Tampilkan postingan dengan label Adil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adil. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 November 2013

Jangan Ada Siri Antara Kita


Mendengar judulnya saja, terkesan seperti untuk anak-anak. Memang betul, Jangan Ada Iri Antara Kita adalah nama sebuah novel anak. Penulisnya pernah menjadi murabbi saat bertugas di daerah terpencil di tempatku. Kalau untuk kita-kita orang dewasa mungkin sudah tidak perlu bacaan kayak gitu ya? Disamping sudah berumur, menyandang predikat aktifis dakwah, dan sudah banyak mengikuti taklim, banyak hafal dalil. Namanya juga anak-anak wajar kalau masih nakal, suka berantem, ngambek dan iri. Sedang aktifis dakwah mungkin sudah kebal dengan penyakit gituan?
Eits, tunggu dulu. Lantas apakah di antara gerakan dakwah sudah tidak ada lagi yang namanya cekcok, berantem, ngrecoki, iri, dengki dan semacamnya? Apakah cara pandang berpikir kita sudah benar-benar dewasa, bebas dari berbagai sifat kekanak-kanakan?
Di antara kerinduan kita tentang terwujudnya ukhuwah yang sesungguhnya dalam umat ini, ada saja persoalan yang menimpa. Dari hal-hal yang sebenarnya hanya sepele, namun tidak disikapi secara dewasa sehingga akhirnya menjadi penghambat dakwah.
Ketika harakah atau jamaah lain naik daun, rasanya lebih mudah menganggap kalau mereka mengganggu lahan kita. Mengapa lebih sulit untuk berpikir kalau keberadaan mereka akan makin meringankan beban dakwah ini?
Ketika ada orang-orang bersemangat memakmurkan suatu masjid, kita lebih mudah mengatakan mereka suka ngrebut aset orang. Mengapa tidak berpikir, syukur-syukur ada yang membantu memakmurkan masjid yang sepi ini, yang kita sendiri sudah teramat malas mendatanginya.
Ketika majelis taklim atau pengajian yang kian surut dihidupkan orang, lebih mudah beranggapan mereka merebut usaha yang telah kita rintis. Mengapa tidak berpikir, dengan partisipasi mereka amal yang kian surut ini menjadi semarak lagi.
Banyak orang yang teramat sewot ketika aset-asetnya jatuh ke pihak lain. Sebenarnya maklum juga, tapi yang sewot tadi di tempat lain mau juga merebut aset orang. Coba kalau rasa sewot ini diganti dengan sebuah introspeksi tentang keteledoran dan kelalaian, agar di masa datang jangan sampai terulang, sekaligus untuk menjadi pemacu semangat.
Adanya proteksi, fasilitas dan kemudahan untuk menunjang suatu aktifitas dakwah, malah sering membuat gerah orang-orang yang sama-sama mengusung dakwah ini. Bukannya menyikapi dengan berlomba-lomba dalam kebaikan, malah mencari-cari dalih untuk merintangi. Dengan dalih sebagai institusi yang netral dan profesional, bukan untuk kelompok tertentu, sarana penunjang dakwah lantas ingin dihancurkan begitu saja. Di suatu tempat, ada pihak yang gerah dengan fasilitas dan proteksi yang tidak bisa dipungkiri memang menguntungkan pihak lain, namun di tempat lain mereka sendiri juga enjoy saja menikmati fasilitas dan proteksi serupa, yang menguntungkan pihak mereka.
Mungkin selama ini lebih banyak orang berorientasi untuk kepentingan sendiri. Sulit untuk ikhlas melihat saudaranya mendapatkan suatu nikmat. Yang penting mereka terhalang dari nikmat itu, meski halangan yang mereka dapat sebenarnya juga tidak menjadi keuntungan apa-apa buat dirinya. Lucu juga, malah lebih nyaman kalau sama-sama buntung.
Makanya kalau ada tokoh umat menduduki suatu jabatan, sesama umat malah lebih gerah dibanding bila jabatan itu jatuh ke tangan kaum nasionalis. Prinsipnya, meski kita tidak mendapatkan, yang penting mereka juga tidak mendapatkan.
Ketika satu kepaduan umat belum terwujud, sebagai imbas dari perbedaan persepsi dalam mengusung agenda dakwah, tidak mudah untuk memadukan berbagai jamaah, harakah, dan beragam sarana dakwah yang ada. Sebuah tantangan yang cukup sulit untuk membuat kita saling menyokong dan memberi jalan dari pada saling menghambat dan menjatuhkan.
Adakalanya kita saling berkompetisi, memperebutkan lahan dan bekal dakwah, yang kadang berujung pada persaingan tidak sehat. Namun pada momen lain ternyata kita saling membutuhkan, untuk saling membantu menghadapi problem yang tak mampu dihadapi sendiri. Apakah kita harus menunggu saat-saat genting baru bisa memadu langkah?
Adakalanya kita harus rela sedikit tersisihkan, untuk memberi kesempatan orang lain yang lebih memiliki kecakapan dalam suatu bidang. Jika terlalu berat menerima makna tersisih, anggap saja secara positif bahwa kita berkesempatan mencari bidang lain yang yang lebih cocok bagi kita, serta menjadi sebuah pengorbanan yang lebih bermanfaat bagi dakwah secara keseluruhan.
Adakalanya hambatan dakwah ini muncul dari ego para pengusungnya sendiri, hingga di antara kita saling menjatuhkan satu sama lain. Dan ketika kita menjadi sama-sama jatuh, baru merasakan kerugian yang dialami. Ego kita membuat umat ini menjadi lemah secara keseluruhan, ketika segala sesuatunya telah terlambat.
Jika kita pernah merasakan perihnya terzhalimi, mengapa kita masih mampu melakukan kezhaliman serupa pada yang lain? Jika di suatu posisi kita merasa hak-hak yang semestinya di dapat belum terpenuhi, hendaknya juga mengingat bahwa posisi lain banyak hak-hak orang lain yang masih kita ambil. Di satu sisi mungkin kita mengeluhkan suatu kekurangan, namun juga jangan lupa bila di sisi lain kita mendapatkan kelebihan. Bukankah Allah telah memperingatkan tentang penuntut keadilan yang ambigu :
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (QS. Al Muthaffifin : 1-3)
“Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh.” (QS. An Nuur : 48-49)
Tantangan dan hambatan sesungguhnya adalah hiasan yang memperindah perjalanan dakwah ini. Apalagi bila hambatan tersebut berasal dari sesama pengusung dakwah, memang membutuhkan suatu kesabaran. Bagaimana mungkin suatu perjuangan dikatakan berarti tanpa melewati berbagai aral cobaan. Hingga di antara kita rela mengorbankan ego dan kepentingan masing-masing. Saling mengkoreksi hendaknya dimaknai sebagai upaya penyelamatan dan kepedulian, karena kepaduan sejati tidak akan terwujud manakala substansi dakwah ini tak tegak. Namun ketika tindakan yang kita persepsikan sebagai niat baik itu membuat kita terjebak dalam keruwetan berlarut-larut yang tak bermanfaat sama sekali, berarti memerlukan suatu sikap kedewasaan untuk bisa menempatkan sesuai proporsinya. Dan kita masih harus belajar mengikis sifat kekanak-kanakan ini. (dakwatuna)

Senin, 14 Oktober 2013

Menjaga Sikap Adil Sekalipun Dalam Keadaan Terzhalimi


Menjaga sikap adil terkadang merupakan sesuatu yang berat, namun akan lebih berat ketika harus menjaga sikap adil di kala kezhaliman sedang menimpa. Tentunya akan ada dorongan yang lebih kuat untuk membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan serupa, membalas fitnah yang diterima dengan fitnah yang serupa atau bahkan melampiaskannya lebih besar lagi.

Ada sebuah pelajaran berharga dari perjalanan hidup Nabiyullah Musa AS kala remaja ketika melakukan sebuah kesalahan. Meski Musa diasuh oleh keluarga Fir’aun dalam istananya sendiri, bahkan menjadi kesayangannya, namun kaumnya Bani Israil mengalami penindasan, kesewenang-wenangan dan diskriminasi oleh Fir’aun. Di samping memperbudak, Fir’aun juga sempat membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari Bani Israil.

Meski Musa tumbuh dalam kasih sayang Fir’aun, namun dia tidak menutup mata atas kezhaliman yang dialami kaumnya. Ketika suatu hari dia melihat dua orang berkelahi, antara seorang dari kaumnya dan seorang dari kaum Fir’aun, solidaritasnya secara spontan muncul. Musa memukul lawannya hingga tewas, meski sebenarnya tak sengaja ingin membunuh. Hal ini dikisahkan dalam Al Qur’an:
Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).” (QS. Al Qashash: 15)

Dengan segera Musa kembali pada kesadarannya, timbul penyesalan dan rasa bersalah pada dirinya. Maka dia bersegera untuk meminta ampun kepada Allah.
“Musa mendoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang- orang yang berdosa.” Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya).” Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: “Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian.” (QS. Al Qashash: 16-19)

Maka Allah mengampuninya, begitu mudah Allah mengampuni orang yang berbuat kesalahan kemudian mengakuinya, meminta ampun dan memperbaiki diri.
“Tetapi orang yang berlaku zhalim, kemudian ditukarnya kezhalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Naml: 11)

Bahkan kelak kemudian Nabi Musa AS mengakui kesalahannya di hadapan Fir’aun sendiri, tatkala diutus sebagai rasul kepadanya. Namun sebuah pembelaan juga diutarakan kepada Fir’aun, tentang perlakuannya terhadap Bani Israil yang semena-mena, yang bagaimanapun memengaruhi emosi seorang Musa hingga mendorong tindakan khilaf tersebut.
“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna.” Berkata Musa: “Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf.” Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil.” (QS. Asy Syu’araa’: 18-22)

Dari peristiwa ini ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik. Kezhaliman yang menimpa tidak boleh menjadi dalih untuk melakukan kezhaliman serupa. Penindasan, kesewenang-wenangan dan diskriminasi yang diterima, tidak bisa menjadi alasan untuk melakukan tindakan anarkis, pelanggaran hukum atau main hakim sendiri.

Sekiranya kita mendapatkan fitnah, kecurangan, atau kedustaan secara bertubi-tubi, hendaknya sikap obyektif, kesantunan dan kejujuran tetap terjaga.

Sekiranya kita ditimpa penindasan ekonomi, maka hal itu tidak bisa menjadi pembenaran untuk melakukan perampokan atau penjarahan. Kita tidak dibenarkan merampok dengan alasan mengambil harta orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin.

Dengan demikian perjuangan yang dilakukan umat ini akan tampak elegan dan memperlihatkan ketinggian akhlak. Perjuangan ini hendaknya tidak ternoda oleh hal-hal yang bertentangan dengan hakikat dan tujuan perjuangan itu sendiri.

Tetapi yang harus diperhatikan, Kezhaliman penguasa terhadap orang-orang lemah tidak bisa disejajarkan dengan kesalahan orang-orang dalam keadaan lemah teraniaya. Kesalahan yang dilakukan orang-orang lemah lebih ringan dan lebih mudah dimaafkan di sisi Allah daripada kesalahan yang dilakukan tiran yang menindas mereka. Kesalahan orang-orang lemah yang berada dalam keadaan tertekan berbeda dengan orang-orang kuat yang berbuat melampaui batas dalam keadaan lapang.

Sehingga upaya mengentaskan orang-orang lemah dari kezhaliman yang mereka terima semestinya lebih diutamakan daripada menghukum mereka atas kesalahan yang diperbuat. Bisa jadi mereka berbuat kesalahan tidak semata-mata karena ingin berbuat kerusakan, namun kondisi tertekan yang mereka alami yang menyebabkan pelanggaran itu dilakukan. Sekiranya keadilan ditegakkan dan kezhaliman dihapuskan, niscaya lebih layak ditegakkan hukuman atas orang-orang berbuat keadaan lapang.
“Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy Syuura: 39-43)

Tidak semestinya kezhaliman terus dibiarkan terjadi. Upaya yang dilakukan orang-orang teraniaya untuk melepaskan diri dari kezhaliman adalah perbuatan mulia. Allah memberi mereka hak untuk membalas dengan setimpal dari kezhaliman yang menimpa. Hak menuntut balas ini juga menjadi salah satu instrumen pada upaya penegakan keadilan dan mencegah terjadinya kezhaliman. Namun tidak diperbolehkan berlebih-lebihan atau melampaui batas dalam membalas suatu kezhaliman.

Adakalanya orang-orang lemah yang mengalami penindasan luar biasa, tak mampu lagi mengendalikan diri sehingga melakukan tindakan yang nekad. Sehingga hal ini akan memperburuk kondisi yang mereka alami, dan menjadikan mereka akan semakin ditindas.
“Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Hajj: 60)
“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An Nahl: 126).
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zhalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (QS. Al Isra’: 33).

Terkadang ujian datang begitu berat, ketika dituntut untuk bersikap adil ketika tertimpa kezhaliman secara semena-mena. Membutuhkan sesuatu kesabaran yang lebih. Sebagaimana beratnya ketika dituntut untuk berderma di kala kekurangan atau bersikap lapang ketika dalam kesempitan, pahitnya ujian ini akan berbuah pahala dan keutamaan yang lebih besar. Menjaga tegaknya keadilan kepada musuh yang teramat dibenci mungkin akan terasa berat sebagaimana halnya menjaga tegaknya keadilan ketika menyangkut orang-orang yang kita kasihi. Namun demikian Allah telah memerintahkannya kepada kita.
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maaidah: 8).
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.” (QS. An Nisaa’: 135). (dakwatuna)