Rabu, 01 Oktober 2014

Tak Ada Lagi Kurban di Sekolah Kami

Tak seperti biasanya, Idul Adha ini sekolah kami tak lagi mengadakan penyembelihan hewan kurban. Katanya penyembelihan kurban agar dilakukan di rumah pemotongan hewan saja, tidak boleh di lingkungan masjid apalagi di sekolah. Katanya penyembelihan kurban membuat lingkungan kotor, sadis, hingga tak layak dipertontonkan kepada anak-anak.

Padahal di seberang sana, ada kerbau-kerbau di arak pada sebuah ritual, orang-orang memperebutkan kotorannya, mereka tidak mengatakan hal itu kotor atau bodoh. Ada pula mereka yang merayakan sebuah prosesi penyaliban, kami tidak pernah mengatakan kepada mereka bahwa hal itu sadis dan tak layak dikenang.

***

Mimpi-mimpi buruk tentang kami, saudara-saudara kami, tentang kebebasan untuk menjalankan agama ini, yang suatu saat mungkin makin tak sebebas lagi bisa kami nikmati. Mimpi yang makin sering menghampiri, makin terasa dekat bersama kekhawatiran jika suatu saat benar-benar terwujud. Ruang yang tersisa untuk kami bisa menjalankan agama ini makin sempit, makin dipinggirkan, dijauhkan dari urusan masyarakat, dibatasi pada urusan pribadi, sedikit demi sedikit banyak hal dari Islam yang dinihilkan, sebuah kekhawatiran akan upaya menghapus sama sekali Islam ini dari muka bumi.

***

Mereka mengajarkan kami tentang kebebasan berkeyakinan dan kebebasan hati nurani, tetapi mereka menanam ganjalan di hati kami. Menyangkut keyakinan kami, kebebasan itu kian dipersempit. Untuk kesekian kalinya kami harus merasakan ketidakadilan dan diskriminasi atas nama penyeragaman. Mereka mengajarkan kami tentang toleransi, indahnya berdampingan dalam perbedaan, dan agar kami berlapang terhadapnya. Tetapi bagi kami, kepentingan kami, atas nama toleransi dan kebebasan itu seperti tak lagi bermakna.

Mereka mengajarkan kami tentang keragaman, menghargai suatu perbedaan, dan memelihara kearifan lokal. Tetapi menyangkut eksistensi kami, seperti tak tersisa tempat untuk berbeda. Mereka meminta kami untuk bersikap toleran, mengutamakan persatuan, menjadi rahmatan lil alamin, atau kami diberi stigma radikal, keras dan fundamentalis, tetapi mereka senantiasa berkata kasar, bahkan bersikap semaunya terhadap kami.

***

Mengenang kata-kata manis tentang kehidupan yang bebas dari diskriminasi, berdampingan dengan indah dalam perbedaan, tapi mungkin benar bila semua ini tak realistis. Kita memiliki harapan dengan sebenarnya, andai mereka merengkuh kebersamaan dengan kita dalam iman ini, yang kita yakini sepenuhnya merupakan kebenaran sesungguhnya, meski kita sadar jika kita tak bisa memaksa mereka. Jika tidak, hanya untuk sekedar mengharap agar mereka menerima keyakinan berbeda yang kita imani, menghargainya, bukannya menghadirkan mimpi-mimpi buruk.

Tatkala cita kita untuk menggapai kedamaian dalam agama ini harus terganggu oleh mimpi-mimpi buruk itu. Untuk menikmati kebahagiaan dalam Islam harus melewati rintangan dan aral yang menyakitkan. Menyadarkan kita tentang suatu hal dalam kehidupan ini, agama ini didapat tidak dengan cuma-cuma dan tidak akan dibiarkan cuma-cuma.

Kita bisa mengenal agama Islam ini, leluasa menjalankan berbagai macam ibadah dalam kehidupan, menjalankan shalat, puasa, memakai jilbab dan sebagainya. Tapi kita harus mengerti bahwa semua itu tidak diperoleh begitu saja dengan mudah, melalui usaha dan perjuangan yang berat, dan suatu saat mungkin kebebasan itu bisa lenyap, hingga kita tak bisa lagi menjalankan agama ini dengan gratis.

Generasi pendahulu kita, sejak masa para nabi dan para penerusnya harus berhadapan dengan berbagai macam rintangan. Sampainya Islam kepada kita dibayar dengan penderitaan, kesabaran dan darah, melalui perjalanan panjang perjuangan bahkan peperangan. Kita sebenarnya hanya ingin menjalankan ibadah ini dengan tenang, menikmati kedamaian dan keindahan dalam Islam. Namun sebelum semua itu terwujud, jalan ke arah itu harus terlebih dahulu melalui berbagai halangan yang menyakitkan dan rintangan-rintangan yang melelahkan, yang membutuhkan tekad, kesabaran dan pengorbanan. Berhadapan dengan kekuasaan yang zhalim yang mengerahkan segenap kekuatannya untuk menghalangi umat manusia dari jalan ini.

Mungkin kita suatu saat tak lagi leluasa bisa mengerjakan shalat, puasa, tak bisa lagi seenaknya memakai jilbab, mengaji atau mendirikan masjid. Agar mimpi buruk itu tak terjadi, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga, membangun kekuatan agar Islam ini kokoh, memiliki kekuatan menghadapi berbagai halangan yang menghadang, termasuk menggunakan kekuasaan.

“Pokoknya semata-mata hanya untuk Islam, tak usah mengaitkan dengan politik. Fokus beribadah saja, memperbanyak amal shalih, tak perlu ngurusi politik.” Dengan kekuasaan yang dimiliki, mereka akan melakukan segala upaya untuk menghalangi kita dari jalan ini. Kita membutuhkan kekuasaan untuk menopang agama ini, menjadi pelindung kita untuk menjalankannya. Islam tak bisa terpisah dengan semua aspek kehidupan, termasuk politik dan kekuasaan.

“Nyatanya mereka itu hanya menjadikan agama sebagai kedok untuk meraih kekuasaan, menumpuk kekayaan, korupsi, sama saja menjual agama.” Perjalanan untuk meraih cita yang indah, suatu ketika harus berhadapan dengan jalan kekuasaan dan politik yang kotor. Kita tak sebaik para Nabi dan orang-orang yang bersamanya, sedang mereka juga menerima berbagai tuduhan yang menyakitkan, tertimpa berbagai macam fitnah dan stigma yang amat buruk. Kita hanyalah hamba-hamba yang lemah, kita bisa terjerumus, tergoda syahwat kekuasaan, dan ini akan menjadi noda bagi agama ini. Menjadi tanggung jawab kita terhadap agama ini, menjaga kesuciannya, tak mungkin agama ini didirikan di atas pondasi yang bathil dan menghalalkan segala macam cara.

Tetapi dunia tak sesederhana itu. Ada masa-masa yang penuh fitnah dan tipu daya, upaya untuk mengkondisikan agama ini dalam persepsi buruk, memojokkannya, menampilkan Islam wajah yang kotor, korup, haus kekuasaan, terbelakang, kasar, bahkan bengis. Zaman yang terbalik, kebenaran dikondisikan sedemikian rupa sebagai kebatilan, dan sebaliknya. Orang yang amanah dihinakan, sedang orang yang khianat dimuliakan.

Tanggung jawab kita terhadap agama ini, menjaga kesuciannya, terhindar dari kekotoran dan tindakan menghalalkan segala macam cara. Tetapi sekaligus juga ada tanggung jawab kita untuk meneguhkan kewaspadaan, agar keyakinan kita terhadap Islam tak pudar oleh opini yang membangun persepsi buruk tentang Islam, bahkan sesama umat ini sendiri ikut saling menyebarkan persepsi buruk tersebut, tanpa disadari masuk dalam sebuah permainan, di antara berbagai tipu daya yang terus menerus mengecoh opini kita, dan ujung-ujungnya adalah melemahkan umat ini secara keseluruhan.

Bisa jadi kita memiliki andil pada upaya agar umat ini muak, malu, dan membenci Islam. Tantangan yang melelahkan membuat kita apatis, menyerah, bahkan mundur. Sejelek apapun wajah Islam, adalah rumah kita, tanggung jawab kita memperbaikinya. Tak mungkin mengharap orang lain akan menjaga dan memelihara Islam ini, apalagi rival-rival dakwah. Hingga ketika kita semakin lemah, pihak lain makin leluasa meneguhkan kekuasaan atas umat ini. Lahirlah berbagai kebijakan yang tak ramah terhadap umat ini. Bukan hanya menjauhkan kurban ini, bukan untuk meninggalkan Islam ini sebagian saja, tapi menghapus agama ini sepenuhnya. (pksnongsa)

Terhentinya Laju Kaderisasi Dakwah (Bagian ke-1)

Seperti menyelesaikan sebuah puzzle, pada sebuah permainan di suatu dauroh, kami dibuat melingkar berkelompok, masing-masing anggota menjulurkan tangannya ke depan. Kemudian kami diperintahkan agar saling memegang tangan dengan anggota kelompok yang lain. Setelah itu diperintahkan untuk membentuk sebuah lingkaran, dengan tanpa melepaskan pegangan yang sudah terjalin. Dengan susah payah, akhirnya lingkaran itu terbentuk juga.

Setelah itu kami diminta untuk membuat lingkaran serupa, tetapi dilakukan sambil memejamkan mata. Bedanya, kali ini dipandu dengan instruksi, tangan anggota kelompok nomor sekian dipasangkan dengan anggota nomor sekian secara urut, tidak lagi acak seperti sebelumnya. Meski dilakukan dalam kondisi mata terpejam, lingkaran bisa terbentuk juga.

Pada permainan ke dua, untuk membentuk lingkaran dalam kondisi mata terpejam, tentunya lebih sulit dilakukan daripada pada permainan pertama. Berada dalam kondisi bisa melihat, meski dilakukan secara spontan, acak dan tanpa keteraturan, tugas tetap bisa diselesaikan. Berbeda ketika harus menyelesaikannya dalam kondisi keterbatasan, mata terpejam, tanpa bisa melihat sekeliling. Tetapi arahan dari instruktur yang memandu membuat tugas bisa diselesaikan.

Tak selalu lapang, kadang dihadapkan pada kondisi sempit penuh keterbatasan. Tak selalu mudah, kadang harus melewati keadaan sulit. Pada kondisi bebas pada permainan pertama, spontanitas tanpa terarah sudah memadai untuk terselesaikannya permainan. Tetapi dalam kondisi ada keterbatasan, tidak memadai lagi jika dikerjakan tanpa terorganisir atau tanpa adanya arahan sistematis.

Demikian pula lingkaran halaqah ini, pada awalnya begitu mudah untuk berkembang, terbentuk halaqah-halaqah baru, mendapatkan teman-teman baru. Sampai kemudian merasakan kondisi menjadi stagnan, jangankan untuk terus menambah dan berkembang, untuk mempertahankan yang sudah ada saja terasa berat, ada saja problematikanya.

Menempuh metode dan cara seperti dulu, sepertinya sudah tumpul tidak memadai. Semakin terasa lelah menempuh perjalanan, beban semakin terasa. Merasakan kondisi yang tak seperti dulu, tantangan yang dihadapi telah berbeda. Sebaliknya, kekuatan tak lagi utuh sebagaimana sedia kala.

Perjalanan kian jauh, saat ada tuntutan untuk berjalan lebih cepat. Sebaliknya, energi kian melemah, kian renta, dan lelah. Saat inilah diperlukannya suatu siasat yang berbeda. Fisik akan menua dan melemah, tetapi jiwa bisa tetap terjaga. Menyiasati keterbatasan, membutuhkan strategi yang lebih. Menyiasati kelelahan dalam berjalan, membutuhkan kendaraan untuk menopang perjalanan.

Perjalanan halaqah ini, makin dewasa, makin besar pula tuntutan dan tanggung jawabnya. Tak bisa lagi hanya berkumpul dan bersenang-senang seperti masa anak-anak sedang bermain. Beranjak dewasa, bersama meningkatnya tuntutan untuk mandiri, bahkan saatnya harus menanggung beban orang lain, menghadapi tingkatan ujian yang lebih tinggi.

Bukan hanya untuk tumbuh dan tumbuh, tibalah waktunya untuk berhadapan dengan dunia dan tantangannya. Bukan hanya untuk melenggang, tetapi mesti jua menyibak tantangannya. Masa persiapan telah berlalu, tiba saatnya menjalani pertarungan.

Mewujudkan agenda-agenda dakwah, pasti akan bersinggungan dengan problematika dunia yang tak sederhana. Tak lagi bisa mengandalkan spontanitas, tak hanya asal-asalan. Dibutuhkan langkah yang terarah, terukur dan profesional. Menghadapi keterbatasan diperlukan siasat, membutuhkan terobosan yang sesuai dengan tantangan dan bahkan ketika harus menyiasati kemustahilan.

Kerasnya dunia dengan semua intrik dan tipu dayanya, menyisihkan orang-orang yang lalai, sekalipun kekuatan mereka besar, hanya menjadi bulan-bulanan tak berdaya, terpedaya, terpecundangi, tanpa bisa berbuat apa.

Sebuah episode yang menuntut adanya usaha untuk merajut suatu upaya yang sebaik-baiknya, dengan upaya untuk meraih pertolongan Allah.


Selasa, 30 September 2014

Seorang Anak PKI yang Shalih

Sebenarnya malam belum terlalu larut, tetapi kabut tipis yang menyelimuti pinggiran kampung membuat suasana tampak lebih gelap. Seorang anak kecil berjalan tergopoh-gopoh menuju sebuah rumah kayu di pinggir ladang.

“Assalamualaikum, Mbok bukakan pintu.”

“Iya sebentar.”

Seorang perempuan paruh baya membuka pintu. Di tangannya masih membawa alu yang biasa dipakai untuk menumbuk jagung.

“Darimana le, sampai malam begini belum pulang? Simbok nunggu-nunggu kamu dari tadi, kalau-kalau hujan turun. Kamu ke tempat Kyai Badrun lagi?”

“Iya Mbok, aku ikut mengaji, nggak apa-apa ya? Boleh ya Mbok?”

“Boleh, tapi jangan terlalu malam pulangnya. Sebenarnya Kyai Badrun itu paklikmu juga, Cuma bapakmu saja yang tidak mengijinkan kamu ke sana.”

“Oh ya Mbok, kapan ya bapak pulang? Aku sudah kangen sama bapak.”

Perempuan itu terdiam. Di wajahnya seolah menyiratkan sesuatu yang dalam. Tangannya terus mengayunkan alu untuk menumbuk, tetapi seperti sekenanya saja.

“Apa besok bapak akan pulang Mbok?”

Terdiam sesaat, lalu dengan sedikit senyuman ia bicara, “Kalau kamu sudah tidak nakal lagi, masak tiap hari bapak harus marah-marahi kamu.”

“Habis, bapak ngelarang aku ngaji. Padahal aku ingin banget ikut ngaji. Kata Pak Kyai, bacaan Fatihahku paling bagus lho.”

Anak itu melanjutkan, “Mbok, sebelum bapak pergi, bapak sudah tidak galak seperti dulu. Malah aku sering mendapati bapak sering terdiam, seperti mau nangis. Kenapa ya Mbok?”

“Sudah, tidur sana! Sudah malam.”

“Begini Mbok, waktu itu aku tanya sama bapak, apa aku boleh ngaji lagi. Bapak hanya diam saja, aneh, sedih banget. Sebelum menjawab, lalu datang Kyai Badrun bersama pak tentara-tentara itu, membawa bapak pergi. Aku dicium dan dipeluk sama bapak, sepertinya bapak sayang banget.”

Lalu anak itu menyambangi ibunya, ia memegang tangannya, seolah ingin mengatakan sesuatu.

“Aku tanya sama Pak Kyai, bapak ada di mana? Katanya kalau aku sudah sampai Juz Ama, nanti mau dikasih tahu.”

Butir-butir air mata membasahi wajah perempuan itu. Dipeluknya anak kecil itu.

***

“Bawa apa le?”

“Ini, dikasih Pak Kyai. Peci dan sarung.”

“Bilang terima kasih ya sama Pak Kyai.”

“Bilang gimana Mbok, setiap aku tanya bapak ada di mana, Pak Kyai tidak juga menjawab. Padahal dulu sudah janji kalau aku sampai Juz Amma, akan dikasih tahu.”

“Memangnya apa yang dikatakan Pak kyai?”

“Pokoknya kamu mengaji yang rajin, doakan bapakmu. Kalau kamu pintar, lebih pintar dari teman-temanmu, biar mereka malu mengejekmu lagi.”

“Memangnya kamu masih sering diejek sama teman-temanmu?”

“Aku sering dikatakan anak PKI, belum sunat, macam-macam. Kapan Mbok aku disunat?”

“Kalau Mbok sudah punya uang, untuk makan kamu dan adik-adikmu saja susah. Bapakmu sudah tidak ada, simbok kan kerja sendirian.”

***

“Drun, Sudrun! Rajin amat kau shalat, mengaji! Kau dapat apa dari Tuhan?”

“Insyaf Kang, kalau sekarang engkau belum merasakan kehadiran Tuhan, barangkali suatu saat engkau membutuhkan-Nya,” jawab Kyai Badrun.

“Apa kamu tidak tahu, Quran saja bilang fawailul lil mushalin, orang shalat itu bakal celaka.”

“Memangnya Kang Suhud pernah baca quran?”

“Aku memang tidak bisa baca Quran, tapi aku tahu semua isinya, lebih tahu dari kamu.”

Sambil membawa anak kecil itu pergi, lelaki itu berbicara dengan lantang pada semua yang ada di tempat, “Memangnya di mana Tuhan? Di mana Tuhan yang kamu sebut-sebut itu ketika orang-orang kecil diperlakukan sewenang-wenang oleh tuan tanah, ditindas para penguasa? Kita sendiri yang harus mengubah nasib. Kaum buruh, tani, kaum Proletar harus melawan, bukan dengan komat-kamit berdoa.”

“Ingat siapa yang menciptakan kita Kang, memberi rezeki, dan setelah hidup ini berakhir kita akan ke mana?”

“Pokoknya kamu jangan ngajak-ngajak anak saya ngaji lagi. Awas besok kalau sudah keterjang roda revolusi, Drun, kamu tidak bakal menempati lagi rumahmu lagi. Masih mending, kalau bukan kerabatku kamu sudah tak undang ke MMC.”

***

“Tumben sudah pulang, kamu tidak ngaji? Kamu diejek lagi sama teman-temanmu?”

“Enggak Mbok, akhir-akhir ini teman-teman sudah pada baikan, tidak seperti dulu.”

“Memangnya ada apa?”

“Tadi aku berangkat lebih awal, mau tanya Pak Kyai tentang bapak.”

“Sudahlah le, kamu jangan ngejar-ngejar terus. Apa yang dikatakan Pak Kyai? ”

“Pak Kyai hanya diam Mbok. Seperti ada yang dipikirkan. Pak Kyai hanya berkata, maafkan paklik le, paklik dan bapakmu hanya orang-orang kecil yang tak tahu apa-apa. Kamu belajar yang baik ya, agar kamu bisa menolong orang-orang lemah.”

“Terus mengapa kamu pulang, tidak ngaji dulu?”

“Kemudian datang Pak Lurah bersama pak tentara yang seperti yang dulu membawa bapak, aku ingat Mbok, seragamnya sama. Baru saja aku ingin tanya pada mereka tentang bapak, tapi tiba-tiba Pak Lurah langsung teriak-teriak memarahi Pak Kyai. Katanya, awas Drun, kalau besok masih ada yang nyoblos gambar jagad, talinya tak buat njiret kamu! Lalu mereka bentak-bentak Pak Kyai.”

Kemudian anak itu melanjutkan, “Mbok tidak usah kerja di Pak Lurah lagi ya, Pak Lurah itu orang jahat.”

“Kita ini orang susah le, beruntung kita masih boleh kerja sama Pak Lurah. Bapakmu sudah tiada, tanah garapan kita juga sudah diambil semua. Untuk makan kamu sama adik-adikmu, mau nyari di mana?”

“Memangnya kenapa dulu Kyai Badrun ngajak-ngajak bapak sama pak tentara. Apa Kyai Badrun itu jahat sama bapak? Mbok, apa pak tentara-tentara itu orang jahat semua?”

“Le, barangkali kalau semua ini tidak terjadi, sampai sekarang bapakmu mungkin belum mengenal Gusti Allah. Kamu juga tidak bisa ngaji seperti sekarang. Semua ini menjadi jalan bagi bapakmu untuk menemukan Sang Pencipta kita. Kesedihan kamu dan simbok semoga diganti dengan pertemuan yang membahagiakan di surga kelak.”


Senin, 29 September 2014

Mereka Mengambil Agama Kita di Saat Kita Meninggalkannya

Kisah berikut saya dapatkan dari Facebook Komunitas Pengusaha Muslim Indonesia.  Sebuah contoh kecil, tapi seharusnya bisa lebih jauh lagi menggugah kesadaran dalam kita sebagai seorang muslim, kepekaan kita, dan mengevaluasi kekurangan kita dalam mengamalkan agama ini.

***

Jerman adalah sebuah negara industri terkemuka. Di negara seperti ini, banyak orang yang mengira warganya hidup berfoya-foya.

Ketika saya tiba di Hamburg, saya bersama rekan-rekan masuk ke restoran. Kami melihat banyak meja kosong. Ada satu meja di mana sepasang anak muda sedang makan. Hanya ada dua piring makanan dan dua kaleng minuman di meja mereka.

Saya bertanya dalam hati, apakah hidangan yang begitu simple itu dapat disebut romantis, dan apakah si gadis akan meninggalkan si pemuda kikir tersebut?

Kemudian ada lagi beberapa wanita tua di meja lainnya. Ketika makanan dihidangkan, pelayan membagi makanan tersebut dan mereka menghabiskan tiap butir makanan yang ada di piring mereka.

Karena kami lapar, rekan kami pesan lebih banyak makanan. Saat selesai, tersisa kira-kira sepertiganya yang tidak dapat kami habiskan di meja. Begitu kami hendak meninggalkan restoran, wanita tua yang dari meja sebelah berbicara pada kami dalam bahasa Inggris, kami dan teman-teman paham bahwa mereka tidak senang kami memubazirkan makanan.

Lalu temanku berkata kepada wanita tua itu: "Kami yang bayar kok, bukan urusan kalian berapa banyak makanan yang tersisa."

Wanita-wanita itu meradang. Salah satunya segera mengeluarkan HP dan menelpon seseorang. Sebentar kemudian seorang lelaki berseragam Sekuritas Sosial pun tiba. Setelah mendengar tentang sumber masalah pertengkaran, ia menerbitkan surat denda Euro 50 (kira-kira 750.000 Rupiah) kepada  kami.

Kami semua terrdiam...

Petugas berseragam tersebut berkata dengan suara yang galak: “Pesan hanya yang sanggup anda makan, uang itu milikmu tapi sumber daya alam ini milik bersama. Ada banyak orang lain di dunia yang kekurangan. Kalian tidak punya alasan untuk mensia-siakan sumber daya alam tersebut.”

Pola pikir dari masyarakat di negara makmur tersebut membuat kami semua malu, sungguh kami harus merenungkan hal ini. Kita ini dari negara yang tidak begitu makmur. Untuk gengsi, kita sering memesan banyak dan sering berlebihan saat menjamu orang.

Pelajaran ini mengajari kita untuk serius mengubah kebiasaan buruk kita.

“Money is yours but resources belong to the society.”

Jadi kawan-kawan, mari mulai mengurangi pemubaziran karena, “Uang memang milikmu, tapi sumber daya alam itu milik bersama.”

Orang non-muslim maju karena meninggalkan agamanya, mengambil norma Islam. Kaum muslimin mundur karena meninggalkan agamanya.

***

Sering kita menjumpai buah-buah kebaikan dalam kehidupan, tentang empati, kepedulian pada sesama dan alam sekitar, tentang kedisiplinan, keteraturan, etos kerja dan semangat hidup, juga tentang kejujuran, tanggung jawab dan amanah, justru terdapat pada mereka yang belum mengenal Islam.

Buah-buah kebaikan yang semestinya kita sebagai umat Islam lebih dulu melaksanakannya, antara keyakinan kita akan kesempurnaan Islam, ketinggian dan kemuliaannya dengan realitas bahwa kita belum mampu mengaplikasikannya secara sempurna dalam kehidupan.

Dengan Islam, dengan kesadaran akan muraqabah dan hari pembalasan, semestinya kita lebih dahulu memiliki kesadaran untuk melakukan hal-hal semacam itu. Kesadaran menjauhi sikap mubazir, menebar kemanfaatan bagi kehidupan, seperti pada perilaku tidak membuang sampah sembarangan, memiliki mental hemat energi, menjaga sungai-sungai di sekitar kita, menjauhi contek-menyontek, atau menghormati hak-hak orang lain, tetapi realitasnya berbeda.

Antara kesempurnaan Islam dan ketidaksempurnaan kita, seringkali ritual yang kita jalani belum membekas ke dalam perilaku kita sehari-hari, keshalihan kita secara ritual belum berdampak pada kesadaran sosial kita, semestinya harus membuat kita mau berbenah. Mengapa dengan Islam perilaku kita yang tidak baik belum terkikis, seperti kita belum menjadi orang yang jujur, memiliki kepedulian dan kepekaan.

Seharusnya menjadi harapan, jika Islam kita menjadi sebagaimana Islamnya Rasulullah dan para sahabat, berubah secara drastis dari kejahiliyahan menjadi manusia-manusia beradab, menjadi pribadi-pribadi yang menakjubkan. Islam menjadi keyakinan yang membekas, kekuatan dahsyat yang menumbuhkan motivasi, menemukan kesadaran baru, memberi corak yang khas, sehingga benar-benar terwujud menjadi umat terbaik.

Bagi kita, setidak-tidaknya berupaya menumbuhkan kepahaman tentang agama ini secara menyeluruh, hal-hal kecilnya yang sepele sampai perkara-perkara yang besar bagi kehidupan. mengikis sedikit demi sedikit kekurangan yang dimiliki, memperbaiki secara berangsur-angsur dari aspek-aspek yang semestinya kita mampu. Agar kita memiliki andil dalam menampilkan Islam ini dalam wajah yang sebaik-baiknya, mewujudkannya sebagai peradaban yang menakjubkan, dan Islam menyapa pada dunia dengan kebaikannya yang elok.

Sehingga bagi mereka yang belum mengenal Islam, menjumpainya dalam kesan yang luar biasa, menemukan hikmah dan kebaikannya sebagaimana menemukan mutiara kebenaran yang hakiki. Agar mereka menerima Islam, menyempurnakan kebaikan mereka baik aspek hablumminallah maupun aspek hablumminannas, menjadi kebaikan sempurna di dunia dan akhirat.


Selasa, 23 September 2014

Fase Berbeda Perjalanan Tarbiyah

Ketika sahabat yang menemani perjuangan ini nyaris tak lagi bertambah, malah satu per satu berguguran pergi. Memandangi hengkangnya kawan-kawan terbaik, meninggalkan jalan ini yang telah sekian lama bersama-sama dilalui dalam suka dan duka.

Dari kesendirian, menjadi lautan manusia, berbondong-bondong, menyisakan kenangan indah.

Keterbatasan tak menyurutkan tekad. Kekurangan tak membatasi semangat. Kecilnya raga tak melemahkan jiwa. Dari keadaan tak punya apa-apa, terasing, tak dikenal, berada dalam kondisi serba keterbatasan, tapi terus tumbuh dan tumbuh, menakjubkan, mewujudkan satu per satu mimpi yang dicitakan.

Perjuangan ini, pasang surutnya, menghempaskan sebagian kita, terjatuh dan tenggelam.

Dengan kebesaran raga, berbagai sarana yang dimiliki, bahkan kekuasaan, tetapi makin sarat dengan beban, lelah, derap langkahnya kian senyap, semakin sepi.

Berharap membangkitkan kembali azam, mendapatkan kembali izah, bangkit, tetapi raga ini tak lagi berdaya. Tak mampu lagi mengobarkan semangat yang dulu pernah menyala-nyala. Terjebak dalam berbagai problematikanya, terbelenggu dalam pusarannya. Apa yang pernah dicapai, hanya untuk mendapatkannya kembali, yang dulu mampu diraih, tapi situasinya memang telah berbeda, begitu terasa.

Mengenang kebesaran, tapi tak berdaya. Berharap masa itu terulang kembali, masa-masa indah perjuangan ini, kebahagiaan bersamanya. Meski waktu telah berlalu, tak mungkin kembali, tapi bukankah waktu masih terus berlanjut?

Bersama asa yang tersisa, menjaga agar cita ini tak lepas, atau ia tak luruh, dan mungkin juga harus karam bersama cita ini, riuh kejayaan yang berangsur-angsur sepi. Akankah menjadi ajal bagi sebuah gerakan dakwah?

***

Seperti fase-fase yang dialami sebuah pohon. Bukan untuk terus tumbuh, tapi ada saatnya ia harus mempersiapkan buahnya. Saat harus merelakan kesuburannya memudar, berguguran daunnya, menghabiskan cadangan makanan yang disimpannya, agar pada saatnya, sebaik-baik buah yang dihasilkan.

Bukan merindukan masa lalu yang indah, tetapi menikmati tantangan ini, untuk merangkai masa depan, ketika fase yang dijalani pasti berbeda dari yang telah dialami sebelumnya. Agar penat dan letih ini menjadi indah pada suatu saat nanti.

Bukan hanya tumbuh dan tumbuh, bukan menikmati dan memperindah, ada saat-saat harus belepotan, berkubang tugas-tugas berat.

Beban ini, kesulitan ini, kesemuanya adalah ujian terbaik untuk kita, yang sesuai dengan tingkatan kita. Bukan saatnya menikmati masa-masa indah ditimang dan disuapi, saat-saat menyenangkan bermain-main dan dimanja, tetapi saat-saat harus memikul beban dan menanggung tanggung jawab yang berat.

Sebuah ujian, terasa berat ketika dihadapi, pasti. Setelah ia terlampaui ia akan terasa manis. Dan ujian selanjutnya yang dihadapi akan lebih sulit. Kemungkinan itu tetap menanti, gagal atau berhasil melampauinya. Menjadi sejarah atau tenggelam, hanya sedikit yang sampai pada puncak tertinggi. Jalinan cerita antara keteguhan seorang hamba dan pertolongan Allah.


Wahai Umat Islam, Tolonglah PPP

Silih berganti persoalan menimpa umat ini. Ironisnya, masing-masing elemen umat ini cenderung menghadapi sendiri-sendiri persoalan yang menimpanya. Seharusnya kita bisa memandang persoalan tersebut dalam perspektif yang lebih luas, sebagai upaya sistematis terhadap umat ini secara keseluruhan, sehingga harus dihadapi secara bersama-sama, dalam perspektif umat sebagai sebuah kesatuan.

Tanpa terasa sejengkal demi sejengkal aset umat ini terlepas, baik aset politik, ekonomi, sosial dan sebagainya, dan kita mengabaikannya. Tanpa disadari kita sudah banyak kehilangan aset-aset tersebut, dan ketika umat ini banyak kehilangan potensi kekuatan yang dimilikinya, posisinya dalam kancah percaturan di negeri ini kian melemah dalam segala aspeknya.

Sejengkal demi sejengkal, tanah kita yang kotor sekalipun, adalah aset kita sekaligus tanggung jawab kita mempertahankannya dan sekaligus juga tanggung jawab kita untuk memperbaikinya. Dari sejengkal-demi sejengkal yang lepas itu menjadi jalan bagi rubuhnya benteng-benteng umat.

Upaya melemahkan umat, mempersepsikan Islam buruk di mata publik, belitan problematika dalam berbagai bentuknya, pusaran kasus, konflik internal dan sebagainya, seharusnya kita sikapi secara dewasa, tidak parsial. Bukannya kita sendiri malah terbawa arus, begitu mudah mengikuti keinginan dan agenda dari luar, terseret opini media, yang ujungnya membantu memuluskan agenda rival-rival dakwah tanpa sadar.

Persoalan yang menimpa partai-partai Islam seperti PPP saat ini, kasus impor daging sapi yang pernah menimpa PKS, bahkan lebih jauh lagi, persoalan yang juga menimpa orang-orang yang berlatar belakang Islamis di partai-partai nasionalis sekalipun seperti Akbar Tanjung dalam kasus buloggate, Anas Urbaningrum, dan sebagainya, semestinya harus kita cermati jika di balik itu ada agenda sistematis yang sebenarnya menyasar pelemahan umat secara keseluruhan, bukannya sebagian dari kita malah ikut andil dalam skenario yang ingin melemahkan umat ini sendiri.

Jangan sampai sebagian elemen umat bermaksud mengambil keuntungan dari permasalahan yang menimpa elemen umat yang lain, sehingga membuka ruang bagi divide et impera model baru. Di antara umat ini memang terkadang saling bersaing, berseteru, bahkan memiliki banyak perbedaan persepsi. Tapi adakalanya kita akan saling membutuhkan, ketika berhadapan dengan agenda sekularisme dan liberalisme, persoalan regulasi nikah adalah salah satu contohnya. Semestinya kita menyikapi permasalahan yang terjadi secara proporsional, agar tidak menambah beban bagi umat. Karena tak mungkin urusan umat ini diserahkan pada orang lain, apalagi kepada rival-rival dakwah.

Melemahnya kekuatan umat, baik secara politik maupun aspek lain, kemudharatannya akan kembali pada umat ini sendiri. Sebelum terlambat, kita berada dalam keadaan lemah tak berdaya. Semua persoalan umat, termasuk yang kini sedang menimpa PPP sebagai salah satu aset besarnya, semestinya mengundang keprihatinan bagi segenap umat Islam, menumbuhkan kepedulian, memandang umat ini sebagai satu kesatuan tubuh, mengutamakan kepentingan umat secara keseluruhan. (suara-islam)

Rabu, 03 September 2014

Agama Fitrah, Ahok dan Idul Fitri

Madrasah Ramadan telah menghampiri kita beberapa waktu lalu. Seharusnya banyak aspek positif dari puasa dan Ramadan yang membekas dalam kehidupan kita. Seharusnya saat-saat ini kita sedang menikmati buah-buah Ramadan, merasakan kebaikannya dalam kehidupan, tak hilang begitu saja bersama kepergiannya.

Tetapi benarkah demikian? Secara jujur memang bisa dikatakan belum sesuai harapan. Masjid-masjid yang kembali sepi, makin jauhnya kita dari Alquran serta makin malasnya kita melakukan qiyamul lail menyisakan pertanyaan tentang apa kesalahan kita dalam melewati Ramadan tersebut.

Teringat beberapa tahun silam, dan hal seperti ini sepertinya masih terus terulang. Dalam sebuah acara kesehatan di televisi, pada hari-hari sehabis Lebaran, rata-rata muncul keluhan yang hampir sama. Jika puasa Ramadan membuat kondisi kesehatan mereka membaik, membaiknya tekanan darah, kolesterol, kadar gula darah, berbagai gangguan pencernaan, rasanya badan menjadi lebih sehat. Tetapi baru beberapa hari Lebaran keadaan malah menjadi berantakan. Bahkan biasanya hari-hari sehabis Lebaran begitu banyak saudara dan teman kita yang jatuh sakit, membuat rumah sakit penuh sesak, kelelahan oleh hiruk pikuk dalam merayakan Idul Fitri.

Bukankah seharusnya puasa itu menyehatkan? Dampak baik puasa, tak hanya pada aspek rohani saja, tetapi juga pada aspek jasmani, dan memang diakui dari sisi medis bahwa keduanya saling terkait. Dan ketika Lebaran memporak-porandakan itu semua, tentunya ada hal-hal yang salah dan perlu kita perbaiki.

Menarik untuk mencermati gagasan Plt. Gubernur DKI Jakarta Ahok tentang penghapusan cuti bersama Lebaran, sekaligus untuk menyikapinya dengan bijak. Agar tak tergesa-gesa memandang dari perspektif negatif, sebagai kebijakan yang tak akomodatif terhadap umat dan tradisi yang telah berlaku, tetapi juga merespon dari perspektif positif, sebuah kritik untuk perbaikan bagi umat.

Melalui akun twitternya, beberapa waktu lalu Ahok mewacanakan menghapus cuti bersama dilihat dari banyaknya ekses negatif akibat mudik Lebaran. Dalam kicauannya Ahok membeberkan fakta, “Perjalanan mudik Lebaran tahun 2014 merenggut 515 Jiwa, Jumlah yang menderita luka 3.616 orang. Korban tewas dan cedera sebanyak itu akumulasi dari 2.003 kasus kecelakaan lalu lintas. Ini adalah tragedi kemanusiaan, tidak boleh dibiarkan berulang-ulang, Setiap merayakan Lebaran selalu saja terjadi kematian konyol. Lebih-lebih mencapai ratusan orang, Mudik Lebaran 2013 menelan korban 686 orang tewas dan 1.120 orang luka parah. Jumlah yang meregang nyawa tahun 2012 sebanyak 757 orang dan 1.222 luka berat. Korban belum termasuk kerugian materi mulai dari akibat pemborosan bahan bakar minyak sampai dengan lenyap akibat disikat penjahat. Hanya karena demi tradisi silaturahmi di kampung halaman, sebagian dari kita kehilangan akal sehat.”

Dari hal tersebut ia menilai, “Menurut hemat kita, tragedi harus distop, Khusus bagi warga Ibukota Jakarta agar memilih langkah cerdas. Rindu untuk bermaaf-maafan dengan orang-tua atau famili di kampung halaman nun jauh disana tetap bisa dilakukan. Banyak pilihan yang dapat ditempuh, kecanggihan teknologi telepon genggam dan layanan internet adalah solusi yang murah-meriah. Belum juga puas? Pulang kampung menunggu sampai pelayanan kereta api, Bus antarkota-antarprovinsi atau kapal laut normal. Tarifnya murah, tidak rebutan kursi, keamanan-kenyamanan perjalanan terjamin baik, masa depan pun masih tetap milik kita. Peran ulama sebagai agen perubahan sangat diharapkan guna mengikis perilaku mudik yang banyak mudarat. Umat butuh bimbingan spiritual agar terhindar dari pemborosan dan kecelakaan yang mematikan.”

Sebagai solusinya, Ahok menilai pemerintah wajib menghapus sistem cuti bersama bagi PNS. Libur hanya berlaku pada hari Lebaran pertama dan kedua, karena mudik bukanlah bagiannya.

Islam selaras dengan fitrah manusia, meski sering berhadapan dengan realitas ketidaksempurnaan kita-kita umatnya untuk mengaplikasikan nilai-nilainya dalam kehidupan. Sebaliknya, orang-orang yang belum mengenal Islam sepenuhnya, dengan akal pikiran yang dimilikinya sebagai seorang manusia, mampu mengenali bagian-bagian tertentu dari ketidaksempurnaan tersebut, yang bagi kita bisa menjadi koreksi untuk terwujudnya kesempurnaan Islam.

Cara kita menyikapi Idul Fitri yang berlebihan, terjebak dalam hal-hal yang konsumtif dan hura-hura, tentunya bukan ajaran Islam yang sebenarnya. Islam yang sesungguhnya tentunya tidak menghendaki hal-hal demikian. Sebelum orang lain merasakan ketidakbaikan dari Islam, semestinya kita terlebih dahulu bisa merasaka dan memperbaikinya.

Ketika orang lain terganggu oleh berisiknya pengeras suara masjid yang berbunyi hingga larut malam, atau suara berisik membangunkan orang sahur sejak jauh sebelum fajar, sehingga memunculkan wacana pembatasan penggunaan pengeras suara masjid, bukankah sebenarnya kita juga menyadari jika bukan hal-hal semacam itu yang dikehendaki oleh Islam. Cara kita beribadah, berzikir dan mengaji semestinya tidak seperti itu. Banyak di antara kita sendiri yang sebenarnya juga terganggu.

Ketika di antara kita melakukan takbir keliling dengan menggelar arak-arakan di jalan raya, bahkan kebanyakan tidak melantunkan lafaz takbir, malah teriak-teriak dan membunyikan petasan, bersikap ugal-ugalan, kemudian orang lain terganggu dan mewacanakan larangan takbir keliling, semestinya kita lebih dulu mengetahui jika hal-hal demikian bukan ajaran Islam yang sebenarnya, bahkan kita sendiri juga merasa tidak nyaman oleh tindakan demikian.

Sebelum kita mampu mengaplikasikan Alquran dalam kehidupan, kita baru mampu menyetel kaset muratal Alquran melalui pengeras suara di masjid. Ketika kita belum mampu menampakkan syiar-syiar Islam yang sesungguhnya, dengan keterbatasannya kita baru bisa menampilkan simbol-simbol yang tak bisa mewakili substansi dari Islam yang sesungguhnya.

Ketika Islam baru bisa muncul dalam wajah ketidaksempurnaannya, tapi dengan ketidaksempurnaan itu Islam menjadi tampak dalam kehidupan. Daripada tidak tampak sama sekali, ketika kita belum bisa menampakkan kesempurnaannya, agar tidak sepenuhnya nihil dalam kehidupan ini. Tetapi upaya menuju kesempurnaan tetap menjadi keniscayaan, bagaimanapun kekurangan tersebut akan menjadi beban bagi agama ini, dan kemudharatannya akan kembali kepada kita juga.

Kritik yang datang dari luar, terlepas dari apapun motifnya, seharusnya kita respon secara positif sebagai upaya perbaikan bagi umat ini. Merupakan sebuah tantangan bagi kita untuk menampilkan Islam dalam wajahnya yang terbaik.