Kamis, 02 April 2015

Orang NU, tapi Suka Media Muslim Modernis

Oleh: Fadh Ahmad Arifan
Alumni MAN 3 Malang

Mumpung isu pemberangusan media Islam masih hangat, dalam artikel ini saya ingin menuliskan kisah ayahku yang berdarah Madura (Bangkalan), didikan Pesantren dan kental dengan sopan santun kepada Kiai. Beliau ini sosok yang unik dan langka, karena sebagai warga Nahdliyin di kampung Kotalama, kota Malang; ternyata saat mudanya suka baca buku dan media cetak Islam. Kebiasaan inilah yang nantinya menurun kepada anak-anaknya, termasuk saya.
Sebagai orang NU, anehnya ayah tidak punya sebiji pun buku-buku karangan kiai dan tokoh-tokoh yang duduk di kepengurusan PBNU. Justru saya ketahui, beliau memiliki koleksi buku-buku Bey Arifin, cerita silat Ko Ping Ho, Memoar Hasan al-Banna dan bukunya A. Hassan (tokoh Islam modernis).  Selain buku, semasa mudanya, ayahku mengkoleksi Majalah al-Muslimun dan mengikuti beberapa edisi majalah Panjimas. Konon, majalah al-Muslimun ini dihibahkan kepada guru ngaji saya di kampung Kotalama, namanya Mas Mulyono. Mas Mul ini seorang anggota GP Anshor asal Madura. Karena cerdas dan fasih baca kitab kuning, beliau direkrut Muhammadiyah kota Malang.
Ayah sempat bilang, “Kalau tahu kau suka baca, Majalah al-Muslimun tersebut tidak akan aku lepas.”
Majalah ini punya pengaruh besar dalam pembentukan paham keislaman ayah. Melalui majalah inilah, ayah mendapat pencerahan. Sebagaimana bung Karno mendapat pencerahan dari A. Hassan sewaktu diasingkan di Ende, Flores. A. Hassan dikenal tokoh memiliki penguasaan ilmu fiqh, qawaid fiqhiyah dan ilmu mantiq yang bagus sehingga argumen-argumennya sistematis dan tidak bertele tele. Ini berbeda dengan Kiai, yang tarulah sama-sama penguasaan ilmu fiqh tetapi dalam berargumen masih mengutip utuh teks kitab kuning. Begitu analisis ayah.
Media Muslim modernis yang pertama hadir di bumi nusantara adalah Majalah al-Manar. Bila pembaca melihat film Sang Pencerah, Majalah ini diperkenalkan oleh KH Ahmad Dahlan.
Kembali ke majalah al-Muslimun, pengaruh dari medianya Muslim modernis ini berimbas pada amaliah ibadah ayah. Tidak seperti warga Nahdliyin lainnya yang menganggap tradisi ke-NU an “wajib” khususnya tahlilan, yasinan dan lain-lain.
Ayah termasuk orang NU di Kotalama yang tidak menganggap itu sebagai sebuah keharusan. Beliau adalah orang yang pertama di kampung yang tidak menggelar tingkepan (tradisi 7 bulanan) saat hamilnya ibu saya. Malah beliau berani tidak mengadakan tahlilan untuk kembaran saya yang wafat berusia 6 hari. Namun tidak semua amaliah atau tradisi NU yang ditinggalkan ayah. Misalnya tasyakuran haji masih tetap digelar ketika tahun 1996 dan Syukuran pindahan rumah dari Kampung kotalama ke perumahan Sawojajar.
Untuk urusan perayaan hari Ied Fitri, ayah tidak patuh keputusan PBNU. Beliau mengacu pada putusan Saudi. Katanya, “Saudi dan Indonesia Cuma selisih 4 jam, jadi semisal hilal tak terlihat di Indonesia, kita bisa menanti putusan pemerintah Saudi.”
Selain terhadap amaliah, pengaruh bacaan beliau juga berimbas kepada orientasi politik dan pemilihan lembaga pendidikan. Dalam hal politik, ayahku simpatisan Masyumi. Menariknya beliau mendapat jodoh seorang muslimah Muhammadiyah yang berasal dari keluarga Masyumi. Ibuku seorang keturunan Madura (Bangkalan). Beliau dididik kental dengan tradisi Muhammadiyah. Bahkan sekolahnya pun di lembaga milik Muhammadiyah. Meski ayah beristrikan seorang yang berbeda kultur agama, tapi beliau tidak otoriter dan memaksa istrinya ganti haluan menjadi NU.
Karena kagum kepada kebesaran partai Masyumi, dari pemilu 2004 hingga 2014, ayah memilih dukung PKS. Beliau mengaku dukung PKS karena 2 hal: Partai ini dipandang reinkarnasi Masyumi dan di dalamnya diisi anak-anak muda yang pintar seperti Mahfud Shiddiq, Fahri hamzah dan Anis matta. Ketika 2008 dan 2010 PKS deklarasi jadi partai terbuka, dukungan beliau tidak surut. Malah beliau mendorong saya menjadikan fenomena pergeseran paradigma politik PKS sebagai bahan tesis di Pascasarjana UIN Malang.
Hasil tesis tersebut saya paparkan kepada ayah dan ibu. Setelah mereka mendapat penjelasan dari saya, mereka hanya berkomentar, “Jadi partai terbuka terutama di daerah bukan basisnya maupun minoritas muslim merupakan sebuah keharusan dalam politik.” Mereka menambahkan, “Yang penting liqa’ tetap jalan dan dakwah di parlemen tidak surut.”
Dalam pendidikan, ayah dan ibu tidak menyekolahkan saya dan adik ke lembaga pendidikan NU. Saya disekolahkan ke Madrasah milik pemerintah seperti MTSN 1 dan MAN 3 malang. Ketika itu kepala sekolahnya masih bapak Abdul djalil. Sosok yang  berhasil membangkitkan MIN Malang 1, MTSN 1 dan MAN 3 malang dari sekolah pinggiran menjadi sekolah favorit. Sebelum menutup artikel ini, dari luasnya bacaan ayah, beliau sering mengingatkan kepada saya dan adik, “Fanatiklah kepada Islam, soal NU dan Muhammadiyah, itu tidak ditanyakan di alam kubur.”
Wallahu a’lam bishawwab.
Fimadani

Rabu, 10 Desember 2014

NU, Terorisme dan Ancaman Sesungguhnya

Kepulan asap dari berbagai jenis merk rokok terlihat memenuhi ruangan belakang Aula Pondok Pesantren Al-Hikam, Depok. Sementara di bagian depan sejumlah orang masih tampak serius menyimak penuturan para penceramah yang didatangkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.

Pekan ini, tepatnya pada Sabtu hingga Senin, 6-8 Desember 2014, Ponpes Al-Hikam bekerjasama dengan BNPT menggagas sebuah acara bertajuk “Silaturahim Nasional Penguatan Aswaja dan Penanggulangan Terorisme dalam Ketahanan Nasional”. Acara itu mendatangkan sekitar 300 pengurus cabang dan wilayah salah satu organisasi massa terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).

Saat Kiblat.net mengikuti acara tersebut, sebagian peserta cukup antusias mengikuti acara itu. Sebagian lainnya ada juga yang memilih lesehan sambil merokok di pinggir aula yang terletak persis di depan Masjid Al-Hikam. Tak sedikit pula para peserta dari luar daerah ini malah tiduran di teras masjid.

Pada hari pertama dibukanya acara, sejumlah pejabat tinggi negara tampak hadir. Sebut saja, Kepala BNPT Saud Usman Nasution, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, serta Menteri Sosial Khofifah I. Parawansa. Kepala BIN Marciano Norman dan Menlu Retno Marsudi sedianya akan hadir, namun keduanya mengutus perwakilannya masing-masing.

Dua hari sebelumnya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, KH Hasyim Muzadi menggelar konferensi pers dan mengundang sejumlah wartawan untuk mensosialisasikan acara yang disebutnya hajatan BNPT ini. Tujuannya adalah untuk membentengi pengurus dan para kader NU dari berbagai gempuran ideologi asing termasuk terorisme. Maka, dari porsi jadwal acaranya sudah bisa terbaca dengan jelas, agenda deradikalisasi dan sosialisasi bahaya terorisme menjadi bahasan utama.
kiblat.net

Dalam acara tersebut, Deputi I Bidang Pencegahan & Deradikalisasi BNPT, Agus Surya Bakti terang-terangan meminta dukungan para ulama terkait sosialisasi cetakbiru pencegahan terorisme. BNPT berencana mengajukan diberlakukannya aturan yang tegas mengadopsi dari UU Internal Security Act (ISA) seperti di Malaysia dan Singapura. Pasalnya, UU yang ada saat ini (UU No 15/2003) dianggap kurang tegas untuk menghukumi para pelaku teror di Indonesia. Bahkan, Kepala BNPT Saud Usman Nasution dengan tegas menyatakan, “terorisme tidak akan berakhir sebelum Islam tegak.”

Jika dilihat dari sudut pandang BNPT sebagai penggagas acara, maka para tokoh-tokoh NU ini merupakan para opinion leader yang diharapkan dapat membantu BNPT melakukan sosialisasi terorisme ke kalangan akar rumput. Dalam teori ilmu komunikasi, dikenal istilah gatekeeper atau opinion leader dalam model-model komunikasi massa. Para tokoh NU ini merupakan gerbang informasi, tokoh yang dipercaya masyarakat dalam hal agama. Maka, BNPT memandang perlu untuk men-brainwash tokoh-tokoh ini demi kepentingan mereka.

Pemberantasan Terorisme, kepentingan siapa?

Tapi yang patut menjadi catatan bersama, pertemuan ini ternyata sejalan dengan agenda dan kepentingan asing. Visinya sejalan dengan visi pemberantasan terorisme ala Barat. Rand Corporation pada 2007 silam pernah menerbitkan laporan berjudul “Building Moderate Moslem Networks” yang ditulis oleh Angel Rabasa, Cheryl Bernard, Lowell H. Schwartz, dan Pieter Sickle.

Menurut, laporan Rand Corporation, untuk memerangi apa yang mereka sebut “ekstremisme Islam”, ada tiga partner potensial yang bisa digunakan Amerika. Mereka adalah kelompok sekuler, kelompok muslim liberal dan kelompok moderat tradisionalis dan kalangan sufi. Kelompok tradisional moderat akan dipancing dengan adu domba musuh-musuh Islam, dibuatkan propaganda tentang bahaya kelompok Wahabi dan dimunculkan kembali pertentangan soal-soal khilafiyah yang bersifat furu.’ Selain itu, juga dengan dibuatlah beragam stigmatisasi, seperti mengampanyekan bahaya “wahabisasi global”, “ideologi transnasional”, dan lain sebagainya.

Padahal, sebelumnya KH Hasyim Muzadi menegaskan bahwa ia tidak mau ditunggangi kepentingan asing. Tapi faktanya, cara-cara BNPT dalam memberantas terorisme masih memakai manual book dari Barat. Maka, tak aneh jika kemudian pertemuan itu menghadirkan para pembicara yang justru meneror para pengurus NU dengan adanya ancaman ideologi transnasional.
nasir-abbas

Di acara itu, ada sosok Nasir Abbas yang menggantikan Ali Imron dan Ali Fauzi yang batal hadir. Nasir selalu mengulangi lagu lama yang sering diceritakan di mana-mana perihal kisah tobatnya dari seorang teroris. Konon, kabarnya ia tobat karena terkesima melihat polisi penjaganya lebih rajin shalat berjamaah dan puasa sunnah Senin-Kamis ketimbang dirinya.

Ada juga seorang Abdi Kurnia yang mengaku pengamat gerakan Ikhwanul Muslimin, ia meracau di depan para kiai NU dengan mengatakan bahwa Sayyid Qutb adalah agen Yahudi. Abdi menuduh Sayyid Qutb sebagai agen freemason karena dia lahir di Ramses, Mesir dan berprofesi sebagai tukang jam. Persis dengan Syaikh Nashiruddin Al-Albani. Menurutnya, pada masa itu yang pake jam tangan cuma kaum yahudi. Otomatis, Sayyid Qutb adalah agen freemason, organisasi zionis internasional.

Yang lebih menyakitkan justru datang dari Dr. Solahudin, penulis buku “NII Sampai JI” yang juga orang kepercayaan peneliti IPAC, Sidney Jones. Dengan nada tegas ia menyatakan SD-IT dan kegiatan Rohis (ekstrakurikuler bimbingan Islam, red) merupakan biang intoleransi dan sarang kelompok teror.

Pada sesi diskusi, tanggapan para peserta diskusi juga menarik. Ada salah seorang peserta dari Riau yang gerah dengan sikap toleransi NU yang kebablasan. Menurutnya, NU selama ini hiper toleran kepada aliran sesat. “Sehingga kalau tidak dijadikan seperti FPI, tahun 2020, NU akan hancur,” ujar Fathurrohman dari PCNU Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Atau salah satu perwakilan NU dari Aceh yang membantah ucapan Nasir Abbas dan Solahudin soal definisi terorisme. Menurutnya, ketidakjelasan definisi terorisme menimbulkan adanya standar ganda dalam penerapan hukum anti terorisme. “Teror itu pelakunya bisa individu, kelompok/jaringan bisa juga negara. Selama hal itu berdampak meluas dan merugikan masyarakat. Seharusnya kebijakan Jokowi dalam menaikkan harga BBM juga bisa dikategorikan perbuatan teror,” tandasnya.

Syiah dan Liberalisme, ancaman NU sesungguhnya

Meski demikian, patut kita berikan apresiasi yang mendalam ketika pertemuan tersebut membahas bahaya liberalisme dan ideologi syiah. Kedua hal inilah yang sesungguhnya menjadi ancaman faktual bagi Nahdlatul Ulama. Paska reformasi, Nahdlatul Ulama seolah mengalami krisis identitas ketika dipimpin oleh para tokoh liberal. Kader-kader NU sekonyong-konyong meninggalkan akar historis mereka dan mengidolakan sekularisme dan liberalisme.

Apalagi, NU sebagai ormas yang diperhitungkan di Indonesia dan punya basis massa yang mengakar selama ini justru selalu ribut di kalangan internal mereka sendiri. Acara yang digagas Mbah Hasyim Muzadi ini justru tak dihadiri oleh Ketua Umum mereka yang sangat gandrung terhadap Syiah, Said Agil Siradj. Belum lagi kalau berbicara perpecahan NU di ranah politik.

Maka, menghadapi asupan informasi yang disuplai oleh BNPT dalam hajatan anti terorisme ini, para kader-kader NU di daerah harus benar-benar memilah dan memilih. Mana informasi yang sahih dan dapat dipercaya, mana kabar burung yang justru meneror dengan pepesan kosong.

Benarlah kata pepatah Arab kuno, هَلَكَ امْرُؤٌ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَهُ “Hancurlah seseorang yang tidak tahu dirinya sendiri.”

Wallahu a’lam.

Penulis: Fajar Shadiq

*sumber: http://www.kiblat.net/2014/12/10/nu-terorisme-dan-ancaman-sesungguhnya/

Selasa, 09 Desember 2014

Menohok Amerika, Beda Jepang, Beda Tiongkok

Serangan Jepang terhadap pangkalan Angkatan Laut AS Pearl Harbor menjadi kemenangan sesaat yang gemilang bagi Jepang. Akan tetapi, dalam jangka panjang ternyata merupakan sebuah kesalahan strategi, menentukan kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Serangan tersebut menjadi blunder, seperti mengusik raksasa yang sedang diam. Menjadi alasan bagi AS untuk ikut serta dalam Perang Dunia II.

Jepang memang dengan mudah menaklukkan seantero Pasifik Barat dan Asia Tenggara, tapi tidak mampu menjangkau jantung kekuatan AS sama sekali. Sedang jantung kekuatan Jepang justru terjangkau oleh musuh. Dengan demikian, AS leluasa mengkonsolidasikan sumber daya, kekuatan, dan teknologi untuk keberlangsungan perang. Sebaliknya bagi Jepang, sumber daya dan kekuatan yang dimiliki semakin melemah.

AS memenangkan Perang Dunia II, untuk selanjutnya memenangkan Perang Dingin. Kemenangan tersebut dipakai untuk mendikte dunia bahwa Komunisme telah gagal dan tidak relevan, sedang Kapitalisme adalah konsep ideal untuk peradaban dunia kita.

Disadari atau tidak oleh AS, superioritas dunia tak pernah langgeng. Sejak runtuhnya Uni Sovyet, AS memang menjadi seperti satu-satunya kekuatan super power dunia. Tetapi hanya kurang dari dua dekade kemudian, RRC sudah tampak berpotensi menyalip posisi tersebut.

Lantas apakah AS membiarkan begitu saja posisinya sebagai super power dunia jatuh ke pihak lain, membiarkan rivalnya mengambil alih posisi tersebut, tanpa melakukan upaya-upaya meredam laju kompetitornya, juga upaya mempertahankan posisinya?

Dunia dan kompetisi memperebutkan supremasinya, adalan pertarungan strategi yang teramat pelik. Seringkali yang terjadi bukan hanya kompetisi yang fair. Sehingga, di balik pencapaian menakjubkan yang dicapai RRC, seharusnya kita bertanya, jika di balik itu ada hal tak tampak, yang tidak diketahui publik pada umumnya?

AS memenangkan Perang Dingin tidak dengan kekuatan senjata atau nuklir sekalipun, tetapi Uni Sovyet dieksekusi dengan pertarungan dalam bentuk lain. Dan ini bisa diambil pelajaran oleh rival-rival AS untuk menundukkan superioritasnya. Bukan hanya kekuatan, tetapi strategi yang jitu, lihai dalam memainkan situasi.

Jika demikian, munculnya RRC ke pentas dunia tentunya juga tidak mungkin dengan tangan kosong belaka, bukan melenggang dengan cuma-cuma. Tetapi sebelum melangkah telah mempersiapkan suatu perencanaan yang sistematis, mengidentifikasi tantangannya, dan mempersiapkan semua sarana untuk mengamankan agenda yang dijalankan. Mewujudkan agenda yang membutuhkan backup dan pengawalan dari berbagai bidang lain, ditunjang secara politik, kekuatan lobi, hingga intelijen.

Reformasi Indonesia beserta benturan kepentingan-kepentingan besar di dalamnya, bisa menjadi gambaran awal untuk melihat pertarungan strategi serta perebutan pengaruh di antara kepentingan-kepentingan tersebut. Asia Tenggara sejak lama menjadi medan perebutan pengaruh antara Barat dan Timur. AS sempat menancapkan hegemnoninya, menyingkirkan pengaruh Uni Sovyet. Tetapi kompetisi terus berlanjut, seiring menguatnya pengaruh RRC, AS harus menghadapi kompetitor baru.

Kepentingan AS untuk untuk mengkhiri kekuasaan penguasa-penguasa lokal yang tak dikehendaki, termasuk menumbangkan kekuasaan Soeharto. Reformasi Indonesia, yang tampak sepertinya memang kepentingan AS yang bekerja, sarana-sarana kepentingan AS yang dipakai.

Tetapi beberapa tahun pasca reformasi berlangsung, justru tampak pengaruh RRC semakin menguat di kawasan ini, lebih signifikan dibanding masa Orde Baru. Sudah bisa dilihat siapa yang lebih banyak memanen reformasi yang bergulir di Indonesia.

Bekerja, mengeluarkan keringat, sementara pihak lain lebih menuai hasilnya. Untuk tidak dikatakan sekadar diperalat, tetapi sebuah pertarungan strategi, tempat di mana penuh pengkhianatan dan intrik, tinggal mana yang lebih piawai membaca dan mengendalikan situasi. Sebuah indikasi adanya penumpang gelap yang ikut bermain.

Sebuah titik lemah bagi AS di Asia Tenggara, mitra utama kepentingan AS di kawasan ini justru ditopang etnis keturunan Tionghoa. AS terlalu plural, berakibat ancaman dekadensi loyalitas.

Secara geografis Asia Tenggara lebih dekat ke RRC. Tetapi bukan semata faktor tersebut, ancaman terhadap hegemoni AS juga menjangkau ke kawasan lain, Afrika, Timur Tengah dan Eropa Timur.

Berkaca dari reformasi Indonesia, kemungkinan berulang di Timur Tengah. AS bersusah payah mengerahkan sumber daya untuk melakukan perang melawan terorisme dan Arab Spring, termasuk indikasi menciptakan semacam ISIS dan bersusah payah menumpasnya sendiri, bisa jadi pihak lain yang akan meraup hasilnya. Rival-rival AS bisa bermain memanfaatkannya, untuk kian mengokohkan pengaruhnya di kawasan tersebut. Ada beragam kepentingan yang sulit dikendalikan, seperti rivalitas antara Suni dengan Syiah, menuntut kejelian dalam memilih mitra yang loyal.

AS boleh merasa jumawa dalam memenangkan Perang Dingin, mampu meluluhlantakkan Blok Timur. Situasi bisa berbalik, ide segar bisa berpindah, Ukraina bisa menjadi contoh awal, AS dan Barat tak berdaya mempertahankan kepentingannya di negara tersebut.

Era Perang Dunia II memang diselesaikan dengan senjata. Sejauh mana Jepang tidak mampu menyentuh jantung kekuatan AS, tetapi AS mampu menjangkau jantung kekuatan Jepang. Kini adalah sebuah era yang berbeda, tak hanya bergantung pada pertarungan fisik, era perpaduan adu strategi.

AS terlalu plural, memungkinkan lobi-lobi dari luar memengaruhi kebijakannya. Membuatnya lebih cepat menjadi jenuh, terlalu banyak kepentingan yang bisa menjadi beban. Sejauh mana lobi rival-rival AS masuk ke jantung pusat pengambil keputusannya, dan sejauh mana lobi AS tidak mampu menembus rivalnya.

Penting diperhatikan oleh rival-rival AS, dalam menentukan mitra kepentingan, tidak semata berorientasi jangka pendek, tetapi memperhatikan juga aspek ideologi dan religi, untuk terjaminnya suatu loyalitas. (dakwatuna)

Senin, 17 November 2014

Pidato Ir. Soekarno Soal Gerakan Pemurnian Islam

Disaat ummat muslim Indonesia saling tuding dan menyalahkan. Mereka Pemikir Islam yang berbendera sekuler, pluralisme dan para pengagung harta makin merasa di atas angin dengan kedudukannya di pemerintahan negeri mayoritas muslim. Sang Pendiri negeri ini, yang foto-foto mereka pampang berdampingan saat caleg dan pemilu merasa paling akrab dan tahu persis sang Proklamator acuh dengan pemahaman dan pemikirannya yang murni. Kebanyakan dari mereka bahkan mungkin sebagian dari kita sudah merasa paling benar. Istilah wahabisme yang populer dilontarkan pengikut agama Syiah akhir-akhir ini yang menuduh berbagai macam. Bahkan dianggap sebagai ancaman bagi NKRI karena semangatnya memperjuangkan kemurnian Islam. Merasa risih saat orang-orang yang mengajak kembali ke petunjuk Al-Quran dan Sunnah. Kembali mengamalkan amalan Sahabat dan orang shaleh yang telah dijamin kesholehannya.

Presiden Pertama Republik Indonesia yaitu Ir. Soekarno pernah berbicara tetang pengikut salaf ini.

Buku berjudul "Dibawah Bendera Revolusi" (yaitu kumpulan tulisan dan pidato-pidato beliau) jilid pertama, cetakan kedua,tahun 1963 menjadi saksi bahwa ia mengajak untuk merenungi bahkan mengakui perjuangan dan jasanya di negeri ini. Di halaman 398, beliau mengatakan dengan jelas,
" Tjobalah pembatja renungkan sebentar "padang-pasir" dan "wahabisme" itu. Kita mengetahui djasa wahabisme jang terbesar : ia punja kemurnian, ia punja keaslian, - murni dan asli sebagai udara padang- pasir, kembali kepada asal, kembali kepada Allah dan Nabi, kembali kepada islam dizamanja Muhammad!"

Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannja seribu satu tahajul dan seribu satu bid'ah."
Lemparkanlah djauh-djauh tahajul dan bid'ah itu, tjahkanlah segala barang sesuatu jang membawa kemusjrikan!

Nampak jelas bahwa presiden pertama RI. Ir. Sukarno, sendiri menganggap gerakan wahabi adalah suatu gerakan "PEMURNIAN ISLAM", gerakan yang menentang seribu satu Tahayul dan Bid'ah yang ada dalam islam, Dengan semboyan "Kembali kepada Allah dan kepada Nabi".

Mari wahai saudaraku kita kembali kepada Al-qur'an dan As Sunnah kedua warisan Nabi Muhammad shallahu 'alayhi wassalam, agar kita selamat dunia dan akhirat. Aamiin (islamedia)

Senin, 10 November 2014

Masa’ Islam Kita Kalah dengan Bali!

Suatu ketika Ustadz Bachtiar Nasir bertanya bertanya kepada suatu jamaah, “Islam manakah yang paling baik?” Menurut Beliau Islam yang paling baik itu bukan Aceh, Sumatera Barat atau Yogyakarta, tetapi Islam terbaik di Indonesia itu adalah Bali.

Bagaimana mungkin? Ternyata hanya di Bali jamaah Shalat Subuh lebih banyak dari pada jamaah Shalat Jumat. Di Masjid Baitul Makmur Denpasar misalnya, jamaah Shalat Subuhnya bisa mencapai 700 orang, bahkan untuk hari Ahad lebih banyak lagi, sehingga tidak muat lagi di dalam masjid.

Bukan shalat-shalat jamaah saja yang semarak, kegiatan-kegiatan seperti taklim dan kajian keislaman tak kalah semangat. Mereka sangat antusias dalam mengkaji tafsir, hadis dan sebagainya, bahkan mendatangkan ustadz-ustadz dari luar. Demikian pula dalam berinfak, tak heran bila amal-amal sosial muslim di Bali lebih terurus dengan baik dibanding dengan yang dikelola umat lain yang mayoritas sekalipun.

Bali selama ini kita persepsikan tak identik dengan Islam. Para pendatang dari luar di Bali kebanyakan memang beragama Islam, tetapi mungkin kita lebih mengasumsikan mereka yang memilih bekerja di sana bukan muslim yang taat. Mungkin kita mengasumsikan muslim yang taat cenderung tidak memilih bekerja di Bali. Tetapi kenyataan yang terjadi, Islam di Bali justru tumbuh menakjubkan.

Lantas bagaimana dengan kita? Dalam kondisi sebagai mayoritas, kita lebih mengenal Islam, lingkungan dan tempat kita bekerja lebih kondusif untuk menjalankannya, lebih tersedia berbagai sarana di sekitar kita yang mempermudah untuk kita menjalankan ibadah. Tetapi ternyata kemalasan membuat amal kita tak sebanding dengan peluang yang semestinya bisa diraih.

Masjid-masjid kita yang sepi, padahal hampir tiap RT ada masjid. Sedikitnya orang yang mau mendatangi majelis-majelis ilmu. Nyaris tak ada lagi rumah-rumah yang membiasakan membaca Alquran di dalamnya. Tak sebanding dengan semaraknya hal-hal yang bersifat hiburan duniawi dan hura-hura di sekitar kita.

Beberapa dekade lalu, suasana di Bali masih seperti di negara-negara Barat, nyaris tanpa simbol-simbol Islam yang menonjol. Untuk mencari tempat shalat saja sulit. Tak dinyana jika di kemudian hari, syiar Islam di sana justru tampak bergairah. Sebaliknya kita, sepertinya malah seperti sudah jenuh dalam beragama. Beragama bagi kita rasanya seperti hanya turun-temurun semata.

Antara kuantitas dan kualitas, kita yang secara jumlah mayoritas tampak seperti hanya minoritas, mungkin seperti buih di lautan. Sebaliknya, mereka dalam kondisi sebagai minoritas, mampu melampauinya, dan benar-benar menampakkan syiar Islamnya.

Begitulah, dalam kondisi minoritas, penuh keterbatasan, tak menjadikannya penghalang, melampaui keterbatasan tersebut. Sedang kita, begitu banyak kesempatan yang terbuka, tetapi kita menyia-nyiakannya. Tidakkah kita malu dengan prestasi yang dicapai saudara-saudara kita di Bali?

Seringkali dengan berbagai nikmat yang diberikan kepada kita, tak membuat kita lebih dekat kepada agama, malah kita lebih banyak lalai, kita seperti tidak butuh dengan Islam. Sementara, saudara-saudara kita yang sedang terkena berbagai musibah, cobaan yang berat, menjadi korban konflik dan peperangan, tetapi dalam kondisi demikian sulit justru membuat mereka mendekat dengan agama.

Jika lebih banyak kesempatan kita sia-siakan, bagaimana jika nikmat-nikmat yang diberikan kepada kita ini dicabut? Apakah kita menunggu mendapat cobaan-cobaan seperti itu, baru mau mendekat kepada-Nya?




Sabtu, 08 November 2014

Dua Wajah Muhammadiyah

Oleh: Muhammad Muflih

Bulan September lalu saya melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di sebuah desa di ujung paling barat Kabupaten Bogor. Di sela-sela kegiatan yang padat, saya banyak bersilaturahim dengan berbagai tokoh masyarakat. Termasuk berdiskusi dengan seorang kyai muda, pemimpin sebuah pondok pesantren salafi. Kami berbicara mengenai beragam isu yang berkembang di desa dan bahkan sampai pada pembahasan kebencian warga pada Muhammadiyah.


Menurut pak Kyai, cara dakwah orang Muhammadiyah terlalu keras, merasa benar sendiri, terkesan ingin menguasai wilayah, dan stigma negatif lainnya. Di desa ini memang ada satu kampung yang didominasi oleh warga Muhammadiyah. Tokohnya sangat keras dalam menyampaikan ceramah, terutama terkait hal-hal yang menurut Muhammadiyah merupakan bid’ah. Saya terus menyimak tanpa mengakui bahwa saya kader Muhammadiyah.



Cara dakwah yang keras itulah yang tidak bisa diterima warga. Pernah suatu ketika, setelah sholat jumat, seorang ustadz dari Muhammadiyah berdiri di depan mimbar dan berkata, “yang sholat zuhur setelah sholat jumat, ke neraka!” Tentu saja warga kaget. Di beberapa masjid kampung di desa ini, memang ada yang melaksanakan sholat zuhur setelah sholat jumat. Apapun yang ‘difatwakan’ orang Muhammadiyah disana, selalu warga sampaikan pada sang Kyai salafi. Dengan ringan si Kyai menjawab keluhan warga, “tanyakan saja dalilnya.” Sayangnya, ketika ditanyai warga, sang ustadz dari Muhammadiyah tadi mengaku tidak tahu dalilnya. Tentu saja ini jadi senjata Kyai Salafi untuk ‘menyerang’ balik. Muballigh Muhammadiyah punya banyak PR.



Ketika Kepala Desa yang sekarang menjabat belum terpilih, isu yang berhembus pada masa kampanye 2 tahun yang lalu adalah dia orang Muhammadiyah. Warga yang begitu alergi sempat terpengaruh isu ini. Namun pada akhirnya, sang calon mengklarifikasi bahwa dia bukan lagi orang Muhammadiyah. Bahkan, dia mengajak warga untuk sholat subuh berjama’ah. Dia akan bertindak sebagai imam dan ber-qunut.



Tantangan pak Kades pada warga saat itu hanya trik politik. Kenapa saya sebut trik? Karena beberapa hari setelahnya, dia mengakui sendiri dirinya adalah orang Muhammadiyah. “Waktu masa pemilihan, di depan rumah saya banyak orang mengirim macam-macam; telur busuk, bangkai ayam, dan lain-lain. Pihak lawan berusaha mencelakai saya dengan cara-cara ganjil. Tapi kan saya orang Muhammadiyah tulen, hal-hal seperti itu saya gak percaya, merusak tauhid. Saya lawan saja dengan puasa,” ujar Pak Kades. Sebagai catatan, lagi-lagi saya tidak mengaku sebagai orang Muhammadiyah waktu itu. Jadi, Kepala Desa disana memimpin dengan ‘ruh’ muhammadiyah, tetapi menyembunyikan identitasnya sebagai orang Muhammadiyah.



Beberapa hari setelah KKN selesai, saya mengikuti kuliah umum bersama Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, Robert O. Blake Jr., di Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tema yang diperbincangkan adalah “Islam dan Barat”. Ketika Blake menyinggung tentang toleransi beragama, beliau beberapa kali menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi penjaga perdamaian dan toleransi di Indonesia. Tidak sekalipun beliau menyebut NU. Artinya -tanpa mengecilkan peran NU- ada pengakuan di tingkat nasional, bahkan internasional, bahwa Muhammadiyah mempunyai peran besar untuk mewakili wajah Islam yang damai. Ada kontradiksi ketika melihat Muhammadiyah dari dua sisi; dari atas (skala global) nampak berwajah damai, tetapi menyeramkan jika dilihat dari bawah (kalangan akar rumput).



Pada skala nasional, memang kampanye toleransi antar umat beragama terus digalakkan. Kita bisa mengamati, saat ini toleransi umat beragama di Indonesia sudah berjalan baik. Namun di kalangan paling akar rumput, ada sesuatu yang belum selesai. Malahan, perkara-perkara ini menjadi bahan pertengkaran dan memutus silaturrahim antar umat Islam sendiri; konflik yang disebabkan perbedaan paham mengenai yasinan, tahlilan, memperingati hari kematian dan lain-lain.

Pertanyaannya adalah, bagaimana seharusnya warga Muhammadiyah memperbaiki persepsinya di kalangan akar rumput? Kita punya jawaban masing-masing. Bagi saya persepsi menjadi penting, bukan untuk pencitraan. Tetapi, dengan diterimanya Muhammadiyah di lapisan masyarakat paling bawah, dakwah amar ma’ruf nahi munkar akan lebih mengena. Ali Bin Abi Thalib pernah berkata, “jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu, dan yang membencimu tidak percaya itu.” Perlu cara-cara yang lemah lembut untuk memahamkan sesuatu pada masyarakat. Kalau kita bersikap keras dan berhati kasar, berdasarkan firman Allah dalam Q.S. Ali Imran ayat 159, maka tentu mereka (masyarakat) menjauhkan diri dari kita.

Akankah muncul (kembali) kisah heroik seperti kisah Pak AR Fachrudin yang mengubah tradisi yasinan tradisional menjadi pengajian tafsir Al-Qur’an? Pak AR adalah contoh terbaik dari “toleransi khilafiyah”. Beliau mengubah persepsi masyarakat terhadap Muhammadiyah dengan cara yang santun. Muhammadiyah tentu saja mesti punya wibawa, namun bukan dalam pengertian ‘menyeramkan’.

Muhammad Muflih/sangpencerah.com
( Sekretaris Bidang ASBO - PD IPM Kabupaten Bogor )

Super Humas

Pasca diadakannya PR Summit PKS beberapa waktu lalu, tugas kehumasan memiliki posisi sekaligus tanggung jawab yang lebih urgen.

Kita berada pada era teknologi informasi, di mana perang pemikiran (ghazwul fikri) sebagai sarana untuk mewujudkan gagasan dan kepentingan kian dominan, menggeser peran perang secara fisik. Problematika kehidupan tidak melulu diselesaikan dengan cara-cara fisik yang kasat mata, tetapi lebih banyak diselesaikan secara soft. Perang informasi tak kalah dahsyat dengan benturan secara fisik, menimulkan efek yang dampaknya bisa memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan, meski dalam bentuk lain.

Pada tataran ini, peran humas tak ubahnya adalah prajurit yang menempati garda terdepan medan pertempuran. Humas menjadi ujung tombak dalam pertempuran memperebutkan opini publik, membangun citra dan pengaruh. Memainkan media, menjadi sebuah peran signifikan yang berlangsung hampir tak kenal henti.

Tetapi yang harus diperhatikan, saat ini kita bukan hanya berada pada era kecanggihan teknologi nyata yang menakjubkan, tetapi kita juga berhadapan dengankecanggihan teknologi pemikiran, baik metode maupun sarana-sarananya. Kecanggihan teknik dalam merumuskan strategi dan memainkan isu untuk memenangkan perang opini, berada pada level yang lebih rumit dari masa-masa sebelumnya.

Pada pergulatan model ini, kita berhadapan dengan intrik dan permainan, penuh dengan tipu daya dan jebakan. Seringkali arah para pembuat kebijakan tak bisa lagi dimengerti oleh mayoritas publik, termasuk hal-hal menyangkut kepentingan publik itu sendiri, bahkan lebih banyak berlangsung tanpa disadari oleh mereka. Demikian pula ketika harus berhadapan dengan upaya memanipulasi opini publik untuk agenda dan tujuan tertentu. Di antara pergulatan tersebut, banyak kepentingan besar dipertaruhkan.

Sebanding dengan besarnya tantangan, upaya yang dipersiapkan tidak bisa asal-asalan. Bukan sembarang humas, tetapi memiliki daya upaya yang lebih, kemampuan untuk melampaui tantangannya. Memiliki kemampuan memahami situasi, mengidentifikasi permasalahan dan merumuskan solusinya dengan tepat, untuk memenangkan sebuah perang informasi.

Bukan hanya menyampaikan, tetapi bisa mengukur sejauh mana efektifitasnya, agar bisa dicerna oleh publik. Merubah mindset orang lain, mengambil hati manusia, apalagi membentuk opini publik, bukan merupakan persoalan yang sederhana. Perlu untuk memahami tabiat manusia secara utuh. Sekaligus berhadapan dengan realitas situasi, bahwa mayoritas publik berada dalam kondisi mis-informasi.

Bukan dalam perspektif penyampai informasi, tetapi sejauh mana penerima informasi bisa menerimanya. Tidak bisa seseorang mengasumsikan orang lain adalah dirinya, pemahaman penerima informasi tak bisa seutuh pelaku informasi.

Bukan sekedar membawakan suatu kebaikan, tetapi mengemasnya dengan baik, agar tidak menghasilkan citra yang justru berkebalikan. Di antara pertarungan hitam putihnya dunia, sesuatu yang buruk sekalipun, memungkinkan meraih simpati publik ketika dikemas secara elegan.

Bukan soal kerasnya suara, tetapi sejauh mana bisa didengar. Bukan hanya menjadi angin lalu, tetapi sejauh mana bisa membekas. Ketika hal-hal kecil bisa diblow-up, ketika perhatian publik bisa dialihkan oleh hal-hal yang tidak urgen, tersesat pada upaya memanipulasi opini, dan ketika ketimpangan informasi membelit penguasaan opini publik.

Adakalanya harus bergerak dalam senyap, mengecoh lawan. Adakalanya harus melawan arus dan menyiasati keterbatasan. Ketika sasaran tak mungkin diambil, ia harus dicuri. Biarpun enggan untuk menempuh cara-cara licik, mestinya mampu untuk bersikap cerdik.

Di balik gerak-gerak yang tampak, lebih banyak dibutuhkan dan ditentukan gerak-gerak dalam senyap. Karena bukan hanya persoalan bergerak, tetapi persoalan menggerakkan orang lain.

Berada dalam kondisi melawan arus, di antara permainan, drama dan sandiwara kehidupan. Tidak mudah untuk memahami situasi yang telah berlangsung dan membaca langkah kompetitor, apalagi memprediksi langkah ke depan yang tengah dirumuskan. Jika tidak, akan dengan mudah terseret arus, terbawa pada langkah yang reaktif, bukan mendesain alur permainan.

Urgensi humas, tujuan dan tantangannya, tentunya juga harus sinergis dengan bidang-bidang yang lain, beserta upaya menyiapkan sarana-sarana penunjangnya. Perlu policy yang mengorganisir dengan baik. Sebesar apapun aset dan potensi yang tidak terarah secara efektif, bisa tersesat pada jebakan-jebakan suatu permainan, dan justru akan menjadi blunder yang menguntungkan lawan.