Sabtu, 26 April 2014

(Bukan) Maju Untuk Kalah, Mundur Untuk Menyerah

Tentang suatu pasukan, tatkala harus mengambil keputusan yang berat, sebuah pilihan yang sangat dilematis. Memaksa untuk maju, bersama bayang-bayang kekalahan dan kehancuran. Atau terpaksa untuk mundur, meski juga tak semata-mata ingin menyerah.

Bukan hanya soal keberanian, tidak pula tentang kalah dan menang semata, tetapi menyangkut kepentingan besar bagi umat, yang benar-benar sedang dipertaruhkan di atasnya, teramat mahal akibat yang akan dibayar.
Apalah artinya keberanian, melaju dalam gempita, jika hanya melangkah menuju lubang jebakan yang telah dipersiapkan oleh lawan, akhirnya hanya menjadi bulan-bulanan, tercatat sebagai keberanian konyol seorang pecundang.
Terkadang, jalan mesti berliku, saat-saat di mana langkah harus memutar, mengambil strategi yang lain. Memang mundur tak selamanya berarti menyerah, tapi tetap saja ada bayang kekhawatiran jika langkah ini akan tercatat sebagai keputusan seorang pengecut.
Hati-hati, bukan sekedar keberanian, tetapi ia buta. Bukan sekedar pengorbanan, tetapi ia sia-sia. Tetapi juga bukan keraguan, yang akhirnya berbuah ketakutan, menafikkan apa yang sebenarnya telah mampu untuk dicapai. Peluang, bahkan mungkin yang terakhir, mungkin tersandera oleh keraguan ini.
Atau bila menempuh pilihan untuk nekat, mengabaikan perhitungan, logika dan realitas, bersandar semata kepada pertolongan-Nya yang tak kurang-kurang, semata-mata berbekal keyakinan atas kekuasaan-Nya yang tak terbatas. Namun jangan-jangan ini hanyalah optimisme semu belaka.
Di antara ketergesaan dan keberlambatan, untuk membuat keputusan dengan tepat, mampu mengukur kekuatan diri dan lawan. Bukan keputusan emosional semata, bukan menuruti ambisi tanpa perhitungan.
Ya Allah, kami hanyalah hamba-hamba yang lemah, tak semestinya kami bersandar pada kemampuan kami semata. Agar kelemahan kami menjadikan kami lebih bersimpuh memohon pertolongan-Mu. Meski kami tak dibebani kewajiban untuk berhasil, tapi yang kami ketahui, ikhtiar yang kami lakukan mesti sebaik-baiknya.
Ya Allah, untuk para pemimpin kami, berikan sebaik-baik bimbingan kepada mereka, pilihkan keputusan yang terbaik bagi kami, agar benar-benar berhitung dengan seksama, ketika tipu daya yang kami hadapi di luar kemampuan kami
Bukannya kesatuan dan tekad tak cukup, tapi ada fase-fase yang harus ditempuh untuk sebuah kemenangan, agar ia layak untuk disematkan, dan mungkin selama ini belum dilakukan. Agar tekad tak berbuah kecerobohan, agar kesatuan tak justru menjadi sandungan.
Berusaha terbaik, berharap pilihan terbaik, sebelum semuanya terlambat, agar tak menjadi penyesalan kelak.


Jumat, 25 April 2014

Plus Minus Mengusung Capres Partai Islam

Sebenarnya cukup riskan untuk membuat dikotomi tentang Islam dalam lingkup ketatanegaraan kita. Piagam Madinah menjadi gambaran awal bahwa Islam telah menggariskan untuk mengakomodasi seluruh komponen masyarakat dalam kehidupan bernegara, termasuk terhadap non-muslim. Terlepas dalam praktek selanjutnya memang tidak seluruh umat Islam mampu mengimplementasikan substansi Piagam Madinah tersebut secara moderat.

Akan tetapi, dalam perjalanan negara ini maupun pengalaman di berbagai negara lain, seringkali umat Islam berada pada posisi sulit, mimpi buruk termarjinalisasi, terdiskriminasi, serta kesulitan untuk mendapatkan hak-hak yang semestinya diperoleh. Bahkan seringkali kediktatoran sebuah penguasa, kelaliman mereka dalam mengeksploitasi rakyatnya, berkorelasi dengan kondisi tidak baik yang didapatkan umat Islam.

Keyakinan terhadap kebaikan Islam dan tekad untuk mewujudkannya dalam kehidupan melahirkan sebuah komitmen bagi umat untuk mengambil peran optimal dalam kehidupan bernegara. Target ideal itu adalah mengusung Capres dari kalangan Islam, bertepatan dengan momen peningkatan suara yang diraih partai-partai Islam dalam Pileg 2014 ini, juga seiring terwujudnya komunikasi berbagai elemen kekuatan politik dan ormas Islam untuk menjalin koalisi dalam Pilpres mendatang.

Upaya ideal ini sebenarnya menyisakan masalah, ketika harus berhadapan dengan realita yang ada. Pertama, kekuatan politik Islam memiliki masa lalu yang tak pernah akur. Selama ini masih teramat sulit untuk memadukan langkah di antara elemen umat yang terpolarisasi dalam beragam corak. Persoalan friksi di antara umat ini tentunya tidak akan begitu saja terselesaikan dengan mudah.

Kedua, kekuatan politik Islam realitanya juga dibangun dari proses politik yang korup, juga belum bisa melepaskan diri sepenuhnya dari money politic. Tanpa keduanya parpol-parpol besar termasuk partai-partai Islam tak ubahnya akan seperti partai gurem. Inilah realitas yang dihadapi, termasuk kondisi masyarakat yang makin pragmatis, termasuk umat Islamnya. Sementara kekuatan pendanaan dan media yang dimiliki umat kalah jauh dengan yang dimiliki rival-rivalnya.

Kedua persoalan ini bisa menjadi bom waktu yang menjadi sandungan untuk menjalankan suatu pemerintahan bersama yang efektif.

Ketiga, Pilpres berbeda dengan Pileg. Elektabilitas tokoh yang diusung tak mesti berkorelasi dengan komposisi di legislatif. Bisa melihat dalam berbagai Pilkada, misalnya di Jawa Barat. Elektabilitas Aher lebih menentukan daripada kecilnya perolehan suara partai yang mengusungnya. Elektabilitas tokoh-tokoh yang berasal dari kalangan Islam dalam beberapa Pilkada dan Pilpres terakhir, harus diakui memang masih merupakan problem. Kita tidak bisa mengesampingkan begitu saja test case Pilkada DKI Jakarta yang lalu. Tokoh-tokoh umat seperti Amin Rais, Jusuf Kalla atau Hidayat Nur Wahid memiliki pengalaman elektabilitasnya jauh di bawah mesin politik yang mengusungnya dalam suatu pemilihan langsung.

Target optimal mengusung Capres dari kalangan Islam sendiri, sebenarnya juga memiliki resiko jika nantinya kalah dalam pertarungan, umat akan terdepak sepenuhnya dari pusat kekuasaan.

Bukan soal menang kalah semata, bukan soal keberanian menjadi oposisi, tetapi tentang kepentingan dan agenda keumatan. Di tengah bayang-bayang kekuasaan akan jatuh ke tangan pihak yang tidak ramah terhadap agenda keumatan, kekuasaan akan digunakan secara efektif untuk memuluskan agenda-agenda mereka, kaum sekuler, liberalis dan aliran sempalan, melalui kedekatan mereka dengan pusat kekuasaan. Di sinilah kepentingan umat dipertaruhkan.

Bayang-bayang upaya memarjinalisasi secara represif terhadap umat Islam sebagaimana yang terjadi pada awal Orde Baru, meski bisa jadi terwujud dalam bentuk lain yang lebih halus tapi dahsyat, dalam situasi perang opini dan media. Kasus jilbab, kondomisasi, regulasi miras, jaminan produk halal dan RUU Ormas menjadi gambaran awal.

Di bawah opsi mengusung Capres sendiri, ada pilihan untuk mengusung Cawapres atau hanya sekedar mendukung calon dari kalangan lain yang dipandang paling bisa mengakomodasi kepentingan dan agenda umat, untuk meminimalisasi resiko, mempertimbangkan kepada realitas yang ada.

Meski juga bukan berarti tanpa resiko. Dunia politik yang tak mengenal balas budi. Gus Dur yang memenangkan pemilihan dengan dukungan kalangan Islam, begitu mudahnya menohok kalangan yang mengusungnya begitu berkuasa. Keberadaan JK sebagai Wapres dan keberadaan politikus Islam di kabinet dan Setgab, tidak bisa mendikte sepenuhnya pada kebijakan yang bersinggungan pada kepentingan umat. Faktor track record masa lalu dan posisi tawar ke depan menjadi penting diperhatikan.

Termasuk resiko kehilangan kesempatan bagi umat, pada saat memiliki momen bisa menyatukan visi bersama. Tetapi juga penting mencermati apakah prasyarat dan fase-fase untuk terwujudnya visi tersebut sudah ditempuh umat ini. Untuk membuat sebuah keputusan dengan seksama, sebelum semuanya terlambat. Keputusan terbaik, tak tersandera oleh keraguan, tapi juga tak terjebak pada optimisme semu.
Melihat beratnya kondisi yang dihadapi umat, semestinya masing-masing elemen umat tidak mengedepankan ego, emosi dan ambisi pribadi.

Selayaknya mencermati dengan seksama setiap keputusan yang diambil, kepentingan umat sedang dipertaruhkan. Bukan sedang memperebutkan sebuah jabatan yang empuk tetapi memikul tanggung jawab yang berat menyangkut umat ini. Jangan sampai mengedepankan semata-mata ambisi pribadi mengatasnamakan kepentingan umat.(pksnongsa)

Rabu, 23 April 2014

Mudahkan Ya Allah

Berhadapan dengan gelombang, ketika harus menghadapinya. Atau berjumpa dengan badai, ketika harus melewatinya. Serasa tak kan mampu menghadapinya, mungkin juga serasa tak akan selamat melewatinya.
Jalan buntu, yang hampir memaksa untuk menyerah, tak tahu lagi apa yang mesti dilakukan. Begitu banyak ketidakmungkinan, dari hal-hal kecil dalam keseharian, hingga perkara besar yang menyangkut sebuah negeri.
Kesulitan hidup yang seperti tak kan terpecahkan, sakit yang seolah tak menyisakan harapan untuk sembuh, hingga sebuah negeri yang terbelit dalam cengkeraman kezhaliman, terjajah oleh perilaku nista, seolah tak bisa diperbaiki lagi, tak tahu jalan untuk membebaskan diri. Bahkan ketika harus menghadapi suatu prahara atau revolusi yang berat, seperti menghadapi pertarungan yang berdarah-darah.
Betapapun besarnya aral, ketika ia telah terlampaui, tak sehoror ketika baru akan menghadapinya. Seperti yang dirasakan mereka yang selamat dari sebuah bencana yang dahsyat. Apalagi orang-orang, dirinya sendiri bahkan tak mengerti, merasakan betul suatu keajaiban. Mereka yang pernah melewati kesulitan hidup yang berat, merasakan betul adanya keberuntungan.
Negeri yang pernah merasakan cengkeraman imperialisme dunia, serasa tak berdaya, tapi tak menyurutkan cita untuk meraih kemerdekaan. Cita yang seolah teramat jauh untuk dituju, teramat tinggi untuk digapai. Ternyata yang terjadi, ada jalan tak terduga yang mempermudah kemerdekaan itu tercapai, sesuatu yang tak mungkin kemudian menjadi terwujud. Betapa banyak rezim yang kokoh, seperti tak akan runtuh, namun dalam sekejap segalanya berubah. Kekuasaan begitu mudah untuk berganti, tak terbayangkan situasi begitu mudah berubah.
***
Dunia ini, zaman ini, dalam cengkeraman kezhalimannya, belitan kerusakannya, tak berdaya menghadapinya, seolah tak lagi bisa diperbaiki. Betapapun beratnya, menjaga tekad untuk memperbaikinya agar tetap hidup, agar tak menyurutkan ikhtiar. Dari ikhtiar yang tak seberapa ini, berbuah pertolongan-Nya, agar diberi kemudahan, sebuah jalan keluar yang terbaik.
Apa yang mustahil menjadi mudah, apa yang tak mungkin akhirnya terwujud. Agar dari kelemahan ini, lebih terasa kebutuhan akan pertolongan-Mu, hingga kami lebih merendahkan diri kepada-Mu. Apapun yang kami capai nantinya, tetap dirasa bukan karena kekuatan dan kehebatan kami, melainkan pertolongan dan karunia-Mu semata, sehingga sempurna syukur kami kepada-Mu.
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali ‘Imran: 186)
Semakin beratnya ujian yang dihadapi adalah semakin besar kemuliaan yang di dapat. Tetapi kami merasa terlalu lemah untuk memikulnya, berharap dimudahkan, diringankan, mendapat karunia dari ampunan dan rahmat-Mu.
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqarah:186)

Selasa, 22 April 2014

Menatap Kekalahan

Telah kesekian kalinya, dipaksa untuk menerima kekalahan. Tak ada lagi pilihan, dibuat tak berdaya. Kali ini mungkin juga terulang, hanya bisa termanggu membiarkan mereka melibas dan memporak-porandakan semuanya.
Pada titik terendah kelemahan seorang hamba, yang tak lagi bisa berbuat apa, hingga membuat angan tentang strategi dan optimisme terlalu naif, tetapi bayang tentang kekalahan dan menyerah juga terlalu pahit.
Di antara dahsyatnya intrik dan tipu daya, hingga semua yang dipersiapkan untuk menghadapinya menjadi urung, tanpa tahu apa yang mesti dilakukan, tetapi tidak dengan doa, ia akan senantiasa bisa terucap, bahkan menjadi lebih berarti pada hamba-hamba yang berada dalam keadaan lemah terzhalimi. Bersimpuh dan kepasrahan, dalam ketidakberdayaan menjadi lebih bermakna, berharap membalikkan suatu ketidakmungkinan.
Tak apa kami tumbang dan binasa, tetapi cita ini ya Rabb, mohon untuk diselamatkan, agar ia tetap hidup, dan menyelamatkan kami. Di antara banyaknya kealpaan kami, masih tersisa pengharapan terhadap-Mu. Di antara banyaknya hamba-hamba yang lalai di antara kami, ada jiwa-jiwa yang tsiqah memegang cita tentang umat ini, teguhkan mereka dengan sebaik-baik karunia-Mu, berikan kekuatan agar menjadi penolong kami.
Berharap dari kejatuhan ini, mendapatkan jalan lain yang lebih baik. Dari kekalahan ini, menjumpai kemenangan yang lebih besar esok. Kemenangan sempurna, yang bertolak dari ketidakmungkinan. Agar drama kehidupan ini lebih spektakuler, menjadi rangkaian cerita yang indah. Sebuah prestasi menjadi lebih berharga manakala ia telah melewati kesulitan-kesulitan besar.
Yakinkan kami, Kemenangan-kemenangan musuh itu tak lebih dari tipu daya-Mu, untuk sempurnanya kemenangan kami. Ketika tipu daya telah sempurna, semua hampir tercapai, mata mereka terbelalak dan berkata: “Celaka kami, sesungguhnya kami berada dalam kelengahan tentang ini.” Membuyarkan semua yang telah tersusun, yang tinggal selangkah. Berhadapan dengan sebaik-baik Pembuat tipu daya.
Aral, tak tergambarkan sebelum ia datang, amat berat dirasa tatkala berjumpa, namun setelah berlalu ia menjadi ringan. Seperti tertatih dan payah di kegelapan malam, namun sebentar lagi menyongsong fajar. Tak seperti berada di puncak kemenangan yang megah, namun sebentar lagi malam menjelang, sepahit menatap kekalahan.
Kesabaran untuk menanti sebuah janji yang pasti,
“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Az Zikr (Lauh Mahfuzh), bahwasanya bumi ini akan diwarisi ole hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. Al Anbiyaa’: 105)
Kemenangan untuk hamba-hamba yang terpilih,
“ Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur: 55)

Senin, 31 Maret 2014

Makna Memberi dan Menahan Diri

Sebuah video beredar di Youtube, ‘Video Kisah Inspiratif yang dapat Membuat Anda Menangis’, diangkat dari kisah nyata, tentang keindahan di balik suatu pemberian, bahkan mungkin baru sebagian kecil keindahannya.
Memberikan sesuatu kepada orang lain biasanya diiringi dengan perasaan berat, merasakan suatu kehilangan ketika melepaskannya. Berbeda sekali ketika menerima sesuatu pemberian dari orang lain, meski tak seberapa, biasanya dirasakan sebagai suatu anugerah.
Menerima suatu pemberian bisa membuat luluh sikap acuh, meredam kebencian, hingga menumbuhkan simpati. Sebaliknya, tuntutan memberi sering dianggap sebagai sebuah beban yang ingin dihindari.
Untuk sebuah pemberian yang tak seberapa, banyak orang rela mengantri, berebut, bahkan berdesak-desakan dan terinjak-injak. Banyak orang merasa berhak, memalsukan identitas memiskinkan diri, tanpa memedulikan lagi harga diri dan kehormatan.
Sungguh bahagia dan beruntungkah mereka yang banyak mendapatkan pemberian? Selalu mendapatkan prioritas ketika pembagian bantuan, sering mendapatkan santunan, banyak dikasihani. Setiap ada pembagian zakat, sedekah, hingga BLSM, hampir tak pernah ketinggalan.
Apakah kita ingin menjadi orang seperti mereka? Kecewa dan marah ketika orang lain mendapatkan bantuan sosial, raskin, BLSM, zakat dan sebagainya, sementara kita tidak mendapatkannya padahal merasa lebih berhak, hingga harus melakukan protes dan ribut-ribut.
Untuk  anda atau mungkin untuk anak anda kelak, manakah yang lebih layak menjadi cita-cita, kelak di kehidupannya akan banyak mendapatkan santunan, dikasihani dan diperhatikan banyak orang, tak pernah ketinggalan setiap ada pembagian bantuan, zakat dan sedekah? Atukah anda memiliki cita-cita bahwa kelak tak mendapat prioritas sama sekali ketika ada pembagian bantuan apa pun, tak terpikirkan lagi untuk disantuni, tak perlu diberi apapun oleh orang lain? Jika demikian yang terjadi apakah anda akan merasa rugi?
Mana yang lebih dipilih, menjadi penerima bantuan-bantuan itu ataukah menjadi mereka yang banyak membantu, memberi, menyantuni dan menolong orang lain?
Ternyata hakekatnya memberi itu lebih indah dari diberi. Tak rugi memiliki cita-cita ingin diberi kemampuan untuk senantiasa bisa memberi, berbagi dan bermanfaat bagi orang lain. Dimudahkan untuk bisa memberi sekalipun dalam keadaan mengalami keterbatasan, dikuatkan menahan diri meski dalam kondisi kekurangan.
Dimudahkan menjadi kemaslahatan bagi manusia, bukan beban. Mengutamakan itsar bukan ego. Saling memberi, membalas kebaikan dengan yang lebih baik. Merasakan nikmatnya rahasia ikhlas, melepaskan dengan tidak ada rasa keterpaksaan, terasa nikmat sebagaimana merasakan nikmat ketika mendapat suatu pemberian, bahkan lebih, sekaligus menjadi simpanan dan bekal untuk kehidupan kelak di akhirat.
“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.” (QS. Al Baqarah: 273)
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al Hasyr:9)


Bilik-Bilik Izrail

Ruang Merak, awal 2011. Sebuah ikhtiar memperpanjang hidup. Berharap untuk ditambah sebentar saja. Untuk sebuah tanggungan hidup yang masih dimiliki.
Detik demi detik hidup yang mahal, seharga herceptin dan avastin. Hanya untuk separuh hidup, atau mungkin kurang dari itu, karena meski dijalani dengan payah, sakit, berteman MST dan lorazepam.
Mungkin tak mungkin, atau sekedar berharap tertunda, tapi kedatangannya telah pasti, tapi entah kapan. Hanya saja pengharapan kepadaNya yang tak sedikitpun pudar.
Akhirnya berakhir. Jika waktu bisa diputar kembali, rasanya takkan menyiakan kesempatan untuk berbenah. Tapi telah tertutup, menyisakan sesal. Kecuali sebuah harap tentang rahmatNya yang tetap tak pernah tertutup.
Semoga, menjadi ketetapan terbaik di antara hikmah dan pilihanNya. Semoga, apa yang tercecer, dipungutkan. Apa yang tertinggal, diambilkan. Dan apa yang hilang, tergantikan, dengan yang lebih baik.
***
Ruang Geriatri, awal 2013. Merasa hidup telah cukup, berharap segera purna. Sekian lama kami tahu, bahwa beliau ditimpa sesuatu. Tetapi dari lubuk hatinya tak ingin merepotkan siapapun. Hingga saat itu tiba begitu cepat.
Sepanjang hidupnya untuk kami, hingga tak berkesempatan banyak untuk membalasnya. Hampir tak merepotkan hingga saat berakhir, tak sebanding yang diberikannya.
Begitu ikhlas, meski semestinya menyisakan satu hal yang melalaikan, umur yang terbuang, waktu yang tersia-siakan, bekal yang terlewat untuk sebuah cita di hari kelak.
***
Terbaring sakit, seperti tak kan tertolong lagi, tak tahu lagi harus berbuat apa. Semoga masih tetap bisa berharap, (bukan) berharap yang tak mungkin. Berharap segera beranjak untuk berbenah, khawatir makin terlambat, semestinya membuat insyaf, tapi...
Terus menyakiti, menambah goresan luka di tubuh, terus mengumbar nafsu. Kekhawatiran itu mungkin terjadi, tinggal sebuah harapan dalam doa, jalan keluar yang terbaik dari sebuah ketidakberdayaan.
Di antara hawa nafsu yang terus diperturutkan, akal sehat yang terus diabaikan, tak peduli lagi esok akan seperti apa, tetap tersisa setitik keinginan untuk terbebas. Tetapi lagi-lagi terjerumus, terulang dan terulang.
Sebelum terlambat, dan tak bisa diselamatkan, antara harapan dan ancaman,
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong(lagi).
Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya, supaya jangan ada orang yang mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah ), atau supaya jangan ada yang berkata: ‘Kalau sekiranya Allah memberi petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-orang yang bertakwa’. Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab ‘Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik’.
(Bukan demikian) sebenarya telah datang keterangan-keterangan-Ku kepadamu lalu kamu mendustakannya dan kamu menyombongkan diri dan adalah kamu termasuk orang-orang yang kafir.” (QS. Az Zumar: 53-59)
Kesempatan terakhir, mungkin. Berharap tidak disia-siakan, untuk sebuah negeri yang sedang meregang. Sekecil apapun yang bisa dilakukan, sebelum benar-benar terlambat,  kemudian tak berguna lagi penyesalan. Datangnya Izrail untuk negeri, berakhir.
Semoga, sekecil apapun cita yang tersisa, tidak tenggelam di telan luasnya bentang khilaf ini, tetapi menjadi benih yang tumbuh menjadi naungan luas, suatu saat nanti. Di antara harapan untuk dimudahkan, dengan rahmatNya.

Rabu, 26 Maret 2014

Uhud, Thursina, Mozaik Harapan di Ambang Kehancuran

Saat-saat hanya bisa berharap, pasrah tanpa ada pilihan lain. Berbekal keyakinan semata, janjiNya telah pasti. Agar ketika kelak kesombongan hendak singgah, segera beranjak, menuju pilihan lain, menempuh jalan syukur dan tawadhu’.
Meredup tapi tak padam, memudar tapi tak lenyap, terjatuh tapi menggeliat lagi. Sejenak terhenti, tetapi akan bangun, meneruskan langkah, mengalir sampai ke akhir muaranya. Tetap hidup, takkan pernah ada yang membuatnya berhenti sama sekali.
Lelah dalam penantian panjang. Mengkhawatirkan habisnya kesabaran yang dimiliki, sementara perjalanan mungkin masih jauh. Tetapi kemenangan itu telah menjadi ketetapanNya, agar tekad dan kesabaran tetap utuh.
***
Berbagai karunia Allah kepada Bani Israil berbalas kedurhakaan mereka kepada Nabi Musa. Di ambang azab, tatkala gempa mulai terasa, sebuah bentuk belas kasih Nabi Musa kepada kaumnya, terucap permohonan terakhir untuk sebuah ampunan:
"Ya Tuhanku, kalau Engkau kehendaki, tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. Engkaulah Yang memimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (QS. Al A’raaf: 155)
Pertolongan dan ampunanNya takkan habis, sekalipun di antara hamba-hamba yang menzhalimi dirinya, asal tidak berputus asa.
***
Kami tak sebaik Nabiyullah Musa ‘alaihissalam, tapi juga tak seburuk para pembangkang dari kaumnya. Kami meniti jalan dakwah ini, sekalipun berada di barisan terbelakangnya. Kami menjadi penuntun umat ini, sementara langkah kami sendiri terkadang masih tertatih. Tanggung jawab yang besar terpikul di pundak kami, sementara kami sebenarnya masih membutuhkan penopang saat-saat goyah.
Dengan menyandang predikat sebagai pengusung panji dakwah, tidak lantas secara otomatis membuat kami terbebas dari khilaf, alpa dan kelemahan. Mengenakan atribut dakwah, tidak serta merta menjadikan kami sepenuhnya suci.
Kami tetap manusia biasa, dengan kekuatan dan kelemahan, tetap memiliki kekurangan dan kelebihan. Namun yang membuat berbeda, kami memiliki cita dan tekad tentang dakwah ini. Berada di jalan dakwah ini adalah suatu nikmat, sekaligus tanggungjawab yang besar. Kami khawatir, noda yang ada pada kami membuat panji dakwah ini terjatuh, membuat cita ini retak. Terkadang dakwah itu terpuruk oleh pengusungnya sendiri.
Dengan kekurangan dan kelebihan ini, masing-masing di antara kami saling  membutuhkan dan melengkapi. Namun terkadang ada di antara kami yang menjadi beban, menyulitkan teman seperjuangan.
Hanya saja, dari kebaikan kami yang tak seberapa ini, berharap tercurah ampunan dan rahmatNya yang tiada tara, menanti sebaik-baik pertolongan.
***
Tak ada jaminan kemenangan, tak selalu bertemu dengan kemudahan. Aral melintang menjadi ujian dan seleksi, hingga terlihat siapa yang terbaik amalnya, di antara bergulirnya kejayaan dan kekalahan. Hanya orang-orang terpilih dalam ujian yang mendapatkan prestasi terbaik.
Kemenangan lembah Badar terasa lebih manis, tetapi kejatuhan yang terpahat di bukit Uhud lebih menjadi ibrah, tentang kewaspadaan, kesalahan itu mungkin terulang kembali, dakwah ini terpuruk karenanya, berada pada posisi sulit.
“ Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izinNya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu, dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai (harta rampasan). Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema'afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (QS. Ali Imraan:152)
Kesalahan berbuah luka dan kesedihan. Tergelincir di ambang kekalahan. Tetapi dakwah ini tetap milikNya. Sejatuh apa pun yakinlah bahwa Dia akan senantiasa menjaganya.
“(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu.” (QS. Ali Imraan: 153-154)
Di ambang kehancuran, seburuk apapun, tak ada tempat untuk putus asa. Ketika jalan telah buntu, bukan tempat tuk menyerah, masih tetap akan ada titian doa, menjadi jalan lain. Harapan itu akan tetap ada, tetap akan berlanjut, akan bangkit kembali, takkan putus pertolonganNya.
“ Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (dari dosa mereka) dan membinasakan orang-orang yang kafir.” (QS. Ali Imraan: 139-141)
Berharap agar Dia memaklumi posisi sulit kami, memaafkan perbuatan kami yang melampaui batas, menolong apa yang berada di luar kemampuan kami, memberi rahmat atas niat tulus kami, jalan keluar yang terbaik dari kesulitan kami, dengan karuniaNya semata.
Juga agar kelemahan menjadi pelajaran, sehingga kita senantiasa ingat, tak lupa diri menghadapi kemenangan, tak takabur dengan keberhasilan, tak lengah sebelum sampai tujuan.
“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: "Darimana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imraan: 165-166)
Tantangan itu berbuah kemuliaan, membuat kesabaran itu sangat bernilai. Ketidakberdayaan berbuah kepasrahan, meluluhkan keangkuhan. Tak berhenti di gunung Thursina, tak padam di bukit Uhud.