Senin, 20 April 2015

PKS ataupun PDIP, Sebenarnya Kita Tuh Bersaudara!

“Jenuh mungkin, menjalani hari-hari di antara kita dalam perseteruan tiada ujung. Dalam pertemuan di dunia imajinasi ini, baiklah kita sejenak saja untuk menjadi sahabat, saudaraku.”

“Aku pun merasakan hal serupa, seolah-olah di antara kita selama ini, satu sama lain hanya ingin saling menjatuhkan dan menjalin permusuhan. Aku tak menyangka kita akan bertemu dalam dunia lain yang berbeda dengan apa yang biasa kita jalani.”

“Hari-hari yang kita jalani, disibukkan dengan saling menghina, mencaci dan mencari-cari aib di antara kita. Begitu mudahnya kita mengedepankan prasangka negatif. Aku sendiri disibukkan dengan semua itu, bahkan menikmatinya, tanpa terpikir untuk melakukan hal yang lebih berfaedah.”

“Aku juga demikian sahabatku. Bahkan tak hanya itu, aku ngebom basis-basis masamu. Di setiap tempat di mana ada calegmu, aku garap habis-habisan. Aku seenaknya merusak bendera dan atribut yang baru saja engkau pasang. Seringkali aku juga mengeroyokmu dalam duel maut pilkada. Aku sangat puas memblow-up kasus korupsi yang membelitmu, bahkan sampai aku lupa siapa yang lebih korup di antara kita.”

“Status dan komen-komen yang aku tulis, dipenuhi dengan olok-olok dan bully-membully. Setiap ada informasi buruk tentangmu, tanpa pikir panjang aku tergesa-gesa menyebarkannya. Aku sangat bersemangat men-share dan menyebarluaskan kejelekanmu. Tanpa beban, begitu mudahnya aku mengeluarkan komen-komen negatif. Aku merasa semua yang kulakukan itu adalah upaya membela kebenaran, semua itu adalah amal shalih, bagian dari dakwah yang suci dan mulia ini.”

“Padahal semua olok-olokmu terhadapku tidak membuat aku menjadi baik. Jangan berharap olok-olokmu membuat aku insyaf. Setajam apapun lisanmu mengulitiku habis-habisan, justru semakin membuat aku antipati terhadapmu. Juga membuat aku semakin membenci dan menjauh dari dakwah yang kau bawa. Bukan saja aku membuat-buat fitnah dan berbagai stigma negatif tentangmu, tetapi perilakumu juga ikut menjustifikasinya.”

“Maafkan aku saudaraku, sampai-sampai aku hampir terlupa tentang luasnya hakikat dakwah ini, tentang kesabaran, dan tentang kelembutannya. Seharusnya bukan hanya membalas keburukan dengan keburukan, membalas umpatan dengan cacian. Ia membutuhkan kebesaran jiwa, kelapangan hati, sikap yang penuh hikmah, serta sikap bijak menghadapi hal-hal yang menyakitkan sekalipun. Ada saatnya kekerasan ditaklukkan dengan kelembutan, dan sepahit apapun yang menghadang semestinya dihadapi dengan cara yang terbaik dan santun. Ucapan jahil hendaknya berbalas dengan kata-kata yang mengandung keselamatan. Akan tetapi semua itu bagiku sendiri tak semudah yang kukatakan.”

“Engkau tidak menolongku, tidak menyelamatkanku, bahkan seruanmu menjadikan aku kian jauh. Permusuhan di antara kita, bukan saja membuat aku kian jauh dan antipati terhadapmu, tetapi juga kian mendekatkanku pada kalangan sekuleris, liberalis, serta justru malah menarikku lebih dekat kepada aliran-aliran sempalan yang kau anggap sesat itu. Bukankah ini kontraproduktif dengan dakwah yang kau usung? Apakah engkau ingin membuatku semakin terjerumus dengan dakwahmu? Bagaimana engkau mengaku sebagai pembawa rahmat bagi segenap alam?”

“Begitulah saudaraku, memang ada pihak lain yang menghendaki permusuhan di antara kita, menanam dendam di antara kita, menyetting kita dalam situasi tidak bersahabat, dalam suasana hubungan yang panas, menjadi dua front yang berhadap-hadapan, dan kita sama-sama terjebak di dalamnya. Ada-ada saja informasi buruk tentangmu, padahal sebenarnya ia bersumber dari website tidak resmi, yang di belakangnya ada tangan-tangan tak tampak, dengan membawa kepentingan mereka. Mereka memanfaatkan permusuhan di antara kita, mengadu domba kita, agar kita berpecah belah dan lemah, kemudian mereka memanfaatkannya untuk memuluskan agenda-agenda mereka, mengukuhkan kekuasaan dan tiran atas dunia ini. Dakwah yang tulus dan santun bertransformasi menjadi bully-membully.”

“Sikap abaiku terhadap dakwah ini, memang dimanfaatkan betul oleh mereka. Tetapi keteguhan dan komitmenmu terhadap dakwah ini, toh sama juga ditunggangi mereka, menjadi bumerang dan blunder bagi dakwah itu sendiri, dan kau tidak menyadari itu. Hingga makin hari dakwah ini makin terseok-seok dan kian terpojok.”

“Beginilah saudaraku, fitnah akhir zaman ini, bukan saja kedewasaan dan kewaspadaanku tak memadai, tetapi fitnah ini demikian pelik dan penuh tipu daya. Pandanganku tak seluas aral yang kuhadapi, cara berpikirku tak sepanjang tantangan yang menghadang. Aku sebenarnya hanyalah hamba-hamba yang lemah, berbuat sebatas kekurangan dan keterbatasanku.”

“Dan akibatnya para tiran dunia itu sekarang sedang berpesta pora, mereka sedang tertawa terbahak-bahak, puas dengan keberhasilannya, membuat kita sibuk berseteru satu sama lain. Padahal sebenarnya bukan engkau yang semestinya menjadi musuhku, saudaraku. Seharusnya aku menyadari, musuh kita yang sebenarnya adalah para tiran-tiran itu, mereka memperdaya kita, mempermainkan, memecundangi dan menipu kita mentah-mentah, dunia ini terseok-seok dan terinjak-injak dalam cengkeraman kekuasaan mereka.”

“Tak sepenuhnya benar saudaraku, siapapun mereka, atheis, zionis, atau kolonialisme global sekalipun, mereka adalah sama-sama anak cucu dari bapak moyang kita Adam. Menjadi tugas kita untuk mengentaskan mereka dari kezhaliman yang mereka perbuat, serta membebaskan mereka dari Iblis, musuh kita yang sebenar-benarnya.”

“Benar saudaraku, Tak semestinya kita bergembira dengan musibah yang menimpa di antara kita, tak sepantasnya kita menari-nari di atas penderitaan orang lain. Selayaknya kita menolong mereka, bukan membiarkan mereka terjerumus.”

“Seharusnya kita bukan hanya menolong mereka yang terzhalimi, tetapi juga menolong mereka yang berbuat zhalim, mengentaskan mereka dari kezhalimannya. Sepahit apapun kezhaliman yang dihadapi sebenarnya adalah makin luasnya ladang amal yang terbentang. Kesabaran menjadi lebih bernilai karenanya. Kalau hanya olokan dan cacian, sebenarnya ia tak seberapa, bukankah orang yang mengolok-olok belum tentu lebih baik dari yang diolok-olok?”

“Baiklah, selepas pertemuan ini kita bisa menjadi sahabat di dunia yang sebenarnya saudaraku?”

“Belum saudaraku. Kita masih harus terombang-ambing dalam cengkeraman tipu daya dunia. Ia tidak akan membiarkan kita lepas begitu saja. Jalan untuk membebaskan diri kita darinya mungkin masih panjang, masih harus menempuh perjuangan yang melelahkan. Artinya, kita masih akan saling bermusuhan satu sama lain, kita masih akan saling berseteru. Dan para tiran itu terus saja kukuh mencengkeramkan kekuasaannya atas dunia.”

“Sebelum zaman edan ini sirna, orang khianat masih akan dimuliakan, orang amanah masih akan dihinakan, kita masih dikuasai keserakahan dan kesombongan, dunia ini penuh dengan ketimpangan dan ketidakadilan, dan aku menjadi bagian darinya.”

“Menjalani pusaran fitnah zaman akhir, kedustaannya, kebenaran tampak sebagai kebatilan, dan sebaliknya, kebatilan menjadi pujaan. Keadilan sebatas kerinduan, fitnah-fitnah masih akan terus menimpa.”

“Terkadang aku cukup puas mendapatkan duri dan tulang yang tak seberapa dari fitnah dunia ini. Sementara perbendaharaan dunia yang sebenarnya tak seberapa kunikmati.”

“Aku juga cukup gembira menikmati sedikit umpan, sementara aku sebenarnya kehilangan jauh lebih besar dari yang aku dapatkan.”

“Menikmati sedikit upah yang aku dapatkan, tak sebanding dengan sakit yang aku rasakan saat para tiran dunia itu membutuhkan tumbal bagi kekuasaan mereka, saat aku dijadikan kambing hitam yang dikorbankan, aku bisa dicampakkan begitu saja.”

“Seringkali kita hanyalah orang kecil yang diperalat oleh tipu daya dunia, kita tak berdaya menghadapi semua belitan fitnah itu. Kita hanya bisa berbuat sebatas kemampuan kita. Bukankah kita punya Tuhan Yang Maha Kuasa, yang berjanji akan membuka pintu pertolongan-Nya. Pada suatu saat nanti pintu terbuka, terwujud kedamaian yang sebenarnya.”

“Namun sayang sekali, sebelum semua itu terwujud, aku masih akan terus menzhalimimu, menimpakan ketimpangan dan ketidakadilan atasmu, selagi aku mampu melakukannya.”

“Aku juga masih akan terus mengolok-olokmu, mencacimu, dan menghina keburukan yang kau perbuat, selama aku bisa melakukannya. Dengan itu aku mengobati sedikit rasa sakit akibat kedzaliman yang kau timpakan.”

http://www.dakwatuna.com/2015/04/21/67560/pks-ataupun-pdip-sebenarnya-kita-tuh-bersaudara/

Jumat, 10 April 2015

Mewaspadai Upaya Menjebak Saudi di Antara Benturan Sunni-Syiah

Perubahan arah kebijakan Arab Saudi di bawah kendali Raja Salman tentunya dirasa membawa angin segar bagi kalangan Islamis dan terutama bagi Ikhwan. Akan tetapi, belajar dari pergolakan-pergolakan yang terjadi di berbagai belahan dunia, sejak dari Perang Teluk, Reformasi Indonesia, perang melawan terorisme, hingga Arab Spring, perlu sebuah kewaspadaan ekstra bahwasanya kemesraan antara Saudi dan Islamis bisa jadi justru merupakan jebakan yang berujung pada target penghancuran keduanya.

Baik Reformasi di Indonesia maupun Arab Spring, seringkali Islamis berada di garda terdepan. Namun kita jangan menyederhanakan permasalahan, bahwa pergolakan-pergolakan tersebut adalah proses demokratisasi yang akan menjadikan Islamis tampil sebagai leading. Kita sedang berada di pusaran fitnah akhir zaman yang dahsyat, ada tangan-tangan tak tampak yang bermain di belakang peristiwa-peristiwa besar, mendesain, merencanakan secara sistematis dan terstruktur, dengan agenda-agenda yang berkebalikan dengan yang diperkirakan kalangan Islamis.

Hasil dari pergolakan-pergolakan yang terjadi, bukanlah runtuhnya diktator menuju terwujudnya pemerintahan yang demokratis atau islami, tetapi justru makin termarjinalisasinya kalangan Islamis itu sendiri. Membenturkan antara kekuatan reformis dan status quo, antara kalangan sekuler dan Islamis, serta antara kalangan tradisionalis dan kontemporer, berakibat memperlemah kekuatan Sunni secara signifikan, terjebak pada berbagai kepentingan yang saling berbenturan. Akhirnya berujung jatuhnya satu per satu negara-negara Muslim Sunni ke dalam pengaruh Syiah, dimulai dari Iran, Suriah, Libanon, Irak, Afghanistan dan Yaman. Juga menguatnya peran politik Syiah secara global, termasuk di Indonesia.

Terkait dengan benturan antara Sunni dengan Syiah, tidak sesederhana menumpas pemberontakan Syiah Hutsi di Yaman atau berhadapan dengan Iran. Di balik menguatnya pengaruh Syiah, ada kolaborasi yang pelik di antara kekuatan-kekuatan super power dunia, benturan antara Barat dan Timur, dan tentru saja akar permasalahan dunia itu sendiri, Zionisme, serta pertarungan antara al haq dengan al bathil. Apa yang dicapai Syiah saat ini, tidak didapat dengan tiba-tiba, tetapi telah melalui upaya yang sistematis dalam berbagai bidang, tahapan demi tahapan yang sangat terukur, telah dilaksanakan selama beberapa dekade bahkan sejak beberapa abad yang lalu (Baca: Di Ambang Syiah).

Dalam perspektif era Kolonialisme Barat beberapa abad lampau, upaya penaklukkan dunia Islam tentunya amat memperhitungkan kondisi dunia Islam waktu itu, potensi friksi terbesar dan paling signifikan adalah antara Sunni dan Syiah. Rivalitas keduanya silih berganti mendominasi sejarah dunia Islam. Inilah yang melatarbelakangi kolaborasi manis antara Syiah dan berbagai kekuatan luar dalam berhadapan dengan Sunni. Dalam perspektif ini, kondisi umat Islam pada saat ini khususnya kalangan Sunni, bisa dikatakan berada di ujung tanduk, terkepung berbagai kepentingan yang bertarung memperebutkan supremasi dunia.

Ketika benturan antara Sunni dan Syiah terjadi secara terbuka, diperlukan sikap yang hati-hati dan kewaspadaan yang ekstra, terutama bagi kalangan Islamis dan Jihadis. Kita tidak hanya berada pada era kecanggihan teknologi yang kasat mata, tetapi juga era kecanggihan strategi dan tipu daya. Belajar dari peristiwa-peristiwa sebelumnya, memperhatikan kompleknya permasalahan yang dihadapi, jangan sampai keteguhan mereka justru menjadi blunder, terjebak dan menjadi bulan-bulanan, kontraproduktif dengan tujuan yang ingin dicapai, melengkapi kelemahan komitmen kalangan sekuler dalam tubuh Sunni itu sendiri untuk menjaga eksistensi Sunni.

Bisa jadi, kondisi dunia saat ini belum kondusif untuk tujuan akhir yang ingin dicapai, artinya masih membutuhkan kerja keras dan banyak pengorbanan. Terutama juga penting dicermati bagi Ikhwan, diperlukan kebesaran hati untuk tidak tersandera pada kezhaliman yang menimpa mereka selama ini, termasuk kepedihan yang menimpa mereka pasca Kudeta Mesir, demi kepentingan yang lebih besar, ketika umat ini berada di ujung tanduk. Bukan untuk meraih kekuasaan jangka pendek, dan memang tak mungkin akan dicapai di tengah cengkeraman tiran dunia, tetapi ustaziyatul alam yang universal, yang membutuhkan jalan yang lebih panjang.

Ketika umat Islam berada pada kondisi yang sangat lemah, tidak memiliki kemandirian secara teknologi, termasuk sebatas menjadi pemakai dalam bidang persenjataan militer, sekaligus berhadapan dengan pertarungan strategi yang sengit, diperlukan kemampuan yang baik untuk menempatkan diri di antara benturan berbagai peradaban dunia, bukan sebaliknya.

Seolah jalan terbentang, padahal tak ubahnya hanya sebuah jebakan, begitulah dahsyatnya fitnah akhir zaman. Kita perlu mewaspadai jika di balik pergolakan ini ada upaya ‘memursikan’ Saudi sekaligus juga penghancuran bagi Ikhwan. Sulit dibayangkan jika bagunan-bangunan megah yang baru saja dibangun di dua kota suci, hancur lebur menjadi abu.

Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nashir.

Wallahu a’lam bishawwab.


http://www.dakwatuna.com/2015/04/10/67069/mewaspadai-upaya-menjebak-saudi-di-antara-benturan-sunni-syiah/

Kamis, 02 April 2015

Orang NU, tapi Suka Media Muslim Modernis

Oleh: Fadh Ahmad Arifan
Alumni MAN 3 Malang

Mumpung isu pemberangusan media Islam masih hangat, dalam artikel ini saya ingin menuliskan kisah ayahku yang berdarah Madura (Bangkalan), didikan Pesantren dan kental dengan sopan santun kepada Kiai. Beliau ini sosok yang unik dan langka, karena sebagai warga Nahdliyin di kampung Kotalama, kota Malang; ternyata saat mudanya suka baca buku dan media cetak Islam. Kebiasaan inilah yang nantinya menurun kepada anak-anaknya, termasuk saya.
Sebagai orang NU, anehnya ayah tidak punya sebiji pun buku-buku karangan kiai dan tokoh-tokoh yang duduk di kepengurusan PBNU. Justru saya ketahui, beliau memiliki koleksi buku-buku Bey Arifin, cerita silat Ko Ping Ho, Memoar Hasan al-Banna dan bukunya A. Hassan (tokoh Islam modernis).  Selain buku, semasa mudanya, ayahku mengkoleksi Majalah al-Muslimun dan mengikuti beberapa edisi majalah Panjimas. Konon, majalah al-Muslimun ini dihibahkan kepada guru ngaji saya di kampung Kotalama, namanya Mas Mulyono. Mas Mul ini seorang anggota GP Anshor asal Madura. Karena cerdas dan fasih baca kitab kuning, beliau direkrut Muhammadiyah kota Malang.
Ayah sempat bilang, “Kalau tahu kau suka baca, Majalah al-Muslimun tersebut tidak akan aku lepas.”
Majalah ini punya pengaruh besar dalam pembentukan paham keislaman ayah. Melalui majalah inilah, ayah mendapat pencerahan. Sebagaimana bung Karno mendapat pencerahan dari A. Hassan sewaktu diasingkan di Ende, Flores. A. Hassan dikenal tokoh memiliki penguasaan ilmu fiqh, qawaid fiqhiyah dan ilmu mantiq yang bagus sehingga argumen-argumennya sistematis dan tidak bertele tele. Ini berbeda dengan Kiai, yang tarulah sama-sama penguasaan ilmu fiqh tetapi dalam berargumen masih mengutip utuh teks kitab kuning. Begitu analisis ayah.
Media Muslim modernis yang pertama hadir di bumi nusantara adalah Majalah al-Manar. Bila pembaca melihat film Sang Pencerah, Majalah ini diperkenalkan oleh KH Ahmad Dahlan.
Kembali ke majalah al-Muslimun, pengaruh dari medianya Muslim modernis ini berimbas pada amaliah ibadah ayah. Tidak seperti warga Nahdliyin lainnya yang menganggap tradisi ke-NU an “wajib” khususnya tahlilan, yasinan dan lain-lain.
Ayah termasuk orang NU di Kotalama yang tidak menganggap itu sebagai sebuah keharusan. Beliau adalah orang yang pertama di kampung yang tidak menggelar tingkepan (tradisi 7 bulanan) saat hamilnya ibu saya. Malah beliau berani tidak mengadakan tahlilan untuk kembaran saya yang wafat berusia 6 hari. Namun tidak semua amaliah atau tradisi NU yang ditinggalkan ayah. Misalnya tasyakuran haji masih tetap digelar ketika tahun 1996 dan Syukuran pindahan rumah dari Kampung kotalama ke perumahan Sawojajar.
Untuk urusan perayaan hari Ied Fitri, ayah tidak patuh keputusan PBNU. Beliau mengacu pada putusan Saudi. Katanya, “Saudi dan Indonesia Cuma selisih 4 jam, jadi semisal hilal tak terlihat di Indonesia, kita bisa menanti putusan pemerintah Saudi.”
Selain terhadap amaliah, pengaruh bacaan beliau juga berimbas kepada orientasi politik dan pemilihan lembaga pendidikan. Dalam hal politik, ayahku simpatisan Masyumi. Menariknya beliau mendapat jodoh seorang muslimah Muhammadiyah yang berasal dari keluarga Masyumi. Ibuku seorang keturunan Madura (Bangkalan). Beliau dididik kental dengan tradisi Muhammadiyah. Bahkan sekolahnya pun di lembaga milik Muhammadiyah. Meski ayah beristrikan seorang yang berbeda kultur agama, tapi beliau tidak otoriter dan memaksa istrinya ganti haluan menjadi NU.
Karena kagum kepada kebesaran partai Masyumi, dari pemilu 2004 hingga 2014, ayah memilih dukung PKS. Beliau mengaku dukung PKS karena 2 hal: Partai ini dipandang reinkarnasi Masyumi dan di dalamnya diisi anak-anak muda yang pintar seperti Mahfud Shiddiq, Fahri hamzah dan Anis matta. Ketika 2008 dan 2010 PKS deklarasi jadi partai terbuka, dukungan beliau tidak surut. Malah beliau mendorong saya menjadikan fenomena pergeseran paradigma politik PKS sebagai bahan tesis di Pascasarjana UIN Malang.
Hasil tesis tersebut saya paparkan kepada ayah dan ibu. Setelah mereka mendapat penjelasan dari saya, mereka hanya berkomentar, “Jadi partai terbuka terutama di daerah bukan basisnya maupun minoritas muslim merupakan sebuah keharusan dalam politik.” Mereka menambahkan, “Yang penting liqa’ tetap jalan dan dakwah di parlemen tidak surut.”
Dalam pendidikan, ayah dan ibu tidak menyekolahkan saya dan adik ke lembaga pendidikan NU. Saya disekolahkan ke Madrasah milik pemerintah seperti MTSN 1 dan MAN 3 malang. Ketika itu kepala sekolahnya masih bapak Abdul djalil. Sosok yang  berhasil membangkitkan MIN Malang 1, MTSN 1 dan MAN 3 malang dari sekolah pinggiran menjadi sekolah favorit. Sebelum menutup artikel ini, dari luasnya bacaan ayah, beliau sering mengingatkan kepada saya dan adik, “Fanatiklah kepada Islam, soal NU dan Muhammadiyah, itu tidak ditanyakan di alam kubur.”
Wallahu a’lam bishawwab.
Fimadani

Rabu, 10 Desember 2014

NU, Terorisme dan Ancaman Sesungguhnya

Kepulan asap dari berbagai jenis merk rokok terlihat memenuhi ruangan belakang Aula Pondok Pesantren Al-Hikam, Depok. Sementara di bagian depan sejumlah orang masih tampak serius menyimak penuturan para penceramah yang didatangkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme.

Pekan ini, tepatnya pada Sabtu hingga Senin, 6-8 Desember 2014, Ponpes Al-Hikam bekerjasama dengan BNPT menggagas sebuah acara bertajuk “Silaturahim Nasional Penguatan Aswaja dan Penanggulangan Terorisme dalam Ketahanan Nasional”. Acara itu mendatangkan sekitar 300 pengurus cabang dan wilayah salah satu organisasi massa terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU).

Saat Kiblat.net mengikuti acara tersebut, sebagian peserta cukup antusias mengikuti acara itu. Sebagian lainnya ada juga yang memilih lesehan sambil merokok di pinggir aula yang terletak persis di depan Masjid Al-Hikam. Tak sedikit pula para peserta dari luar daerah ini malah tiduran di teras masjid.

Pada hari pertama dibukanya acara, sejumlah pejabat tinggi negara tampak hadir. Sebut saja, Kepala BNPT Saud Usman Nasution, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, serta Menteri Sosial Khofifah I. Parawansa. Kepala BIN Marciano Norman dan Menlu Retno Marsudi sedianya akan hadir, namun keduanya mengutus perwakilannya masing-masing.

Dua hari sebelumnya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, KH Hasyim Muzadi menggelar konferensi pers dan mengundang sejumlah wartawan untuk mensosialisasikan acara yang disebutnya hajatan BNPT ini. Tujuannya adalah untuk membentengi pengurus dan para kader NU dari berbagai gempuran ideologi asing termasuk terorisme. Maka, dari porsi jadwal acaranya sudah bisa terbaca dengan jelas, agenda deradikalisasi dan sosialisasi bahaya terorisme menjadi bahasan utama.
kiblat.net

Dalam acara tersebut, Deputi I Bidang Pencegahan & Deradikalisasi BNPT, Agus Surya Bakti terang-terangan meminta dukungan para ulama terkait sosialisasi cetakbiru pencegahan terorisme. BNPT berencana mengajukan diberlakukannya aturan yang tegas mengadopsi dari UU Internal Security Act (ISA) seperti di Malaysia dan Singapura. Pasalnya, UU yang ada saat ini (UU No 15/2003) dianggap kurang tegas untuk menghukumi para pelaku teror di Indonesia. Bahkan, Kepala BNPT Saud Usman Nasution dengan tegas menyatakan, “terorisme tidak akan berakhir sebelum Islam tegak.”

Jika dilihat dari sudut pandang BNPT sebagai penggagas acara, maka para tokoh-tokoh NU ini merupakan para opinion leader yang diharapkan dapat membantu BNPT melakukan sosialisasi terorisme ke kalangan akar rumput. Dalam teori ilmu komunikasi, dikenal istilah gatekeeper atau opinion leader dalam model-model komunikasi massa. Para tokoh NU ini merupakan gerbang informasi, tokoh yang dipercaya masyarakat dalam hal agama. Maka, BNPT memandang perlu untuk men-brainwash tokoh-tokoh ini demi kepentingan mereka.

Pemberantasan Terorisme, kepentingan siapa?

Tapi yang patut menjadi catatan bersama, pertemuan ini ternyata sejalan dengan agenda dan kepentingan asing. Visinya sejalan dengan visi pemberantasan terorisme ala Barat. Rand Corporation pada 2007 silam pernah menerbitkan laporan berjudul “Building Moderate Moslem Networks” yang ditulis oleh Angel Rabasa, Cheryl Bernard, Lowell H. Schwartz, dan Pieter Sickle.

Menurut, laporan Rand Corporation, untuk memerangi apa yang mereka sebut “ekstremisme Islam”, ada tiga partner potensial yang bisa digunakan Amerika. Mereka adalah kelompok sekuler, kelompok muslim liberal dan kelompok moderat tradisionalis dan kalangan sufi. Kelompok tradisional moderat akan dipancing dengan adu domba musuh-musuh Islam, dibuatkan propaganda tentang bahaya kelompok Wahabi dan dimunculkan kembali pertentangan soal-soal khilafiyah yang bersifat furu.’ Selain itu, juga dengan dibuatlah beragam stigmatisasi, seperti mengampanyekan bahaya “wahabisasi global”, “ideologi transnasional”, dan lain sebagainya.

Padahal, sebelumnya KH Hasyim Muzadi menegaskan bahwa ia tidak mau ditunggangi kepentingan asing. Tapi faktanya, cara-cara BNPT dalam memberantas terorisme masih memakai manual book dari Barat. Maka, tak aneh jika kemudian pertemuan itu menghadirkan para pembicara yang justru meneror para pengurus NU dengan adanya ancaman ideologi transnasional.
nasir-abbas

Di acara itu, ada sosok Nasir Abbas yang menggantikan Ali Imron dan Ali Fauzi yang batal hadir. Nasir selalu mengulangi lagu lama yang sering diceritakan di mana-mana perihal kisah tobatnya dari seorang teroris. Konon, kabarnya ia tobat karena terkesima melihat polisi penjaganya lebih rajin shalat berjamaah dan puasa sunnah Senin-Kamis ketimbang dirinya.

Ada juga seorang Abdi Kurnia yang mengaku pengamat gerakan Ikhwanul Muslimin, ia meracau di depan para kiai NU dengan mengatakan bahwa Sayyid Qutb adalah agen Yahudi. Abdi menuduh Sayyid Qutb sebagai agen freemason karena dia lahir di Ramses, Mesir dan berprofesi sebagai tukang jam. Persis dengan Syaikh Nashiruddin Al-Albani. Menurutnya, pada masa itu yang pake jam tangan cuma kaum yahudi. Otomatis, Sayyid Qutb adalah agen freemason, organisasi zionis internasional.

Yang lebih menyakitkan justru datang dari Dr. Solahudin, penulis buku “NII Sampai JI” yang juga orang kepercayaan peneliti IPAC, Sidney Jones. Dengan nada tegas ia menyatakan SD-IT dan kegiatan Rohis (ekstrakurikuler bimbingan Islam, red) merupakan biang intoleransi dan sarang kelompok teror.

Pada sesi diskusi, tanggapan para peserta diskusi juga menarik. Ada salah seorang peserta dari Riau yang gerah dengan sikap toleransi NU yang kebablasan. Menurutnya, NU selama ini hiper toleran kepada aliran sesat. “Sehingga kalau tidak dijadikan seperti FPI, tahun 2020, NU akan hancur,” ujar Fathurrohman dari PCNU Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

Atau salah satu perwakilan NU dari Aceh yang membantah ucapan Nasir Abbas dan Solahudin soal definisi terorisme. Menurutnya, ketidakjelasan definisi terorisme menimbulkan adanya standar ganda dalam penerapan hukum anti terorisme. “Teror itu pelakunya bisa individu, kelompok/jaringan bisa juga negara. Selama hal itu berdampak meluas dan merugikan masyarakat. Seharusnya kebijakan Jokowi dalam menaikkan harga BBM juga bisa dikategorikan perbuatan teror,” tandasnya.

Syiah dan Liberalisme, ancaman NU sesungguhnya

Meski demikian, patut kita berikan apresiasi yang mendalam ketika pertemuan tersebut membahas bahaya liberalisme dan ideologi syiah. Kedua hal inilah yang sesungguhnya menjadi ancaman faktual bagi Nahdlatul Ulama. Paska reformasi, Nahdlatul Ulama seolah mengalami krisis identitas ketika dipimpin oleh para tokoh liberal. Kader-kader NU sekonyong-konyong meninggalkan akar historis mereka dan mengidolakan sekularisme dan liberalisme.

Apalagi, NU sebagai ormas yang diperhitungkan di Indonesia dan punya basis massa yang mengakar selama ini justru selalu ribut di kalangan internal mereka sendiri. Acara yang digagas Mbah Hasyim Muzadi ini justru tak dihadiri oleh Ketua Umum mereka yang sangat gandrung terhadap Syiah, Said Agil Siradj. Belum lagi kalau berbicara perpecahan NU di ranah politik.

Maka, menghadapi asupan informasi yang disuplai oleh BNPT dalam hajatan anti terorisme ini, para kader-kader NU di daerah harus benar-benar memilah dan memilih. Mana informasi yang sahih dan dapat dipercaya, mana kabar burung yang justru meneror dengan pepesan kosong.

Benarlah kata pepatah Arab kuno, هَلَكَ امْرُؤٌ لَمْ يَعْرِفْ قَدْرَهُ “Hancurlah seseorang yang tidak tahu dirinya sendiri.”

Wallahu a’lam.

Penulis: Fajar Shadiq

*sumber: http://www.kiblat.net/2014/12/10/nu-terorisme-dan-ancaman-sesungguhnya/

Selasa, 09 Desember 2014

Menohok Amerika, Beda Jepang, Beda Tiongkok

Serangan Jepang terhadap pangkalan Angkatan Laut AS Pearl Harbor menjadi kemenangan sesaat yang gemilang bagi Jepang. Akan tetapi, dalam jangka panjang ternyata merupakan sebuah kesalahan strategi, menentukan kekalahan Jepang pada Perang Dunia II. Serangan tersebut menjadi blunder, seperti mengusik raksasa yang sedang diam. Menjadi alasan bagi AS untuk ikut serta dalam Perang Dunia II.

Jepang memang dengan mudah menaklukkan seantero Pasifik Barat dan Asia Tenggara, tapi tidak mampu menjangkau jantung kekuatan AS sama sekali. Sedang jantung kekuatan Jepang justru terjangkau oleh musuh. Dengan demikian, AS leluasa mengkonsolidasikan sumber daya, kekuatan, dan teknologi untuk keberlangsungan perang. Sebaliknya bagi Jepang, sumber daya dan kekuatan yang dimiliki semakin melemah.

AS memenangkan Perang Dunia II, untuk selanjutnya memenangkan Perang Dingin. Kemenangan tersebut dipakai untuk mendikte dunia bahwa Komunisme telah gagal dan tidak relevan, sedang Kapitalisme adalah konsep ideal untuk peradaban dunia kita.

Disadari atau tidak oleh AS, superioritas dunia tak pernah langgeng. Sejak runtuhnya Uni Sovyet, AS memang menjadi seperti satu-satunya kekuatan super power dunia. Tetapi hanya kurang dari dua dekade kemudian, RRC sudah tampak berpotensi menyalip posisi tersebut.

Lantas apakah AS membiarkan begitu saja posisinya sebagai super power dunia jatuh ke pihak lain, membiarkan rivalnya mengambil alih posisi tersebut, tanpa melakukan upaya-upaya meredam laju kompetitornya, juga upaya mempertahankan posisinya?

Dunia dan kompetisi memperebutkan supremasinya, adalan pertarungan strategi yang teramat pelik. Seringkali yang terjadi bukan hanya kompetisi yang fair. Sehingga, di balik pencapaian menakjubkan yang dicapai RRC, seharusnya kita bertanya, jika di balik itu ada hal tak tampak, yang tidak diketahui publik pada umumnya?

AS memenangkan Perang Dingin tidak dengan kekuatan senjata atau nuklir sekalipun, tetapi Uni Sovyet dieksekusi dengan pertarungan dalam bentuk lain. Dan ini bisa diambil pelajaran oleh rival-rival AS untuk menundukkan superioritasnya. Bukan hanya kekuatan, tetapi strategi yang jitu, lihai dalam memainkan situasi.

Jika demikian, munculnya RRC ke pentas dunia tentunya juga tidak mungkin dengan tangan kosong belaka, bukan melenggang dengan cuma-cuma. Tetapi sebelum melangkah telah mempersiapkan suatu perencanaan yang sistematis, mengidentifikasi tantangannya, dan mempersiapkan semua sarana untuk mengamankan agenda yang dijalankan. Mewujudkan agenda yang membutuhkan backup dan pengawalan dari berbagai bidang lain, ditunjang secara politik, kekuatan lobi, hingga intelijen.

Reformasi Indonesia beserta benturan kepentingan-kepentingan besar di dalamnya, bisa menjadi gambaran awal untuk melihat pertarungan strategi serta perebutan pengaruh di antara kepentingan-kepentingan tersebut. Asia Tenggara sejak lama menjadi medan perebutan pengaruh antara Barat dan Timur. AS sempat menancapkan hegemnoninya, menyingkirkan pengaruh Uni Sovyet. Tetapi kompetisi terus berlanjut, seiring menguatnya pengaruh RRC, AS harus menghadapi kompetitor baru.

Kepentingan AS untuk untuk mengkhiri kekuasaan penguasa-penguasa lokal yang tak dikehendaki, termasuk menumbangkan kekuasaan Soeharto. Reformasi Indonesia, yang tampak sepertinya memang kepentingan AS yang bekerja, sarana-sarana kepentingan AS yang dipakai.

Tetapi beberapa tahun pasca reformasi berlangsung, justru tampak pengaruh RRC semakin menguat di kawasan ini, lebih signifikan dibanding masa Orde Baru. Sudah bisa dilihat siapa yang lebih banyak memanen reformasi yang bergulir di Indonesia.

Bekerja, mengeluarkan keringat, sementara pihak lain lebih menuai hasilnya. Untuk tidak dikatakan sekadar diperalat, tetapi sebuah pertarungan strategi, tempat di mana penuh pengkhianatan dan intrik, tinggal mana yang lebih piawai membaca dan mengendalikan situasi. Sebuah indikasi adanya penumpang gelap yang ikut bermain.

Sebuah titik lemah bagi AS di Asia Tenggara, mitra utama kepentingan AS di kawasan ini justru ditopang etnis keturunan Tionghoa. AS terlalu plural, berakibat ancaman dekadensi loyalitas.

Secara geografis Asia Tenggara lebih dekat ke RRC. Tetapi bukan semata faktor tersebut, ancaman terhadap hegemoni AS juga menjangkau ke kawasan lain, Afrika, Timur Tengah dan Eropa Timur.

Berkaca dari reformasi Indonesia, kemungkinan berulang di Timur Tengah. AS bersusah payah mengerahkan sumber daya untuk melakukan perang melawan terorisme dan Arab Spring, termasuk indikasi menciptakan semacam ISIS dan bersusah payah menumpasnya sendiri, bisa jadi pihak lain yang akan meraup hasilnya. Rival-rival AS bisa bermain memanfaatkannya, untuk kian mengokohkan pengaruhnya di kawasan tersebut. Ada beragam kepentingan yang sulit dikendalikan, seperti rivalitas antara Suni dengan Syiah, menuntut kejelian dalam memilih mitra yang loyal.

AS boleh merasa jumawa dalam memenangkan Perang Dingin, mampu meluluhlantakkan Blok Timur. Situasi bisa berbalik, ide segar bisa berpindah, Ukraina bisa menjadi contoh awal, AS dan Barat tak berdaya mempertahankan kepentingannya di negara tersebut.

Era Perang Dunia II memang diselesaikan dengan senjata. Sejauh mana Jepang tidak mampu menyentuh jantung kekuatan AS, tetapi AS mampu menjangkau jantung kekuatan Jepang. Kini adalah sebuah era yang berbeda, tak hanya bergantung pada pertarungan fisik, era perpaduan adu strategi.

AS terlalu plural, memungkinkan lobi-lobi dari luar memengaruhi kebijakannya. Membuatnya lebih cepat menjadi jenuh, terlalu banyak kepentingan yang bisa menjadi beban. Sejauh mana lobi rival-rival AS masuk ke jantung pusat pengambil keputusannya, dan sejauh mana lobi AS tidak mampu menembus rivalnya.

Penting diperhatikan oleh rival-rival AS, dalam menentukan mitra kepentingan, tidak semata berorientasi jangka pendek, tetapi memperhatikan juga aspek ideologi dan religi, untuk terjaminnya suatu loyalitas. (dakwatuna)

Senin, 17 November 2014

Pidato Ir. Soekarno Soal Gerakan Pemurnian Islam

Disaat ummat muslim Indonesia saling tuding dan menyalahkan. Mereka Pemikir Islam yang berbendera sekuler, pluralisme dan para pengagung harta makin merasa di atas angin dengan kedudukannya di pemerintahan negeri mayoritas muslim. Sang Pendiri negeri ini, yang foto-foto mereka pampang berdampingan saat caleg dan pemilu merasa paling akrab dan tahu persis sang Proklamator acuh dengan pemahaman dan pemikirannya yang murni. Kebanyakan dari mereka bahkan mungkin sebagian dari kita sudah merasa paling benar. Istilah wahabisme yang populer dilontarkan pengikut agama Syiah akhir-akhir ini yang menuduh berbagai macam. Bahkan dianggap sebagai ancaman bagi NKRI karena semangatnya memperjuangkan kemurnian Islam. Merasa risih saat orang-orang yang mengajak kembali ke petunjuk Al-Quran dan Sunnah. Kembali mengamalkan amalan Sahabat dan orang shaleh yang telah dijamin kesholehannya.

Presiden Pertama Republik Indonesia yaitu Ir. Soekarno pernah berbicara tetang pengikut salaf ini.

Buku berjudul "Dibawah Bendera Revolusi" (yaitu kumpulan tulisan dan pidato-pidato beliau) jilid pertama, cetakan kedua,tahun 1963 menjadi saksi bahwa ia mengajak untuk merenungi bahkan mengakui perjuangan dan jasanya di negeri ini. Di halaman 398, beliau mengatakan dengan jelas,
" Tjobalah pembatja renungkan sebentar "padang-pasir" dan "wahabisme" itu. Kita mengetahui djasa wahabisme jang terbesar : ia punja kemurnian, ia punja keaslian, - murni dan asli sebagai udara padang- pasir, kembali kepada asal, kembali kepada Allah dan Nabi, kembali kepada islam dizamanja Muhammad!"

Kembali kepada kemurnian, tatkala Islam belum dihinggapi kekotorannja seribu satu tahajul dan seribu satu bid'ah."
Lemparkanlah djauh-djauh tahajul dan bid'ah itu, tjahkanlah segala barang sesuatu jang membawa kemusjrikan!

Nampak jelas bahwa presiden pertama RI. Ir. Sukarno, sendiri menganggap gerakan wahabi adalah suatu gerakan "PEMURNIAN ISLAM", gerakan yang menentang seribu satu Tahayul dan Bid'ah yang ada dalam islam, Dengan semboyan "Kembali kepada Allah dan kepada Nabi".

Mari wahai saudaraku kita kembali kepada Al-qur'an dan As Sunnah kedua warisan Nabi Muhammad shallahu 'alayhi wassalam, agar kita selamat dunia dan akhirat. Aamiin (islamedia)

Senin, 10 November 2014

Masa’ Islam Kita Kalah dengan Bali!

Suatu ketika Ustadz Bachtiar Nasir bertanya bertanya kepada suatu jamaah, “Islam manakah yang paling baik?” Menurut Beliau Islam yang paling baik itu bukan Aceh, Sumatera Barat atau Yogyakarta, tetapi Islam terbaik di Indonesia itu adalah Bali.

Bagaimana mungkin? Ternyata hanya di Bali jamaah Shalat Subuh lebih banyak dari pada jamaah Shalat Jumat. Di Masjid Baitul Makmur Denpasar misalnya, jamaah Shalat Subuhnya bisa mencapai 700 orang, bahkan untuk hari Ahad lebih banyak lagi, sehingga tidak muat lagi di dalam masjid.

Bukan shalat-shalat jamaah saja yang semarak, kegiatan-kegiatan seperti taklim dan kajian keislaman tak kalah semangat. Mereka sangat antusias dalam mengkaji tafsir, hadis dan sebagainya, bahkan mendatangkan ustadz-ustadz dari luar. Demikian pula dalam berinfak, tak heran bila amal-amal sosial muslim di Bali lebih terurus dengan baik dibanding dengan yang dikelola umat lain yang mayoritas sekalipun.

Bali selama ini kita persepsikan tak identik dengan Islam. Para pendatang dari luar di Bali kebanyakan memang beragama Islam, tetapi mungkin kita lebih mengasumsikan mereka yang memilih bekerja di sana bukan muslim yang taat. Mungkin kita mengasumsikan muslim yang taat cenderung tidak memilih bekerja di Bali. Tetapi kenyataan yang terjadi, Islam di Bali justru tumbuh menakjubkan.

Lantas bagaimana dengan kita? Dalam kondisi sebagai mayoritas, kita lebih mengenal Islam, lingkungan dan tempat kita bekerja lebih kondusif untuk menjalankannya, lebih tersedia berbagai sarana di sekitar kita yang mempermudah untuk kita menjalankan ibadah. Tetapi ternyata kemalasan membuat amal kita tak sebanding dengan peluang yang semestinya bisa diraih.

Masjid-masjid kita yang sepi, padahal hampir tiap RT ada masjid. Sedikitnya orang yang mau mendatangi majelis-majelis ilmu. Nyaris tak ada lagi rumah-rumah yang membiasakan membaca Alquran di dalamnya. Tak sebanding dengan semaraknya hal-hal yang bersifat hiburan duniawi dan hura-hura di sekitar kita.

Beberapa dekade lalu, suasana di Bali masih seperti di negara-negara Barat, nyaris tanpa simbol-simbol Islam yang menonjol. Untuk mencari tempat shalat saja sulit. Tak dinyana jika di kemudian hari, syiar Islam di sana justru tampak bergairah. Sebaliknya kita, sepertinya malah seperti sudah jenuh dalam beragama. Beragama bagi kita rasanya seperti hanya turun-temurun semata.

Antara kuantitas dan kualitas, kita yang secara jumlah mayoritas tampak seperti hanya minoritas, mungkin seperti buih di lautan. Sebaliknya, mereka dalam kondisi sebagai minoritas, mampu melampauinya, dan benar-benar menampakkan syiar Islamnya.

Begitulah, dalam kondisi minoritas, penuh keterbatasan, tak menjadikannya penghalang, melampaui keterbatasan tersebut. Sedang kita, begitu banyak kesempatan yang terbuka, tetapi kita menyia-nyiakannya. Tidakkah kita malu dengan prestasi yang dicapai saudara-saudara kita di Bali?

Seringkali dengan berbagai nikmat yang diberikan kepada kita, tak membuat kita lebih dekat kepada agama, malah kita lebih banyak lalai, kita seperti tidak butuh dengan Islam. Sementara, saudara-saudara kita yang sedang terkena berbagai musibah, cobaan yang berat, menjadi korban konflik dan peperangan, tetapi dalam kondisi demikian sulit justru membuat mereka mendekat dengan agama.

Jika lebih banyak kesempatan kita sia-siakan, bagaimana jika nikmat-nikmat yang diberikan kepada kita ini dicabut? Apakah kita menunggu mendapat cobaan-cobaan seperti itu, baru mau mendekat kepada-Nya?