Tampilkan postingan dengan label Ikhlas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ikhlas. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Mei 2015

Untuk Dakwah ini, untuk Umat ini

Dengan keterbatasan kita menapaki jalan dakwah ini, menyeru kepada dinul Islam ini, untuk meninggikannya, mengajak umat manusia untuk kemuliaannya. Namun harus berhadapan dengan segala tantangan dan problematikannya. Hingga seperti seseorang yang tak berdaya berhadapan dengan peliknya dunia. Tertimpa berbagai tipu daya dan kedzaliman, menghadapi tantangan yang serasa berada di luar kemampuan, bahkan tak lagi dimengerti. Bahkan juga harus menyaksikan kedzaliman menimpa saudara-saudara kita, tanpa kita bisa berbuat apa-apa.

Kesulitan hidup sebenarnya ada di mana-mana, dari urusan pribadi, keluarga, tak terkecuali juga urusan dakwah ini. Lebih terasa bagi mereka yang pernah merasakannya langsung, pernah mengalami cobaan dan kesulitan yang tak kunjung terselesaikan, mengerti rasanya tatkala harus menempuh kesabaran panjang, hingga mendapatkan kebahagiaan ketika pintu terbuka, menjadi jalan keluar yang mengakhiri kesulitannya.

Mereka yang sakit tak kunjung sembuh, pekerjaan yang tak kunjung didapatkan, jodoh yang tak kunjung tiba, terlilit hutang yang tak mampu terbayarkan dan sebagainya. Dakwah ini juga serasa demikian, saat sedang berada dalam kesulitan, penantiannya dan pengharapannya, berharap terwujudnya tujuan dakwah yang diimpikan.

Banyak di antara kita yang tertimpa cobaan, berbagai doa dan ikhtiar serasa amat melelahkan, telah menempuh berbagai upaya, tetapi selalu berujung pada jalan buntu. Saat-saat seperti hampir putus asa, akhirnya ada jalan keluar, mendapatkan solusi dari arah yang tak disangka-sangka, setelah mereka mempersembahkan sebuah amal teristimewa, seperti sedekah yang amat ikhlas. Sepertinya tak masuk akal, tetapi amal tersebut ternyata manjadi wasilah bagi datangnya pertolongan Allah.

Hajat kita terhadap dakwah ini, kesulitan dan cobaan yang menimpanya, semestinya lebih dari hajat kita yang lain. Kerisauan, kepedulian dan kebutuhan kita akan dakwah ini, semestinya lebih besar dari kerisauan kita terhadap cobaan terberat yang pernah menimpa kehidupan duniawi kita. Buah kebaikan dakwah ini adalah kebaikan untuk kita sendiri, ia lebih langgeng, bahkan juga akan menjadi kebaikan untuk segenap umat ini.
Untuk dakwah ini, kesulitan dan cobaan yang menimpanya, pernahkah kita terpikir untuk mempersembahkan amal terbaik, agar dakwah ini dimudahkan dan dikuatkan. Misalnya kita mempersembahkan sebuah sedekah terbaik untuk mengharap datangnya pertolongan bagi dakwah ini.

Tak terbatas sedekah saja, semua amal kebajikan dari yang kita mampu, seremeh menyingkirkan duri dari jalan, memberi minum anjing yang kehausan, membantu kesulitan orang lain, memberi tempat duduk orang lanjut, menyeberangkan jalan, menyingkirkan sampah, serta kebajikan apa saja. Sekecil apapun kesempatan untuk kita bisa berbuat baik, manfaatkan sebaik-baiknya, lakukan setulusnya. Agar kebajikan tersebut menjadi batu pijakan bagi datangnya rahmat dan pertolongan-Nya yang lebih besar, bagi dakwah ini.

Saudaraku, apapun kebajikan yang Allah mampukan untuk kita, baiklah kita jadikan wasilah bagi kemudahan dakwah ini dari kesulitan yang menimpanya. Amal-amal yang tak seberapa, apalagi yang terlahir dari kekurangan dan keterbatasan, yang terlahir dari lubuk hati yang paling tulus, kita persembahkan untuk mengharap rahmat-Nya yang tiada tara, untuk kemenangan dakwah yang kita nantikan selama ini.

Saudaraku, baik kalian yang dikaruniai kelapangan untuk beramal maupun yang berada dalam keterbatasan, kalian yang sedang tertimpa kedzaliman dan lemah teraniaya, atau yang sedang menjalani kesulitan dan cobaan hidup, yang sedang berada pada tempat dan waktu yang mustajab, jadikan setiap amal terbaik yang mampu dilakukan sebagai wasilah untuk memohon pertolongan bagi dakwah ini.

Mohonkan pertolongan untuk mereka yang berada di garis depan dakwah ini, mengorbankan jiwa raga dan memiliki keteguhan melebihi kita. Untuk mereka yang sedang menjalani penderitaan dan kedzaliman, terusir, tertimpa peperangan dan berada dalam penindasan. Untuk mereka yang memiliki cita dan azam terhadap dien ini. Agar Allah menguatkan mereka, menjadi penolong bagi kita dan umat ini.

Berharap sirnanya kejahiliyahan, cahaya dinul Islam menjadi terang benderang menyinari segenap penjuru dunia, tegaknya sunah, serta sempurnanya kemuliaan bagi para ghuraba, menjadi pelipur lara bagi mereka yang telah menanggung kesabaran, mengganti kesempitan dengan kelapangan, dengan sepenuhnya kepasrahan. Berharap masa yang penuh fitnah ini sirna, agar kita lebih mudah lagi dalam menjalankan dinul Islam ini.

Untuk terwujudnya suatu kondisi yang kondusif, sehingga lebih banyak lagi saudara kita yang terselamatkan, lebih banyak lagi yang mengenal dien ini. Saudara-saudara kita, teman-teman kita, yang belum mengenal dinul Islam ini, sedang mereka banyak berbuat kebaikan pada kita, mereka yang sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi baik, agar bisa terengkuh dalam kebersamaan dalam dien ini, menikmati keindahan Islam ini bersama, membalas kebaikan mereka, menyempurnakan kebaikan yang telah mereka lakukan dengan dinul Islam ini.

Agar dunia yang penuh dengan kedzhaliman, berganti dengan keadilan dan kedamaian. Ditampakkan mutiara Islam, tersibak fitnah yang menghalanginya selama ini. Menepis kekhawatiran atas fitnah yang dahsyat di akhir zaman ini, keadaan dunia yang melampaui batas, dari mereka yang bermaksud memadamkan cahaya dinul Islam ini, menghalangi manusia dari jalan Allah.

‘Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa.’ (Yusuf: 110)

***

Ya Allah, jadikan tipu daya dan kedzaliman yang menimpa kami sebagai tambahan pertolongan bagi kami, mendekatkan kami pada apa yang Engkau janjikan dan senantiasa menjadi pelipur lara di antara duka dan kepedihan kami, tegaknya dinul Islam ini pada semua tempat yang ada timur dan baratnya.

Ya Allah, semoga amal yang tak seberapa ini, menjadi pengundang datangnya karunia dan rahmat-Mu yang tiada tara, untuk menutup kekurangan kami, menepis kekhawatiran kami dan menguatkan kelemahan kami. Jadikan kelemahan kami membuat kami lebih bersandar kepada-Mu, dan lebih mengerti akan kesulitan saudara-saudara kami.

Ya Allah, di antara takdir dan fase yang harus kami lalui di jalan dakwah ini, iradah-Mu, rahasia dan hikmahnya, kemenangan dan kekalahannya, kejayaan dan keterpurukannya, tetapkanlah kami dalam kesabaran di dalamnya. Jika Engkau menetapkan kami dalam kekalahan dan keterpurukan dakwah ini, kami yakin tak sedikit pun akan mengurangi kekuasaan-Mu, juga tak sedikit pun mengurangi kemuliaan dakwah ini, ia tetap menjadi simpanan untuk kami kelak. Namun jika Engkau menganugerahkan kemenangan kepada kami sebagaimana yang Engkau janjikan, niscaya akan menjadi karunia yang amat berarti bagi kami.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Dakwatuna)

Jumat, 02 Mei 2014

Saat Muslim Menjadi Rahmat, Perilaku Ramah Air

Islam membentuk umatnya untuk menjadi pribadi yang memiliki nilai lebih, memiliki semangat menebar kemanfaatan bagi lingkungan sekitarnya, memiliki motivasi untuk senantiasa berbuat baik dan berupaya mengadakan perbaikan.

Nilai-nilai Islam melingkupi semua aspek kehidupan secara utuh, membentuk umatnya menjadi pribadi yang ideal. Termasuk mengatur hal-hal kecil yang sepertinya sederhana, tak terpikirkan oleh menusia kebanyakan, tetapi ternyata memiliki hikmah yang besar. Tentang pola hidup yang baik, etika, perilaku hidup sehat, menjaga kebersihan, etos kerja dan efisiensi. Upaya mengefektifkan potensi hidup untuk menjadi amal shalih semaksimal mungkin, bahkan agar yang kita kerjakan bisa memiliki manfaat ganda.

Hal-hal kecil yang sepele begitu diperhatikan oleh Islam, tidak memasuki masjid sesudah mengkonsumsi bawang, tidak meninggikan rumah sehingga menghalangi rumah tetangga, menyingkirkan duri dari jalan, tidak membiarkan makanan terbuang, atau tidak membuat masakan yang baunya sampai kepada tetangga melainkan berbagi kepadanya. Berbuat sebaik-baiknya, memberi dengan baik, menerima dengan baik, atau bertamu dengan baik. Mengutamakan orang lain, mengikis ego, menempatkan dengan baik hak dan kewajiban, serta memupuk kepedulian dan kesetiakawanan.

Sehingga semestinya seorang muslim memiliki kepekaan sosial, mampu merasakan kesulitan yang dihadapi orang lain, mempermudah urusan mereka, bukan mempersulit, serta memiliki keikhlasan untuk berbagi .

Bukan hanya terhadap sesama, binatang dan benda-benda tak bernyawa pun tak lepas dari rahmat yang dibawa Islam. Islam mengajarkan untuk tidak menyakiti binatang, memberi minum binatang yang haus, menajamkan pisau ketika menyembelih agar tidak menyakiti. Islam melarang memubazirkan barang, sekecil apapun agar menjadi sebuah kemanfaatan.

Ikhlas, kunci agar semua amal shalih itu tidak dirasa sebagai beban yang berat, mendapatkan kemudahan untyuk melakukan amal shalih tersebut, menjalani sebuah fitrah yang lurus, menjadi kebahagiaan dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.

Menjadi tantangan bagi kita mewujudkan kesempurnaan Islam ini, untuk menjawab problematika yang sedang dihadapi masyarakat. Dari persoalan sampah, rokok, lingkungan hidup, hingga persoalan kejujuran dan krisis yang dialami dunia.

Ada yang menarik dari pembahasan mengenai Fikih Air pada Munas Tarjih Muhammadiyah beberapa waktu lalu. Bagian dari upaya mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata, menjadi rahmatan lil alamin yang sesungguhnya. Berikut hasil Munas Tarjih yang dikutip dari www.Sangpencerah.com.

Pada level individu dan keluarga perlu pembiasaan untuk membetulkan kran atau sambungan pipa di rumah, kantor, masjid atau pipa irigasi yang bocor. Kemudian tidak membiarkan anak bermain dengan kran atau selang air di halaman atau di kamar mandi dan tidak membiarkan kran air terus mengucur pada saat mencuci mobil atau sepeda motor, serta mematikan air bila tidak diperlukan. Juga membiasakan untuk mematikan kran ketika sedang menggosok gigi, mandi atau mencuci peralatan rumah tangga dengan sabun atau detergen. Mengganti ukuran kran dengan ukuran kecil sehingga tidak terlalu banyak mengeluarkan air. Menggunakan shower untuk kamar mandi. Sedapat mungkin tidak menggunakan kamar mandi yang banyak menggunakan air (semisal bath-up).

Demikian pula dalam berwudlu, hindari penggunaan air yang berlebihan. Menyisakan halaman rumah untuk resapan air hujan, dengan tidak menutup seluruh halaman rumah dengan pengerasan (aspal dan beton,) karena air hujan tidak akan bisa meresap ke dalam tanah untuk menambah cadangan air tanah. Arahkan kucuran air hujan dari atap rumah untuk dapat asuk ke sumur peresapan di halaman rumah, sehingga tidak langsung dibuang ke jalan atau selokan. Memilih tanaman hias, perkebunan atau tanaman pangan yang tidak rakus air. Siramilah tanaman di lahan pada waktu pagi atau sore hari pada waktu suhu udara tidak terlalu panas dan tiupan angin tak terlalu kencang, sehingga bisa mengurangi kehilangan air melalui evaporasi. Gunakan pupuk organik untuk tanaman daripada pupuk buatan. Pupuk organik disamping lebih sehat, lebih menghemat air untuk prosesnya. Sedangkan pupuk buatan (pupuk kimia/non-organik) prosesnya memerlukan air yang lebih banyak per kg berat pupuk, merusak tanah dan menjadi sumber polusi. Bila memungkinkan buatlah lubang-lubang pembuangan sampah organik di halaman rumah. Sampah organik akan bisa memperbaiki struktur tanah sehingga memudahkan air hujan meresap ke dalam tanah serta memperbaiki kesuburan tanah. Apabila di dalam rumah terdapat kolam renang, maka tutuplah kolam renang dengan penutup dari lembaran plastik pada saat tak digunakan, hal ini akan bisa menghambat penguapan air. Gunakan air kolam renang yang kotor untuk keperluan menyiram tanaman atau disalurkan ke kolam atau media lainnya sehingga tidak langsung terbuang.

Demikian pula tampungan air kucuran kran dan bekas air wudlu. Air ini masih bisa digunakan untuk menyiram tanaman atau untuk memelihara ikan di kolam dan keperluan lainnya. Gunakan peralatan dapur yang terbuat dari bahan alamiah (kayu, bambu, daun tanaman dan sebagainya) daripada menggunakan bahan yang terbuat dari plastik. Pilihan ini disamping lebih berwawasan lingkungan juga lebih sehat dan menghemat air. Bahan-bahan peralatan atau perlengkapan dapur dan perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari plastik memerlukan air yang cukup banyak per kg bahan dalam proses pembuatannya. Jika berbelanja ke pasar, supermarket atau ke toko, usahakan membawa keranjang atau tas belanja dari rumah utnuk mengurangi pemakaian tas plastik (tas kresek). Tas plastik dalam proses pembuatannya memerlukan banyak air dan tidak bisa didegradasi sehingga menjadi bahan polusi lingkungan. Pilihlah bahan makanan dan minuman yang proses pembuatannya tidak memerlukan banyak air untuk memprosesnya. Pilihlah untuk membuat jus buah sendiri daripada membeli jus buah siap saji. Cara ini disamping lebih sehat juga bisa menghemat air. Pada waktu mencuci pakaian (pakai tangan atau pakai mesin cuci) atau peralatan dapur, pilihlah detergen yang ringan dan ramah lingkungan, sehingga tidak memerlukan banyak air untuk membilas. Untuk membilas detergen kuat, diperlukan lebih banyak air dibandingkan dengan detergen ringan. Hindari tumpahnya minyak (goreng atau minyak lain) ke dalam tampungan atau sumber air. Hal ini karena untuk memurnikan atau membilasnya memerlukan banyak air.

Pada level masyarakat, kegiatan pengelolaan air berbasis masyarakat dapat dilakukan melalui kegiatan konservasi, pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. Tingginya tingkat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ini, diharapkan menjadikan daerah tangkapan hujan di hulu semakin berfungsi sebagai hutan lindung yang bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat. Wilayah hulu semakin produktif dengan basis jasa lingkungan wilayah hilir dan kawasan perkotaan terbebas dari ancaman daya rusak air, antara lain bencana banjir dan kekeringan. Melakukan sistem pengolahan limbah domestik di kawasan permukiman sehingga dapat menjaga kualitas air. Misalnya, pengolahan limbah domestik cair dan sampah untuk kompos. Juga bisa melalui teknologi tepat guna untuk membuat air berkualitas sesuai baku mutu untuk keperluan air minum penduduk di kawasan lingkungan dengan kualitas air rendah. Melakukan upaya penampungan air hujan (Rainwater Harvesting/RWH) untuk irigasi, mencuci, bilasan toilet, peternakan, dll. Upaya ini bisa melalui penggunaan ember atau lainnya. Melakukan irigasi tetes atau sprinkler atau alur yang lebih hemat air daripada cara irigasi dengan penggenangan (basin). Mewujudkan gerakan “Shadaqah Air” bagi masyarakat yang minus air, secara langsung atau melalui penggalangan dana untuk pembuatan saluran air bersih.

Pada level dunia usaha, perlunya sinergitas pelestarian air antara dunia usaha dan masyarakat melalui CSR (Corporate Social Responsibility). Mewujudkan usaha-usaha produktif yang berbasis pada penghematan air. Menciptakan lingkungan kerja yang ramah air melalui edukasi, ceramah, kampanye pelestarian lingkungan, poster, cek rutin sarana air serta audit lingkungan sekitar perusahaan.

Pada level pemerintah perlunya kontrol pelestarian air dan lingkungan sesuai aturan yang berlaku. Upaya penegakan hukum (law inforcement) terhadap perusahaan atau warga yang tidak ramah air dan lingkungan. Upaya membangun sinergitas pengelolaan sumberdaya air antar sektor dan wilayah pemerintahan setempat. Pengembangan sistem pembiayaan pengelolaan air sesuai prinsip cost recovery maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat yang ada.

Demikianlah sebagian kecil dari luasnya rahmat yang dibawa Islam. Diriwayatkan dari Jabir ia berkata, Rasulullah saw bersabda,”Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah, dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini (yaitu Masjid Madinah) selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani) Hadits ini dihasankan oleh Syeikh al Albani didalam kitab “at Targhib wa at Tarhib” (2623).


Kamis, 30 Januari 2014

Zuhud Politik, Ikhlas Politik


Dalam kondisi negeri yang seperti ini, wajar bila masyarakat merindukan sosok-sosok pemimpin bersahaja, yang membawa kesan pengabdian, serta tidak mengutamakan kepentingan pribadinya semata. Namun sulit untuk mengukur harapan ini apakah merupakan ekspektasi dan kepedulian ataukah sebenarnya hanya merupakan bentuk dari egoisme publik.

Tak sebagaimana sosok-sosok teladan pada masa salafus shalih, pemimpin besar yang mengganjal perutnya dengan batu karena lapar, pemimpin yang hanya memiliki sebuah pakaian dan telah dipenuhi tambalan, atau pemimpin yang bermaksud mencari hutang hanya karena ingin membeli seuntai anggur, kerinduan publik saat ini mungkin tidak terlalu muluk, cukup diobati dengan hadirnya pemimpin yang kehidupannya sederhana, tempat tinggal, kendaraan dan berbagai fasilitas yang dipakai jauh dari kesan mewah, tidak mengambil gaji yang semestinya diterima, tidak memanfaatkan fasilitas negara yang legal sekali pun dan memang menjadi haknya. Namun apakah keberhasilan seorang pemimpin hanya diukur dari hal-hal seperti itu?

Harapan ini membutuhkan suatu konsistensi, ketika para pemimpin berada di antara pilihan, kebutuhan biaya politik dan amanah yang diemban. Tuntutan biaya politik berimbas menjadikan jabatan yang diperoleh sebagai kesempatan untuk mengumpulkan lebih banyak modal-modal politik. Pilihan amanah berbuah konsekwensi sebuah paradigma bahwa jabatan yang diperoleh adalah tanggung jawab dan tuntutan yang lebih besar untuk berkorban, bukan sebaliknya, menjadikan suatu jabatan sebagai lahan subur yang bisa mendatangkan banyak hasil.

Harapan ini terbingkai sebuah dilema, seseorang yang menjadi pejabat dituntut tampil sebagai sosok penolong, penyantun, dermawan, banyak memberikan bantuan sosial, meng-goalkan banyak proyek untuk daerah asalnya, juga memberikan kontribusi bagi konstituen dan pendukung politiknya. Sementara semua tuntutan itu jelas berada di luar kemampuan pribadinya, sehingga berpotensi mendorong penggunaan fasilitas negara untuk kepentingan pencitraan diri sendiri. Kemampuan melakukan semua kebaikan itu didapatkan dari proses-proses ilegal, berhubungan dengan deal-deal kotor, yang bertentangan dengan amanah sebenarnya mesti diemban.

Suatu pilihan untuk menjalankan amanah sebaik-baiknya, tanpa memedulikan popularitas dirinya terekspos, tanpa menghitung besarnya biaya politik yang telah dikeluarkan untuk mendapatkan jabatan itu, bisa berakibat fatal pada kekurangan modal politik yang diperlukan untuk menopang kekuatan politiknya, ketika mencalonkan diri kembali kelak atau melanggengkan dinasti politik pada masa selanjutnya.

Bagi rakyat jelata, cukup sulit juga untuk menempatkan idealisme dan pragmatisme, ketika mereka dihadapkan pada situasi sudah tidak ada pilihan lagi. Hingga ketegaran untuk bertahan pada idealisme pun terasa tak lagi ada artinya bagi mereka, apalagi bagi bangsa. Sebuah pesimisme tentang negara yang sepenuhnya jatuh ke tangan para penjarah. Imbalan politik yang tak seberapa kemudian menjadi penawar kekecewaan akan bobroknya negeri, merasa rugi bila tidak ikut ambil bagian sama sekali dari bancakan masal ini, berpikir buat apa menjaga diri bersih, toh orang lain semuanya menikmati kekotoran ini.

Memang, dambaan tentang terwujudnya kepemimpinan zuhud terkadang bertabrakan dengan egoisme publik. Upaya mendudukkan figur-figur terbaik berhadapan dengan mahalnya jual beli pemilih pragmatis. Hanya dalam survei-survei, opini publik kompak pada konsep ideal dalam memilih pemimpin bersih, sementara dalam realitas politik yang sesungguhnya, idealisme itu tenggelam dalam imbalan sesaat dan pencitraan semu. Imbalan pragmatis memang tidak mungkin menaklukkan seluruh idealisme publik, pencitraan semu menjadi pelengkap untuk menyempurnakannya, menyesatkan idealisme publik dengan mempermainkan opini.

Amanah dan zuhud para pemimpin juga dihadapkan pesimisme, ketika fokus bekerja sebaik-baiknya, tanpa terbebani upaya mengumpulkan modal-modal politik, toh prestasi tersebut begitu mudah dilupakan para pemilih, begitu cepat pilihan berbalik oleh imbalan yang tak seberapa, begitu mudah terbuai pemberian sesaat menjelang pemilihan. Sehingga kesibukan mengumpulkan bekal yang dibutuhkan untuk membeli suara dalam memenangkan pemilihan selanjutnya, berakibat merugikan kepentingan publik secara keseluruhan.

Zuhud dan pencitraan semu, keduanya bisa tampak mirip, menampakkan kesederhanaan, tanpa ambisi. Meski di baliknya adalah sesuatu hal yang bertolak belakang, antara ketulusan dan kepura-puraan, antara keikhlasan memberi dan tipu muslihat untuk mendapatkan yang lebih banyak. Idealisme yang tersisa, ketegaran untuk memberi yang terbaik bagi bangsa, memilih pemimpin terbaik, harus tersesat pada pencitraan-pencitraan apik yang penuh harapan, dai hal itu bisa terus berulang. Dengan demikian niat baik menjaga idealisme mesti juga diikuti kedewasaan sikap berpolitik.

Ketika kebobrokan telah meluas pada hampir keseluruhan sendi-sendi bangsa, memunculkan sikap apatis, juga pandangan tak ada gunanya lagi bertahan pada wilayah terkucil idealisme. Hingga patut dipertanyakan, masihkah bergunakah pribadi-pribadi ikhlas yang kian langka, ketika hampir semua tenggelam dalam kerusakan? Jika mempertahankan idealisme, pengorbanan dan keikhlasan tidak menjamin perbaikan kondisi, apakah menanggalkannya menjamin kerusakan negara tidak bertambah? Dalam hal ini, mewujudkan kepedulian dalam bentuk partisipasi efektif menjadi penting agar pengorbanan dan keikhlasan yang tersisa tidak sia-sia begitu saja.

Pada akhirnya, idealisme dan keikhlasan harus bisa berhadapan dengan realitas yang ada. Membiarkan keduanya kukuh pada tempatnya masing-masing atau membiarkannya tenggelam dalam kerusakan sistem tidak menjadi sebuah solusi. Maka diperlukan terobosan-terobosan agar dari potensi-potensi baik bisa muncul peran efektif untuk sebuah perbaikan. Zuhud dan keikhlasan diri memang harus terjaga sebisa mungkin, namun tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana darinya bisa terwujud zuhud dan keikhlasan bangsa.


Senin, 27 Januari 2014

Menampakkan dan Menyembunyikan Amal


Pujian dan sanjungan manusia memang terasa cukup manis, tapi ikhlas yang sesungguhnya akan lebih lezat, bagi hamba yang sebenar memilikinya.

Jika ikhlas itu sebutir biji yang lezat, sangat beruntunglah orang yang diberi anugerah untuk menikmatinya. Namun jika ia menanamnya agar tumbuh, dan kelak banyak orang yang bisa ikut menikmatinya, kelezatan yang terlewatkannya tak akan sirna, bahkan akan didapatinya lebih.

Menampakkan dan menyembunyikan suatu amal tetaplah suatu pilihan. Menyembunyikannya, agar sempurna kemesraan seorang hamba dengan Rabbnya, berdua semata. Atau menampakkannya, untuk memotivasi orang lain melakukan kebaikan serupa, mengenalkan kebaikan dakwah, memikat hati para mualaf, akhirnya menjadi kemaslahatan bagi umat. Dari keterpaksaan bisa menjadi sebuah latihan. Lantas kemesraan seorang hamba yang melakukannya tak akan terganggu oleh faedah-faedah yang menyertainya.

Ikhlas yang sejati, tak tergerus oleh sanjungan, tak kusam oleh cacian, ia akan tetap utuh dalam kesendirian maupun keramaian. Dalam persembunyiannya, ia terhindar dari ujub, dalam penampakannya ia terbebas dari riya. Pada keduanya ia tetap merupakan rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya.

Hati yang jernih yang bisa dengan tepat menentukan kapan suatu amal disembunyikan atau ditampakkan, mana yang lebih besar kemaslahatan bagi dirinya, sesamanya, syiar Islam dan dakwah. Mesti melewati berbagai batu ujian, karena darinya akan didapat tambahan kemuliaan. Tak semua ditampakkan, tak seluruhnya disembunyikan, agar semua sisi hati terasah dengan sempurna, semua bagian-bagiannya terawat sempurna. Karunia terbaik itu berupa kepahaman menentukan kadar yang tepat dalam situasi dan kondisi yang beragam.

Kesempurnaan dinul Islam, menyeluruh pada semua aspek kehidupan manusia. Di antara amal-amal yang lebih utama ditampakkan atau disembunyikan, terdapat hikmah yang baik bagi manusia dengan berbagai tabiatnya, sesuai dengan fitrah ketika ia tercipta. Baik ketika ia sendiri atau dalam jamaah, syariat senantiasa hadir, tanpa menyisakan kekosongan sedikitpun dalam luasnya relung Islam. Dzikir seorang hamba, qiyamul lail, dan munajatnya adalah contok suatu amal yang lebih lezat dihidangkan ketika dalam kesendirian. Sedang zakat, id dan shalat fardhu sempurna kelezatannya bersama jamaah.

Jadi teruslah beramal tanpa memedulikan kesendirian dan keramaian, sanjungan dan cacian. Jika ada rasa takut ikhlas itu sirna dan hilang, ia akan kembali jua. Tampakkan ketika tampak lebih bermaslahat, sembunyikan jika sebaliknya. Namun pundi-pundi keduanya mesti tetap terisi untuk kesempurnaan nutrisi jiwa, baik yang menjadi simpanan, maupun yang berfaedah untuk mengangkat sesama.

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 271)