Sabtu, 10 Mei 2014

Sahabat, Sebenarnya Ukhuwah itu (Tak) Mahal

Sahabat, saat dulu aku menyangka musibah yang menimpamu memberi keuntungan bagiku. Aku bergembira dan bersorak karena kemalangan yang menimpamu. Hingga ketika musibah serupa menimpaku, baru aku bisa mengerti apa yang kau rasakan.

Sahabat, saat aku berharap keuntungan dari kejatuhanmu, membiarkanmu terjerembab, hingga saat aku menginginkan pertolonganmu, engkau sudah tak mamiliki kemampuan untuk menolongku.

Sahabat, ketika aku lapang, pintu maaf kututup terlalu rapat, sedang keangkuhanku benar-benar aku tegakkan. Tak terbayangkan suatu saat aku pun akan menemui saat-saat sempit, saat di mana aku membutuhkanmu.

Ketika akhirnya ukhuwah itu terwujud, tapi ia tak bernilai lagi. Ukhuwah, sering ia baru dipungut pada saat-saat sempit, sementara ketika lapang ia dicampakkan. Ketika ia baru terwujud di saat-saat terdesak, ketika kita sama-sama terlanjur terperosok dalam kehancuran, ketika semuanya sudah terlambat.

Ukhuwah memang mahal, ketika harus mengorbankan begitu besar ego, tetapi mengorbankan ukhuwah itu, lebih mahal lagi yang akan harus dibayar. Keuntungan menyia-nyiakannya belum tentu, malah kerugian bersama yang didapat. Ego telah membuat persoalan kecil menjadi besar, sesuatu yang dekat menjadi jauh.

Ukhuwah menjadi berharga, karena ia harus melewati banyak ujian, harus mematahkan banyak ego. Sebelum tak ada yang lebih berharga dari musibah, yang membawa hikmah, mengerti harga ukhuwah yang dicampakkan di waktu lapang. Namun saat itu harga ukhuwah telah menjadi mahal.

Ujian itu, menyapa berupa nasihat-nasihat indah, kepedulian yang amat, padahal sebenarnya bentuk bentuk lain dari iri dan prasangka yang tersembunyi. Ukhuwah yang tak memiliki nilai, kecuali hanya dalih.

Sahabat, ukhuwah seperti inikah yang bisa kita rajut, ukhuwah yang mesti melewati ujian pahit kembali, ketika harus memberikan kepercayaan setelah untuk kesekian kalinya dikhianati. Kesabaran itu memang tak layak untuk habis, tetapi keraguan, keraguan bahwa ukhuwah ini semu belaka. Pintu-pintu curiga bisa ditutup, tetapi lubang-lubang waspada tetap mesti terbuka. Kekhawatiran, akan kembali dicampakkan ketika tak lagi dibutuhkan.

Ukhuwah itu tak ternilai, meski untuk mendapatkannya tak mesti mahal, andai diulurkan sejak masa lapang, bukan ketika telah berada dalam kondisi terdesak. Tulus karena-Nya, bukan keterpaksaan, bukan kepentingan yang berlindung di baliknya.


Kamis, 08 Mei 2014

Ketika Sapi Menjadi Kambing Hitam

Di negeri yang kaya raya ini, kebanyakan penduduknya masih harus bersusah payah memeras keringat membanting tulang, untuk sekedar memenuhi kebutuhan hidup yang ala kadarnya.

Zaman ini, tetap tak ubahnya seperti zaman kolonial atau VOC. Di rumah ketua SI, HOS Tjokroaminoto, sekelompok pemuda biasa berkumpul dan berdiskusi berbagai masalah negeri, Soekarno dan kawan-kawannya yang kebanyakan mereka kemudian menjadi founding father negara ini. Perbincangan tentang penduduk negeri yang subur makmur tapi kerja keras mereka tiap hari tak layak untuk sekedar makan. Waktu itu jawabannya masih sederhana, jutaan gulden yang diangkut oleh penguasa kolonial ke negara mereka.

Menerima nasib sebagai sapi perah, yang masih menyimpan mimpi, mimpi orang-orang lemah yang tertindas. Mimpi menikmati sedikit kekayaan negeri yang luar biasa melimpah, emas, minyak, gas, kesuburan tanah, hasil hutan dan lautnya. Mimpi kecil tentang kemandirian, tentang swasembada pangan dan mobil nasional.

Lebih bisa dimaklumi jika negeri ini kebanjiran mainan anak impor. Tapi apa salahnya jika negeri yang subur menghijau ini kebanjiran pangan, buah dan daging impor. Apa salahnya juga jika mimpi tentang swasembada itu mulai direalisasikan. Setelah swasembada beras tercapai, pengurangan kuota impor daging sapi terus dilakukan secara bertahap, turun dari 53% pada tahun 2010 menjadi 13% di tahun 2013. Di atas kertas, ketersediaan sapi cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional, tetapi kenyataan yang terjadi di pasar lain, harga daging sapi melambung, menjadi harga termahal di dunia, barangnya pun sulit diperoleh.

Mungkin sapi-sapi pada ngambek, tak mau dipotong, menghilang entah kemana. Tapi yang lebih logis, tak mungkin sapi-sapi itu bisa menghilang begitu saja, melainkan berubah menjadi kambing hitam. Kuota daging sapi, sama seperti pembatasan buah impor, berbuah pahit akibatnya.

Sapi, sapi, sapi! Korupsi sapi! Kompak dengan opini yang dibangun media-media milik para cukong yang selama ini menguras kekayaan negeri ini. Segelintir orang kuat yang menikmati sebagian besar kekayaan negeri, yang berkepentingan mengamankan kekuasaan mereka.

Semestinya kita semua tahu kalau para importir itu akan marah. Tapi kita mungkin belum tahu kalau mereka tak perlu bersusah payah menyuarakan kemarahan tersebut, tak perlu bagi mereka berteriak-teriak sampai lelah. Malah kebanyakan penduduk negeri ini dengan sukarela bersedia membantu melontarkan hujatan dan cemoohan sepuasnya, mewakili ekspresi kemarahan para importir itu. Cukup bagi para importir itu tersenyum puas menyaksikannya.

Begitu mudahnya sapi menjadi kambing hitam, semudah menjawab pertanyaan mengapa ketika sapi-sapi itu mengamuk, bukan hanya harga dagingnya yang melambung, harga bawang pun tak kalah melejit, 75 ribu rupiah sekilonya. Memangnya apakah ketika harga daging sapi tak terjangkau, para konsumennya beralih memakan bawang secara besar-besaran? Apakah ketika para pedagang bakso kesulitan mendapatkan daging sapi, lantas mereka beralih menggunakan bawang sebagai bahan baku pengganti pembuatan baksonya?

Biarlah sapi tetap menjadi sapi, tak perlulah ia dipaksa-paksa menjadi kambing hitam, agar ia bisa menikmati segarnya rumput di negeri yang subur ini, tak hanya boleh hidup di negeri seberang sana, meski tidak nyaman bila didengar para importir daging itu. Agar membuka kesadaran orang-orang yang tak mau dikatakan bodoh, supaya mengerti seperti apa dunia ini sebenarnya.

Sebuah jawaban mengapa kita hanya terombang-ambing dari satu rezim kepada rezim yang lain. Sebelum bermimpi tentang emas, minyak dan gas yang kian raib, kita sudah cukup terhibur dengan suguhan semacam serial drama atau festivalisasi ala KPK, sudah cukup menikmati pertunjukan seperti mobil ESEMKA atau mobil listrik.

Mewujudkan mimpi itu tak semudah membalik telapak tangan, dunia ini bukan tempat untuk berharap penguasanya berbaik hati. Tapi sepahit-pahitnya menjadi orang lemah yang terzhalimi, sesungguhnya lebih pahit menjadi mereka yang menebar kezhaliman dan angkara murka.

Begitu mudahnya membeli negeri ini dengan hanya 50 ribu rupiah per orang, diterima dengan senang hati pula. Daripada ditolak, toh juga tidak mendapat apa-apa, sama saja untuk kesekian kalinya terjebak pada pencitraan-pencitraan semu. Ketika kadang-kadang masih ada usaha untuk tidak bersikap apatis, tetapi pilihan itu benar-benar sudah tidak ada. Permainan sudah diselesaikan sebelum pertandingan dimulai.

Tentang ribuan triliyun yang raib dari negeri ini, tak tahu lagi seperti apa rasanya, sudah terlalu banyak kehilangan, anggap saja sebagai sedekah kita. Agar di antara banyaknya kelalaian kita kepada-Nya, kezhaliman yang menimpa menjadikan diri ini masih cukup istimewa di hadapan-Nya, setidaknya untuk menolong diri, syukur-syukur mendapat kekuatan untuk menolong dunia, termasuk menolong para tiran yang zhalim itu, membebaskan mereka dari perbuatan zhalimnya, menggapai kebersamaan dalam dunia yang penuh kedamaian.

Toh sebenarnya ada kekayaan yang lebih besar, yang selama ini kurang kita sadari. Kekayaan yang oleh para penguasa dunia itu dipandang sebelah mata. Untuk melihat saja enggan, apalagi mau bersusah payah merampas dari kita. Padahal kekayaan itu, diambil seberapa pun, tak kan berkurang sedikit pun bagi pemiliknya. Bahkan kita sendiri sering mengabaikannya. Kekayaan hati.

Kekayaan hati, sebagaimana yang telah membuat suatu kaum menjadi mulia, yang tiap-tiap mereka mampu mempersembahkan emas sebesar dua Gunung Uhud kepada Penguasa alam semesta, bahkan lebih. Sementara ratusan juta penduduk negeri ini, hanya mampu berpatungan memberikan emas sebesar gunung Freeport kepada penguasa dunia, itupun tak terlalu memberi kebahagiaan yang sesungguhnya bagi mereka.

Kekayaan hati, yang banyak disia-siakan kebanyakan penduduk dunia, padahal ia bisa menjadi kebahagiaan sejati, yang ketika penduduk dunia ini mau mengambilnya, selembar sajadah lebih berharga dibanding dunia seisinya.


Jumat, 02 Mei 2014

Saat Muslim Menjadi Rahmat, Perilaku Ramah Air

Islam membentuk umatnya untuk menjadi pribadi yang memiliki nilai lebih, memiliki semangat menebar kemanfaatan bagi lingkungan sekitarnya, memiliki motivasi untuk senantiasa berbuat baik dan berupaya mengadakan perbaikan.

Nilai-nilai Islam melingkupi semua aspek kehidupan secara utuh, membentuk umatnya menjadi pribadi yang ideal. Termasuk mengatur hal-hal kecil yang sepertinya sederhana, tak terpikirkan oleh menusia kebanyakan, tetapi ternyata memiliki hikmah yang besar. Tentang pola hidup yang baik, etika, perilaku hidup sehat, menjaga kebersihan, etos kerja dan efisiensi. Upaya mengefektifkan potensi hidup untuk menjadi amal shalih semaksimal mungkin, bahkan agar yang kita kerjakan bisa memiliki manfaat ganda.

Hal-hal kecil yang sepele begitu diperhatikan oleh Islam, tidak memasuki masjid sesudah mengkonsumsi bawang, tidak meninggikan rumah sehingga menghalangi rumah tetangga, menyingkirkan duri dari jalan, tidak membiarkan makanan terbuang, atau tidak membuat masakan yang baunya sampai kepada tetangga melainkan berbagi kepadanya. Berbuat sebaik-baiknya, memberi dengan baik, menerima dengan baik, atau bertamu dengan baik. Mengutamakan orang lain, mengikis ego, menempatkan dengan baik hak dan kewajiban, serta memupuk kepedulian dan kesetiakawanan.

Sehingga semestinya seorang muslim memiliki kepekaan sosial, mampu merasakan kesulitan yang dihadapi orang lain, mempermudah urusan mereka, bukan mempersulit, serta memiliki keikhlasan untuk berbagi .

Bukan hanya terhadap sesama, binatang dan benda-benda tak bernyawa pun tak lepas dari rahmat yang dibawa Islam. Islam mengajarkan untuk tidak menyakiti binatang, memberi minum binatang yang haus, menajamkan pisau ketika menyembelih agar tidak menyakiti. Islam melarang memubazirkan barang, sekecil apapun agar menjadi sebuah kemanfaatan.

Ikhlas, kunci agar semua amal shalih itu tidak dirasa sebagai beban yang berat, mendapatkan kemudahan untyuk melakukan amal shalih tersebut, menjalani sebuah fitrah yang lurus, menjadi kebahagiaan dalam kehidupan di dunia dan di akhirat.

Menjadi tantangan bagi kita mewujudkan kesempurnaan Islam ini, untuk menjawab problematika yang sedang dihadapi masyarakat. Dari persoalan sampah, rokok, lingkungan hidup, hingga persoalan kejujuran dan krisis yang dialami dunia.

Ada yang menarik dari pembahasan mengenai Fikih Air pada Munas Tarjih Muhammadiyah beberapa waktu lalu. Bagian dari upaya mengaplikasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata, menjadi rahmatan lil alamin yang sesungguhnya. Berikut hasil Munas Tarjih yang dikutip dari www.Sangpencerah.com.

Pada level individu dan keluarga perlu pembiasaan untuk membetulkan kran atau sambungan pipa di rumah, kantor, masjid atau pipa irigasi yang bocor. Kemudian tidak membiarkan anak bermain dengan kran atau selang air di halaman atau di kamar mandi dan tidak membiarkan kran air terus mengucur pada saat mencuci mobil atau sepeda motor, serta mematikan air bila tidak diperlukan. Juga membiasakan untuk mematikan kran ketika sedang menggosok gigi, mandi atau mencuci peralatan rumah tangga dengan sabun atau detergen. Mengganti ukuran kran dengan ukuran kecil sehingga tidak terlalu banyak mengeluarkan air. Menggunakan shower untuk kamar mandi. Sedapat mungkin tidak menggunakan kamar mandi yang banyak menggunakan air (semisal bath-up).

Demikian pula dalam berwudlu, hindari penggunaan air yang berlebihan. Menyisakan halaman rumah untuk resapan air hujan, dengan tidak menutup seluruh halaman rumah dengan pengerasan (aspal dan beton,) karena air hujan tidak akan bisa meresap ke dalam tanah untuk menambah cadangan air tanah. Arahkan kucuran air hujan dari atap rumah untuk dapat asuk ke sumur peresapan di halaman rumah, sehingga tidak langsung dibuang ke jalan atau selokan. Memilih tanaman hias, perkebunan atau tanaman pangan yang tidak rakus air. Siramilah tanaman di lahan pada waktu pagi atau sore hari pada waktu suhu udara tidak terlalu panas dan tiupan angin tak terlalu kencang, sehingga bisa mengurangi kehilangan air melalui evaporasi. Gunakan pupuk organik untuk tanaman daripada pupuk buatan. Pupuk organik disamping lebih sehat, lebih menghemat air untuk prosesnya. Sedangkan pupuk buatan (pupuk kimia/non-organik) prosesnya memerlukan air yang lebih banyak per kg berat pupuk, merusak tanah dan menjadi sumber polusi. Bila memungkinkan buatlah lubang-lubang pembuangan sampah organik di halaman rumah. Sampah organik akan bisa memperbaiki struktur tanah sehingga memudahkan air hujan meresap ke dalam tanah serta memperbaiki kesuburan tanah. Apabila di dalam rumah terdapat kolam renang, maka tutuplah kolam renang dengan penutup dari lembaran plastik pada saat tak digunakan, hal ini akan bisa menghambat penguapan air. Gunakan air kolam renang yang kotor untuk keperluan menyiram tanaman atau disalurkan ke kolam atau media lainnya sehingga tidak langsung terbuang.

Demikian pula tampungan air kucuran kran dan bekas air wudlu. Air ini masih bisa digunakan untuk menyiram tanaman atau untuk memelihara ikan di kolam dan keperluan lainnya. Gunakan peralatan dapur yang terbuat dari bahan alamiah (kayu, bambu, daun tanaman dan sebagainya) daripada menggunakan bahan yang terbuat dari plastik. Pilihan ini disamping lebih berwawasan lingkungan juga lebih sehat dan menghemat air. Bahan-bahan peralatan atau perlengkapan dapur dan perlengkapan rumah tangga yang terbuat dari plastik memerlukan air yang cukup banyak per kg bahan dalam proses pembuatannya. Jika berbelanja ke pasar, supermarket atau ke toko, usahakan membawa keranjang atau tas belanja dari rumah utnuk mengurangi pemakaian tas plastik (tas kresek). Tas plastik dalam proses pembuatannya memerlukan banyak air dan tidak bisa didegradasi sehingga menjadi bahan polusi lingkungan. Pilihlah bahan makanan dan minuman yang proses pembuatannya tidak memerlukan banyak air untuk memprosesnya. Pilihlah untuk membuat jus buah sendiri daripada membeli jus buah siap saji. Cara ini disamping lebih sehat juga bisa menghemat air. Pada waktu mencuci pakaian (pakai tangan atau pakai mesin cuci) atau peralatan dapur, pilihlah detergen yang ringan dan ramah lingkungan, sehingga tidak memerlukan banyak air untuk membilas. Untuk membilas detergen kuat, diperlukan lebih banyak air dibandingkan dengan detergen ringan. Hindari tumpahnya minyak (goreng atau minyak lain) ke dalam tampungan atau sumber air. Hal ini karena untuk memurnikan atau membilasnya memerlukan banyak air.

Pada level masyarakat, kegiatan pengelolaan air berbasis masyarakat dapat dilakukan melalui kegiatan konservasi, pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air. Tingginya tingkat keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ini, diharapkan menjadikan daerah tangkapan hujan di hulu semakin berfungsi sebagai hutan lindung yang bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat. Wilayah hulu semakin produktif dengan basis jasa lingkungan wilayah hilir dan kawasan perkotaan terbebas dari ancaman daya rusak air, antara lain bencana banjir dan kekeringan. Melakukan sistem pengolahan limbah domestik di kawasan permukiman sehingga dapat menjaga kualitas air. Misalnya, pengolahan limbah domestik cair dan sampah untuk kompos. Juga bisa melalui teknologi tepat guna untuk membuat air berkualitas sesuai baku mutu untuk keperluan air minum penduduk di kawasan lingkungan dengan kualitas air rendah. Melakukan upaya penampungan air hujan (Rainwater Harvesting/RWH) untuk irigasi, mencuci, bilasan toilet, peternakan, dll. Upaya ini bisa melalui penggunaan ember atau lainnya. Melakukan irigasi tetes atau sprinkler atau alur yang lebih hemat air daripada cara irigasi dengan penggenangan (basin). Mewujudkan gerakan “Shadaqah Air” bagi masyarakat yang minus air, secara langsung atau melalui penggalangan dana untuk pembuatan saluran air bersih.

Pada level dunia usaha, perlunya sinergitas pelestarian air antara dunia usaha dan masyarakat melalui CSR (Corporate Social Responsibility). Mewujudkan usaha-usaha produktif yang berbasis pada penghematan air. Menciptakan lingkungan kerja yang ramah air melalui edukasi, ceramah, kampanye pelestarian lingkungan, poster, cek rutin sarana air serta audit lingkungan sekitar perusahaan.

Pada level pemerintah perlunya kontrol pelestarian air dan lingkungan sesuai aturan yang berlaku. Upaya penegakan hukum (law inforcement) terhadap perusahaan atau warga yang tidak ramah air dan lingkungan. Upaya membangun sinergitas pengelolaan sumberdaya air antar sektor dan wilayah pemerintahan setempat. Pengembangan sistem pembiayaan pengelolaan air sesuai prinsip cost recovery maupun kondisi sosial ekonomi masyarakat yang ada.

Demikianlah sebagian kecil dari luasnya rahmat yang dibawa Islam. Diriwayatkan dari Jabir ia berkata, Rasulullah saw bersabda,”Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dan Daruquthni)

Dari Ibnu Umar bahwa seorang lelaki mendatangi Nabi saw dan berkata,”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling diicintai Allah, dan amal apakah yang paling dicintai Allah swt?” Rasulullah saw menjawab,”Orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling bermanfaat buat manusia dan amal yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukkan kedalam diri seorang muslim atau engkau menghilangkan suatu kesulitan atau engkau melunasi utang atau menghilangkan kelaparan. Dan sesungguhnya aku berjalan bersama seorang saudaraku untuk (menuaikan) suatu kebutuhan lebih aku sukai daripada aku beritikaf di masjid ini (yaitu Masjid Madinah) selama satu bulan. Dan barangsiapa yang menghentikan amarahnya maka Allah akan menutupi kekurangannya dan barangsiapa menahan amarahnya padahal dirinya sanggup untuk melakukannya maka Allah akan memenuhi hatinya dengan harapan pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang berjalan bersama saudaranya untuk (menunaikan) suatu keperluan sehingga tertunaikan (keperluan) itu maka Allah akan meneguhkan kakinya pada hari tidak bergemingnya kaki-kaki (hari perhitungan).” (HR. Thabrani) Hadits ini dihasankan oleh Syeikh al Albani didalam kitab “at Targhib wa at Tarhib” (2623).


Sabtu, 26 April 2014

(Bukan) Maju Untuk Kalah, Mundur Untuk Menyerah

Tentang suatu pasukan, tatkala harus mengambil keputusan yang berat, sebuah pilihan yang sangat dilematis. Memaksa untuk maju, bersama bayang-bayang kekalahan dan kehancuran. Atau terpaksa untuk mundur, meski juga tak semata-mata ingin menyerah.

Bukan hanya soal keberanian, tidak pula tentang kalah dan menang semata, tetapi menyangkut kepentingan besar bagi umat, yang benar-benar sedang dipertaruhkan di atasnya, teramat mahal akibat yang akan dibayar.
Apalah artinya keberanian, melaju dalam gempita, jika hanya melangkah menuju lubang jebakan yang telah dipersiapkan oleh lawan, akhirnya hanya menjadi bulan-bulanan, tercatat sebagai keberanian konyol seorang pecundang.
Terkadang, jalan mesti berliku, saat-saat di mana langkah harus memutar, mengambil strategi yang lain. Memang mundur tak selamanya berarti menyerah, tapi tetap saja ada bayang kekhawatiran jika langkah ini akan tercatat sebagai keputusan seorang pengecut.
Hati-hati, bukan sekedar keberanian, tetapi ia buta. Bukan sekedar pengorbanan, tetapi ia sia-sia. Tetapi juga bukan keraguan, yang akhirnya berbuah ketakutan, menafikkan apa yang sebenarnya telah mampu untuk dicapai. Peluang, bahkan mungkin yang terakhir, mungkin tersandera oleh keraguan ini.
Atau bila menempuh pilihan untuk nekat, mengabaikan perhitungan, logika dan realitas, bersandar semata kepada pertolongan-Nya yang tak kurang-kurang, semata-mata berbekal keyakinan atas kekuasaan-Nya yang tak terbatas. Namun jangan-jangan ini hanyalah optimisme semu belaka.
Di antara ketergesaan dan keberlambatan, untuk membuat keputusan dengan tepat, mampu mengukur kekuatan diri dan lawan. Bukan keputusan emosional semata, bukan menuruti ambisi tanpa perhitungan.
Ya Allah, kami hanyalah hamba-hamba yang lemah, tak semestinya kami bersandar pada kemampuan kami semata. Agar kelemahan kami menjadikan kami lebih bersimpuh memohon pertolongan-Mu. Meski kami tak dibebani kewajiban untuk berhasil, tapi yang kami ketahui, ikhtiar yang kami lakukan mesti sebaik-baiknya.
Ya Allah, untuk para pemimpin kami, berikan sebaik-baik bimbingan kepada mereka, pilihkan keputusan yang terbaik bagi kami, agar benar-benar berhitung dengan seksama, ketika tipu daya yang kami hadapi di luar kemampuan kami
Bukannya kesatuan dan tekad tak cukup, tapi ada fase-fase yang harus ditempuh untuk sebuah kemenangan, agar ia layak untuk disematkan, dan mungkin selama ini belum dilakukan. Agar tekad tak berbuah kecerobohan, agar kesatuan tak justru menjadi sandungan.
Berusaha terbaik, berharap pilihan terbaik, sebelum semuanya terlambat, agar tak menjadi penyesalan kelak.


Jumat, 25 April 2014

Plus Minus Mengusung Capres Partai Islam

Sebenarnya cukup riskan untuk membuat dikotomi tentang Islam dalam lingkup ketatanegaraan kita. Piagam Madinah menjadi gambaran awal bahwa Islam telah menggariskan untuk mengakomodasi seluruh komponen masyarakat dalam kehidupan bernegara, termasuk terhadap non-muslim. Terlepas dalam praktek selanjutnya memang tidak seluruh umat Islam mampu mengimplementasikan substansi Piagam Madinah tersebut secara moderat.

Akan tetapi, dalam perjalanan negara ini maupun pengalaman di berbagai negara lain, seringkali umat Islam berada pada posisi sulit, mimpi buruk termarjinalisasi, terdiskriminasi, serta kesulitan untuk mendapatkan hak-hak yang semestinya diperoleh. Bahkan seringkali kediktatoran sebuah penguasa, kelaliman mereka dalam mengeksploitasi rakyatnya, berkorelasi dengan kondisi tidak baik yang didapatkan umat Islam.

Keyakinan terhadap kebaikan Islam dan tekad untuk mewujudkannya dalam kehidupan melahirkan sebuah komitmen bagi umat untuk mengambil peran optimal dalam kehidupan bernegara. Target ideal itu adalah mengusung Capres dari kalangan Islam, bertepatan dengan momen peningkatan suara yang diraih partai-partai Islam dalam Pileg 2014 ini, juga seiring terwujudnya komunikasi berbagai elemen kekuatan politik dan ormas Islam untuk menjalin koalisi dalam Pilpres mendatang.

Upaya ideal ini sebenarnya menyisakan masalah, ketika harus berhadapan dengan realita yang ada. Pertama, kekuatan politik Islam memiliki masa lalu yang tak pernah akur. Selama ini masih teramat sulit untuk memadukan langkah di antara elemen umat yang terpolarisasi dalam beragam corak. Persoalan friksi di antara umat ini tentunya tidak akan begitu saja terselesaikan dengan mudah.

Kedua, kekuatan politik Islam realitanya juga dibangun dari proses politik yang korup, juga belum bisa melepaskan diri sepenuhnya dari money politic. Tanpa keduanya parpol-parpol besar termasuk partai-partai Islam tak ubahnya akan seperti partai gurem. Inilah realitas yang dihadapi, termasuk kondisi masyarakat yang makin pragmatis, termasuk umat Islamnya. Sementara kekuatan pendanaan dan media yang dimiliki umat kalah jauh dengan yang dimiliki rival-rivalnya.

Kedua persoalan ini bisa menjadi bom waktu yang menjadi sandungan untuk menjalankan suatu pemerintahan bersama yang efektif.

Ketiga, Pilpres berbeda dengan Pileg. Elektabilitas tokoh yang diusung tak mesti berkorelasi dengan komposisi di legislatif. Bisa melihat dalam berbagai Pilkada, misalnya di Jawa Barat. Elektabilitas Aher lebih menentukan daripada kecilnya perolehan suara partai yang mengusungnya. Elektabilitas tokoh-tokoh yang berasal dari kalangan Islam dalam beberapa Pilkada dan Pilpres terakhir, harus diakui memang masih merupakan problem. Kita tidak bisa mengesampingkan begitu saja test case Pilkada DKI Jakarta yang lalu. Tokoh-tokoh umat seperti Amin Rais, Jusuf Kalla atau Hidayat Nur Wahid memiliki pengalaman elektabilitasnya jauh di bawah mesin politik yang mengusungnya dalam suatu pemilihan langsung.

Target optimal mengusung Capres dari kalangan Islam sendiri, sebenarnya juga memiliki resiko jika nantinya kalah dalam pertarungan, umat akan terdepak sepenuhnya dari pusat kekuasaan.

Bukan soal menang kalah semata, bukan soal keberanian menjadi oposisi, tetapi tentang kepentingan dan agenda keumatan. Di tengah bayang-bayang kekuasaan akan jatuh ke tangan pihak yang tidak ramah terhadap agenda keumatan, kekuasaan akan digunakan secara efektif untuk memuluskan agenda-agenda mereka, kaum sekuler, liberalis dan aliran sempalan, melalui kedekatan mereka dengan pusat kekuasaan. Di sinilah kepentingan umat dipertaruhkan.

Bayang-bayang upaya memarjinalisasi secara represif terhadap umat Islam sebagaimana yang terjadi pada awal Orde Baru, meski bisa jadi terwujud dalam bentuk lain yang lebih halus tapi dahsyat, dalam situasi perang opini dan media. Kasus jilbab, kondomisasi, regulasi miras, jaminan produk halal dan RUU Ormas menjadi gambaran awal.

Di bawah opsi mengusung Capres sendiri, ada pilihan untuk mengusung Cawapres atau hanya sekedar mendukung calon dari kalangan lain yang dipandang paling bisa mengakomodasi kepentingan dan agenda umat, untuk meminimalisasi resiko, mempertimbangkan kepada realitas yang ada.

Meski juga bukan berarti tanpa resiko. Dunia politik yang tak mengenal balas budi. Gus Dur yang memenangkan pemilihan dengan dukungan kalangan Islam, begitu mudahnya menohok kalangan yang mengusungnya begitu berkuasa. Keberadaan JK sebagai Wapres dan keberadaan politikus Islam di kabinet dan Setgab, tidak bisa mendikte sepenuhnya pada kebijakan yang bersinggungan pada kepentingan umat. Faktor track record masa lalu dan posisi tawar ke depan menjadi penting diperhatikan.

Termasuk resiko kehilangan kesempatan bagi umat, pada saat memiliki momen bisa menyatukan visi bersama. Tetapi juga penting mencermati apakah prasyarat dan fase-fase untuk terwujudnya visi tersebut sudah ditempuh umat ini. Untuk membuat sebuah keputusan dengan seksama, sebelum semuanya terlambat. Keputusan terbaik, tak tersandera oleh keraguan, tapi juga tak terjebak pada optimisme semu.
Melihat beratnya kondisi yang dihadapi umat, semestinya masing-masing elemen umat tidak mengedepankan ego, emosi dan ambisi pribadi.

Selayaknya mencermati dengan seksama setiap keputusan yang diambil, kepentingan umat sedang dipertaruhkan. Bukan sedang memperebutkan sebuah jabatan yang empuk tetapi memikul tanggung jawab yang berat menyangkut umat ini. Jangan sampai mengedepankan semata-mata ambisi pribadi mengatasnamakan kepentingan umat.(pksnongsa)

Rabu, 23 April 2014

Mudahkan Ya Allah

Berhadapan dengan gelombang, ketika harus menghadapinya. Atau berjumpa dengan badai, ketika harus melewatinya. Serasa tak kan mampu menghadapinya, mungkin juga serasa tak akan selamat melewatinya.
Jalan buntu, yang hampir memaksa untuk menyerah, tak tahu lagi apa yang mesti dilakukan. Begitu banyak ketidakmungkinan, dari hal-hal kecil dalam keseharian, hingga perkara besar yang menyangkut sebuah negeri.
Kesulitan hidup yang seperti tak kan terpecahkan, sakit yang seolah tak menyisakan harapan untuk sembuh, hingga sebuah negeri yang terbelit dalam cengkeraman kezhaliman, terjajah oleh perilaku nista, seolah tak bisa diperbaiki lagi, tak tahu jalan untuk membebaskan diri. Bahkan ketika harus menghadapi suatu prahara atau revolusi yang berat, seperti menghadapi pertarungan yang berdarah-darah.
Betapapun besarnya aral, ketika ia telah terlampaui, tak sehoror ketika baru akan menghadapinya. Seperti yang dirasakan mereka yang selamat dari sebuah bencana yang dahsyat. Apalagi orang-orang, dirinya sendiri bahkan tak mengerti, merasakan betul suatu keajaiban. Mereka yang pernah melewati kesulitan hidup yang berat, merasakan betul adanya keberuntungan.
Negeri yang pernah merasakan cengkeraman imperialisme dunia, serasa tak berdaya, tapi tak menyurutkan cita untuk meraih kemerdekaan. Cita yang seolah teramat jauh untuk dituju, teramat tinggi untuk digapai. Ternyata yang terjadi, ada jalan tak terduga yang mempermudah kemerdekaan itu tercapai, sesuatu yang tak mungkin kemudian menjadi terwujud. Betapa banyak rezim yang kokoh, seperti tak akan runtuh, namun dalam sekejap segalanya berubah. Kekuasaan begitu mudah untuk berganti, tak terbayangkan situasi begitu mudah berubah.
***
Dunia ini, zaman ini, dalam cengkeraman kezhalimannya, belitan kerusakannya, tak berdaya menghadapinya, seolah tak lagi bisa diperbaiki. Betapapun beratnya, menjaga tekad untuk memperbaikinya agar tetap hidup, agar tak menyurutkan ikhtiar. Dari ikhtiar yang tak seberapa ini, berbuah pertolongan-Nya, agar diberi kemudahan, sebuah jalan keluar yang terbaik.
Apa yang mustahil menjadi mudah, apa yang tak mungkin akhirnya terwujud. Agar dari kelemahan ini, lebih terasa kebutuhan akan pertolongan-Mu, hingga kami lebih merendahkan diri kepada-Mu. Apapun yang kami capai nantinya, tetap dirasa bukan karena kekuatan dan kehebatan kami, melainkan pertolongan dan karunia-Mu semata, sehingga sempurna syukur kami kepada-Mu.
“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.” (QS. Ali ‘Imran: 186)
Semakin beratnya ujian yang dihadapi adalah semakin besar kemuliaan yang di dapat. Tetapi kami merasa terlalu lemah untuk memikulnya, berharap dimudahkan, diringankan, mendapat karunia dari ampunan dan rahmat-Mu.
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Wahai Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (QS. Al Baqarah:186)

Selasa, 22 April 2014

Menatap Kekalahan

Telah kesekian kalinya, dipaksa untuk menerima kekalahan. Tak ada lagi pilihan, dibuat tak berdaya. Kali ini mungkin juga terulang, hanya bisa termanggu membiarkan mereka melibas dan memporak-porandakan semuanya.
Pada titik terendah kelemahan seorang hamba, yang tak lagi bisa berbuat apa, hingga membuat angan tentang strategi dan optimisme terlalu naif, tetapi bayang tentang kekalahan dan menyerah juga terlalu pahit.
Di antara dahsyatnya intrik dan tipu daya, hingga semua yang dipersiapkan untuk menghadapinya menjadi urung, tanpa tahu apa yang mesti dilakukan, tetapi tidak dengan doa, ia akan senantiasa bisa terucap, bahkan menjadi lebih berarti pada hamba-hamba yang berada dalam keadaan lemah terzhalimi. Bersimpuh dan kepasrahan, dalam ketidakberdayaan menjadi lebih bermakna, berharap membalikkan suatu ketidakmungkinan.
Tak apa kami tumbang dan binasa, tetapi cita ini ya Rabb, mohon untuk diselamatkan, agar ia tetap hidup, dan menyelamatkan kami. Di antara banyaknya kealpaan kami, masih tersisa pengharapan terhadap-Mu. Di antara banyaknya hamba-hamba yang lalai di antara kami, ada jiwa-jiwa yang tsiqah memegang cita tentang umat ini, teguhkan mereka dengan sebaik-baik karunia-Mu, berikan kekuatan agar menjadi penolong kami.
Berharap dari kejatuhan ini, mendapatkan jalan lain yang lebih baik. Dari kekalahan ini, menjumpai kemenangan yang lebih besar esok. Kemenangan sempurna, yang bertolak dari ketidakmungkinan. Agar drama kehidupan ini lebih spektakuler, menjadi rangkaian cerita yang indah. Sebuah prestasi menjadi lebih berharga manakala ia telah melewati kesulitan-kesulitan besar.
Yakinkan kami, Kemenangan-kemenangan musuh itu tak lebih dari tipu daya-Mu, untuk sempurnanya kemenangan kami. Ketika tipu daya telah sempurna, semua hampir tercapai, mata mereka terbelalak dan berkata: “Celaka kami, sesungguhnya kami berada dalam kelengahan tentang ini.” Membuyarkan semua yang telah tersusun, yang tinggal selangkah. Berhadapan dengan sebaik-baik Pembuat tipu daya.
Aral, tak tergambarkan sebelum ia datang, amat berat dirasa tatkala berjumpa, namun setelah berlalu ia menjadi ringan. Seperti tertatih dan payah di kegelapan malam, namun sebentar lagi menyongsong fajar. Tak seperti berada di puncak kemenangan yang megah, namun sebentar lagi malam menjelang, sepahit menatap kekalahan.
Kesabaran untuk menanti sebuah janji yang pasti,
“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah Kami tulis dalam Az Zikr (Lauh Mahfuzh), bahwasanya bumi ini akan diwarisi ole hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. Al Anbiyaa’: 105)
Kemenangan untuk hamba-hamba yang terpilih,
“ Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An Nuur: 55)