Tampilkan postingan dengan label PKS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PKS. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 April 2015

PKS ataupun PDIP, Sebenarnya Kita Tuh Bersaudara!

“Jenuh mungkin, menjalani hari-hari di antara kita dalam perseteruan tiada ujung. Dalam pertemuan di dunia imajinasi ini, baiklah kita sejenak saja untuk menjadi sahabat, saudaraku.”

“Aku pun merasakan hal serupa, seolah-olah di antara kita selama ini, satu sama lain hanya ingin saling menjatuhkan dan menjalin permusuhan. Aku tak menyangka kita akan bertemu dalam dunia lain yang berbeda dengan apa yang biasa kita jalani.”

“Hari-hari yang kita jalani, disibukkan dengan saling menghina, mencaci dan mencari-cari aib di antara kita. Begitu mudahnya kita mengedepankan prasangka negatif. Aku sendiri disibukkan dengan semua itu, bahkan menikmatinya, tanpa terpikir untuk melakukan hal yang lebih berfaedah.”

“Aku juga demikian sahabatku. Bahkan tak hanya itu, aku ngebom basis-basis masamu. Di setiap tempat di mana ada calegmu, aku garap habis-habisan. Aku seenaknya merusak bendera dan atribut yang baru saja engkau pasang. Seringkali aku juga mengeroyokmu dalam duel maut pilkada. Aku sangat puas memblow-up kasus korupsi yang membelitmu, bahkan sampai aku lupa siapa yang lebih korup di antara kita.”

“Status dan komen-komen yang aku tulis, dipenuhi dengan olok-olok dan bully-membully. Setiap ada informasi buruk tentangmu, tanpa pikir panjang aku tergesa-gesa menyebarkannya. Aku sangat bersemangat men-share dan menyebarluaskan kejelekanmu. Tanpa beban, begitu mudahnya aku mengeluarkan komen-komen negatif. Aku merasa semua yang kulakukan itu adalah upaya membela kebenaran, semua itu adalah amal shalih, bagian dari dakwah yang suci dan mulia ini.”

“Padahal semua olok-olokmu terhadapku tidak membuat aku menjadi baik. Jangan berharap olok-olokmu membuat aku insyaf. Setajam apapun lisanmu mengulitiku habis-habisan, justru semakin membuat aku antipati terhadapmu. Juga membuat aku semakin membenci dan menjauh dari dakwah yang kau bawa. Bukan saja aku membuat-buat fitnah dan berbagai stigma negatif tentangmu, tetapi perilakumu juga ikut menjustifikasinya.”

“Maafkan aku saudaraku, sampai-sampai aku hampir terlupa tentang luasnya hakikat dakwah ini, tentang kesabaran, dan tentang kelembutannya. Seharusnya bukan hanya membalas keburukan dengan keburukan, membalas umpatan dengan cacian. Ia membutuhkan kebesaran jiwa, kelapangan hati, sikap yang penuh hikmah, serta sikap bijak menghadapi hal-hal yang menyakitkan sekalipun. Ada saatnya kekerasan ditaklukkan dengan kelembutan, dan sepahit apapun yang menghadang semestinya dihadapi dengan cara yang terbaik dan santun. Ucapan jahil hendaknya berbalas dengan kata-kata yang mengandung keselamatan. Akan tetapi semua itu bagiku sendiri tak semudah yang kukatakan.”

“Engkau tidak menolongku, tidak menyelamatkanku, bahkan seruanmu menjadikan aku kian jauh. Permusuhan di antara kita, bukan saja membuat aku kian jauh dan antipati terhadapmu, tetapi juga kian mendekatkanku pada kalangan sekuleris, liberalis, serta justru malah menarikku lebih dekat kepada aliran-aliran sempalan yang kau anggap sesat itu. Bukankah ini kontraproduktif dengan dakwah yang kau usung? Apakah engkau ingin membuatku semakin terjerumus dengan dakwahmu? Bagaimana engkau mengaku sebagai pembawa rahmat bagi segenap alam?”

“Begitulah saudaraku, memang ada pihak lain yang menghendaki permusuhan di antara kita, menanam dendam di antara kita, menyetting kita dalam situasi tidak bersahabat, dalam suasana hubungan yang panas, menjadi dua front yang berhadap-hadapan, dan kita sama-sama terjebak di dalamnya. Ada-ada saja informasi buruk tentangmu, padahal sebenarnya ia bersumber dari website tidak resmi, yang di belakangnya ada tangan-tangan tak tampak, dengan membawa kepentingan mereka. Mereka memanfaatkan permusuhan di antara kita, mengadu domba kita, agar kita berpecah belah dan lemah, kemudian mereka memanfaatkannya untuk memuluskan agenda-agenda mereka, mengukuhkan kekuasaan dan tiran atas dunia ini. Dakwah yang tulus dan santun bertransformasi menjadi bully-membully.”

“Sikap abaiku terhadap dakwah ini, memang dimanfaatkan betul oleh mereka. Tetapi keteguhan dan komitmenmu terhadap dakwah ini, toh sama juga ditunggangi mereka, menjadi bumerang dan blunder bagi dakwah itu sendiri, dan kau tidak menyadari itu. Hingga makin hari dakwah ini makin terseok-seok dan kian terpojok.”

“Beginilah saudaraku, fitnah akhir zaman ini, bukan saja kedewasaan dan kewaspadaanku tak memadai, tetapi fitnah ini demikian pelik dan penuh tipu daya. Pandanganku tak seluas aral yang kuhadapi, cara berpikirku tak sepanjang tantangan yang menghadang. Aku sebenarnya hanyalah hamba-hamba yang lemah, berbuat sebatas kekurangan dan keterbatasanku.”

“Dan akibatnya para tiran dunia itu sekarang sedang berpesta pora, mereka sedang tertawa terbahak-bahak, puas dengan keberhasilannya, membuat kita sibuk berseteru satu sama lain. Padahal sebenarnya bukan engkau yang semestinya menjadi musuhku, saudaraku. Seharusnya aku menyadari, musuh kita yang sebenarnya adalah para tiran-tiran itu, mereka memperdaya kita, mempermainkan, memecundangi dan menipu kita mentah-mentah, dunia ini terseok-seok dan terinjak-injak dalam cengkeraman kekuasaan mereka.”

“Tak sepenuhnya benar saudaraku, siapapun mereka, atheis, zionis, atau kolonialisme global sekalipun, mereka adalah sama-sama anak cucu dari bapak moyang kita Adam. Menjadi tugas kita untuk mengentaskan mereka dari kezhaliman yang mereka perbuat, serta membebaskan mereka dari Iblis, musuh kita yang sebenar-benarnya.”

“Benar saudaraku, Tak semestinya kita bergembira dengan musibah yang menimpa di antara kita, tak sepantasnya kita menari-nari di atas penderitaan orang lain. Selayaknya kita menolong mereka, bukan membiarkan mereka terjerumus.”

“Seharusnya kita bukan hanya menolong mereka yang terzhalimi, tetapi juga menolong mereka yang berbuat zhalim, mengentaskan mereka dari kezhalimannya. Sepahit apapun kezhaliman yang dihadapi sebenarnya adalah makin luasnya ladang amal yang terbentang. Kesabaran menjadi lebih bernilai karenanya. Kalau hanya olokan dan cacian, sebenarnya ia tak seberapa, bukankah orang yang mengolok-olok belum tentu lebih baik dari yang diolok-olok?”

“Baiklah, selepas pertemuan ini kita bisa menjadi sahabat di dunia yang sebenarnya saudaraku?”

“Belum saudaraku. Kita masih harus terombang-ambing dalam cengkeraman tipu daya dunia. Ia tidak akan membiarkan kita lepas begitu saja. Jalan untuk membebaskan diri kita darinya mungkin masih panjang, masih harus menempuh perjuangan yang melelahkan. Artinya, kita masih akan saling bermusuhan satu sama lain, kita masih akan saling berseteru. Dan para tiran itu terus saja kukuh mencengkeramkan kekuasaannya atas dunia.”

“Sebelum zaman edan ini sirna, orang khianat masih akan dimuliakan, orang amanah masih akan dihinakan, kita masih dikuasai keserakahan dan kesombongan, dunia ini penuh dengan ketimpangan dan ketidakadilan, dan aku menjadi bagian darinya.”

“Menjalani pusaran fitnah zaman akhir, kedustaannya, kebenaran tampak sebagai kebatilan, dan sebaliknya, kebatilan menjadi pujaan. Keadilan sebatas kerinduan, fitnah-fitnah masih akan terus menimpa.”

“Terkadang aku cukup puas mendapatkan duri dan tulang yang tak seberapa dari fitnah dunia ini. Sementara perbendaharaan dunia yang sebenarnya tak seberapa kunikmati.”

“Aku juga cukup gembira menikmati sedikit umpan, sementara aku sebenarnya kehilangan jauh lebih besar dari yang aku dapatkan.”

“Menikmati sedikit upah yang aku dapatkan, tak sebanding dengan sakit yang aku rasakan saat para tiran dunia itu membutuhkan tumbal bagi kekuasaan mereka, saat aku dijadikan kambing hitam yang dikorbankan, aku bisa dicampakkan begitu saja.”

“Seringkali kita hanyalah orang kecil yang diperalat oleh tipu daya dunia, kita tak berdaya menghadapi semua belitan fitnah itu. Kita hanya bisa berbuat sebatas kemampuan kita. Bukankah kita punya Tuhan Yang Maha Kuasa, yang berjanji akan membuka pintu pertolongan-Nya. Pada suatu saat nanti pintu terbuka, terwujud kedamaian yang sebenarnya.”

“Namun sayang sekali, sebelum semua itu terwujud, aku masih akan terus menzhalimimu, menimpakan ketimpangan dan ketidakadilan atasmu, selagi aku mampu melakukannya.”

“Aku juga masih akan terus mengolok-olokmu, mencacimu, dan menghina keburukan yang kau perbuat, selama aku bisa melakukannya. Dengan itu aku mengobati sedikit rasa sakit akibat kedzaliman yang kau timpakan.”

http://www.dakwatuna.com/2015/04/21/67560/pks-ataupun-pdip-sebenarnya-kita-tuh-bersaudara/

Kamis, 02 April 2015

Orang NU, tapi Suka Media Muslim Modernis

Oleh: Fadh Ahmad Arifan
Alumni MAN 3 Malang

Mumpung isu pemberangusan media Islam masih hangat, dalam artikel ini saya ingin menuliskan kisah ayahku yang berdarah Madura (Bangkalan), didikan Pesantren dan kental dengan sopan santun kepada Kiai. Beliau ini sosok yang unik dan langka, karena sebagai warga Nahdliyin di kampung Kotalama, kota Malang; ternyata saat mudanya suka baca buku dan media cetak Islam. Kebiasaan inilah yang nantinya menurun kepada anak-anaknya, termasuk saya.
Sebagai orang NU, anehnya ayah tidak punya sebiji pun buku-buku karangan kiai dan tokoh-tokoh yang duduk di kepengurusan PBNU. Justru saya ketahui, beliau memiliki koleksi buku-buku Bey Arifin, cerita silat Ko Ping Ho, Memoar Hasan al-Banna dan bukunya A. Hassan (tokoh Islam modernis).  Selain buku, semasa mudanya, ayahku mengkoleksi Majalah al-Muslimun dan mengikuti beberapa edisi majalah Panjimas. Konon, majalah al-Muslimun ini dihibahkan kepada guru ngaji saya di kampung Kotalama, namanya Mas Mulyono. Mas Mul ini seorang anggota GP Anshor asal Madura. Karena cerdas dan fasih baca kitab kuning, beliau direkrut Muhammadiyah kota Malang.
Ayah sempat bilang, “Kalau tahu kau suka baca, Majalah al-Muslimun tersebut tidak akan aku lepas.”
Majalah ini punya pengaruh besar dalam pembentukan paham keislaman ayah. Melalui majalah inilah, ayah mendapat pencerahan. Sebagaimana bung Karno mendapat pencerahan dari A. Hassan sewaktu diasingkan di Ende, Flores. A. Hassan dikenal tokoh memiliki penguasaan ilmu fiqh, qawaid fiqhiyah dan ilmu mantiq yang bagus sehingga argumen-argumennya sistematis dan tidak bertele tele. Ini berbeda dengan Kiai, yang tarulah sama-sama penguasaan ilmu fiqh tetapi dalam berargumen masih mengutip utuh teks kitab kuning. Begitu analisis ayah.
Media Muslim modernis yang pertama hadir di bumi nusantara adalah Majalah al-Manar. Bila pembaca melihat film Sang Pencerah, Majalah ini diperkenalkan oleh KH Ahmad Dahlan.
Kembali ke majalah al-Muslimun, pengaruh dari medianya Muslim modernis ini berimbas pada amaliah ibadah ayah. Tidak seperti warga Nahdliyin lainnya yang menganggap tradisi ke-NU an “wajib” khususnya tahlilan, yasinan dan lain-lain.
Ayah termasuk orang NU di Kotalama yang tidak menganggap itu sebagai sebuah keharusan. Beliau adalah orang yang pertama di kampung yang tidak menggelar tingkepan (tradisi 7 bulanan) saat hamilnya ibu saya. Malah beliau berani tidak mengadakan tahlilan untuk kembaran saya yang wafat berusia 6 hari. Namun tidak semua amaliah atau tradisi NU yang ditinggalkan ayah. Misalnya tasyakuran haji masih tetap digelar ketika tahun 1996 dan Syukuran pindahan rumah dari Kampung kotalama ke perumahan Sawojajar.
Untuk urusan perayaan hari Ied Fitri, ayah tidak patuh keputusan PBNU. Beliau mengacu pada putusan Saudi. Katanya, “Saudi dan Indonesia Cuma selisih 4 jam, jadi semisal hilal tak terlihat di Indonesia, kita bisa menanti putusan pemerintah Saudi.”
Selain terhadap amaliah, pengaruh bacaan beliau juga berimbas kepada orientasi politik dan pemilihan lembaga pendidikan. Dalam hal politik, ayahku simpatisan Masyumi. Menariknya beliau mendapat jodoh seorang muslimah Muhammadiyah yang berasal dari keluarga Masyumi. Ibuku seorang keturunan Madura (Bangkalan). Beliau dididik kental dengan tradisi Muhammadiyah. Bahkan sekolahnya pun di lembaga milik Muhammadiyah. Meski ayah beristrikan seorang yang berbeda kultur agama, tapi beliau tidak otoriter dan memaksa istrinya ganti haluan menjadi NU.
Karena kagum kepada kebesaran partai Masyumi, dari pemilu 2004 hingga 2014, ayah memilih dukung PKS. Beliau mengaku dukung PKS karena 2 hal: Partai ini dipandang reinkarnasi Masyumi dan di dalamnya diisi anak-anak muda yang pintar seperti Mahfud Shiddiq, Fahri hamzah dan Anis matta. Ketika 2008 dan 2010 PKS deklarasi jadi partai terbuka, dukungan beliau tidak surut. Malah beliau mendorong saya menjadikan fenomena pergeseran paradigma politik PKS sebagai bahan tesis di Pascasarjana UIN Malang.
Hasil tesis tersebut saya paparkan kepada ayah dan ibu. Setelah mereka mendapat penjelasan dari saya, mereka hanya berkomentar, “Jadi partai terbuka terutama di daerah bukan basisnya maupun minoritas muslim merupakan sebuah keharusan dalam politik.” Mereka menambahkan, “Yang penting liqa’ tetap jalan dan dakwah di parlemen tidak surut.”
Dalam pendidikan, ayah dan ibu tidak menyekolahkan saya dan adik ke lembaga pendidikan NU. Saya disekolahkan ke Madrasah milik pemerintah seperti MTSN 1 dan MAN 3 malang. Ketika itu kepala sekolahnya masih bapak Abdul djalil. Sosok yang  berhasil membangkitkan MIN Malang 1, MTSN 1 dan MAN 3 malang dari sekolah pinggiran menjadi sekolah favorit. Sebelum menutup artikel ini, dari luasnya bacaan ayah, beliau sering mengingatkan kepada saya dan adik, “Fanatiklah kepada Islam, soal NU dan Muhammadiyah, itu tidak ditanyakan di alam kubur.”
Wallahu a’lam bishawwab.
Fimadani

Sabtu, 08 November 2014

Super Humas

Pasca diadakannya PR Summit PKS beberapa waktu lalu, tugas kehumasan memiliki posisi sekaligus tanggung jawab yang lebih urgen.

Kita berada pada era teknologi informasi, di mana perang pemikiran (ghazwul fikri) sebagai sarana untuk mewujudkan gagasan dan kepentingan kian dominan, menggeser peran perang secara fisik. Problematika kehidupan tidak melulu diselesaikan dengan cara-cara fisik yang kasat mata, tetapi lebih banyak diselesaikan secara soft. Perang informasi tak kalah dahsyat dengan benturan secara fisik, menimulkan efek yang dampaknya bisa memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan, meski dalam bentuk lain.

Pada tataran ini, peran humas tak ubahnya adalah prajurit yang menempati garda terdepan medan pertempuran. Humas menjadi ujung tombak dalam pertempuran memperebutkan opini publik, membangun citra dan pengaruh. Memainkan media, menjadi sebuah peran signifikan yang berlangsung hampir tak kenal henti.

Tetapi yang harus diperhatikan, saat ini kita bukan hanya berada pada era kecanggihan teknologi nyata yang menakjubkan, tetapi kita juga berhadapan dengankecanggihan teknologi pemikiran, baik metode maupun sarana-sarananya. Kecanggihan teknik dalam merumuskan strategi dan memainkan isu untuk memenangkan perang opini, berada pada level yang lebih rumit dari masa-masa sebelumnya.

Pada pergulatan model ini, kita berhadapan dengan intrik dan permainan, penuh dengan tipu daya dan jebakan. Seringkali arah para pembuat kebijakan tak bisa lagi dimengerti oleh mayoritas publik, termasuk hal-hal menyangkut kepentingan publik itu sendiri, bahkan lebih banyak berlangsung tanpa disadari oleh mereka. Demikian pula ketika harus berhadapan dengan upaya memanipulasi opini publik untuk agenda dan tujuan tertentu. Di antara pergulatan tersebut, banyak kepentingan besar dipertaruhkan.

Sebanding dengan besarnya tantangan, upaya yang dipersiapkan tidak bisa asal-asalan. Bukan sembarang humas, tetapi memiliki daya upaya yang lebih, kemampuan untuk melampaui tantangannya. Memiliki kemampuan memahami situasi, mengidentifikasi permasalahan dan merumuskan solusinya dengan tepat, untuk memenangkan sebuah perang informasi.

Bukan hanya menyampaikan, tetapi bisa mengukur sejauh mana efektifitasnya, agar bisa dicerna oleh publik. Merubah mindset orang lain, mengambil hati manusia, apalagi membentuk opini publik, bukan merupakan persoalan yang sederhana. Perlu untuk memahami tabiat manusia secara utuh. Sekaligus berhadapan dengan realitas situasi, bahwa mayoritas publik berada dalam kondisi mis-informasi.

Bukan dalam perspektif penyampai informasi, tetapi sejauh mana penerima informasi bisa menerimanya. Tidak bisa seseorang mengasumsikan orang lain adalah dirinya, pemahaman penerima informasi tak bisa seutuh pelaku informasi.

Bukan sekedar membawakan suatu kebaikan, tetapi mengemasnya dengan baik, agar tidak menghasilkan citra yang justru berkebalikan. Di antara pertarungan hitam putihnya dunia, sesuatu yang buruk sekalipun, memungkinkan meraih simpati publik ketika dikemas secara elegan.

Bukan soal kerasnya suara, tetapi sejauh mana bisa didengar. Bukan hanya menjadi angin lalu, tetapi sejauh mana bisa membekas. Ketika hal-hal kecil bisa diblow-up, ketika perhatian publik bisa dialihkan oleh hal-hal yang tidak urgen, tersesat pada upaya memanipulasi opini, dan ketika ketimpangan informasi membelit penguasaan opini publik.

Adakalanya harus bergerak dalam senyap, mengecoh lawan. Adakalanya harus melawan arus dan menyiasati keterbatasan. Ketika sasaran tak mungkin diambil, ia harus dicuri. Biarpun enggan untuk menempuh cara-cara licik, mestinya mampu untuk bersikap cerdik.

Di balik gerak-gerak yang tampak, lebih banyak dibutuhkan dan ditentukan gerak-gerak dalam senyap. Karena bukan hanya persoalan bergerak, tetapi persoalan menggerakkan orang lain.

Berada dalam kondisi melawan arus, di antara permainan, drama dan sandiwara kehidupan. Tidak mudah untuk memahami situasi yang telah berlangsung dan membaca langkah kompetitor, apalagi memprediksi langkah ke depan yang tengah dirumuskan. Jika tidak, akan dengan mudah terseret arus, terbawa pada langkah yang reaktif, bukan mendesain alur permainan.

Urgensi humas, tujuan dan tantangannya, tentunya juga harus sinergis dengan bidang-bidang yang lain, beserta upaya menyiapkan sarana-sarana penunjangnya. Perlu policy yang mengorganisir dengan baik. Sebesar apapun aset dan potensi yang tidak terarah secara efektif, bisa tersesat pada jebakan-jebakan suatu permainan, dan justru akan menjadi blunder yang menguntungkan lawan.


Sabtu, 04 Januari 2014

Sosok Kakek, Ratu Adil, dan Partai Keadilan


Tentang Indonesia masa depan, dalam angan orang-orang lemah yang merasa tertindas, di antara karut marut bangsa yang tak kunjung usai, tentang terwujudnya masa keemasan sebuah negeri yang dipenuhi keadilan, kedamaian dan kemakmuran. Sebuah mimpi yang menjadi sandaran terakhir dan penghibur yang masih tersisa ketika satu demi satu harapan itu pupus, di antara kesulitan hidup yang mereka rasakan.

Kemerdekaan ini, ketika masih menjadi penantian, dalam waktu yang teramat lama, di dalam harapan orang-orang yang bersusah payah memperjuangkannya, adalah mimpi indah tentang kejayaan negeri yang dicitakan itu. Namun sekian lama kemerdekaan itu dicapai, ia tak seindah yang dibayangkan semula, makna kemerdekaan yang sesungguhnya semakin sirna. Cita indah itu seperti masih sama jauhnya atau malah terasa kian jauh.

Kemerdekaan ini tidak menghapuskan keluh kesah orang-orang lemah tentang kesewenang-wenangan dan kezhaliman yang masih leluasa terjadi di negeri ini. Nafsu angkara, keserakahan dan kesewenang-wenangan tak lagi dimonopoli oleh penjajah yang datang dari jauh, semua kebejatan itu juga mampu dilakukan sesama anak bangsa terhadap saudara mereka sendiri. Mengapa kemerdekaan ini tidak hanya mengubur sekian banyak jiwa-jiwa pejuang, namun sekaligus melahirkan manusia-manusia berperilaku nista di antara anak bangsa ini?

Sekiranya para penjajah itu masih mencengkeram negeri ini, masa keemasan negeri yang diimpikan itu rasanya akan mustahil untuk terwujud. Tetapi sekiranya para penjajah itu tidak pergi, mungkinkah juga zaman edan dengan segala kenistaannya bisa berlangsung di negeri ini?

“Partai Keadilan, kok ono sing milih ya?” (Partai keadilan! Kok ada yang milih ya) Kakek berkata dengan terkagum-kagum, bagaimana mungkin di TPS desa ini juga ada yang mencoblos Partai Keadilan.

Apa istimewanya Partai keadilan? Pikir saya, mungkin saja hanya pilihan orang-orang yang asal mencoblos, toh hampir semua partai mendapatkan suara meski hanya satu dua, bukan hanya partai-partai yang memang sudah eksis di sini.

Aneh juga, untuk yang kesekian kalinya kakek begitu antusias dengan sebuah partai yang bernama Partai Keadilan. Sebelumnya setiap bertemu dengan saya, ketika berbicara mengenai kondisi politik saat itu, beliau tak ketinggalan menyebut partai tersebut. Maklum ketika itu masih berada dalam suasana euforia politik pasca reformasi.

Apalagi kakek, saya sendiri saat itu malah belum tahu menahu dengan Partai Keadilan. Hanya mengetahui dari berita di TV dan koran, banyak partai baru bermunculan, biasa saja. Kabarnya yang menjadi ketua adalah anak buahnya Pak Habibi. Jadi saya pikir mungkin partai ini termasuk yang diisukan sebagai produk kroni Soeharto, kelompok yang pro status quo. Jangankan saat itu, hingga Tahun 2009 PKS masih menjadi partai non-parlemen di daerah ini, perolehan suara di kecamatan ini selalu menempati posisi buncit setiap pemilu. Hanya yang saya ketahui tentang Partai Keadilan pada waktu itu, bahwa adalah ia sebuah Partai Islam.

Apakah kakek saya adalah seorang pengagum ideologi revival Islam, gerakan-gerakan Islam kontemporer dan pemikiran dari Timur Tengah? Tidak sama sekali.

Jika 12 tahun kemudian kakek adalah orang yang rajin mendatangi shalat jamaah di masjid, sekalipun berjalan dalam kondisi tertatih sempoyongan, bahkan beberapa kali sempat terpeleset, terjerat kain sarungnya, kondisi beliau saat itu justru sebaliknya. Untuk melaksanakan shalat lima waktu rasanya seperti terpaksa sekali, sekadar menggugurkan kewajiban. Hari-hari beliau adalah kerja, kerja dan kerja. Kadang-kadang ketika hari telah gelap baru pulang dari sawah, kemudian melakukan shalat Ashar dengan amat terburu-buru, entah masih mendapatkan waktunya atau tidak.

Dan tentang sikap beliau mengenai Islam politik, jangan ditanyakan lagi.

“Ya ra iso, Islam kok arep ngatur negara. Apa arep ngarapke Indonesia?” (Ya tidak akan bisa, Islam kok mau mengatur negara. Apa ingin meng-arabkan Indonesia?)

“Adol agama kanggo nggolek sandang pangan.” (Jual agama untuk cari sandang pangan) Begitulah pandangan beliau terhadap politik Islam dan santri.

Islam dan Jawa, sulit mendefinisikan hubungan keduanya. Sekian lama Islam menjaga Jawa ketika para penjajah datang dengan nafsu angkara murka, nafsu untuk menaklukkan dan menguasai seluruh penjuru dunia. Menghadapi mereka yang ingin menghapus entitas Jawa. Islam telah memberi kekuatan kepada Jawa menghadapi berbagai tantangan dalam waktu yang panjang, namun ketika tantangan itu berlalu (berganti), keduanya saling berpaling.

Islam terkadang masih dipersepsikan sebagai tamu di Jawa. Apakah karena peradaban India datang ke negeri ini lebih dahulu sebelum Islam, apa beda antara India dan Arab, bukankah keduanya sama-sama negeri asing yang jauh? Islam terkadang masih dipersepsikan sebagai ancaman bagi Jawa. Apakah peradaban Barat tidak lebih banyak mengoyak Jawa, menenggelamkan Jawa dalam arus globalisasi, sebuah dunia yang tak mengenal batas? Tetapi jika kita membuka diri seluas-luasnya terhadap semua nilai yang baik dan seluruh teknologi yang bermanfaat, masih akan adakan eksistensi Jawa ini?

Keluarga besar buyut terpolarisasi menjadi dua kubu. Tak seperti kaum laki-lakinya, kaum perempuan di keluarga ini cenderung agamis. Di antara polarisasi itu mereka sering berseberangan pada sikap politik keagamaan hingga berbeda sikap pada pemilihan Kepala Desa. Termasuk nenek saya yang agamis, lebih menyukai datang ke pengajian-pengajian, sementara kakek dan saudara-saudaranya lebih respek pada seorang dukun yang kental mistiknya. Urusannya berputar pada problematika hidup serta jimat-jimat untuk perlindungan dan kesuksesan.

Yang teramat menarik, ketika mbah itu datang bertamu, minta untuk diselimuti, kemudian entah bagaimana pakaian yang dikenakan mbah sudah berganti, suaranya juga menjadi aneh. Pada saat itulah sosok mbah yang baru berbicara tentang hal-hal yang berada di luar jangkauan manusia pada umumnya. Tentang perkara yang akan terjadi di masa datang, baik Indonesia masa depan maupun hal-hal yang bersifat lokal.

Tentang keberadaan jalan raya yang nantinya akan sampai juga ke gunung, lereng gunung yang kelak akan longsor, bukit yang suatu hari nanti akan menjadi kota, hingga pembicaraan tentang negeri ini di masa depan, tentang kedatangan Ratu Adil.

Keberadaan mbah dukun sangat memengaruhi pola pikir kakek saya, membentuk pola pikir yang tidak agamis seperti kaum santri. Mbah dukun itu ya Islam, membangun mushalla dan pernah mengislamkan beberapa mualaf. Tapi Islamnya berbeda dengan Islamnya kaum santri.

“Pokoke Jayabayane ngono” (Pokoknya Jayabayanya begitu). Demikian yang selalu diutarakan kakek. Maksudnya bukan hanya yang bersumber dari ramalan Jayabaya semata, tapi semua ramalan dan masa depan yang disampaikan mbah dukun diistilahkan dengan ‘Jayabaya’. Maklum beliau lebih paham Wayang dan Kitab Jayabaya daripada nubuwat Rasulullah tentang akhir zaman.

Ramalan-ramalan indah tentang masa depan memang amat menghibur dan bisa membuat kita terpedaya. Namun yang lebih bermanfaat bagi kita sesungguhnya adalah kerja nyata yang bisa kita perbuat dalam kehidupan ini. Kerja nyata yang mampu kita lakukan meski sederhana, daripada ramalan indah yang hanya sebatas utopia.

Terhadap berbagai nubuwat yang disampaikan Rasulullah, kita mesti meyakininya, dengan tetap menempatkannya dengan hati-hati, sehingga kebenaran nubuwat tersebut tidak diletakkan di bawah keterbatasan dan subyektivitas penafsiran kita. Apalagi terhadap ramalan-ramalan yang diperoleh secara ilegal, yang didapat dari mencuri berita-berita dari langit.

Agar jangan sampai muncul kembali prediksi-prediksi konyol tentang kiamat yang akan terjadi tanggal sekian, Imam Mahdi akan muncul tahun sekian, tahun sekian akan terjadi perang dunia, siapa yang akan menjadi Presiden Indonesia selanjutnya dan sebagainya. Ketika semua itu tak terlaksana, tetap tak ada pihak yang bertanggung jawab.

Baiklah nubuwat-nubuwat itu menjadi kabar gembira tatkala perjuangan ini menghadapi cobaan yang luar biasa berat, saat-saat kita butuh sandaran untuk menguatkan asa yang hampir pupus. Saat-saat kezhaliman sedang berada pada puncaknya, dan kita harus terseok-seok menghadapinya dalam ketidakberdayaan. Untuk sebuah optimisme bahwa masa yang penuh dengan kerusakan ini akan berakhir suatu hari nanti, meski seolah mustahil menurut logika kita hari ini.

Keyakinan yang menjadi pegangan orang-orang yang tertindas, yang menantikan datangnya Imam Mahdi, Ratu Adil, Satria Piningit, Mesias, Kalki Avatar dan dalam berbagai versi lain, yang akan membebaskan mereka, memenuhi dunia ini dengan keadilan dan kedamaian.

Islam dan Jawa memiliki kesamaan pandangan bahwa sebelum masa indah itu terwujud, mesti didahului masa-masa penuh nestapa, melewati puncak-puncak kezhaliman dan kesewenang-wenangan, kerusakan moral dan kehancuran martabat manusia, fitnah, bencana, huru-hara dan peperangan.

Seperti apa yang dianggap sebagai fitnah akhir zaman, jahiliyah modern, zaman edan atau kalabendu. Saat kebenaran dianggap kebatilan, kebatilan dipuja-puja. Pengkhianat dipercaya, sedang orang jujur menjadi tertuduh. Segala sesuatunya telah terbalik.

Lantas ketika kebejatan itu memuncak, di manakah nilai-nilai luhur Islam dan Jawa saat itu? Mengapa tak mampu mencegah manusia-manusia itu dari perbuatan yang nista? Apa arti nilai-nilai luhur Jawa? Begitu banyak orang-orang berdzikir, berdoa, berbondong-bondong naik haji, namun tak melahirkan manusia amanah yang berakhlak? Apa yang masih salah?

Begitulah yang dikehendaki oleh Tuhan, agar kezhaliman itu menjadi sempurna. Saat kejahatan yang mencengkeram dunia ini mencapai puncak kesempurnaannya, Tuhan Yang Maha Kuasa akan menghancurkannya. Jika saat ini kita merasa sedang berada pada masa itu, di antara kepahitan ini sebenarnya terbersit suatu harapan bahwa masa yang dinantikan itu telah dekat.

Seberapa penting keberadaan Partai Keadilan bagi kakek, saya terlewat untuk menanyakannya, padahal sebenarnya merasa aneh juga dengan kakek, tumben beliau tertarik sesuatu yang berbau Islam. Apa ada hubungan antara Partai keadilan dengan ‘Jayabayanya’. Baru setelah beliau berpulang, terbersit keinginan untuk menanyakan seberapa penting fitur Partai Keadilan bagi kakek atau bagi Indonesia masa depan, dan alhamdulillah pertanyaan itu tak sempat saya lontarkan.

“Partai Keadilan itu partai Islam, ketuanya Nur Mahmudi Ismail.” Hanya itu yang bisa saya jelaskan ketika kakek dengan antusias menyinggung tentang Partai Keadilan.

Mendengar kata Islam, wajar saja beliau kecewa. Hingga saya berpikir beliau besok tidak mengulang lagi pembicaraan terkait Partai Keadilan. Dugaan saya ternyata meleset, pembicaraan itu terulang kembali bahkan hingga setelah Pemilu 1999.

Padahal saya sendiri pada waktu itu tidak tertarik sama sekali dengan Partai Keadilan. Memang saya belum memiliki interaksi dengan orang yang menjelaskan banyak hal tentang partai tersebut. Informasi yang saya terima sebatas berasal dari media-media mainstream yang tidak banyak memberikan gambaran lengkap tentang kalangan Islamis. Baru beberapa tahun kemudian saya mengetahui kalau Partai Keadilan cukup disebut dengan singkatannya saja, ‘PK’.

Mereka itu ternyata terkait dengan buku-buku, majalah dan buletin tentang Islam yang dibawa mahasiswa ketika kamping di dekat sekolahan bapak, yang mengisi memori masa kecil saya tentang Islam. Kisah tentang tragedi Bosnia yang sangat menyentuh masa kecil saya waktu itu, yang membangkitkan ketertarikan terhadap Islam. Hanya sebatas itu, tanpa pernah berinteraksi secara langsung dengan mereka.

Perjalanan hidup saya sebelumnya terdampar dari satu dokter ke dokter yang lain, meski berakhir kegagalan. Kekecewaan itu ada, namun saya juga menyadari bahwa para dokter itu manusia biasa yang hanya bisa berusaha. Tapi yang lebih mengecewakan ketika kemudian dalam keputusasaan saya beralih kepada dukun, paranormal dan kiai, dengan berbekal kepercayaan penuh atas kemampuan linuih mereka, sepenuhnya yakin kalau mereka adalah wali yang dekat dengan Allah, yang bisa memenuhi segala hajat kita, menyaksikan sendiri mereka mampu menunjukkan hal-hal yang luar biasa, namun bukan itu sebenarnya, tetapi kesembuhan yang sangat saya harapkan tak kunjung didapatkan.

Hingga diri ini ingin terbebas dari itu semua, meninggalkan amalan-amalan yang masih tersisa, tapi tak semudah begitu saja melepaskannya. Hingga ketika Muhammadiyah di tempat saya kesulitan mendapatkan satu dua orang yang bersedia diajak mengikuti sebuah pesantren kilat, ajakan itu saya terima sekaligus sebagai suatu upaya untuk membebaskan diri dari belitan mistik.

Setelah menikmati euforia kebebasan itu, selanjutnya saya menemui sebuah babak baru tentang umat ini, persoalan dari dalam tubuh umat, tentang firqah, manhaj dan fikrah yang tak kalah rumit dibandingkan peliknya persoalan dari luar. Sedikit-sedikit saya juga mulai mengenal Tarbiyah, yang menawarkan sudut pandang moderat dalam menyikapi ekses dari keragaman dalam tubuh umat ini.

Beberapa tahun kemudian informasi tentang PKS lebih banyak diterima kakek.

“PKS sing wong-wonge ra gelem korupsi!” (PKS, yang orang-orangnya tidak mau korupsi) Demikian ujar kakek.

Meski dalam pandangan kakek PKS ini identik dengan Islam, dan selama ini beliau tidak menyukai segala yang berbau Islam, apalagi model Islam garis keras, Wahabi, Masyumi yang dianggapnya bagai momok, tapi beliau telah menaruh harap pada partai ini. Tak seperti yang ditakutkan semula, Islam juga menghasilkan hal-hal yang baik. Meski kemudian saya tahu, harapan itu tak sesederhana yang dibayangkan.

Mungkin selama ini Islam lebih banyak menuntut dan mempersalahkan, daripada mengkomunikasikan kebajikan yang dikandungnya dalam bahasa yang dimengerti mereka, atau memberi solusi yang nyata bagi kehidupan.

“PKS itu berupaya baik pada semua, melakukan pendekatan kepada seluruh umat, menyikapi dengan bijak perbedaan-perbedaan yang ada.” Begitulah kurang lebih yang mampu saya jelaskan.

Rupanya sikap antipati beliau terhadap hal-hal yang berbau Islam sudah berkurang. Bahkan beliau sudah memiliki keinginan menunaikan ibadah haji, sesuatu hal yang selama ini sama sekali tak terpikirkan oleh beliau, padahal dari segi kemampuan finansial mestinya telah mampu sejak dulu.

Kerja dan kerja, demikian yang selama ini beliau jalani. Ketika generasi seangkatan beliau tinggal segelintir orang yang sudah jompo, kemampuan fisik kakek seusia itu sulit untuk dinalar, anak-anak dan cucu beliau secara fisik bahkan masih kalah. Rasanya seperti mustahil, apalagi beliau pernah menjalani operasi yang memotong sebagian ususnya, pernah pula tertabrak sepeda motor hingga mengalami patah tulang cukup parah. Sebenarnya tanpa perlu susah payah bekerja, gaji pensiunan sebagai veteran kemerdekaan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan beliau. Toh jerih payah dari semua yang dihasilkan tak pernah dinikmati oleh beliau yang hidup seadanya. Kami anak dan cucu beliaulah yang meski telah menempuh pendidikan dan banyak yang menjadi pegawai, lebih banyak memanfaatkan hasil jerih payah beliau, ada saja kebutuhan kami yang lagi-lagi masih harus ditopang kakek.

Apakah jimat dari mbah dukun itu di balik keperkasaan fisik ini? Untuk apakah kerja dan kerja yang hasilnya tak pernah dinikmati ini? Apalagi bila etos kerja itu memupus semangat untuk beribadah, memupusnya dengan semangat yang menyala-nyala untuk mengejar dunia, sementara usia terus melaju. Suatu saat saudara kakek sempat berujar ingin melepaskan jimatnya, meski selama ini membuatnya digdaya, namun sebenarnya tak lebih menimbulkan kemudharatan semata. Beliau terkesan dengan anaknya yang mengikuti Salafi, hanya dari sudut pandang sekilas, konsistensi mereka mengamalkan apa yang mereka ketahui, tanpa mengerti apa itu manhaj, ta’wil, tajsim dan sebagainya.

Kepercayaan di sekitar kami, bila ada orang yang berhubungan dengan pesugihan atau jimat bertaubat, akan ditimpa suatu malapetaka, untuk membersihkannya dari kesalahan di masa lalu. Semoga sakit yang kemudian menimpa beliau, hilangnya kedigdayaan beliau, adalah sebuah kesempatan agar beliau memiliki waktu untuk memperbaiki ibadah pada sisa hidupnya, meski teramat sebentar. Satu keinginan yang menjadi ganjalan di hati beliau, sebuah penantian untuk mendapatkan panggilan ke Tanah Suci yang belum tercapai.

Apa yang beliau citakan tentang partai orang-orang jujur (lugu) ini tak begitu saja dengan mudah diraih. Cita ini masih harus ditempa dengan berbagai aral menghadang. Tepat satu hari sebelum kasus LHI meledak, beliau berpulang. Takdir telah ditetapkan bahwa beliau tidak lagi bersama kami pada babak baru perjuangan ini. Apakah cita ini akan kandas, ataukah suatu saat akan mampu terwujud? Masih jauhkah?

Semoga sisi-sisi kebaikan kami yang tak seberapa ini berbuah rahmatNya yang tiada tara bagi kami. Semoga kami diberi kemampuan mewujudkan cita kebaikan beliau, menjadi kebaikan bagi kami, tambahan kebaikan bagi pendahulu kami, dan segenap umat manusia.


Sabtu, 13 Juli 2013

Sinergi Antar Elemen Anti Korupsi


Penanganan kasus korupsi yang cepat, tegas, cekatan, hingga menghajar para pelakunya tanpa ampun merupakan impian segenap elemen anti korupsi di negeri ini. Meski sayangnya dambaan tersebut selama ini baru berupa mimpi yang berhadapan dengan upaya pemberantasan korupsi yang masih belum sesuai harapan. Sementara penanganan kasus korupsi yang menimpa PKS bergulir dengan kecepatan maksimal, menerjang hingga akar-akarnya yang paling dalam. Apakah penanganan kasus korupsi PKS ini merupakan kabar gembira tentang upaya pemberantasan korupsi yang telah berubah menjadi profesional?

Jika selama ini segala urusan yang menyangkut pemberantasan korupsi pada umumnya terkesan lelet, jalan di tempat, tebang pilih, tidak menyentuh inti persoalan, hingga dakwaan dan vonis yang dijatuhkan tidak memadai, maka penanganan kasus korupsi PKS justru berkebalikan dari hal-hal tersebut. Mengapa demikian, dan apa yang membuatnya berbeda? Disinilah kedewasaan dan kejelian kita teruji, apakah kita hanya akan terombang-ambing oleh opini media beserta agenda di belakangnya. Kebencian terhadap korupsi semestinya tidak membuat kita menutup mata terhadap kejanggalan-kejanggalan sekecil apapun dalam penanganan kasus korupsi, semestinya membuat kita lebih utuh dan cermat menyikapi situasi yang berlangsung.

Jika saat ini PKS teramat identik dengan korupsi, berbagai kasus dan skandal, sebenarnya pernah terjadi hubungan dan sejarah istimewa antara PKS dan berbagai elemen anti korupsi di negeri ini. Ketika pemberitaan media yang sangat gencar mengenai image PK hingga (kemudian menjadi PKS) sebagai komunitas yang bersih dan jujur, partai ini pernah menjadi ikon anti korupsi di negeri ini, menjadi tumpuan harapan sebagian masyarakat akan terwujudnya Indonesia yang bebas korupsi, pada masa-masa indah penuh kisah menakjubkan bak di negeri dongeng. Terlepas dari adanya pencitraan media pada masa itu, harus diakui memang ada spirit anti korupsi yang sangat kuat dan khas pada partai ini. PKS membesar dari citra anti korupsi yang dimilikinya.

Dalam kondisi yang tidak bisa menafikkan tingginya biaya politik, secara umum PKS mengantarkan kadernya menduduki posisi di legislatif dan eksekutif dengan biaya yang jauh lebih rendah dibanding kekuatan politik lain. Dari PKS lebih banyak lahir sosok-sosok sederhana yang menjadi anggota dewan atau pejabat. Anggota dewan yang berangkat ke kantor dengan motor bututnya atau naik angkutan umum, kepala daerah yang tinggal di rumah teramat sederhana atau rumah kontrakan, sosok-sosok yang teguh menolak suap dan mengembalikan gratifikasi hingga tunjangan bermasalah, sosok-sosok yang menjadi satu-satunya orang yang selamat dari proses hukum di saat semua rekannya terjerat kasus korupsi.

Kekuatan anti korupsi yang dimiliki PKS adalah riil mengakar di masyarakat, bukan sekedar lembaga dengan kewenangan yang dimilikinya ditopang oleh peraturan perundang-undangan yang bisa berubah-ubah tergantung pengambil kebijakan. Bukan sekedar sekelompok orang yang membuat LSM atau mengadakan kajian yang melontarkan wacana dan teriakan tentang pemberantasan korupsi, melakukan protes dan demo, tetapi riil sebagai pelaku penyelenggara negara, birokrasi, di legislatif dan eksekutif. PKS juga memiliki peran besar mengedukasi dan mengontrol ratusan ribu kadernya serta jutaan masyarakat dan umat tentang perilaku anti korupsi, hingga mendudukkan orang-orang bersahaja pada posisi-posisi berpengaruh di lembaga legislatif, eksekutif, keagamaan dan kemasyarakatan.

PKS merupakan aset yang cukup signifikan bagi upaya pemberantasan korupsi di negeri ini. Apakah kemudian potensi kekuatan anti korupsi yang dimiliki PKS  akan bisa dikelola secara efektif, ataukah akan mengendur dan tenggelam secara perlahan-lahan ke dalam dunia pragmatis dan korup, ataukah akan porak poranda oleh serangan balik kekuatan pro korupsi, atau bahkan kedua hal tersebut yang menimpa PKS sekaligus? Namun bagaimanapun PKS dan oknum-oknumnya melakukan kesalahan dan penyimpangan, sisa-sisa spirit anti korupsi di antara puing-puing reruntuhannya semestinya dipandang sebagai aset yang harus diselamatkan semaksimal mungkin untuk memperkuat perjuangan segenap elemen anti korupsi. Apalagi bila borok dan noda yang perpampang mencolok dalam diri PKS sebenarnya bagian dari permainan, konspirasi, festivalisasi dan jebakan kekuatan pro korupsi. Apa yang menimpa mantan ketua KPK Antasari Azhar sebenarnya bisa menjadi pembelajaran bagi segenap elemen anti korupsi, ketika begitu mudahnya kita menafikkan jasa beliau, bahkan ikut memojokkan tatkala beliau sedang menjadi bulan-bulanan sendirian.

Dengan demikian semua elemen bangsa yang peduli pada upaya pemberantasan korupsi baik perorangan, lembaga atau LSM, semestinya memberikan perhatian khusus kepada PKS. Jangan sampai aset PKS ini terhanyut dalam dunia yang pragmatis dan korup sementara elemen anti korupsi yang lain membiarkan tanpa merasa kehilangan, bahkan ikut mendorong menenggelamkannya. Juga jangan sampai aset PKS ini sendirian menjadi bulan-bulanan menghadapi serangan kekuatan pro korupsi, bahkan terjerumus tanpa sadar dalam permainan yang rumit penuh intrik, fitnah dan tipu daya, sehingga sesama elemen anti korupsi saling menghancurkan satu sama lain. Sebenarnya PKS sangat membutuhkan support dari elemen lain tidak saja untuk menghadapi serangan dari kekuatan pro korupsi, tetapi juga dalam upaya menjaga spirit anti korupsi dalam tubuh PKS sendiri.

Di saat tantangan berat menghadang upaya pemberantasan korupsi, belum ada upaya yang efektif untuk memberantasnya. Demokratisasi, pemilihan langsung, kebebasan pers, peraturan perundangan hingga lembaga khusus tidak membuat korupsi di negeri ini surut, bahkan sebaliknya. Operasi tangkap tangan yang memukau bak melahirkan selebritas korupsi tetap nihil dalam memberikan efek takut dan jera pelaku korupsi. Di sinilah pentingnya menjaga agar upaya pemberantasan korupsi tetap berada pada koridor yang benar. Penyimpangan dalam upaya pemberantasan korupsi, meski tampak menyenangkan, bisa menjadi bumerang yang menodai dan merugikan upaya pemberantasan korupsi itu sendiri.

Maka jika kasus korupsi PKS ini ditangani secara fair, tanpa tendensi politik, dan profesional, tidak seperti penanganan kasus korupsi pada umumnya, semestinya membuat elemen anti korupsi lain merasakan perih mengingat sejarah dan hubungan istimewa PKS dan pemberantasan korupsi yang pernah terjadi. Dan bila penanganan kasus korupsi PKS ini berjalan tendensius, keluar dari koridor hukum, membabi buta, diskriminatif atau menyerempet kepada hal yang bukan-bukan, semestinya tidak membuat elemen anti korupsi lain bersemangat membullying PKS atas nama pemberantasan korupsi.

Namun yang semestinya paling menjadi keprihatinan segenap elemen anti korupsi di negeri ini adalah menjaga agar spirit anti korupsi yang dimiliki PKS ini tidak semakin memudar, mengingat PKS adalah kumpulan manusia bukan malaikat, masih harus bersusah payah dalam perjuangan. (dakwatuna)

Rabu, 19 Juni 2013

Jengkol PKS Dan Ghuroba


Tak disangka tak dinyana, jengkol menjadi sebuah fenomena yang menggemparkan hingga kalangan pejabat di negeri ini. Baru kali ini harga jengkol yang berlipat ‘menggoyang’ dunia perekonomian kita. Sejak zaman dahulu, barang sepele sebangsa jengkol belum pernah menjadi suatu fenomena besar.

Rasa-rasanya sebagian besar masyarakat kita tidak terlalu butuh jengkol. Seberapa pun mahalnya, nggak ambil pusing. Beda dengan beras, sehari saja tidak makan nasi, rasanya tetap belum makan meski menyantap beragam makanan lainnya. Wajar jika program Sehari Tanpa Nasi di Kota Depok menuai berbagai keluhan hingga protes dari masyarakatnya. Bahkan bagi yang tidak doyan jengkol, digratiskan pun tetap tidak doyan, enek banget, apalagi baunya saja sudah mengganggu.

Tapi faktanya segelintir orang tetap ada yang menjadi pecandu jengkol. Betapapun mahal harganya, tetap harus bersusah mencarinya. Orang lain menilainya aneh, tidak bisa dinalar. Mengapa tidak memburu makanan lain yang lezat-lezat saja. Tapi begitulah selera kita masing-masing, terkadang tidak bisa saling mengerti.

Rasa-rasanya jengkol ini ada kemiripannya dengan PKS, partainya para pemuda yang aneh bagi komunitasnya. Di saat sebagian besar generasi muda mengisi waktu luangnya dengan main-main, tak jauh-jauh dari hal-hal yang bersifat entertainment, segelintir anak muda yang sudah kecanduan PKS seleranya menjadi beda. Ketika kebanyakan pemuda menikmati masa mudanya dengan hal-hal yang serba menyenangkan dan hura-hura, main, pacaran, nonton, dengerin musik, segelintir pecandu PKS malah berkutat dengan hal-hal seperti ngaji, baca buku, menghafal Al Qur’an, rajin ke masjid dan seabreg tugas lain. Orang lain mungkin berpikir masa muda waktunya hura-hura, rajin ibadah kalau sudah tua saja, tapi para pecandu PKS sejak belia sudah harus berkutat dengan agenda-agenda di masyarakatnya, sejak dari bakti sosial hingga menjadi relawan bencana. Orang lain mungkin menilai hal tersebut sangat membosankan, terkekang, nggak gaul, dan sumpek banget, tapi para pecandu PKS sangat menikmati kebahagiaan dari berbagai aktivitas yang dilakukan.

Ketika memandang pohon jengkol, sepertinya juga mengingatkan tentang pohon dakwah yang kita bina. Ketika seseorang menanam pohon jengkol, yang akan memanen buah dari pohon yang ia tanam bukanlah dirinya. Paling cepat, yang akan memetik buah jengkol dari pohon yang ia tanam adalah cucunya, bahkan generasi sesudahnya. Mengingatkan tentang jalan dakwah ini yang begitu panjang, belum tentu generasi yang menanam pohon dakwah ini yang memetik buahnya juga, bisa jadi pohon dakwah ini berbuah pada masa generasi sesudah kita. Di sinilah pentingnya motivasi, kesabaran dan keikhlasan bagi para penanam pohon jengkol dan juga pohon dakwah ini. Para penanamnya bukanlah orang yang mementingkan diri sendiri atau mengutamakan kepentingan sesaat, tetapi sebuah pengorbanan untuk masa depan, meraih hasil di hari esok, bahkan di akherat kelak.

Dan bagaimana harga jengkol yang bisa lebih mahal dari harga daging sekalipun, tanpa mempromosikannya, tak ada iklan untuk menarik orang-orang membeli jengkol, namun nyatanya para pemilik jengkol seperti mendapat rejeki yang tak disangka-sangka sebelumnya. Begitu pula dengan dakwah yang kita bina, tatkala kebanyakan manusia tidak membutuhkan bacaan Al Qur’an kita, dzikir kita, sholat kita, tatkala berhadapan dengan dunia yang semakin pragmatis, yang ditanyakan hanyalah uang dan materi, bansos, aspirasi dan semacamnya. Sia-siakah doa kita, tilawah kita, qiyamul lail kita tatkala masyarakat tidak membutuhkannya, mengapa kita bersusah payah melakukan semua itu. Tidakkah mengandalkan politik uang saja, membangun pencitraan, iklan, permainan media, untuk mencapai tujan kita. Namun sebagaimana jengkol, bisa jadi suatu hari nanti amal-amal yang sepele di hadapan manusia itu mengundang pertolonganNya, dari arah yang tak disangka-sangka, pintu kemenangan yang seolah mustahil menjadi mudah.

Jadi bagi para pecandu jengkol dan juga pecandu PKS, nikmati saja keanehan ini meski kebanyakan manusia tak mengerti kenikmatan yang dirasakan.(dakwatuna)