Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tarbiyah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Oktober 2014

Terhentinya Laju Kaderisasi Dakwah (Bagian ke-2)

Dari fase membina dan mempersiapkan diri, beranjak menuju medan pertarungan. Bukan lagi sebuah proses sejengkal demi sejengkal, atau satu demi satu, tetapi dipertaruhkannya sebuah cita dakwah, antara terukir dalam sejarah atau lenyap ditelan di dalamnya.

Bukan lagi hanya persoalan membesar dan memperbanyak kekuatan, tetapi sudah harus menghadapi konfrontasi. Bukan cerita tentang mikroorganisme kecil, yang tiada agenda lain kecuali membelah, tetapi tentang pembawa amanah sebagai khalifah di muka bumi, memiliki tugas untuk mewujudkan karya-karya peradaban, sekalipun secara fisik terus menua.

Eksekutor suatu kemenangan tak mesti ditentukan oleh banyaknya jumlah. Juga tak hanya didasarkan pada kekuatan. Kemampuan untuk membaca dan menentukan strategi lebih menjadi penentu, sekalipun secara kuantitas lebih kecil dan sedikit.

Adalah ketika Thalut membawa pasukannya, tatkala dihadapkan pada ujian, sebagian besar dari pasukannya tertinggal. “Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” (QS. Al Baqarah: 249)

Sekelompok kecil yang tersisa, tapi ia telah teruji dan ditempa. “Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al Baqarah: 249-251)

Mereka lebih layak mendapatkan anugerah kemenangan. Sedang besarnya jumlah tanpa keteguhan seringkali menjadi tak berfaedah, bahkan menjadi beban. “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At Taubah: 25-26)

Stagnan atau berguguran, bisa bermakna seleksi bagi orang-orang yang terpilih, tetapi bisa juga bermakna pupusnya suatu cita. Antara terpilih dari suatu rangkaian ujian, tenggelam di dalamnya, atau masih menunggu. Antara terwujudnya buah-buah kemenangan sempurna atau tumbang dalam kekalahan sempurna, atau jika harus memberikan estafet. Harus terus ada suplai energi untuk menjaga keberlangsungannya, yang mungkin tak selesai dalam satu kurun. Untuk tegaknya sebuah pokok, jikapun tidak, untuk terjaganya sebuah benih, untuk keberlangsungan sebuah regenerasi, ketika masih harus menempuh perjalanan panjang sampai batas zaman.


Rabu, 01 Oktober 2014

Terhentinya Laju Kaderisasi Dakwah (Bagian ke-1)

Seperti menyelesaikan sebuah puzzle, pada sebuah permainan di suatu dauroh, kami dibuat melingkar berkelompok, masing-masing anggota menjulurkan tangannya ke depan. Kemudian kami diperintahkan agar saling memegang tangan dengan anggota kelompok yang lain. Setelah itu diperintahkan untuk membentuk sebuah lingkaran, dengan tanpa melepaskan pegangan yang sudah terjalin. Dengan susah payah, akhirnya lingkaran itu terbentuk juga.

Setelah itu kami diminta untuk membuat lingkaran serupa, tetapi dilakukan sambil memejamkan mata. Bedanya, kali ini dipandu dengan instruksi, tangan anggota kelompok nomor sekian dipasangkan dengan anggota nomor sekian secara urut, tidak lagi acak seperti sebelumnya. Meski dilakukan dalam kondisi mata terpejam, lingkaran bisa terbentuk juga.

Pada permainan ke dua, untuk membentuk lingkaran dalam kondisi mata terpejam, tentunya lebih sulit dilakukan daripada pada permainan pertama. Berada dalam kondisi bisa melihat, meski dilakukan secara spontan, acak dan tanpa keteraturan, tugas tetap bisa diselesaikan. Berbeda ketika harus menyelesaikannya dalam kondisi keterbatasan, mata terpejam, tanpa bisa melihat sekeliling. Tetapi arahan dari instruktur yang memandu membuat tugas bisa diselesaikan.

Tak selalu lapang, kadang dihadapkan pada kondisi sempit penuh keterbatasan. Tak selalu mudah, kadang harus melewati keadaan sulit. Pada kondisi bebas pada permainan pertama, spontanitas tanpa terarah sudah memadai untuk terselesaikannya permainan. Tetapi dalam kondisi ada keterbatasan, tidak memadai lagi jika dikerjakan tanpa terorganisir atau tanpa adanya arahan sistematis.

Demikian pula lingkaran halaqah ini, pada awalnya begitu mudah untuk berkembang, terbentuk halaqah-halaqah baru, mendapatkan teman-teman baru. Sampai kemudian merasakan kondisi menjadi stagnan, jangankan untuk terus menambah dan berkembang, untuk mempertahankan yang sudah ada saja terasa berat, ada saja problematikanya.

Menempuh metode dan cara seperti dulu, sepertinya sudah tumpul tidak memadai. Semakin terasa lelah menempuh perjalanan, beban semakin terasa. Merasakan kondisi yang tak seperti dulu, tantangan yang dihadapi telah berbeda. Sebaliknya, kekuatan tak lagi utuh sebagaimana sedia kala.

Perjalanan kian jauh, saat ada tuntutan untuk berjalan lebih cepat. Sebaliknya, energi kian melemah, kian renta, dan lelah. Saat inilah diperlukannya suatu siasat yang berbeda. Fisik akan menua dan melemah, tetapi jiwa bisa tetap terjaga. Menyiasati keterbatasan, membutuhkan strategi yang lebih. Menyiasati kelelahan dalam berjalan, membutuhkan kendaraan untuk menopang perjalanan.

Perjalanan halaqah ini, makin dewasa, makin besar pula tuntutan dan tanggung jawabnya. Tak bisa lagi hanya berkumpul dan bersenang-senang seperti masa anak-anak sedang bermain. Beranjak dewasa, bersama meningkatnya tuntutan untuk mandiri, bahkan saatnya harus menanggung beban orang lain, menghadapi tingkatan ujian yang lebih tinggi.

Bukan hanya untuk tumbuh dan tumbuh, tibalah waktunya untuk berhadapan dengan dunia dan tantangannya. Bukan hanya untuk melenggang, tetapi mesti jua menyibak tantangannya. Masa persiapan telah berlalu, tiba saatnya menjalani pertarungan.

Mewujudkan agenda-agenda dakwah, pasti akan bersinggungan dengan problematika dunia yang tak sederhana. Tak lagi bisa mengandalkan spontanitas, tak hanya asal-asalan. Dibutuhkan langkah yang terarah, terukur dan profesional. Menghadapi keterbatasan diperlukan siasat, membutuhkan terobosan yang sesuai dengan tantangan dan bahkan ketika harus menyiasati kemustahilan.

Kerasnya dunia dengan semua intrik dan tipu dayanya, menyisihkan orang-orang yang lalai, sekalipun kekuatan mereka besar, hanya menjadi bulan-bulanan tak berdaya, terpedaya, terpecundangi, tanpa bisa berbuat apa.

Sebuah episode yang menuntut adanya usaha untuk merajut suatu upaya yang sebaik-baiknya, dengan upaya untuk meraih pertolongan Allah.


Selasa, 23 September 2014

Fase Berbeda Perjalanan Tarbiyah

Ketika sahabat yang menemani perjuangan ini nyaris tak lagi bertambah, malah satu per satu berguguran pergi. Memandangi hengkangnya kawan-kawan terbaik, meninggalkan jalan ini yang telah sekian lama bersama-sama dilalui dalam suka dan duka.

Dari kesendirian, menjadi lautan manusia, berbondong-bondong, menyisakan kenangan indah.

Keterbatasan tak menyurutkan tekad. Kekurangan tak membatasi semangat. Kecilnya raga tak melemahkan jiwa. Dari keadaan tak punya apa-apa, terasing, tak dikenal, berada dalam kondisi serba keterbatasan, tapi terus tumbuh dan tumbuh, menakjubkan, mewujudkan satu per satu mimpi yang dicitakan.

Perjuangan ini, pasang surutnya, menghempaskan sebagian kita, terjatuh dan tenggelam.

Dengan kebesaran raga, berbagai sarana yang dimiliki, bahkan kekuasaan, tetapi makin sarat dengan beban, lelah, derap langkahnya kian senyap, semakin sepi.

Berharap membangkitkan kembali azam, mendapatkan kembali izah, bangkit, tetapi raga ini tak lagi berdaya. Tak mampu lagi mengobarkan semangat yang dulu pernah menyala-nyala. Terjebak dalam berbagai problematikanya, terbelenggu dalam pusarannya. Apa yang pernah dicapai, hanya untuk mendapatkannya kembali, yang dulu mampu diraih, tapi situasinya memang telah berbeda, begitu terasa.

Mengenang kebesaran, tapi tak berdaya. Berharap masa itu terulang kembali, masa-masa indah perjuangan ini, kebahagiaan bersamanya. Meski waktu telah berlalu, tak mungkin kembali, tapi bukankah waktu masih terus berlanjut?

Bersama asa yang tersisa, menjaga agar cita ini tak lepas, atau ia tak luruh, dan mungkin juga harus karam bersama cita ini, riuh kejayaan yang berangsur-angsur sepi. Akankah menjadi ajal bagi sebuah gerakan dakwah?

***

Seperti fase-fase yang dialami sebuah pohon. Bukan untuk terus tumbuh, tapi ada saatnya ia harus mempersiapkan buahnya. Saat harus merelakan kesuburannya memudar, berguguran daunnya, menghabiskan cadangan makanan yang disimpannya, agar pada saatnya, sebaik-baik buah yang dihasilkan.

Bukan merindukan masa lalu yang indah, tetapi menikmati tantangan ini, untuk merangkai masa depan, ketika fase yang dijalani pasti berbeda dari yang telah dialami sebelumnya. Agar penat dan letih ini menjadi indah pada suatu saat nanti.

Bukan hanya tumbuh dan tumbuh, bukan menikmati dan memperindah, ada saat-saat harus belepotan, berkubang tugas-tugas berat.

Beban ini, kesulitan ini, kesemuanya adalah ujian terbaik untuk kita, yang sesuai dengan tingkatan kita. Bukan saatnya menikmati masa-masa indah ditimang dan disuapi, saat-saat menyenangkan bermain-main dan dimanja, tetapi saat-saat harus memikul beban dan menanggung tanggung jawab yang berat.

Sebuah ujian, terasa berat ketika dihadapi, pasti. Setelah ia terlampaui ia akan terasa manis. Dan ujian selanjutnya yang dihadapi akan lebih sulit. Kemungkinan itu tetap menanti, gagal atau berhasil melampauinya. Menjadi sejarah atau tenggelam, hanya sedikit yang sampai pada puncak tertinggi. Jalinan cerita antara keteguhan seorang hamba dan pertolongan Allah.