Jumat, 17 Januari 2014

Menaklukkan Hati, Kemenangan Sejati

Dapatkah seorang penakluk disebut sempurna dengan sekedar bisa menancapkan hegemoni kekuasaan dan memaksakan dominasi fisik, namun tanpa mampu memadamkan cita perlawanan yang terus bergemuruh, tak pernah surut melewati rentang generasi, hingga mereka yang tak berdaya itu kelak mampu menempatkan sang penakluk dalam lembaran hitam sejarah, menuliskan mereka sebagai penjajah, tak lebih?

Dapatkah suatu kemenangan dianggap sempurna sebatas membuat musuh takluk hingga ia sama sekali tak berkutik untuk melawan, menghajar habis-habisan hingga ia bersimpuh tunduk tak berdaya, sementara hati mereka tetap tegar untuk mengatakan ‘tidak’?

Betapa banyak rezim yang mampu mengukuhkan dominasi dalam waktu yang panjang, seolah mereka tampak sepenuhnya berlutut, namun jiwa mereka menolak mentah-mentah setiap doktrin yang diberikan. Meski kelihatan seperti tak berdaya, ketegaran jiwa mereka tidak sedikitpun melemah, tidak pula luluh.

Pantaskah seorang pemenang sejati merasa puas sekedar bisa memojokkan lawan hingga ia terhina, membungkam semua argumentasinya dengan telak hingga membuat lawan mati kutu, atau mempermalukannya di depan khalayak?


Di balik rasa puasnya mematahkan argumentasi lawan, sebenarnya ia sedang memupuk sikap antipati yang mengobarkan semangat perlawanan di dada mereka, untuk membalasnya suatu hari nanti. Di balik kepongahannya memenangkan perdebatan, justru menjadi tambahan amunisi bagi musuh yang kelak akan bersama-sama menghujamnya. Sikap semena-mena yang ia nikmati, sebenarnya memperpanjang daftar musuh dan membuat barisannya kian kokoh.

Tindakan menuruti kepuasan sesaat itu, bukankah kelak bisa menjadi penyesalan, menjadi bumerang dan tak sedikit pun menyisakan manfaat? Ketika perputaran kejayaan dan kekalahan terus bergulir, keadaan telah berbalik, sang penakluk menjadi tak berdaya, kebesaran dan kemuliaan sudah tak berbekas, kesombongan dan kekuasaan telah tercampakkan, menuai dendam yang sekian lama tersimpan.

Apalah arti kemenangan yang dulu diperoleh? Apa guna unjuk kekuatan dan pamer kekuasaan yang pernah dilakukan? Di antara pilihan antara yang memuaskan pada saat ini dan apa yang lebih bermanfaat suatu saat kelak, sejauh mana akal sehat tetap terjaga, pilihan pada yang sebenarnya bermanfaat.

Saat-saat bisa berbuat apa saja terhadap musuh, sering terabaikan bahwa kelak mereka akan bisa membalas kepahitan yang pernah menimpa. Jika mereka terlihat tak berdaya, kadang terlupakan tentang doa orang-orang terzhalimi yang masih fasih terucap. Mereka yang telah mengakui kekalahan pun, tak serta merta mau diperlakukan semena-mena. Mereka yang mengakui bersalah sekalipun, tak serta merta mau diperlakukan secara hina.

Saat-saat kejayaan itu dalam genggaman, masihkah kesulitan mereka dirasakan? Saat sedang berkecukupan, dapatkah kekurangan mereka dipahami? Saat-saat mampu menghinakan sesuka hati, adakah yang bisa merasakan jika ia mendapat perlakuan serupa? Saat-saat bisa menghukum, bagaimanakah jika suatu saat ia meminta pengampunan. Di antara sesal atas apa yang pernah dilakukan, pada saat-saat merasa membutuhkan mereka.

Alangkah indahnya bila kemenangan itu disempurnakan dengan menaklukkan hati, yang berbuah kemenangan sejati. Kemenangan yang tidak mengecil karena terbagi, buah dari menahan diri, kesabaran untuk mendapat yang lebih banyak.

Bagaimana membuat musuh merasakan sentuhan ketulusan, menaklukkan bara dengan cinta dan kepedulian, merubah antipati menjadi simpati, permusuhan menjadi persahabatan, memperlakukan mereka secara terhormat serta menyuguhkan kebesaran hati. Menyembunyikan nasihat tanpa melukai kehormatan. Menjadi jalan hidayah bagi mereka.

Meski mirip, menaklukkan hati dan memperdaya sepenuhnya berbeda. Akal licik, mengelabuhi dan memperbodoh dengan lihai mungkin lebih mudah merampas banyak hati, atau menuainya lebih cepat, namun buahnya tak bisa sepenuhnya sama dengan buah ketulusan, takkan abadi.

Takluknya hati sepenuhnya menjadi rahasia Sang Pencipta. Kelicikan tak sepenuhnya menjamin hati akan ditaklukkan, begitu pula kecerdikan dan ketulusan, sama-sama bukan jaminan. Ia semata-mata karunia dariNya.

“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal: 63)

Apakah pemenang sejati sudah merasa cukup puas dengan mendapatkan kemenangan-kemenangan parsial, kemenangan rendahan, terburu-buru merayakan kemenangan itu, puas dengan apa yang diperolehnya, hingga ia terbuai dan enggan melanjutkannya, menyempurnakan kemenangan itu menuju puncak yang sebenarnya?

Wahai para pemenang dunia, tidakkah engkau tertantang untuk menggapai kemenangan yang hakiki, kemenangan akhirat? Ataukah engkau biarkan kemenangan itu jatuh ke tangan orang-orang lemah yang bisa kau injak-injak semaumu?



Sabtu, 04 Januari 2014

Sosok Kakek, Ratu Adil, dan Partai Keadilan


Tentang Indonesia masa depan, dalam angan orang-orang lemah yang merasa tertindas, di antara karut marut bangsa yang tak kunjung usai, tentang terwujudnya masa keemasan sebuah negeri yang dipenuhi keadilan, kedamaian dan kemakmuran. Sebuah mimpi yang menjadi sandaran terakhir dan penghibur yang masih tersisa ketika satu demi satu harapan itu pupus, di antara kesulitan hidup yang mereka rasakan.

Kemerdekaan ini, ketika masih menjadi penantian, dalam waktu yang teramat lama, di dalam harapan orang-orang yang bersusah payah memperjuangkannya, adalah mimpi indah tentang kejayaan negeri yang dicitakan itu. Namun sekian lama kemerdekaan itu dicapai, ia tak seindah yang dibayangkan semula, makna kemerdekaan yang sesungguhnya semakin sirna. Cita indah itu seperti masih sama jauhnya atau malah terasa kian jauh.

Kemerdekaan ini tidak menghapuskan keluh kesah orang-orang lemah tentang kesewenang-wenangan dan kezhaliman yang masih leluasa terjadi di negeri ini. Nafsu angkara, keserakahan dan kesewenang-wenangan tak lagi dimonopoli oleh penjajah yang datang dari jauh, semua kebejatan itu juga mampu dilakukan sesama anak bangsa terhadap saudara mereka sendiri. Mengapa kemerdekaan ini tidak hanya mengubur sekian banyak jiwa-jiwa pejuang, namun sekaligus melahirkan manusia-manusia berperilaku nista di antara anak bangsa ini?

Sekiranya para penjajah itu masih mencengkeram negeri ini, masa keemasan negeri yang diimpikan itu rasanya akan mustahil untuk terwujud. Tetapi sekiranya para penjajah itu tidak pergi, mungkinkah juga zaman edan dengan segala kenistaannya bisa berlangsung di negeri ini?

“Partai Keadilan, kok ono sing milih ya?” (Partai keadilan! Kok ada yang milih ya) Kakek berkata dengan terkagum-kagum, bagaimana mungkin di TPS desa ini juga ada yang mencoblos Partai Keadilan.

Apa istimewanya Partai keadilan? Pikir saya, mungkin saja hanya pilihan orang-orang yang asal mencoblos, toh hampir semua partai mendapatkan suara meski hanya satu dua, bukan hanya partai-partai yang memang sudah eksis di sini.

Aneh juga, untuk yang kesekian kalinya kakek begitu antusias dengan sebuah partai yang bernama Partai Keadilan. Sebelumnya setiap bertemu dengan saya, ketika berbicara mengenai kondisi politik saat itu, beliau tak ketinggalan menyebut partai tersebut. Maklum ketika itu masih berada dalam suasana euforia politik pasca reformasi.

Apalagi kakek, saya sendiri saat itu malah belum tahu menahu dengan Partai Keadilan. Hanya mengetahui dari berita di TV dan koran, banyak partai baru bermunculan, biasa saja. Kabarnya yang menjadi ketua adalah anak buahnya Pak Habibi. Jadi saya pikir mungkin partai ini termasuk yang diisukan sebagai produk kroni Soeharto, kelompok yang pro status quo. Jangankan saat itu, hingga Tahun 2009 PKS masih menjadi partai non-parlemen di daerah ini, perolehan suara di kecamatan ini selalu menempati posisi buncit setiap pemilu. Hanya yang saya ketahui tentang Partai Keadilan pada waktu itu, bahwa adalah ia sebuah Partai Islam.

Apakah kakek saya adalah seorang pengagum ideologi revival Islam, gerakan-gerakan Islam kontemporer dan pemikiran dari Timur Tengah? Tidak sama sekali.

Jika 12 tahun kemudian kakek adalah orang yang rajin mendatangi shalat jamaah di masjid, sekalipun berjalan dalam kondisi tertatih sempoyongan, bahkan beberapa kali sempat terpeleset, terjerat kain sarungnya, kondisi beliau saat itu justru sebaliknya. Untuk melaksanakan shalat lima waktu rasanya seperti terpaksa sekali, sekadar menggugurkan kewajiban. Hari-hari beliau adalah kerja, kerja dan kerja. Kadang-kadang ketika hari telah gelap baru pulang dari sawah, kemudian melakukan shalat Ashar dengan amat terburu-buru, entah masih mendapatkan waktunya atau tidak.

Dan tentang sikap beliau mengenai Islam politik, jangan ditanyakan lagi.

“Ya ra iso, Islam kok arep ngatur negara. Apa arep ngarapke Indonesia?” (Ya tidak akan bisa, Islam kok mau mengatur negara. Apa ingin meng-arabkan Indonesia?)

“Adol agama kanggo nggolek sandang pangan.” (Jual agama untuk cari sandang pangan) Begitulah pandangan beliau terhadap politik Islam dan santri.

Islam dan Jawa, sulit mendefinisikan hubungan keduanya. Sekian lama Islam menjaga Jawa ketika para penjajah datang dengan nafsu angkara murka, nafsu untuk menaklukkan dan menguasai seluruh penjuru dunia. Menghadapi mereka yang ingin menghapus entitas Jawa. Islam telah memberi kekuatan kepada Jawa menghadapi berbagai tantangan dalam waktu yang panjang, namun ketika tantangan itu berlalu (berganti), keduanya saling berpaling.

Islam terkadang masih dipersepsikan sebagai tamu di Jawa. Apakah karena peradaban India datang ke negeri ini lebih dahulu sebelum Islam, apa beda antara India dan Arab, bukankah keduanya sama-sama negeri asing yang jauh? Islam terkadang masih dipersepsikan sebagai ancaman bagi Jawa. Apakah peradaban Barat tidak lebih banyak mengoyak Jawa, menenggelamkan Jawa dalam arus globalisasi, sebuah dunia yang tak mengenal batas? Tetapi jika kita membuka diri seluas-luasnya terhadap semua nilai yang baik dan seluruh teknologi yang bermanfaat, masih akan adakan eksistensi Jawa ini?

Keluarga besar buyut terpolarisasi menjadi dua kubu. Tak seperti kaum laki-lakinya, kaum perempuan di keluarga ini cenderung agamis. Di antara polarisasi itu mereka sering berseberangan pada sikap politik keagamaan hingga berbeda sikap pada pemilihan Kepala Desa. Termasuk nenek saya yang agamis, lebih menyukai datang ke pengajian-pengajian, sementara kakek dan saudara-saudaranya lebih respek pada seorang dukun yang kental mistiknya. Urusannya berputar pada problematika hidup serta jimat-jimat untuk perlindungan dan kesuksesan.

Yang teramat menarik, ketika mbah itu datang bertamu, minta untuk diselimuti, kemudian entah bagaimana pakaian yang dikenakan mbah sudah berganti, suaranya juga menjadi aneh. Pada saat itulah sosok mbah yang baru berbicara tentang hal-hal yang berada di luar jangkauan manusia pada umumnya. Tentang perkara yang akan terjadi di masa datang, baik Indonesia masa depan maupun hal-hal yang bersifat lokal.

Tentang keberadaan jalan raya yang nantinya akan sampai juga ke gunung, lereng gunung yang kelak akan longsor, bukit yang suatu hari nanti akan menjadi kota, hingga pembicaraan tentang negeri ini di masa depan, tentang kedatangan Ratu Adil.

Keberadaan mbah dukun sangat memengaruhi pola pikir kakek saya, membentuk pola pikir yang tidak agamis seperti kaum santri. Mbah dukun itu ya Islam, membangun mushalla dan pernah mengislamkan beberapa mualaf. Tapi Islamnya berbeda dengan Islamnya kaum santri.

“Pokoke Jayabayane ngono” (Pokoknya Jayabayanya begitu). Demikian yang selalu diutarakan kakek. Maksudnya bukan hanya yang bersumber dari ramalan Jayabaya semata, tapi semua ramalan dan masa depan yang disampaikan mbah dukun diistilahkan dengan ‘Jayabaya’. Maklum beliau lebih paham Wayang dan Kitab Jayabaya daripada nubuwat Rasulullah tentang akhir zaman.

Ramalan-ramalan indah tentang masa depan memang amat menghibur dan bisa membuat kita terpedaya. Namun yang lebih bermanfaat bagi kita sesungguhnya adalah kerja nyata yang bisa kita perbuat dalam kehidupan ini. Kerja nyata yang mampu kita lakukan meski sederhana, daripada ramalan indah yang hanya sebatas utopia.

Terhadap berbagai nubuwat yang disampaikan Rasulullah, kita mesti meyakininya, dengan tetap menempatkannya dengan hati-hati, sehingga kebenaran nubuwat tersebut tidak diletakkan di bawah keterbatasan dan subyektivitas penafsiran kita. Apalagi terhadap ramalan-ramalan yang diperoleh secara ilegal, yang didapat dari mencuri berita-berita dari langit.

Agar jangan sampai muncul kembali prediksi-prediksi konyol tentang kiamat yang akan terjadi tanggal sekian, Imam Mahdi akan muncul tahun sekian, tahun sekian akan terjadi perang dunia, siapa yang akan menjadi Presiden Indonesia selanjutnya dan sebagainya. Ketika semua itu tak terlaksana, tetap tak ada pihak yang bertanggung jawab.

Baiklah nubuwat-nubuwat itu menjadi kabar gembira tatkala perjuangan ini menghadapi cobaan yang luar biasa berat, saat-saat kita butuh sandaran untuk menguatkan asa yang hampir pupus. Saat-saat kezhaliman sedang berada pada puncaknya, dan kita harus terseok-seok menghadapinya dalam ketidakberdayaan. Untuk sebuah optimisme bahwa masa yang penuh dengan kerusakan ini akan berakhir suatu hari nanti, meski seolah mustahil menurut logika kita hari ini.

Keyakinan yang menjadi pegangan orang-orang yang tertindas, yang menantikan datangnya Imam Mahdi, Ratu Adil, Satria Piningit, Mesias, Kalki Avatar dan dalam berbagai versi lain, yang akan membebaskan mereka, memenuhi dunia ini dengan keadilan dan kedamaian.

Islam dan Jawa memiliki kesamaan pandangan bahwa sebelum masa indah itu terwujud, mesti didahului masa-masa penuh nestapa, melewati puncak-puncak kezhaliman dan kesewenang-wenangan, kerusakan moral dan kehancuran martabat manusia, fitnah, bencana, huru-hara dan peperangan.

Seperti apa yang dianggap sebagai fitnah akhir zaman, jahiliyah modern, zaman edan atau kalabendu. Saat kebenaran dianggap kebatilan, kebatilan dipuja-puja. Pengkhianat dipercaya, sedang orang jujur menjadi tertuduh. Segala sesuatunya telah terbalik.

Lantas ketika kebejatan itu memuncak, di manakah nilai-nilai luhur Islam dan Jawa saat itu? Mengapa tak mampu mencegah manusia-manusia itu dari perbuatan yang nista? Apa arti nilai-nilai luhur Jawa? Begitu banyak orang-orang berdzikir, berdoa, berbondong-bondong naik haji, namun tak melahirkan manusia amanah yang berakhlak? Apa yang masih salah?

Begitulah yang dikehendaki oleh Tuhan, agar kezhaliman itu menjadi sempurna. Saat kejahatan yang mencengkeram dunia ini mencapai puncak kesempurnaannya, Tuhan Yang Maha Kuasa akan menghancurkannya. Jika saat ini kita merasa sedang berada pada masa itu, di antara kepahitan ini sebenarnya terbersit suatu harapan bahwa masa yang dinantikan itu telah dekat.

Seberapa penting keberadaan Partai Keadilan bagi kakek, saya terlewat untuk menanyakannya, padahal sebenarnya merasa aneh juga dengan kakek, tumben beliau tertarik sesuatu yang berbau Islam. Apa ada hubungan antara Partai keadilan dengan ‘Jayabayanya’. Baru setelah beliau berpulang, terbersit keinginan untuk menanyakan seberapa penting fitur Partai Keadilan bagi kakek atau bagi Indonesia masa depan, dan alhamdulillah pertanyaan itu tak sempat saya lontarkan.

“Partai Keadilan itu partai Islam, ketuanya Nur Mahmudi Ismail.” Hanya itu yang bisa saya jelaskan ketika kakek dengan antusias menyinggung tentang Partai Keadilan.

Mendengar kata Islam, wajar saja beliau kecewa. Hingga saya berpikir beliau besok tidak mengulang lagi pembicaraan terkait Partai Keadilan. Dugaan saya ternyata meleset, pembicaraan itu terulang kembali bahkan hingga setelah Pemilu 1999.

Padahal saya sendiri pada waktu itu tidak tertarik sama sekali dengan Partai Keadilan. Memang saya belum memiliki interaksi dengan orang yang menjelaskan banyak hal tentang partai tersebut. Informasi yang saya terima sebatas berasal dari media-media mainstream yang tidak banyak memberikan gambaran lengkap tentang kalangan Islamis. Baru beberapa tahun kemudian saya mengetahui kalau Partai Keadilan cukup disebut dengan singkatannya saja, ‘PK’.

Mereka itu ternyata terkait dengan buku-buku, majalah dan buletin tentang Islam yang dibawa mahasiswa ketika kamping di dekat sekolahan bapak, yang mengisi memori masa kecil saya tentang Islam. Kisah tentang tragedi Bosnia yang sangat menyentuh masa kecil saya waktu itu, yang membangkitkan ketertarikan terhadap Islam. Hanya sebatas itu, tanpa pernah berinteraksi secara langsung dengan mereka.

Perjalanan hidup saya sebelumnya terdampar dari satu dokter ke dokter yang lain, meski berakhir kegagalan. Kekecewaan itu ada, namun saya juga menyadari bahwa para dokter itu manusia biasa yang hanya bisa berusaha. Tapi yang lebih mengecewakan ketika kemudian dalam keputusasaan saya beralih kepada dukun, paranormal dan kiai, dengan berbekal kepercayaan penuh atas kemampuan linuih mereka, sepenuhnya yakin kalau mereka adalah wali yang dekat dengan Allah, yang bisa memenuhi segala hajat kita, menyaksikan sendiri mereka mampu menunjukkan hal-hal yang luar biasa, namun bukan itu sebenarnya, tetapi kesembuhan yang sangat saya harapkan tak kunjung didapatkan.

Hingga diri ini ingin terbebas dari itu semua, meninggalkan amalan-amalan yang masih tersisa, tapi tak semudah begitu saja melepaskannya. Hingga ketika Muhammadiyah di tempat saya kesulitan mendapatkan satu dua orang yang bersedia diajak mengikuti sebuah pesantren kilat, ajakan itu saya terima sekaligus sebagai suatu upaya untuk membebaskan diri dari belitan mistik.

Setelah menikmati euforia kebebasan itu, selanjutnya saya menemui sebuah babak baru tentang umat ini, persoalan dari dalam tubuh umat, tentang firqah, manhaj dan fikrah yang tak kalah rumit dibandingkan peliknya persoalan dari luar. Sedikit-sedikit saya juga mulai mengenal Tarbiyah, yang menawarkan sudut pandang moderat dalam menyikapi ekses dari keragaman dalam tubuh umat ini.

Beberapa tahun kemudian informasi tentang PKS lebih banyak diterima kakek.

“PKS sing wong-wonge ra gelem korupsi!” (PKS, yang orang-orangnya tidak mau korupsi) Demikian ujar kakek.

Meski dalam pandangan kakek PKS ini identik dengan Islam, dan selama ini beliau tidak menyukai segala yang berbau Islam, apalagi model Islam garis keras, Wahabi, Masyumi yang dianggapnya bagai momok, tapi beliau telah menaruh harap pada partai ini. Tak seperti yang ditakutkan semula, Islam juga menghasilkan hal-hal yang baik. Meski kemudian saya tahu, harapan itu tak sesederhana yang dibayangkan.

Mungkin selama ini Islam lebih banyak menuntut dan mempersalahkan, daripada mengkomunikasikan kebajikan yang dikandungnya dalam bahasa yang dimengerti mereka, atau memberi solusi yang nyata bagi kehidupan.

“PKS itu berupaya baik pada semua, melakukan pendekatan kepada seluruh umat, menyikapi dengan bijak perbedaan-perbedaan yang ada.” Begitulah kurang lebih yang mampu saya jelaskan.

Rupanya sikap antipati beliau terhadap hal-hal yang berbau Islam sudah berkurang. Bahkan beliau sudah memiliki keinginan menunaikan ibadah haji, sesuatu hal yang selama ini sama sekali tak terpikirkan oleh beliau, padahal dari segi kemampuan finansial mestinya telah mampu sejak dulu.

Kerja dan kerja, demikian yang selama ini beliau jalani. Ketika generasi seangkatan beliau tinggal segelintir orang yang sudah jompo, kemampuan fisik kakek seusia itu sulit untuk dinalar, anak-anak dan cucu beliau secara fisik bahkan masih kalah. Rasanya seperti mustahil, apalagi beliau pernah menjalani operasi yang memotong sebagian ususnya, pernah pula tertabrak sepeda motor hingga mengalami patah tulang cukup parah. Sebenarnya tanpa perlu susah payah bekerja, gaji pensiunan sebagai veteran kemerdekaan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan beliau. Toh jerih payah dari semua yang dihasilkan tak pernah dinikmati oleh beliau yang hidup seadanya. Kami anak dan cucu beliaulah yang meski telah menempuh pendidikan dan banyak yang menjadi pegawai, lebih banyak memanfaatkan hasil jerih payah beliau, ada saja kebutuhan kami yang lagi-lagi masih harus ditopang kakek.

Apakah jimat dari mbah dukun itu di balik keperkasaan fisik ini? Untuk apakah kerja dan kerja yang hasilnya tak pernah dinikmati ini? Apalagi bila etos kerja itu memupus semangat untuk beribadah, memupusnya dengan semangat yang menyala-nyala untuk mengejar dunia, sementara usia terus melaju. Suatu saat saudara kakek sempat berujar ingin melepaskan jimatnya, meski selama ini membuatnya digdaya, namun sebenarnya tak lebih menimbulkan kemudharatan semata. Beliau terkesan dengan anaknya yang mengikuti Salafi, hanya dari sudut pandang sekilas, konsistensi mereka mengamalkan apa yang mereka ketahui, tanpa mengerti apa itu manhaj, ta’wil, tajsim dan sebagainya.

Kepercayaan di sekitar kami, bila ada orang yang berhubungan dengan pesugihan atau jimat bertaubat, akan ditimpa suatu malapetaka, untuk membersihkannya dari kesalahan di masa lalu. Semoga sakit yang kemudian menimpa beliau, hilangnya kedigdayaan beliau, adalah sebuah kesempatan agar beliau memiliki waktu untuk memperbaiki ibadah pada sisa hidupnya, meski teramat sebentar. Satu keinginan yang menjadi ganjalan di hati beliau, sebuah penantian untuk mendapatkan panggilan ke Tanah Suci yang belum tercapai.

Apa yang beliau citakan tentang partai orang-orang jujur (lugu) ini tak begitu saja dengan mudah diraih. Cita ini masih harus ditempa dengan berbagai aral menghadang. Tepat satu hari sebelum kasus LHI meledak, beliau berpulang. Takdir telah ditetapkan bahwa beliau tidak lagi bersama kami pada babak baru perjuangan ini. Apakah cita ini akan kandas, ataukah suatu saat akan mampu terwujud? Masih jauhkah?

Semoga sisi-sisi kebaikan kami yang tak seberapa ini berbuah rahmatNya yang tiada tara bagi kami. Semoga kami diberi kemampuan mewujudkan cita kebaikan beliau, menjadi kebaikan bagi kami, tambahan kebaikan bagi pendahulu kami, dan segenap umat manusia.


Jumat, 27 Desember 2013

(Tak) Seindah Kanker Bangsa

Bangsa ini dan korupsi, telah menyatu dalam kepedihan. Semua yang telah kita rasakan semestinya membuat kita berbuat sesuatu, sekecil apapun, dari yang kita mampu, mulai dari diri kita sendiri. Bukan sikap acuh, putus asa, hingga tak tahu lagi apa yang harus dilakukan, tetapi dibutuhkan partisipasi kita untuk menyembuhkannya.

“Mengapa ya, di sini perawatnya ramah-ramah, nggak ada yang bentak-bentak seperti di ruangan?”

“Pantes saja, kita ini kan orang-orang yang mau mati.”

Di ruang Radioterapi ini semua pasien berbaur, yang berasal dari ruang VIP hingga ruang kelas III semua menyatu. Di sini seperti tak ada kelas, semua dilayani dengan telaten, ramah, penuh dengan kesabaran. Pasien-pasien saling berbincang akrab, sharing dengan sesama, tampak guyub, semua sudah seperti keluarga sendiri. Di tempat ini sangat terasa berbeda bagi pasien yang berasal dari ruang kelas III, yang berobat dengan bekal jaminan sosial, yang masih sering mengalami perlakuan kurang mengenakkan.

Apakah karena kanker itu mematikan? Mengapa ia mengubah orang-orang yang bersentuhan langsung dengan para pengidapnya menjadi pribadi-pribadi yang berperasaan? Bukankah penyakit lain juga sama-sama bisa mematikan? Apa yang membedakan? Mengapa ia membuat kematian itu menjadi terasa dekat, hingga perpisahan seolah bergegas dipersiapkan?

Hanya orang-orang yang mengidapnya dan orang dekat yang bersentuhan langsung dengan mereka yang mengetahui jawabannya, meski cukup sulit untuk menjelaskannya. Yang membuat para survivor kanker merasa perlu memiliki perhatian lebih terhadap mereka yang senasib, memberi motivasi, membangkitkan semangat mereka, hingga terbentuklah perkumpulan-perkumpulan, untuk bisa saling berbagi dan memberi support atas apa yang sama-sama mereka alami.

Keluarga dekat dan mereka yang pernah bersentuhan langsung dengan kanker menjadi memiliki atensi lebih bila mendengar kata kanker disebut,  menjumpai orang-orang yang bernasib sama, melebihi mereka yang mendengar kanker melalui pelajaran-pelajaran ilmiah, novel, film, atau cerita dari mulut ke mulut.

Dalam sebuah acara talk show di TV, seorang ibu bercerita kepada anaknya, “Dulu ketika mengandung kamu, mama ketahuan mengidap kanker. Kata dokter mama harus sesegera mungkin dioperasi. Tapi mama tak mau mengorbankan kamu, untuk operasi mama nunggu beberapa bulan, nunggu kamu lahir.” Mendapat cerita itu si anak ekspresinya biasa saja, “O, gitu ya.” Hingga ketika ia dewasa, menjadi seorang dokter dan bersentuhan langsung dengan para penderita kanker, baru ia merasakan nilai pengorbanan sang ibu kepadanya, ibu yang mempertaruhkan nyawa untuknya.

Kanker itu hidup bersama kehidupan pengidapnya, mereka merasakannya betul. Kadang untuk menghibur mereka, kita katakan agar mereka bersahabat dengan kanker, entah itu sebenarnya menipu, kita hanya ingin membangkitkan motivasi mereka, hingga mereka memiliki kekuatan jiwa. Agar dengan itu mereka bisa tersenyum, sebagaimana yang biasa dikatakan orang, “Belum ada obat kanker yang bisa menjamin kesembuhannya, obat yang terbaik adalah mendekatkan diri pada Tuhan dan usahakan untuk bisa tersenyum tiap hari.”

Kanker itu hidup, pengobatannya mungkin sepanjang kehidupan para sahabat kanker itu. Pengobatannya membutuhkan waktu yang lama, menata satu demi satu sel-sel dalam tubuhnya agar kembali normal, berpacu dengan sel-sel ganas yang terus menyebar. Tahap demi tahap pengobatannya amat panjang, melelahkan, bahkan menyakitkan. Untuk menghiburnya agar mereka tak putus asa, lantas kita katakan pada sahabat-sahabat kanker itu bahwa mereka sedang berjuang.

Tentang korupsi yang membelit bangsa ini bagai kanker, yang kita semua merasakan kepedihannya, hingga sempat terlontar sebuah ucapan, “korupsi akan hilang dari Indonesia bila semua penduduknya pergi dan digantikan manusia-manusia lain.” Sebuah ungkapan yang menghibur berbingkai keputusasaan, di antara karut marut yang tak kunjung usai.

Meski pedih, kanker tubuh menjadi indah bagi banyak orang, memperindah empati mereka, melembutkan perasaan mereka, menumbuhkan rasa kasih dalam hati-hati mereka. Di antara perjuangan itu terangkai doa-doa yang indah, membuat banyak orang belajar tentang arti kehidupan. Di antara itu lahir orang yang mengerti arti kesetiakawanan dan pengorbanan.

Dapatkah kanker bangsa ini menjadi seindah kanker tubuh?

Teramat sulitkah membebaskan bangsa ini dari kanker yang membelitnya? Ketika berbagai upaya telah ditempuh hingga banyak orang berpikir tak tahu lagi harus berbuat apa. Bagaimanakah mengurai satu per satu sel-sel korupsi yang menggerogoti bangsa ini? Bagaimana berpacu dengan mereka yang kalap, buta dan ganas? Menyerah dan Membiarkan tubuh bangsa ini hancur digerogotinya, dan engkau juga mau ikut bersama kehancurannya?

Tapi tidak, perhatikan baik-baik bahwa sel-sel kanker tubuh dan kanker bangsa berbeda satu sama lain. Sejahat apapun sel-sel kanker bangsa itu, jika kesadaran mereka terbuka dan insyaf, dalam sekejap mereka sudah kembali menjadi sel-sel bangsa yang normal. Tak butuh proses panjang seperti membersihkan kanker tubuh, sekronis apapun organ-organ bangsa yang telah digerogoti olehnya, bisa pulih seperti sedia kala. Setebal apapun catatan-catatan hitam, tak perlu lama untuk menghapusnya, bisa ditukar dengan catatan-catatan putih bersih saat ini juga, oleh sekejap taubat yang sebenarnya.

Sekronis apapun bangsa ini, harapan itu senantiasa ada. Separah apapun kerusakan organ-organ bangsa, tak mesti berpikir tentang amputasi. Ia bisa pulih, kembali menjadi organ sehat yang bermanfaat bagi bangsa ini. Tak ada kata paliatif dalam kamus penyembuhan bangsa ini. “Maaf, sehubungan dengan kondisi pasien yang sedemikian, kami menyarankan keluarga membawa pulang, untuk selanjutnya dipasrahkan saja kepada Tuhan, mungkin ini adalah sebuah pilihan terbaik,” bangsa ini tak membutuhkan kalimat-kalimat seperti ini. Ia membutuhkan optimisme dan perjuangan yang tak kenal menyerah.

Hanya saja jika para koruptor itu lebih takut akan konsekwensi yang menyertai bila mereka insyaf daripada takut akan akibat dosa-dosa bila terus mereka lakukan. Saat mereka tak mengerti bahwa sebesar apapun dosa mereka, senyum dan tangan terbuka akan menyambut jika mereka kembali. Saat mereka tak menyadari jika tak mau insyaf saat ini, suatu saat nanti pasti mereka akan insyaf juga, meski penyesalan saat itu akan menjadi tak berguna sama sekali. Hal ini berarti sebuah kabar gembira bagimu, bahwa uluran tanganmu untuk menyembuhkan bangsa ini masih berarti. Selemah apapun keadaanmu, saat engkau merasa hanyalah orang kecil yang tak berdaya, bukankah engkau yakin akan adanya Kuasa Tuhanmu?

Namun bagaimana engkau berharap Tuhan mengetuk hati sel-sel kanker bangsa untuk insyaf jika engkau sendiri tak mau mengambil keindahan pembelajarannya.

Kanker bangsa ini tak membuat amarahmu indah, bukankah tanganmu sendiri yang memilihnya dalam bilik-bilik suara hingga mereka bisa menempati jabatan tersebut.

Kanker bangsa ini tak membuat penyesalanmu indah, pemberian yang tak seberapa dari mereka kau rasakan teramat berarti, meluluhkan sumpah serapahmu pada para koruptor itu. Pemberian itu nilainya tak seberapa dibanding penghasilan yang kau dapatkan dari hasil jerih payahmu, apalagi dibandingkan dengan harga dirimu. Engkau tak lagi merasa aneh dengan kegembiraanmu saat menerima pemberian itu, padahal engkau tahu, semua yang mereka berikan kepadamu tak sebanding dengan hak-hakmu yang dirampas oleh mereka.

Saat-saat para koruptor itu melakukan pencitraan dan tebar pesona, engkau menyembutnya dengan gempita, menengadahkan tanganmu, merengek-rengek dan mengharap pemberiannya. Engkau puji mereka sebagai dermawan, peduli pada rakyat. Saat-saat orang yang memiliki integritas, yang lebih layak memimpin bangsa ini engkau acuhkan begitu saja.

Kanker ini tak membuat kepedulianmu indah, engkau inginkan bangsa ini terbebas dari cengkeraman para koruptor itu, namun engkau duduk-duduk saja di rumahmu, sibuk dengan urusanmu sendiri, kepentinganmu dan pekerjaanmu. Apakah engkau berandai-andai malaikat penyelamat begitu saja turun dari langit, memperbaiki bangsa ini, dan engkau cukup diam menunggu?

Apakah engkau merasa langkahmu dalam ketidakberdayaan ini sia-sia? Engkau merasa tak ada gunanya melawan sel-sel ganas itu? Lantas engkau enggan berpayah-payah menghadapinya, malah membiarkan dirimu menjadi bagian darinya, engkau menjadi kanker bangsa juga. Bukankah besarnya nilai kepahlawanan sebanding dengan kesulitan yang mesti dipecahkan?

Saat-saat mereka yang berjuang melawan kanker bangsa itu terbelit oleh sel-sel ganas itu, berubah haluan menjadi kanker bangsa juga, mengapa engkau sama sekali tak merasa kehilangan, tanpa berupaya menyelamatkan mereka, engkau biarkan kanker-kanker bangsa itu bersorak menikmati kemenangannya?

Saat-saat mereka yang berhadapan dengan belitan ganasnya sel-sel kanker bangsa itu kelimpungan, berhadapan dengan hukum, kekuasaan dan media yang telah dikuasai para koruptor itu, tertimpa berbagai fitnah, hingga menjadi pesakitan, kemudian para koruptor itu tertawa terbahak-bahak, engkau pun ikut tertawa terbahak-bahak. Ketika para koruptor itu kegirangan, engkau pun ikut kegirangan. Ketika para koruptor itu mencemooh mereka, engkau pun ikut mencemooh mereka.

Di antara ketidakberdayaanmu, masih ada yang bisa engkau lakukan, dari yang engkau mampu, mulai dari dirimu, agar engkau dicatat di sisi Tuhan sebagai orang yang telah berusaha, agar engkau tidak merasa kecilnya pengorbananmu sia-sia saja. Jika engkau tak mau mati bersama kanker ini maukah untuk sekedar mengatakan tidak pada pencitraan, tebar pesona dan money politik.