Tampilkan postingan dengan label Kekalahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kekalahan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Mei 2015

Islam Nusantara di Ujung Tanduk?

Apakah kita masih berpikiran bahwa eksistensi Islam sebagai agama mayoritas di kawasan Asia Tenggara ini tidak akan berakhir, apalagi dalam waktu dekat? Secara kuantitas ada indikasi ke arah degradasi, secara kualitas pun juga bisa dikatakan demikian. Meski mayoritas, dari sisi politik, ekonomi dan berbagai bidang kehidupan, umat Islam menempati posisi marjinal. Mungkinkah Asia Tenggara akan menjadi Andalusia kedua, de-islamisasi dan kemusnahan tak lagi terjadi dalam proses yang pelan-pelan, tetapi ada momen pamungkas bahwa ia kemudian berlangsung drastis dan singkat?

Meneropong kemungkinan dari akhir entitas Islam di Asia Tenggara, baiklah kita mereview proses Islamisasi di kawasan ini. Ada sebuah artikel yang beredar di dunia maya beberapa waktu lalu terkait masalah ini, ‘Bertemu Walisongo di Candi Prambanan dan Borobudur’. Sebenarnya Prambanan dan Borobudur adalah peradaban yang telah musnah 5 abad sebelum keberadaan Walisongo. Dari sisi ini memang tulisan tersebut bisa dikatakan parsial dan subyektif. Dari sisi konten juga bisa dikatakan demikian, hanya memandang keberhasilan proses Islamisasi dari sisi pendekatan dakwah yang bijak.

Akan tetapi ada sisi yang menarik dan urgen dari substansi tulisan tersebut, yaitu keberhasilan Islamisasi dalam waktu singkat setelah berabad-abad sebelumnya Islam tidak bisa diterima di kawasan ini. Selama 8 abad sebelumnya Islam sudah hadir tetapi tidak diterima, hanya dianut segelintir orang asing, terutama pendatang dari Timur Tengah dan Tiongkok, hampir-hampir penduduk pribumi tidak ada yang memeluk agama ini, padahal saat itu Islam adalah kekuatan Super Power yang sedang menguasai belahan dunia lain. Tetapi kemudian hanya kurang dari 50 tahun Islam telah menjadi mayoritas yang mengakar.

Sebagaimana penyebaran Islam di berbagai belahan dunia lain, kita tidak mengatakan selama 8 abad tersebut Islam tidak didakwahkan secara bijak. Artinya, pendekatan dakwah yang bijak bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan Islamisasi di kawasan Asia Tenggara ini. Pendekatan dakwah yang bijak dan akulturatif adalah bagian dari suatu bahasan yang sangat luas tentang keberhasilan Islamisasi di kawasan ini.

Di luar faktor esoteris, pendekatan yang bijak dan akulturatif, kita juga perlu melihat dari sisi eksoteris, berubahnya iklim politik di kawasan ini yang menyebabkan terbentuknya kondisi yang kondusif bagi proses Islamisasi, pudarnya hegemoni kekuasaan yang menopang eksistensi agama sebelumnya, Hindu dan Budha. Adanya momen runtuhnya pamor politik Kerajaan Majapahit yang sebelumnya mendominasi kawasan.

Di satu sisi, ada sebuah argumentasi bahwa proses Islamisasi berlangsung secara damai dan tanpa konflik. Tetapi di sisi lain ada yang menggugat kesucian proses Islamisasi di kawasan ini, bahwa Islamisasi berlangsung dalan proses yang berdarah-darah dan penuh pengkhianatan. Baiklah kita menempatkan sikap realistis dan obyektifitas, menempatkan sisi esoteris dan eksoteris secara proporsional, tanpa menafikkan gesekan yang terjadi maupun fakta empiris pada peralihan serentak yang tidak mungkin berlangsung kecuali dilakukan secara damai.

Walisongo dalam Konteks Kekinian

De-islamisasi dilihat dalam perspektif Islamisasi di Asia Tenggara, sebuah pertanyaan apakah entitas Islam di kawasan ini akan berakhir sebagaimana ia bermula, dan bagaimana prosesnya. Serta dapatkah proses itu dicegah, dan apa yang harus dilakukan oleh muslim di kawasan ini untuk terus mempertahankan eksistensinya. Mempertahankan kebesaran sebuah peradaban seringkali lebih sulit dari menaklukkan peradaban besar.

Di antara berbagai kepentingan yang beragam, sebagaimana Hindu, Budha dan Islam, yang pernah dan atau sedang eksis di kawasan ini, akan melahirkan sudut pandang dalam perspektif masing-masing. Misalnya apakah agama yang datang belakangan, seperti agama Nasrani yang telah berabad-abad berusaha masuk di kawasan ini, bahkan ditopang kekuasaan kolonialis yang yang sangat dominan, ditopang gerakan misionaris yang profesional, serta didukung kondisi global dan regional, tetapi sejauh ini agama Nasrani tetap merupakan minoritas yang hnya dianut sebagian kecil penduduk kawasan ini, dapatkah ia menciptakan suatu kondisi yang bisa membuat Nasrani menjadi mayoritas dalam waktu singkat? Atau apakah ada kemungkinan agama Hindu dan Budha dapat kembali menjadi mainstream di kawasan ini?

Atau dari dinamika internal umat Islam sendiri, apakah paham seperti Syiah yang selama berabad-abad tidak bisa menjadi mainstream, akan bisa mengambil alih posisi Suni di kawasan ini dalam waktu singkat? Atau apakah dominasi paham keagamaan seperti NU di kawasan ini akan diambil alih oleh paham keagamaan yang selama ini hanya menjadi minoritas, di mana yang kini hanya dianut segelintir orang yang tidak mengakar kemudian keadaan bisa berbalik?

Zaman telah dan terus akan berubah, bahkan seringkali berlangsung begitu cepat tanpa terprediksi. Benturan dan persaingan berbagai ideologi dan pemikiran terus berlangsung, apalagi dalam era globalisasi. Tidak ada tempat yang aman bagi entitas atau peradaban apapun untuk beristirahat dan terhindar dari marabahaya, termasuk bagi entitas Islam di Asia Tenggara ini.

Sebuah pertanyaan kunci bagi suatu ideologi dan peradaban yang ingin menaklukkan kawasan ini, bagaimana mengulang sejarah, menciptakan suatu kondisi kondusif yang memungkinkannya menguasai kawasan, melalui upaya sistematis dan terukur dalam berbagai bidang, terutama secara politik yang seringkali strategis menjadi penentu kejatuhan dan kejayaan suatu ideologi dan peradaban. Upaya apa yang harus ditempuh untuk menyiapkan kondisi tersebut agar bisa terwujud?

Kejayaan, kejatuhan dan ajal suatu peradaban sudah merupakan sunatullah, ia terus dipergilirkan. Tetapi terlepas dari semua itu, ia bukan hanya proses alamiah belaka, ada arsitek-arsitek brilian yang menyuplai ide, merencanakan, mendisain dan mengendalikan aksi secara sistematis untuk menghancurkan suatu peradaban dan membangun peradaban baru.

Islamisasi, De-islamisasi Asia Tenggara, suatu Kesamaan Indikasi

Asia Tenggara dilihat dari sisi geopolitik memang memiliki keunikan. Pengaruh hegemoni kejayaan Islam yang menjadi kekuatan super power dunia sejak masa Umayah maupun Abasiyah tidak bisa menembus kawasan ini. Islam eksis di kawasan ini justru pada masa-masa menjelang akhir kejayaan dunia Islam, saat dimulainya kolonialisme Barat. Ketika Islam di berbagai kawasan lain memudar, Islam di kawasan ini justru baru bisa eksis.

Islam tumbuh di bawah kejaran bayang-bayang kolonialisme. Islam yang baru saja tumbuh, sudah harus berhadapan dengan kolonialisme Barat yang hadir ke kawasan ini. Akan tetapi, kolonialisme yang mencengkeram secara kukuh dan memberikan tekanan hebat dalam rentang masa yang lama, tidak menggoyahkan keberadaan Islam yang terus berproses mengakar, ini menjadi keunikan dari karakter Islam di kawasan ini.

Kemerdekaan Indonesia, meski bisa dikatakan sebuah kemerdekaan yang belum sempurna, terutama baru pada sebagian aspek-aspek fisik, tentunya menghadirkan sebuah fase yang berbeda bagi eksistensi Islam di kawasan ini. Pasca kemerdekaan, ada indikasi eksistensi Islam di negeri ini terus menurun, dari sisi yang jelas bisa diukur seperti prosentase pemeluknya dan pertumbuhan tempat ibadah, maupun dari sisi kualitatif. Di negara ini, umat Islam yang secara kuantitas merupakan mayoritas semakin menempati posisi marjinal dalam berbagai bidang, baik politik, birokrasi, ekonomi dan sebagainya. Jika eksistensi Islam tak tergoyahkan oleh cengkeraman kolonialisme, ia terus bisa mengobarkan perlawanan, apakah eksistensi Islam justru akan runtuh pasca kemerdekaan ini?

Berbagai indikasi memang membutuhkan kewaspadaan segenap umat Islam di negeri ini. Memperhatikan suasana menjelang Islamisasi pada era Walisongo, ada beberapa indikasi yang bisa menjadi warning bahwa kita saat ini sedang menjelang sebuah proses de-islamisasi serupa.

Pada masa tersebut, meskipun pemeluk agama Islam sangat sedikit, tetapi ia merupakan minoritas kreatif. Pemeluk Islam adalah identik dengan elit dan mindset superior. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akses internasional. Secara ekonomi mereka adalah tuan dan majikan, dan secara spirit intelektual juga demikian. Islam adalah sebuah kekuatan baru yang segar, antitesis dari Majapahit yang tua, letih dan jenuh, terbelit berbagai kepentingan dan persoalan. Dan kondisi Indonesia saat ini bagi umat Islam bisa dikatakan sebaliknya, terkepung berbagai persoalan dan kepentingan, mengarah de-islamisasi?

Peradaban Emas Hijau, Konsekwensi dan Tantangan Krusial

Posisi geografis Asia Tenggara sedang berada pada titik kritis menghadapi masa-masa krusial. Dunia kita sedang berada pada era menghabiskan energi fosil yang tak terbarukan, peradaban emas hitam. Dunia sedang berpikir sumber energi alternatif pasca habisnya persediaan energi fosil. Alternatif yang saat ini dipandang realistis adalah sumber energi nabati yang terbarukan.

Asia Tenggara dengan sumber daya iklimnya, iklim tropis yang menghasilkan energi nabati, tentunya sangat menarik minat peradaban-peradaban lain untuk memperebutkan dan menguasainya. Mau tidak mau, kawasan ini seperti berada pada ujung tanduk, harus menghadapi benturan dahsyat di antara kompetisi berbagai peradaban dunia. Sekaligus adanya resiko harus menghadapi nafsu angkara kekuasaan yang berupaya mencengkeram dan menguasai dunia, brada pada pertarungan hidup dan mati.

Kolonialisme dengan nafsu angkaranya telah dan sedang mengeksploitasi dunia, termasuk negeri kita ini. Islam pernah menjaga negeri ini menghadapi para penjajah yang bernafsu menaklukkan dan mengeksploitasinya. Dan mungkin karena spirit perlawanan inilah Islam justru eksis di negeri ini. Islam adalah simbol menghadapi penjajah dan dan kedzaliman yang menindas bangsa ini. Islam mengakar bersama perlawanan dan penderitaan bangsa ini melawan penjajah.

Kolonialisme kemudian datang dalam bentuk yang baru, penjajahan non-fisik pada era ghazwul fikri. Penjajahan fisik resisten membangkitkan perlawanan, sedang penjajahan non-fisik justru sebaliknya, meninabobokan dan melenakan.

Islam datang ke berbagai negeri dan relatif tanpa mendapat predikat sebagai penjajah sebagaimana kolonialisme bangsa Eropa. Islam sempat hadir di Andalusia bukan mengeksploitasi, tetapi membebaskannya dan membangun sebuah kemajuan peradaban. Termasuk Islam datang ke negeri ini tanpa kita merasa terjajah oleh Islam atau Arab. Kita pernah menjadi bagian dari Turki Utsmani tanpa kita merasa terjajah dan tereksploitasi.

Kita bangga dengan keberadaan Laksamana Cheng Ho yang menjelajah dunia dengan spirit persahabatan, bukan spirit menjajah. Kita bersyukur, Islam datang ke Benua Amerika bukan memusnahkan bangsanya tetapi mentransfer dakwah dan ilmu pengetahuan. Islam datang ke Benua Afrika untuk mencerahkannya dengan dakwah bukan memperbudaknya.

Islam memiliki spirit berbagi dan menebar rahmat bukan menaklukkan, spirit mentransfer ilmu pengetahuan, persaudaraan dan dakwah bukan mengeksploitasi. Dalam konteks menghadapi neo-kolonialisme, tugas tersebut dipikulkan di pundak umat ini. Agar umat Islam tetap memiliki spirit perjuangan dengan sebenarnya, sehingga eksistensi Islam ini tetap hidup. Dan jika umat ini memiliki mental inlander, memiliki mindset inferior, bukan tidak mungkin entitas Islam ini akan berakhir, tragis!

http://www.dakwatuna.com/2015/05/09/68380/islam-nusantara-di-ujung-tanduk/

Sabtu, 26 April 2014

(Bukan) Maju Untuk Kalah, Mundur Untuk Menyerah

Tentang suatu pasukan, tatkala harus mengambil keputusan yang berat, sebuah pilihan yang sangat dilematis. Memaksa untuk maju, bersama bayang-bayang kekalahan dan kehancuran. Atau terpaksa untuk mundur, meski juga tak semata-mata ingin menyerah.

Bukan hanya soal keberanian, tidak pula tentang kalah dan menang semata, tetapi menyangkut kepentingan besar bagi umat, yang benar-benar sedang dipertaruhkan di atasnya, teramat mahal akibat yang akan dibayar.
Apalah artinya keberanian, melaju dalam gempita, jika hanya melangkah menuju lubang jebakan yang telah dipersiapkan oleh lawan, akhirnya hanya menjadi bulan-bulanan, tercatat sebagai keberanian konyol seorang pecundang.
Terkadang, jalan mesti berliku, saat-saat di mana langkah harus memutar, mengambil strategi yang lain. Memang mundur tak selamanya berarti menyerah, tapi tetap saja ada bayang kekhawatiran jika langkah ini akan tercatat sebagai keputusan seorang pengecut.
Hati-hati, bukan sekedar keberanian, tetapi ia buta. Bukan sekedar pengorbanan, tetapi ia sia-sia. Tetapi juga bukan keraguan, yang akhirnya berbuah ketakutan, menafikkan apa yang sebenarnya telah mampu untuk dicapai. Peluang, bahkan mungkin yang terakhir, mungkin tersandera oleh keraguan ini.
Atau bila menempuh pilihan untuk nekat, mengabaikan perhitungan, logika dan realitas, bersandar semata kepada pertolongan-Nya yang tak kurang-kurang, semata-mata berbekal keyakinan atas kekuasaan-Nya yang tak terbatas. Namun jangan-jangan ini hanyalah optimisme semu belaka.
Di antara ketergesaan dan keberlambatan, untuk membuat keputusan dengan tepat, mampu mengukur kekuatan diri dan lawan. Bukan keputusan emosional semata, bukan menuruti ambisi tanpa perhitungan.
Ya Allah, kami hanyalah hamba-hamba yang lemah, tak semestinya kami bersandar pada kemampuan kami semata. Agar kelemahan kami menjadikan kami lebih bersimpuh memohon pertolongan-Mu. Meski kami tak dibebani kewajiban untuk berhasil, tapi yang kami ketahui, ikhtiar yang kami lakukan mesti sebaik-baiknya.
Ya Allah, untuk para pemimpin kami, berikan sebaik-baik bimbingan kepada mereka, pilihkan keputusan yang terbaik bagi kami, agar benar-benar berhitung dengan seksama, ketika tipu daya yang kami hadapi di luar kemampuan kami
Bukannya kesatuan dan tekad tak cukup, tapi ada fase-fase yang harus ditempuh untuk sebuah kemenangan, agar ia layak untuk disematkan, dan mungkin selama ini belum dilakukan. Agar tekad tak berbuah kecerobohan, agar kesatuan tak justru menjadi sandungan.
Berusaha terbaik, berharap pilihan terbaik, sebelum semuanya terlambat, agar tak menjadi penyesalan kelak.


Rabu, 23 April 2014

Mudahkan Ya Allah

Berhadapan dengan gelombang, ketika harus menghadapinya. Atau berjumpa dengan badai, ketika harus melewatinya. Serasa tak kan mampu menghadapinya, mungkin juga serasa tak akan selamat melewatinya.
Jalan buntu, yang hampir memaksa untuk menyerah, tak tahu lagi apa yang mesti dilakukan. Begitu banyak ketidakmungkinan, dari hal-hal kecil dalam keseharian, hingga perkara besar yang menyangkut sebuah negeri.
Kesulitan hidup yang seperti tak kan terpecahkan, sakit yang seolah tak menyisakan harapan untuk sembuh, hingga sebuah negeri yang terbelit dalam cengkeraman kezhaliman, terjajah oleh perilaku nista, seolah tak bisa diperbaiki lagi, tak tahu jalan untuk membebaskan diri. Bahkan ketika harus menghadapi suatu prahara atau revolusi yang berat, seperti menghadapi pertarungan yang berdarah-darah.
Betapapun besarnya aral, ketika ia telah terlampaui, tak sehoror ketika baru akan menghadapinya. Seperti yang dirasakan mereka yang selamat dari sebuah bencana yang dahsyat. Apalagi orang-orang, dirinya sendiri bahkan tak mengerti, merasakan betul suatu keajaiban. Mereka yang pernah melewati kesulitan hidup yang berat, merasakan betul adanya keberuntungan.
Negeri yang pernah merasakan cengkeraman imperialisme dunia, serasa tak berdaya, tapi tak menyurutkan cita untuk meraih kemerdekaan. Cita yang seolah teramat jauh untuk dituju, teramat tinggi untuk digapai. Ternyata yang terjadi, ada jalan tak terduga yang mempermudah kemerdekaan itu tercapai, sesuatu yang tak mungkin kemudian menjadi terwujud. Betapa banyak rezim yang kokoh, seperti tak akan runtuh, namun dalam sekejap segalanya berubah. Kekuasaan begitu mudah untuk berganti, tak terbayangkan situasi begitu mudah berubah.
***
Dunia ini, zaman ini, dalam cengkeraman kezhalimannya, belitan kerusakannya, tak berdaya menghadapinya, seolah tak lagi bisa diperbaiki. Betapapun beratnya, menjaga tekad untuk memperbaikinya agar tetap hidup, agar tak menyurutkan ikhtiar. Dari ikhtiar yang tak seberapa ini, berbuah pertolongan-Nya, agar diberi kemudahan, sebuah jalan keluar yang terbaik.
Apa yang mustahil menjadi mudah, apa yang tak mungkin akhirnya terwujud. Agar dari kelemahan ini, lebih terasa kebutuhan akan pertolongan-Mu, hingga kami lebih merendahkan diri kepada-Mu. Apapun yang kami capai nantinya, tetap dirasa bukan karena kekuatan dan kehebatan kami, melainkan pertolongan dan karunia-Mu semata, sehingga sempurna syukur kami kepada-Mu.
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali ‘Imran: 186)
Semakin beratnya ujian yang dihadapi adalah semakin besar kemuliaan yang di dapat. Tetapi kami merasa terlalu lemah untuk memikulnya, berharap dimudahkan, diringankan, mendapat karunia dari ampunan dan rahmat-Mu.
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqarah:186)

Selasa, 22 April 2014

Menatap Kekalahan

Telah kesekian kalinya, dipaksa untuk menerima kekalahan. Tak ada lagi pilihan, dibuat tak berdaya. Kali ini mungkin juga terulang, hanya bisa termanggu membiarkan mereka melibas dan memporak-porandakan semuanya.
Pada titik terendah kelemahan seorang hamba, yang tak lagi bisa berbuat apa, hingga membuat angan tentang strategi dan optimisme terlalu naif, tetapi bayang tentang kekalahan dan menyerah juga terlalu pahit.
Di antara dahsyatnya intrik dan tipu daya, hingga semua yang dipersiapkan untuk menghadapinya menjadi urung, tanpa tahu apa yang mesti dilakukan, tetapi tidak dengan doa, ia akan senantiasa bisa terucap, bahkan menjadi lebih berarti pada hamba-hamba yang berada dalam keadaan lemah terzhalimi. Bersimpuh dan kepasrahan, dalam ketidakberdayaan menjadi lebih bermakna, berharap membalikkan suatu ketidakmungkinan.
Tak apa kami tumbang dan binasa, tetapi cita ini ya Rabb, mohon untuk diselamatkan, agar ia tetap hidup, dan menyelamatkan kami. Di antara banyaknya kealpaan kami, masih tersisa pengharapan terhadap-Mu. Di antara banyaknya hamba-hamba yang lalai di antara kami, ada jiwa-jiwa yang tsiqah memegang cita tentang umat ini, teguhkan mereka dengan sebaik-baik karunia-Mu, berikan kekuatan agar menjadi penolong kami.
Berharap dari kejatuhan ini, mendapatkan jalan lain yang lebih baik. Dari kekalahan ini, menjumpai kemenangan yang lebih besar esok. Kemenangan sempurna, yang bertolak dari ketidakmungkinan. Agar drama kehidupan ini lebih spektakuler, menjadi rangkaian cerita yang indah. Sebuah prestasi menjadi lebih berharga manakala ia telah melewati kesulitan-kesulitan besar.
Yakinkan kami, Kemenangan-kemenangan musuh itu tak lebih dari tipu daya-Mu, untuk sempurnanya kemenangan kami. Ketika tipu daya telah sempurna, semua hampir tercapai, mata mereka terbelalak dan berkata: “Celaka kami, sesungguhnya kami berada dalam kelengahan tentang ini.” Membuyarkan semua yang telah tersusun, yang tinggal selangkah. Berhadapan dengan sebaik-baik Pembuat tipu daya.
Aral, tak tergambarkan sebelum ia datang, amat berat dirasa tatkala berjumpa, namun setelah berlalu ia menjadi ringan. Seperti tertatih dan payah di kegelapan malam, namun sebentar lagi menyongsong fajar. Tak seperti berada di puncak kemenangan yang megah, namun sebentar lagi malam menjelang, sepahit menatap kekalahan.
Kesabaran untuk menanti sebuah janji yang pasti,
“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Az Zikr (Lauh Mahfuzh), bahwasanya bumi ini akan diwarisi ole hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. Al Anbiyaa’: 105)
Kemenangan untuk hamba-hamba yang terpilih,
“ Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur: 55)

Rabu, 26 Maret 2014

Uhud, Thursina, Mozaik Harapan di Ambang Kehancuran

Saat-saat hanya bisa berharap, pasrah tanpa ada pilihan lain. Berbekal keyakinan semata, janjiNya telah pasti. Agar ketika kelak kesombongan hendak singgah, segera beranjak, menuju pilihan lain, menempuh jalan syukur dan tawadhu’.
Meredup tapi tak padam, memudar tapi tak lenyap, terjatuh tapi menggeliat lagi. Sejenak terhenti, tetapi akan bangun, meneruskan langkah, mengalir sampai ke akhir muaranya. Tetap hidup, takkan pernah ada yang membuatnya berhenti sama sekali.
Lelah dalam penantian panjang. Mengkhawatirkan habisnya kesabaran yang dimiliki, sementara perjalanan mungkin masih jauh. Tetapi kemenangan itu telah menjadi ketetapanNya, agar tekad dan kesabaran tetap utuh.
***
Berbagai karunia Allah kepada Bani Israil berbalas kedurhakaan mereka kepada Nabi Musa. Di ambang azab, tatkala gempa mulai terasa, sebuah bentuk belas kasih Nabi Musa kepada kaumnya, terucap permohonan terakhir untuk sebuah ampunan:
"Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (QS. Al A’raaf: 155)
Pertolongan dan ampunanNya takkan habis, sekalipun di antara hamba-hamba yang menzhalimi dirinya, asal tidak berputus asa.
***
Kami tak sebaik Nabiyullah Musa ‘alaihissalam, tapi juga tak seburuk para pembangkang dari kaumnya. Kami meniti jalan dakwah ini, sekalipun berada di barisan terbelakangnya. Kami menjadi penuntun umat ini, sementara langkah kami sendiri terkadang masih tertatih. Tanggung jawab yang besar terpikul di pundak kami, sementara kami sebenarnya masih membutuhkan penopang saat-saat goyah.
Dengan menyandang predikat sebagai pengusung panji dakwah, tidak lantas secara otomatis membuat kami terbebas dari khilaf, alpa dan kelemahan. Mengenakan atribut dakwah, tidak serta merta menjadikan kami sepenuhnya suci.
Kami tetap manusia biasa, dengan kekuatan dan kelemahan, tetap memiliki kekurangan dan kelebihan. Namun yang membuat berbeda, kami memiliki cita dan tekad tentang dakwah ini. Berada di jalan dakwah ini adalah suatu nikmat, sekaligus tanggungjawab yang besar. Kami khawatir, noda yang ada pada kami membuat panji dakwah ini terjatuh, membuat cita ini retak. Terkadang dakwah itu terpuruk oleh pengusungnya sendiri.
Dengan kekurangan dan kelebihan ini, masing-masing di antara kami saling  membutuhkan dan melengkapi. Namun terkadang ada di antara kami yang menjadi beban, menyulitkan teman seperjuangan.
Hanya saja, dari kebaikan kami yang tak seberapa ini, berharap tercurah ampunan dan rahmatNya yang tiada tara, menanti sebaik-baik pertolongan.
***
Tak ada jaminan kemenangan, tak selalu bertemu dengan kemudahan. Aral melintang menjadi ujian dan seleksi, hingga terlihat siapa yang terbaik amalnya, di antara bergulirnya kejayaan dan kekalahan. Hanya orang-orang terpilih dalam ujian yang mendapatkan prestasi terbaik.
Kemenangan lembah Badar terasa lebih manis, tetapi kejatuhan yang terpahat di bukit Uhud lebih menjadi ibrah, tentang kewaspadaan, kesalahan itu mungkin terulang kembali, dakwah ini terpuruk karenanya, berada pada posisi sulit.
“ Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izinNya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu, dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai (harta rampasan). Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema'afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (QS. Ali Imraan:152)
Kesalahan berbuah luka dan kesedihan. Tergelincir di ambang kekalahan. Tetapi dakwah ini tetap milikNya. Sejatuh apa pun yakinlah bahwa Dia akan senantiasa menjaganya.
“(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu.” (QS. Ali Imraan: 153-154)
Di ambang kehancuran, seburuk apapun, tak ada tempat untuk putus asa. Ketika jalan telah buntu, bukan tempat tuk menyerah, masih tetap akan ada titian doa, menjadi jalan lain. Harapan itu akan tetap ada, tetap akan berlanjut, akan bangkit kembali, takkan putus pertolonganNya.
“ Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” (QS. Ali Imraan: 139-141)
Berharap agar Dia memaklumi posisi sulit kami, memaafkan perbuatan kami yang melampaui batas, menolong apa yang berada di luar kemampuan kami, memberi rahmat atas niat tulus kami, jalan keluar yang terbaik dari kesulitan kami, dengan karuniaNya semata.
Juga agar kelemahan menjadi pelajaran, sehingga kita senantiasa ingat, tak lupa diri menghadapi kemenangan, tak takabur dengan keberhasilan, tak lengah sebelum sampai tujuan.
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imraan: 165-166)
Tantangan itu berbuah kemuliaan, membuat kesabaran itu sangat bernilai. Ketidakberdayaan berbuah kepasrahan, meluluhkan keangkuhan. Tak berhenti di gunung Thursina, tak padam di bukit Uhud.