Tampilkan postingan dengan label Perjuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjuangan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 01 Oktober 2014

Terhentinya Laju Kaderisasi Dakwah (Bagian ke-1)

Seperti menyelesaikan sebuah puzzle, pada sebuah permainan di suatu dauroh, kami dibuat melingkar berkelompok, masing-masing anggota menjulurkan tangannya ke depan. Kemudian kami diperintahkan agar saling memegang tangan dengan anggota kelompok yang lain. Setelah itu diperintahkan untuk membentuk sebuah lingkaran, dengan tanpa melepaskan pegangan yang sudah terjalin. Dengan susah payah, akhirnya lingkaran itu terbentuk juga.

Setelah itu kami diminta untuk membuat lingkaran serupa, tetapi dilakukan sambil memejamkan mata. Bedanya, kali ini dipandu dengan instruksi, tangan anggota kelompok nomor sekian dipasangkan dengan anggota nomor sekian secara urut, tidak lagi acak seperti sebelumnya. Meski dilakukan dalam kondisi mata terpejam, lingkaran bisa terbentuk juga.

Pada permainan ke dua, untuk membentuk lingkaran dalam kondisi mata terpejam, tentunya lebih sulit dilakukan daripada pada permainan pertama. Berada dalam kondisi bisa melihat, meski dilakukan secara spontan, acak dan tanpa keteraturan, tugas tetap bisa diselesaikan. Berbeda ketika harus menyelesaikannya dalam kondisi keterbatasan, mata terpejam, tanpa bisa melihat sekeliling. Tetapi arahan dari instruktur yang memandu membuat tugas bisa diselesaikan.

Tak selalu lapang, kadang dihadapkan pada kondisi sempit penuh keterbatasan. Tak selalu mudah, kadang harus melewati keadaan sulit. Pada kondisi bebas pada permainan pertama, spontanitas tanpa terarah sudah memadai untuk terselesaikannya permainan. Tetapi dalam kondisi ada keterbatasan, tidak memadai lagi jika dikerjakan tanpa terorganisir atau tanpa adanya arahan sistematis.

Demikian pula lingkaran halaqah ini, pada awalnya begitu mudah untuk berkembang, terbentuk halaqah-halaqah baru, mendapatkan teman-teman baru. Sampai kemudian merasakan kondisi menjadi stagnan, jangankan untuk terus menambah dan berkembang, untuk mempertahankan yang sudah ada saja terasa berat, ada saja problematikanya.

Menempuh metode dan cara seperti dulu, sepertinya sudah tumpul tidak memadai. Semakin terasa lelah menempuh perjalanan, beban semakin terasa. Merasakan kondisi yang tak seperti dulu, tantangan yang dihadapi telah berbeda. Sebaliknya, kekuatan tak lagi utuh sebagaimana sedia kala.

Perjalanan kian jauh, saat ada tuntutan untuk berjalan lebih cepat. Sebaliknya, energi kian melemah, kian renta, dan lelah. Saat inilah diperlukannya suatu siasat yang berbeda. Fisik akan menua dan melemah, tetapi jiwa bisa tetap terjaga. Menyiasati keterbatasan, membutuhkan strategi yang lebih. Menyiasati kelelahan dalam berjalan, membutuhkan kendaraan untuk menopang perjalanan.

Perjalanan halaqah ini, makin dewasa, makin besar pula tuntutan dan tanggung jawabnya. Tak bisa lagi hanya berkumpul dan bersenang-senang seperti masa anak-anak sedang bermain. Beranjak dewasa, bersama meningkatnya tuntutan untuk mandiri, bahkan saatnya harus menanggung beban orang lain, menghadapi tingkatan ujian yang lebih tinggi.

Bukan hanya untuk tumbuh dan tumbuh, tibalah waktunya untuk berhadapan dengan dunia dan tantangannya. Bukan hanya untuk melenggang, tetapi mesti jua menyibak tantangannya. Masa persiapan telah berlalu, tiba saatnya menjalani pertarungan.

Mewujudkan agenda-agenda dakwah, pasti akan bersinggungan dengan problematika dunia yang tak sederhana. Tak lagi bisa mengandalkan spontanitas, tak hanya asal-asalan. Dibutuhkan langkah yang terarah, terukur dan profesional. Menghadapi keterbatasan diperlukan siasat, membutuhkan terobosan yang sesuai dengan tantangan dan bahkan ketika harus menyiasati kemustahilan.

Kerasnya dunia dengan semua intrik dan tipu dayanya, menyisihkan orang-orang yang lalai, sekalipun kekuatan mereka besar, hanya menjadi bulan-bulanan tak berdaya, terpedaya, terpecundangi, tanpa bisa berbuat apa.

Sebuah episode yang menuntut adanya usaha untuk merajut suatu upaya yang sebaik-baiknya, dengan upaya untuk meraih pertolongan Allah.


Minggu, 03 Agustus 2014

Semestinya Bukan Semata Kekuasaan

Tak terlena oleh kemudahannya, tak patah semangat oleh kesulitannya. Tak larut oleh keberhasilannya, tak putus asa oleh kegagalannya.

Semestinya bukan semata kekuasaan, bukan untuk tujuan-tujuan rendah sesaat, bukan semata kepentingan pribadi, juga bukan hanya untuk jabatan dan kedudukan. Menjadi kemaslahatan bagi kehidupan, membawa kebaikan bagi segenap umat manusia.

Bukan semata kekuasaan, tidak mengukur keberhasilan dan kegagalannya dengan pencapaian-pencapaian duniawi semata. Bagaimana berbuat sebaik-baiknya, tak berkecil hati oleh rintangannya, tak meratapi keterpurukannya.

Kalau hanya semata kekuasaan, semestinya tak apa untuk mengalah, juga tak mengapa untuk mundur. Tetapi karena berkaitan juga dengan roboh dan tegaknya keadilan, menyangkut kepentingan masyarakat yang luas, bahkan perseteruan antara kebenaran dan kebatilan, agar jangan terbersit keinginan untuk mundur walau sejengkal, agar kuatkan bertahan dalam tantangannya, dan tabah dalam kesulitannya.

Karena bukan semata kekuasaan, harus menghadapi tantangan yang lebih berat, tipu daya yang lebih dahsyat, melebihi persaingan duniawi untuk tujuan-tujuan rendah. Harus rela berpayah, menerima perlakuan pahit, tertimpa berbagai tipu daya dan kezhaliman.

Jika bukan semata kekuasaan, akan selalu ada sandaran atas kelemahannya, penolong atas kesulitannya, dan pelindung atas ketidakberdayaannya. Selalu ada jalan ketika tantangan yang harus dihadapi teramat dahsyat di luar kemampuan seorang hamba, bahkan tantangan bertubi-tubi menimpa tanpa bisa lagi dimengerti, saat-saat tak tahu lagi mesti berbuat apa.

Karena bukan semata kekuasaan, jangan sampai kemenangan terbangun di atas cara yang tidak baik, tak pula tersusun oleh kotoran hina, atau tercemar oleh noda.

Kesulitan dan kemudahannya, hasil yang diperoleh dan pengorbanan yang harus direlakannya, keluhan dan kesabarannya, tak kan sia-sia. Kepayahan yang harus dijalani dan buah-buah yang dipetiknya, agar kesemuanya sempurna menjadi kebaikan.


Jumat, 06 Juni 2014

Futur di Bawah Futur

“Mereka yang menjadi KPPS atau saksi, banyak meninggalkan jamaah. Sudah menunda-nunda waktunya, shalatnya pasti terburu-buru. Pasti juga banyak melalaikan tilawah dan zikirnya.”

Semestinya kita lebih merasakannya, sebelum kritik itu datang, karena kita sendiri mengalaminya. Atau mungkin perih itu malah sudah tak terasa lagi, ruh ini telah lumpuh, terlalu banyak luka yang tergores.

Jujur dengan sesungguhnya, sebagian besar dari kita menjalani semua ini bukan berorientasi pada materi dan kekuasaan. Jika di antara kita ada yang memiliki niat berbeda, itu persoalan lain. Menjalani kepayahan ini bukan untuk tujuan dunia. Tetapi kian hari makin banyak yang tersita oleh hiruk pikuk aktifitas politik ini, memporak-porandakan amal-amal kita. Bukan hanya ibadah kita yang berantakan, makin banyak rambu-rambu syar’i yang (terpaksa) diabaikan, makin terbiasa melangkah di wilayah abu-abu.

Mungkinkah kita salah jalan? Mungkin lebih baik diri ini pergi. Meninggalkan jalan sulit yang harus berpayah-payah menyusurinya. Melepaskan kesulitan ini untuk mengejar kesalihan pribadi. Uzlah, sepertinya lebih mudah untuk ditempuh. Tak perlu lagi direpotkan mereka, tak usah pedulikan mereka. Agar dapat mengkonsentrasikan diri dengan ibadah sepuasnya, tanpa banyak terganggu, menikmati kesendirian bersama-Nya.

Sulit untuk menepis kekhawatiran jika diri ini akan terjerumus bersama mereka. Tetapi sama besarnya atas kekhawatiran jika urusan umat ini diserahkan kepada mereka yang tak berakhlak, tak memiliki  komitmen terhadap dakwah ini. Jika orang baik-baik tak sudi menempuh kotornya jalan ini, hanyalah mereka yang bermental makelar dan para preman yang mau menempuhnya, leluasa menentukan kebijakan publik. Berharap sedikit saja mewarnainya dengan sentuhan dakwah.

Teguh bertahan di jalan ini betapapun sulitnya, di antara hingar bingar godaan yang menghujam, meski dari keteguhan ini, banyak hal dari kami yang luluh lantak. Tetapi untuk membiarkan umat ini dalam kepayahan, meninggalkan mereka tertatih-tatih, rasanya terlalu berat meski juga dibayangi kekhawatiran jika diri ini akan terjerumus bersama mereka. Cinta kami kepada umat ini, berbuah keinginan untuk mengayomi dan menuntun mereka, meski kami sendiri juga tertatih. Keinginan menolong mereka, memaksa kami rela menjalaninya.

Dan harus menjalaninya. Agama ini hidup dari dakwah dan perjuangan. Jangan harap untuk bersenang-senang dan menikmatinya sendiri, tantangan itu tak kan membiarkan begitu saja. Regenerasi agar ia tetap kokoh terjaga, dan terus bisa dinikmati. Mungkin kita sanggup menjalani agama ini meski harus memakan akar-akar pohon, tetapi terpikir juga mereka yang masih butuh untuk dituntun dan dipapah.

Rasulullah dan para sahabat pernah bangun kesiangan dan kehabisan waktu shalatnya ketika ditimpa kepayahan dalam perang. Tetapi hiruk pikuk politik ini sungguh berbeda, jika ia terus menjadi justifikasi atas kemalasan demi kemalasan ini, mungkin akan menghanyutkan keteguhan ini dari sisi yang lain, tanpa terasa. Bentuk lain dari futur, bukan karena pergi dari jalan ini, tetapi karena bertahan teguh di atasnya. Harus melewati satu tantangan menuju tantangan berikutnya, tergerus di jalan perjuangan.

Malu untuk berharap mendulang izzah dari kubangan kehinaan, tetapi di balik ketidakberdayaan ini ada niat mulia yang terselip, sungguh ia tetap suci. Menjaga iman dalam suasana tidak kondusif. Agar Dia memberi pertolongan, tetapi agar kita juga berusaha. (pksnongsa/dakwatuna)

Jumat, 16 Mei 2014

Kursi Terakhir


Semestinya membuahkan rasa syukur, mengingatkan tentang keberuntungan, mengerti rasa sebuah pertolongan, saat terselamatkan dari keadaan genting. Kursi terakhir, menanti dengan harap-harap cemas untuk mendapatkannya, bertaruh pada sisa suara memperebutkan satu kursi yang tersisa.

Agar menjadi cambuk untuk kerja keras, berbuat sebaik mungkin. Kursi terakhir, memang ia bersama dengan kursi pertama dalam gerbong, tapi sesungguhnya ia dekat dengan kursi pertama yang terdepak, dekat dengan sebuah penyesalan. Kursi terakhir yang terangkut, meski menempati gerbong paling belakang. Memandang kursi pertama yang terdepak, mesti merasakan sungguh sebuah karunia.

Menjadi pelajaran, sebelum kehilangan benar-benar terjadi. Pelajaran tentang abai dan waspada dalam sebuah kompetisi. Tak ada tempat untuk bersantai, bukan waktunya untuk main-main. Tak ada zona aman sebelum usai, tak boleh sedikit pun lengah. Bersiap dan waspada akan segala kemungkinan terburuk, akan tantangan yang tak terduga. Mungkin ia  menjadi kursi terakhir yang sesungguhnya, akhirnya terlempar dari gerbong.

Menjadi penggugah, agar tak menyia-nyiakan kesempatan, kesempatan terakhir yang dimiliki, mungkin itu terjadi. Untuk menumbuhkan semangat, totalitas dalam melayani, dan menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Tak mengulangi kesalahan, agar perjalanan senantiasa berlanjut, memiliki kesempatan untuk meneruskannya.

Tantangan untuk bisa menjawab, ketika nilainya dipertanyakan. Tantangan untuk berbuat, ketika dipandang sebelah mata. Pengorbanan menjadi sebuah keharusan. Untuk menjawab pertanyaan, apakah akan terus melaju menuju kursi pertama ataukah akan terlempar dan tenggelam, ajal bagi sebuah gerakan dakwah.

Dakwah ini tak kan terhenti, akan terus melaju, memang benar demikian. Tapi wasilah dakwah bisa berganti, tak ada jaminan. Menjadi peringatan bagi para penempuh jalannya, agar ajal tak terburu menghampiri.


Sabtu, 26 April 2014

(Bukan) Maju Untuk Kalah, Mundur Untuk Menyerah

Tentang suatu pasukan, tatkala harus mengambil keputusan yang berat, sebuah pilihan yang sangat dilematis. Memaksa untuk maju, bersama bayang-bayang kekalahan dan kehancuran. Atau terpaksa untuk mundur, meski juga tak semata-mata ingin menyerah.

Bukan hanya soal keberanian, tidak pula tentang kalah dan menang semata, tetapi menyangkut kepentingan besar bagi umat, yang benar-benar sedang dipertaruhkan di atasnya, teramat mahal akibat yang akan dibayar.
Apalah artinya keberanian, melaju dalam gempita, jika hanya melangkah menuju lubang jebakan yang telah dipersiapkan oleh lawan, akhirnya hanya menjadi bulan-bulanan, tercatat sebagai keberanian konyol seorang pecundang.
Terkadang, jalan mesti berliku, saat-saat di mana langkah harus memutar, mengambil strategi yang lain. Memang mundur tak selamanya berarti menyerah, tapi tetap saja ada bayang kekhawatiran jika langkah ini akan tercatat sebagai keputusan seorang pengecut.
Hati-hati, bukan sekedar keberanian, tetapi ia buta. Bukan sekedar pengorbanan, tetapi ia sia-sia. Tetapi juga bukan keraguan, yang akhirnya berbuah ketakutan, menafikkan apa yang sebenarnya telah mampu untuk dicapai. Peluang, bahkan mungkin yang terakhir, mungkin tersandera oleh keraguan ini.
Atau bila menempuh pilihan untuk nekat, mengabaikan perhitungan, logika dan realitas, bersandar semata kepada pertolongan-Nya yang tak kurang-kurang, semata-mata berbekal keyakinan atas kekuasaan-Nya yang tak terbatas. Namun jangan-jangan ini hanyalah optimisme semu belaka.
Di antara ketergesaan dan keberlambatan, untuk membuat keputusan dengan tepat, mampu mengukur kekuatan diri dan lawan. Bukan keputusan emosional semata, bukan menuruti ambisi tanpa perhitungan.
Ya Allah, kami hanyalah hamba-hamba yang lemah, tak semestinya kami bersandar pada kemampuan kami semata. Agar kelemahan kami menjadikan kami lebih bersimpuh memohon pertolongan-Mu. Meski kami tak dibebani kewajiban untuk berhasil, tapi yang kami ketahui, ikhtiar yang kami lakukan mesti sebaik-baiknya.
Ya Allah, untuk para pemimpin kami, berikan sebaik-baik bimbingan kepada mereka, pilihkan keputusan yang terbaik bagi kami, agar benar-benar berhitung dengan seksama, ketika tipu daya yang kami hadapi di luar kemampuan kami
Bukannya kesatuan dan tekad tak cukup, tapi ada fase-fase yang harus ditempuh untuk sebuah kemenangan, agar ia layak untuk disematkan, dan mungkin selama ini belum dilakukan. Agar tekad tak berbuah kecerobohan, agar kesatuan tak justru menjadi sandungan.
Berusaha terbaik, berharap pilihan terbaik, sebelum semuanya terlambat, agar tak menjadi penyesalan kelak.


Rabu, 23 April 2014

Mudahkan Ya Allah

Berhadapan dengan gelombang, ketika harus menghadapinya. Atau berjumpa dengan badai, ketika harus melewatinya. Serasa tak kan mampu menghadapinya, mungkin juga serasa tak akan selamat melewatinya.
Jalan buntu, yang hampir memaksa untuk menyerah, tak tahu lagi apa yang mesti dilakukan. Begitu banyak ketidakmungkinan, dari hal-hal kecil dalam keseharian, hingga perkara besar yang menyangkut sebuah negeri.
Kesulitan hidup yang seperti tak kan terpecahkan, sakit yang seolah tak menyisakan harapan untuk sembuh, hingga sebuah negeri yang terbelit dalam cengkeraman kezhaliman, terjajah oleh perilaku nista, seolah tak bisa diperbaiki lagi, tak tahu jalan untuk membebaskan diri. Bahkan ketika harus menghadapi suatu prahara atau revolusi yang berat, seperti menghadapi pertarungan yang berdarah-darah.
Betapapun besarnya aral, ketika ia telah terlampaui, tak sehoror ketika baru akan menghadapinya. Seperti yang dirasakan mereka yang selamat dari sebuah bencana yang dahsyat. Apalagi orang-orang, dirinya sendiri bahkan tak mengerti, merasakan betul suatu keajaiban. Mereka yang pernah melewati kesulitan hidup yang berat, merasakan betul adanya keberuntungan.
Negeri yang pernah merasakan cengkeraman imperialisme dunia, serasa tak berdaya, tapi tak menyurutkan cita untuk meraih kemerdekaan. Cita yang seolah teramat jauh untuk dituju, teramat tinggi untuk digapai. Ternyata yang terjadi, ada jalan tak terduga yang mempermudah kemerdekaan itu tercapai, sesuatu yang tak mungkin kemudian menjadi terwujud. Betapa banyak rezim yang kokoh, seperti tak akan runtuh, namun dalam sekejap segalanya berubah. Kekuasaan begitu mudah untuk berganti, tak terbayangkan situasi begitu mudah berubah.
***
Dunia ini, zaman ini, dalam cengkeraman kezhalimannya, belitan kerusakannya, tak berdaya menghadapinya, seolah tak lagi bisa diperbaiki. Betapapun beratnya, menjaga tekad untuk memperbaikinya agar tetap hidup, agar tak menyurutkan ikhtiar. Dari ikhtiar yang tak seberapa ini, berbuah pertolongan-Nya, agar diberi kemudahan, sebuah jalan keluar yang terbaik.
Apa yang mustahil menjadi mudah, apa yang tak mungkin akhirnya terwujud. Agar dari kelemahan ini, lebih terasa kebutuhan akan pertolongan-Mu, hingga kami lebih merendahkan diri kepada-Mu. Apapun yang kami capai nantinya, tetap dirasa bukan karena kekuatan dan kehebatan kami, melainkan pertolongan dan karunia-Mu semata, sehingga sempurna syukur kami kepada-Mu.
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali ‘Imran: 186)
Semakin beratnya ujian yang dihadapi adalah semakin besar kemuliaan yang di dapat. Tetapi kami merasa terlalu lemah untuk memikulnya, berharap dimudahkan, diringankan, mendapat karunia dari ampunan dan rahmat-Mu.
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqarah:186)

Rabu, 26 Maret 2014

Uhud, Thursina, Mozaik Harapan di Ambang Kehancuran

Saat-saat hanya bisa berharap, pasrah tanpa ada pilihan lain. Berbekal keyakinan semata, janjiNya telah pasti. Agar ketika kelak kesombongan hendak singgah, segera beranjak, menuju pilihan lain, menempuh jalan syukur dan tawadhu’.
Meredup tapi tak padam, memudar tapi tak lenyap, terjatuh tapi menggeliat lagi. Sejenak terhenti, tetapi akan bangun, meneruskan langkah, mengalir sampai ke akhir muaranya. Tetap hidup, takkan pernah ada yang membuatnya berhenti sama sekali.
Lelah dalam penantian panjang. Mengkhawatirkan habisnya kesabaran yang dimiliki, sementara perjalanan mungkin masih jauh. Tetapi kemenangan itu telah menjadi ketetapanNya, agar tekad dan kesabaran tetap utuh.
***
Berbagai karunia Allah kepada Bani Israil berbalas kedurhakaan mereka kepada Nabi Musa. Di ambang azab, tatkala gempa mulai terasa, sebuah bentuk belas kasih Nabi Musa kepada kaumnya, terucap permohonan terakhir untuk sebuah ampunan:
"Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (QS. Al A’raaf: 155)
Pertolongan dan ampunanNya takkan habis, sekalipun di antara hamba-hamba yang menzhalimi dirinya, asal tidak berputus asa.
***
Kami tak sebaik Nabiyullah Musa ‘alaihissalam, tapi juga tak seburuk para pembangkang dari kaumnya. Kami meniti jalan dakwah ini, sekalipun berada di barisan terbelakangnya. Kami menjadi penuntun umat ini, sementara langkah kami sendiri terkadang masih tertatih. Tanggung jawab yang besar terpikul di pundak kami, sementara kami sebenarnya masih membutuhkan penopang saat-saat goyah.
Dengan menyandang predikat sebagai pengusung panji dakwah, tidak lantas secara otomatis membuat kami terbebas dari khilaf, alpa dan kelemahan. Mengenakan atribut dakwah, tidak serta merta menjadikan kami sepenuhnya suci.
Kami tetap manusia biasa, dengan kekuatan dan kelemahan, tetap memiliki kekurangan dan kelebihan. Namun yang membuat berbeda, kami memiliki cita dan tekad tentang dakwah ini. Berada di jalan dakwah ini adalah suatu nikmat, sekaligus tanggungjawab yang besar. Kami khawatir, noda yang ada pada kami membuat panji dakwah ini terjatuh, membuat cita ini retak. Terkadang dakwah itu terpuruk oleh pengusungnya sendiri.
Dengan kekurangan dan kelebihan ini, masing-masing di antara kami saling  membutuhkan dan melengkapi. Namun terkadang ada di antara kami yang menjadi beban, menyulitkan teman seperjuangan.
Hanya saja, dari kebaikan kami yang tak seberapa ini, berharap tercurah ampunan dan rahmatNya yang tiada tara, menanti sebaik-baik pertolongan.
***
Tak ada jaminan kemenangan, tak selalu bertemu dengan kemudahan. Aral melintang menjadi ujian dan seleksi, hingga terlihat siapa yang terbaik amalnya, di antara bergulirnya kejayaan dan kekalahan. Hanya orang-orang terpilih dalam ujian yang mendapatkan prestasi terbaik.
Kemenangan lembah Badar terasa lebih manis, tetapi kejatuhan yang terpahat di bukit Uhud lebih menjadi ibrah, tentang kewaspadaan, kesalahan itu mungkin terulang kembali, dakwah ini terpuruk karenanya, berada pada posisi sulit.
“ Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izinNya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu, dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai (harta rampasan). Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema'afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (QS. Ali Imraan:152)
Kesalahan berbuah luka dan kesedihan. Tergelincir di ambang kekalahan. Tetapi dakwah ini tetap milikNya. Sejatuh apa pun yakinlah bahwa Dia akan senantiasa menjaganya.
“(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu.” (QS. Ali Imraan: 153-154)
Di ambang kehancuran, seburuk apapun, tak ada tempat untuk putus asa. Ketika jalan telah buntu, bukan tempat tuk menyerah, masih tetap akan ada titian doa, menjadi jalan lain. Harapan itu akan tetap ada, tetap akan berlanjut, akan bangkit kembali, takkan putus pertolonganNya.
“ Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” (QS. Ali Imraan: 139-141)
Berharap agar Dia memaklumi posisi sulit kami, memaafkan perbuatan kami yang melampaui batas, menolong apa yang berada di luar kemampuan kami, memberi rahmat atas niat tulus kami, jalan keluar yang terbaik dari kesulitan kami, dengan karuniaNya semata.
Juga agar kelemahan menjadi pelajaran, sehingga kita senantiasa ingat, tak lupa diri menghadapi kemenangan, tak takabur dengan keberhasilan, tak lengah sebelum sampai tujuan.
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imraan: 165-166)
Tantangan itu berbuah kemuliaan, membuat kesabaran itu sangat bernilai. Ketidakberdayaan berbuah kepasrahan, meluluhkan keangkuhan. Tak berhenti di gunung Thursina, tak padam di bukit Uhud.