Senin, 10 Februari 2014

Imam Hasan Al Bana, Ustadzul Alam, dalam Cita Petani


Telah sering dikatakan bahwa Rasulullah adalah seorang pengembala yang baik, pedagang yang baik, kepala keluarga yang baik, panglima perang yang baik dan pemimpin negara yang baik. Namun satu hal yang mengganjal bagi para petani ketika disebutkan bahwa Rasulullah bukanlah petani yang baik.

Pandangan demikian bisa jadi berangkat dari sebuah kisah tentang Rasulullah dan penyerbukan kurma. Tetapi dari kejadian tersebut terpetik sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi kemaslahatan umat manusia. Dari ungkapan “Engkau lebih mengetahui urusan duniamu,” terlahir kaidah yang menempatkan dengan proporsional kerasulan Beliau Salallahu alaihi wassalam dengan tugas kekhalifahan yang diemban umat manusia dalam upayanya memakmurkan bumi.

Dalam taujihnya beberapa tahun silam, Ustadz Anis Matta memaparkan bahwa cita jamaah ini tentang ustadzul alam, cita untuk menjadi guru bagi dunia, bermula dari Imam Hasan Al Bana dan sekelompok petani.

Petani? Semuliakah itu? Bukankah penyebaran agama Islam ini sejak generasi awal hingga lebih banyak merupakan jasa para pedagang yang mengembara menjelajahi berbagai negeri? Termasuk juru dakwah yang membawa Islam ke Nusantara ini adalah para pedagang, pengembara-pengembara tangguh, bukan petani yang berdiam di ladang-ladang mereka.

Dilihat dari beberapa sisi memang seolah-olah Islam lebih mengutamakan perdagangan, termasuk memberi nilai lebih pada aspek kejujuran para pedagang. Profesi yang memungkinkan lebih banyak menjalin interaksi dan mendapatkan relasi dengan banyak orang. Meski secara keseluruhan  Islam menghargai semua pekerjaan yang bermanfaat, baik berupa pemecah batu, mencari kayu bakar, menggembalakan ternak, bercocok tanam maupun berdagang. Islam menghargai semua upaya untuk mencari penghidupan dengan jerih payah yang diupayakan tangannya sendiri, serta mencela kemalasan dan mental bergantung pada orang lain atau menjadi peminta-minta.

Dari sisi kewajiban zakat bagi petani yang seolah lebih berat, sepertinya di balik itu memang Islam sengaja mengkondisikan umatnya untuk tidak terlalu berkutat pada pertanian. Selain aspek pertanian lebih banyak memanfaatkan nikmat Allah di alam, sebuah hikmah yang tersembunyi di balik keadilan suatu syariat kemudian terkuak. Pasca Rasulullah hasilnya segera terlihat, umat Islam menguasai perdagangan dunia, ke negeri India, Cina dan terutama lalu lintas perdagangan di Laut Tengah, sekaligus mengurung bangsa Eropa pada suatu fase kemunduran peradaban, terkurung di ladang-ladang mereka sebagai petani.
Dengan mendorong umatnya menjadi pedagang, Islam mendapatkan posisi yang lebih kuat secara politik maupun ekonomi. Penguasaan sektor perdagangan pada masa tersebut lebih strategis dibandingkan dengan terpaku pada pertanian.

Era industrialisasi tiba, situasi dunia banyak berubah, pertanian tergilas dan terpinggirkan. Menjadi petani kebanyakan adalah keterpaksaan atau pilihan terakhir ketika tidak mampu mendapatkan profesi lain yang lebih baik. Kondisi alam yang makin tidak ramah dan industrialisasi menjadi pukulan berat bagi petani pada era ini. Petani menempati posisi sebagai profesi dhuafa, bahkan bisa dikatakan sulit untuk eksis tanpa dukungan subsidi dan berbagai kebijakan protektif dari negara.

Sekian lama dikesampingkan, kenyataan lain dihadapi, ketahanan pangan suatu negara adalah variabel penting bagi kedaulatan negara tersebut. Ternyata kemajuan industri tidak membuat pertanian bisa serta merta dikesampingkan.

Perdagangan, Pertanian dan Karakteristik Zaman

Mengutamakan perdagangan adalah sebuah pilihan tepat, dalam perspektif karakteristik zaman pada masa salaful umah tersebut. Ketika Islam berada pada fase perkembangan, Islam membutuhkan karakter pedagang-pedagang tangguh, yang memiliki kemampuan logistik tak terbatas untuk mengembara ke berbagai negeri menyebarluaskan dakwah, bukan para petani yang mobilitasnya terbatas di kampung halamannya.

Dunia memasuki era digital dan teknologi informasi. Interaksi sosial tidak lagi mengenal jarak. Dakwah kemudian tidak terbatas pada pengembaraan fisik.

Karakteristik akhir zaman kelak ketika Islam telah menyebar dengan sempurna akan berbeda. Ketika Islam berada pada fase pemeliharaan, Islam lebih membutuhkan karakter pemelihara. Dan karakter tersebut ada pada petani.

Kebahagiaan Akhir Zaman adalah Kabar Gembira bagi Petani

Dari beberapa atsar tentang kebahagiaan akhir zaman, digambarkan tentang kesuburan seluruh penjuru muka bumi, keberkahan tanaman dan hasil ternaknya. Setelah sebelumnya kekayaan yang keluar dari perut bumi tidak mampu memberi kedamaian, kemegahan dunia tak memberi kebahagiaan penduduknya. Kemudian akan terjadi saat yang diimpikan.

“Langit akan setia menurunkan hujan dan bumi subur dengan tanaman yang menghasilkan dan bermanfaat, meskipun kamu menaburkan benih di atas sebuah batu yang licin. Manusia dengan singa hidup berdampingan tanpa saling membunuh, menginjak ular berbisa sekalipun tidak berbahaya. Tidak akan ada kebencian atau permusuhan.”
“Tumbuhkanlah buah-buhanmu dan keluarkanlah semua barakahmu, sehingga orang-orang cukup makan satu buah delima dan dapat benaung dengan kulitnya, susu juga diberi berkah, sehingga satu unta cukup untuk beberapa kelompok bangsa dan satu lembu cukup untuk beberapa kelompok orang.”

Cita tentang ustadzul alam, menjadi guru bagi dunia, adalah cita yang memiliki makna paling dalam, lebih tinggi dari keinginan menjadi penakluk atau penguasa dunia semata. Sehingga sudah semestinya cita yang berharga ini diikutu kesungguhan untuk menjaga dan mewujudkannya.
Wallahua’lambishawwab.


Perseteruan Jokowi dan Islamis, Akankah Berujung Berkoalisi?


Hubungan antara kalangan Islam dan Nasionalis sebenarnya sudah relatif cair. Berbagai koalisi yang terbangun dari tingkat lokal dalam pilkada hingga pada tingkat nasional sudah tidak terpaku pada dikotomi Islam-Nasionalis. Kalangan Islamis sudah tidak terlalu mengingat latar belakang Jokowi yang berasal dari partai yang sering berseberangan dengan visi keumatan di masa lalu, demikian pula menerima realitas keberadaan Ahok sebagai seorang non-muslim yang memenangkan suatu pemilihan. Tetapi ketika kalangan politik Islam lebih cenderung mencitrakan dirinya semakin ke tengah, moderat, mengayomi semua kalangan, melepaskan diri dari sekat-sekat ideologis, justru bola-bola panas terus terlontar dari pihak Jokowi-Ahok, keberanian melempar isu-isu yang menohok kalangan Islamis.

Ahkirnya hingga saat ini terjadi perseteruan yang sengit antara pendukung Jokowi dan kubu Islamis, melalui perang opini di berbagai media, pertarungan di jejaring sosial, mengambil posisi yang saling menjatuhkan satu sama lain. Namun apakah perseteruan ini akan berakhir dengan koalisi keduanya?

Meski perseteruan ini tidak semata-mata hanya berada di ranah persaingan politik, tetapi juga merambah lebih jauh pada isu-isu ideologis. Statemen-statemen panas yang yang sering dilontarkan Ahok tentang agama, dimulai episode ayat konstitusi, dilanjutkan tentang dompet, dempet dan akhlak, kebijakan pembongkaran beberapa masjid, pengangkatan lurah non-muslim, wacana tentang lokalisasi dan penghapusan identitas agama di KTP dan sebagainya. Meski demikian tetaplah politik itu bundar, tidak ada kawan atau lawan abadi. Berbagai benturan ideologis dan politis antara keduanya tidak serta merta membuat peluang untuk menjalin koalisi telah sepenuhnya tertutup.

Perang opini dan kritik yang berlangsung sengit di dunia maya antara Jasmev dengan PKS Cyber Army, perseteruan yang tak henti-hentinya antara Ahok dengan Ketua DPW PPP DKI Jakarta Lulung Lunggana, keterlibatan Jokowi dalam mendukung kandidat dalam berbagai pilkada yang berhadapan head to head dengan kandidat yang diusung partai Islam, perseteruan dengan Muhammadiyah dan berbagai ormas Islam, sikap kritis kalangan Islamis terhadap berbagai kebijakan Jokowi-Ahok dalam masalah penggusuran, penanganan kemacetan, penetapan UMP, hingga penanganan banjir, mis-komunikasi yang sering terjadi dengan kepala daerah tetangga yang kebetulan berasal dari kalangan Islam, akankah semua konflik ini kemudian luluh ketika terdesak pada realitas politik dan kepentingan yang pragmatis?

Atau justru sebaliknya, tetap mempertahankan keberanian menghadapi resiko politik, mengesampingkan politik kompromi dan akomodasi, kukuh mempertahankan idealisme masing-masing serta membiarkan konflik-konflik terus bergulir mewarnai jalannya pemerintahan. Meninggalkan pilihan berbagi kekuasaan demi terciptanya suasana yang lebih sinergis.

Hubungan politik antara kalangan yang dipersepsikan sebagai Nasionalis dan Islamis pada era sebelumnya menempatkan keduanya masih signifikan untuk mengambil pilihan akomodatif dalam suatu koalisi bersama, baik pada masa Megawati maupun SBY. Polemik kepemimpinan wanita antara PPP dan Megawati berakhir dengan koalisi Mega-Hamzah. SBY yang sebelumnya diterpa isu-isu yang tidak baik bagi kalangan Islamis, berujung merapatnya kekuatan politik islam dalam koalisi di pemerintahannya.

Seiring realitas melemahnya kekuatan politik Islamis, pada pemerintahan SBY jilid II mulai memilih opsi menjaga jarak dengan sebagian kalangan Islam, terutama unsur ormasnya. MUI, Muhammadiyah dan sebagian NU sudah tidak terakomodasi dalam kebijakan pemerintahan SBY jilid II, sementara kekuatan politik Islam tetap dipertahankan sebagai penyokong koalisi.

Pilkada DKI Jakarta 2012 memberi suatu pelajaran, akankah suatu saat kekuatan politik Islamis sepenuhnya terlempar dari pusat kekuasaan, dalam arti eksistensinya sudah tidak diperhitungkan lagi?  Pada Pilkada DKI 2012, kubu Jokowi-Ahok tampak sejak awal sudah tidak mengakomodasi kekuatan politik Islam, kontrak politik yang disodorkan PKS tentang kebijakan yang tidak merugikan umat Islam, tidak mendapat respon dari pihak Jokowi. Toh realitanya kalangan Islamis kemudian tidak bisa berbuat banyak menghadapi kebijakan Jokowi-Ahok yang berseberangan dengan visi keumatan. Hal ini akan dipakai sebagai barometer untuk mengukur sejauh mana kekuatan Islamis masih eksis.

Jika saat ini salah satu kubu telah merasa berada di atas angin untuk memenangkan pertarungan 2014, atau salah satu kubu dipersepsikan makin melemah secara signifikan, maka sesungguhnya segala kemungkinan tetap bisa terjadi, kondisi senantiasa tetap cair, sehingga peluang masih terbuka. Bola liar dan kuda hitam masih mungkin untuk muncul. Sebagaimana pengalaman pada Pemilu 1999 dan 2004 yang lalu serta pada berbagai Pilkada, kandidat yang diunggulkan atau yang telah memenangkan pertarungan di Legislatif, bisa juga gagal memenangkan pertarungan Eksekutif.

Maka bagi pihak-pihak yang berkepentingan, termasuk kalangan yang membawa kepentingan umat, untuk tidak sekedar menunggu dan menyaksikan proses yang tengah berlangsung. Kepentingan masing-masing dipertaruhkan melalui berbagai langkah taktis dan lobi-lobi yang efektif. Besarnya kekuatan politik yang dimiliki adalah sesuatu yang berharga, untuk memperkuat posisi tawar, tapi tidak kalah pentingnya adalah kemampuan menggerakkannya dengan gesit.

Apa yang dicapai dengan keberadaan kalangan politik Islam dalam koalisi pemerintahan SBY, hanyalah menjadi pelengkap semata. Dihadapkan dengan isu keumatan seperti RUU Ormas, jilbab Polwan dan kondomisasi, keberadaan kalangan politik Islam dalam koalisi di pemerintahan tidak bisa berbuat banyak. Hingga akhirnya berada pada posisi yang makin terpinggirkan. Di sinilah pentingnya menetapkan target yang optimal dalam kompetisi, berhadapan dengan resiko terpental dari arena.

Kamis, 30 Januari 2014

Pertemuan Mukjizat, Dogma dan Sains, Proses di Balik Proses


Seorang muslim menerima sepenuhnya keberadaan suatu mukjizat, sebagai bentuk keimanan kepada Allah yang berkuasa untuk melakukan apa saja, meski secara logika manusia mustahil terjadi. Seiring tingkat pengetahuan umat manusia yang terus berkembang, makin banyak orang yang mencoba menjelaskan keajaiban yang terjadi dalam sudut pandang ilmiah. Mereka tidak puas dengan jawaban ‘Kuasa Tuhan’ atau ‘Kehendak Tuhan’ semata.

Cara pandang terhadap suatu mukjizat menjadi berubah, dari sudut pandang yang menganggapnya semata-mata merupakan kehendak Tuhan dan pekerjaan malaikat-malaikat yang diutusNya, kemudian meluas pada sudut pandang di luar dogma, bahwa mukjizat-mukjizat itu secara ilmiah memang dimungkinkan terjadi, dan bisa dijelaskan secara rasional.

Taraf pengetahuan yang dicapai umat manusia tidaklah sempurna. Implikasinya, ia akan senantiasa dinamis. Upaya menjelaskan suatu mukjizat secara rasional, tetaplah akan berhadapan pada keterbatasan manusia. Lahirlah teori-teori sesuai dengan tingkat peradaban yang dicapai oleh suatu generasi. Bukan hanya satu teori, bahkan memungkinkan muncul beberapa teori yang kontradiktif satu sama lain. Dinamika peradaban selanjutnya akan menguji kebenaran teori-teori tersebut, menguatkan kebenarannya atau menetapkannya menjadi usang.

Rasionalitas Nabi Musa Membelah Laut dan Ashabul Kahfi

Banyak pihak yang mencoba mengungkap rahasia terbelahnya laut yang dilalui Nabi Musa bersama pengikutnya, mendorong banyak penelitian ilmiah tentangnya. Apakah peristiwa tersebut benar nyata pernah terjadi dan bagaimana proses ilmiah yang berlangsung. Untuk tidak puas dengan berhenti pada penjelasan dogmatis semata, pukulan tongkat Nabi Musa atau pertolongan Allah dan bantuan malaikatNya.

Banyak teori bermunculan, beberapa di antaranya saling kontradiktif, namun sebenarnya juga bisa saling mendukung. Dari beberapa informasi yang berbeda mengenai satu hal, maksimal hanya ada satu yang paling tepat. Tetapi yang terpenting dari upaya mengungkap misteri ini adalah bahwa fenomena tersebut secara ilmiah memang dimungkinkan terjadi.

Teori tiupan angin kencang, badai, gempa, gunung meletus dan tsunami muncul untuk menjelaskan penyebab tersibaknya air laut sehingga terbentang sebuah jalan yang bisa dilalui. Bahkan juga mencoba mensimulasikan melalui program komputer.

Tetapi apakah hal tersebut terjadi dengan sendirinya secara kebetulan, bahkan kebetulan air laut tersibak begitu saja tepat ketika rombongan Nabi Musa dan pengikutnya dalam kondisi terdesak? Dan ternyata kejadian-kejadian alam yang luar biasa seperti angin, gempa dan sebagainya tidak pernah begitu saja membuat sebuah laut terbelah sebagaimana yang terjadi pada waktu itu.

Mengenai rahasia Ashabul Kahfi, di balik kehidupan manusia yang tertidur selama 309 tahun, memunculkan upaya untuk menggali keterangan dalam Al Qur’an dan pengetahuan yang dicapai manusia saat ini. Taraf pengetahuan sebelum kita hanya memandang peristiwa tersebut dalam perspektif keajaiban mukjizat semata, tetapi dengan pengetahuan yang telah dicapai generasi ini telah membuka jalan untuk mengungkapkan mekanisme ilmiah pada mukjizat tersebut. Muncullah beberapa teori yang mencoba menjelaskannya, yaitu teori hibernasi dan yang lebih spesifik yaitu teori penonaktifan fungsi telinga.

Sudut pandang hibernasi mengkaitkan fenomena Ashabul Kahfi dengan mekanisme mempertahankan hidup yang dimiliki hewan mamalia saat musim dingin dengan cara menurunkan level aktivitas metabolisme tubuh, ciri yang paling jelas adalah tidur panjang. Sedang dari sudut pandang teori penonaktifan fungsi telinga fenomena itu dijelaskan merujuk kepada ayat dalam QS. 18:11, “Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua.”

Indra pendengar di telinga bekerja secara terus menerus dalam semua kondisi, termasuk ketika tidur. Sehingga dalam kondisi tidur sekalipun, seseorang akan tetap terkena pengaruh lingkungan sekitarnya. Itulah mengapa suara dari luar bisa membangunkan orang yang sedang tidur. Jika telinga dalam keadaan nonaktif, tidur seseorang menjadi suatu istirahat yang sempurna, menghentikan hampir seluruh proses dalam tubuhnya, sehingga memungkinkan kondisi fisik tetap tanpa perubahan dalam masa yang panjang.

Namun dalam kondisi hibernasi, pada makhluk hidup tetap terjadi pertumbuhan rambut, kuku dan pembuangan kotoran, juga tetap memerlukan nutrisi. Ketika dihubungkan dengan kejadian Ashabul Kahfi yang tidur selama 309 tahun tanpa perubahan apa pun, sejauhmana teori-teori itu memadai untuk menjelaskan fenomena tersebut dengan sempurna?

Kembali pada keyakinan bahwa proses ilmiah pada kejadian tersebut tetaplah merupakan intervensi kehendak dan campur tangan Allah, dan bukan terjadi secara kebetulan dengan sendirinya. Namun Al Qur’an sendiri mengisyaratkan tentang kondisi yang dipersiapkan untuk menunjang kehidupan Ashabul Kahfi secara fisik.
Pertama, membolak balik badan terus menerus selama tidur. “Kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur, Kami bolak balikan mereka ke kanan & ke kiri” (QS. 18:18). Secara medis, tidur dalam posisi tetap dalam waktu yang lama akan menyebabkan luka dan pembusukan pada bagian tubuh yang menerima beban, juga terjadinya penggumpalan darah dan paru-paru. Di rumah sakit, pasien yang telah jompo, koma atau lumpuh diberi jadwal yang memandu perubahan berkala posisi berbaringnya.

Kedua, tubuh Ashabul Kahfi mendapatkan paparan sinar matahari pada pagi dan sore secara seimbang dan memadai. Keberadaan cahaya berperan dalam menjaga kehidupan mereka, menjaga kesehatan tulang dan kulit, melindungi tubuh mereka dari kadar basah dan keracunan di dalam gua yang gelap, paparan sinar juga tidak berlebihan yang bisa berakibat memanggang mereka. “Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu” (QS. 18:17).

Ketiga, mereka berada dalam gua dengan ventilasi yang baik yang memungkinkan mendapatkan sirkulasi udara dan cahaya yang cukup. “Mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu” (QS. 18:17).

Keempat, perlindungan eksternal berupa rasa takut terhadap mereka. Allah menjadikan mereka dalam kondisi yang sangat asing, orang akan mendapati mereka seperti orang yang belum tidur tetapi tidak bangun. Keberadaan anjing yang berada di halaman pintu gua juga berperan dalam menjaga mereka. Sebagaimana firman Allah “sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan (diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka” (QS. 18:18).

Kelima, Allah melindungi mata dan memberikan ketakutan pada mereka, firman Allah “kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur” (QS. 18:18).

Kondisi gua yang amat menunjang kehidupan mereka, ventilasi cahaya dan sirkulasi udara yang baik, serta keberadaan anjing yang menyertai mereka merupakan isyarat bahwa Allah  juga mempersiapkan pra kondisi di samping keajaiban tersebut. Lantas bagaimana juga menjelaskan mekanisme yang menyebabkan tubuh mereka berbolak-balik, sejauh mana tingkat pengetahuan yang kita capai bisa menjelaskannya, masih merupakan misteri.

Penemuan yang lebih mutakhir mungkin akan menguji kebenaran teori ini, sebuah keterbatasan pengetahuan manusia dalam mengungkap rahasia ciptaan Tuhan dengan ilmuNya yang tak terhingga. Namun bagi peradaban kita ini, masih banyak mukjizat yang hanya bisa diterima sebatas dogma. Akankah peradaban yang lebih mutakhir dari kita suatu saat nanti akan mampu menjelaskannya secara rasional?

Sebagai contoh, seperti apa yang diceritakan dalam QS. 2: 259, yang memiliki kemiripan dengan kejadian Ashabul Kahfi,  tetapi ada yang lebih spesifik dan rumit untuk dijelaskan. Seorang yang tertidur selama seratus tahun, ketika bangun makanan dan minunan yang dibawanya belum berubah, sedang keledai yang menyertainya telah berubah menjadi tulang belulang. Juga tentang Nabi Ibrahim yang selamat dari pembakaran, bagaimana menjelaskan mekanisme mengapa api tidak membakar tubuh Nabi Ibrahim.

Ketika Sains Memengaruhi Penafsiran

Al Quran bukan sebuah kitab yang mencakup pengetahuan segala hal, nabi juga tak berkewajiban menyampaikan dengan detail semua tentang sains dan teknologi. Tetapi keduanya mendorong manusia untuk bertafakur pada Sang Pencipta melalui ciptaanNya yang sempurna, hingga mengajarkan banyak hal yang bersinggungan dengan fenomena alam, bahkan yang belum dicapai peradaban manusia pada saat ia diturunkan. Berbagai rahasia fenomena alam yang disingkapnya menjadi bukti bahwa ia berasal dari Sang Pencipta alam semesta.

Namun upaya memahami ayat-ayat yang bersinggungan dengan fenomena alam tetap terbingkai keterbatasan pengetahuan yang dicapai suatu peradaban. Adakalanya suatu generasi memasukkan puncak-puncak pengetahuan yang mereka capai ke dalam penafsiran kitab suci, padahal pengetahuan tersebut bukan puncak pengetahuan manusia, ia hanyalah puncak pengetahuan pada masa itu. Ketika pengetahuan berkembang lebih maju, suatu teori menjadi usang, padahal ia terlanjur dimasukkan ke dalam dogma, maka kesalahan tangan-tangan penafsir ini akan menimbulkan persepsi yang kurang baik terhadap kesucian suatu dogma yang dibawanya. Hal inilah yang telah menodai berbagai agama dan teks suci sebelum kita.

Di sinilah perlunya kehati-hatian dalam memasukkan penemuan-penemuan baru ke dalam penafsiran kitab suci, meski dengan maksud baik menunjukkan kemukjizatannya. Hal-hal yang sudah pasti dari keduanya tidak mungkin bertentangan, tetapi menyandarkan pada teori-teori yang belum pasti membawa resiko ketika di kemudian hari ternyata ia salah. Bagi yang telah sepenuhnya mengimani kebenaran kitab suci, kesalahan tersebut tidak akan menggoyahkan keyakinan pada kesuciannya, kesalahan tersebut disadari sebagai keterbatasan manusia yang menafsirkannya, dan kemudian tinggal dilakukan koreksi atas penafsiran tersebut. Tetapi bagi mereka yang belum mengimani atau masih dalam pencarian, akan mengakibatkan kredibilitas sebuah kitab suci turun di mata mereka.

Sebagai contoh misalnya, dalam suatu peradaban  sebelum kita, tujuh lapis langit dan bumi dikaitkan dengan tujuh buah planet dalam sistem tata surya yang dikenal pada masa itu. Ketika ilmu pengetahuan berkembang, lebih banyak planet yang ditemukan, tafsir tersebut direvisi menjadi tujuh buah planet yang berada di atas bumi (planet-planet luar), dan ketika makin banyak planet ditemukan, bahkan definisi planet sendiri masih menjadi kontroversi, menjadi indikasi bahwa tafsir tujuh lapis langit dengan tujuh buah planet tidak tepat.

Kata alaq dalam Al Qur’an selama ini selalu diartikan dengan segumpal darah. Secara bahasa alaq bisa diartikan ‘segumpal darah’, tetapi juga ada arti lain yaitu ‘sesuatu yang menggantung’. Peradaban sebelum kita tidak merasakan kejanggalan jika alaq diartikan dengan segumpal darah. Seiring perkembangan pengetahuan, keyakinan tersebut mulai menjadi kontroversi, sesuatu yang menggantung dipandang lebih sesuai dengan maksud alaq, di mana menurut ilmu medis modern tahapan perkembangan embrio tidak melewati fase sebagai segumpal darah.

Adnal ardhi dalam QS. 30:3 biasanya diartikan dengan negeri yang terdekat, maksudnya tempat di mana Persia mengalahkan Romawi berada di negeri yang dekat dengan Arab. Tetapi seiring kemajuan pengetahuan yang dicapai manusia, kata adna yang berarti rendah dihubungkan dengan tempat kalahnya Romawi di sekitar Laut Mati yang merupakan daratan terendah dari permukaan laut di muka bumi ini.

Demikian pula kata fauqoha dalam QS. 2:26, yang selama ini diartikan dengan lebih kecil, maksudnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil dari itu. Tetapi hal tersebut menyisakan pertanyaan karena kata fauqo secara bahasa berarti ‘di atas’. Ketika ada penemuan tentang mikroorganisme yang tinggal di atas kepala nyamuk, memunculkan wacana bahwa yang dimaksudkan dengan fauqoha dalam ayat tersebut adalah ‘yang berada di atas nyamuk’, yaitu mikroorganisme tersebut.

Dalam QS. 27:88, diisyaratkan bahwa gunung-gunung berjalan sebagaimana jalannya awan. Di samping ada yang menghubungkan ayat ini dengan revolusi bumi, kemudian ada yang menghubungkannya dengan pergerakan lempeng benua. Selain itu juga ada pihak yang memahaminya sebagai bergeraknya gunung-gunung pada hari kiamat kelak.

Membawa Dogma di Antara Ketidakpastian Teori

Sebaliknya, ketika pengetahuan manusia belum mampu mengungkap suatu misteri dengan tuntas, penafsiran dalam agama sering dibawa di antara teori-teori dan dugaan yang masih kontradiktif. Sebelum misteri itu tuntas, membawa klaim-klaim penafsiran dogma masih merupakan hal yang menarik, mendukung salah satu pihak. Sebelum teori bumi bulat dan pemuaian alam semesta menjadi suatu kepastian, klaim-klaim dogmatis senantiasa menyertai perdebatan suatu kontroversi.

Pada tafsir klasik, petir dalam Al Qur’an ditafsirkan dengan cemeti malaikat. Seiring perkembangan pengetahuan manusia, sudut pandang tafsir pun berubah, Muhammad Abduh dalam tafsirnya Al Manar menyebut petir sebagai tumbukan udara, sebuat lompatan untuk menerima masukan pengetahuan terkini ke dalam tafsir, di tengah apriori yang masih kuat pada masa tersebut. Jika pengetahuan terkini menyatakan petir merupakan lompatan arus listrik, sudut pandang tafsir terkini akan cenderung terpengaruh.

Mengenai banjir Nabi Nuh, di luar agama ini menempatkannya sebagai peristiwa banjir yang menenggelamkan seluruh permukaan bumi hingga puncak gunung tertingginya, memusnahkan semua spesies di permukaan bumi kecuali yang berada dalam kapal Nabi Nuh. Ilmu pengetahuan akan sulit menerima penjelasan ini meski dalam bingkai ‘Tuhan mampu melakukan apa saja’, demikian pula fakta sejarah juga tidak mendukung keterangan tersebut. Sementara dalam Al Qur’an tidak spesifik menjelaskan seperti itu, cenderung memberi isyarat banjir tersebut terjadi secara lokal, sebatas menimpa kaum Nabi Nuh sebagaimana juga menimpa kaum-kaum lain (QS. 9:70), tetapi juga bukan merupakan banjir biasa, jauh lebih besar. Dari informasi tentang banjir ini memunculkan beberapa teori yang mencoba menjelaskannya, teori mencairnya es di kutub, teori benda angkasa yang mendekati bumi sehingga gravitasinya memengaruhi konsentrasi air, dan sebagainya.

Pembangunan piramid masih menyisakan misteri, keterangan dalam teks suci seringkali dibawa untuk menguatkan salah satu teori. Adanya keterangan dalam agama tentang manusia zaman dahulu yang berpostur raksasa hingga setinggi  30 hasta dipakai sebagai argumentasi untuk mendukung pihak yang mengemukakan teori bahwa batu-batu besar piramid disusun oleh manusia-manusia raksasa tersebut, karena dengan postur kecil seperti manusia masa kini tidak mungkin menyusun batu-batu seukuran tersebut, tanpa bantuan teknologi berat. Di pihak lain, dengan membawa penafsiran QS. 28:38, yang mengisyaratkan adanya tekhnik pembakaran tanah liat, memunculkan teori bahwa batu-batu besar piramid tidaklah diangkut dari tempat lain tetapi dicetak di tempat, dengan bahan yang berasal dari tanah liat.

Pembagian kadar makanan dalam empat masa dalam ayat tentang penciptaan bumi, QS. 41:10, sering dikaitkan dengan empat masa dalam ilmu geologi. Keterangan tentang langit yang tercipta dari asap dalam QS. 41:11, sering dipakai untuk mendukung teori nebula. Sedangkan keterangan dalam QS. 21:30 tentang langit dan bumi yang dahulu merupakan sesuatu yang padu seringkali dipakai untuk mendukung teori Big Bang.

Misteri keberadaan makhluk di luar bumi telah lama menarik perhatian para peneliti. Beberapa ayat sering terbawa dalam kontroversi ini, misalnya QS. 42:29. Tentunya misteri tersebut tidak bisa terpecahkan begitu saja dengan ayat-ayat itu, penafsirannya juga belum pasti. Keterangan tentang kehidupan Nabi Adam merupakan suatu kepastian mengenai adanya kehidupan di luar bumi ini, tetapi menjadi pertanyaan apakah kehidupan tersebut memiliki spesifikasi sama dengan yang sebagaimana menjadi obyek penelitian selama ini, terjangkau secara fisik, ataukah kehidupan dalam spesifikasi lain. Demikian pula tentang upaya memecahkan misteri keberadaan manusia purba dan peradaban tinggi masa lampau.

Jika kontroversi bumi berbentuk bulat telah selesai, lain halnya dengan kontroversi masalah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya, matahari yang sebenarnya mengelilingi bumi. Selain adu argumentasi dalam ranah ilmiah, dalam ranah agama pun adu argumentasi dan dalil-dalil masih berlangsung.

Prediksi Sebelum Suatu Mukjizat Terwujud

Tidak hanya untuk menjelaskan secara ilmiah keajaiban-keajaiban yang telah terjadi di masa lalu, seperti terbelahnya bulan, utuhnya jasad Firaun, misteri Nabi Yunus di perut ikan, dan sebagainya. Bahwa semua itu memang benar-benar pernah terjadi memungkinkan adanya penjelasan ilmiah tentangnya. Di samping itu agama juga menginformasikan keajaiban yang baru akan terjadi di masa depan, seperti hadits-hadits Nabi tentang terbitnya matahari dari arah barat, kembalinya negeri Arab menjadi subur seperti pada masa lalu, dan terjadinya kiamat.

Pada hal-hal tersebut, memunculkan upaya-upaya mengemukakan argumentasi bahwa hal tersebut secara ilmiah memang akan terjadi. Sekaligus memunculkan teori-teori yang menjelaskan tentang bagaimana prosesnya secara ilmiah.

Informasi terbitnya matahari dari barat memunculkan beberapa teori. Teori perlambatan rotasi bumi hingga titik jenuh, teori pergantian kutub magnetik matahari dan bumi, teori gangguan sistem Tata Surya dan sebagainya. Sedang tentang suburnya kembali Tanah Arab, memunculkan beberapa teori seperti teori zaman es dan perubahan arus angin. Waktu yang akan menguji kebenaran teori-teori tersebut.

Sebuah Pelajaran Sempurna

Bahwasanya Allah  mampu menciptakan apa pun tanpa proses sama sekali dan mengerjakan sendiri tanpa bantuan siapa pun, tetapi kesempurnaan hikmah yang Dia karuniakan kepada kita agar kita merasakan keagungan KerajaanNya. Dari perkara yang besar hingga yang terkecil di alam semesta ini, dari pergerakan bintang dan planet hingga pergerakan partikel, tidak begitu saja terjadi tanpa penjelasan, berlangsung dari proses-proses yang tersusun, baik dari sudut pandang ilmiah maupun peran para malaikatNya pada semua proses tersebut dalam sudut pandang dogma, dan akhirnya menjadi kesempurnaan ibrah bagi hamba-hambaNya.

Firman Allah, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. 3:190-191) “Dan tidaklah Kami ciptakan Iangit dan bumi dan segala yang ada di antara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat sesuatu permainan, tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya). (QS. 21:16-17)

Keimanan yang kita miliki tetap menempatkan segala sesuatu yang terjadi tanpa menafikkan keberadaan dan peran Sang Pencipta, bukan hanya untuk kejadian-kejadian yang luar biasa, tetapi juga pada kejadian-kejadian keseharian dalam kehidupan kita. Sebagaimana firman Allah dalam QS.41:47, “Kepada-Nyalah dikembalikan pengetahuan tentang hari Kiamat. Dan tidak ada buah-buahan keluar dari kelopaknya dan tidak seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan, melainkan dengan sepengetahuanNya. Pada hari Tuhan memanggil mereka: "Dimanakah sekutu-sekutu-Ku itu?", mereka menjawab: "Kami nyatakan kepada Engkau bahwa tidak ada seorangpun di antara kami yang memberi kesaksian (bahwa Engkau punya sekutu)." Juga dalam QS. 35:11, “Dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.”

Pelajaran lain yang kita dapatkan, dari sisi proses yang kita jalani, yaitu tentang bagaimanapun Allah berkuasa melakukan apa pun untuk menolong hambaNya, tetapi peran kita melakukan sesuatu sebagai suatu bentuk ikhtiar juga tidak bisa dinafikkan. Bukan hanya pada bentuk usaha yang rasional, sempurna dan memadai, ketika kondisi seperti itu tidak mampu dipenuhi, peran suatu ikhtiar tetap bernilai. Laut tidak begitu saja membelah atau mata air begitu saja memancar atas perintah Allah, tetapi tetap dikehendaki adanya peran Nabi Musa yang memukulkan tongkatnya. Nabi Ibrahim tidak begitu saja diselamatkan dari api, tetapi ia diperintahkan mengucapkan sebuah doa sebagai permohonan.

Di antara kekhawatiran pada persinggungan antara penemuan ilmiah dengan penafsiran teks suci, sebuah kehati-hatian memang perlu terjaga. Namun sejauh ini penemuan-penemuan yang telah tercapai justru makin menunjukkan kebenaran Al Qur’an, mengungkap berbagai fakta ilmiah menakjubkan di dalamnya. Banyak keajaiban yang telah terungkap dengan pasti, tentang kegelapan di dalam laut (QS. 24:40), batas pertemuan dua laut (QS. 25:53), proses terjadinya awan dan hujan (QS. 24:43, QS. 30:48), embriologi dalam berbagai ayat dan sebagainya yang baru terungkap oleh pencapaian iptek modern, hingga mengantarkan pada kesimpulan bahwa kitab ini benar-benar berasal dari Pencipta alam semesta.

Wallahua’lambishawwab.


Referensi:
- Al Qur’anul Karim
- Harun Yahya
- Berbagai sumber lain