Selasa, 17 Juni 2014

Anak Tukang Becak, Anak Bebek, Ketidaksempurnaan Dunia

Bukan sembarang prestasi, terlahir dari keterbatasan. Lulusan terbaik sebuah universitas itu adalah anak tukang becak. Ada lagi, lulusan terbaik universitas ternama diraih seorang anak buruh tani.

Anak-anak bebek, terlahir dalam ketidaksempurnaan, berpayah menggeliat dalam kesendirian. Namun senantiasa tetap terlahir orang-orang terpilih, yang menyiasati keterbatasan, menerobos penghalang, menembus ketidakmungkinan, merajut bilah-bilah kekurangan agar terbentuk menjadi sesuatu yang terbaik.

Dunia tak selalu menghamparkan kesempurnaan. Menorehkan prestasi dari keterbatasan menjadi lebih bernilai, melampaui yang dicapai mereka yang berkecukupan, berlimpah dengan berbagai fasilitas.

Memukau khalayak, takjub, menjadi ibrah, menumbuhkan motivasi dan tekad pada mereka. Mengajarkan mereka untuk bersyukur, berbagi, dan berbuat kebajikan. Dan semua itu menjadi tambahan kebaikan baginya.

***

Dunia tak selalu menyempurnakan pembalasannya. Tak semua kisah berkesan itu menjadi cerita. Tak dikenal dalam senyap, luput dalam pandangan manusia, terseok-seok, terhina, namun ia tetap mulia, tak berkurang sedikit pun nilainya. Masih harus ditempa dengan berbagai ujian kesabaran, agar lebih indah. Tak apa, menjadi simpanan untuk hari nanti, untuk kebahagiaan yang lebih sempurna.

Dunia tak selalu menyempurnakan  pengabarannya. Tak semua yang terlahir berkesan itu sejati. Ketika pengabaran dunia dicuri oleh kepalsuan. Gegap gempita, memukau pandangan manusia, padahal ia hanyalah polesan tipis. Apa yang tersembunyi berbeda dengan yang tampak, sebaik-baik pujian belum tentu sebaik-baik amal. Pencitraan semu, antara kepalsuan dan pura-pura. Mengemas sebuah kepalsuan, memperdaya, mengelabuhi pandangan manusia, memanipulasi empati mereka.

Ketika ketulusan belum mendapatkan tempat, ketika keadilan masih dinanti, masa dimana orang-orang lemah harus terseok-seok, terinjak-injak dalam kerumunan. Masih harus menyempurnakan kesabarannya, berhias dengan keluh kesah. Namun keadilan itu tetap akan terwujud, dan pasti akan terwujud, entah suatu saat nanti. Kebajikan sejati, pada saatnya akan menerjang, tak ada seorang pun mampu menahan lajunya.

***

Hanya sedikit dari biji yang tercipta, yang bisa bersemi dan tumbuh. Dari karunia-Nya yang tak terhingga, hanya sedikit yang berbuah menjadi amal. Begitu sering kesempatan yang terlewat, begitu banyak potensi yang tersia-siakan. Di antara cita dan kesempatan, antara upaya dan takdir pada seorang hamba, membuka sebuah jalan, melewati berbagai ujian yang menghadang.

Kekurangan memperindah kesabaran, ketidaksempurnaan menyempurnakan pengabdian, kelemahan menghias pengharapan, berbuat dalam keterbatasan. Tanpa menunggu berakhirnya ketimpangan dunia.


Rabu, 11 Juni 2014

Saudaraku, Tak Memilih itu Memang Hak, Tapi...

Bukan tentang Umar umat ini, tetapi tentang Habasyah umat ini, yang menyediakan emperan untuk berteduh saat-saat umat ini teraniaya, terlunta-lunta, terhimpit kezhaliman. Bukan tentang Firaun umat ini, tetapi tentang mereka yang memberi kelonggaran, berbaik hati untuk dakwah ini, serta menjadi penopangnya, meski mereka sendiri belum sempurna dalam menerima seruannya.

Bukan tentang tegaknya panji Islam di puncak kesempurnaan, tapi sekedar batu pijakan kecil, untuk menopang ayunan yang tertatih, sedikit langkah memang tak seberapa, tapi berharga, menghindari runtuhan fatal yang hampir menimpa, agar berkesempatan melanjutkan perjalanan yang mungkin masih jauh.

Saudaraku, aku menghargai jika engkau kukuh pada sebuah prinsip. Perbedaan persepsi yang membuat kita seringkali saling membelakangi, saling menafikkan, di antara ego kita, padahal ia terlahir dari sebuah cita yang sama tentang Islam ini. Apakah tantangan berat ini harus mengorbankan prinsip? Tetapi apakah beratnya tantangan itu masih tak membuat kita saling mengerti? Mengorbankan idealismemu, tapi demi umat ini, meski tak sesederhana itu.

Saudaraku, aku mengerti dan merasakan kerisauanmu jika harus mengorbankan prinsip, meski sekedar untuk meminimalisir mudharat, atau demi mencegah mudharat yang lebih besar, sedikit mewarnai, mendulang manfaat sekecil apapun, di antara idealisme dan realitas, ketika dihadapkan pada pilihan dilematis, yang terburuk di antara yang buruk.

Namun saudaraku, apakah prinsip itu harus menutup segalanya, mendudukkan Firaun umat ini di tempat yang sama persis dengan Najasyi umat ini, menempatkan Romawi umat ini sama persis dengan Persia umat ini, menempatkan Abu Thalib umat ini di tempat yang sama dengan Abu Jahal umat ini, hitam putih, tanpa ada timbangan sama sekali?

Pernahkah terbersit olehmu, apakah dengan dengan sikapmu yang kukuh, engkau bisa nyaman mengambil sikap di antara kegembiraan atas kemenangan bangsa Romawi, atau larut dalam kesedihan atas kekalahan mereka, sedang generasi paling ideal dari umat ini pun mengalaminya, dalam kondisi serba keterbatasan yang mereka alami waktu itu?

“Telah dikalahkan bangsa Romawi. Di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi. Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.” (QS. Ar Rum: 2-5)

Tak seburuk Romawi, tak sejauh Habasyah, hanya mungkin karena kurang mendapatkan sentuhan dakwah ini, di antara proses dakwah yang belum selesai, di antara tahapan-tahapannya yang belum sempurna.

Berhadapan dengan realitas dan keterbatasan, umat ini membutuhkan solusi jangka pendek yang segera, tanpa bermaksud menafikkan upaya mewujudkan kondisi ideal. Ada hal-hal baik yang bisa diambil umat ini sekecil apapun, untuk menuju sebuah cita yang masih panjang. Ketika umat berada dalam posisi krusial, sedikit partisipasimu mungkin akan menentukan, namun apakah engkau tetap tak bergeming?

Kekhawatiranmu terjatuh bersama kami, dan kekhawatiran kami bila keteguhanmu justru menguntungkan rival dakwah kita, sikapmu justru memberi jalan yang lebih mudah kepada mereka. Mengetuk kepedulianmu agar engkau memberi sedikit partisipasi, untuk menyambung sebuah harapan yang lebih baik bagi umat ini.

Atau apakah engkau malah gembira ketika  umat ini terjatuh, hanya karena terjatuh dalam ketidak sempurnaannya, menyaksikannya kejatuhannya tanpa berbuat sesuatu, hanya karena mereka tak memenuhi suatu kesempurnaan?

Saudaraku, tak memilih itu memang hakmu, tapi aku harap engkau mengerti juga tentang kewajiban dan tanggung jawabmu terhadap umat ini...


Laba-Laba Merah

Menjalani hidup di antara laba-laba kehidupan, aral itu tak selamanya kukuh membentang, adakalanya ia samar tak tampak. Terlena, terpedaya hilang kewaspadaan. Terkecoh, terpikat dalam jeratan.

***

Rasanya seperti tak biasa, banyak sekali bergelantungan di antara dahan-dahan. Dari dulu biasanya memang ada satu dua laba-laba besar di kebun belakang rumah, tapi warnanya hitam. Mulanya hanya seekor, tumben kali ini ada yang berwarna merah. Mungkin musimnya sedang mendukung, kemudian menjadi banyak sekali laba-laba merah itu.

Serangga-serangga yang berterbangan kian kemari, tak lagi bisa leluasa, terjerat dan menjadi santapan. Jangan berharap untuk hinggap istirahat pada sarangnya. Berhadapan dengan tantangan hidup yang kian sulit.

***

Melewati satu ujian berhadapan dengan ujian lain. Tegar melewati berbagai badai, terlena oleh angin sepoi-sepoi, terjatuh dalam kelengahan. Gertakan tak mampu menghentikan laju, terhenti oleh sapaan manis dan senyuman. Kukuh dalam kesulitan, tapi terkecoh oleh keindahan.

Belantara laba-laba, jalan seperti luas terhampar, seperti tak ada apa-apa. Lincah kesana-kemari, menikmati, sedang bahaya mengintai, bersiap menangkap mangsa. Saat-saat aral memperdaya, menghampiri tanpa disadari. Terjebak dalam permainan, menjadi korban pencitraan.

Betapa pun ia indah dipoles, disembunyikan dalam samar, aral tetaplah aral. Ia bisa berubah rupa, menjadi bentuk yang lain, mengecoh, membuat terlena dan memperdaya. Jebakan itu mesti dibuat indah dan menarik, memikat untuk dihampiri. Menyapa dengan ramah, tapi menggigit dengan tajam. Indah tapi berbahaya, tenang tapi menghanyutkan.

Tak hanya memandang apa yang tampak, tetapi kewaspadaan tentang apa yang berada di baliknya. Tak hanya apa yang diperlihatkan, tetapi apa yang disembunyikan. Tak tampak, tapi mengawasi. Terasa mudah, padahal tak dimengerti. Terasa manis, tetapi umpan.

Sebenar kewaspadaan, agar perjalanan tak terhenti sia-sia. Sebenar pengharapan, agar perjalanan terjaga, berlanjut hingga muara akhir kemenangan.

Karena Jokowi itu Terlalu Baik, Maka Saya Ragu

Dari seorang teman di Facebook, mungkin selama ini sedikit-sedikit kita sudah merasakannya sendiri, keganjilan-keganjilan dalam kehidupan ini. Tak sepele, menyangkut persoalan kita-kita seluruh bangsa.
Saya pernah ngobrol-ngobrol dengan teman seorang jurnalis muslim yang tergabung di Jurnalis Islam Bersatu yang tahu peta media di Indonesia. Dia bilang begini, “Semua orang media sudah tahu, dia dipersiapkan oleh media untuk jadi presiden, soft campaign, sejak di Solo, hanya orang lugu saja yang tidak tahu. Makanya ketika Pemilukada Jakarta kita tidak pilih, karena kita yakin usia jabatannya tidak akan sampai 5 tahun.”
“Kok tahu?”
“Ya iyalah, kita sudah tahu planning tim sukses di balik layarnya.”
“Setiap yang ditampilkan di TV itu ada dapur olahannya. Bersyukur kita sedikit tahu cara olahannya di dapur, yang banyak memakai bahan pemanis, pewarna buatan yang berlebihan, makanya kita nggak makan.”
Rasanya beda enak banget, eh jangan-jangan pakai penyedap berlebihan. Tahan ya tidak cepat basi, jangan-jangan pakai formalin. Warnanya bagus, cerah, tidak kusam, mungkin pakai pewarna tekstil.
Kalau beli sayur jangan memilih yang terlalu bagus, mungkin pakai pestisida dan pupuk kimia berlebihan, pilih saja yang agak kena ulat.
Terlalu murah, jangan-jangan curian, atau jangan-jangan imitasi. Terlalu menggiurkan, jangan-jangan terjebak investasi bodong.
Baru masuk got saja, wartawan berdesak-desakan memotret. Pejabat lain yang biasa ikut kerja bakti sungguhan, bahkan ikut mengevakuasi mayat-mayat korban tsunami, sepi dari liputan. Mengembalikan gitar ke KPK, heboh bukan main, mengembalikan mobil dan uang miliaran, sepi-sepi saja. Blusukan, merakyat, sederhana, menjadi buah bibir, dipuja-puja media. Mengapa ada saja kebaikannya yang diblowup besar-besaran?
Jangan remehkan keganjilan meski tak seberapa, bisa jadi ada sesuatu yang besar dibaliknya. Apa yang tak wajar, kemungkinan ada problem di baliknya, ada yang tersembunyi. Tampil memukau, mungkin untuk memperdaya.
Tak mesti curiga, tapi waspada. Tak dibuat-buat, tapi apa adanya. Wajar bukan rekayasa. Daripada hebat, tapi akting.
Kita hanya manusia biasa. Banyak hal yang tidak kita ketahui dalam kehidupan. Kita bisa terkecoh, kita bisa saja salah dalam menganalisa, bisa keliru dalam mengambil keputusan. Tetapi kita punya hati, agar menggunakan akal sehat semaksimal mungkin. Tak menerima begitu saja, cermati proses di dapurnya. Berorientasi pada substansi, bukan kemasan belaka.
Meski bukan yang terbaik, tetapi yang paling tepat. Tak fantastis, tapi realistis. Dengan apa adanya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Berpikir ulang akan risiko. Karena Jokowi itu terlalu baik, membuat saya ragu memilih produk tersebut. (dakwatuna)

Jumat, 06 Juni 2014

Futur di Bawah Futur

“Mereka yang menjadi KPPS atau saksi, banyak meninggalkan jamaah. Sudah menunda-nunda waktunya, shalatnya pasti terburu-buru. Pasti juga banyak melalaikan tilawah dan zikirnya.”

Semestinya kita lebih merasakannya, sebelum kritik itu datang, karena kita sendiri mengalaminya. Atau mungkin perih itu malah sudah tak terasa lagi, ruh ini telah lumpuh, terlalu banyak luka yang tergores.

Jujur dengan sesungguhnya, sebagian besar dari kita menjalani semua ini bukan berorientasi pada materi dan kekuasaan. Jika di antara kita ada yang memiliki niat berbeda, itu persoalan lain. Menjalani kepayahan ini bukan untuk tujuan dunia. Tetapi kian hari makin banyak yang tersita oleh hiruk pikuk aktifitas politik ini, memporak-porandakan amal-amal kita. Bukan hanya ibadah kita yang berantakan, makin banyak rambu-rambu syar’i yang (terpaksa) diabaikan, makin terbiasa melangkah di wilayah abu-abu.

Mungkinkah kita salah jalan? Mungkin lebih baik diri ini pergi. Meninggalkan jalan sulit yang harus berpayah-payah menyusurinya. Melepaskan kesulitan ini untuk mengejar kesalihan pribadi. Uzlah, sepertinya lebih mudah untuk ditempuh. Tak perlu lagi direpotkan mereka, tak usah pedulikan mereka. Agar dapat mengkonsentrasikan diri dengan ibadah sepuasnya, tanpa banyak terganggu, menikmati kesendirian bersama-Nya.

Sulit untuk menepis kekhawatiran jika diri ini akan terjerumus bersama mereka. Tetapi sama besarnya atas kekhawatiran jika urusan umat ini diserahkan kepada mereka yang tak berakhlak, tak memiliki  komitmen terhadap dakwah ini. Jika orang baik-baik tak sudi menempuh kotornya jalan ini, hanyalah mereka yang bermental makelar dan para preman yang mau menempuhnya, leluasa menentukan kebijakan publik. Berharap sedikit saja mewarnainya dengan sentuhan dakwah.

Teguh bertahan di jalan ini betapapun sulitnya, di antara hingar bingar godaan yang menghujam, meski dari keteguhan ini, banyak hal dari kami yang luluh lantak. Tetapi untuk membiarkan umat ini dalam kepayahan, meninggalkan mereka tertatih-tatih, rasanya terlalu berat meski juga dibayangi kekhawatiran jika diri ini akan terjerumus bersama mereka. Cinta kami kepada umat ini, berbuah keinginan untuk mengayomi dan menuntun mereka, meski kami sendiri juga tertatih. Keinginan menolong mereka, memaksa kami rela menjalaninya.

Dan harus menjalaninya. Agama ini hidup dari dakwah dan perjuangan. Jangan harap untuk bersenang-senang dan menikmatinya sendiri, tantangan itu tak kan membiarkan begitu saja. Regenerasi agar ia tetap kokoh terjaga, dan terus bisa dinikmati. Mungkin kita sanggup menjalani agama ini meski harus memakan akar-akar pohon, tetapi terpikir juga mereka yang masih butuh untuk dituntun dan dipapah.

Rasulullah dan para sahabat pernah bangun kesiangan dan kehabisan waktu shalatnya ketika ditimpa kepayahan dalam perang. Tetapi hiruk pikuk politik ini sungguh berbeda, jika ia terus menjadi justifikasi atas kemalasan demi kemalasan ini, mungkin akan menghanyutkan keteguhan ini dari sisi yang lain, tanpa terasa. Bentuk lain dari futur, bukan karena pergi dari jalan ini, tetapi karena bertahan teguh di atasnya. Harus melewati satu tantangan menuju tantangan berikutnya, tergerus di jalan perjuangan.

Malu untuk berharap mendulang izzah dari kubangan kehinaan, tetapi di balik ketidakberdayaan ini ada niat mulia yang terselip, sungguh ia tetap suci. Menjaga iman dalam suasana tidak kondusif. Agar Dia memberi pertolongan, tetapi agar kita juga berusaha. (pksnongsa/dakwatuna)

Hilangnya Sebuah Peluang, Dunia yang Cair


Menghadapi dunia politik itu tak seperti menghadapi fenomena alam. Antisipasi yang diperlukan berbeda. Bukan menunggu tapi memulai. Bukan mengantisipasi tapi mendesain permainan. Ketepatan memprediksi sesuatu yang tak terbayangkan sebelumnya.

Pelajaran berharga itu didapat di tempat kami ketika kehilangan sebuah kursi. Pada Pemilu 2009, persaingan ketat terjadi pada tingkat DPRD Kabupaten, persaingan untuk mendapatkan kursi DPR RI agak longgar. Dalam lingkup wilayah yang sempit, politik uang yang terjadi luar biasa, hilanglah kursi DPRD Kabupaten yang dimiliki sebelumnya.

Mempersiapkan Pemilu 2014, belajar dari Pemilu sebelumnya, energi lebih difokuskan tingkat Kabupaten. Ternyata arah angin berubah. Persaingan untuk memperebutkan kursi DPR pusat tak kalah habis-habisan. Meski kursi DPRD II didapat, kursi DPR RI yang justru hilang. Resiko dari ketidaksiapan mengantisipasi.

Dari sinilah sehingga secara umum perolehan kursi PKS untuk DPRD II mengalami peningkatan, tetapi kursi DPR RI mengalami penurunan. Berbeda dengan era sebelumnya, keberadaan UU Pemerintahan Desa membuat nilai prestisius DPRD II bergeser ke DPR Pusat.

Menjadi pembelajaran menghadapi Pilpres. Pada pilpres 2009 lalu, politik uang tidak banyak bicara, pencitraan lebih dominan. Pola seperti apa yang akan terjadi pada Pilpres 2014? Yang pasti tidak ada yang mau kalah. Jika diperhitungkan merasa akan kalah secara fair, mungkin akan menggunakan cara-cara curang.

Jika pencitraan tak lagi cukup, mungkin akan berpikir tentang politik uang atau apalah. Apakah kita sudah siap mengantisipasinya? Mendokumentasikan dengan baik atau bersiaga pada saat-saat krusial. Yang pasti membutuhkan kewaspadaan ekstra.

Apa yang imposible, justru dipandang pihak lain sebagai peluang. Merasa berada pada aman atau memiliki peluang besar, seringkali menimbulkan kelengahan. (pksnongsa)

Minggu, 01 Juni 2014

Ketulusan Amin Rais pada Gus Dur dan Cinta Buta Muhammadiyah

Lebih mudah mengingat kesalahan seseorang daripada kebaikan yang ia perbuat. Dikhianati seorang sahabat sebenarnya tak lebih perih daripada mengkhianatinya, tetapi ia lebih mudah dirasakan. Kerinduan akan kepaduan terhalang oleh tebalnya ego dan ambisi. Tujuan itu sebenarnya sama, tetapi persepsi yang terbentuk seringkali bertolak belakang.

Bulan madu NU dan Muhammadiyah itu teramat singkat. Pasca terpilihnya Presiden Gus Dur, pengajian bersama NU-Muhammadiyah diadakan di berbagai tempat. Berharap sebagai obat untuk menyembuhkan luka yang telah sekian lama tergores, panas dingin hubungan antara NU dan Muhammadiyah. Momen untuk merajut sebuah kepaduan itu lagi-lagi harus sirna.

Jika seorang Amin Rais ingin mengkhianati Gus Dur sejak awal, kesempatan itu sangat terbuka pada malam sebelum pemilihan presiden dilangsungkan. Semua tokoh yang berkumpul di rumah BJ Habibi sepakat mendaulatnya menjadi calon presiden untuk disandingkan dengan Megawati esoknya. Di antara kebimbangan yang amat, ia sudah terlanjur tulus kepada Gus Dur. Ketulusan yang sulit untuk tak disesali di kemudian hari, kesempatan yang tak datang lagi untuk kedua kalinya.

Dalam keterpurukan yang dialami PAN, Gus Dur begitu mudah meyakinkan Amin Rais untuk mendukungnya menjadi capres alternatif, menggalang kekuatan Poros Tengah, hingga mengantarkannya menuju kursi presiden. Pengorbanan yang tanpa prasangka, untuk dunia yang penuh tipu muslihat, antara menjadi pecundang atau dipecundangi. Bukan hanya persoalan suatu ketulusan yang dikhianati, tetapi sebuah kebodohan yang dipecundangi.

Begitu Gus Dur menjadi presiden, posisi-posisi Muhammadiyah dihabisi, Muhammadiyah tersingkir dengan mudah di Depag, terjadi NU-isasi di IAIN-IAIN. Kekecewaan yang ditimbulkannya teramat buta, baru saja ia berkorban terlalu besar untuk Gus Dur.

Sekian lama NU harus menerima diskriminasi. Menjadi Kepala KUA saja sulit, apalagi menjadi Kakandepag. Hingga di luar birokrasi, NU yang mayoritas harus menjadi warga kelas dua di PPP. Tak sepahit diskriminasi yang diterima NU, Muhammadiyah lebih mendapat angin. Muhammadiyah lebih banyak mendapatkan jatah kue pembangunan untuk menghidupi amal usahanya. Apalagi ketika Orde Baru menjadi ijo royo-royo.

Namun semuanya tenggelam pada euforia reformasi. Semua kebaikan Orde Baru seperti sirna tak berbekas. Di bawah kemudi Amin Rais, Muhammadiyah keluar dari zona nyaman sebagai anak emas kekuasaan. Memilih meninggalkan proteksi dan fasilitas daripada harus mengekor pada penguasa. Orde Baru jatuh, tapi Muhammadiyah juga jatuh.

Seorang Amin Rais tak menginginkan Muhammadiyah menjadi tiran bagi NU. Ia menginginkan demokratisasi yang sebenarnya,  semua bisa berkompetensi secara fair, memiliki kedudukan yang sejajar dan sederajat. Tetapi semua prasangka baiknya pada NU dan Gus Dur, tak menyembuhkan luka, apalagi memadamkan dendam.

Reformasi yang ia gulirkan membuat NU bangun dari keadaannya yang mati suri, menjadi kekuatan politik dan intelektual yang diperhitungkan, pemilik hegemoni sosial keagamaan di Indonesia. Marjinalisasi yang diterima NU selama Orde Baru memang sakit, tetapi ia membuat NU menjadi besar. Mungkin tanpa marjinalisasi model pemberangusan Ya Mualim, NU sudah menjadi komunitas borjuis, kaya raya, tetapi terpisah jauh dari akar rumputnya, lenyap dari belantika sosial keagamaan di Indonesia. Sedang pada pasca reformasi, Muhammadiyah harus menerima kenyataan berada di bawah NU.

Tersapih dari kekuasaan membuat Muhammadiyah mengerti arti kerja keras. Harus berpayah-payah menghidupi amal usahanya dengan keringat sendiri. Hingga ketika kekuasaan tak ramah pada Muhammadiyah, bantuan nyaris dihentikan, justru bermunculan gedung-gedung megah di universitas-universitas milik Muhammadiyah, lebih megah daripada gedung di kampus-kampus negeri. Sulit untuk dimengerti.

Jangan menyerah untuk mempersembahkan sebuah ketulusan. Meski pada langkah-langkah yang ditempuh itu berkubang kesalahan, tetapi berarti  telah ada yang diperbuat. Nilai yang didapatkan dari perbuatan seorang hamba dengan segala keterbatasannya. Dunia memang tak memberi tempat yang baik untuk sebuah ketulusan, tetapi akhirat senantiasa terbuka menerimanya. Meski bukan ketulusan buta yang diharap, ketulusan yang disertai cara pandang cerdas.

Ketulusan Amin Rais pada Gus Dur dan NU berbuah pahit bagi Muhammadiyah, tetapi warga Muhammadiyah tak sedikit pun kehilangan cinta yang tulus terhadapnya. Bahkan ketika ia kehilangan PAN yang didirikan dengan tangannya sendiri, warga Muhammadiyah tetap menerimanya dengan tangan terbuka dan senantiasa menantikan kehadirannya. Reformasi yang ia gulirkan memang mengorbankan Muhammadiyah, untuk sebuah ikhtiar menuju Indonesia yang lebih baik, meski hingga saat ini belum tercapai.


Baca Juga: