Senin, 14 Oktober 2013

Menjaga Sikap Adil Sekalipun Dalam Keadaan Terzhalimi


Menjaga sikap adil terkadang merupakan sesuatu yang berat, namun akan lebih berat ketika harus menjaga sikap adil di kala kezhaliman sedang menimpa. Tentunya akan ada dorongan yang lebih kuat untuk membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan serupa, membalas fitnah yang diterima dengan fitnah yang serupa atau bahkan melampiaskannya lebih besar lagi.

Ada sebuah pelajaran berharga dari perjalanan hidup Nabiyullah Musa AS kala remaja ketika melakukan sebuah kesalahan. Meski Musa diasuh oleh keluarga Fir’aun dalam istananya sendiri, bahkan menjadi kesayangannya, namun kaumnya Bani Israil mengalami penindasan, kesewenang-wenangan dan diskriminasi oleh Fir’aun. Di samping memperbudak, Fir’aun juga sempat membunuh setiap bayi laki-laki yang lahir dari Bani Israil.

Meski Musa tumbuh dalam kasih sayang Fir’aun, namun dia tidak menutup mata atas kezhaliman yang dialami kaumnya. Ketika suatu hari dia melihat dua orang berkelahi, antara seorang dari kaumnya dan seorang dari kaum Fir’aun, solidaritasnya secara spontan muncul. Musa memukul lawannya hingga tewas, meski sebenarnya tak sengaja ingin membunuh. Hal ini dikisahkan dalam Al Qur’an:
Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir’aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: “Ini adalah perbuatan syaitan, sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).” (QS. Al Qashash: 15)

Dengan segera Musa kembali pada kesadarannya, timbul penyesalan dan rasa bersalah pada dirinya. Maka dia bersegera untuk meminta ampun kepada Allah.
“Musa mendoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku.” Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Musa berkata: “Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang- orang yang berdosa.” Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa berkata kepadanya: “Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya).” Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: “Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? Kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian.” (QS. Al Qashash: 16-19)

Maka Allah mengampuninya, begitu mudah Allah mengampuni orang yang berbuat kesalahan kemudian mengakuinya, meminta ampun dan memperbaiki diri.
“Tetapi orang yang berlaku zhalim, kemudian ditukarnya kezhalimannya dengan kebaikan (Allah akan mengampuninya); maka sesungguhnya Aku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Naml: 11)

Bahkan kelak kemudian Nabi Musa AS mengakui kesalahannya di hadapan Fir’aun sendiri, tatkala diutus sebagai rasul kepadanya. Namun sebuah pembelaan juga diutarakan kepada Fir’aun, tentang perlakuannya terhadap Bani Israil yang semena-mena, yang bagaimanapun memengaruhi emosi seorang Musa hingga mendorong tindakan khilaf tersebut.
“Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna.” Berkata Musa: “Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf.” Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil.” (QS. Asy Syu’araa’: 18-22)

Dari peristiwa ini ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik. Kezhaliman yang menimpa tidak boleh menjadi dalih untuk melakukan kezhaliman serupa. Penindasan, kesewenang-wenangan dan diskriminasi yang diterima, tidak bisa menjadi alasan untuk melakukan tindakan anarkis, pelanggaran hukum atau main hakim sendiri.

Sekiranya kita mendapatkan fitnah, kecurangan, atau kedustaan secara bertubi-tubi, hendaknya sikap obyektif, kesantunan dan kejujuran tetap terjaga.

Sekiranya kita ditimpa penindasan ekonomi, maka hal itu tidak bisa menjadi pembenaran untuk melakukan perampokan atau penjarahan. Kita tidak dibenarkan merampok dengan alasan mengambil harta orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin.

Dengan demikian perjuangan yang dilakukan umat ini akan tampak elegan dan memperlihatkan ketinggian akhlak. Perjuangan ini hendaknya tidak ternoda oleh hal-hal yang bertentangan dengan hakikat dan tujuan perjuangan itu sendiri.

Tetapi yang harus diperhatikan, Kezhaliman penguasa terhadap orang-orang lemah tidak bisa disejajarkan dengan kesalahan orang-orang dalam keadaan lemah teraniaya. Kesalahan yang dilakukan orang-orang lemah lebih ringan dan lebih mudah dimaafkan di sisi Allah daripada kesalahan yang dilakukan tiran yang menindas mereka. Kesalahan orang-orang lemah yang berada dalam keadaan tertekan berbeda dengan orang-orang kuat yang berbuat melampaui batas dalam keadaan lapang.

Sehingga upaya mengentaskan orang-orang lemah dari kezhaliman yang mereka terima semestinya lebih diutamakan daripada menghukum mereka atas kesalahan yang diperbuat. Bisa jadi mereka berbuat kesalahan tidak semata-mata karena ingin berbuat kerusakan, namun kondisi tertekan yang mereka alami yang menyebabkan pelanggaran itu dilakukan. Sekiranya keadilan ditegakkan dan kezhaliman dihapuskan, niscaya lebih layak ditegakkan hukuman atas orang-orang berbuat keadaan lapang.
“Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zhalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim. Dan sesungguhnya orang-orang yang membela diri sesudah teraniaya, tidak ada satu dosapun terhadap mereka. Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih. Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS. Asy Syuura: 39-43)

Tidak semestinya kezhaliman terus dibiarkan terjadi. Upaya yang dilakukan orang-orang teraniaya untuk melepaskan diri dari kezhaliman adalah perbuatan mulia. Allah memberi mereka hak untuk membalas dengan setimpal dari kezhaliman yang menimpa. Hak menuntut balas ini juga menjadi salah satu instrumen pada upaya penegakan keadilan dan mencegah terjadinya kezhaliman. Namun tidak diperbolehkan berlebih-lebihan atau melampaui batas dalam membalas suatu kezhaliman.

Adakalanya orang-orang lemah yang mengalami penindasan luar biasa, tak mampu lagi mengendalikan diri sehingga melakukan tindakan yang nekad. Sehingga hal ini akan memperburuk kondisi yang mereka alami, dan menjadikan mereka akan semakin ditindas.
“Demikianlah, dan barangsiapa membalas seimbang dengan penganiayaan yang pernah ia derita kemudian ia dianiaya (lagi), pasti Allah akan menolongnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Hajj: 60)
“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (QS. An Nahl: 126).
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zhalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (QS. Al Isra’: 33).

Terkadang ujian datang begitu berat, ketika dituntut untuk bersikap adil ketika tertimpa kezhaliman secara semena-mena. Membutuhkan sesuatu kesabaran yang lebih. Sebagaimana beratnya ketika dituntut untuk berderma di kala kekurangan atau bersikap lapang ketika dalam kesempitan, pahitnya ujian ini akan berbuah pahala dan keutamaan yang lebih besar. Menjaga tegaknya keadilan kepada musuh yang teramat dibenci mungkin akan terasa berat sebagaimana halnya menjaga tegaknya keadilan ketika menyangkut orang-orang yang kita kasihi. Namun demikian Allah telah memerintahkannya kepada kita.
“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Maaidah: 8).
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran.” (QS. An Nisaa’: 135). (dakwatuna)

Minggu, 13 Oktober 2013

Imam Asy Syahid Al Buthi Muncul Lagi Di MTA

Untuk kesekian kalinya nama Imam Asy Syahid Al Buthi disebut di Radio MTA, tepatnya siaran ulang Jihad Pagi Majelis Tafsir Al Qur’an tanggal 1 September 2013 dengan nara sumber dr. Joserizal Jurnalis Presidium MER-C. Kalau tidak salah, Imam Asy Syahid Al Buthi adalah seorang ulama dari Suriah yang terkenal dengan kitabnya yang berjudul Syafi’i Bukanlah Sebuah Madzhab Tetapi Suaminya Bu Wulan Guru TK (mohon kalau salah dikoreksi ya).
 
Video ceramah tersebut diberi judul Pergolakan di Timur Tengah dan dapat diunduh di www.youtube.com/watch?v=rodgcsxuPHE. Mengenai apa yang disebut oleh dr. Joserizal sebagai Arab Winter (mungkin istilah ini kurang tepat, lebih tepatnya Arab Summer kali). Tapi kalau menyimak uraian secara keseluruhan serta momennya, ceramah dr. Joserizal sepertinya spesifik ke masalah kudeta Mesir disamping Suriah. Apakah dr. Joserizal Jurnalis sedang melakukan Road Show propaganda mendukung kudeta Mesir yang memang sedang musimnya, tentu saja tidak (maksudnya tidak ngaku). Memang tumben MTA  peduli amat pada masalah kudeta Mesir ini, sejak jaman Bahula MTA bukan spesialisnya mengurusi isu-isu beginian.

dr. Joserizal memuji bahwa Mesir, Libya dan Suriah adalah negara dengan kekuatan militer sangat kuat, tapi mungkin beliau lupa menyebutkan bahwa kekuatan militer Mesir yang sangat ‘kuat’ itu juga ditopang oleh bantuan puluhan milyar dollar dari Amerika Serikat tiap tahunnya. Kemudian dr. Joserizal juga memberikan pujian kepada negara-negara tersebut mengenai sikapnya terhadap Israel yang ‘jelas’. Pujian dr. Joserizal memang betul sekali, sikap penguasa Mesir terhadap Israel memang sangat ‘jelas’, apalagi pada masa kekuasaan Hosni Mubarak. Kalau sikap Basyar Asad terhadap Israel juga ‘jelas’, belum pernah menembakkan sebutir peluru pun ke Israel.

Namun pesan yang paling bermakna yang disampaikan dr. Joiserizal adalah agar kita tidak menari di atas genderang yang ditabuh orang lain. Coba bayangkan, seandainya Zionis mempunyai gawe dengan membuat kerusuhan di Ambon, kaum muslimin di sana banyak yang menjadi korban dan sangat membutuhkan pertolongan. Kemudian dr. Joserizal tidak sudi datang ke Ambon sehingga kaum Muslimin terheran-heran kenapa dr. Joserizal tidak mau membantu ke sana, tetapi malah sibuk melakukan kegiatan di tempat lain. Maka jawabnya tentu saja karena dr. Joserizal tidak mau mengikuti begitu saja skenario Zionis yang mendesain huru-hara Ambon. Sehingga lebih suka melakukan kegiatan di tempat lain yang merupakan program dan inisiatif yang dibuatnya sendiri.

Namun yang harus diingat, perjuangan umat ini skenarionya memang bukan berasal dari diri kita sendiri, bahkan untuk menciptakan kemanfaatan atau kemudharatan sebesar dzarrah pun kita tidak mampu. Tidak selamanya perjuangan ini melalui fase kemenangan yang penuh gemilang, adakalanya umat ini terpuruk ke titik nadhir dan menjadi bulan-bulanan tak berdaya. Dalam keadaan demikian pun bukan berarti musuh-musuh Islam ini sedang hebat, namun sepenuhnya hanyalah tipu daya Allah atas musuh-musuhnya. Kemenangan dan kekalahan dipergilirkan Allah untuk menguji siapa yang terbaik amalnya dari hamba-hambaNya. Tugas kita bukan menciptakan kemenangan atau menabuh genderang kehidupan ini, namun beramal yang terbaik yang kita mampu. Maka bagi dr. Joserizal hendaknya disadari agar amal-amal beliau yang senantiasa dibangga-banggakan itu jangan sampai menjadi hijab antara dirinya dan RabbNya.

Dan sayang sekali warga MTA belum sempat menghadirkan Imam Asy Syahid Al Buthi untuk memberikan tausiyahnya. Sehingga yang hadir pada Silatnas MTA kemarin adalah Al Imam Al Buthiyono (eh keliru, maksudnya Budiyono Pak Wapres).

Rabu, 09 Oktober 2013

Menambah (Sedikit) Manfaat Dari Perhelatan Politik Ini


Akibat buruk politik biaya tinggi di negeri ini tentunya akan kembali juga pada kita semua. Tapi itulah kenyataan yang terjadi, ketika publik semakin apatis dan pragmatis, semestinya juga menjadi bahan evaluasi bagi para pelaku politik di atas sana. Memang harus diakui, perjalanan perpolitikan pasca reformasi ini hasilnya belum seperti yang diharapkan, baik dalam bidang ekonomi, moral, dan sebagainya. Ungkapan berikut mungkin bisa sedikit menghibur keputusasaan publik, seribu tahun bersama pemimpin dhalim lebih baik dari pada satu hari tanpa pemimpin, tapi mungkin kalau kita belum mengalami sendiri belum percaya juga.

Jalan pintas yang paling mudah untuk menjawab sikap apatis publik adalah dengan cara membeli suara. Berbagai bentuk pemberian, sejak dari sembako, infrastruktur, hingga serangan fajar secara cash. Seiring persepsi publik yang buruk terhadap partai, begitu banyak kandidat yang ‘berjudi’ habis-habisan. Suatu investasi politik yang tidak hanya beresiko bagi para kandidat jika gagal, tapi juga membuat kondisi perpolitikan semakin tidak sehat.

Rasanya sampai bosan, atribut partai dan kandidat berseliweran di mana-mana. Sepertinya terlalu monoton dan kurang kreatif, dari tahun ke tahun bentuknya seperti itu-itu juga, stiker, kalender atau pamflet, dengan pesan klasik yang monoton, mohon doa restu dan dukungannya, pilih nomor sekian..., siap berjuang untuk rakyat dan itu-itu juga.

Mungkinkah dengan sekedar melihat logo partai atau foto caleg, lantas orang yang melihat akan memilihnya? Ya mungkin saja, namanya juga usaha, agar dikenal dan dipilih. Tetapi jangan menutup mata, masyarakat sedang apatis dengan yang namanya politik atau partai. Maklum juga, kondisi bangsa memang sedang seperti ini. Maka tidakkah berpikir untuk mencari terobosan yang lebih kreatif agar biaya yang tidak sedikit itu bisa lebih maksimal efeknya. Kata orang para caleg yang memajang fotonya di tepi jalan itu jadi seperti ngemis, jadi mestinya tertantang bagaimana agar atribut-atribut itu bisa bermanfaat dan memberi inspirasi banyak orang, sehingga orang yang melihatnya menjadi salut.

Apalagi bagi partai yang sumber dananya terbatas, perlu menyiasati agar biaya yang dikeluarkan bisa maksimal. Bahkan mengupayakan agar bisa bermanfaat ganda, tidak hanya secara politik, seperti kata pepatah, sekali mendayung dua pulau terlampaui. Tidak sekedar berupa atribut-atribut konvensional, tapi disisipi materi lain yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Kalau atribut itu sekedar logo partai dan foto calon, mungkin setelah pemilu sudah tak terpakai lagi, paling-paling juga hanya untuk menutup emperan lapak. Berbeda kalau artibut itu juga mengandung pesan bermakna seperti tentang menjaga kebersihan, membuang sampah pada tempatnya, ucapan salam, doa dan dzikir, kata mutiara dan sebagainya, setelah pemilu usai pun Insya Allah masih bermanfaat. Bisa juga baliho, banner dan spanduk, disisipi pesan-pesan dan informasi yang bermanfaat bagi pengguna jalan, petunjuk lalu lintas, peta, mempromosikan potensi lokal, atau pesan tentang lingkungan hidup, niscaya akan bermanfaat ganda dan setelah pemilu masih layak untuk terpajang. Agar tidak digaruk Panwas tentunya logo partai bisa ditutup materi lain yang serasi.

Atau memperbanyak materi keilmuan dalam bentuk buku atau majalah tentang berbagai tips-tips praktis yang berguna, kesehatan, memasak, dan hal-hal yang membuat orang yang dongkol politik pun ikut menikmatinya. Hal-hal yang memang dibutuhkan oleh masyarakat, dan memang bermanfaat bagi perbaikan masyarakat pada umumnya. Bisa juga  berbentuk buku yang berisi kisah inspiratif, motivasi, materi ceramah dan khutbah yang menyegarkan, ketrampilan sehari-hari, sarana belajar dan sebagainya. Hal-hal yang bersifat mencerahkan dan mencerdaskan, tapi jauh dari kesan menggurui.

Daripada hal-hal yang tidak simpatik, berbagai atribut ditempel di dinding, gapura, tiang listrik atau pagar yang membuat suasana menjadi lusuh. Coba bayangkan susah-susah kita kerja bakti mengecat gapura atau pagar, lantas setiap menjelang pemilu seenaknya orang menempelkan bermacam-macam gambar. Atau pohon di tepi jalan menjadi penuh dengan paku yang tertancap, mungkin pohonnya bisa menangis ya.

Efektifitas dalam meraih simpati publik perlu diperhitungkan daripada sekedar jor-joran yang tidak mengena. Adakalanya pesan yang disampaikan menjadi isu yang begitu berpengaruh. Di saat yang sama, kampanye dan pencitraan yang begitu masif, seolah hanya lewat begitu saja tanpa menaikkan elektabilitas yang bersangkutan. (dakwatuna)

Sabtu, 13 Juli 2013

Sinergi Antar Elemen Anti Korupsi


Penanganan kasus korupsi yang cepat, tegas, cekatan, hingga menghajar para pelakunya tanpa ampun merupakan impian segenap elemen anti korupsi di negeri ini. Meski sayangnya dambaan tersebut selama ini baru berupa mimpi yang berhadapan dengan upaya pemberantasan korupsi yang masih belum sesuai harapan. Sementara penanganan kasus korupsi yang menimpa PKS bergulir dengan kecepatan maksimal, menerjang hingga akar-akarnya yang paling dalam. Apakah penanganan kasus korupsi PKS ini merupakan kabar gembira tentang upaya pemberantasan korupsi yang telah berubah menjadi profesional?

Jika selama ini segala urusan yang menyangkut pemberantasan korupsi pada umumnya terkesan lelet, jalan di tempat, tebang pilih, tidak menyentuh inti persoalan, hingga dakwaan dan vonis yang dijatuhkan tidak memadai, maka penanganan kasus korupsi PKS justru berkebalikan dari hal-hal tersebut. Mengapa demikian, dan apa yang membuatnya berbeda? Disinilah kedewasaan dan kejelian kita teruji, apakah kita hanya akan terombang-ambing oleh opini media beserta agenda di belakangnya. Kebencian terhadap korupsi semestinya tidak membuat kita menutup mata terhadap kejanggalan-kejanggalan sekecil apapun dalam penanganan kasus korupsi, semestinya membuat kita lebih utuh dan cermat menyikapi situasi yang berlangsung.

Jika saat ini PKS teramat identik dengan korupsi, berbagai kasus dan skandal, sebenarnya pernah terjadi hubungan dan sejarah istimewa antara PKS dan berbagai elemen anti korupsi di negeri ini. Ketika pemberitaan media yang sangat gencar mengenai image PK hingga (kemudian menjadi PKS) sebagai komunitas yang bersih dan jujur, partai ini pernah menjadi ikon anti korupsi di negeri ini, menjadi tumpuan harapan sebagian masyarakat akan terwujudnya Indonesia yang bebas korupsi, pada masa-masa indah penuh kisah menakjubkan bak di negeri dongeng. Terlepas dari adanya pencitraan media pada masa itu, harus diakui memang ada spirit anti korupsi yang sangat kuat dan khas pada partai ini. PKS membesar dari citra anti korupsi yang dimilikinya.

Dalam kondisi yang tidak bisa menafikkan tingginya biaya politik, secara umum PKS mengantarkan kadernya menduduki posisi di legislatif dan eksekutif dengan biaya yang jauh lebih rendah dibanding kekuatan politik lain. Dari PKS lebih banyak lahir sosok-sosok sederhana yang menjadi anggota dewan atau pejabat. Anggota dewan yang berangkat ke kantor dengan motor bututnya atau naik angkutan umum, kepala daerah yang tinggal di rumah teramat sederhana atau rumah kontrakan, sosok-sosok yang teguh menolak suap dan mengembalikan gratifikasi hingga tunjangan bermasalah, sosok-sosok yang menjadi satu-satunya orang yang selamat dari proses hukum di saat semua rekannya terjerat kasus korupsi.

Kekuatan anti korupsi yang dimiliki PKS adalah riil mengakar di masyarakat, bukan sekedar lembaga dengan kewenangan yang dimilikinya ditopang oleh peraturan perundang-undangan yang bisa berubah-ubah tergantung pengambil kebijakan. Bukan sekedar sekelompok orang yang membuat LSM atau mengadakan kajian yang melontarkan wacana dan teriakan tentang pemberantasan korupsi, melakukan protes dan demo, tetapi riil sebagai pelaku penyelenggara negara, birokrasi, di legislatif dan eksekutif. PKS juga memiliki peran besar mengedukasi dan mengontrol ratusan ribu kadernya serta jutaan masyarakat dan umat tentang perilaku anti korupsi, hingga mendudukkan orang-orang bersahaja pada posisi-posisi berpengaruh di lembaga legislatif, eksekutif, keagamaan dan kemasyarakatan.

PKS merupakan aset yang cukup signifikan bagi upaya pemberantasan korupsi di negeri ini. Apakah kemudian potensi kekuatan anti korupsi yang dimiliki PKS  akan bisa dikelola secara efektif, ataukah akan mengendur dan tenggelam secara perlahan-lahan ke dalam dunia pragmatis dan korup, ataukah akan porak poranda oleh serangan balik kekuatan pro korupsi, atau bahkan kedua hal tersebut yang menimpa PKS sekaligus? Namun bagaimanapun PKS dan oknum-oknumnya melakukan kesalahan dan penyimpangan, sisa-sisa spirit anti korupsi di antara puing-puing reruntuhannya semestinya dipandang sebagai aset yang harus diselamatkan semaksimal mungkin untuk memperkuat perjuangan segenap elemen anti korupsi. Apalagi bila borok dan noda yang perpampang mencolok dalam diri PKS sebenarnya bagian dari permainan, konspirasi, festivalisasi dan jebakan kekuatan pro korupsi. Apa yang menimpa mantan ketua KPK Antasari Azhar sebenarnya bisa menjadi pembelajaran bagi segenap elemen anti korupsi, ketika begitu mudahnya kita menafikkan jasa beliau, bahkan ikut memojokkan tatkala beliau sedang menjadi bulan-bulanan sendirian.

Dengan demikian semua elemen bangsa yang peduli pada upaya pemberantasan korupsi baik perorangan, lembaga atau LSM, semestinya memberikan perhatian khusus kepada PKS. Jangan sampai aset PKS ini terhanyut dalam dunia yang pragmatis dan korup sementara elemen anti korupsi yang lain membiarkan tanpa merasa kehilangan, bahkan ikut mendorong menenggelamkannya. Juga jangan sampai aset PKS ini sendirian menjadi bulan-bulanan menghadapi serangan kekuatan pro korupsi, bahkan terjerumus tanpa sadar dalam permainan yang rumit penuh intrik, fitnah dan tipu daya, sehingga sesama elemen anti korupsi saling menghancurkan satu sama lain. Sebenarnya PKS sangat membutuhkan support dari elemen lain tidak saja untuk menghadapi serangan dari kekuatan pro korupsi, tetapi juga dalam upaya menjaga spirit anti korupsi dalam tubuh PKS sendiri.

Di saat tantangan berat menghadang upaya pemberantasan korupsi, belum ada upaya yang efektif untuk memberantasnya. Demokratisasi, pemilihan langsung, kebebasan pers, peraturan perundangan hingga lembaga khusus tidak membuat korupsi di negeri ini surut, bahkan sebaliknya. Operasi tangkap tangan yang memukau bak melahirkan selebritas korupsi tetap nihil dalam memberikan efek takut dan jera pelaku korupsi. Di sinilah pentingnya menjaga agar upaya pemberantasan korupsi tetap berada pada koridor yang benar. Penyimpangan dalam upaya pemberantasan korupsi, meski tampak menyenangkan, bisa menjadi bumerang yang menodai dan merugikan upaya pemberantasan korupsi itu sendiri.

Maka jika kasus korupsi PKS ini ditangani secara fair, tanpa tendensi politik, dan profesional, tidak seperti penanganan kasus korupsi pada umumnya, semestinya membuat elemen anti korupsi lain merasakan perih mengingat sejarah dan hubungan istimewa PKS dan pemberantasan korupsi yang pernah terjadi. Dan bila penanganan kasus korupsi PKS ini berjalan tendensius, keluar dari koridor hukum, membabi buta, diskriminatif atau menyerempet kepada hal yang bukan-bukan, semestinya tidak membuat elemen anti korupsi lain bersemangat membullying PKS atas nama pemberantasan korupsi.

Namun yang semestinya paling menjadi keprihatinan segenap elemen anti korupsi di negeri ini adalah menjaga agar spirit anti korupsi yang dimiliki PKS ini tidak semakin memudar, mengingat PKS adalah kumpulan manusia bukan malaikat, masih harus bersusah payah dalam perjuangan. (dakwatuna)