberi stigma sebagai pro ststus quo, seharusnya menjadi pembelajaran kita menghadapi kekhawatiran di 2014 ini.

Pemilu 1999 baru saja usai, gambaran hasilnya sudah bisa terbaca, jika diproyeksikan dengan keadaan bangsa secara keseluruhan, potensi konflik yang bisa terjadi memang mengkhawatirkan. Terbelah antara kubu Mega vis kubu Habibi, membutuhkan terobosan politik untuk meredakan ketegangan tersebut, politik kompromi dan akomodasi yang bisa diterima kedua belah pihak.

Gus Dur menemui ketua umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif mengajukan sebuah argumen. Jika Megawati yang menjadi presiden, akibatnya akan begini-begini. Jika Habibi yang menjadi presiden, akibatnya juga begini-begini. Demikian pula jika Amin Rais yang menjadi presiden, akibatnya juga akan begini-begini. Kemudian Gus Dur menawarkan diri, bagaimana jika dirinya saja yang menjadi presiden. Saat itu masih dianggap ide gila.

Dilanjutkan dengan perbincangan tentang bagi-bagi kekuasaan, mengakomodasi semua komponen yang ada. Terbentuklah kabinet Persatuan Nasional yang menjadi pereda ketegangan bangsa ini, meski hanya efek semu untuk solusi sementara.

Gus Dur memang tak punya niat menjadi presiden. Meski juga bukan untuk main-main saja. Pendukungnya tak perlu sakit hati jika ia dilengserkan.

Begitulah Gus Dur dan reformasi 1998, agar tak mengulangi kecelakaan sejarah 1965. Gempa dahsyat yang mengancam bangsa ini, dipecah menjadi gempa-gempa kecil, meminimalisasi dampak kerusakan yang ditimbulkannya. Gus Dur datang dan mengacaukan keadaan, ketegangan ideologis antara dua kubu yang berhadapan secara frontal, dialihkan kepada masalah-masalah lain. Kita disibukkan oleh korupsi berjamaah, bancakan uang negara dan berebut kekuasaan, melupakan konflik ideologis yang lebih dahsyat.

Di tengah ketegangan, Gus Dur membuat kekacauan. Pihak yang berseteru menjadi kalang kabut, tak sempat melanjutkan perseteruan. Bahkan sesekali harus bahu-membahu dengan lawan, diributkan oleh Gus Dur. Gus Dur memang membuat semua jadi repot.

Gus Dur kini telah pergi, meninggalkan PR bagi bangsa ini, untuk diselesaikan ketika kita beranjak dewasa. Kita harus menyelesaikan tugas ini, mengurai satu per satu permasalahan bangsa yang sangat komplek, bukan meminta orang tua kita yang mengerjakan PR tersebut. Tentunya kita tidak mau dianggap masih seperti anak TK.

Gus Dur kini telah pergi, tak bisa lagi membuat kekacauan di antara kita, di tengah ancaman letusan akumulasi persoalan bangsa yang kian sarat, 2014 ini menjadi ujian berat bagi kita, ujian kedewasaan bangsa ini.

Wallahua’lambishawwab.

Selasa, 24 Juni 2014

Berbuka Lebih Sehat, Hikmah di Balik Sunah

 “Akan lebih terasa enak bagi tubuh, jika berbuka puasa jangan langsung makan banyak.” Begitulah yang saya dengar dari suatu ceramah Ramadhan beberapa tahun lalu.

Ketika tiba waktu berbuka, banyak dari kita yang melakukan aksi “balas dendam”. Di samping seharian sudah menahan lapar, berbagai hidangan istimewa biasanya siap tersaji, sudah menjadi kebiasaan di bulan puasa. Begitu tiba waktu start, maunya langsung tancap gas dan ngebut.

Untuk mesin saja, misalnya motor tua, setelah lama tak dipakai, tidak baik langsung dibuat kebut-kebutan. Sebaiknya, mesin dipanasi dulu. Begitu juga lambung. Setelah lama istirahat, sebaiknya tidak langsung dihantam dengan makanan banyak dan berat. Tidak baik bagi pencernaan. Sehingga perlu beradaptasi dulu.

Rasulullah mengawali berbuka dengan hanya beberapa butir kurma atau meminum air. “Adalah Rasulullah berbuka dengan Ruthab (kurma basah) sebelum shalat. Jika tidak terdapat Ruthab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering). Maka, jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Mengapa kurma? Yang bukan orang Arab bisa protes. Mengapa bukan kolak?

Kurma mudah dicerna dan memulihkan pasokan energi bagi tubuh. Kalau kolak, kandungan lemak di dalam santan akan sulit dicerna. Sehingga dari sisi kesehatan, mengawali berbuka dengan kolak sangat tidak dianjurkan. Keunggulan lain, kurma adalah karbohidrat kompleks, berbeda dengan makanan manis pada umumnya. Berbuka dengan kurma tidak menyebabkan kadar gula darah melonjak naik.

Masih banyak keunggulan lain kurma dari sisi kandungan nutrisi yang dikandungnya. Memang sulit untuk menemukan makanan pengganti yang sama baiknya dengan kurma. Yogurt  dan buah tertentu yang mudah dicerna dan memiliki karakter hangat bisa menjadi alternatif pengganti.

Dengan mengikuti sunah Rasul dalam berbuka, memilih makanan pembuka yang tepat dan tidak langsung makan banyak, banyak hal positif yang bisa kita dapatkan. Puasa tidak membuat kita menunda shalat Maghrib, badan akan terasa lebih enak, sekaligus lebih menumbuhkan rasa kesabaran, pengendalian diri dan keikhlasan.

Tidak langsung disibukkan dengan makan, membawa kebaikan bagi ruh, jiwa, maupun jasad kita. Malam lebih ringan untuk beribadah, siangnya lebih nyaman untuk beraktifitas.

Di balik sunah Rasulullah yang kelihatannya sederhana, ternyata ada hikmah yang luar biasa. Sebaliknya, banyak hal yang sudah menjadi kebiasaan kita manusia modern, ternyata di kemudian hari diketahui ketidakbaikannya. Banyak hikmah yang tersembunyi dari sunah-sunah Rasul. Banyak diantaranya yang belum kita ketahui, bahkan terkadang seolah-olah bertentangan dengan logika, keinginan dan hawa nafsu.

Senin, 23 Juni 2014

PKS dan PDIP, Tetap Semangat, Tapi Jangan Over!

Adakalanya kita berhadap-hadapan, sering terjadi kesalahpahaman antara kita, tetapi adakalanya kita saling membutuhkan. Kita sering berbeda persepsi, tapi kita juga telah banyak berkolaborasi dan bekerja sama. Adakalanya kita berebut, adakalanya pula kita mesti berbagi. Begitulah kita, dengan kekurangan dan kelebihan kita masing-masing.

Semangat PDIP, semangat PKS. Semangat dan militansi kedua partai ini melebihi partai-partai yang lain. Jika pada umumnya mesin partai hanya bergerak kalau ada uang, kedua partai ini berbeda, ada motivasi ideologis, memiliki lebih banyak kader militan yang bisa diajak kerja bakti.

Pantas saja kader-kader PKS menjadi lokomotif koalisi Prabowo-Hatta, padahal Capres yang diusung bukan berasal dari kader PKS. Kalau PDIP wajar saja kalau bermain all out, karena calon yang diusung memang berasal dari kadernya sendiri.

Jika kedua partai itu berhadap-hadapan head to head, pertarungan pasti lebih seru dan menegangkan. Sampai-sampai timbul kekhawatiran jika ketegangan ini akan diikuti ekses negatif, terjadi huru-hara dan kerusuhan misalnya.

Ketegangan Pilpres kali ini memang agak mengkhawatirkan. Mungkin kita perlu introspeksi sejenak. Jangan sampai kepentingan bangsa yang besar dipertaruhkan untuk sebuah proses politik sesaat.

Terjadi gesekan dalam sebuah kompetisi adalah sesuatu yang lumrah. Sikapi dengan kepala dingin. Jika ada ketidaksempurnaan prosesnya, sudah biasa terjadi. Jangan juga menjadi kambing hitam. Saling menyalahkan bukan solusi.

Cairkan ketegangan, jangan terlalu larut, terhanyut dan bisa tenggelam. Ada saat harus serius, perlu juga sesekali untuk rehat sejenak.

Mengakomodasi kepentingan, berbagi partisipasi, untuk sebuah bangsa yang besar dan majemuk. Agar besarnya energi potensial yang dimiliki PKS dan PDI-P, tidak terkuras habis untuk sebuah proses politik semata, tetapi berguna menjadi solusi persoalan bangsa ini.

Tak lupa, agar seluruh rakyat Indonesia berpartisipasi menjadi wasit yang baik bagi kami.

Permainan Berbahaya Menjadi Permainan Menyenangkan

Mengingatkan kembali pesan yang sering disampaikan Presiden PKS Anis Matta ini, sepertinya cukup relevan untuk meredakan situasi yang sudah agak tegang.

“Berpolitik zaman sekarang terlihat menakutkan, karena yang banyak dipertontonkan adalah politik kotor, kejam, hitam, horor dan sikut sana-sini. Horor, ibarat menonton film horor, sudah mengeluarkan uang mahal, menonton tidak tenang karena takut ataupun was-was dengan konten yang disuguhkan. Setelah film selesai bisa jadi tidak mendapatkan apa-apa, malah teringat adegan yang menakutkan dan menjadi trauma. Uang pun hilang dengan percuma. Tak heran jika politik sekarang menjadi permainannya orang dewasa yang tidak mendidik dan menakutkan. Akibatnya, pemuda sekarang pun banyak yang tabu dan takut dengan dunia politik, bahkan mendengarnya saja pun mereka risih.”

“Mari kita buat politik itu menjadi permainan orang dewasa yang lucu dan mendidik. Sehingga semua orang berpartisipasi untuk kebaikan. Mari kita buat politik itu seperti kita minum minuman berkarbonasi atau bersoda, enak dan berkelas tapi tidak memabukkan. Mari kita buat politik itu seperti pemilihan ketua OSIS saat SMP atau SMA, ada persaingan tapi tidak menakutkan dan tidak berbahaya.”

“Salah satu kanal untuk memperbaiki Indonesia adalah dengan politik. Mari ubah persepsi, merubah politik kotor menjadi politik bersih. Mari ubah persepsi, merubah politik horor menjadi film laga atau drama cinta. Mari ubah persepsi, mengubah politik hitam menjadi politik putih. Mari ubah persepsi, berpolitik dengan cinta yang sesungguhnya, memperbaiki Indonesia dan kesejahteraan rakyatnya.”

Tetap konsisten dengan cinta, kerja dan harmoni!

Minggu, 22 Juni 2014

Jangan Membuat Jokowi Terlalu Marah Ya...

Tentu kita sering mengeluh, tapi cobalah sudi mendengarkan keluhan orang lain. Apa yang dikeluhkan pengamat politik Arbi Sanit tentang Pilpres ini barangkali perlu kita cerna dengan bijak, “Sudah brutal. Baik yang dilakukan calon maupun timnya. Ini sudah sangat kalap, sudah main kayu ibaratnya.”

Pilpres ini beda, terasa panas dan tegang. Kompetisi melaju tanpa terkendali, memasuki rute yang membahayakan, tanpa memerhatikan lagi rambu-rambu kelayakan dan keselamatannya, sedang bangsa ini kian terhuyung-huyung. Sebelum benar-benar terjadi ‘boom’, cobalah berpikir untuk cooling down, melepaskan ego, memformat ulang langkah, berkolaborasi dalam suatu harmoni, bersama berayun menuju pintu gerbang tujuan, berkompetisi secara fair.

Negeri ini seperti di ambang chaos. Banyak yang sudah pasang kuda-kuda, main ancam, pokoknya tidak siap kalah, titik. Saling melepaskan kartu As, heboh foto Wimar Witoelar, transkrip percakapan Kejagung, tabloid obor, buku pink dan banyak lagi yang menjadi indikasi ke arah itu. Tak peduli harus membuat gol bunuh diri, yang penting penonton turun ke lapangan mengamuk.

Kita pernah merasakan sakitnya terfitnah, menjadi bulan-bulanan media tanpa mau tahu duduk persoalannya atau tertimpa black campaign, maka jangan melakukan tindakan seperti itu pada lawan kita. Kita marah jika lawan berbuat zhalim kepada kita, tapi mungkin juga kita atau teman kita pernah berbuat khilaf serupa pada lawan. Kita muak terhadap media yang berpihak pada lawan, sebaliknya lawan juga muak kepada media yang berpihak kepada kita.

Saat emosi dan kemarahan ingin ditumpahkan pada lawan, cobalah untuk bersikap lebih bijak, tidak mudah terpancing, barangkali tindakan mereka adalah ketidaksengajaan, miskomunikasi, atau bahkan ada pihak ketiga yang bermain, decoy operation, mengadu domba.

Saat-saat kita berhadapan secara frontal, saling ingin menjatuhkan dan menghancurkan, ingatlah kalau suatu saat mungkin kita akan saling membutuhkan, harus berpadu menghadapi suatu tantangan bersama, dan perseteruan ini kita sesali.

Bagi yang kalah, anggap saja sebagai kemenangan yang tertunda, masih ada kesempatan untuk meneruskan perjuangan, toh di setiap kompetisi biasa ada yang menang dan kalah.

Daripada kita hancur semua, kalah semua, lebih baik kita berbagi kememangan, agar menjadi kemenangan kita bersama.

Maka, jangan membuat (pendukung) Jokowi terlalu marah, agar apapun yang terjadi mereka tetap mengatakan, “Aku ra popo.” Juga sebaliknya, tentunya sebagai pesan untuk kedua belah pihak.

Hadapi kompetisi ini dengan maksimal, tapi tetap dewasa dan fair. Bersikap adil terhadap kawan dan lawan. Pilih yang terbaik. Menang secara sportif, kalah dengan terhormat.

Bravo sportifitas!

Menjual Agama, Politisasi Kebhinekaan

Seringkali Islam diposisikan sebagai antitesis kebhinekaan. Namun faktanya, di berbagai belahan dunia banyak umat Islam kesulitan menjalankan ibadah yang menjadi keyakinannya, mendapatkan hambatan terkait jilbab, shalat, puasa, mengakses produk halal, dan sebagainya.

Pada banyak aspek, umat Islam terpaksa harus menerima kondisi sebagai minoritas, tahu diri untuk tak menuntut hak-haknya secara penuh. Tapi pada sisi lain umat Islam juga dituntut melepaskan hak-haknya sebagai mayoritas atas nama kebhinekaan.

Islam telah memelopori sejak awal sebuah konsep, ‘Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam).’ Artinya seseorang menjadi muslim bukan karena suatu keotomatisan, tetapi karena kesadaran dan pilihannya. Ini menjadi jalan tengah untuk menempatkan absolutisme dan relatifisme dalam posisinya yang tepat. Keyakinan atas kebenaran Islam membuatnya siap untuk berkompetisi.

Bukan toleransi semu dan bukan konsep toleransi yang tanpa arah, dalam arti bukan pemaksaan sepenuhnya dan bukan pembiaran sepenuhnya. Agar terbangun sebuah proses yang edukatif, semua memiliki akses secara terbuka untuk menentukan sebuah pilihan, yang akan dipertanggungjawabkan masing-masing kepada Tuhan Sang Pencipta.

Seorang muslim meyakini Islam akan membawa kebaikan dan keselamatan, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Dari sini, seorang pemeluk agama yang baik semestinya memberikan kontribusi bagi agamanya, mewujudkan nilai-nilai agamanya dalam kehidupan. Namun di sisi lain, ada umat lain yang memiliki klaim kebenaran yang serupa, menurut keyakinan mereka, memposisikan muslim adalah domba-domba tersesat yang perlu diselamatkan. Atau dari sudut pandang atheisme, penganut berbagai agama dipersepsikan sama, sebagai komunitas yang tertipu suatu ilusi tentang Tuhan.

Keyakinan muslim bahwa Islam satu-satunya jalan menuju keselamatan, diikuti tanggungjawab untuk mengupayakan situasi yang kondusif untuk tumbuhnya agama ini, sekaligus tanggungjawab menawarkan Islam kepada mereka yang belum memeluknya. Sebaliknya juga berbuah konsekwensi jika umat lain berbuat serupa kepada kita. Idealnya kemudian terjadi kompetisi secara fair, bukan relasi yang saling curiga dan timpang.

Kenyataannya kemudian, konsep pluralisme lebih banyak menuntut,  ia hengkang ketika seorang muslim kesulitan mendapatkan hak-hak untuk menjalankan keyakinannya secara pribadi. Apalagi ketika seorang muslim menginginkan kondisi lingkungan yang kondusif untuk menjalankan keyakinannya, misalnya ingin mendapatkan perlindungan diri dari pornografi, konsep pluralisme tidak mampu memberi solusi atas nama kebebasan yang diusungnya.

Atas nama kebhinekaan, terus bergulir wacana penghapusan identitas agama di KTP, menghapus pendidikan agama di sekolah, menghapus regulasi-regulasi yang berkaitan dengan agama, wacana menjauhkan agama dari publik, wacana yang menempatkan agama sebagai hama bagi kehidupan masyarakat.

Sebenarnya untuk apa sebuah negara didirikan kalau bukan untuk memfasilitasi kepentingan rakyatnya. Lantas hanya karena terkait agama, negara harus absen pada banyak kepentingan publik pemeluk agama. Negara tidak boleh memfasilitasi regulasi zakat, ekonomi syariah dan jaminan produk halal, karena terkait suatu agama.

Dari argumentasi agar umat Islam melaksanakan ibadah karena Allah bukan karena Perda atau Bupati, muncul wacana melarang perda yang dianggap berbau syariat. Seorang muslim meyakini Islam membawa kebaikan bagi kehidupan, jika regulasi tentang miras, pornografi dan semacamnya harus di-cut hanya karena terkait agama tertentu, dampak buruknya seperti free sex, kriminalitas dan berbagai penyakit masyarakat, akan kembali kepada bangsa secara keseluruhan.

Mempertanyakan konsistensi para pengusung sekularisme dan depolitisasi agama, untuk tidak menjadikan agama sebagai alat politik untuk meraih dukungan, tidak memakai simbol-simbol agama atau memublikasikan keshalihan untuk mendapatkan suara dalam pemilihan.