Jumat, 22 Mei 2015

Jawa, yang tak Pernah Ikhlas Menerima Islam?

Segera setelah merebaknya kasus pembacaan Alquran berlanggam Jawa di Istana Negara beberapa hari lalu, seorang kawan berkata, apa yang Merle Calvin Ricklefs katakan memang benar. Lewat bukunya, Mengislamkan Jawa, profesor Australian National University itu memang pernah berkata bahwa sejatinya orang Jawa tak pernah ikhlas menerima Islam.
Selain kontroversial, pernyataan Ricklefs memang belum sepenuhnya benar. Yang Ricklefs bilang mungkin masuk akal, yakni bahwa orang Jawa begitu mencintai budaya kepercayaan mereka (Kejawen). Karena itu, bisa dikatakan nyaris semua agama yang datang ke Jawa mengalami sinkretisme.
Misalnya, pada agama Budha yang relatif tidak mengenal konsep Divine alias causa prima, konsepsi Budha di Jawa mengenal Tuhan Yang Maha Esa. Sementara, konsep Hindu tentang tiga dewa utama (Trimurti), diadaptasi ke dalam konsepsi Jawa dengan penambahan Sang Hyang Widhi.
Demikian pula pada saat kedatangan Kristen. Kita kenal Sadrach, seorang misionaris pribumi yang tergolong sukses melakukan Kristenisasi Jawa melalui sinkretisme. Tidak hanya mencantumkan kyai di depan namanya, Sadrach juga menggunakan banyak tradisi Jawa dalam menyukseskan agenda misinya.
Sinkretisme ini bahkan tak hanya dilakukan misionaris pribumi. Conrad Laurens Coolen, seorang misionaris keturunan Rusia-Solo, meraih sukses dalam misi Kristenisasi juga dengan cara yang disebutnya kontekstualisasi. Apa itu? Misalnya, Coolen tak ragu memakai jampi-jampi dan mantera dalam upayanya.
Bahkan Coolen dengan yakin memasukkan unsur kepercayaan dan keyakinan mistik Jawa. Misalnya, karena masyarakat Jawa yang agraris mempercayai Dewi Sri, Coolen melakukan ritual dengan pertama-tama memohon kepada Dewi Sri, diakhiri dengan nama Yesus yang diajarkannya merupakan Dewa yang lebih besar.
Dan bukankah umat Islam pun mengakui bahwa hanya dengan cara-cara adaptasi dan pendekatan budaya, Wali Songo bisa mengislamkan Tanah Jawa? Barangkali, hal itu sesuai dengan peribahasa di mana Bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Atau Sebagaimana kata Julian Pitt-Rivers (1963) dalam esainya tentang sosiologi Mediteranea, “You cannot be a Brahmin in the English countryside.”
Misalnya, untuk menjawakan Islam, dalam Kitab Usulbiyah yang ditulis Sultan Agung, digambarkan bahwa Nabi Muhammad SAW mengenakan mahkota emas dari Majapahit. Tak hanya itu, dikatakan bahwa membaca kitab ini setara dengan menggenapi dua dari lima rukun Islam.
Kembali ke Ricklefs, penentangan terhadap pengislaman Tanah Jawa tidak lekang oleh waktu. Setelah sebagian besar Jawa menganut Islam pun, penentangan tak berhenti. Misalnya, pada 1870-an, para penulis di Kediri meramu berbagai ejekan dan olok-olok mengenai Islam dalam tiga karya sastra, Babad Kedhiri, Suluk Gatholoco dan Serat Darmoghandul.
Tiga karya itu adalah karya yang tak jarang sarkastis. Versi lebih lunak yang menginginkan agar orang-orang Jawa tetaplah njawani dan tidak berlaku laiknya orang Arab yang dalam sisi lain dipandang menjadi seorang Muslim kaffah atau seutuhnya, pun tidak jarang.
Misalnya, dalam Serat Wedhatama (Kebijakan yang Lebih Agung), Mangkunegara IV bersyair:
“Jika kalian berkeras untuk meniru
Teladan Sang Nabi
Duhai Putra-putriku, kalian melakukan hal yang mustahil
Artinya kalian tak akan bertahan lama
Karena kalian ini orang Jawa
Sedikit saja sudahlah cukup.”
Kini, apakah kita bisa mengatakan bahwa kasus pembacaan Alquran dengan langgam Jawa di Istana adalah bentuk purifikasi Jawa dalam konteks Islam? Apakah kasus itu juga bisa menjadi contoh penentangan Jawa untuk menjadi Islam sepenuhnya? Biarlah Anda jawab sendiri.
Namun, barangkali pernyataan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dien Syamsuddin, adalah keputusan yang sangat bijak. Pada sebuah kesempatan Dien berkata,”Saya percaya bahwa gerakan Muhammadiyah memang memiliki akar kultural kuat pada nilai-nilai keIndonesiaan. Tapi Muhammadiyah memilih untuk mensenyawakan nilai-nilai Islam pada budaya Indonesia untuk adanya Indonesia yang Islami’ daripada Islam yang Indonesiawi.”

Darmawan Sepriyossa
Iinilah.com

Kamis, 21 Mei 2015

Hudzaifah, Sang Paradoks Reformasi

Hudzaifah, aku hampir merasa kalau bukan karena nama itu mungkin tak pernah ada kebersamaan antara kita. Tetapi begitulah takdir mempertemukan kita. Latar belakangmu teramat beda dengan kebanyakan kami. Engkau adalah seperti orang asing di antara kami.
Terlalu sering engkau mengambil sikap berbeda dengan kebanyakan teman-teman. Kadang di antara kami merasa jengah denganmu. Tetapi kami mengakui, dalam beberapa hal engkau cukup brilian. Biarlah kami anggap ini sebagai pembelajaran untuk bisa menerima perbedaan pendapat. Bukankah aneh bila kita memperjuangkan reformasi, kebebasan dan demokrasi, sedang kita sendiri tidak siap untuk berbeda.
Namamu mengingatkanku pada seorang sahabat Rasulullah, Hudzaifah Al Yamani. Ia memang tak se-nyleneh engkau. Tetapi ia dikenang karena mengajukan sebuah pertanyaan kepada Rasulullah tentang kejahiliyahan, ketika para sahabat lain pada umumnya bertanya tentang kebaikan.
***
Gegap gempita, pekik takbir, tangis haru, tak mampu lagi kuungkapkan histeria ini. Aku hanya melakukan sujud syukur, sementara di depan gedung ini begitu banyak kawan-kawan yang menceburkan diri ke dalam kolam. Rezim diktator yang telah mencengkeram kami selama puluhan tahun, akhirnya tumbang juga. Berakhir!
Hudzaifah, kau tak ada di sini. Engkau selalu berada di tempat yang jauh di sana. Engkau tak ikut merasakan kegembiraan kami kini, sebagaimana engkau tak pernah merasakan kepayahan kami di jalanan selama ini.
Tapi aku tahu betul apa yang kau rasakan di kejauhan sana. Aku seperti melihatmu jelas di hadapanmu. Gegap gempita yang kurasakan, tidak sama sekali olehmu, wajahmu muram, tertunduk, menanggung beban yang amat berat.
Sejak awal reformasi ini bergulir, tatkala masih seperti mission impossible, hingga rezim ini di ambang kejatuhan, sikapmu tak pernah berubah.
“Timah panas yang membunuh sahabat kita, masih juga tak kau rasakan?”
“Lupakan tentang reformasi ini, kembalilah! Itu lebih baik bagi bangsa ini. Kita tak boleh mengukur negara ini dengan ukuran negara lain.”
“Dan kau akan tercatat sebagai orang yang berdiam diri terhadap kezhaliman, di mana tanggung jawabmu? Sedang kami ingin tercatat dalam sejarah sebagai orang-orang yang berani mengatakan kebenaran di hadapan penguasa zhalim!”
“Kawan-kawan, Mental bangsa ini yang harus mau berubah dahulu. Jangan terburu berharap terwujudnya kekuasaan yang baik! Kita belum siap, kalau tidak mengatakan sistem itu tidak cocok bagi negara ini.”
“Tidak, dengan kepemimpinan yang baik, bangsa ini akan menjadi baik!”
“Sebutan kalian memang intelektual, tapi kalian terlalu hijau untuk mengerti tentang dunia ini sesungguhnya. Tak sesederhana itu kawan, aku telah memperingatkan kalian sebelumnya, sebelum waktu yang berbicara dan kalian menyesal. Kalian hanya diperalat!”
“Siapa yang memperalat? Agar pemimpin rakyat bisa memilih figur-figur terbaik sebagai pemimpin mereka, tak ada sumbatan demokrasi, tak ada intimidasi. Agar terwujud kebebasan pers, transparansi, dan publik bisa sepenuhnya mengontrol pemerintah. Supremasi hukum ditegakkan dan tak ada lagi diskriminasi, tak ada lagi pelanggaran HAM. Aku yakin tak akan ada lagi korupsi, kesejahteraan rakyat akan terwujud, tak ada lagi kesenjangan sosial. Bangsa ini menjadi bangsa yang besar. Mewujudkan semua itu, diperalatkah?”
“Tetapi tahukah kalian mengapa pihak luar mensupport sepenuhnya reformasi ini, kau pikir tulus tanpa kepentingan? Tak ada yang bisa diharap dari sebuah permainan. Kalian telah masuk permainan mereka tanpa sadar!”
“Persetan dengan semua itu! Reformasi ini adalah agenda kita, kepentingan bangsa kita ini sendiri, terserah mereka mau apa!”
“Kalian akan lepas dari satu rezim, tetapi akan masuk ke dalam rezim berikutnya, bahkan lebih buruk!”
***
Pilpres 2014 tinggal menghitung hari. Suasana kurasa amat berbeda, hanya ada dua kubu, kami semua seperti terbelah, tegang. Pertempuran berlangsung sengit, apalagi di media sosial. Siapa saja bisa menyebarkan konten dengan sebebas-bebasnya, tanpa ada lagi kontrol. Jadilah ajang olok-mengolok dan bully-membully.
Aku tengok pasangan sebelah. Aku dapati status-status yang cukup membuatku penasaran. Apa-apaan ini? Seperti membuat dadaku mendidih, geram menahan marah. Betapa tidak, kepentingan umat dalam posisi krusial begini, saat benar-benar dipertaruhkan, ia malah seperti menyerahkan bulat-bulat umat ini pada liberalis sekularis islamofobi. Memutarbalikkan opini! Aku tak habis pikir. Apa nggak sadar dia? Aku harus telusuri sumbernya.
Astaghfirullah! Benarkah ia Hudzaifah yang dulu? Hampir 16 tahun ini aku tak bertemu dengannya. Mungkin aku tak sengaja melupakannya. Tapi mengapa aku bertemu dengannya lagi dalam suasana seperti ini?
Aku tak sabar menulis sebuah komentar. Kutulis dengan huruf kapital. YOU STAND ON THE WRONG SIDE!!!!!!!
Aku sedikit menyesal. Jika begini, mungkin ia tak akan mengonfirmasi pertemanan yang aku ajukan. Tapi biarlah, aku masih bisa mengebomnya dengan komentar-komentar selama privasinya belum diubah. Yang terpenting, aku sekarang segera menyiapkan argumentasi sebanyak-banyaknya untuk mematahkan penyesatan opini yang ia buat.
***
Aku tak menyangka, ia menerima pertemanan yang kuajukan. Ia juga masih mengenaliku. Ia memintaku untuk tidak sembarangan membuat komentar di statusnya. Ia mengajakku melakukan chatting saja, aku pun menerima tawarannya.
“Tidak terbalik kawan? Yang dulu kau anggap pelanggar HAM, kini malah kau dukung habis-habisan? Reformasi susah payah kau perjuangkan, kini kau mati-matian mendukung kembalinya diktator itu! Kau ingin hidupkan kembali rezim itu? Kawan, selama 16 tahun ini kau pasti bisa melupakanku, tapi kuyakin kau takkan bisa melupakan sahabat kita yang tertembus timah panas, kau sendiri yang membawanya ketika ia roboh, ingatkah ketika tanganmu berlumuran darahnya?”
“Kawanku, kau jangan menutup mata, siapa pelanggar HAM yang sesungguhnya, siapa yang sebenarnya melakukan penculikan, dan siapa yang sebenarnya mendalangi kerusuhan? Akan kau serahkan negeri ini pada konglomerat hitam dan asing?”
“Kau sendirilah yang menyerahkan kedaulatan negeri ini pada mereka. Memangnya siapa yang sebenarnya mendesain reformasi, engkau dan kawan-kawanmukah? Aku sudah mengatakan sejak semula, reformasi yang kau perjuangkan akan menjadi penyesalan bagimu. Mana pemberantasan korupsi yang kau janjikan, mana penegakan hukum, kedaulatan rakyat dan kesejahteraan? Piye kabare, isih enak jamanku? ”
“Mungkin aku memang salah, banyak hal yang tak kumengerti tentang dunia. Tapi reformasi ini belum selesai kawan. Kita akan terus berjuang. Sekarang, persoalan krusial yang kita hadapi adalah menyelamatkan umat ini dari ancaman sekularis, liberalis dan islamofobi. Lantas engkau justru menyerahkan bulat-bulat umat ini pada mereka? Kau akan dimintai pertanggung jawaban bila umat mendapatkan perlakuan represif dan tekanan, bila umat menghadapi upaya marjinalisasi, menghadapi kebijakan-kebijakan yang tak ramah? Lantas takbiran dan kurban dilarang, jilbab dilarang, nikah beda agama diperbolehkan, kolom agama di KTP dihapus, aliran sesat dibebaskan, pelajaran agama dihapus. Itukah yang kau cita-citakan?”
“Lagi-lagi kau bawa-bawa agama untuk tujuan politikmu. Memangnya kau mau memonopoli agama ini dengan tafsir politikmu sendiri? Justru kau sendiri yang telah banyak mencemarkan nama baik agama ini, menjerumuskan agama ini dalam kubangan kotor politikmu, korupsi dan praktek kotor yang kau lakukan atas nama agama. Agama kita dirundung malu karena perilakumu. Jawab siapa yang sesungguhnya mengkhianati agama kita?”
“Aku menyadari, kami tak selamanya bebas dari kesalahan, di antara kami pun pun tak seluruhnya sebaik agama yang kami perjuangkan. Tapi yang kau harus mengerti, kami tak seburuk apa yang diblow-up media dan digambarkan para haters. Karena kami ditelanjangi oleh media, kasus yang menimpa kami digoreng habis-habisan, kami ditimpa vonis yang zhalim, karena itu kami bersyukur, bahwa sejelek-jelek kami, kepalsuan dunia tidak menempatkan kami dalam pencitraan yang indah, yang menipu dunia, kebaikan ditampakkan sebagai kejelekan, dan sebaliknya. Belum tentu yang ditampakkan jelek oleh kedustaan dunia adalah jelek, dan belum tentu yang dicitrakan indah adalah mulia.”
“Dulu ketika pemerintah beranjak ijo royo-royo kau tumbangkan, kau hanya melihat sisi negatifnya saja. Kini kau bawa-bawa agama untuk menutupi keburukanmu. Kau masih saja mencari kambing hitam.”
“Tidak, ini fakta. Kita berada dalam era penuh konspirasi dan permainan. Alangkah bodohnya kau tentang realitas ini, anak kecil pun tahu dunia sedang penuh kepalsuan. Penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, begitu gamblang jelas hanya permainan belaka, festivalisasi dan sandiwara untuk suatu kepentingan politik semata. Begitu mudahnya tipuan dunia mengelabuimu. Kau ikut bersama media-media yang membangun opini mencitra burukkan dakwah ini, kau membantu mereka ketika media-media itu melakukan pembunuhan karakter terhadap dakwah ini. Padahal, kejelekan dakwah ini sekalipun adalah tanggung jawabmu juga. Malahan fitnah dan tuduhan yang dibuat-buat untuk dakwah ini, kau aminkan juga.”
“Tanggung jawab? Di mana tanggung jawabmu atas reformasi yang kau perjuangkan, tanggung jawab terhadap aset-aset bangsa yang diprivatisasi? Padahal aku telah memberi peringatan serupa sejak awal dulu, dan kau terus acuhkan?”
“Maafkan aku, tapi kita jangan mengulangi kesalahan sama, kali ini.”
“Memangnya posisimu benar, sedang posisiku pasti salah? Apa tidak sebaliknya?”
“Kau benar-benar telah menjadi korban penyesatan opini mereka!”
“Apa bukan kau yang terjerumus dalam permainan mereka? Kau sangka dirimu pahlawan? Bisa jadi, yang kini kau anggap habis-habisan sebagai musuh dakwahmu, kelak akan menjadi mitra koalisimu. Kau pun bisa menciptakan segudang dalil untuk menjadi pembenarnya. Sebagaimana yang dulu kau hujat habis-habisan, kini kau bela habis-habisan.”
“Tidak mungkin. Ada fitnah, semua itu permainan belaka, aku telah mengerti.”
“Mungkin chatting kita cukup sampai di sini saja, sudah masuk masa tenang.”
“Di medsos nggak ada aturannya. Kamu takut?”
“Tidak, tapi kau telah naik kelas. Besok pelajaran sudah beda. Sahabatku, kau mengerti?”
Ia kemudian meminta alamat emailku, katanya ada sesuatu yang akan ia sampaikan.
***
Kubuka email masuk ini, sebenarnya aku malas membacanya, tetapi paragraf demi paragraf aku lalui, aku menjadi semakin gemetar. Hari-hari ini aku menjadi pendiam. Aku merasa menanggung beban yang teramat berat. Aku merenung tentang hal-hal yang belum pernah aku pikirkan sebelumnya, sama sekali tidak.
Dari email yang kubaca ini, mungkin hanya sedikit yang kupahami. Jika lebih banyak lagi yang kumengerti, aku mungkin akan menjadi sedikit tertawa dan banyak menangis.
Aku bersusah payah menempuh perjuangan, aku merasa sebagai pejuang sejati. Tapi, yang kulakukan sebenarnya hanyalah melebarkan pintu masuk bagi musuh. Karena langkahku, kota ini luluh lantak. Aku merasa sebagai pahlawan, sedang musuh tersenyum puas memperdayaiku. Betapa cerobohnya aku, betapa zhalimnya aku. Tidak! Aku telah berbuat sebatas kemampuanku.
Mungkin lebih baik aku tidur dan berdiam diri saja. Dari pada aku terombang-ambing tak berdaya dalam permainan musuh. Memang aku tahu jika aku tak dibebani kewajiban untuk berhasil, tetapi mesti berusaha sebaik-baiknya. Kekalahanku sekalipun sebenarnya bukan kerisauanku. Kemenangan dan kekalahan sejati tetap ada di sisi-Nya. Tapi terlalu pahit untuk menerima kenyataan jika diriku menempati posisi sebagai pecundang.
Sahabatku, adakalanya kita menempuh sebuah jalan yang sama, tetapi tujuan yang ingin dicapai berbeda. Adakalanya jalan kita berbeda, tetapi sedang menuju muara yang sama. begitu mudahnya kita berpisah dan menyalahkan, hanya karena ada perbedaan. Bukan ketika langkah mesti berputar, aku mengatakanmu mundur sebagai pengkhianat. Ketika jalan mesti berliku, aku menganggapmu melarikan diri.
Bagaimanapun, dengan perbedaan ijtihad di antara kita, kau tetap sahabatku. Ada saat-saat harus menentukan pilihan sulit. Ada saat harus berhadapan dengan realitas. Ada saat-saat harus menunggu, berproses, menanggalkan ketergesaan. Ketika tak boleh terbuai dengan yang berada di hadapan mata. Ketika harus memutar dan menempuh jalan berliku. Tak mungkin mengambil apa yang berada di hadapan singa, ada saat harus menentukan siasat, atau keberanian akan berakhir binasa sia-sia.
Tetapi bagaimanapun, setidaknya agar aku memiliki hujjah di hadapan Tuhanku, karena aku telah berusaha, sesuai keterbatasanku. Selebihnya aku serahkan kepada-Nya. Jika aku diam saja, tak mungkin kelak ada kisah. Mereka membuat makar, Tuhanku pun membuat makar. Aku punya pengharapan kepada-Nya, sedang mereka tidak sama sekali, karena Allah bersama kita.
Sahabatku, bukan hanya sebuah nama, tetapi memang ada takdir pertemuan antara kita. Di antara jurang perbedaan antara kita, ada sebuah jembatan yang amat berarti. Agar nama ini kelak terwujud menjadi legenda, Hudzaifah.

http://www.dakwatuna.com/2015/05/21/68947/hudzaifah-sang-paradoks-reformasi/

Jangan Terburu-buru Mengamalkan Sunnah yang Asing

Pernah suatu ketika, Syaikh Shalih Al Fauzan, ditanya oleh seseorang, “‘Ya Syaikh, saya dapatkan sebuah hadits yang shahih. Dan hadits yang shahih ini adalah sebuah sunnah yang banyak ditinggalkan oleh manusia. Yaa Syaikh, jika sunnah ini saya hidupkan di tengah manusia, apakah saya akan mendapatkan pahala?”

Dijawab oleh Syaikh Al Fauzan, “Tidak. Justru engkau akan mendapatkan dosa karena melakukannya. Kecuali sebelum engkau lakukan sunnah itu, engkau ajarkan dulu sunnah itu kepada manusia.”

Begitulah kedalaman jawaban seorang ulama. Tidak semua sunnah yang telah asing di tengah-tengah manusia langsung tiba-tiba diamalkan. hendaknya dia ajarkan dulu sunnah itu kepada manusia, jangan langsung diamalkan sehingga membikin keributan dan terjadi fitnah yang besar.

Dan ini terjadi di kampung-kampung di pelosok daerah sana. Sebagian Muslimin berpegang kuat dengan madzhab Syafi’i.

Pernah ada kejadian ada da’i yang masuk ke sebuah masjid di daerah yang jauh perjalanan menuju ke sana melalui sungai dan menaiki perahu, ia khutbah Jum’at tanpa membaca shalawat dan berdoa di khutbah kedua. Ia khutbah saja seperti biasa, setelah selesai ia hanya baca doa kafaratul majelis lalu turun. Tidak ada baca doa.

Kemudian berdirilah imam masjid tersebut dan dia tanya kepada jama’ah masjid itu, “Bagaimana ini, apakah sah khutbah jum’at yang seperti ini?”

Jawaban jama’ah masjid serempak, “Tidak sah!”

“Kalau begitu, kita shalat zhuhur saja. Tidak ada shalat Jumat hari ini.”

Perhatikankanlah!

Gara-gara praktik khutbah yang dianggap asing, tidak ada yang shalat Jumat satu kampung itu.

Maka hendaknya seseorang mempertimbangkan akibat dari perbuatannya. Sebagian orang yang -masya Allah- semangat dalam mengamalkan sunnah, ia tidak mempertimbangkan bahwa di balik pengamalannya ada mafsadat-mafsadat lain yang ditimbulkannya, yang bisa membahayakan dakwah Rasulullaah -shalallaahu alaihi wa sallam-

Fimadani

Jumat, 08 Mei 2015

Islam Nusantara di Ujung Tanduk?

Apakah kita masih berpikiran bahwa eksistensi Islam sebagai agama mayoritas di kawasan Asia Tenggara ini tidak akan berakhir, apalagi dalam waktu dekat? Secara kuantitas ada indikasi ke arah degradasi, secara kualitas pun juga bisa dikatakan demikian. Meski mayoritas, dari sisi politik, ekonomi dan berbagai bidang kehidupan, umat Islam menempati posisi marjinal. Mungkinkah Asia Tenggara akan menjadi Andalusia kedua, de-islamisasi dan kemusnahan tak lagi terjadi dalam proses yang pelan-pelan, tetapi ada momen pamungkas bahwa ia kemudian berlangsung drastis dan singkat?

Meneropong kemungkinan dari akhir entitas Islam di Asia Tenggara, baiklah kita mereview proses Islamisasi di kawasan ini. Ada sebuah artikel yang beredar di dunia maya beberapa waktu lalu terkait masalah ini, ‘Bertemu Walisongo di Candi Prambanan dan Borobudur’. Sebenarnya Prambanan dan Borobudur adalah peradaban yang telah musnah 5 abad sebelum keberadaan Walisongo. Dari sisi ini memang tulisan tersebut bisa dikatakan parsial dan subyektif. Dari sisi konten juga bisa dikatakan demikian, hanya memandang keberhasilan proses Islamisasi dari sisi pendekatan dakwah yang bijak.

Akan tetapi ada sisi yang menarik dan urgen dari substansi tulisan tersebut, yaitu keberhasilan Islamisasi dalam waktu singkat setelah berabad-abad sebelumnya Islam tidak bisa diterima di kawasan ini. Selama 8 abad sebelumnya Islam sudah hadir tetapi tidak diterima, hanya dianut segelintir orang asing, terutama pendatang dari Timur Tengah dan Tiongkok, hampir-hampir penduduk pribumi tidak ada yang memeluk agama ini, padahal saat itu Islam adalah kekuatan Super Power yang sedang menguasai belahan dunia lain. Tetapi kemudian hanya kurang dari 50 tahun Islam telah menjadi mayoritas yang mengakar.

Sebagaimana penyebaran Islam di berbagai belahan dunia lain, kita tidak mengatakan selama 8 abad tersebut Islam tidak didakwahkan secara bijak. Artinya, pendekatan dakwah yang bijak bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan Islamisasi di kawasan Asia Tenggara ini. Pendekatan dakwah yang bijak dan akulturatif adalah bagian dari suatu bahasan yang sangat luas tentang keberhasilan Islamisasi di kawasan ini.

Di luar faktor esoteris, pendekatan yang bijak dan akulturatif, kita juga perlu melihat dari sisi eksoteris, berubahnya iklim politik di kawasan ini yang menyebabkan terbentuknya kondisi yang kondusif bagi proses Islamisasi, pudarnya hegemoni kekuasaan yang menopang eksistensi agama sebelumnya, Hindu dan Budha. Adanya momen runtuhnya pamor politik Kerajaan Majapahit yang sebelumnya mendominasi kawasan.

Di satu sisi, ada sebuah argumentasi bahwa proses Islamisasi berlangsung secara damai dan tanpa konflik. Tetapi di sisi lain ada yang menggugat kesucian proses Islamisasi di kawasan ini, bahwa Islamisasi berlangsung dalan proses yang berdarah-darah dan penuh pengkhianatan. Baiklah kita menempatkan sikap realistis dan obyektifitas, menempatkan sisi esoteris dan eksoteris secara proporsional, tanpa menafikkan gesekan yang terjadi maupun fakta empiris pada peralihan serentak yang tidak mungkin berlangsung kecuali dilakukan secara damai.

Walisongo dalam Konteks Kekinian

De-islamisasi dilihat dalam perspektif Islamisasi di Asia Tenggara, sebuah pertanyaan apakah entitas Islam di kawasan ini akan berakhir sebagaimana ia bermula, dan bagaimana prosesnya. Serta dapatkah proses itu dicegah, dan apa yang harus dilakukan oleh muslim di kawasan ini untuk terus mempertahankan eksistensinya. Mempertahankan kebesaran sebuah peradaban seringkali lebih sulit dari menaklukkan peradaban besar.

Di antara berbagai kepentingan yang beragam, sebagaimana Hindu, Budha dan Islam, yang pernah dan atau sedang eksis di kawasan ini, akan melahirkan sudut pandang dalam perspektif masing-masing. Misalnya apakah agama yang datang belakangan, seperti agama Nasrani yang telah berabad-abad berusaha masuk di kawasan ini, bahkan ditopang kekuasaan kolonialis yang yang sangat dominan, ditopang gerakan misionaris yang profesional, serta didukung kondisi global dan regional, tetapi sejauh ini agama Nasrani tetap merupakan minoritas yang hnya dianut sebagian kecil penduduk kawasan ini, dapatkah ia menciptakan suatu kondisi yang bisa membuat Nasrani menjadi mayoritas dalam waktu singkat? Atau apakah ada kemungkinan agama Hindu dan Budha dapat kembali menjadi mainstream di kawasan ini?

Atau dari dinamika internal umat Islam sendiri, apakah paham seperti Syiah yang selama berabad-abad tidak bisa menjadi mainstream, akan bisa mengambil alih posisi Suni di kawasan ini dalam waktu singkat? Atau apakah dominasi paham keagamaan seperti NU di kawasan ini akan diambil alih oleh paham keagamaan yang selama ini hanya menjadi minoritas, di mana yang kini hanya dianut segelintir orang yang tidak mengakar kemudian keadaan bisa berbalik?

Zaman telah dan terus akan berubah, bahkan seringkali berlangsung begitu cepat tanpa terprediksi. Benturan dan persaingan berbagai ideologi dan pemikiran terus berlangsung, apalagi dalam era globalisasi. Tidak ada tempat yang aman bagi entitas atau peradaban apapun untuk beristirahat dan terhindar dari marabahaya, termasuk bagi entitas Islam di Asia Tenggara ini.

Sebuah pertanyaan kunci bagi suatu ideologi dan peradaban yang ingin menaklukkan kawasan ini, bagaimana mengulang sejarah, menciptakan suatu kondisi kondusif yang memungkinkannya menguasai kawasan, melalui upaya sistematis dan terukur dalam berbagai bidang, terutama secara politik yang seringkali strategis menjadi penentu kejatuhan dan kejayaan suatu ideologi dan peradaban. Upaya apa yang harus ditempuh untuk menyiapkan kondisi tersebut agar bisa terwujud?

Kejayaan, kejatuhan dan ajal suatu peradaban sudah merupakan sunatullah, ia terus dipergilirkan. Tetapi terlepas dari semua itu, ia bukan hanya proses alamiah belaka, ada arsitek-arsitek brilian yang menyuplai ide, merencanakan, mendisain dan mengendalikan aksi secara sistematis untuk menghancurkan suatu peradaban dan membangun peradaban baru.

Islamisasi, De-islamisasi Asia Tenggara, suatu Kesamaan Indikasi

Asia Tenggara dilihat dari sisi geopolitik memang memiliki keunikan. Pengaruh hegemoni kejayaan Islam yang menjadi kekuatan super power dunia sejak masa Umayah maupun Abasiyah tidak bisa menembus kawasan ini. Islam eksis di kawasan ini justru pada masa-masa menjelang akhir kejayaan dunia Islam, saat dimulainya kolonialisme Barat. Ketika Islam di berbagai kawasan lain memudar, Islam di kawasan ini justru baru bisa eksis.

Islam tumbuh di bawah kejaran bayang-bayang kolonialisme. Islam yang baru saja tumbuh, sudah harus berhadapan dengan kolonialisme Barat yang hadir ke kawasan ini. Akan tetapi, kolonialisme yang mencengkeram secara kukuh dan memberikan tekanan hebat dalam rentang masa yang lama, tidak menggoyahkan keberadaan Islam yang terus berproses mengakar, ini menjadi keunikan dari karakter Islam di kawasan ini.

Kemerdekaan Indonesia, meski bisa dikatakan sebuah kemerdekaan yang belum sempurna, terutama baru pada sebagian aspek-aspek fisik, tentunya menghadirkan sebuah fase yang berbeda bagi eksistensi Islam di kawasan ini. Pasca kemerdekaan, ada indikasi eksistensi Islam di negeri ini terus menurun, dari sisi yang jelas bisa diukur seperti prosentase pemeluknya dan pertumbuhan tempat ibadah, maupun dari sisi kualitatif. Di negara ini, umat Islam yang secara kuantitas merupakan mayoritas semakin menempati posisi marjinal dalam berbagai bidang, baik politik, birokrasi, ekonomi dan sebagainya. Jika eksistensi Islam tak tergoyahkan oleh cengkeraman kolonialisme, ia terus bisa mengobarkan perlawanan, apakah eksistensi Islam justru akan runtuh pasca kemerdekaan ini?

Berbagai indikasi memang membutuhkan kewaspadaan segenap umat Islam di negeri ini. Memperhatikan suasana menjelang Islamisasi pada era Walisongo, ada beberapa indikasi yang bisa menjadi warning bahwa kita saat ini sedang menjelang sebuah proses de-islamisasi serupa.

Pada masa tersebut, meskipun pemeluk agama Islam sangat sedikit, tetapi ia merupakan minoritas kreatif. Pemeluk Islam adalah identik dengan elit dan mindset superior. Mereka adalah orang-orang yang memiliki akses internasional. Secara ekonomi mereka adalah tuan dan majikan, dan secara spirit intelektual juga demikian. Islam adalah sebuah kekuatan baru yang segar, antitesis dari Majapahit yang tua, letih dan jenuh, terbelit berbagai kepentingan dan persoalan. Dan kondisi Indonesia saat ini bagi umat Islam bisa dikatakan sebaliknya, terkepung berbagai persoalan dan kepentingan, mengarah de-islamisasi?

Peradaban Emas Hijau, Konsekwensi dan Tantangan Krusial

Posisi geografis Asia Tenggara sedang berada pada titik kritis menghadapi masa-masa krusial. Dunia kita sedang berada pada era menghabiskan energi fosil yang tak terbarukan, peradaban emas hitam. Dunia sedang berpikir sumber energi alternatif pasca habisnya persediaan energi fosil. Alternatif yang saat ini dipandang realistis adalah sumber energi nabati yang terbarukan.

Asia Tenggara dengan sumber daya iklimnya, iklim tropis yang menghasilkan energi nabati, tentunya sangat menarik minat peradaban-peradaban lain untuk memperebutkan dan menguasainya. Mau tidak mau, kawasan ini seperti berada pada ujung tanduk, harus menghadapi benturan dahsyat di antara kompetisi berbagai peradaban dunia. Sekaligus adanya resiko harus menghadapi nafsu angkara kekuasaan yang berupaya mencengkeram dan menguasai dunia, brada pada pertarungan hidup dan mati.

Kolonialisme dengan nafsu angkaranya telah dan sedang mengeksploitasi dunia, termasuk negeri kita ini. Islam pernah menjaga negeri ini menghadapi para penjajah yang bernafsu menaklukkan dan mengeksploitasinya. Dan mungkin karena spirit perlawanan inilah Islam justru eksis di negeri ini. Islam adalah simbol menghadapi penjajah dan dan kedzaliman yang menindas bangsa ini. Islam mengakar bersama perlawanan dan penderitaan bangsa ini melawan penjajah.

Kolonialisme kemudian datang dalam bentuk yang baru, penjajahan non-fisik pada era ghazwul fikri. Penjajahan fisik resisten membangkitkan perlawanan, sedang penjajahan non-fisik justru sebaliknya, meninabobokan dan melenakan.

Islam datang ke berbagai negeri dan relatif tanpa mendapat predikat sebagai penjajah sebagaimana kolonialisme bangsa Eropa. Islam sempat hadir di Andalusia bukan mengeksploitasi, tetapi membebaskannya dan membangun sebuah kemajuan peradaban. Termasuk Islam datang ke negeri ini tanpa kita merasa terjajah oleh Islam atau Arab. Kita pernah menjadi bagian dari Turki Utsmani tanpa kita merasa terjajah dan tereksploitasi.

Kita bangga dengan keberadaan Laksamana Cheng Ho yang menjelajah dunia dengan spirit persahabatan, bukan spirit menjajah. Kita bersyukur, Islam datang ke Benua Amerika bukan memusnahkan bangsanya tetapi mentransfer dakwah dan ilmu pengetahuan. Islam datang ke Benua Afrika untuk mencerahkannya dengan dakwah bukan memperbudaknya.

Islam memiliki spirit berbagi dan menebar rahmat bukan menaklukkan, spirit mentransfer ilmu pengetahuan, persaudaraan dan dakwah bukan mengeksploitasi. Dalam konteks menghadapi neo-kolonialisme, tugas tersebut dipikulkan di pundak umat ini. Agar umat Islam tetap memiliki spirit perjuangan dengan sebenarnya, sehingga eksistensi Islam ini tetap hidup. Dan jika umat ini memiliki mental inlander, memiliki mindset inferior, bukan tidak mungkin entitas Islam ini akan berakhir, tragis!

http://www.dakwatuna.com/2015/05/09/68380/islam-nusantara-di-ujung-tanduk/

Rabu, 06 Mei 2015

Untuk Dakwah ini, untuk Umat ini

Dengan keterbatasan kita menapaki jalan dakwah ini, menyeru kepada dinul Islam ini, untuk meninggikannya, mengajak umat manusia untuk kemuliaannya. Namun harus berhadapan dengan segala tantangan dan problematikannya. Hingga seperti seseorang yang tak berdaya berhadapan dengan peliknya dunia. Tertimpa berbagai tipu daya dan kedzaliman, menghadapi tantangan yang serasa berada di luar kemampuan, bahkan tak lagi dimengerti. Bahkan juga harus menyaksikan kedzaliman menimpa saudara-saudara kita, tanpa kita bisa berbuat apa-apa.

Kesulitan hidup sebenarnya ada di mana-mana, dari urusan pribadi, keluarga, tak terkecuali juga urusan dakwah ini. Lebih terasa bagi mereka yang pernah merasakannya langsung, pernah mengalami cobaan dan kesulitan yang tak kunjung terselesaikan, mengerti rasanya tatkala harus menempuh kesabaran panjang, hingga mendapatkan kebahagiaan ketika pintu terbuka, menjadi jalan keluar yang mengakhiri kesulitannya.

Mereka yang sakit tak kunjung sembuh, pekerjaan yang tak kunjung didapatkan, jodoh yang tak kunjung tiba, terlilit hutang yang tak mampu terbayarkan dan sebagainya. Dakwah ini juga serasa demikian, saat sedang berada dalam kesulitan, penantiannya dan pengharapannya, berharap terwujudnya tujuan dakwah yang diimpikan.

Banyak di antara kita yang tertimpa cobaan, berbagai doa dan ikhtiar serasa amat melelahkan, telah menempuh berbagai upaya, tetapi selalu berujung pada jalan buntu. Saat-saat seperti hampir putus asa, akhirnya ada jalan keluar, mendapatkan solusi dari arah yang tak disangka-sangka, setelah mereka mempersembahkan sebuah amal teristimewa, seperti sedekah yang amat ikhlas. Sepertinya tak masuk akal, tetapi amal tersebut ternyata manjadi wasilah bagi datangnya pertolongan Allah.

Hajat kita terhadap dakwah ini, kesulitan dan cobaan yang menimpanya, semestinya lebih dari hajat kita yang lain. Kerisauan, kepedulian dan kebutuhan kita akan dakwah ini, semestinya lebih besar dari kerisauan kita terhadap cobaan terberat yang pernah menimpa kehidupan duniawi kita. Buah kebaikan dakwah ini adalah kebaikan untuk kita sendiri, ia lebih langgeng, bahkan juga akan menjadi kebaikan untuk segenap umat ini.
Untuk dakwah ini, kesulitan dan cobaan yang menimpanya, pernahkah kita terpikir untuk mempersembahkan amal terbaik, agar dakwah ini dimudahkan dan dikuatkan. Misalnya kita mempersembahkan sebuah sedekah terbaik untuk mengharap datangnya pertolongan bagi dakwah ini.

Tak terbatas sedekah saja, semua amal kebajikan dari yang kita mampu, seremeh menyingkirkan duri dari jalan, memberi minum anjing yang kehausan, membantu kesulitan orang lain, memberi tempat duduk orang lanjut, menyeberangkan jalan, menyingkirkan sampah, serta kebajikan apa saja. Sekecil apapun kesempatan untuk kita bisa berbuat baik, manfaatkan sebaik-baiknya, lakukan setulusnya. Agar kebajikan tersebut menjadi batu pijakan bagi datangnya rahmat dan pertolongan-Nya yang lebih besar, bagi dakwah ini.

Saudaraku, apapun kebajikan yang Allah mampukan untuk kita, baiklah kita jadikan wasilah bagi kemudahan dakwah ini dari kesulitan yang menimpanya. Amal-amal yang tak seberapa, apalagi yang terlahir dari kekurangan dan keterbatasan, yang terlahir dari lubuk hati yang paling tulus, kita persembahkan untuk mengharap rahmat-Nya yang tiada tara, untuk kemenangan dakwah yang kita nantikan selama ini.

Saudaraku, baik kalian yang dikaruniai kelapangan untuk beramal maupun yang berada dalam keterbatasan, kalian yang sedang tertimpa kedzaliman dan lemah teraniaya, atau yang sedang menjalani kesulitan dan cobaan hidup, yang sedang berada pada tempat dan waktu yang mustajab, jadikan setiap amal terbaik yang mampu dilakukan sebagai wasilah untuk memohon pertolongan bagi dakwah ini.

Mohonkan pertolongan untuk mereka yang berada di garis depan dakwah ini, mengorbankan jiwa raga dan memiliki keteguhan melebihi kita. Untuk mereka yang sedang menjalani penderitaan dan kedzaliman, terusir, tertimpa peperangan dan berada dalam penindasan. Untuk mereka yang memiliki cita dan azam terhadap dien ini. Agar Allah menguatkan mereka, menjadi penolong bagi kita dan umat ini.

Berharap sirnanya kejahiliyahan, cahaya dinul Islam menjadi terang benderang menyinari segenap penjuru dunia, tegaknya sunah, serta sempurnanya kemuliaan bagi para ghuraba, menjadi pelipur lara bagi mereka yang telah menanggung kesabaran, mengganti kesempitan dengan kelapangan, dengan sepenuhnya kepasrahan. Berharap masa yang penuh fitnah ini sirna, agar kita lebih mudah lagi dalam menjalankan dinul Islam ini.

Untuk terwujudnya suatu kondisi yang kondusif, sehingga lebih banyak lagi saudara kita yang terselamatkan, lebih banyak lagi yang mengenal dien ini. Saudara-saudara kita, teman-teman kita, yang belum mengenal dinul Islam ini, sedang mereka banyak berbuat kebaikan pada kita, mereka yang sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi baik, agar bisa terengkuh dalam kebersamaan dalam dien ini, menikmati keindahan Islam ini bersama, membalas kebaikan mereka, menyempurnakan kebaikan yang telah mereka lakukan dengan dinul Islam ini.

Agar dunia yang penuh dengan kedzhaliman, berganti dengan keadilan dan kedamaian. Ditampakkan mutiara Islam, tersibak fitnah yang menghalanginya selama ini. Menepis kekhawatiran atas fitnah yang dahsyat di akhir zaman ini, keadaan dunia yang melampaui batas, dari mereka yang bermaksud memadamkan cahaya dinul Islam ini, menghalangi manusia dari jalan Allah.

‘Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa.’ (Yusuf: 110)

***

Ya Allah, jadikan tipu daya dan kedzaliman yang menimpa kami sebagai tambahan pertolongan bagi kami, mendekatkan kami pada apa yang Engkau janjikan dan senantiasa menjadi pelipur lara di antara duka dan kepedihan kami, tegaknya dinul Islam ini pada semua tempat yang ada timur dan baratnya.

Ya Allah, semoga amal yang tak seberapa ini, menjadi pengundang datangnya karunia dan rahmat-Mu yang tiada tara, untuk menutup kekurangan kami, menepis kekhawatiran kami dan menguatkan kelemahan kami. Jadikan kelemahan kami membuat kami lebih bersandar kepada-Mu, dan lebih mengerti akan kesulitan saudara-saudara kami.

Ya Allah, di antara takdir dan fase yang harus kami lalui di jalan dakwah ini, iradah-Mu, rahasia dan hikmahnya, kemenangan dan kekalahannya, kejayaan dan keterpurukannya, tetapkanlah kami dalam kesabaran di dalamnya. Jika Engkau menetapkan kami dalam kekalahan dan keterpurukan dakwah ini, kami yakin tak sedikit pun akan mengurangi kekuasaan-Mu, juga tak sedikit pun mengurangi kemuliaan dakwah ini, ia tetap menjadi simpanan untuk kami kelak. Namun jika Engkau menganugerahkan kemenangan kepada kami sebagaimana yang Engkau janjikan, niscaya akan menjadi karunia yang amat berarti bagi kami.

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Dakwatuna)

Senin, 20 April 2015

PKS ataupun PDIP, Sebenarnya Kita Tuh Bersaudara!

“Jenuh mungkin, menjalani hari-hari di antara kita dalam perseteruan tiada ujung. Dalam pertemuan di dunia imajinasi ini, baiklah kita sejenak saja untuk menjadi sahabat, saudaraku.”

“Aku pun merasakan hal serupa, seolah-olah di antara kita selama ini, satu sama lain hanya ingin saling menjatuhkan dan menjalin permusuhan. Aku tak menyangka kita akan bertemu dalam dunia lain yang berbeda dengan apa yang biasa kita jalani.”

“Hari-hari yang kita jalani, disibukkan dengan saling menghina, mencaci dan mencari-cari aib di antara kita. Begitu mudahnya kita mengedepankan prasangka negatif. Aku sendiri disibukkan dengan semua itu, bahkan menikmatinya, tanpa terpikir untuk melakukan hal yang lebih berfaedah.”

“Aku juga demikian sahabatku. Bahkan tak hanya itu, aku ngebom basis-basis masamu. Di setiap tempat di mana ada calegmu, aku garap habis-habisan. Aku seenaknya merusak bendera dan atribut yang baru saja engkau pasang. Seringkali aku juga mengeroyokmu dalam duel maut pilkada. Aku sangat puas memblow-up kasus korupsi yang membelitmu, bahkan sampai aku lupa siapa yang lebih korup di antara kita.”

“Status dan komen-komen yang aku tulis, dipenuhi dengan olok-olok dan bully-membully. Setiap ada informasi buruk tentangmu, tanpa pikir panjang aku tergesa-gesa menyebarkannya. Aku sangat bersemangat men-share dan menyebarluaskan kejelekanmu. Tanpa beban, begitu mudahnya aku mengeluarkan komen-komen negatif. Aku merasa semua yang kulakukan itu adalah upaya membela kebenaran, semua itu adalah amal shalih, bagian dari dakwah yang suci dan mulia ini.”

“Padahal semua olok-olokmu terhadapku tidak membuat aku menjadi baik. Jangan berharap olok-olokmu membuat aku insyaf. Setajam apapun lisanmu mengulitiku habis-habisan, justru semakin membuat aku antipati terhadapmu. Juga membuat aku semakin membenci dan menjauh dari dakwah yang kau bawa. Bukan saja aku membuat-buat fitnah dan berbagai stigma negatif tentangmu, tetapi perilakumu juga ikut menjustifikasinya.”

“Maafkan aku saudaraku, sampai-sampai aku hampir terlupa tentang luasnya hakikat dakwah ini, tentang kesabaran, dan tentang kelembutannya. Seharusnya bukan hanya membalas keburukan dengan keburukan, membalas umpatan dengan cacian. Ia membutuhkan kebesaran jiwa, kelapangan hati, sikap yang penuh hikmah, serta sikap bijak menghadapi hal-hal yang menyakitkan sekalipun. Ada saatnya kekerasan ditaklukkan dengan kelembutan, dan sepahit apapun yang menghadang semestinya dihadapi dengan cara yang terbaik dan santun. Ucapan jahil hendaknya berbalas dengan kata-kata yang mengandung keselamatan. Akan tetapi semua itu bagiku sendiri tak semudah yang kukatakan.”

“Engkau tidak menolongku, tidak menyelamatkanku, bahkan seruanmu menjadikan aku kian jauh. Permusuhan di antara kita, bukan saja membuat aku kian jauh dan antipati terhadapmu, tetapi juga kian mendekatkanku pada kalangan sekuleris, liberalis, serta justru malah menarikku lebih dekat kepada aliran-aliran sempalan yang kau anggap sesat itu. Bukankah ini kontraproduktif dengan dakwah yang kau usung? Apakah engkau ingin membuatku semakin terjerumus dengan dakwahmu? Bagaimana engkau mengaku sebagai pembawa rahmat bagi segenap alam?”

“Begitulah saudaraku, memang ada pihak lain yang menghendaki permusuhan di antara kita, menanam dendam di antara kita, menyetting kita dalam situasi tidak bersahabat, dalam suasana hubungan yang panas, menjadi dua front yang berhadap-hadapan, dan kita sama-sama terjebak di dalamnya. Ada-ada saja informasi buruk tentangmu, padahal sebenarnya ia bersumber dari website tidak resmi, yang di belakangnya ada tangan-tangan tak tampak, dengan membawa kepentingan mereka. Mereka memanfaatkan permusuhan di antara kita, mengadu domba kita, agar kita berpecah belah dan lemah, kemudian mereka memanfaatkannya untuk memuluskan agenda-agenda mereka, mengukuhkan kekuasaan dan tiran atas dunia ini. Dakwah yang tulus dan santun bertransformasi menjadi bully-membully.”

“Sikap abaiku terhadap dakwah ini, memang dimanfaatkan betul oleh mereka. Tetapi keteguhan dan komitmenmu terhadap dakwah ini, toh sama juga ditunggangi mereka, menjadi bumerang dan blunder bagi dakwah itu sendiri, dan kau tidak menyadari itu. Hingga makin hari dakwah ini makin terseok-seok dan kian terpojok.”

“Beginilah saudaraku, fitnah akhir zaman ini, bukan saja kedewasaan dan kewaspadaanku tak memadai, tetapi fitnah ini demikian pelik dan penuh tipu daya. Pandanganku tak seluas aral yang kuhadapi, cara berpikirku tak sepanjang tantangan yang menghadang. Aku sebenarnya hanyalah hamba-hamba yang lemah, berbuat sebatas kekurangan dan keterbatasanku.”

“Dan akibatnya para tiran dunia itu sekarang sedang berpesta pora, mereka sedang tertawa terbahak-bahak, puas dengan keberhasilannya, membuat kita sibuk berseteru satu sama lain. Padahal sebenarnya bukan engkau yang semestinya menjadi musuhku, saudaraku. Seharusnya aku menyadari, musuh kita yang sebenarnya adalah para tiran-tiran itu, mereka memperdaya kita, mempermainkan, memecundangi dan menipu kita mentah-mentah, dunia ini terseok-seok dan terinjak-injak dalam cengkeraman kekuasaan mereka.”

“Tak sepenuhnya benar saudaraku, siapapun mereka, atheis, zionis, atau kolonialisme global sekalipun, mereka adalah sama-sama anak cucu dari bapak moyang kita Adam. Menjadi tugas kita untuk mengentaskan mereka dari kezhaliman yang mereka perbuat, serta membebaskan mereka dari Iblis, musuh kita yang sebenar-benarnya.”

“Benar saudaraku, Tak semestinya kita bergembira dengan musibah yang menimpa di antara kita, tak sepantasnya kita menari-nari di atas penderitaan orang lain. Selayaknya kita menolong mereka, bukan membiarkan mereka terjerumus.”

“Seharusnya kita bukan hanya menolong mereka yang terzhalimi, tetapi juga menolong mereka yang berbuat zhalim, mengentaskan mereka dari kezhalimannya. Sepahit apapun kezhaliman yang dihadapi sebenarnya adalah makin luasnya ladang amal yang terbentang. Kesabaran menjadi lebih bernilai karenanya. Kalau hanya olokan dan cacian, sebenarnya ia tak seberapa, bukankah orang yang mengolok-olok belum tentu lebih baik dari yang diolok-olok?”

“Baiklah, selepas pertemuan ini kita bisa menjadi sahabat di dunia yang sebenarnya saudaraku?”

“Belum saudaraku. Kita masih harus terombang-ambing dalam cengkeraman tipu daya dunia. Ia tidak akan membiarkan kita lepas begitu saja. Jalan untuk membebaskan diri kita darinya mungkin masih panjang, masih harus menempuh perjuangan yang melelahkan. Artinya, kita masih akan saling bermusuhan satu sama lain, kita masih akan saling berseteru. Dan para tiran itu terus saja kukuh mencengkeramkan kekuasaannya atas dunia.”

“Sebelum zaman edan ini sirna, orang khianat masih akan dimuliakan, orang amanah masih akan dihinakan, kita masih dikuasai keserakahan dan kesombongan, dunia ini penuh dengan ketimpangan dan ketidakadilan, dan aku menjadi bagian darinya.”

“Menjalani pusaran fitnah zaman akhir, kedustaannya, kebenaran tampak sebagai kebatilan, dan sebaliknya, kebatilan menjadi pujaan. Keadilan sebatas kerinduan, fitnah-fitnah masih akan terus menimpa.”

“Terkadang aku cukup puas mendapatkan duri dan tulang yang tak seberapa dari fitnah dunia ini. Sementara perbendaharaan dunia yang sebenarnya tak seberapa kunikmati.”

“Aku juga cukup gembira menikmati sedikit umpan, sementara aku sebenarnya kehilangan jauh lebih besar dari yang aku dapatkan.”

“Menikmati sedikit upah yang aku dapatkan, tak sebanding dengan sakit yang aku rasakan saat para tiran dunia itu membutuhkan tumbal bagi kekuasaan mereka, saat aku dijadikan kambing hitam yang dikorbankan, aku bisa dicampakkan begitu saja.”

“Seringkali kita hanyalah orang kecil yang diperalat oleh tipu daya dunia, kita tak berdaya menghadapi semua belitan fitnah itu. Kita hanya bisa berbuat sebatas kemampuan kita. Bukankah kita punya Tuhan Yang Maha Kuasa, yang berjanji akan membuka pintu pertolongan-Nya. Pada suatu saat nanti pintu terbuka, terwujud kedamaian yang sebenarnya.”

“Namun sayang sekali, sebelum semua itu terwujud, aku masih akan terus menzhalimimu, menimpakan ketimpangan dan ketidakadilan atasmu, selagi aku mampu melakukannya.”

“Aku juga masih akan terus mengolok-olokmu, mencacimu, dan menghina keburukan yang kau perbuat, selama aku bisa melakukannya. Dengan itu aku mengobati sedikit rasa sakit akibat kedzaliman yang kau timpakan.”

http://www.dakwatuna.com/2015/04/21/67560/pks-ataupun-pdip-sebenarnya-kita-tuh-bersaudara/

Jumat, 10 April 2015

Mewaspadai Upaya Menjebak Saudi di Antara Benturan Sunni-Syiah

Perubahan arah kebijakan Arab Saudi di bawah kendali Raja Salman tentunya dirasa membawa angin segar bagi kalangan Islamis dan terutama bagi Ikhwan. Akan tetapi, belajar dari pergolakan-pergolakan yang terjadi di berbagai belahan dunia, sejak dari Perang Teluk, Reformasi Indonesia, perang melawan terorisme, hingga Arab Spring, perlu sebuah kewaspadaan ekstra bahwasanya kemesraan antara Saudi dan Islamis bisa jadi justru merupakan jebakan yang berujung pada target penghancuran keduanya.

Baik Reformasi di Indonesia maupun Arab Spring, seringkali Islamis berada di garda terdepan. Namun kita jangan menyederhanakan permasalahan, bahwa pergolakan-pergolakan tersebut adalah proses demokratisasi yang akan menjadikan Islamis tampil sebagai leading. Kita sedang berada di pusaran fitnah akhir zaman yang dahsyat, ada tangan-tangan tak tampak yang bermain di belakang peristiwa-peristiwa besar, mendesain, merencanakan secara sistematis dan terstruktur, dengan agenda-agenda yang berkebalikan dengan yang diperkirakan kalangan Islamis.

Hasil dari pergolakan-pergolakan yang terjadi, bukanlah runtuhnya diktator menuju terwujudnya pemerintahan yang demokratis atau islami, tetapi justru makin termarjinalisasinya kalangan Islamis itu sendiri. Membenturkan antara kekuatan reformis dan status quo, antara kalangan sekuler dan Islamis, serta antara kalangan tradisionalis dan kontemporer, berakibat memperlemah kekuatan Sunni secara signifikan, terjebak pada berbagai kepentingan yang saling berbenturan. Akhirnya berujung jatuhnya satu per satu negara-negara Muslim Sunni ke dalam pengaruh Syiah, dimulai dari Iran, Suriah, Libanon, Irak, Afghanistan dan Yaman. Juga menguatnya peran politik Syiah secara global, termasuk di Indonesia.

Terkait dengan benturan antara Sunni dengan Syiah, tidak sesederhana menumpas pemberontakan Syiah Hutsi di Yaman atau berhadapan dengan Iran. Di balik menguatnya pengaruh Syiah, ada kolaborasi yang pelik di antara kekuatan-kekuatan super power dunia, benturan antara Barat dan Timur, dan tentru saja akar permasalahan dunia itu sendiri, Zionisme, serta pertarungan antara al haq dengan al bathil. Apa yang dicapai Syiah saat ini, tidak didapat dengan tiba-tiba, tetapi telah melalui upaya yang sistematis dalam berbagai bidang, tahapan demi tahapan yang sangat terukur, telah dilaksanakan selama beberapa dekade bahkan sejak beberapa abad yang lalu (Baca: Di Ambang Syiah).

Dalam perspektif era Kolonialisme Barat beberapa abad lampau, upaya penaklukkan dunia Islam tentunya amat memperhitungkan kondisi dunia Islam waktu itu, potensi friksi terbesar dan paling signifikan adalah antara Sunni dan Syiah. Rivalitas keduanya silih berganti mendominasi sejarah dunia Islam. Inilah yang melatarbelakangi kolaborasi manis antara Syiah dan berbagai kekuatan luar dalam berhadapan dengan Sunni. Dalam perspektif ini, kondisi umat Islam pada saat ini khususnya kalangan Sunni, bisa dikatakan berada di ujung tanduk, terkepung berbagai kepentingan yang bertarung memperebutkan supremasi dunia.

Ketika benturan antara Sunni dan Syiah terjadi secara terbuka, diperlukan sikap yang hati-hati dan kewaspadaan yang ekstra, terutama bagi kalangan Islamis dan Jihadis. Kita tidak hanya berada pada era kecanggihan teknologi yang kasat mata, tetapi juga era kecanggihan strategi dan tipu daya. Belajar dari peristiwa-peristiwa sebelumnya, memperhatikan kompleknya permasalahan yang dihadapi, jangan sampai keteguhan mereka justru menjadi blunder, terjebak dan menjadi bulan-bulanan, kontraproduktif dengan tujuan yang ingin dicapai, melengkapi kelemahan komitmen kalangan sekuler dalam tubuh Sunni itu sendiri untuk menjaga eksistensi Sunni.

Bisa jadi, kondisi dunia saat ini belum kondusif untuk tujuan akhir yang ingin dicapai, artinya masih membutuhkan kerja keras dan banyak pengorbanan. Terutama juga penting dicermati bagi Ikhwan, diperlukan kebesaran hati untuk tidak tersandera pada kezhaliman yang menimpa mereka selama ini, termasuk kepedihan yang menimpa mereka pasca Kudeta Mesir, demi kepentingan yang lebih besar, ketika umat ini berada di ujung tanduk. Bukan untuk meraih kekuasaan jangka pendek, dan memang tak mungkin akan dicapai di tengah cengkeraman tiran dunia, tetapi ustaziyatul alam yang universal, yang membutuhkan jalan yang lebih panjang.

Ketika umat Islam berada pada kondisi yang sangat lemah, tidak memiliki kemandirian secara teknologi, termasuk sebatas menjadi pemakai dalam bidang persenjataan militer, sekaligus berhadapan dengan pertarungan strategi yang sengit, diperlukan kemampuan yang baik untuk menempatkan diri di antara benturan berbagai peradaban dunia, bukan sebaliknya.

Seolah jalan terbentang, padahal tak ubahnya hanya sebuah jebakan, begitulah dahsyatnya fitnah akhir zaman. Kita perlu mewaspadai jika di balik pergolakan ini ada upaya ‘memursikan’ Saudi sekaligus juga penghancuran bagi Ikhwan. Sulit dibayangkan jika bagunan-bangunan megah yang baru saja dibangun di dua kota suci, hancur lebur menjadi abu.

Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nashir.

Wallahu a’lam bishawwab.


http://www.dakwatuna.com/2015/04/10/67069/mewaspadai-upaya-menjebak-saudi-di-antara-benturan-sunni-syiah/