Tampilkan postingan dengan label harokah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harokah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Oktober 2014

Terhentinya Laju Kaderisasi Dakwah (Bagian ke-2)

Dari fase membina dan mempersiapkan diri, beranjak menuju medan pertarungan. Bukan lagi sebuah proses sejengkal demi sejengkal, atau satu demi satu, tetapi dipertaruhkannya sebuah cita dakwah, antara terukir dalam sejarah atau lenyap ditelan di dalamnya.

Bukan lagi hanya persoalan membesar dan memperbanyak kekuatan, tetapi sudah harus menghadapi konfrontasi. Bukan cerita tentang mikroorganisme kecil, yang tiada agenda lain kecuali membelah, tetapi tentang pembawa amanah sebagai khalifah di muka bumi, memiliki tugas untuk mewujudkan karya-karya peradaban, sekalipun secara fisik terus menua.

Eksekutor suatu kemenangan tak mesti ditentukan oleh banyaknya jumlah. Juga tak hanya didasarkan pada kekuatan. Kemampuan untuk membaca dan menentukan strategi lebih menjadi penentu, sekalipun secara kuantitas lebih kecil dan sedikit.

Adalah ketika Thalut membawa pasukannya, tatkala dihadapkan pada ujian, sebagian besar dari pasukannya tertinggal. “Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: "Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku." Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” (QS. Al Baqarah: 249)

Sekelompok kecil yang tersisa, tapi ia telah teruji dan ditempa. “Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir." Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (QS. Al Baqarah: 249-251)

Mereka lebih layak mendapatkan anugerah kemenangan. Sedang besarnya jumlah tanpa keteguhan seringkali menjadi tak berfaedah, bahkan menjadi beban. “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada RasulNya dan kepada orang-orang yang beriman, dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir.” (QS. At Taubah: 25-26)

Stagnan atau berguguran, bisa bermakna seleksi bagi orang-orang yang terpilih, tetapi bisa juga bermakna pupusnya suatu cita. Antara terpilih dari suatu rangkaian ujian, tenggelam di dalamnya, atau masih menunggu. Antara terwujudnya buah-buah kemenangan sempurna atau tumbang dalam kekalahan sempurna, atau jika harus memberikan estafet. Harus terus ada suplai energi untuk menjaga keberlangsungannya, yang mungkin tak selesai dalam satu kurun. Untuk tegaknya sebuah pokok, jikapun tidak, untuk terjaganya sebuah benih, untuk keberlangsungan sebuah regenerasi, ketika masih harus menempuh perjalanan panjang sampai batas zaman.


Rabu, 01 Oktober 2014

Terhentinya Laju Kaderisasi Dakwah (Bagian ke-1)

Seperti menyelesaikan sebuah puzzle, pada sebuah permainan di suatu dauroh, kami dibuat melingkar berkelompok, masing-masing anggota menjulurkan tangannya ke depan. Kemudian kami diperintahkan agar saling memegang tangan dengan anggota kelompok yang lain. Setelah itu diperintahkan untuk membentuk sebuah lingkaran, dengan tanpa melepaskan pegangan yang sudah terjalin. Dengan susah payah, akhirnya lingkaran itu terbentuk juga.

Setelah itu kami diminta untuk membuat lingkaran serupa, tetapi dilakukan sambil memejamkan mata. Bedanya, kali ini dipandu dengan instruksi, tangan anggota kelompok nomor sekian dipasangkan dengan anggota nomor sekian secara urut, tidak lagi acak seperti sebelumnya. Meski dilakukan dalam kondisi mata terpejam, lingkaran bisa terbentuk juga.

Pada permainan ke dua, untuk membentuk lingkaran dalam kondisi mata terpejam, tentunya lebih sulit dilakukan daripada pada permainan pertama. Berada dalam kondisi bisa melihat, meski dilakukan secara spontan, acak dan tanpa keteraturan, tugas tetap bisa diselesaikan. Berbeda ketika harus menyelesaikannya dalam kondisi keterbatasan, mata terpejam, tanpa bisa melihat sekeliling. Tetapi arahan dari instruktur yang memandu membuat tugas bisa diselesaikan.

Tak selalu lapang, kadang dihadapkan pada kondisi sempit penuh keterbatasan. Tak selalu mudah, kadang harus melewati keadaan sulit. Pada kondisi bebas pada permainan pertama, spontanitas tanpa terarah sudah memadai untuk terselesaikannya permainan. Tetapi dalam kondisi ada keterbatasan, tidak memadai lagi jika dikerjakan tanpa terorganisir atau tanpa adanya arahan sistematis.

Demikian pula lingkaran halaqah ini, pada awalnya begitu mudah untuk berkembang, terbentuk halaqah-halaqah baru, mendapatkan teman-teman baru. Sampai kemudian merasakan kondisi menjadi stagnan, jangankan untuk terus menambah dan berkembang, untuk mempertahankan yang sudah ada saja terasa berat, ada saja problematikanya.

Menempuh metode dan cara seperti dulu, sepertinya sudah tumpul tidak memadai. Semakin terasa lelah menempuh perjalanan, beban semakin terasa. Merasakan kondisi yang tak seperti dulu, tantangan yang dihadapi telah berbeda. Sebaliknya, kekuatan tak lagi utuh sebagaimana sedia kala.

Perjalanan kian jauh, saat ada tuntutan untuk berjalan lebih cepat. Sebaliknya, energi kian melemah, kian renta, dan lelah. Saat inilah diperlukannya suatu siasat yang berbeda. Fisik akan menua dan melemah, tetapi jiwa bisa tetap terjaga. Menyiasati keterbatasan, membutuhkan strategi yang lebih. Menyiasati kelelahan dalam berjalan, membutuhkan kendaraan untuk menopang perjalanan.

Perjalanan halaqah ini, makin dewasa, makin besar pula tuntutan dan tanggung jawabnya. Tak bisa lagi hanya berkumpul dan bersenang-senang seperti masa anak-anak sedang bermain. Beranjak dewasa, bersama meningkatnya tuntutan untuk mandiri, bahkan saatnya harus menanggung beban orang lain, menghadapi tingkatan ujian yang lebih tinggi.

Bukan hanya untuk tumbuh dan tumbuh, tibalah waktunya untuk berhadapan dengan dunia dan tantangannya. Bukan hanya untuk melenggang, tetapi mesti jua menyibak tantangannya. Masa persiapan telah berlalu, tiba saatnya menjalani pertarungan.

Mewujudkan agenda-agenda dakwah, pasti akan bersinggungan dengan problematika dunia yang tak sederhana. Tak lagi bisa mengandalkan spontanitas, tak hanya asal-asalan. Dibutuhkan langkah yang terarah, terukur dan profesional. Menghadapi keterbatasan diperlukan siasat, membutuhkan terobosan yang sesuai dengan tantangan dan bahkan ketika harus menyiasati kemustahilan.

Kerasnya dunia dengan semua intrik dan tipu dayanya, menyisihkan orang-orang yang lalai, sekalipun kekuatan mereka besar, hanya menjadi bulan-bulanan tak berdaya, terpedaya, terpecundangi, tanpa bisa berbuat apa.

Sebuah episode yang menuntut adanya usaha untuk merajut suatu upaya yang sebaik-baiknya, dengan upaya untuk meraih pertolongan Allah.


Senin, 10 Februari 2014

Imam Hasan Al Bana, Ustadzul Alam, dalam Cita Petani


Telah sering dikatakan bahwa Rasulullah adalah seorang pengembala yang baik, pedagang yang baik, kepala keluarga yang baik, panglima perang yang baik dan pemimpin negara yang baik. Namun satu hal yang mengganjal bagi para petani ketika disebutkan bahwa Rasulullah bukanlah petani yang baik.

Pandangan demikian bisa jadi berangkat dari sebuah kisah tentang Rasulullah dan penyerbukan kurma. Tetapi dari kejadian tersebut terpetik sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kemaslahatan umat manusia. Dari ungkapan “Engkau lebih mengetahui urusan duniamu,” terlahir kaidah yang menempatkan dengan proporsional kerasulan Beliau Salallahu alaihi wassalam dengan tugas kekhalifahan yang diemban umat manusia dalam upayanya memakmurkan bumi.

Dalam taujihnya beberapa tahun silam, Ustadz Anis Matta memaparkan bahwa cita jamaah ini tentang ustadzul alam, cita untuk menjadi guru bagi dunia, bermula dari Imam Hasan Al Bana dan sekelompok petani.

Petani? Semuliakah itu? Bukankah penyebaran agama Islam ini sejak generasi awal hingga lebih banyak merupakan jasa para pedagang yang mengembara menjelajahi berbagai negeri? Termasuk juru dakwah yang membawa Islam ke Nusantara ini adalah para pedagang, pengembara-pengembara tangguh, bukan petani yang berdiam di ladang-ladang mereka.

Dilihat dari beberapa sisi memang seolah-olah Islam lebih mengutamakan perdagangan, termasuk memberi nilai lebih pada aspek kejujuran para pedagang. Profesi yang memungkinkan lebih banyak menjalin interaksi dan mendapatkan relasi dengan banyak orang. Meski secara keseluruhan  Islam menghargai semua pekerjaan yang bermanfaat, baik berupa pemecah batu, mencari kayu bakar, menggembalakan ternak, bercocok tanam maupun berdagang. Islam menghargai semua upaya untuk mencari penghidupan dengan jerih payah yang diupayakan tangannya sendiri, serta mencela kemalasan dan mental bergantung pada orang lain atau menjadi peminta-minta.

Dari sisi kewajiban zakat bagi petani yang seolah lebih berat, sepertinya di balik itu memang Islam sengaja mengkondisikan umatnya untuk tidak terlalu berkutat pada pertanian. Selain aspek pertanian lebih banyak memanfaatkan nikmat Allah di alam, sebuah hikmah yang tersembunyi di balik keadilan suatu syariat kemudian terkuak. Pasca Rasulullah hasilnya segera terlihat, umat Islam menguasai perdagangan dunia, ke negeri India, Cina dan terutama lalu lintas perdagangan di Laut Tengah, sekaligus mengurung bangsa Eropa pada suatu fase kemunduran peradaban, terkurung di ladang-ladang mereka sebagai petani.
Dengan mendorong umatnya menjadi pedagang, Islam mendapatkan posisi yang lebih kuat secara politik maupun ekonomi. Penguasaan sektor perdagangan pada masa tersebut lebih strategis dibandingkan dengan terpaku pada pertanian.

Era industrialisasi tiba, situasi dunia banyak berubah, pertanian tergilas dan terpinggirkan. Menjadi petani kebanyakan adalah keterpaksaan atau pilihan terakhir ketika tidak mampu mendapatkan profesi lain yang lebih baik. Kondisi alam yang makin tidak ramah dan industrialisasi menjadi pukulan berat bagi petani pada era ini. Petani menempati posisi sebagai profesi dhuafa, bahkan bisa dikatakan sulit untuk eksis tanpa dukungan subsidi dan berbagai kebijakan protektif dari negara.

Sekian lama dikesampingkan, kenyataan lain dihadapi, ketahanan pangan suatu negara adalah variabel penting bagi kedaulatan negara tersebut. Ternyata kemajuan industri tidak membuat pertanian bisa serta merta dikesampingkan.

Perdagangan, Pertanian dan Karakteristik Zaman

Mengutamakan perdagangan adalah sebuah pilihan tepat, dalam perspektif karakteristik zaman pada masa salaful umah tersebut. Ketika Islam berada pada fase perkembangan, Islam membutuhkan karakter pedagang-pedagang tangguh, yang memiliki kemampuan logistik tak terbatas untuk mengembara ke berbagai negeri menyebarluaskan dakwah, bukan para petani yang mobilitasnya terbatas di kampung halamannya.

Dunia memasuki era digital dan teknologi informasi. Interaksi sosial tidak lagi mengenal jarak. Dakwah kemudian tidak terbatas pada pengembaraan fisik.

Karakteristik akhir zaman kelak ketika Islam telah menyebar dengan sempurna akan berbeda. Ketika Islam berada pada fase pemeliharaan, Islam lebih membutuhkan karakter pemelihara. Dan karakter tersebut ada pada petani.

Kebahagiaan Akhir Zaman adalah Kabar Gembira bagi Petani

Dari beberapa atsar tentang kebahagiaan akhir zaman, digambarkan tentang kesuburan seluruh penjuru muka bumi, keberkahan tanaman dan hasil ternaknya. Setelah sebelumnya kekayaan yang keluar dari perut bumi tidak mampu memberi kedamaian, kemegahan dunia tak memberi kebahagiaan penduduknya. Kemudian akan terjadi saat yang diimpikan.

“Langit akan setia menurunkan hujan dan bumi subur dengan tanaman yang menghasilkan dan bermanfaat, meskipun kamu menaburkan benih di atas sebuah batu yang licin. Manusia dengan singa hidup berdampingan tanpa saling membunuh, menginjak ular berbisa sekalipun tidak berbahaya. Tidak akan ada kebencian atau permusuhan.”
“Tumbuhkanlah buah-buhanmu dan keluarkanlah semua barakahmu, sehingga orang-orang cukup makan satu buah delima dan dapat benaung dengan kulitnya, susu juga diberi berkah, sehingga satu unta cukup untuk beberapa kelompok bangsa dan satu lembu cukup untuk beberapa kelompok orang.”

Cita tentang ustadzul alam, menjadi guru bagi dunia, adalah cita yang memiliki makna paling dalam, lebih tinggi dari keinginan menjadi penakluk atau penguasa dunia semata. Sehingga sudah semestinya cita yang berharga ini diikutu kesungguhan untuk menjaga dan mewujudkannya.
Wallahua’lambishawwab.


Selasa, 24 Desember 2013

Yang Terlahir dari Kesendirian

Suatu nikmat yang besar dari Allah manakala kita termasuk dalam segolongan kecil umat manusia yang memiliki kepedulian terhadap dakwah. Meski kontribusi kita terhadap dakwah ini teramat belum memadai. Sehingga medan dakwah ini sebagian besar masih berupa padang luas yang belum terjamah, masih ditelantarkan, padahal sebenarnya memendam potensi yang amat berharga.

Kepergian ini mungkin terasa lebih berat andai kami tahu sepeninggal beliau hari-hari yang akan kami jalani bagai tanpa keberadaan seorang murabbi. Baru dua tahun beliau sekeluarga merintis dakwah di tempat kami, semenjak bertugas di tempat terpencil ini. Sebenarnya kami ikut senang ketika mendengar kabar beliau mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studinya. Rasa kehilangan itu pasti ada, meski sedikit terobati oleh harapan bahwa sepeninggal beliau kelak, akan ada murabbi lain yang menggantikannya.

Nyatanya tahun-tahun berlalu sesudah kepergian beliau, kami seperti anak ayam yang ditinggal induknya. Terkadang dalam waktu sekian bulan baru kami bisa berjumpa dengan murabbi. Dulu kami mendapatkan kisah tentang para pendahulu kami, berjalan kaki Solo-Wonogiri pada malam hari sekedar untuk mengikuti liqo’, namun azzam yang kami miliki tak sebanding dengan mereka. Kadang-kadang kami masih bermalas-malasan untuk sekedar berangkat liqo’, masih butuh orang yang tak bosan-bosan mensupport dan menyemangati kami tuk terus berada di jalan dakwah ini.

Tanpa keberadaan murabbi di samping kami, satu per satu dari kami pergi meninggalkan halaqoh. Dengan berbagai sebab, semata-mata futur, menikah, pindah domisili, atau pindah ke harakah lain. Hingga dalam satu kecamatan ini tersisa tiga ikhwan yang mengikuti liqo’ ditambah seorang dari kecamatan tetangga.

Sebenarnya daerah ini tak lagi terlalu terpencil secara geografis. Namun di balik keindahan alamnya, daerah ini bagaikan padang tandus yang gersang bagi tumbuhnya harakah-harakah, bukan hanya tarbiyah. Hanya satu dua orang di daerah ini yang merantau atau kuliah kemudian bersentuhan dengan harakah-harakah itu. Kemudian kebanyakan dari mereka memilih berdomisili, menikah atau bekerja di luar, sedang yang pulang ke kampung halamannya, rata-rata menjadi vakum atau setidaknya semangatnya mengendur.

Di balik kesuburan tanahnya, minat penduduk di daerah ini untuk menempuh pendidikan tinggi menjadi rendah. Beberapa dekade lalu, pegawai dan guru yang mengajar di sini didominasi pendatang dari daerah lain seperti Yogyakarta, Klaten, Kebumen, Grobogan dan beberapa daerah yang minus. Dari daerah-daerah dimana mereka berhadapan dengan kondisi alam yang keras dan tantangan hidup yang sulit, membuat mereka memiliki motivasi kuat untuk menempuh pendidikan tinggi. Pernah seorang guru bercerita tentang pengalamannya mengajar di suatu daerah yang teramat subur, kemudahan untuk mencari penghidupan membuat siswa-siswa di sana seperti tak memiliki motivasi belajar.

Daerah ini tak sempat terkena efek booming harakah-harakah yang terjadi di kota-kota dan kampus. Baru pada Tahun 2007 kami kedatangan murabbi yang menetap bersama kami, halaqoh ini baru mulai menggeliat. Menjelang Pemilu 2009 perpisahan itu terjadi. Melengkapi kepergian orang yang membimbing kami, pada Pemilu 2009 itu kami juga kehilangan kursi di dewan. Sebelumnya pada Pemilu 2004, kami memiliki anggota dewan yang berasal dari eksternal, akibat kekecewaan demi kekecewaan yang kami rasakan kemudian kami mengusung kader sendiri, dan ternyata memang belum mampu.

Lengkap sudah kesendirian kami, nyaris tanpa aspirasi dan tanpa murabbi. Namun yang sebenarnya lebih mendasar mungkin adalah ketsiqahan dan azzam kami yang masih teramat lemah, kami bukan siapa-siapa, kami masih anak-anak yang sekedar mencoba bertahan di halaqoh ini sembari menyaksikan teman-teman kami satu per satu berguguran dari jalan ini. Sementara di masyarakat dakwah kami juga nyaris terhenti, beberapa masjid di desa pelosok yang kami bantu pembangunannya, tanpa diikuti pembinaan lebih lanjut.

Dari puing-puing yang tersisa, semoga asa ini tetap terjaga. Dari kesendirian ini semoga menjadikan kami sempat memungut apa yang terluput dari derap langkah saudara-saudara kami di depan sana. Dari kesunyian ini semoga kami bisa mengais apa yang terlewatkan dari hiruk pikuk mereka yang berada di garis depan. Sekedar menopang ketika mereka goyah, menyisakan bekal ketika mereka kehabisan dan lelah.

Dari ketertinggalan kami semoga menumbuhkan keinginan untuk melangkah lebih cepat. Dari kejatuhan ini, hami berharap terperosok pada telaga hikmah yang sempat terlewatkan oleh para penempuh jalan.

Bukankah mahalnya nilai muasis sebelum kita adalah dari kesendirian mereka. Tatkala mereka melangkahkan kaki, memulai dari seorang diri. Tanpa memedulikan jauhnya cita yang dituju, namun bagaimana langkah itu terus melaju. Perjalanan itu menjadi lebih bernilai daripada apa yang diterima para pewaris kejayaan, penerima estafet kebesaran, sekalipun mereka melangkah dalam gegap gempita.

Dari apa yang terlewatkan, semoga ada sisi-sisi lain yang kami bisa lakukan, sekecil apa pun. Sekedar menjadi kerikil kecil yang berarti, setitik debu di jalan Allah atau setetes embun di jalan dakwah.

http://www.dakwatuna.com/2013/12/23/43692/yang-terlahir-dari-kesendirian/

Jumat, 15 November 2013

Menembus Kemustahilan


Berhadapan dengan kemustahilan? Antara pilihan menyerah, atau nekad untuk sekedar tidak dikatakan sebagai pengecut, meski keduanya sama-sama berakhir dengan kebinasaan.
Di antara benteng kemustahilan yang tegak kukuh, hanya sedikit orang yang mampu membuka celah sempit untuk menembusnya. Mereka inilah nama-nama yang ditakdirkan Allah tertulis di dalam sejarah peradaban umat manusia.
Kekuatan adi daya sebesar apapun bukanlah Tuhan, keruntuhannya bisa berawal dari seorang yang hanya berbekal suatu ide. Banyak ide brilian yang muncul tatkala berhadapan dengan kesulitan yang tampaknya tak mungkin dipecahkan atau menyiasati kekuatan yang tak seimbang. Mari kita tengok sedikit dari mereka.
1. Umpan dan Jebakan
Untuk sebuah kemenangan besar, kadang diperlukan suatu pengorbanan yang tepat. Umpan bisa menjadi sebuah strategi membuat lawan terpedaya.
Sebuah pelajaran dari Bukit Uhud, tatkala kemenangan telah di depan mata, keadaan menjadi berbalik karena banyak pasukan meninggalkan posisi mereka tergiur oleh harta yang ditinggalkan musuh.
Saat Napoleon menjadi kekuatan yang tak tertandingi, bahkan tengah mengerahkan kekuatan besarnya untuk menaklukkan Rusia dengan 650.000 pasukan, sangat berat untuk dihadapi sebagaimana perang biasa. Dengan strategi  membiarkan  pasukan Napoleon memasuki Moskow namun dalam keadaan kota itu dibumi hanguskan dan kosong, tanpa ada makanan, maka besarnya pasukan Napoleon menjadi bumerang bagi mereka, akhirnya luluh lantak berhadapan dengan dingin dan kelaparan.
Strategi ini sebelumnya dipakai jenderal Vietnam, Tran Hung Dao ketika menghadapi serbuan Mongol pada invasi tahun 1285. Pasukan Mongol memasuki ibukota dalam keadaan telah dibumi hanguskan, tanpa ada makanan dan tempat berteduh. Sepanjang yang mereka temui hanyalah kampung dan sawah yang telah dibakar, juga ditambah berhadapan dengan  ganasnya belantara tropis Vietnam. Dalam keadaan lemah, lebih mudah untuk menghadapi musuh.
2. Memanfaatkan Kelemahan dan Kelengahan Musuh
Betapa pun kekuatan musuh, pasti ada sisi-sisi kelemahan yang bisa dimanfaatkan untuk melemahkannya. Juga pasti ada hal-hal yang bisa membuatnya lengah, untuk menurunkan kewaspadaannya.
Tak mungkin bagi seorang Raden Wijaya menghadapi serbuan pasukan Mongol. Malah ia ikut bersama pasukan Mongol menaklukkan negerinya. Dan ketika pasukan Mongol meraih kemenangan dengan mudah, mereka merasa tugasnya telah selesai. Momen itulah yang dimanfaatkan Raden Wijaya untuk berbalik menyerang secara tiba-tiba, saat mereka lengah.
Besarnya kekuatan bisa jadi membuat hilang kewaspadaan, seperti yang terjadi di Hunain. Jika sebelumnya Kaum Muslimin selalu berada pada posisi sulit melawan kekuatan yang lebih besar, kali ini mereka menuju Hunain dengan perasaan terkagum-kagum atas banyaknya jumlah mereka. Namun semua itu tidak berguna sedikit pun ketika serangan mendadak membuat mereka tercerai berai, hingga Allah menurunkan pertolonganNya.
3. Cerdik dan Licik
Terkadang sulit untuk menentukan batas-batas antara cerdik dan licik, sekaligus menjadi tantangan bagi para pembela kebenaran ketika berhadapan dengan pihak yang menghalalkan segala cara.
Seperti apa yang terjadi pada perang Shiffin, kepolosan Abu Musa Al Asy’ary ketika berhadapan dengan kepiawaian Amr bin Ash menyebabkan kemenangan di depan mata pihak Ali menjadi perpecahan yang melemahkan.
Sedang di Troya, penyusup berhasil membuka benteng yang terlalu kukuh untuk ditembus dari luar.
Juga tentang ketulusan, Shalahudin Al Ayubi membantu pengobatan musuh besarnya, Richard The Lion Heart, dan tindakan ini mempermudah jalan kemenangannya.
4. Kearifan Lokal
Menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar, pemanfaatan kondisi alam yang ekstrim bisa menjadi penyeimbangnya. Pengetahuan tentang medan sulit, cuaca, angin, ombak dan pasang membantu menghadapi kekuatan yang tak seimbang.
Di Ain Jalut, hanya sebagian kecil pasukan dimunculkan menghadapi Tatar, yang sebenarnya hanya untuk menjebak mereka pada suatu lembah sempit, setelah itu baru kekuatan penuh dikerahkan.
Pada invasi Mongol ke Vietnam ketiga, kapal-kapal besar Mongol terpancing masuk ke perairan dangkal yang telah penuh dengan jebakan, dan ketika air surut kapal-kapal besar itu telah terjebak dan begitu mudah dibakar.
Menghadapi kekuatan asing yang yang lebih besar, kekuatan kecil yang lebih menguasai medan bisa mencari taktik yang efektif, taktik gerilya, pukul dan lari, memutus suplai makanan dan sebagainya.
5. Permainan Belakang
Kepiawaian dalam memainkan spionase, penyusupan dan pengkhianatan bisa menyederhanakan suatu kemenangan. Kekuatan besar yang telah terbangun  bisa menjadi tak berarti sama sekali, yaitu tentang membaca, menguasai dan mengendalikan lawan.
Malam sebelum Perang 1967, para perwira militer Mesir dijamu habis-habisan hingga mabuk. Hingga serangan meluluh lantakkan mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka dalam keadaan tidak mengerti apa yang terjadi.
6. PenguasaanTeknologi dan Penemuan Baru
Baru sedikit rahasia alam semesta yang terungkap oleh umat manusia. Dari yang sedikit itu, berbagai penemuan telah menjadi sarana untuk menguasai puncak-puncak peradaban manusia.
Serangan terhadap Konstantinopel selalu mengalami kegagalan. Kota itu memiliki senjata rahasia yang hanya dikeluarkan dalam keadaan terdesak, semburan api yang menyala di permukaan air laut, membakar setiap kapal yang hendak menyerang. Keberadaan senjata ini hilang dalam huru-hara dengan Romawi Barat semasa Perang Salib, dan beberapa abad kemudian kota ini bisa ditaklukkan.
Sebuah ide yang tak masuk akal ketika pasukan Muhammad Al Fatih menjalankan kapal-kapal mereka melalui daratan menggunakan balok, untuk menuju titik lemah pertahanan Konstantinopel. Sesuatu yang tak pernah diperhitungkan oleh lawan.
Pada pertempuran Ain Jalut, pasukan Qutuz membunyikan meriam untuk menakut-nakuti kuda pasukan Tatar. Selain itu juga menggunakan membunyikan gendang dengan irama tertentu yang hanya dimengerti oleh pasukannya untuk memandu pergerakan pasukan.
Seorang Jalut yang perkasa kalah oleh Daud kecil, di mana ia dikaruniai kelebihan dengan kemahiran menggunakan ketapelnya.
Penggunaan bom atom pada Perang Dunia kedua mengakhiri perang tersebut dengan lebih sedikit waktu, biaya dan korban jiwa yang menjadi korban.
Sebuah penemuan mekanisme yang mampu menghentikan seluruh aktifitas mesin pada masa Mussolini mungkin akan merubah arah sejarah dunia, namun sang penemu memilih bunuh diri daripada penemuannya dimanfaatkan oleh Sang Diktator. Memang kebenaran dan keberadaannya masih menjadi misteri, tapi memberikan sebuah pelajaran berharga tentang menjaga keberlangsungan sebuah ide di antara takdir Allah.
Betapapun hebatnya suatu ide, ia tetap membutuhkan orang-orang yang memiliki keberanian dan mau berkorban untuk mewujudkan ide tersebut. Ide manusia tikus Vietcong mengorbankan 3 juta manusia untuk terwujudnya sebuah kemenangan. Pengorbanan dan kesabaran yang tak habis hingga sebuah cita terwujud dengan sempurna, yang terkadang teramat panjang dan berliku.
Betapapun kemustahilan yang dihadapi, pasti ada sisi-sisi kelemahan yang semestinya membuat orang-orang yang memilkiki jiwa penakluk tak begitu saja berputus asa menghadapinya, menyerah begitu saja, tak tahu apa yang harus dikerjakan, atau sekedar menghadapi dengan keberanian yang buta. Bukankah prestasi yang membanggakan lahir dari kemampuan untuk memecahkan kesulitan yang pelik? Betapa banyak pasukan kecil yang mengalahkan pasukan besar dengan ijin Allah?
Dan kini di antara babak baru pertarungan opini, segala sesuatunya menjadi amat cair, hingga saat-saat yang menentukan sebuah kemenangan dihadapi dengan keletihan dan keinginan untuk istirahat. Kemenangan yang tinggal selangkah menjadi pupus, kuda-kuda hitam bermain cantik hingga keadaan berbalik pada saat-saat akhir. Menjadi suatu tantangan di era baru ini untuk mentransformasikan berbagai taktik dan strategi dari pertarungan fisik ke pertarungan pemikiran.
Silih berganti berbagai peradaban besar menghiasi sejarah peradaban manusia. Kejayaan mereka tidak serta merta menjadikan mereka kekal. Berbagai ibrah yang tersisa dari kisah dan sisa-sisa keruntuhan mereka.
Di antara kemenangan dan kekalahan yang dipergilirkan silih berganti, kemenangan sejati para pembela kebenaran adalah keteguhan untuk senantiasa berpegang dengannya, sekalipun posisi yang sedang dijalaninya sedang menempati takdir kekalahan. Apapun yang diperoleh, nilai keteguhan dan kesabaran menentukan seberapa besar kemenangan di akhirat kelak.
Harap diketahui segenap para musuh pembela kebenaran, cita yang ingin diraih bukanlah menundukkan manusia-manusia lain atau menegakkan hegemoni segolongan manusia atas manusia lain, namun sebuah cita yang tulus untuk bersama-sama mewujudkan kesempurnaan hidup dalam penghambaan kepada Sang Pencipta, untuk kedamaian hidup di dunia dan kebahagiaan hakiki di akhirat.
Termasuk peradaban yang kini menguasai dunia ini, yang mengerahkan segenap sarana untuk melanggengkan eksistensi mereka, ketika harus berhadapan dengan sunatullah. Dengan kemampuan nuklir mereka, apakah mereka bisa menjamin bahwa tidak akan ada mekanisme yang membuat teknologi nuklir yang mereka miliki tak berfungsi?
Dan tentang kita, di antara pertempuran ini apakah akan menjadi salah satu dari pilar-pilar penyangga kebangkitan Islam, menjadi debu di jalan Allah, atau sekedar menjadi penonton. (dakwatuna)

Senin, 04 November 2013

Jangan Ada Siri Antara Kita


Mendengar judulnya saja, terkesan seperti untuk anak-anak. Memang betul, Jangan Ada Iri Antara Kita adalah nama sebuah novel anak. Penulisnya pernah menjadi murabbi saat bertugas di daerah terpencil di tempatku. Kalau untuk kita-kita orang dewasa mungkin sudah tidak perlu bacaan kayak gitu ya? Disamping sudah berumur, menyandang predikat aktifis dakwah, dan sudah banyak mengikuti taklim, banyak hafal dalil. Namanya juga anak-anak wajar kalau masih nakal, suka berantem, ngambek dan iri. Sedang aktifis dakwah mungkin sudah kebal dengan penyakit gituan?
Eits, tunggu dulu. Lantas apakah di antara gerakan dakwah sudah tidak ada lagi yang namanya cekcok, berantem, ngrecoki, iri, dengki dan semacamnya? Apakah cara pandang berpikir kita sudah benar-benar dewasa, bebas dari berbagai sifat kekanak-kanakan?
Di antara kerinduan kita tentang terwujudnya ukhuwah yang sesungguhnya dalam umat ini, ada saja persoalan yang menimpa. Dari hal-hal yang sebenarnya hanya sepele, namun tidak disikapi secara dewasa sehingga akhirnya menjadi penghambat dakwah.
Ketika harakah atau jamaah lain naik daun, rasanya lebih mudah menganggap kalau mereka mengganggu lahan kita. Mengapa lebih sulit untuk berpikir kalau keberadaan mereka akan makin meringankan beban dakwah ini?
Ketika ada orang-orang bersemangat memakmurkan suatu masjid, kita lebih mudah mengatakan mereka suka ngrebut aset orang. Mengapa tidak berpikir, syukur-syukur ada yang membantu memakmurkan masjid yang sepi ini, yang kita sendiri sudah teramat malas mendatanginya.
Ketika majelis taklim atau pengajian yang kian surut dihidupkan orang, lebih mudah beranggapan mereka merebut usaha yang telah kita rintis. Mengapa tidak berpikir, dengan partisipasi mereka amal yang kian surut ini menjadi semarak lagi.
Banyak orang yang teramat sewot ketika aset-asetnya jatuh ke pihak lain. Sebenarnya maklum juga, tapi yang sewot tadi di tempat lain mau juga merebut aset orang. Coba kalau rasa sewot ini diganti dengan sebuah introspeksi tentang keteledoran dan kelalaian, agar di masa datang jangan sampai terulang, sekaligus untuk menjadi pemacu semangat.
Adanya proteksi, fasilitas dan kemudahan untuk menunjang suatu aktifitas dakwah, malah sering membuat gerah orang-orang yang sama-sama mengusung dakwah ini. Bukannya menyikapi dengan berlomba-lomba dalam kebaikan, malah mencari-cari dalih untuk merintangi. Dengan dalih sebagai institusi yang netral dan profesional, bukan untuk kelompok tertentu, sarana penunjang dakwah lantas ingin dihancurkan begitu saja. Di suatu tempat, ada pihak yang gerah dengan fasilitas dan proteksi yang tidak bisa dipungkiri memang menguntungkan pihak lain, namun di tempat lain mereka sendiri juga enjoy saja menikmati fasilitas dan proteksi serupa, yang menguntungkan pihak mereka.
Mungkin selama ini lebih banyak orang berorientasi untuk kepentingan sendiri. Sulit untuk ikhlas melihat saudaranya mendapatkan suatu nikmat. Yang penting mereka terhalang dari nikmat itu, meski halangan yang mereka dapat sebenarnya juga tidak menjadi keuntungan apa-apa buat dirinya. Lucu juga, malah lebih nyaman kalau sama-sama buntung.
Makanya kalau ada tokoh umat menduduki suatu jabatan, sesama umat malah lebih gerah dibanding bila jabatan itu jatuh ke tangan kaum nasionalis. Prinsipnya, meski kita tidak mendapatkan, yang penting mereka juga tidak mendapatkan.
Ketika satu kepaduan umat belum terwujud, sebagai imbas dari perbedaan persepsi dalam mengusung agenda dakwah, tidak mudah untuk memadukan berbagai jamaah, harakah, dan beragam sarana dakwah yang ada. Sebuah tantangan yang cukup sulit untuk membuat kita saling menyokong dan memberi jalan dari pada saling menghambat dan menjatuhkan.
Adakalanya kita saling berkompetisi, memperebutkan lahan dan bekal dakwah, yang kadang berujung pada persaingan tidak sehat. Namun pada momen lain ternyata kita saling membutuhkan, untuk saling membantu menghadapi problem yang tak mampu dihadapi sendiri. Apakah kita harus menunggu saat-saat genting baru bisa memadu langkah?
Adakalanya kita harus rela sedikit tersisihkan, untuk memberi kesempatan orang lain yang lebih memiliki kecakapan dalam suatu bidang. Jika terlalu berat menerima makna tersisih, anggap saja secara positif bahwa kita berkesempatan mencari bidang lain yang yang lebih cocok bagi kita, serta menjadi sebuah pengorbanan yang lebih bermanfaat bagi dakwah secara keseluruhan.
Adakalanya hambatan dakwah ini muncul dari ego para pengusungnya sendiri, hingga di antara kita saling menjatuhkan satu sama lain. Dan ketika kita menjadi sama-sama jatuh, baru merasakan kerugian yang dialami. Ego kita membuat umat ini menjadi lemah secara keseluruhan, ketika segala sesuatunya telah terlambat.
Jika kita pernah merasakan perihnya terzhalimi, mengapa kita masih mampu melakukan kezhaliman serupa pada yang lain? Jika di suatu posisi kita merasa hak-hak yang semestinya di dapat belum terpenuhi, hendaknya juga mengingat bahwa posisi lain banyak hak-hak orang lain yang masih kita ambil. Di satu sisi mungkin kita mengeluhkan suatu kekurangan, namun juga jangan lupa bila di sisi lain kita mendapatkan kelebihan. Bukankah Allah telah memperingatkan tentang penuntut keadilan yang ambigu :
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthaffifin : 1-3)
“Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh.” (QS. An Nuur : 48-49)
Tantangan dan hambatan sesungguhnya adalah hiasan yang memperindah perjalanan dakwah ini. Apalagi bila hambatan tersebut berasal dari sesama pengusung dakwah, memang membutuhkan suatu kesabaran. Bagaimana mungkin suatu perjuangan dikatakan berarti tanpa melewati berbagai aral cobaan. Hingga di antara kita rela mengorbankan ego dan kepentingan masing-masing. Saling mengkoreksi hendaknya dimaknai sebagai upaya penyelamatan dan kepedulian, karena kepaduan sejati tidak akan terwujud manakala substansi dakwah ini tak tegak. Namun ketika tindakan yang kita persepsikan sebagai niat baik itu membuat kita terjebak dalam keruwetan berlarut-larut yang tak bermanfaat sama sekali, berarti memerlukan suatu sikap kedewasaan untuk bisa menempatkan sesuai proporsinya. Dan kita masih harus belajar mengikis sifat kekanak-kanakan ini. (dakwatuna)

Minggu, 27 Oktober 2013

Salafy Di Muhammadiyah, Ketika Kebersamaan Teruji


Ramadhan dan Hari Raya telah berlalu, namun ada sesuatu yang masih mengganjal pada komunitas Salafy dalam tubuh Muhammadiyah tentang perbedaan pandangan mengenai penentuan awal Ramadhan dan Hari Raya. Komunitas Salafy yang agak moderat, yang selama ini relatif bisa nyambung dan bersinergi bersama komunitas lain di Muhammadiyah, bahkan keduanya lebih tampak identik dilihat dari luar. Hubungan yang terjalin lebih cenderung saling melengkapi, banyak merangkai suatu harmoni sekalipun sebenarnya juga terdapat perbedaan corak yang mendasar.

Pandangan keagamaan puritan keduanya dalam lingkup ibadah mahdhah memang sejalan. Namun Muhammadiyah juga mewarisi gagasan keagamaan modern dari Muhammad Abduh yang berpotensi menimbulkan friksi dengan pandangan Salafy yang tekstual. Dan potensi terjadinya friksi inilah yang mulai terkuak dari momentum dalam penentuan awal Ramadhan dan Hari Raya.

Muhammadiyah mengetahui bahwa penentuan tanggal pada masa Rasulullah dengan memakai cara rukyatul hilal yang sangat sederhana. Namun Muhammadiyah memaknai melihat bulan dengan mata telanjang hanyalah sebuah sarana untuk menentukan tanggal, sesuai dengan kondisi umat waktu itu. Nilai-nilai modernitas yang diadopsi Muhammadiyah cenderung pada penggunaan hisab untuk penentuan kalender sesuai pada kondisi zaman sekarang. Sebagai analogi sederhana, fikih sejak masa klasik menentukan status hukum khunsa melalui tempat keluarnya air kencing, sedang pada masa sekarang ketika ilmu kedokteran semakin maju, kasus khunsa ditentukan dengan tes DNA, hormon dan organ reproduksi, yang terkadang hasilnya berkebalikan dengan metode tempat keluarnya air kencing.

Seiring berlalunya zaman, persoalan penentuan kalender umat ini semakin komplek. Persoalan ini tidak sesederhana terlihatnya hilal atau sebatas ada saksi yang mengaku melihatnya,  sebagaimana adanya pada masa Rasulullah. Ketika di zaman ini ilmu astronomi sudah sedemikian maju, tidak bisa menafikkan begitu saja ilmu hisab untuk menguji validitas terlihatnya hilal.

Juga tidak semudah menentukan definisi ulil amri yang berhak memutuskannya, tidak sesederhana ketika ada orang melihat hilal, otomatis tanggal ditetapkan. Di antara pemahaman seburuk apapun suatu pemerintahan dzalim, kaum muslimin tetap harus taat sepenuhnya selagi bukan diperintah untuk maksiyat, dengan pandangan yang mendefinisikan ulil amri sebagai otoritas dalam bidangnya masing-masing termasuk ulama atau ormas, bukan monopoli pemerintah. Umat ini tidak lagi berada pada satu kepemimpinan yang otoritasnya diakui seluruh Umat Islam, termasuk persoalan memposisikan keberadaan ormas, persyarikatan, jamiyyah atau majelis keagamaan di antara beragamnya aliran, manhaj atau madzhab yang belum bisa dipertemukan. Juga sikap pada sebaik atau seburuk apapun suatu pemerintahan yang notabene adalah muslim, namun bagaimana bila menyangkut rezim boneka kaum kuffar sekalipun banyak memakai simbol-simbol Islam. Atau jika pemerintah didominasi aliran sempalan, memutuskan tanggal berdasarkan metode yang tidak syar’i seperti aboge, lantas siapa yang memegang otoritas untuk ditaati oleh umat.

Ketika dahulu Umat Islam berada hanya dalam satu Daulah, terjadi perbedaan penentuan tanggal antara wilayah yang berbeda, antara Damaskus dan Madinah. Apakah sekarang dalam satu negara yang luas, penduduknya harus menentukan tanggal secara bersamaan, meski satu negara terdiri dari berbagai wilayah dengan kondisi astronomis, mathla’, dan zona waktu yang berbeda, perbedaan antara Papua dengan Aceh lebih besar dari perbedaan antara Damaskus dan Madinah. Atau dalam sebuah kawasan sempit yang terbagi menjadi banyak negara kecil seperti di kawasan Teluk, apakah akan menentukan tanggal sendiri-sendiri sementara kondisi astronomisnya hampir sama. Apakah terlihatnya hilal mengikat pada satu negara saja, atau wilayah lokal sejauh jarak qoshor shalat saja, ataukah berlaku bagi seluruh dunia di era teknologi informasi yang mengglobal ini.

Banyak lagi persoalan lain seperti  pemahaman mengikuti waktu rangkaian pelaksanaan haji, dengan pemahaman mengikuti tanggal di negeri masing-masing. Misalnya apakah Negeri-negeri di Afrika harus menunda penetapan tanggal meski hilal telah terlihat dikarenakan di negeri tempat pelaksanaan haji hilal belum tampak dan tanggal belum ditetapkan. Ataukah sebaliknya, penetapan rangkaian ibadah haji menunggu penampakan hilal di negeri-negeri Afrika atau sebelah baratnya, jika di Arab Saudi hilal belum tampak.

Pilihan pada metode hisab hanyalah bagian kecil dari paradigma penerimaan nilai-nilai modernisme dalam keberagamaan. Dan ketika paradigma ini bersinggunggan dengan berbagai paradigma lain, seperti konsep ulil amri atau umat sebagai satu kesatuan yang tidak semestinya saling mendahului, maka semestinya diperlukan sikap arif dalam menentukan keputusan, terkait apa yang menjadi prioritas dan lebih bermanfaat.

Dalam kondisi yang begitu komplek, tidak semestinya kita terbelenggu pada permasalahan yang masih sulit dipertemukan. Jika selama ini kalangan Muhammadiyah mendapat manfaat dari sisi keilmuan, tsaqofah dan sumber daya dari interaksinya dengan kalangan Salafy, sementara kalangan Salafy mendapat akses menjangkau masyarakat yang lebih luas melalui Muhammadiyah, semoga sisi positif ini tidak rusak oleh memperuncing masalah-masalah yang tidak begitu bermanfaat.

Kita yakin keberadaan ulil amri merupakan solusi atas semua problematika umat. Namun untuk mewujudkannya bukanlah perkara yang mudah, sebagai imbas atas keragaman pemahaman dalam tubuh umat sendiri. Ulil amri bisa jadi baru akan tegak sempurna kelak di penghujung akhir umur umat ini. Dan berabad-abad sebelumnya, umat ini mesti bisa menyiasati ketiadaan senjata pamungkas ini dalam menghadapi segenap problematikanya.

Persoalan perbedaan pemahaman ini senantiasa ada, bukan sekedar persoalan tingkat keilmuan atau penguasaan kitab semata. Di antara upaya pencarian kebenaran yang mulia ini, semoga tidak terganggu oleh hal-hal yang tidak kontraproduktif bagi kedua belah pihak. (dakwatuna)